Masalah Kualitas pada Kebidanan: Sebuah analisis kritis Kebidanan di Nigeria dalam konteks Konfederasi Internasional Bidan (ICM)

Fokus pembangunan kesehatan terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi masih terus menjadi perhatian yang sangat besar bagi pemerintah karena penurunan AKI dan AKB merupakan salah satu indikator pembangunan sebuah bangsa. Ujung tombak penurunan kematian ibu (AKI) adalah tenaga kesehatan, dalam hal ini adalah bidan. Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang teraktreditasi, memenuhi kualifikasi untuk didaftarkan, disertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk praktek kebidanan. Bidan diakui sebagai sebagai seorang profesional yang bertanggungjawab dan akuntabel, bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan, informasi berdasarkan bukti, asuhan dan nasihat yang diperlukan selama masa kehamilan, persalinan dan nifas, memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dan anak.

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu dan bayi adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan keteranpilan tenaga kesehatan sebagai penolong pertama pada persalinan tersebut, dimana setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun sayangnya sampai saat ini di wilayah indonesia masih banyak pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi yang masih mengggunakan cara-cara tradisional sehingga banyak peluang merugikan dan membahayakan keselamatan ibu dan bayi baru lahir. Di beberapa daerah, keberadaan dukun bayi sebagai orang kepercayaan dalam menolong persalinan, sosok yang dihormati dan berpengalaman, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Keberadaannya berbeda dengan keberadaan bidan yang rata-rata masih muda dan belum seluruhnya mendapat kepercayaaan dari masyarakat.

Tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara seperti Nigeria dukun bayi melakukan pertolongan persalinan, pada tahun 2008 tercatat ada sekitar 22% atau sekitar 1, 35 juta persalinan ditolong oleh dukun bayi setiap tahunnya. Sejak tahun 1979, pemerintah Nigeria  telah melakukan terobosan dengan mengintegrasikan ke dalam sistem perawatan kesehatan dengan meningkatkan keterampilan dukun bayi. Sementara, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya dengan menyelenggarakan kegiatan yang saling menguntungkan antara bidan dan dukun bayi, dengan harapan pertolongan persalinan akan berpindah dari dukun bayi ke bidan. Dengan demikian, kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi resiko yang mungkin terjadi bila persalinan tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan kemitraan bidan dan dukun. Dalam pola ini kemitraan bidan dengan dukun sebagai elemen masyarakat yang ada dilibatkan sebagai unsur untuk dapat memberikan dukungan kesuksesan kegiatan ini.

Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) perlu peningkatan standar dalam menjaga mutu pelayanan kebidanan. Untuk itu, pelayanan kebidanan harus mengupayakan peningkatan mutu dan memberi pelayanan sesuai standar yang mengacu pada semua persyaratan kualitas pelayanan dan peralatan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Demi memenuhi pelayanan berkualitas, pemerintah Nigeria mewajibkan bidan untuk tinggal di desa selama setahun. Kebijakan dari pemerintah ini tidak bertahan lama karena pada tahun 2008 dilaporkan sangat sedikit petugas kesehatan/bidan yang mampu bertahan mau tinggal dan bekerja di daerah pedesaan. Beberapa faktor pemicunya ialah karena miskin, prospek untuk kemajuan karir dan pekerjaan yang buruk serta tidak adanya prospek pendidikan bagi keluarga mereka. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2009 pemerintah Nigeria meluncurkan program MSS. MSS adalah inisiatif bersama antara tiga tingkatan pemerintah di Nigeria yang bertugas memobiliasi bidan, termasuk bidan yang masih menganggur dan pensiun untuk bekerja di daerah yang kurang terlayani. Sejak diluncurkan hingga bulan Juli 2010, program ini telah melibatkan 2.622 bidan yang dipekerjakan di fasilitas perawatan kesehatan primer di daerah pedesaan.

Pendidikan bidan sebagian besar berada di bawah standar ICM, ICM merekomendasikan minimum teori 40% dan minimum 50% praktek. Rumah sakit dan klinik terutama di daerah pedesaan kekurangan alat dan fasilitas untuk berlatih asuhan kebidanan yang mengarah kekurangan perawatan berbasis bukti dan kemampuan untuk berlatih keterampilan yang diperoleh. ICM merekomendasikan bidan perlu refreshing ilmu melalui pelatihan yang upto-date dan berlatih terus-menerus jika menemukan kasus yang belum pernah dialami. Pelatihan, kualitas kontrol dan pengawasan sangat penting untuk menghasilkan bidan yang berkualitas untuk peningkatan derajat kesehatan.

Oleh: Armiatin, SE., MPH.

Sumber: Oyetunde et al., Quality Issuses in Midwifery: A Critical Analysis of Midwifery in Nigeria Within The Context of The International Confederation of Midwives (ICM) Global Standards. Academic Journals. Vol. 6(3), pp. 40-48, July 2014.

http://www.academicjournals.org/article/article1406126983_Oyetunde%20and%20%20Nkwonta.pdf

{module [150]}

Evaluasi Kebidanan Perawatan Primer di Belanda: Berdasarkan Desain dan Pemikiran dari Penelitian Kohort Dinamis

BidanBbelanda adalah praktisi medis otonom. Bidan berhak memberikan perawatan bersalin pada semua perempuan yang hamil dan melahirkan mulai dari prenatal, intrapartum, dan posnatal.

Untuk menjadi seorang bidan di Belanda, seorang perempuan harus menyelesaikan studi selama empat tahun di salah satu dari empat perguruan tinggi kebidanan yang ada di Belanda. Mereka juga dapat memilih mengikuti program kebidanan guru.

Data tahun 2009 menyatakan 2.444 bidan di Belanda terdaftar dan terlatih. Sekitar 175 ribu kelahiran terjadi setiap tahun dan 33% perempuan melahirkan di bawah pengawasan bidan perawatan primer.

Hingga kini, penelitian ilmiah yang mendukung praktik berbasis bukti dalam bidang kebidanan perawatan primer masih jarang. Sementara hal ini penting untuk mengevaluasi sistem pelayanan bersalin dan praktik untuk perbaikan kualitas pelayanan. Oleh karena itu, akademi kebidanan Amsterdam-Groningen (AVAG), NIVEL, dan EMGO dan VU University Medical Centre memprakarsai deliver study. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kualitas pelayanan, organisasi dan kemudahan akses perawatan di Belanda dengan menggunakan desain penelitian prospektif multidisplin.

Multicenter Deliver study merupakan studi pertama yang mengevaluasi kualitas kebidanan perawatan primer di Belanda. Beberapa negara berkiblat kepada sistem bidan di Belanda, jadi hasil penelitian ini penting untuk diinformasikan pada dunia internasional tentang kelebihan dan kekurangan sistem bidan di Belanda.

Studi ini menyediakan database tentang kebidanan perawatan primer berskala nasional. Data diambil melalui kuesioner, buku harian, dan wawancara. Data dikumpulkan pada September 2009 hingga April 2011.

Deliver study dirancang sebagai studi kohort prospektif dinamis dan multicenter. Sistem perawatan dinilai dari perspektif klien serta dari perspektiif bidan dan penyedia layanan lain yang terlibat. Kohort dinamis terdiri dari; 1) klien yang menyelesaikan sampai tiga kuisioner yakni kuesioner satu diberikan sebelum 35 minggu kehamilan, kuisioner dua diberikan antara 35 minggu kehamilan dan kelahiran, kuisioner tiga diberikan sekitar enam minggu setelah kelahiran. Kuesioner ini digunakan untuk menilai harapan dan pengalaman klien tentang perawatan kebidanan, 2) registry Belanda perinatal nasional, dan 3) catatan klien dalam bentuk elektronik yang disimpan oleh bidan.

Dari tiga fokus data yang dikumpulkan oleh deliver study, deliver study dapat memberikan data tentang:

  1. organisasi perawatan
    deliver study bertujuan untuk memberikan bukti tentang sistem rujukan, peran dan tanggung jawab bidan, kerjasama bidan dengan penyedia layanan. Analiisa deskriptif menggunakan data dari buku harian bidan.
  2. Aksesiblitas asuhan kebidanan
    Peneliitian ini akan menilai penyerapan keperawatan (misalnya jumlah scan ultrasound, perawatan bersalin postnatal), jumlah perempuan minoritas dan perempuan yang tidak tercatat di bawah perawatan bidan, ketersediaan berkonsultasi di luar jam kantor dan aksesibilitas praktik.
  3. Kualitas kebidanan perawatn primer di Belanda
    Penelitian ini dinilai dengan cara menggambarkan komunikasi dan penyedia informasi kesehatan (misalnya, informasi tentang skrining prenatal, gaya hidup, manajemen nyeri, tempat lahir, posisi tenaga kerja), kepatuhan terhadap standar dan pedoman, pelatihan dan pendidikan mahasiswa bidan, pengalaman dan kepuasan klien, dan hasil kehamilan

Berikut hasil deliver study:

29jun

Paper ini, mengajak peneliti untuk berpikir kritis dan memberikan kritik untuk meninjau kualitas metodologi penelitian ini. Untuk saat ini, data belum semua dianalisis sehingga data mengenai kualitas, organisasi dan asksesibilitas ke bidan perawatan primer tidak bisa diberikan. Harapan penulis pada hari kebidanan ini, agar bidan Indonesia dapat membuat sistem data yang akan menjadi ladang penelittian untuk perbaikan sistem kebidanan di Indonesia.

Oleh Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
Sumber: Manniën et al. Evaluation of primary care midwifery in the Netherlands: design and rationale of a dynamic cohort study (DELIVER). BMC Health Services Research 2012, 12:69

http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-12-69.pdf

{module [150]}

Asesmen Mutu Pelayanan Rumah Sakit Untuk Ibu dan Bayi Baru Lahir

Kematian ibu dan bayi menjadi tema tersendiri bila dibahas dalam masalah kesehatan. Menurut data WHO di Indonesia angka kematian ibu dan bayi mencapai 35 per 1.000 kelahiran pada tahun 2012. Padahal target MDGs untuk angka kematian Bayi (AKB) tahun 2015 ini adalah 23 per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti Indonesia perlu bekerja keras untuk menangani kasus kematian ibu dan bayi.

Salah satu cara untuk megurangi angka kematian ibu adan bayi adalah dengan cara peningkatan pelayanan kesehatan khususnya di Rumah sakit. Dalam penelitian ini mengadopsi form penilaian kualitas pelayanan untuk ibu dan bayi di rumah sakit. Standar form acuan ini adalah WHO Integrated Management of pregnancy and Chilhood (IMPAC). Tenaga kesehatan yang bertugas dinilai apakah mereka secara profesional memberikan pelayanan khususnya kepada kasus wanita hamil, persalinan dan perawatan bayi baru lahir.

Penelitian ini dilaksanakan pada empat rumah sakit di Albania. Tiga rumah sakit daerah dan satu rumah sakit bersalin rujukan. Dengan menggunakan form yang diadopsi dari Who dimulai tahun 2009 dan dievaluasi kembali tahun 2011. Beberapa tahapan harus dilakukan dalam mengadopsi form ini, sehingga bisa digunakan dengan baik. Penilaian dilakukan pada beberapa aspek, diantaranya fasilitas perawatan, manajemen perawatan, monitoring evaliasi pasien dan komunikasi antara tenaga pelayanan kesehatan kepada pasien dan keluarga.

25jun

Dari gambar diatas menjelaskan bahwa terdapat peningkatan dibeberapa aspek pelayanan kesehatan di empat rumah sakit. Dimulai tahun 2009 dan dievaluasi kembali pada tahun 2011. Pelayanan perawatan bayi baru lahir menduduki angka kenaikan yang paling tinggi, kemudian diikuti dengan. Data yang didapat kan dari hasil wawancara kepada tenaga medis, bahwa diperlukan form atau acuan yang terstandar dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Dengan demikian, adaptasi form WHO untuk pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir sangat berguna untuk digunakan di sistem pelayanan kesehatan rumah sakit di Albania. Dengan menggunakan form yang diadopsi dari WHO merupakan salah satu cara yang efektif untuk memantau kualitas pelayanan ibu dan bayi di rumah sakit. Diharapkan form ini juga bisa digunakan sebagai acuan di beberapa negara berkembang lainnya.

Oleh : Elisa Sulistyaningrum, S.Gz, Dietisien, MPH
Sumber: Mersini et al. (2012) Adopt ion of the WHO Assesment Tool on the Quality of Hospital Care for Mothers and Newborns in Albania. ACTA INFOR M MED. 2012 Dec ; 20(4): 226-234
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3558291/pdf/AIM-20-226.pdf 

{module [150]}

Memilih Indikator Tepat untuk Menilai Mutu Layanan Bidan

Bidan belum menjadi pilihan utama masyarakat untuk memberi pelayanan kebidanan. Di perkotaan, masyarakat lebih memilih dilayani dokter spesialis. Bidan bisa terus kalah saing bila tidak memperbaiki mutu layanan.

Padahal, bidan merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan bidan tidak hanya terbatas pada membantu proses persalinan, tetapi juga dalam menjaga kesehatan umum dan reproduksi. Bidan dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan fungsinya. Tuntutan ini tidak hanya muncul dari kebutuhan pasien tetapi juga sebagai dampak program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dimulai 2015 ini. MEA menciptakan suasana persaingan dalam sektor ekonomi yang merambah ke sektor kesehatan.

Bidan juga harus siap meningkatkan mutu layanan agar dapat bersaing dengan tenaga kesehatan lainnya. Dalam proses peningkatan mutu ini, kualitas layanan bidan harus selalu terukur dalam kegiatan monitoring dan evaluasi. Perlu indikator-indikator tepat sebagai alat ukur untuk menghasilkan penilaian mutu yang objektif.

Mieneke De Bruin-Kooistra dkk., melakukan penelitian untuk mengidentifikasi indikator mutu layanan bidan. Tim peneliti menganalisis berbagai indikator potensial dari literatur, pedoman nasional, dan pendapat ahli. Penelitian menghasilkan 26 indikator sebagai alat ukur relevan untuk layanan bidan (tabel 1). Dua puluh enam indikator ini terbagi menjadi delapan item indikator struktur, 12 indikator proses, dan 6 indikator outcome. Indikator-indikator ini telah melalui uji kriteria instrumen Appraisal of Indicators through Research and Evaluation (AIRE) dan dikritisi lebih lanjut oleh panel Delphi.

Tabel 1. Indikator Mutu Terpilih untuk Monitoring dan Evaluasi Layanan Bidan

22jun

Dua puluh enam indikator ini dibagi dalam kategori keselamatan pasien, keterpusatan pada pasien, akses terhadap pelayanan, dan efektivitas layanan. Seluruh indikator juga telah ditetapkan tingkat pengukurannya yaitu nasional, regional, serta bidan/dokter praktek umum. Daftar indikator ini juga dilengkapi detil spesifikasi yang mencakup domain kritis, definisi operasional, hingga cara pengukurannya. Indikator ini dikembangkan untuk menilai layanan bidan pada pasien-pasien resiko rendah.

Pelayanan maternal adalah contoh pelayanan yang berorientasi outcome dengan tujuan utama yaitu ibu dan bayi yang sehat. Namun, mengapa indikator outcome dalam daftar ini justru menempati porsi kecil? Peneliti berasumsi bahwa outcome yang baik hanya akan tercapai dengan proses pelayanan bermutu dan sesuai protokol yang disepakati. Contohnya adalah Apgar score yang merupakan alat ukur keluaran neonatal (indikator outcome). Dalam rentang 1-10, skor di bawah 7 (5 menit setelah lahir) dianggap sebagai keluaran yang buruk sebagai hasil pelayanan substandar.

Untuk mencegah hal ini, ibu hamil harus mengakses pelayanan kebidanan pada masa awal kehamilan agar mendapat pelayanan antenatal yang optimal (indikator proses 9). Agar dapat memberi pelayanan bermutu tinggi, bidan harus memiliki kompetensi baik (indikator struktur). Bidan juga harus melaksanakan pelayanan 24 jam/7 hari seminggu (indikator struktur) untuk mencegah kelahiran tanpa pendamping (indikator proses). Kaitan antar indikator ini menunjukkan satu indikator outcome dapat dipengaruhi oleh lebih dari satu indikator struktur dan proses.

Indikator yang direkomendasikan de Bruin-Kooistra mungkin masih perlu penyesuaian untuk kondisi Indonesia. Alasannya, pemilihan indikator yang tepat merupakan kunci dalam proses monitoring dan evaluasi mutu layanan bidan Indonesia. Indikator yang tepat dapat menghasilkan penilaian mutu layanan bidan yang akurat untuk menyusun program selanjutnya. Jika ternyata mutu bidan sudah baik, perlu upaya menjaga mutu. Sebaliknya, bjika mutu layanan bidan masih buruk, perlu program peningkatan mutu misalnya dengan peningkatan kompetensi bidan.

Text: drg. Puti Aulia Rahma, MPH
Sumber: Mieneke de Bruin-Kooistra, Marianne P. Amelink-Verburg, Simone E. Buitendijk, and Gert P. Westert, Finding the right indicators for assessing quality midwifery care, International Journal for Quality in Health Care 2012; volume 24, number 3: pp. 301–310.

http://intqhc.oxfordjournals.org/content/intqhc/24/3/301.full.pdf 

{module [150]}

Kekuatan dan Kelemahan Pelayanan Asuhan Kebidanan: Perspektif Pasien

Pengguna pelayanan kesehatan memiliki pengalaman berharga yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan oleh provider terkait. Adanya persepsi yang berbeda antara bidan dan pasien terhadap pelayanan asuhan kebidanan, memerlukan keterlibatan pasien dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Tujuan artikel ini untuk mengetahui:

  • Aspek mutu pelayanan kebidanan yang paling dihargai oleh pasien
  • Aspek mutu pelayanan kebidanan yang dapat ditingkatkan menurut kaum perempuan
  • Bagaimana pengalaman kaum perempuan dapat dipergunakan untuk menilai mutu dan meningkatkan program mutu oleh praktik kebidanan individual,

Pelayanan obstetrik di Belanda diberikan oleh primary caregiver (dokter dan bidan) serta secondary caregiver (dokter spesialis kandungan). Pada tahun 1990, perwakilan dari pasien, provider pelayanan kesehatan, agen asuransi, dan pemerintah di Belanda bertemu secara formal dalam Leidschendam Conferences, dimana mereka mendiskusikan bagaimana mutu pelayanan kesehatan terbaik dapat ditingkatkan. Semua pihak sependapat bahwa pelayanan kesehatan disediakan berdasarkan kebutuhan dibandingkan berdasarkan ketersediaan. Para bidan di Belanda mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan mutu organisasi, Royal Dutch Midwifery Association (KNOV) menyusun suatu sistem mutu untuk mengembangkan organisasi secara sistematis dan pengadaan pelayanan kebidanan.

Pada penelitian yang dilakukan pada 2004 di Belanda, data dikumpulkan dari 358 responden yang merupakan ibu muda dari 57 bidan. Kuesioner yang dipergunakan memuat berbagai aspek meliputi; prenatal, natal, periode post partum, dan memuat dua pertanyaan terbuka.

Sebanyak 312 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dan diperoleh data berupa daftar sebanyak 870 aspek yang dihargai oleh responden dalam perawatan kebidanan yang mereka peroleh. Berikut adalah aspek-aspek tersebut; sopan santun (337 pernyataan positif), kompetensi profesional (224 pernyataan positif), dukungan (57 pernyataan positif). Aspek-aspek tersebut dapat dikategorikan sebagai kekuatan dalam pelayanan asuhan kebidanan. Namun, 177 responden memberikan pernyataan negatif yang memerlukan perbaikan lebih lanjut terkait aspek-aspek tersebut, yakni; dimensi organisasi (65 pernyataan negatif), kebijakan (62 pernyataan negatif), dan informasi (46 pernyataan negatif).

Aspek-aspek yang menjadi penekanan bahasan pada penelitian ini mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan, meliputi:

  • Aspek Interpretasi Individu
  • Kompetensi Profesional
  • Informasi
  • Sopan Santun
  • Dukungan
  • Organisasi
  • Evaluasi
  • Kebijakan

Hasil penelitian ini dapat menjadi awal pengembangan instrumen peningkatan mutu pelayanan kesehatan dari perspektif kaum perempuan atau pasien yang menggunakan layanan kebidanan. Namun tidak semua hasil pada penelitian ini dapat diterapkan pada semua praktik layanan kebidanan. Bersama dengan seluruh kolega, provider lain, pasien, bidan sebaiknya ‘mengenali’ pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh responden. Ketika bidan dapat mengenali kekuatan dan kelemahan pada pelayanan kebidanan yang mereka berikan, maka suatu strategi yang berfokus pada pasien dapat dikembangkan dan tidak hanya mengacu pada kebijakan mutu Royal Dutch Midwifery Association (KNOV).

Disarikan oleh : Lucia Evi I.
Sumber : Bienke et al. (2006) Strengths and Weaknesses of Midwifery Care From the Perspective of Women. Evidence Based Midwifery: 4, 2006, nr. 2, p. 53-59.
http://nvl002.nivel.nl/postprint/PPpp2276.pdf

{module [150]}

Peningkatan Mutu Pelayanan Postnatal: Perspektif Bidan dan Insiatif Keterlibatan dalam Peningkatan Mutu

Peningkatan pelayanan pasien bersalin merupakan salah satu kebijakan utama di Inggris, namun sejauh ini masih belum menjadi prioritas utama. Meskipun aspek perawatan terhadap pasien bersalin ini secara konsisten mendapat penilaian yang rendah. Selama lebih dari dua dekade, upaya konstan dilakukan untuk mendorong perubahan pelayanan bersalin di Inggris yang memiliki latar belakang keterbatasan sumber daya, peningkatan jumlah kelahiran, serta perhatian terhadap perempuan hamil dengan kesehatan buruk.

National Health Services (NHS) Inggris, sejak tahun 1990-an sudah mengadopsi manajemen perubahan dan tools yang dipergunakan untuk meningkatkan outcomes pelayanan, antara lain; Total Quality Management (TQM), Lean Thinking, Continuous Qulaity Improvement (CQI), dan Six Sigma. Artikel ini akan menguraikan upaya peningkatan perawatan yang dilakukan di unit bersalin wilayah Inggris Selatan, dengan menggunakan pendekatan perspektif dari bidan setelah pengenalan inisiatif perbaikan mutu seluruh organisasi untuk meningkatkan pelayanan pasien postnatal di unit rawat inap dan proses transfer pasien tersebut kembali ke rumah.

Penelitian ini berlangsung di salah satu distrik rumah sakit umum di Inggris Selatan dengan sekitar 6 ribu kelahiran per tahun. Continuous Quality Improvement (CQI) merupakan pendekatan yang dipilih dalam penelitian ini, karena dianggap paling sesuai menginformasikan peningkatan mutu yang terjadi di lokasi penelitian.

Perencanaan Upaya Perbaikan
Upaya ini diikuti dengan sejumlah langkah yang dapat diinformasikan dengan menggunakan pendekatan CQI, untuk mengidentifikasi dimana perubahan yang bisa dicapai oleh organisasi guna mendukung persiapan yang lebih baik untuk masa pemulihan pasien paska bersalin dan proses transfer pasien tersebut.

Materi Upaya Perbaikan
Setelah upaya persiapan perbaikan dilaksanakan, perubahan diterapkan di seluruh organisasi, termasuk uji coba dan pengenalan catatan baru sebagai bukti cepat berdasarkan perawatan individu, yang sejalan dengan pedoman National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE).

Materi Kuesioner
Materi kuesioner sebagian besar berisi pertanyaan tertutup, dengan lima skala likert. Namun ada opini bidan yang dapat disampaikan pada saat menjawab pertanyaan terbuka. Isi kuesioner digunakan untuk mengetahui pandangan bidan terhadap dampak revisi peran mereka pada pelayanan postnatal dan mengekplorasi tingkat keterlibatan mereka pada proses peningkatan kualitas pelayanan.

Entri Data dan Analisis
Data kuantitatif dientri (diinput) dan dianalisis untuk menyajikan hasil statistik deskriptif. Pernyataan terbuka ditranskrip dan dipilih pernyataan yang dapat mendukung pandangan bidan terhadap perubahan peningkatan mutu.

Ethical Approval
Persetujuan etik diperoleh dari Berkshire Ethic Commitee.

Hasil
Respon Rate dan Data Awal
Pada penelitian ini, dari 178 bidan yang bekerja di post unit, diharapkan sebanyak 149 responden bersedia berpartisipasi karena terlibat di berbagai aspek pelayanan postnatal. Namun pelaksanaannya, sejumlah 68 (49%) bidan yang bersedia berpartisipasi. Sebanyak 18 bidan bertugas di bangsal postnatal, 25 bidan bertugas di bangsal persalinan, dan 25 bidan bertugas di komunitas masyarakat.

Respon dari bidan sendiri meliputi beberapa hal, yaitu:

  • Perbaikan organisasi pada pelayanan di bangsal postnatal
  • Perbaikan kamar bersalin pada perawatan postnatal
  • Perbaikan catatan baru pada perawatan postnatal
  • Perbaikan konten pelayanan postnatal oleh bidan bagi masing-masing individu pasien
  • Pandangan secara keseluruhan terhadap perbaikan pelayanan postnatal

Hasil akhir penelitian ini menyampaikan bahwa apapun pendekatan peningkatan mutu yang dipergunakan, sebaiknya tetap melibatkan pihak stakeholder dari luar. Bidan memiliki peran utama dalam pelayanan postnatal dan memerlukan keterlibatan mereka pada semua tahap. Identifikasi hambatan terhadap kinerja sistem menjadi feed back yang penting dalam keberhasilan upaya ini.

Secara lengkap, hasil dan uraian lengkap mengenai penelitian peningkatan mutu pelayanan pasien rawat inap pada pelayanan postnatal, dapat diakses melalui link berikut:
http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-11-293.pdf 

Disarikan oleh : Lucia Evi I.
Sumber : Bick et al., (2011) Improving Inpatient Postnatal Services: Midwives Views and Perspectives of Engagement in a Quality Improvement Initiative. BMC Health Services Research 2011, 11:293
http://www.biomedcentral.com/1472-6963/11/293 

{module [150]}

Sistem Layanan Terpadu Kesehatan Orang Tua

Kemajuan teknologi kesehatan membawa berbagai manfaat bagi masyarakat, salah satunya adalah usia harapan hidup yang meningkat sehingga mempengaruhi populasi orang tua di seluruh dunia. Hal ini tentu akan menjadi sebuah tantangan unik bagi seluruh negara karena layanan kesehatan bagi orang tua merupakan layanan kompleks serta biasanya memerlukan pengobatan dalam jangka waktu yang lama. Isu mengenai kondisi psikososial orang tua dan sistem fungsional organ harus diobati secara simultan. Seluruh kegiatan harus terintegrasi agar pengobatan menjadi efektif, untuk itulah dibutuhkan adanya Tim Pengobatan Interdisipliner (TPI) yang telah terbukti mampu meningkatkan outcome kesehatan pada pengobatan orang tua.

Beberapa negara telah mengadopsi kurikulum pelatihan TPI ke dalam studi mereka, yakni pada fakultas kedokteran, kedokteran gigi, keperawatan, layanan sosial, farmasi hingga psikologi. Apabila pengobatan pada penyakit kronis hanya ditangani oleh tenaga medis secara tunggal, maka layanan akan terfragmentasi dan tidak menyentuh pada akar masalah masing-masing individu. Seperti pada orang tua, sudah umum mereka memiliki gangguan kognitif (daya ingat) sehingga pemahaman mereka terhadap obat-obatan yang diberikan oleh dokter pastinya akan sulit, padahal terdapat cukup banyak obat untuk diberikan dalam jangka waktu lama. Untuk itulah diperlukan adanya pengawas minum obat yang rutin melakukan cross check terhadap obat yang diminum. Masalah ketidakmampuan dalam bergerak, melakukan aktivitas harian serta fisik membuat tubuh orang tua menjadi semakin rapuh, dukungan sosial dari lingkungan terdekat akan sangat membantu dalam penanganan masalah kronis ini.

Kurikulum layanan pengobatan terpadu pada orang tua mencakup:

  1. Memahami posisi dan tanggung jawab profesi dalam penanganan kasus orang tua
  2. Komunikasi interpersonal yag baik
  3. Identifikasi masalah dan pencarian solusi atas masalah tersebut
  4. Menyediakan support sebagai penunjang satu sama yang lain
  5. Belajar untuk fleksibel dalam menghadapi masalah

Penelitian mengindikasikan bahwa pelatihan tersebut meningkatkan fungsi dan efektivitas pengobatan yang diberikan pada orang tua.

Oleh : dr. M. Hardhyanto P.
Sumber : Fitzgerald JT, Williams BC, Halter JB et al. Effects of Geriatrics Interdiciplinary Experience on Learners’ Knowledge and Attitudes. Gerontol Geriatr Educ 2006;26:17‐28.

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jgs.12822/pdf 
Coogle CL, Parham IA, Cotter JJ et al. A professional development program in geriatric interdisciplinary teamwork: Implications for managed care and quality of care. J Appl Gerontol 2005;24:142‐159.

 

Penggunaan Antidepresan Pada Lansia: Perspektif Regulasi

Penggunaan antidepresan pada lansia memerlukan perhatian yang berbeda dari pasien usia muda. Penyakit yang beragam dan kerumitan pengobatan adalah hal yang sering terjadi pada pasien lansia. Pada pasien lansia, keseimbangan antara manfaat pemberian dengan bahaya yang mungkin timbul dari beberapa obat-obatan dapat berubah-ubah. Oleh karena itu, obat untuk pasien lansia harus ditinjau secara berkala dan obat-obatan yang tidak bermanfaat harus dihentikan. Namun sayangnya masalah klinis pada pasien lansia dan pentingnya kesehatan masyarakat pada pasien lansia masih kurang dipelajari atau diteliti. Diprediksi pada tahun 2025 jumlah lansia di Indonesia meningkat empat kali lipat. Masalah kesehatan lansia kian menonjol sementara upaya pelayanan kesehatan bagi lansia masih terbatas kuantitas maupun kualitasnya. Menjadi tua berarti mengalami beragam perubahan baik fisik maupun psikososial sejalan bertambahnya umur. Bukan berarti menua tidak memikirkan kualitas hidup namun tetap harus diupayakan tetap terjaga sehingga lansia dapat sehat, aktif dan mandiri. Oleh karena itu, dibutuhkan terapi-terapi yang tepat sasaran agar dapat mengurangi efek buruk penggunaan antidepresan.

Studi yang dilakukan oleh Coupland dan rekan menekankan perlunya pilihan antidepresan dengan senyawa yang tepat untuk pasien lanjut usia karena hal tersebut bukanlah tugas yang sepele, membutuhkan pertimbangan menyeluruh pada individu pasien, penggunaan pilihan lain untuk obat-obatan dan faktor risiko penyebab penyakit. Terapi obat harus dilengkapi dengan intervensi psikologis, pemantauan medis dan penjelasan tujuan dan manfaat dari risiko obat. Hasil penelitian yang dilakukan observasional harusnya dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut. Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu perubahan faal oleh proses menua, status medik atau komorbiditas penyakit fisik, status fungsional, interaksi antar obat, efektivitas dan efek samping obat serta dukungan sosial. Terapi biologik antara lain dengan pemberian obat antidepresan sangat diperlukan namun dengan proses pertimbangan yang kuat.

Oleh : Andraini Yulianti, SE., MPH.

Sumber : Antidepressant Use in The Elderly: A Regulatory Perspective. BMJ 2011;343:d4551
http://www.bmj.com/rapid-response/2011/11/03/antidepressant-use-elderly-regulatory-perspective 

 

“Metode Terintegrasi” (Sebuah Pendekatan Holistik dalam Mengurangi Risiko “Medical Errors” Pada Pasien Usia Lanjut)

Terdapat beberapa kasus dalam dunia kesehatan yang memiliki tingkat kompleksitas persoalan di atas rata-rata dan biasanya disertai oleh kondisi-kondisi yang tergolong khas dan unik. Kasus dengan jenis ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri karena selalu menuntut tersedianya pendekatan penanganan yang berbeda jika dibandingkan dengan kasus medis lainnya, tingkat kehati-hatian yang ekstra, prosedur dan metode klinis yang rumit, profesionalitas dan tingkat keahlian dengan kualifikasi tingkat tinggi, serta model penanganan yang harus holistik/menyeluruh. Salah satu diantara beberapa kasus tersebut adalah pasien dengan usia lanjut.

Berbagai fakta spesifik yang khas dari pasien usia lanjut seperti perbedaan substansial kondisi medis masing-masing individu sehingga sulit untuk digeneralisir, daya metabolisme yang mulai menurun, perilaku ketidakpatuhan terhadap resep atau rekomendasi terapis (akibat dari indikasi “memory disorder“) membuat proses penanganan medis menjadi lebih sulit. Bahkan kebanyakan dokter membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk menentukan dosis dan kadar obat yang tepat bagi para pasien usia lanjut. Belum lagi masalah yang menyangkut potensi efek samping dari pola dosis polifasmasi. Oleh karena itu, persoalan yang menyangkut pasien usia lanjut perlu mendapat perhatian secara khusus.

Di Amerika Serikat (AS), persoalan yang berkaitan dengan pasien usia lanjut telah mendapat perhatian serius sejak beberapa tahun lalu. Bahkan pada tahun 1999, AS telah merekomendasikan kepada seluruh negara di dunia untuk mulai mempersiapkan dengan seksama kebijakan dan program jaminan kesehatan, kebijakan sosial hingga sistem ekonomi guna menghadapi perubahan komposisi demografis yang tengah terjadi saat ini dan masa depan. Faktanya, baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia, jumlah warga usia lanjut terus meningkat, dan banyak diantaranya mengalami gangguan kronis serta mengidap penyakit degeneratif.

Dalam kondisi demikian, peran para spesialis geriatri, farmakologi klinis dan farmasi klinis menjadi sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Namun jumlahnya yang sangat minim merupakan persoalan tersendiri yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Keseluruhan permasalahan tersebut bermuara pada sering terjadinya “medical errors” yang tentunya merugikan banyak pihak terutama pasien. Masih banyak lagi persoalan seputar penanganan medis terhadap pasien usia dini, termasuk tentang rendahnya akurasi hasil diagnose, perubahan farmakologis yang berkaitan dengan usia, kurangnya indikasi/bukti utnuk menyimpulkan resep obat-obatan yang tepat dan lain sebagainya.

Selanjutnya, artikel ini meskipun tidak mungkin hadir untuk menyelesaikan seluruh persolan yang meliputi pasien usia lanjut. Namun artikel ini akan berupaya berpartisipasi dalam mengurangi tingkat resiko “medical errors” dengan mengenalkan/mempublikasikan kembali tentang pendekatan metode terintegrasi (integrated methods) dalam penanganan pasien usia lanjut. Metode ini mensyaratkan adanya integrasi antara apa yang disebut sebagai “implicit method” dan “explicit method” serta harus mengakomodasi perkembanganan hasil penelitian dan temuan terbaru dan persfektif yang lebih futuristik. Tujuaannya untuk mengurangi resiko “medical errors” yang dapat disebabkan oleh kelemahan metode tertentu yang diterapkan secara parsial/terpisah dengan metode lain. Atau dapat diartikan, metode ini merupakan pengembangan dan sintesis dari berbagai metode yang telah digunakan sebelumnya di negara-negara berkembang.

Integrating Both Of Implicit and Explicit Methods

Kompleksitas masalah klinis, kebutuhan akan berbagai macam terapi, serta kerentanan pasien usia lanjut terhadap “medical errors“, melahirkan kebutuhan akan tersedianya metode dan alat yang dapat membantu identifikasi penggunaan obat-obat bebahaya dalam proses pengobatan. Sejak tahun 1991 di AS telah dikembangkan oleh “Beers and Friends” seperangkat kriteria tentang bagaimana melakukan identifikasi terhadap obat-obatan yang tidak diperlukan atau yang memiliki manfaat berlebihan bagi para pasien usia lanjut.

Perangkat kriteria ini lebih dikenal dengan istilah beer’s criteria, termasuk dalam jenis “explicit methods“. Penentuan kriteria ini bekerja dengan pendekatan tingkat kesesuaian komposisi obat terhadap penyakit dan resiko efek samping, oleh penulis hal ini diistilahkan sebagai “medication approach“. Disebut demikian karena berbasis pada “medication approach” metode ini memiliki kelemahan tersendiri. Misalnya bahwa dalam pengaplikasiannya ia kurang memperhatikan kondisi pasien yang meliputi tingkat kepatuhan terhadap resep atau terapi atau kesediaan pasien dalam menerima risiko tertentu dari obat yang diresepkan. Kelamahan lainnya adalah mengabaikan perbedaan tingkat kerentanaan pasien terhadap potensi efek samping dari kandungan zat dalam obat tertentu. Meskipun dewasa ini beberapa kelemahan dalam metode eksplisit ini dapat diatasi dengan ditemukannya berbagai tekhnologi dan alat baru yang dapat membantu dokter dalam mengurangi risiko kesalahan resep atau “medical errors” seperti “screening tools” .

Selain pemanfaatan alat berteknologi tinggi, kelemahan dalam metode eksplisit dapat diatasi melalui pengintegrasian dengan metode implisit. Metode ini lebih menkankan pada kondisi pasien dibandingkan pada obat atau penyakit. Oleh karenanya, metode ini jadi sangat bergantung pada kualifikasi dokter dan profesionalitas tenaga medis. Sementara keunggulan dari metode ini adalah lebih fleksibel dan mempertimbangkan kondisi khusus yang mungkin berbeda antara pasien yang satu dengan pasien lainnya. Artinya jika metode eksplisit berfokus pada faktor-faktor eksternal pasien seperti obat dan resep, mempelajari karakter penyakit dan alat bantu, maka metode implisit berfokus pada kondisi internal pasien.

Berikut disertakan tabel yang dapat membantu anda memahami pengetian dan ciri dari kedua metode tersebut :

Metode Implisit

Metode Eksplisit

Keuntungan :

  • Memungkinkan fleksibilitas pada individu pasien
  • Tidak memerlukan masalah yang harus ditetapkan sebelumnya
  • Konsistensi pendekatan untuk kasus-kasus individual
  • Dapat disesuaikan dengan sistem komputerisasi
  • Dapat menggabungkan informasi dari literatur yang diterbitkan dan konsensus ahli
  • Dapat dengan mudah digunakan untuk tujuan pendidikan, ulasan pemanfaatan obat, dan studi epidemiologi

Kerugian :

  • Tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan tenaga medis profesional
  • Lebih sulit untuk digunakan secara konsisten
  • Lebih sulit untuk mengukur hasil dengan cara yang sah dan dapat diandalkan
  • Tidak memungkinkan fleksibilitas pada individu pasien
  • terabaikannya beberapa masalah yang hanya mungkin diketahui pada saat dilakukannya pemeriksaan penuh pada pasien
  • diperlukan penetapan masalah terlebih dahulu.

Kesimpulan

Dalam rangka mengurangi resiko terjadinya “medical errors” dalam penanganan medis untuk pasien usia lanjut, diperlukan sebuah metode yang holistik dengan menggabungkan berbagai pendekatan serta senantiasa mengakomodir perkembangan/kemajuan hasil penelitian dan teknologi baru.

Baik dalam metode implisit dan eksplisit, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Namun apabila proses penanganan pasien usia lanjut dapat dilakukan dengan mensintesiskan kedua metode tersebut, maka dapat dipastikan risiko terjadinya “medical errors” dapat diminimalisir.

Uraian tersebut di atas, tentunya bukan satu-satunya solusi yang diperlukan dalam menangani masalah pasien usia lanjut. Apa yang pernah direkomendasikan oleh Amerika Serikat pada tahun 1999 untuk mempersiapkan berbagai aspek yang terkait adalah langkah rasional yang layak dijadikan sebagai agenda utama. Termasuk didalamnya memperbanyak jumlah ahli dan pakar di bidang geriatrik serta adopsi teknologi-teknologi termutakhir yang dapat menunjang kinerja para dokter dan tenaga medis professional.

Oleh : Eva Tirta Bayu Hasri
Sumber : Flavola D., Onder G. (2009) Medication errors in elderly people: contributing factors and future perspectives. British Journal of Clinical Pharmacology.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2723202/pdf/bcp0067-0641.pdf 

{module [150]}

Penilaian dan Manajemen Gizi Pada Orang Lanjut Usia: Manfaat Bagi Kesehatan

Gizi merupakan salah satu elemen penting bagi kesehatan orang lanjut usia. Nafsu makan pada orang lanjut usia sering berkurang, sedangkan energi yang dikeluarkan banyak, selain itu juga diikuti dengan menurunnya fungsi-fungsi biologis dan psikologis. Selain perubahan patologis pada usia lanjut, penyakit kronis, penyakit psikologis, semua berperan dalam terjadinya kekurangan gizi pada orang lanjut usia. Asesmen gizi penting dilakukan untuk mengidentifikasi dan menentukan perawatan bagi pasien berisiko. Pada praktik klinis, salah satu tool yang biasa digunakan adalah Malnutrition Universal Screening. Pendekatan secara menyeluruh diperlukan untuk mencari penyebab yang mendasari terjadinya penyakit kronis, depresi, penentuan pengobatan, dan isolasi sosial. Pasien dengan gangguan fisik atau psikis memerlukan perhatian dan perawatan khusus. Suplemen oral atau enteral feeding harus dipertimbangkan bagi pasien berisiko tinggi atau pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Malnutrisi didefinisikan sebagai suatu keadaan kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan energi, protein, dan nutrisi lainnya yang dapat menyebabkan efek buruk pada bentuk tubuh, fungsi, dan outcome klinis. Gangguan malnutrisi sendiri terkait dengan terjadinya penurunan fungsi, gangguan fungsi otot, penurunan massa tulang, disfungsi sistem imunitas, anemia, berkurangnya fungsi kognitif, proses penyembuhan luka yang memburuk, lambatnya pemulihan paska operasi, tingkat re-admisi di rumah sakit, dan kematian. Sedangkan beberapa cakupan multi faktor yang akan dipaparkan pada artikel ini, meliputi:

  • Perubahan biologis sistem pencernaan pada proses penuaan
    Terdapat keterkaitan antara perubahan seseorang terhadap saluran pencernaan. Sulit untuk tidak mengaitkan faktor usia ini dengan faktor-faktor patologis seperti; diabetes, pankreatitis, penyakit hati, dan tumor ganas, karena faktor-faktor tersebut memiliki dampak buruk pada usus.
  • Perubahan fisiologis sistem pencernaan pada proses penuaan
    • Anorexia of Aging
      Usia seseorang terkait dengan penurunan energi. Pada banyak orang lanjut usia penurunan asupan energi lebih besar dibandingkan dengan penurunan pengeluaran energi sehingga menyebabkan berkurangnya berat badan. Fisiologis pada usia lanjut yang terkait dengan berkurangnya nafsu makan dan asupan energi disebut “anorexia of aging”.
    • Perubahan Berat Badan dan Komposisi Tubuh
      Studi cross-sectional menunjukkan bahwa berat badan dan Indeks massa tubuh (BMI) meningkat pada usia kira-kira 50 sampai 60 tahun, setelah itu mengalami penurunan. Selain itu dengan pertambahan usia seseorang, terjadinya kenaikan lemak tubuh dan penurunan massa lemak bebas karena hilangnya otot rangka. Sedangkan penyebab meningkatnya lemak tersebut karena berbagai faktor, seperti; berkurangnya sekresi hormon pertumbuhan, berkurangnya hormon seks, dan penurunan tingkat metabolismspane istirahat.
    • Etiologi Penurunan Berat Badan
      Penurunan berat badan pada orang lanjut usia, dapat diidentifikasi sebagai berikut:
      • Wasting
        Kerugian yang disebabkan karena asupan makanan diet yang buruk yang dapat disebabkan oleh penyakit dan faktor psikologis, yang menyebabkan keseimbangan energi keseluruhan menjadi negatif.
      • Cachexia
        Hilangnya massa lemak bebas (otot, organ, jaringan, kulit, dan tulang) atau sel massa tubuh yang disebabkan oleh katabolisme dan hasil perubahan pada konsumsi tubuh.
      • Sarcopenia
        Penurunan massa otot rangka pada orang lanjut usia.
    • Anoreksi Fisiologis
      Berikut adalah hal-hal yang “diduga” berkontribusi pada anoreksia fisiologis:
      • Peningkatan aktivitas cytokine
      • Pengosongan lambung yang tertunda
      • Perubahan distensi lambung
      • Hormonal
  • Asesmen gizi pada orang lanjut usia
    • Asesmen Diet
      Penghitungan asupan gizi yang baik sebaiknya dilakukan oleh ahli gizi. Berbagai metode yang berbeda dapat dipergunakan. Pasien dapat diwawancarai terkait makanan yang telah dikonsumsi selama 24 jam. Data makanan yang dikonsumsi selama 7 hari juga dapat dipergunakan dan dapat membantu menghilangkan variasi. Penurunan berat badan yang tidak disengaja adalah salah satu prediktor terbaik dari hasil klinis terburuk dan pada orang tua adalah dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan.
    • Asesmen Klinis
      Sejumlah besar tanda-tanda klinis dapat menunjukkan terjadinya kekurangan gizi. Penilaian umum yang yang dapat dilihat, antara lain; fisik individu, kulit yang terlihat kering/ bersisik, penyembuhan luka yang buruk. Berikut adalah identifikasi tanda-tanda klinis dan defisiensi gizi:

        art-20mei1

    • Tool Skrining
      Malnutrisi Universal Screening Tool (MUST) adalah lima langkah tool skrining untuk mengidentifikasi kekurangan gizi atau berisiko kekurangan gizi pada orang dewasa.
    • Asesmen Antropometrik
      Body Mass Index (BMI) dapat dipergunakan untuk memprediksi risiko penyakit pada orang kurus maupun obesitas. Pengukuran BMI pada orang lanjut usia memiliki keterbatasan-keterbatasan, hal ini dapat disebabkan karena perubahan postur tubuh, hilangnya tonus otot. Pada kasus tinggi badan tersebut, data diperoleh dari bagian tubuh lainnya, seperti; kaki, lengan, rentang lengan. Sedangkan penggunaan data antropometrik dimaksudkan untuk mendapatkan referensi nilai berbagai bagian tubuh.
    • Tanda-tanda Biokimia
      Serum albumin merupakan penanda yang biasa dipergunakan karena dapat memprediksikan kematian pada orang lanjut usia. Selain itu juga penilaian vitamin dan telusur elemen juga penting, karena apabila terjadi kekurangan pada hal tersebut, dapat menyebabkan komplikasi medis. Sampai saat ini tidak ada penanda biokimia tunggal malnutrisi sebagai uji skrining. Hal utama dalam penanda biokimia adalah penilaian secara detil dan adanya pemantauan.
  • Patologi dan non-patologi penurunan berat badan pada orang lanjut usia                             Faktor-faktor fisiologis merupakan hal yang umum pada usia lanjut usia dan kebanyakan dapat diobati. Perawatan yang dilakukan dapat berupa perawatan medis, sosial, atau psikologis.
    • Medis, antara lain: penyakit pernafasan, infeksi, disabilitas fisik, penyakit jantung, penyakit syaraf
    • Psikologis, antara lain; dementia, depresi, alkoholik, kebingungan
    • Sosial, antara lain; kemiskinan, terisolasi, ketidakmampuan untuk belanja dan memasak.Berbagai penyakit atau gangguan tersebut diatas terkait dengan terjadinya malnutrisi pada orang lanjut usia, yang salah satunya dapat menyebabkan penurunan berat badan.
  • Gizi
    • Makronutrisi dan mikronutrisi pengaturan asupan nutrisi pada orang lanjut usia penting diperhatikan dan dilakukan sesuai kebutuhan, karena kemampuan penyerapan nutrisi yang berbeda pada usia tersebut.
    • Pengaturan cairan dan elektrolit orang lanjut usia lebih rentan terkait masalah keseimbangan cairan dan elektrolit karena gangguan fisiologis pada ginjal dan perubahan persepsi terhadap rasa haus. Pada suatu studi yang dilakukan, diketahui bahwa terlepas dari kebutuhan fisiologis, orang lanjut usia tidak mengkonsumsi cairan dalam jumlah cukup untuk menjaga konsentrasi elektrolit plasma yang ideal.
    • Terapi nutrisi pada orang lanjut usia berkurangnya asupan nutrisi pada orang lanjut usia, baik karena alasan medis, sosial, fisiologis, haruslah ditangani. Misalnya pasien dengan kesulitan untuk mengunyah, harus mendapatkan perawatan gigi dan mulut serta kemungkinan untuk mendapatkan makanan lembek. Metode pemberian nutrisi juga disesuaikan untuk kondisi masing-masing pasien, seperti penentuan penggunaan oral liquid ataupun enteral feeding untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
    • Kelebihan nutrisi pada orang lanjut usia Body Mass Index (BMI) yang tinggi pada orang lanjut usia dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti; gejala osteoarthritis, katarak, gangguan sistem urinary dan kandung kemih, gangguan pernafasan. Program penurunan berat badan dapat dilakukan namun dengan pengaturan yang baik dan aman. Program diet penurunan berat badan harus dikombinasikan dengan latihan fisik yang sesuai.
  • Kesimpulan
    Pada orang lanjut usia terjadi peningkatan risiko pada diet yang tidak memadai dan peningkatan terjadi malnutrisi. Diet yang tidak adekuat dan terjadinya malnutrisi terkait dengan menurunnya berbagai fungsi pada tubuh dan peningkatan tingkat re-admisi di rumah sakit serta kematian. Proses penuaan yang terjadi dapat menurunkan fungsi fisiologis seseorang dan dapat berdampak pada status nutrisi. Selain itu penyebab patologis dapat berperan pada tidak adekuatnya nutrisi seseorang.

    Skrining menjadi penting untuk proses identifikasi dan monitoring pasien. Salah satu tool yang telah tervalidasi dan mudah untuk digunakan adalah Malnutrition Universal Screening (MUST). Pengelolaan yang dilakukan meliputi perawatan penyebab patologis dan optimalisasi pengelolaan penyakit kronis. Beberapa pasien dengan gangguan dan kondisi tertentu memerlukan perawatan khusus sesuai kebutuhan agar asupan nutrisi tetap dapat terpenuhi.

Disarikan oleh : Lucia Evi Indriarini

Sumber : Ahmed T., Haboubi N., (2010). Assessment and Management of Nutrition in Older People and Its Importance to Health. Clinical Interventions in Aging. Dove Press Journal.
http://www.dovepress.com/articles.php?article_id=4939 

{module [150]}