The Opening Ceremony

(Hari Kedua, 29 September 2015)

day1-1Kegiatan hari kedua dimulai dengan pembukaan oleh kedua kepala komite International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia, Dr. Lui Siu Fai dan Goran Henriks. Acara berlangsung meriah dengan kehadiran tari barongsai yang menandakan dimulainya forum internasional di Hong Kong.

Turut memberikan sambutan adalah Dr. Fiona Goodlee, Editor in Chief BMJ dan Dr. Margaret Chan, General Director of WHO, yang memberikan pidatonya melalui jaringan video. Fiona menyambut baik kehadiran acara ini di Asia karena akan mendukung dinamika perkembangan kualitas dan keselamatan dunia kesehatan, terutama pada masa jaminan kesehatan nasional ini.

Rangkaian program pembukaan ditutup dengan pidato dari Mr. CY. Leung, Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region. Leung mengapresiasi pemilihan Hong Kong sebagai lokasi forum internasional ini, harapannya adalah forum ini dapat menginspirasi para partisipan untuk bersama-sama memajukan dunia kesehatan di Asia.

Keynote Presentation
Improve Connections: New Ways To Think About Triple Aims
Maureen Bisognano, President & Chief Executive Officer of The Institute for Healthcare Improvement (IHI)

day1-1Saat ini dunia kesehatan sedang menghadapi beberapa tantangan yang akan mempengaruhi bagaimana pelayanan kesehatan diberikan selama beberapa waktu ke depan. Tantangan tersebut adalah populasi lanjut usia yang semakin besar dan volume masyarakat dengan penyakit kronis.

Menjawab tantangan tersebut, IHI menyadari pentingnya kolaborasi semua pihak terkait. Demi menyatukan visi ke depan, IHI menjabarkan tiga target penting dalam dunia kesehatan, yaitu memperbaiki pengalaman pasien dalam pelayanan kesehatan (termasuk kualitas dan kepuasan), memperbaiki kesehatan populasi, dan mengurangi biaya pelayanan kesehatan per kapita.

Perubahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga dibutuhkan respon tanggap dan tepat. Tanggung jawab ini tidak dapat dibawa oleh satu orang atau satu bagian, namun harus menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap pihak yang tekait untuk menjalin hubungan keluar secara baik, demi bertukar pengetahuan, mendapatkan teknologi serta inspirasi baru.

Fokus layanan pun harus berubah menuju pelayanan kesehatan berfokus pada pasien. Pasien harus diberdayakan dan terlibat dalam proses layanan kesehatan. Identifikasi kebutuhan pasien pun menjadi sangat penting, tidak hanya terkait penyakitnya namun juga terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Pada masyarakat yang sehat hal ini pun berlaku, kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif dan membudayakan hidup sehat perlu diidentifikasi, demi memastikan status kesehatan yang lebih baik dan biaya penanganan yang lebih efisien.

Para partisipan perlu terus mengasah keingintahuannya agar selalu terjadi perbaikan dalam sistem yang akan mengarah kepada kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien yang lebih baik. Salah satu hal yang penting adalah memastikan tempat kita bekerja memberikan nilai dan kebahagiaan bagi yang menjalaninya, ini akan mendukung kinerja dan kualitas yang diberikan dalam melayani pasien.

Beberapa konsep perubahan yang perlu dilakukan adalah change the balance of power, standardize what makes sense, customize to the individual, promote wellbeing, create joy in work, make it easy, move knowledge not people, collaborate/cooperate, assume abundance, return the money. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran baru dalam menjalankan tiga targer penting dalam dunia kesehatan.

Lessons from Leadership of Large Healthcare System

  1. Quality Care and Risk Management
    Dr. Pak Yin Leung, Chief Executive, Hospital Authority, Hong Kong SAR

day1-1Dari pengalamannya menangani isu kesehatan di Hong Kong, Dr. Pak menggarisbawahi bahwa resiko dalam dunia kesehatan adalah multi dimensi, sehingga penanganan secara individu merupakan strategi yang tidak dapat digunakan lagi. Penanganan yang dilakukan dengan kolaborasi dan didukung sistem informasi terintegrasi terbukti dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Hal ini dilakukan oleh departemennya melalui sistem informasi teknologi yang memungkinkan terjalinnya komunikasi yang lebih lancar dan antisipasi tantangan yang lebih tepat, seperti kekurangan tenaga medis atau fasilitas ynag perlu diperbaikii. Sistem manajemen resiko ini juga dapat membantu mereka menentukan skala prioritas dalam menangani isu kesehatan di Hong Kong, sehingga penanganan yang diberikan dapat lebih tepat guna dan perkembangan dapat diarahkan sesuai kebutuhan pasien.

  1. Sweden – The Journey to Patient Centered Organisation
    Goran Henriks, Chief Executive of Learning & Innovation, Jonkoping County Council, Sweden

day1-8Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Swedia adalah masih kurangnya partisipasi atau keterlibatan pasien dalam penanganan kesehatannya. Selain itu biaya kesehatan yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjawab tantangan ini, Jonkoping County menerapkan program-program yang berfokus pada pasien, yang memungkinkan pasien untuk melakukan penanganan kesehatan mandiri. Mereka juga mengembangkan pelayanan kesehatan di rumah sehingga mengurangi angka kunjungan rumah sakit yang tidak diperlukan.

Awal dari kesuksesan program-program ini adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan. Hal ini dimulai dengan membangun layanan kesehatan primer yang kuat dapat diandalkan, sehingga angka kunjungan RS dapat berkurang dan jumlah tempat tidur rawat inap pun berkurang. Satu hal yang menarik adalah karena fungsi layanan kesehatan primer yang kuat, kebijakan kesehatan yang dibuat pun lebih banyak dipengaruhi oleh dokter-dokter keluarga dibandingkan spesialis.

Buah dari usaha ini menjadikan Jonkoping, Swedia menjadi salah satu kota paling sehat berdasarkan daftar 10 kota tersehat versi CNN. Institusi kesehatan mereka juga merupakan satu-satunya institusi kesehatan yang memperoleh Malcolm Baldrige Award sebanyak empat kali, sebagai tanda apresiasi atas kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh Jonkoping, Swedia.

  1. Cambodia – Quality Improvement at National Level
    Prof. Thir Kruy, Secretary of State, Ministry of Health, Cambodia

day1-8Kamboja merupakan negara dengan tingkat GDP yang rendah namun telah memiliki rencana kesehatan berkelanjutan untuk beberapa masa ke depan. Tantangan yang dihadapi beragam namun tujuannya hampir sama dengan tujuan kesehatan negara lain, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Benang merah dari usaha-usaha untuk melakukan perbaikan kesehatan ini adalah pentingnya komunikasi antara pihak-pihak terkait, budaya keterlibatan penuh dari pekerja kesehatan, hal ini dapat dimotivasi dengan bentuk-bentuk insentif. Pelatihan yang intensif dan berkelanjutan perlu dilakukan bagi semua yang terlibat, lalu mendefinisikan tujuan dan program secara jelas akan menjadi kunci dari kesuksesan program itu sendiri.

Human Factors – Half Day Mini Course

Frank Frederico, Executive Director, Institute for Healthcare Improvement
Azhar Ali, Executive Director, Institute for Healthcare Improvement

day1-8Sesi ini dimulai dengan pernyataan bahwa error adalah hal umum yang dapat terjadi. Sebenarnya bukan “no blame culture” yang mesti dihindari namun bagaimana caranya menciptakan lingkungan kerja yang adil dan seimbang.

Dalam mengidentifikasi error, biasanya akan ditemukan berlapis sebab yang mengarah terjadinya suatu error. Salah satu hal yang menjadi penyebab error adalah faktor kondisi manusia. Seringkali manusia melakukan “overestimate abilities, underestimate limitations” yang kemudian dapat menyebabkan error. Pada kenyataannya kita tidak dapat melakukan multi tasking karena otak manusia didesain dalam bentuk kompartemen-kompartemen.

Dari seluruh hal yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang, dua hal yang biasa menyebabkan error adalah kelelahan dan stres. Kedua hal ini dapat mempengaruhi kita dalam mengamati sesuatu, berkomunikasi dan mengambil keputusan. Sistem atau kebijakan yang baik akan meminimalisasi kemungkinan ini terjadi, baik dalam bentuk desain atau definisi yang mudah dimengerti.

Standarisasi juga penting sehingga menciptakan keseragaman dan kerutinan dalam melakukan suatu pekerjaan, namun tentunya standar ini harus relevan dan terus dikaji secara berkala. Standarisasi yang baik akan memberikan arahan yang tepat juga ketika sesuatu yang di luar kebiasaan terjadi. Inilah yang menjadikan sistem alarm penting, agar menjadi penanda atau pengingat ketika terjadi sesuatu yang abnormal, sehingga langkah-langkah preventif dapat diambil lebih awal.

Kemajuan teknologi saat ini dapat membantu kita mengurangi terjadinya error. Sistem pemrograman dan alarm dapat diintegrasikan dengan alur kegiatan sehari-hari. Akan sangat baik apabila pengembangan sistem dan kebijakan kerja melibatkan secara penuh tenaga kesehatan yang terlibat untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan kedisiplinan yang lebih tinggi. Kita tidak dapat merubah karakter dasar seseorang, tapi kita dapat mengubah sistem dan lingkungan tempat orang itu bekerja.

Keynote Presentation

Innovate – The Future of Healthcare Innovation

  1. Marc Andrew Koska
    OBE Inventor of the K1 Auto Disable Syringe & Founder of Safe Point

day1-8Sesi keynote pada sore hari diisi oleh tiga pembicara yang memiliki pengalaman dalam industri kreatif. Diharapkan sesi ini dapat memberikan inspirasi bagi pelaku industri kesehatan untuk berkreasi dan melakukan inovasi dalam pelayanan kesehatan.

Pembicara pertama membawakan presentasi mengenai produk alat suntik sekali pakai yang akan patah setelah digunakan. Produk ini dinamakan Syringe Lifesaver.

Inspirasi awal dari produk ini adalah sebuah keprihatinan atas kejadian sehari-sehari di layanan kesehatan primer negara berkembang, di mana sebuah alat suntik sekali pakai dapat dipakai berkali-kali baik pada pasien dewasa atau anak. Hal ini dapat menimbulkan kejadian infeksi menular serius pada populasi yang besar. Keprihatinan ini tumbuh menjadi sebuah aksi untuk mendesain alat suntik sekali pakai yang akan patah setelah pemakaian.

Dengan latar belakang pendidikan desain, dirancang sebuah produk alat suntik unik yang menggunakan mesin yang sama, harga yang sama dan penggunaan yang sama dengan alat suntik sekali pakai yang umum dipakai. Tujuan dari prinsip ini adalah untuk memastikan produk baru ini dapat dengan mudah digunakan tanpa penambahan biaya namun dengan penggunaan yang lebih aman.

WHO turut memberikan dukungan atas usaha ini, namun untuk kesuksesan program ini ke depannya, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari pembuat kebijakan, penyedia dana, pabrik, kementerian kesehatan, tenaga kesehatan, dan pasien.

  1. Angelo Umali, Co Founder & CEO
    Simple Wearables

Studi ekonomi menyatakan bahwa Internet of Things dan Wearable Devices akan menjadi trend besar dunia dalam beberapa tahun mendatang. Bukti atas hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya sambungan internet dan penggunaan mobile devices saat ini. Diproyeksikan pada 2020, Internet of Things akan mencapai puncaknya.

Trend ini juga ditunjang dengan mudahnya setiap orang menciptakan prototipe alat-alat yang dapat terhubung dengan jaringan/internet, atau yang disebut internet of things. Bisnis saat ini pun mendapatkan banyak keuntungan dari perkembangan internet of things ini.

Masyarakat sudah dapat melihat perkembangan internet of things dengan wearable devices yang mereka gunakan sehari-hari, seperti Apple Watch dan Fitbit. Namun selain untuk merekam jumlah aktivitas yang mereka lakukan, masyarakat juga berharap agar wearable devices yang mereka gunakan dapat merekam informasi medis. Hal ini mulai dikembangkan dalam bentuk “medical sensors to go” dan “invisible sensors“.

Dari pengalaman pribadinya, Mr. Angelo Umali mendesain suatu wearable devices yang responsif, prediktif, kolaboratif, memiliki fungsi GPS dan konektivitas baik dengan jaringan telepon atau jaringan internet. Desain ini dimulai dengan kejadian jatuh di rumah pada nenek Mr. Umali yang menyebabkan beliau wafat karena penanganan medis yang terlambat. Diharapkan dengan alat ini pelayanan kesehatan dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pasiennya. Lebih daripada itu alat ini juga dapat membantu layanan gawat darurat, jaminan asuransi, telekomunikasi, dan analisa data kesehatan pasien.

  1. Tom Mehrmann
    Chief Executive, Ocean Park Corporation

Ocean Park merupakan salah satu taman bermain terbesar di Hong Kong dan Cina. Kepemilikan sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah dan merupakan organisasi nirlaba. Tujuan yang membedakan dengan taman bermain lainnya adalah aspirasi untuk menghubungkan pengunjung dengan alam.

Pada awal kepemimpinan Mr. Tom Mehrmann, Ocean Park hanya memiliki modal terbatas, namun dengan komitmen, disiplin, rencana kerja yang terstruktur, beliau dapat memimpin perusahaan ini hingga menjadi taman bermain yang paling banyak dikunjung di Cina dan nomor empat dengan pengunjung terbanyak di dunia.

Sifat kepemimpinan yang dijalankan dan ditanamkan kepada seluruh staf adalah rasa ingin tahu yang tidak terbatas, memiliki rasa tanggung jawab, memiliki selera humor yang baik, passion, memiliki keberanian, mempunyai inisiatif, kreatif dan inovatif, memiliki sense of urgency, persistensi dan kepercayaan diri.

Beberapa prinsip organisasi yang dijalankan sejak awal adalah menumbuhkan rasa kepemilikan dari seluruh staf, pimpinan harus selalu terhubung dengan staf di lapangan, terus berinovasi dan berubah untuk perbaikan, dan selalu memberi kembali kepada masyarakat dan lingkungan.

 

m-muskhaOleh: dr. Mochamad Muska Nataliansyah
Reportase International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

{module [150]}

Improvement Capability, Full Day Mini Course

(Hari Pertama, 28 September 2015)

Sebelum pembukaan forum secara resmi pada tanggal 29 September 2015. Sehari sebelumnya dilaksanakan kegiatan-kegiatan khusus berupa studi banding dan pelatihan sehari penuh. Peserta bisa memilih tujuan studi banding antara kunjungan ke Ocean Park atau Princess Margaret Hospital dan Prince Wales Hospital. Sementara untuk program pelatihan, peserta dapat mengikuti kelas mengenai kemampuan untuk melakukan perbaikan atau kelas mengenai perangkat yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan kualitas.

Pada kesempatan ini, penulis memilih untuk mengikuti kelas mengenai kemampuan untuk melakukan perbaikan. Kelas ini dipilih dengan alasan tujuan awal dari keikutsertaan ini adalah agar mendapatkan teknik dan informasi terbaru yang dapat diterapkan secara praktis ketika kembali ke Indonesia.

day1-aKelas ini dipandu oleh David M. Williams, PhD dan Azhar Ali, MD, keduanya adalah executive director di Institute of Healthcare Improvement (IHI). David memiliki latar belakang sebagai paramedis dan memulai sesi dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah yang Anda harapkan setelah selesai mengikuti kelas ini?”. Jawaban peserta cukup beragam namun satu benang merah, yaitu ingin melakukan perbaikan di negara asal dengan mengintegrasikan segenap sumber daya yang ada.

Presentasi dan teori disampaikan secara lugas dan terstruktur. Garis besar deskripsi dari perbaikan dan proses yang terjadi di dalamnya diberikan lewat beberapa slide awal. Fokus pada kelas ini dititik beratkan pada proses perbaikan kualitas, bukan pada proses rencana atau pengawasan dan evaluasi.

Demi mendapatkan pemahaman yang mendalam akan sistem atau hal yang ingin diperbaiki, kita perlu mencermati empat aspek yang membentuk piramida pemahaman, yaitu penghargaan atas sistem, pengetahuan teoritikal, psikologi, dan variasi. Keempat aspek ini selalu terkait dalam memahami dan menjalankan proses perubahan. Kita tidak perlu menjadi ahli yang menguasai keempat hal ini, namun piramida ini dapat menjadi suatu bentuk daftar yang harus dipenuhi ketika melakukan perubahan.

David M. Williams juga menyampaikan pentingnya memadukan antara pengetahuan teoritikal dengan kenyataan di lapangan. Perbaikan akan terjadi ketika kita dapat menerjemahkan pengetahuan teoritikal menjadi solusi bagi tantangan yang dihadapi di lapangan.

Setelah pemahaman didapatkan maka dibutuhkan kerangka untuk menentukan kapasitas dari perbaikan. Menjawab hal tersebut, para pengisi sesi menjabarkan suatu struktur yang menggambarkan seberapa besar informasi yang perlu disampaikan kepada semua orang dan informasi mana yang hanya perlu diketahui oleh sebagian kecil. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi informasi berlebih pada individu yang terlibat pada perbaikan ini.

Ketika menjalankan proses perbaikan, kita perlu menanyakan 3 hal secara bertingkat; Tujuan apa yang ingin kita capai? Bagaimana kita mengetahui bahwa perubahan yang terjadi nantinya merupakan perbaikan? Perbaikan seperti apa yang dapat kita lakukan agar terjadi perbaikan? Setelah kita menjawab tiga pertanyaan ini dan memadukannya dengan sistem PDSA (Plan, Do, Study, Act) maka kita dapat menyusun sebuah model untuk perbaikan.

Dalam menentukan perbaikan yang perlu dilakukan, kita perlu memiliki daftar prioritas. Langkah pertama adalah melakukan proyek-proyek kecil pada populasi tertentu, hal ini dapat dilakukan selama 3-9 bulan, lalu dilakukan evaluasi, apabila berhasil maka perbaikan dapat diterapkan pada populasi yang lebih besar.

day1-aHal-hal yang dapat mendukung proses perbaikan adalah ketersediaan data awal dan proyeksi yang diharapkan, dukungan dari bagian terkait, kemampuan komunikasi dan memadukan pengetahuan teori dan perbaikan yang diharapkan, serta menciptakan standar pencapaian dan evaluasi berkala, untuk memastikan perbaikan terjadi secara perlahan-lahan namun konsisten.

Sebagai penutup, ditampilkan sebuah video (www.youtube.com/watch?v=iWYIWE7SKcM) mengenai proses perbaikan yang dilakukan sekelompok anak TK. Ini disampaikan untuk menginspirasi peserta bahwa hal ini dapat dilakukan oleh siapapun, selama terdapat niat dan keinginan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

 

Oleh: dr. Mochamad Muska Nataliansyah
Reportase International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

{module [150]}

Menyajikan Indikator Mutu Rumah Sakit

Pendahuluan

Dalam tulisan sebelumnya, telah dibahas beberapa pertimbangan dalam menyusun indikator mutu rumah sakit. Indikator perlu dipresentasikan untuk memberikan gambaran mutu rumah sakit. Presentasi ini baik berupa presentasi tim mutu rumah sakit ke kalangan manajemen puncak, presentasi direktur kepada surveyor akreditasi, maupun advokasi manajemen puncak ke tingkat pemilik rumah sakit (pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, maupun korporasi).

Dalam beberapa kesempatan penulis menyaksikan presentasi tersebut, kerap terjadi data unggulan menjadi kurang diperhatikan karena disajikan kurang sempurna. Kerap pula penyaji harus menjelaskan ulang data tersebut dalam sesi tanya jawab. Akibatnya, waktu yang semestinya bisa digunakan untuk diskusi peningkatan mutu menjadi terbuang percuma.

Bagaimana menyajikan data indikator mutu dengan efisien? Tulisan ini akan mencoba mengupas beberapa pertimbangan utama sehingga dapat membantu pembaca menentukan strategi penyajian data indikator mutu rumah sakit tersebut dalam sebuah presentasi lisan. Ilustrasi yang digunakan dalam tulisan ini bukan merupakan data asli salah satu rumah sakit dan hanya digunakan dengan tujuan mendukung ide-ide dalam tulisan ini. Selamat menikmati.

Tipe Data Indikator Mutu Rumah Sakit

Dalam pembicaraan mengenai pengelolaan indikator mutu rumah sakit, selalu muncul istilah “data”. Dianggap sebagai objek yang sudah dikenal, data jarang didefinisikan. Untuk menghindari beragam definisi data, mari kita sepakati data sebagai keterangan yang menggambarkan persoalan atau hasil dari pengamatan karakteristik tertentu. Indikator mutu merupakan pengukuran yang diwujudkan dalam angka (Takaki et al., 2013; Collopy, 2000), maka hasil pengamatan indikator mutu boleh kita sebut sebagai data.

Ada berbagai cara mengklasifikasi data. Untuk tujuan penyajian indikator mutu rumah sakit ini, kita akan menggolongkan data menjadi dua, yaitu data kategorik dan data kuantitatif (Bahna & McLarty, 2009). Data kategorik memiliki karakteristik tertentu yang ditentukan sebelum data diambil. Data kategorik biasa digolongkan menjadi tiga, yaitu nominal, ordinal, dan interval.

Data nominal adalah data kategori yang hanya bisa dijelaskan dengan nama, seperti misalnya nama instrumen bedah (bisturi, klem, kocher, pemegang jarum, dan pinset). Data nominal bisa memiliki banyak atribut seperti contoh sebelumnya, namun bisa juga berupa data biner yang hanya memiliki dua atribut seperti jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Walaupun indikator mutu rumah sakit selalu merupakan pecahan, tidak menutup kemungkinan data primernya berupa data nominal seperti contoh dalam tabel berikut ini.

Tabel 1 Ilustrasi data nominal infeksi luka operasi sebelum dan setelah intervensi. Dalam pengumpulan data, setiap pasien yang memenuhi kriteria dicatat apakah ada infeksi atau tidak: dua pilihan atribut yang ditentukan sebelumnya.

Indikator: Infeksi Luka Operasi

Intervensi

Total

Sebelum

Sesudah

Infeksi

56

21

77

Tidak Infeksi

280

363

643

Total

336

384

720

Data ordinal juga mempunyai atribut yang ditentukan sebelumnya dan setiap sampel masuk dalam salah satu kategori. Bedanya dengan data nominal adalah adanya penjejangan (pelapisan) yang tidak pasti jaraknya dalam data ordinal. Misalnya dalam survei kepuasan pasien instalasi gawat darurat, dibuat lima kategori kepuasan, yaitu sangat puas, puas, kurang puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Tidak ada jarak yang pasti antar kategori dalam data ordinal. Contoh data ordinal yang kerap dibahas dalam persiapan akreditasi rumah sakit adalah skala nyeri.

Jarak antar kategori membedakan data interval dan data nominal. Data interval mempunyai jarak antar kategori yang sama. Bulan-bulan dalam satu tahun adalah contoh data interval karena kurang lebih jaraknya sama, yaitu 30 hari.

Data kuantitatif berbeda dengan data kategori. Data kuantitatif terbagi menjadi dua, yaitu data kontinyu dan data diskret. Data kontinyu merupakan data hasil pengukuran yang teliti dan dapat pada angka berapa saja. Data diskret merupakan data yang merupakan pendekatan satuan terukur misalnya laju nadi (kali per menit), usia dalam tahun, dan lain-lain. Data diskret mirip sekali dengan data interval kecuali bahwa data interval biasanya hanya dalam kategori terbatas sementara data diskret bisa tak terbatas.

Pertimbangan Penyajian Data

Data dapat disajikan dengan teks, tabel, maupun tampilan grafis. Tampilan grafis lebih disukai daripada tampilan teks dan serba angka karena lebih efektif meninggalkan pesan walau juga dapat membawa ke arah yang salah (Stengel et al., 2008). Untuk menggunakannya, panduan dari van Belle, “struktur kalimat untuk menampilkan 2-5 angka, tabel untuk menampilkan informasi numerik yang lebih banyak, dan grafik untuk hubungan yang kompleks,” masih relevan (Bahna & McLarty, 2009).

Menampilkan data dengan teks memang merupakan teknik yang paling umum walaupun jelas bukan pula yang terbaik. Menggunakan kalimat pendek yang tepat adalah satu-satunya cara optimalisasi penyajian data dengan teks.
Pilihan yang lebih baik dari teks adalah tabel. Tabel dapat menyajikan satu macam informasi namun juga mampu menampilkan hubungan lebih dari satu informasi. Kemampuan pemirsa memahami isi tabel bergantung pada desain tabel. Variabel kuantitatif harus diurutkan (kecil ke besar atau sebaliknya) atau dibuatkan interval. Penting untuk memastikan tidak ada kelompok variabel yang tumpang tindih.

Bila dalam tabel termuat data frekuensi, pertimbangkan untuk menambahkan persentase frekuensi tersebut. Penting juga untuk mempertimbangkan untuk menggabungkan kategori-kategori yang nilainya kecil menjadi satu kategori. Kategori-kategori tersebut perlu ditulis dengan jelas dan ringkas di bawah judul tabel yang juga jelas dan ringkas. Ingat bahwa orang cenderung lebih suka melihat tabel daripada teks, sehingga penting sekali agar tabel mudah ditemukan dan diingat.

Tabel 2. Contoh tabel interval kelompok umur dan frekuensinya. Tabel di sebelah kanan disajikan lebih baik.

Kelompok Umur

Frekuensi

Kelompok Umur

Frekuensi

1 – 5

10

1 – 4

9 (9%)

5 – 10

34

è

5 – 9

34 (34%)

10 – 15

38

9 – 14

38 (38%)

15 – 20

18

15 – 19

19 (19%)

Tampilan grafik memiliki dampak visual yang paling cepat, paling kuat, paling tahan lama namun kurang presisi (Bahna & McLarty, 2009). Grafik atau diagram paling mumpuni dalam menampilkan tren atau perbandingan. Bila grafik dibuat untuk menggantikan data (atau datanya bersumber) dari tabel, tidak perlu untuk menampilkan tabel asalnya. Dewasa ini, grafik atau diagram sangat mudah dibuat dengan program spreadsheet atau program pengolah data statistik lain. Walau demikian, setiap tipe grafik memiliki karakteristik tersendiri yang perlu dipahami sebelumnya. Pemahaman karakteristik grafik ini penting agar pesan yang disampaikan tidak “melenceng” dari maksud awal.

Penyajian indikator mutu dalam bentuk grafis sebaiknya mengikuti kebiasaan dalam penyajian data ilmiah, yaitu tidak mengubah grafis penyajian data menjadi sebuah karya seni. Penyajian diharapkan tetap efisien, tidak terlalu banyak pewarnaan yang tidak perlu, tumpang tindih tiga dimensi, dan dilengkapi dengan keterangan teks yang ringkas dengan ukuran yang seimbang dengan grafis (Stengel et al., 2008). Apabila diperlukan satuan, cantumkan juga satuan dengan jelas (Bahna & McLarty, 2009).

Diagram garis dan diagram batang paling sering dipakai dalam penyajian data. Diagram garis dipakai untuk menggambarkan perubahan nilai suatu variabel seiring dengan waktu, sementara diagram batang dipakai menggambarkan nilai beberapa variabel (Sonnad, 2002). Dalam presentasi indikator mutu, kerap ditemukan presenter yang menggambarkan perubahan indikator mutu seiring waktu menggunakan diagram batang karena dianggap lebih jelas mencitrakan perubahannya. Hal ini kurang tepat dan sebaiknya dihindari. Dalam menyajikan diagram batang dan garis, penting pula untuk memperhatikan skala pengukuran agar perbedaan nilai antar variabel atau antar periode waktu lebih mudah dilihat. Gambar berikut ini adalah contoh indikator mutu yang digambarkan dengan diagram garis dan diagram batang.

28sept-1

Gambar 1. Diagram garis di sebelah kiri menunjukkan penurunan angka kejadian infeksi luka operasi sementara diagram batang di sebelah kanan menunjukkan angka kejadian infeksi luka operasi di empat ruang perawatan bedah yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

Diagram batang mirip dengan histogram. Dalam beberapa pembahasan bahkan keduanya dianggap sama. Histogram bentuknya memang hampir sama dengan diagram batang, namun keduanya melayani fungsi yang berbeda. Histogram menggambarkan distribusi frekuensi

28sept-2

Gambar 2. Seorang spesialis anestesi mengukur skala nyeri pasien 8 jam setelah operasi appendiktomi di sebuah rumah sakit selama tiga bulan. Distribusi frekuensi disajikan dalam histogram ini. Nilai mengukuran dicantumkan pada puncak batang untuk memudahkan pembacaan, karena ada nilai-nilai dengan rentang cukup jauh.

Diagram pie juga merupakan pilihan penyajian data yang menarik namun mungkin kurang bermanfaat dalam penyajian data indikator mutu. Diagram pie memiliki keunggulan menyajikan distribusi relatif suatu data dibandingkan totalnya (Bahna & McLarty, 2009). Beberapa diagram pie dapat digunakan untuk membandingkan data-data yang berbeda.

28sept-3

Gambar 3. Contoh diagram pie yang menunjukkan distribusi frekuensi kepuasan pasien instalasi gawat darurat di suatu rumah sakit.

Penyajian data indikator mutu rumah sakit dengan teks, tabel, dan grafik pada presentasi seperti disampaikan di atas merupakan upaya agar audiens mendapatkan informasi lebih banyak dibandingkan kalau mendengar saja atau melihat saja (Cipolla, n.d.). Untuk itu, membuat presentasi yang baik secara keseluruhan juga penting. Tetaplah penting untuk mempersiapkan presentasi, mempelajari topik, dan mengeksekusi presentasi dengan baik. Buatlah presentasi dengan pembukaan, topik utama, dan kesimpulan (Cipolla, n.d.). Penyajian data yang sudah dipersiapkan dengan baik sesuai paparan di atas tetap harus dikuasai dan dikomunikasikan dengan baik selama presentasi.

Penutup

Penyajian data indikator mutu rumah sakit dapat menjadi penentu masa depan penting rumah sakit. Paradigma keselamatan dan mutu yang selalu terkait dewasa ini, menjadikan pengukuran mutu menjadi hal utama dalam persiapan akreditasi rumah sakit maupun pengembangan rumah sakit. Ide utama dalam penyajian data indikator mutu rumah sakit semestinya dapat terkomunikasikan dengan baik. Penyajian data indikator mutu seperti yang diuraikan di atas diharapkan dapat berkontribusi pada penyajian data indikator mutu yang lebih baik dan bermanfaat bagi rumah sakit.

Bahan Bacaan

Bahna, S.L. & McLarty, J.W., 2009. Data Presentation. Annals of Asthma, Allergy, & Immunology, 103, pp.S15-21.
Cipolla, R., n.d. [Online] Available at: HYPERLINK “http://mi.eng.cam.ac.uk/~cipolla/archive/Presentations/MakingPresentations.pdf” http://mi.eng.cam.ac.uk/~cipolla/archive/Presentations/MakingPresentations.pdf [Accessed 2 September 2015].
Collopy, B.T., 2000. Clinical indicators in accreditation: an effective stimulus to improve patient care. International Journal for Quality in Health Care, 12(3), pp.211-16.
Sonnad, S.S., 2002. Describing Data: Statistical and Graphical Method. Radiology, 225(3), pp.622-28.
Stengel, D., Calori, G.M. & Giannoudis, P.V., 2008. Graphical Data Presentation. Injury, Int. J. Care Injured , 39, pp.659-65.
Takaki, O. et al., 2013. Graphical representation of quality indicators based on medical service ontology. Springer Plus, 2(274), pp.1-20.

Penulis

Artikel ini ditulis dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H. dan merupakan opini pribadi. Data yang dipakai dalam contoh adalah fiktif dan digunakan hanya untuk memperjelas maksud.

{module [150]}

Keterlibatan Klinisi dalam Upaya Meningkatkan Mutu Rumah Sakit

Top manajemen sering disebut sebagai penentu kesuksesan dalam pengimplementasian Quality Improvement (QI). Karena top manajemen dianggap mampu membangun kualitas suatu organisasi sebagai prioritas utama, menciptakan kualitas sebagai budaya yang ditanamkan dalam organisasi, dan memobilisasi sumber daya keuangan dan manusia yang diperlukan untuk mendukung perkembangan organisasi. Begitu pula top manajemen pada rumah sakit. Sebagai suatu organisasi, pentingnya peran dari top manajemen pada rumah sakit di dunia budaya klinis dalam Continuous Quality Improvement/ Total Quality Management (CQI/TQM).

Namun fakta yang terjadi, manajer kesehatan kurang mampu melakukan kontrol secara langsung atas insentif dan kondisi kerja yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku dokter dan akan berdampak pada biaya dan kualitas penanganan klinis. Hal ini dapat terjadi karena ketika mereka dipekerjakan oleh suatu organisasi kesehatan, dokter diberikan status dengan hak otonomi dalam pengambilan keputusan dalam melakukan tindakan klinis. Mengingat status khusus dari dokter di organisasi kesehatan, manajer kesehatan tidak dapat bergantung pada struktur manajemen yang konvensional.

Peningkatan mutu rumah sakit harus selalu dilakukan secara berkesinambungan agar bisa memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dulu, tugas untuk meningkatkan mutu rumah sakit hanya merupakan tugas dari manajemen rumah sakit, tetapi dengan CQI/ TQM, semua pihak dilibatkan dalam peningkatan mutu rumah sakit mulai dari manajemen puncak, staf sampai dengan petugas pelayanan. CQI/ TQM mengendalikan mutu berdasar pada fakta yang objektif. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui gambaran situasi dan persolan yang ada sehingga untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam meningkatkan manajemen mutu juga berdasar atas fakta bukan opini pribadi ataupun golongan.

Pada CQI/ TQM, keterlibatan petugas medis sangat dibutuhkan. Keterlibatan tenaga medis pada CQI/ TQM dapat dilihat dari partisipasi dokter dalam pelatihan QI formal, partisipasi dokter dalam tim QI, klinisi yang terlibat dalam proyek QA/ QI dan departemen klinis di rumah sakit yang memliki proyek QA/QI resmi yang terogranisir.

Berdasarkan survei dari beberapa rumah sakit yang menerapkan CQI/ TQM, 11% dari dokter ahli telah menerima pelatihan QI formal, tetapi hanya 8% yang berpartisipasi dalam tim proyek QI. Lebih dari setengah dari departemen klinis di rumah sakit yang memiliki proyek QI yang terorganisir resmi. Akan tetapi, hanya 18% tim proyek yang menggunakan data untuk perbaikan mutu. Data ini dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan data ini, kondisi rumah sakit yang menerapkan CQI/ TQM masih perlu ditingkatkan, diharapkan semua rumah sakit dapat menggunakan data tersebut untuk peningkatan mutu rumah sakit.

Tabel 1. Study Measures and descriptive Statistics

art27ags2

Keterlibatan semua pihak di rumah sakit sangat penting guna meningkatkan kualitas rumah sakit. Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa keetrlibatan semua unsur manajemen puncak, staf dan kepemimpinan dokter sangat siginifikan.
Tabel 2. Logistic Regression Analysis of Physician Involvement in Governance, Board Leadership for Quality, and CEO Leadership for Quality on Clinical Involvement in CQI/ TQM

27ags-2

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dari atas adalah faktor kunci keberhasilan dalam memenuhi semua masalah ini. Sebagai contoh, pemimpin rumah sakit dapat meningkatkan kredibilitas dari upaya CQI/ TQM dengan menghubungkan semua aspek SDM dan keuangan untuk CQI/ TQM, selain itu juga komitmen yang kuat dan perbaikan yang berkelanjutan juga berperan dalam hal ini. Pemimpin rumah sakit dapat mendorong kinerja tim lintas fungsional antara professional kesehatan dengan menetapkan anggaran pada jalur layanan klinis.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH
Sumber: Weiner et al., 1997. Promoting Clinical Involvement in Hospital Quality Improvement Efforts: The Effects of Top Management, Board, and Physician Leadership. HSR: Health Services Research 32:4.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1070207/pdf/hsresearch00036-0116.pdf

{module [150]}

Libatkan Klinisi untuk Turunkan LOS

Ada beragam bentuk upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. Salah satunya dengan menurunkan lama rawat inap (length of stay/LOS) di rumah sakit. Banyak pula metode untuk menjamin peningkatan mutu ini. Salah satunya adalah metode yang melibatkan akuntabilitas dokter.

Penelitian di berbagai negara menunjukkan proporsi besar masa rawat inap tercurah pada pelayanan non akut yang sebenarnya tidak perlu rawat inap. Dari penelitian serupa ditemukan sebanyak 20% tempat tidur di rumah sakit digunakan secara tidak patut. Kejadian ini berdampak pada pemborosan biaya dan sumber daya manusia. Masa rawat inap yang panjang juga menyebabkan pasien terkena resiko komplikasi iatrogenik. Pada pasien lanjut usia, masa rawat inap berlebih meningkatkan resiko penurunan fungsi tubuh yang mempengaruhi kualitas hidup.

Studi observasi menunjukkan berbagai penyebab perpanjangan lama rawat inap, yaitu akses terhadap layanan komunitas, tertundanya pelayanan medis, dan yang tidak kalah penting adalah akibat perilaku klinisi. Berbagai intervensi seperti discharge planning, penggunaan care pathways, program pengingat bagi klinisi, audit periodik untuk identifikasi dan merespon alasan keterlambatan, penggunaan ceklis untuk perencanaan kunjungan, maupun identifikasi motivasi rujukan dokter pernah diadopsi untuk menurunkan LOS yang tidak perlu. Umumnya, intervensi yang dilakukan hanya menggunakan satu jenis strategi. Setelah implementasi strategi ini dievaluasi, hasilnya belum dapat disimpulkan strategi umum yang dapat menurunkan masa rawat inap yang tidak perlu.

Alasan inilah yang mendasari Caminiti dkk. melakukan penelitian untuk mengevaluasi dampak berbagai komponen strategi, dengan audit dan umpan balik sebagai komponen inti, untuk menurunkan LOS yang tidak perlu. Audit dan umpan balik adalah intervensi yang umum digunakan untuk meningkatkan praktek profesional baik digunakan sendiri atau menjadi komponen intervensi peningkatan mutu multifaset. Ada kepercayaan bahwa profesional kesehatan terdorong untuk memodifikasi prakteknya ketika diberikan umpan balik mengenai kinerja mereka yang tidak optimal. Studi yang bersifat cluster randomized trial itu dilakukan di 12 bangsal dengan LOS terpanjang di salah satu rumah sakit di Italia.

Strategi dalam penelitian ini bertujuan memotivasi masing-masing klinisi untuk mengadopsi pola praktek yang lebih efisien. Strategi ini terdiri dari dua komponen terintegrasi. Pertama, distribusi dua laporan bulanan. Laporan pertama berisi daftar pasien yang diklasifikasikan sebagai pasien yang masih ada di bangsal walau status klinis mereka sudah layak pulang. Laporan kedua berisi profil LOS masing-masing pasien dalam kelompok intervensi. Kedua, audit oleh profesional di masing-masing bangsal dalam kelompok intervensi. Audit ini bertujuan untuk mendiskusikan kasus-kasus pasien yang dinilai layak pulang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang langsung melibatkan dokter terbukti bermanfaat untuk menurunkan LOS pada kelompok pasien yang masih dirawat tanpa alasan jelas. Strategi ini menunjukkan bahwa proses mengingatkan dokter untuk mengurangi masa rawat inap dapat dilakukan dengan cara sederhana tanpa perlu tambahan intervensi kompleks. Strategi yang melibatkan dokter, dapat membantu menurunkan masalah masa rawat inap yang terkait kontrol staf medis (lihat tabel 1). Dengan cara sederhana ini, pasien dapat juga selamat dari dampak buruk masa rawat inap yang terlalu panjang.
Tabel 1. Daftar alasan perpanjangan masa rawat inap

art27ags1

Oleh : drg. Puti Aulia Rahma, MPH
Sumber : Caminiti et al., Reducing unnecessary hospital days to improve quality care through physician accountability: a cluster randomized trial, BMC Health Service Research 2013; 13:14.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3577481/pdf/1472-6963-13-14.pdf

 

Pengukuran, Pembelajaran, dan Peningkatan: Keterlibatan Dokter dalam Peningkatan Mutu

Perkembangan zaman yang semakin maju tidak sebanding dengan peningkatan kualitas dalam dunia kedokteran. Hal ini terlihat terutama pada pelayanan kesehatan tingkat pertama dan layanan primer. Dokter yang memiliki andil besar dalam mewujudkan layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau harus mampu juga melakukan pelayanan dengan memperhatikan skrinning atau penapisan rujukan tingkat pertama dan kendali mutu serta kendali biaya sesuai dengan standar kompetensi. Besarnya peran dan harapan terhadap dokter belum disertai kualitas dokter-dokter muda yang akan menjadi tumpuan pembangunan kesehatan ke depan.

Hasil survei dokter nasional (2003) menyatakan masih sedikit dokter yang menggunakan metode peningkatan kualitas mutu dalam pelayanan. Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mulai diimplementasikan pada Januari 2014, harus ada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer.

Penelitian yang dilakukan di Amerika serikat (AS) kepada 3.598 dokter mengenai keterlibatan mereka dalam peningkatan kualitas (Quality Improvement) di layanan kesehatan. Dari penelitian didapatkan hasil, bahwa hanya sepertiga dokter yang menerapkan sistem peningkatan kualitas dalam layanan kesehatan, baik dalam praktek pribadi atau kelompok. Dokter yang dalam prakteknya menggunakan Electronic Medical records (EMRs) memiliki tingkat penyimpanan data yang baik mengenai riwayat penyakit pasien. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kualitas dokter dalam pelayanan. Honorarium yang didapat dalam praktek oleh seorang dokter juga mempengaruhi pada kualitas dari pelayanan.

Banyak faktor yang menunjang peningkatan kualitas dalam layanan kesehatan. Oleh sebab itu kebijakan mengenai peningkatan kualitas mutu, khususnya dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh profesi dokter, sebaiknya lebih ditingkatkan. Kebijakan yang disusun sebaiknya difokuskan pada bidang kapasitas, pendidikan dan profesionalisme. Kualitas pelayanan yang baik guna mewujudkan pelayanan yang prima.

Oleh : Elisa Sulistyaningrum, S.Gz, Dietisien, MPH.
Sumber : Audet et al., 2005. Measure, Learn, And Improve: Physicians’ Involvement In Quality Improvement. Health Affairs, Volume 24, Number 3.
http://content.healthaffairs.org/content/24/3/843.full.pdf+html 

{module [150]}

Perawat Sebagai Penggerak Quality Improvement Untuk Mengurangi Infeksi Rumah Sakit di NICU

Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan. Oleh karena itu, rumah sakit dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang aman dan bermutu sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Infeksi yang didapat di rumah sakit adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perawatan intensif neonatal. Sehingga, untuk mendukung peningkatan keselamatan pasien di ruang perawatan NICU maka perawat perlu dibekali ilmu dan pengalaman yang cukup, sehingga kompetensi dalam penanganan pasien kritis semakin membaik. Kompetensi teknikal perawat merupakan kompetensi tidak terbatas pada kemampuan melakukan tindakan keperawatan namun lebih penting adalah keterampilan mendapatkan data yang valid dan terpercaya serta keterampilan melakukan pengkajian fisik secara akurat, keterampilan melakukan diagnostik masalah menjadi diagnosis keperawatan, keterampilan memilih dan menentukan intervensi yang tepat.

Selain mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien, perawat di unit perawatan intensif juga dituntut untuk mampu menjaga mutu pelayanan yang berkulitas. Dalam menjaga mutu pelayanan di unit perawatan intensif, fungsi dan peran perawat sangat besar, karena proses perawatan pasien diantaranya dengan observasi kondisi pasien secara ketat yang dilakukan oleh perawat. Kompetensi perawat dalam penanganan pasien kritis dan menjaga mutu pelayanan ini tidak hanya membutuhkan ilmu dan pengalaman yang cukup, namun juga tingkat kepedulian dalam merawat pasien dengan komunikasi yang efektif.

Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi perawat dengan pasien, keluarga pasien serta profesi atau unit lain. Hubungan perawat dengan unit lain atau profesi kesehatan lain juga memerlukan komunikasi dan kerjasama yang baik agar pengelolaan pasien kritis bisa optimal serta sasaran keselamatan pasien dapat tercapai.

Sebuah artikel tentang intervensi menggerakkan perawat untuk peningkatan mutu dalam mengurangi infeksi yang didapat di NICU dengan menggunakan ceklist Central line–associated blood stream infection (CLABSI) and ventilator-associated pneumonia (VAP), hal ini dilakukan untuk mengurangi kejadian infeksi sesuai dengan kriteria National Healthcare Safety Network (NHSN). CLABSI dan VAP mengaudit tingkat infeksi yang diukur sebelum dan setelah kedua ceklist tersebut diimplementasikan. Penerapan CLABSI ceklist menimbulkan penurunan 84 hari perawatan di rumah sakit yang lebih sedikit dan dapat penghematan biaya perkiraan $ 348.000, serta penurunan 92% di CLABSI sedangkan penerapan VAP mengakibatkan penurunan hari rawat rumah sakit 72 lebih sedikit, penghematan biaya diperkirakan $ 300.000, pengurangan 71% dalam VAP (preintervention untuk postintervention). Intervensi dari ceklist yang diterapkan memberikan struktur yang jelas agar perawat berhasil dengan menerapkan proses yang sistematis untuk perbaikan. Untuk meningkatkan praktek keperawatan di NICU diperlukan beberapa faktor baik pendidikan yang berfokus pada pencegahan Hospital-Acquired Infections (HAI), unsur merevisi praktek pedoman, melacak kepatuhan, dan pelaporan hasil pasien  penting dilakukan untuk membantu penyedia layanan NICU melihat dampak perubahan praktek keperawatan.

Oleh : Andriani Yulianti, SE., MPH.
Sumber : Ceballos et al., 2013. Nurse-Driven Quality Improvement Interventions to Reduce Hospital-Acquired Infection in the NICU. National Association of Neonatal Nurses. Advances in Neonatal Care . Vol. 13, No. 3. pp. 154-163.

http://stage-nursing.wkh-mr.com/ovidfiles/00149525-201306000-00004.pdf 

{module [150]}

Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit

Pendahuluan
Indikator, standar, dan mutu adalah tiga hal yang berbeda. Suatu pelayanan dikatakan bermutu dalam dimensi tertentu apabila indikator pelayanan mencapai atau melampaui suatu standar tertentu. Mutu, dengan demikian tidak akan tercapai tanpa suatu perencanaan dan wawasan yang terkait dengan mutu tersebut. Dengan kata lain, bila kita menginginkan pelayanan yang bermutu di rumah sakit, maka manajemen rumah sakit perlu memperluas wawasan mengenai mutu pelayanan tersebut dan merencanakan serangkaian aksi untuk mencapai suatu tingkat/standar tertentu. Pencapaian atas aksi-aksi tersebut diukur dengan indikator.

Indikator, dengan demikian, perlu dirancang bersama dengan serangkaian proses yang akan diambil dalam upaya peningkatan mutu. Memimpin serangkaian proses ini, termasuk menyusun indikator, menjadi sangat penting. Memimpin sistem mikro klinik dalam meningkatkan mutu sudah pernah saya bahas dalam tulisan ini. Maksud tulisan ini adalah membahas beberapa hal yang sering ditanyakan para pimpinan sistem mikro klinis dalam menyusun indikator mutu pelayanan. Sebagai tambahan yaitu gagasan untuk melakukan analisis lebih lanjut dengan bantuan ilmu statistika.

Indikator Mutu
Indikator mutu klinis adalah pengukuran manajemen klinis dan/atau luaran pelayanan (Collopy 2000) dan diwujudkan dalam angka (Takaki et al. 2013). Indikator mutu, dengan demikian, selalu merupakan pengukuran kuantitatif atau semi kuantitatif yang memiliki numerator (pembilang) dan denominator (penyebut / pembagi). Umumnya, denominator adalah populasi tertentu dan numerator adalah kelompok dalam populasi yang memiliki karakteristik tertentu.

Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) di Amerika Serikat mempublikasikan empat kelompok indikator mutu, yaitu prevention quality indicator, inpatient quality indicator, patient safety indicator, dan pediatric quality indicator (dapat diakses di sini). Sementara itu, Joint Commission International juga menerbitkan International Hospital Inpatient Quality Measures yang terdiri dari sepuluh kelompok indikator klinis (dapat diunduh di sini). Contoh dari kedua sumber tersebut sering dipakai bergantian dalam ceramah mengenai akreditasi rumah sakit di Indonesia.

Di Indonesia, penetapan indikator dipandu Peraturan Menteri Kesehatan No. 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. Dalam lampiran Permenkes tersebut, diatur 21 jenis pelayanan dan 107 indikator yang telah ditetapkan standar minimalnya dengan nilai tertentu. Kementrian Kesehatan menetapkan standar ini menjadi tolak ukur pelayanan rumah sakit badan layanan umum daerah.

Tabel 1. Dimensi mutu (World Health Organization 2006).

Dimensi Mutu

Maksud Dimensi Mutu

Efektif / Effective

Pelayanan kesehatan yang erat pada basis bukti dan berhasil dalam meningkatkan luaran kesehatan individu atau komunitas berdasarkan kebutuhan.

Efisiensi / Efficient

Pelayanan kesehatan yang memaksimalkan sumber daya dan menghindari pemborosan.

Mudah diakses / Accessible

Pelayanan kesehatan yang tepat waktu, wajar secara geografis, dan disediakan dalam kerangka yang tepat dari sisi keterampilan dan sumber daya untuk memeuhi kebutuhan.

Diterima / Accepted (Patient-centred)

Pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan pilihan dan aspirasi individu pengguna layanan dan budaya komunitasnya.

Tidak berpihak / Equity

Pelayanan kesehatan yang tidak berbeda dalam kualitas karena karakteristik personal seperti gender, ras, etnis, lokasi geografis, dan status sosio ekonomi.

Aman / Safe

Pelayanan kesehatan yang meminimalisasi resiko dan harm.

Terlepas dari beberapa nilai standar dalam SPM tersebut yang tidak dapat dilampaui, acuan tersebut memberikan sistematika yang baik dalam membuat indikator. Setiap indikator dijelaskan dengan beberapa aspek seperti judul indikator, definisi operasional, tujuan, dimensi mutu, numerator, denominator, frekuensi pengukuran, sumber data, dan penanggung jawab pengumpulan data.

Pengukuran dapat dilakukan bila tahu apa yang diukur. Dengan demikian, judul dan definisi operasional indikator telah jelas. Definisi operasional yang dimaksud di sini termasuk definisi operasional numerator dan denominator. Dimensi mutu sesuai permenkes mengacu pada dimensi mutu World Health Organization (WHO), yaitu efektif, efisien, mudah diakses, diterima/berpusat pada pasien, tidak berpihak, dan aman (World Health Organization 2006). Maksud masing-masing dimensi mutu disajikan dalam tabel 1.

Merancang Pengumpulan Data Indikator
Mengumpulkan data adalah proses yang mungkin paling melelahkan dalam petualangan menguak mutu pelayanan lewat indikator mutu pelayanan. Salah satu penyebabnya adalah pengumpulan data kurang dipertimbangkan secara matang ketika indikator mutu disusun. Cara pengumpulan data berkaitan erat dengan tujuan indikator dan aspek-aspek lain dalam indikator. Mari kita ambil contoh indikator kejadian infeksi pascaoperasi pada standar pelayanan minimal rawat inap dalam permenkes di atas.

Dalam Permenkes disebut bahwa numerator adalah jumlah pasien yang mengalami infeksi dalam satu bulan. Selanjutnya, denominator dalam lampiran tersebut tidak jelas disebutkan namun kemungkinan adalah jumlah pasien yang dioperasi dalam satu bulan. Di sini jelas, bahwa angka yang dimaksud dalam permenkes ini adalah angka insidensi. Menilik keterangannya, muncul beberapa pertanyaan misalnya: Apakah ini dihitung untuk seluruh rumah sakit atau untuk satu bangsal tertentu? Data ini menunjukkan mutu pelayanan rawat inap atau menunjukkan mutu layanan sterilisasi atau menunjukkan mutu layanan pembedahan?

Infeksi pasca operasi saat ini lebih sering disebut sebagai infeksi daerah operasi (IDO) atau surgical site infection (SSI). Infeksi ini lebih sering didiagnosis setelah pasien pulang dan merupakan hasil kontaminasi pada daerah luka operasi pada akhir pembedahan (National Collaborating Centre for Women’s and Children’s Health 2008). Bila mengikuti panduan permenkes tersebut, rumah sakit perlu menyediakan dua sarana pengumpulan data, satu untuk mengumpulkan IDO yang baru ditemukan dan satu untuk mengumpulkan jumlah pasien yang menjalani operasi pada bulan tersebut.

Dalam kerangka berpikir, indikator mutu pelayanan rawat inap, pimpinan ruang rawat inap bedah dapat memodifikasi indikator ini untuk mendapatkan manfaat lebih. Mari kita simak tabel berikut.

Tabel 2. Contoh modifikasi indikator SPM.

 

Sesuai Permenkes

Modifikasi

Numerator

Jumlah pasien yang mengalami infeksi dalam satu bulan.

Jumlah hari rawat dengan IDO.

Denominator

Jumlah pasien yang dioperasi dalam satu bulan.

Jumlah hari rawat pasien pascaoperasi.

Dengan modifikasi ini, pimpinan ruang rawat inap bedah memudahkan tim untuk mengumpulkan data karena setiap hari cukup mendata ada berapa pasien pasca operasi yang dirawat dan ada berapa pasien yang mengalami IDO. Jumlah tersebut ditambahkan mulai tanggal satu sampai akhir bulan dan dimasukkan ke dalam rumus. Sekarang, rumah sakit tahu prevalensi IDO bulan tersebut dan sebagai bonus, pimpinan ruang rawat inap bedah bisa menghitung berapa banyak sumber daya yang dipakai untuk mengurus IDO dan apakah prevalensi ini menurun atau tidak dari bulan ke bulan (menunjukkan mutu layanan luka pascaoperasi di ruang rawat inap bedah).

Merancang Analisis Data Indikator
Analisis yang diminta dalam akreditasi versi lama maupun baru seringkali terbatas pada pembuatan grafik indikator berbanding waktu dan penjelasan mengenai analisis penyebab. Dengan kerangka berpikir seperti audit medis dan audit klinis, sebenarnya pimpinan sistem mikro klinis di rumah sakit dapat memanfaatkan uji beda dalam statistika untuk melihat peningkatan mutu di unitnya.

Statistika dapat membantu pimpinan rumah sakit untuk melihat apakah ada beda bermakna pada ruang perawatan satu dengan yang lain pada indikator yang sesuai. Selain itu, pimpinan rumah sakit dapat mengevaluasi juga apakah benar ada perubahan yang bermakna setelah intervensi perbaikan mutu dilakukan di suatu unit kerja. Pengujian dengan statistika lebih lanjut dapat juga mengungkap apakah benar suatu perlakukan meningkatkan mutu pelayanan tertentu.

Namun sebelum melakukan analisis tersebut, perlu dilakukan pemilihan uji statistik yang sesuai. Untuk itu pada saat merancang indikator mutu perlu dipikirkan mengenai uji statistik tersebut. Mulai dari apakah data yang dikumpulkan menggunakan sampel atau populasi. Populasi berarti semua dihitung. Contoh IDO di atas memanfaatkan data populasi. Semua pasien yang menjalani operasi dihitung sebagai denominator. Ada keuntungan dan kerugian masing-masing dalam memakai populasi atau sampel. Bila populasinya tidak banyak, menggunakan sampel tentu tidak bijaksana.

Persiapan lainnya adalah menentukan tipe data. Apakah data tersebut merupakan data nominal, ordinal, interval, atau rasio. Tipe data tertentu dapat memerlukan uji statistik yang berbeda dengan tipe data lainnya untuk melihat hal yang sama.

Dengan penghitungan indikator yang telah dirancang dengan hati-hati ditambah dengan uji statistik yang sesuai, pimpinan rumah sakit dan pimpinan unit kerja dapat menarik kesimpulan mengenai mutu pelayanan. Tentu penarikan kesimpulan ini perlu kehati-hatian. Penurunan secara signifikan waktu respon triase merah di instalasi gawat darurat tidak lantas disimpulkan bahwa ada perbaikan pelayanan gawat darurat. Hasil ini dapat saja murni merupakan hasil modifikasi akses masuk pasien saja dan tidak berhubungan sama sekali dengan mutu pelayanan instalasi gawat darurat secara umum.

Penutup
Indikator mutu rumah sakit adalah ukuran kuantitatif yang diukur untuk lebih memahami mutu pelayanan di rumah sakit. Indikator perlu dirancang dengan seksama dengan mempertimbangkan dimensi mutu yang ingin diukur, cara pengumpulan data, dan strategi analisisnya. Dengan hati-hati merancang indikator mutu pelayanan, sumber daya bisa dihemat, hasil lebih akurat, dan pengambilan keputusan di tingkat sistem mikro maupun sistem makro bisa lebih strategis.

Bahan Bacaan

Collopy, BT 2000, ‘Clinical indicators in accreditation: an effective stimulus to improve patient care’, International Journal for Quality in Health Care, vol 12, no. 3, pp. 211-216.
Takaki, O, Takeuki, I, Takahashi, K, Izumi, N, Murata, K, Ikeda, M & Hasida, K 2013, ‘Graphical representation of quality indicators based on medical service ontology’, Springer Plus, vol 2, no. 274, pp. 1-20.
World Health Organization 2006, Quality of care : a process for making strategic choices in health systems , World Health Organization, Geneve, Switzerland.
National Collaborating Centre for Women’s and Children’s Health 2008, Surgical site infection: prevention and treatment of surgical site infection, RCOG Press at the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, London.

Penulis
Artikel ini ditulis dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H., alumni pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan minat Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Saat ini penulis sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Universitas Airlangga. Tulisan ini merupakan opini pribadi.

{module [150]}

Genuine Caring: Peningkatan Pelayanan Ibu Hamil Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

Proses persalinan membutuhkan perhatian dan perawatan optimal dan intensif terutama pada saat menangani ibu hamil yang mempunyai faktor risiko dan komplikasi tinggi. Perhatian dan perawatan optimal diberikan bukan hanya pada saat proses persalinan namun diberikan juga pada fase kehamilan, dan postpartum awal. Fase-fase ini sangat berisiko dan memerlukan penanganan optimal. Risiko tinggi akan terus meningkat jika wanita menjalani kehamilan tanpa ada perencanaan sehingga tidak bisa dikontrol sesuai prosedur layanan kesehatan.

Pada tahun 2001 WHO menyatakan proporsi kehamilan normal kurang dari 10% dari total ibu hamil di seluruh dunia dan berglund dan Lindmark tahun 2000 di Swiss menemukan hanya sebagian wanita saja memiliki kehamilan normal misalnya kehamilan tanpa nyeri sedangkan sebagian besarnya berisiko tinggi untuk terkena dan rentan terhadap penyakit karna secara emosional ibu hamil lebih cemas, takut, ambivalen terhadap kehamilan dan perasaan gagal melahirkan. Hal ini bisa dicegah dengan meningkatkan perhatian intensif pada masa kehamilan, mengurangi kecemasan ibu hamil akan hal-hal terkait proses persalinan dan pendampingan dari tenaga kesehatan untuk mendukung persiapan persalinan.

Perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan membatasi ruang gerak bidan, bidan bertanggungjwab pada persalinan normal sedangkan dokter bertanggungjawab pada persalinan dengan risiko tinggi. Ini dapat menimbulkan rasa ketidakmiliki dan perhatian terhadap keamanan dan keselamatan pasien ketika dalam fase kehamilan, persalinan dan post partum awal.

Genuine caring dicapai dengan melakukan 3 hal antara lain:

  • Membangun protective relationship
    Komponen ini sangat penting bagi wanita hamil yang berisiko tinggi untuk melindungi martabat wanita dimana setiap wanita hamil diperlakukan secara baik sebagai pribadi yang unik, perlu hubungan mutualitas atau hubungan timbal balik dari bidan dan ibu hamil secara terbuka, memiliki hubungan saling membutuhkan dan saling percaya. 5 komponen untuk membangun protective relationship antara lain:
    • Mutuality
      Dibutuhkan saling pengertian antara bidan dan ibu hamil dan saling terbuka bukan hanya pada masalah proses persalinan namun sampai pada pembayaran. Hal ini mengurangi stress, mencegah ketidaknyamanan dan ketidakpuasan. Mutuality diperlukan hubungan yang simetris karena mempertemukan 2 orang yang siap ‘memberi dan menerima’
    • Trust
      Bidan harus percaya pada keluhan ibu hamil. Feeling, penafsiran kelahiran dan kemampuan layaknya seorang ibu mengasuh anaknya. Sebaliknya bidan membutuhkan kepercayaan akan profesional dan tugasnya dari ibu hamil
    • Ongoing dialog
      Membangun hubungan yang erat diperlukan komunikasi yang terus menerus, ini cara menunjukan respect ibu hamil dan tanggung jawab bidan mendampingi ibu hamil, komunikasi yang dibangun juga untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, dan ibu hamil siap menghadapi situasi itu
    • Shared responsibility
      Karena ibu hamil berisiko tinggi maka perlu share keadaan dan kondisi yang terjadi ke bidan yang mendampingi dan bidan yang mendampingi memberikan respon untuk keselamatan ibu dan janin yang ada dalam kandungan.
    • Presence
      Bidan perlu menemani ibu hamil, hal ini membutuhkan kedekatan secara emosional dan fisik. Membantu meminimalizir risiko tinggi yang kemungkinan terjadi pada saat kehamilan dan persalinan, hal ini membutuhkan waktu dan tenaga.

      art-11jul

      Model penanganan ibu hamil dengan risiko tinggi: Genuine caring in caring for the genuine

  • Update knowledge
    Genuine care kedua yang bisa diidentifikasi adalah update knowledge, penangangan ibu hamil perlu berfokus pada knowledge terintegrasi, selain itu ibu hamil dapat menjadi pelajaran buat bidan, satu ibu hamil satu pelajaran karena setiap ibu hamil memiliki kebutuhan dan keluhan yang bermacam-macam. Bidan mengintegrasikan dengan knowledge yang dimiliki sehingga meningkatkan kemampuan bidan menangani ibu hamil.
    Update knowledge terdiri dari dari 5 elemen antara lain
    • Genuineness towards oneself
      Ibu hamil menerima keadaannya untuk bersalin tanpa rasa takut, ketika emosi ibu hamil tidak stabil maka bidan mengobservasi dan mengukur tekanan darah.
    • Intuitive dan reflective knowledge
      Peran bidan memberikan security dan safety bagi ibu hamil, terutama risiko tinggi, membutuhkan praktik dan banyak pengalaman, perlu membagi dan sharing pengalaman antar sesama bidan dengan tujuan dapat saling mensupport dan mencari jalan keluar jika menemukan masalah yang sulit untuk diatasi sendiri.
    • Balancing natural dan medical perspective
      Menyeimbangkan alami dan modern meningkatkan sensitifitas kepedulian.
    • Supporting normalcy
      Ibu hamil berisiko mau diperlakukan secara normal, bidan menggunakan teknik dan skill untuk mempromosikan dan menangani persalinannya demi keselamatan ibu dan anak.
    • Exhibiting sensitivity for the genuine
      Genuine sensifitas meningkatkan proteksi dengan meningkatkan kepedulian yang lebih misalnya menganggap komplikasi bukan hanya komplikasi tapi lebih dari sekedar komplikasi, selain itu ibu hamil dengan penyakit tertentu mendapatkan perlakuan lebih misalnya ibu hamil dengan diabetes diperiksa level gula darahnya dll

Pendampingan ibu hamil bukan saja pada keadaan fisik namun pendampingan juga secara psikologis, perlu persiapan persalinan dan memperkuat emosi ibu serta memberikan konseling mempersiapkan diri menjadi parents. Penelitian terkait hubungan ibu hamil dan bidan perlu ditingkatkan supaya dipakai sebagai evaluasi perbaikan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak setiap saat. Hubungan yang dibangun bukan hubungan ibu hamil dan pasien namun hubungan yang lebih dari itu yakni hubungan rela “memberi dan menerima”.

Oleh : Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)

Sumber: Marie Berg, 2005. A Midwifery Model Of Care For Childbearing Women At High Risk: Genuine Caring In Caring For The Genuine. The Journal of Perinatal Education | Winter 2005, Volume 14, Number 1.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1595225/pdf/JPE140009.pdf 

 

Menjamin Mutu Pelayanan Kebidanan melalui Bidan yang Berkualitas

Isu ketenagaan merupakan salah satu isu yang masih belum terpecahkan sampai sekarang di Indonesia maupun negara-negara berkembang lainnya, jumlah tenaga yang sangat minim dan penyebaran yang tidak merata merupakan hal yang masih sering dijumpai. Apalagi di era JKN sekarang ini, isu ini diprediksi akan memperburuk pelayanan kesehatan dan memperbesar gap antara daerah yang maju dan daerah tertinggal dalam pelayanan kesehatan. Terlepas dari isu tersebut pernahkan kita bertanya, bagaimana kualitas kompetensi dari tenaga yang ada sekarang ini? Apakah berkualitas atau hanya sekedar “ada” saja? Apabila jawabannya tidak maka hal ini merupakan masalah yang serius karena akan berefek domino, sudah tenaganya kurang yang ada pun belum tentu berkualitas.

Salah satu jenis tenaga yang mendapat perhatian penting adalah bidan. Hal ini karena bidan mempunyai peranan penting dalam sistem pelayanan kesehatan, selain bertanggungjawab menyelamatkan ibu dalam proses kelahiran bidan juga harus memastikan anak yang dilahirkan selamat dan sehat tanpa komplikasi apapun, ada 2 nyawa yang menjadi tanggung jawab bidan, yakni ibu dan bayinya. Selain itu untuk daerah-daerah terpencil (desa) bahkan masih terjadi di perkotaan, bidan merupakan orang pertama yang dicari untuk mendapat pengobatan dasar, biasanya setelah pelayanan dari bidan tidak berhasil barulah masyarakat pergi ke dokter atau puskesmas. Menurut Morolong & Chabeli, untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan yang baik, sistem kesehatan membutuhkan bidan dan perawat yang kompeten.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang apakah bidan-bidan kita sekarang ini sudah kompetent? Untuk menjawab hal ini salah satu penelitian dari Seani A, dkk bisa menjadi bahan pertimbangan yang menarik untuk kita memperbaiki mutu pelayanan bidan kita. Seani, dkk melakukan pengukuran kompetensi bidan-bidan terkait pencegahan low Apgar Score pada neonatus di Afrika Selatan, tepatnya pada 130 orang bidan di 3 rumah sakit daerah di Distrik Vhembe, Propinsi Limpopo. Dari 130 orang bidan yang ikut sebagai responden 70,5% diantaranya berusia kurang dari 40 tahun, hal ini menurut Seani, dkk merupakan hal yang baik karena bidan-bidan muda biasanya lebih fresh dan punya banyak pengetahuan baru yang membantu dalam memberikan pelayanan. Namun bukan berarti bidan senior (yang berusia lebih tua) tidak diperlukan, mereka sangat diperlukan untuk mentoring dan sharing experience kepada junior atau adik-adik mereka yang lebih muda.
Seani, dkk membagikan angket berupa daftar skill atau kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang bidan dan responden harus menjawab sesuai dengan persepsi mereka apakah mereka merasa punya kompetensi yang baik untuk setiap skill tersebut atau tidak. Hasilnya cukup mengejutkan karena lebih dari 50% bidan-bidan tidak merasa berkompeten untuk beberapa skill seperti mengukur tekanan darah dengan benar, mengukur diameter kepala bayi, managemen efek dari Demerol, persalinan sungsang, persalinan vakum dan vorsep, distosia bahu, interpretasi CTG, dan pengukuran pada kasus Caput 2++. Skilll-skill tersebut merupakan skill minimal yang harus dimiliki seorang bidan untuk menjamin ibu dan bayi yang dilahirkan sehat tanpa komplikasi (Apgar Skor kurang dari 10/10). Seani, dkk menelusuri lebih lanjut ternyata skill-skill tersebut sudah diberikan atau diajarkan pada saat pendidikan bidan dulu, dan bahkan ada juga yang dilatih kembali pada saat capacity building di rumah sakit.

Oleh karena itu Seani, dkk memberikan rekomendasi sebagai berikut :

  1. Mentoring secara berkelanjutan untuk bidan-bidan muda atau yang baru lulus dan baru bekerja di rumah sakit oleh bidan senior yang bertanggung jawab di unit maternitas atau bisa juga melibatkan dosen atau pembimbing dari organisasi pendidikan bidan yang kompeten.
  2. Kebijakan, norma, manual, dan SOP yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan harus terus direview, diperbaharui dan disosialisasikan kepada seluruh bidan untuk menjadi perhatian.
  3. In-service Education kepada semua bidan yang terlibat dalam pelayanan dalam bentuk workshop, symposium, short course, dan sebagainya. Hal ini harus dilakukan secara terus menerus selain untuk meningkatkan kompetensi bidan hal ini juga sebagai refreshing pengetahuan bagi mereka.

Terkait dengan masalah kekurangan tenaga yang masih menjadi prioritas kita di Indonesia, menurut Hoope-Bender, dkk dalam pemenuhan tenaga kesehatan, investasi di bidang pendidikan saja tidak akan berhasil tanpa adanya perbaikan regulasi, manajemen SDM, dan lingkungan tempat tenaga tersebut akan bekerja. Apabila 3 komponen ini berjalan baik maka tidak hanya jumlah tenaga saja yang terpenuhi namun juga menjamin mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dalam konteks pemenuhan tenaga bidan, hal ini ditegaskan oleh Renfreu, dkk yang menyatakan bahwa pelayanan kebidanan yang bermutu berhubungan dengan penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien, hal ini hanya bisa tercapai apabila dikerjakan oleh bidan yang berpendidikan, terlatih, berlisensi, dan diatur dengan aturan yang jelas. Semua itu harus terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan, yakni dalam hal kerjasama tim yang efektif, sistem rujukan, dan sumber daya kesehatan yang mencukupi.

Hal ini bisa menjadi masukan yang baik bagi kita untuk menyempurnakan sistem pelayanan kesehatan kita demi menjamin mutu kesehatan yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran-UNDANA
Sumber : Seani. A, et all. 2013. Competence of Midwives with Regard to The Prevention of Low Apgar Scores among Neonates. International Journal of Research in Medical and Health Sciences (IJRMHS) Nov. 2013, Vol. 3, No. 3, ISSN : 2307-2083. http://www.ijsk.org/uploads/3/1/1/7/3117743/1_nursing.pdf 

Renfreu, J. Mary, et all. 2014. Midwifery and quality care: findings from a new evidence-informed framework for maternal and newborn care. Lancet; 384: 1129–45.
http://www.thelancet.com/pdfs/journals/lancet/PIIS0140-6736(14)60789-3.pdf