“Improve, innovate, inspire. Accelerate your quality and safety programme!”

Semangat inilah yang mengawali International Forum on Quality and Safety in Healthcare pertama di Asia, acara tersebut diselenggarakan oleh Institute of Healthcare Improvement (IHI) dan BMJ. Acara dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 28 – 30 September 2015, para peserta dapat mengetahui dan mempelajari pengetahuan terkini seputar kualitas dan keselamatan layanan kesehatan.

Forum pertama ini mengambil tempat di Hong Kong Convention and Exhibition Centre dan diisi sebagian besar oleh pembicara ahli dari negara-negara Asia, ditambah beberapa sesi diisi oleh pembicara ahli dari penjuru dunia. Para peserta datang dari 43 negara dengan jumlah 1200 orang.

Pemilihan tema “Improve, Innovate, Inspire” memiliki maksud agar forum ini dapat menjadi tempat bagi para partisipan memperoleh kemampuan baru demi meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan serta menemukan ide baru untuk melakukan inovasi-inovasi yang terkait kualitas dan keselamatan. Selain diisi oleh sesi-sesi presentasi dan diskusi, forum ini juga diisi dengan pameran para eksibitor dan poster dari 200 proyek seperti keselamatan pasien, kebijakan kesehatan, peningkatan kualitas klinis dan frekuensi infeksi.

Forum ini akan menjadi program rutin di Asia dengan lokasi selanjutnya bertempat di Singapura pada 14 – 16 September 2016. Acara ini akan berlangsung setelah pelaksanaan International Forum on Quality and Safety in Healthcare 2016 di Gothenburg, Swedia pada 12 – 15 April 2016.

IHQN tahun ini diwakili oleh dr. Mochamad Muska Nataliyansah, MPH. dari Eka Hospital Group, sehingga berbagai reportase kegiatan selama tiga hari penyelenggaraan International Forum on Quality and Safety in Healthcare di Hongkong dapat disajikan di  website mutupelayanankesehatan.net. Semoga bermanfaat. (md.mn)

International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

 

Indeks Kepuasan Pasien Sebagai Indikator Mutu Pelayanan

Survei kepuasan pasien sering dijadikan salah satu tolak ukur kualitas pelayanan dokter. Dokter yang melakukan tindakan pembedahan misalnya, apabila pasien puas maka dianggap operasi tersebut sukses. Tidak ada hal yang salah dengan komponen tersebut, namun bukan berarti survei kepuasan merupakan indikator satu-satunya dari kualitas layanan kesehatan.

Terdapat berbagai bias dalam survei Kepuasan pasien sehingga tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya, diantaranya:

  1. Desain survei kepuasan seringkali tidak memiliki pertanyaan yang spesifik. Pertanyaan terkadang ambigu dan dapat menimbulkan jawaban lain dari yang ditanyakan. Netralitas dalam melakukan survei juga harus dijaga, karena terkadang surveyor mengambil data hanya dari pasien dengan penyakit ringan dan hanya dari pasien dengan mood emosi yang baik. Sudah tentu hasilnya pasti baik. Menghindari hal ini dengan membuat pertanyaan survei secara ketat dan mengawasi proses pengambilan data yang dilakukan.
  2. Survei dilakukan kepada pasien yang datang ke rumah sakit tentu memiliki hasil bias karena pasien yang merasa puas dengan kinerja rumah sakit tentu akan berkunjung kembali dilain hari. Sehingga besar apabila survei dilakukan pada pasien RS maka besar kemungkinan hasilnya baik. Cara untuk menghindari hal ini adalah dengan menggunakan sampling kunjungan rumah untuk mendapatkan data-data kualitatif mengenai kualitas pelayanan dari setiap bagian
  3. Tidak ada komitmen untuk berubah meskipun hasil survei telah diketahui. Hal ini yang menjadi masalah karena tujuan awal dari survei kepuasan pasien untuk melakukan perbaikan namun terdapat resistensi dari staf rumah sakit yakni keengganan untuk berubah. Solusi dari hal ini adalah dengan memperkuat kapasitas staf rumah sakit. Melakukan pendekatan personal secara perlahan pada staf yang tetap resisten terhadap rencana perubahan.

Tidak lengkap apabila survei kepuasan pasien tidak dilengkapi dengan survei kepuasan internal. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kepuasan dari semua staf, dokter, maupun tim manajemen. Penting untuk diketahui adalah adanya pertanyaan yang bersifat isian untuk melihat mengeksplorasi kepuasan secara lebih jauh.

Sebagai kesimpulan, belum terdapat konsep yang pasti dalam penilaian kepuasan pasien, meskipun saat ini kepuasan pasien menjadi baku standar pelayanan minimum oleh kementerian kesehatan. Rumah sakit dapat memanfaatkan penilaian kepuasan pasien untuk meningkatkan pelayanan yang masih minus. Tetapi rumah sakit jangan berpuas diri terhadap penilaian positif karena bisa jadi hasil tersebut positif palsu, menyembunyikan kualitas pelayanan yang sebenarnya buruk.

Oleh : dr. M. Hardhantyo PW
Sumber : Al Abri et al., Patient Satisfaction Survey as a Tool Towards Quality Improvement. Oman Medical Journal (2014) Vol. 29, No. 1:3-7.

{module [150]}

Keterlibatan Keluarga Dalam Mengelola Pasien: Survei di RS Amerika Serikat

Keluarga merupakan unit paling dekat dengan pasien, dan merupakan perawat utama bagi pasien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau perawatan yang diperlukan pasien di rumah sakit. Keberhasilan perawat di rumah sakit akan sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan pasien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal perawatan di rumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat pasien di rumah sehingga memungkinkan pasien tidak kambuh atau dapat dicegah.

Sebuah survei yang dilakukan di rumah sakit Amerika Serikat mengenai praktek pasien dan keterlibatan pasien dan keluarga pasien dalam mengelola pasien di rumah sakit menunjukkan hal yang luar biasa. Hasilnya pasien dan keluarga pasien yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan secara bersama-sama dalam perawatan dan menjadikan pasien sebagai mitra dapat meningkatkan optimalisasi kesembuhan pasien, selain itu dengan melibatkan anggota keluarga seperti berpartisipasi dalam koordinasi keperawatan sangat penting.

Keluarga merupakan bagian dari tim pengobatan dan perawatan. Apalagi di Indonesia dengan kultur sosialnya tinggi ditambah keterbatasan jumlah perawat di rumah sakit sehingga tugas merawat orang sakit yang dirawat di rumah sakit umumnya dilakukan oleh keluarga yang menjaga. Para anggota keluarga menunggui secara bergantian, bahkan sering menjaga bersama-sama. Sementara perawat di rumah sakit yang seharusnya merawat orang sakit juga harus melakukan tugas-tugas yang lain di bangsal perawatan. Maka, peran keluarga penting untuk memantau kebutuhan pasien dari laporan perawat atau jika perlu malakukan komunikasi langsung.

Beberapa rumah sakit mengizinkan pasien untuk membawa alat komunikasi yang perlu digunakan. Hal ini juga terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan di rumah sakit Amerika serikat bahwa dengan keterlibatan pasien maupun anggota keluarganya dalam merawat dan memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk berkunjung ke rumah sakit lebih lama dapat menguragi resiko kecemasan yang berlebihan yang diderita oleh pasien. Tentunya hal ini dapat dirasakan jika penderita merasakan adanya dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya, merasa dirinya dihargai, diperhatikan dan dicintai.

Contohnya adalah bila ada seseorang yang sakit dan terpaksa di rawat di rumah sakiy maka sanak saudara ataupun teman-teman biasanya datang berkunjung. Dengan kunjungan tersebut maka orang yang sakit atau pasien ini tentu merasa mendapat dukungan sosial sehingga secara tidak langsung dapat mempercepat kesembuhan

Keluarga yang akan menerima penderita di rumah sepulang dari rumah sakit. Begitu siap dipulangkan keluarga menerima estafet pengelolaan penderita di rumah sebagai kelanjutan pengelolaan di rumah sakit. Karena itu selama di rumah sakit keluarga berhak atas informasi pengobatan, perawatan, dan penanganan lainnya terhadap penderita. Karena itu bertanya kepada pihak rumah sakit merupakan hak keluarga untuk memperoleh informasi tersebut. Keluarga perlu perlu mulai membuka dan menjalin ‘kedekatan’ dengan personel rumah sakit untuk keperluan ini

Oleh : Armiatin, SE., MPH.
Sumber : Herrin J. et al., Patient and Family Engagement: A Survey of US Hospital Practices. BMJ Qual Saf 2015;0:1–8. doi:10.1136/bmjqs-2015-004006.

{module [150]}

Genuine Caring: Sinergi Bidan-Pasien

Topik bahasan yang diangkat minggu ini masih seputar mutu pelayanan kebidanan. Seperti halnya tenaga kesehatan profesional lain, bidan memiliki peran penting dalam proses pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Peran tersebut tidak dapat dipungkiri semakin memiliki ‘porsi’ yang besar untuk daerah terpencil, dimana jumlah tenaga kesehatan sangat terbatas. Tuntutan untuk mempertahankan mutu dapat ‘terabaikan’ manakala rasio provider kesehatan yang tersedia dengan pengguna layanan kesehatan tidak sebanding. Namun tentu saja setiap upaya peningkatan mutu tetap harus dilakukan dan diusahakan oleh provider kesehatan, salah satunya adalah membekali tenaga kesehatan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, serta tentu saja membangun relasi yang baik dengan pasien itu sendiri.

Minggu ini akan disajikan 2 artikel yang diharapkan dapat memberikan input positif. Artikel pertama akan menguraikan bagaimana penerapan genuine caring dapat meningkatkan mutu pelayanan bagi ibu hamil. Sedangkan artikel kedua akan memaparkan rekomendasi yang dapat dijadikan referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui bidan yang berkualitas. (lei)

 

24 Juni 2015: Hari Bidan Nasional

24 Juni 2015 lalu diperingati sebagai Hari Bidan Nasional dan sebagai bentuk penghargaan bagi profesi bidan. Pada minggu ketiga ini, masih akan dipaparkan dua artikel dengan topik upaya peningkatan mutu pelayanan kebidanan, yang dapat dijadikan input bagi provider kesehatan khususnya di tingkat organisasi dalam upaya quality improvement.

Artikel pertama akan menyampaikan hasil evaluasi kebidanan keperawatan primer di Belanda. Sedangkan artikel kedua memaparkan hasil analisis pelayanan kebidanan di Nigeria. Diantaranya dengan mengacu pada standar International Confederation of Midwives (ICM), serta adanya penerapan program pelayanan kebidanan khususnya untuk daerah yang ‘kurang’ terlayani.

Pentingnya peran bidan dalam pelayanan kesehatan sejalan dengan tema utama peringatan bidan internasional 2015 yang disampaikan oleh ICM yaitu The World Needs Midwives More Than Ever. “Selamat Hari Bidan”. (lei)

{module [152]}

Indikator Tepat: Outcome Optimal

Pada setiap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien tentu saja akan diikuti dengan harapan outcome yang dihasilkan merupakan outcome optimal dan terbaik yang dapat dihasilkan. Hal ini juga menjadi salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh bidan dalam memberikan layanan asuhan kebidanan bagi pasien mereka. Berbagai faktor menjadi penentu dalam proses pencapaian outcome tersebut, salah satunya adalah penentuan indikator untuk menilai mutu pelayanan kebidanan yang diberikan.

Artikel minggu ini akan menyajikan dua materi terkait asuhan pelayanan kebidanan. Artikel pertama akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan di Belanda, dimana dikaji 26 indikator sebagai alat ukur yang relevan untuk layanan bidan. Sedangkan artikel kedua akan memaparkan penerapan instrumen asesmen yang diadopsi dari WHO untuk menilai mutu pelayanan bagi ibu dan bayi baru lahir di Albania. Penerapan tool yang dipergunakan dalam dua artikel tersebut diharapkan dapat memberikan input bagi provider pelayanan kebidanan dalam upaya memberikan pelayanan bermutu dan outcome optimal bagi pasien. (lei)

{module [152]}

Forum Mutu IHQN ke-XI

Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN)

Bekerja sama dengan:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Menyelenggarakan

Forum Mutu IHQN ke-XI
MUTU PELAYANAN KESEHATAN SEBAGAI ISU TERPENTING
DALAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

Surabaya, 9-10 September 2015

 

Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meski dirancang untuk menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali, namun hingga kini masih banyak harapan yang belum optimal tercapai termasuk aspek mutu dalam pelayanan kesehatan. Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan sektor kesehatan perlu bekerja sama untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang lebih baik. Mulai dari dari para klinisi, pengelola sarana pelayanan kesehatan hingga para regulator. Masing-masing pihak perlu melakukan terobosan untuk menjawab tantangan yang terjadi di tahun 2015 ini.

Forum Mutu IHQN XI tahun 2015 ini diadakan untuk memfasilitasi pembahasan konsep dan pengalaman upaya-upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di Indonesia dalam era JKN. Terdiri dari 4 bentuk kegiatan: Seminar, Pameran Poster, Workshop, dan Studi Banding. Forum Mutu Pelayanan Kesehatan (Forum Mutu) adalah agenda tahunan dari IHQN, diselenggarakan sejak tahun 2005 di kota-kota besar di Indonesia. Forum Mutu memiliki ciri khas untuk selalu berusaha menampilkan praktisi upaya peningkatan mutu sebagai pembicara sehingga tidak sekedar bicara konsep.

Sedangkan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) didirikan di Jakarta pada tahun 2005, merupakan lembaga not-for-profit, independen. IHQN berusaha untuk menjadi jaringan kerjasama antara para profesional, pemilik, manajer, regulator, peneliti, pembuat kebijakan dan konsumen sarana pelayanan kesehatan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman dan efisien bagi seluruh masyarakat Indonesia. Saat ini IHQN telah memiliki lebih dari 400 anggota baik institusi maupun individu. Pengurus IHQN telah menjadi anggota jejaring serupa di regional maupun internasional yaitu melalui Asian Society for Quality in Healthcare (ASQua) berpusat di New Delhi dan anggota International Society for Quality in Healthcare (ISQua) berpusat di Dublin.

  PESERTA

Peserta yang diharapkan dapat ikut serta dalam Forum Mutu ini adalah:

  • Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi profesi (IDI, PPNI, IBI, dsb), lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, Jamkesda, Asuransi Kesehatan Swasta), lembaga sertifikasi/akreditasi (KARS, KALK, ISO, MenPAN, Badan Mutu, dsb), LSM bidang kesehatan dan sebagainya
  • Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer RS, Kepala Puskesmas dan Pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya
  • Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, penunjang medik, dsb
  • Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3
  • Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Perguruan tinggi, Peneliti, Konsultan


  CALL FOR PAPER

Secara luas peserta dapat mengirimkan hasil laporan penelitian, studi kasus dan atau kajian (review) terkait mutu pelayanan kesehatan sesuai Tema Forum Mutu ke IX dalam bentuk Naskah Abstrak Terbatas. Batas pengiriman Naskah Abstrak Terbatas tanggal 30 Juli 2015.

Naskah Abstrak Terbatas akan diseleksi oleh Komisi Ilmiah. Penulis akan mendapatkan pemberitahuan hasil seleksi yang diputuskan Komisi Ilmiah melalui surat elektronik (Email) pada tanggal 15 Agustus 2015. Jenis presentasi melalui poster.

Naskah Terbatas yang dikirimkan harus memenuhi format dan struktur penulisan berikut:

  1. Abstrak dapat berupa Hasil laporan penelitian atau Hasil Analisa (studi kasus dan atau kajian review) Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Format Penulisan
    1. Menggunakan Bahasa Indonesia
    2. Menggunakan Tipe Huruf Calibri
    3. Menggunakan Ukuran Huruf 12pt
    4. Menggunakan Format Paragraf 1,5 spasi
  3. Struktur Penulisan Abstrak
    1. Judul, Nama Lengkap Penulis dan Afiliasi, dan Alamat Email Penulis.
    2. Mengandung Unsur: pendahuluan (termasuk latar belakang dan tujuan), metode penelitian dan bahan, hasil dan diskusi, kesimpulan.
    3. Jumlah kata yang digunakan dalam Judul Abstrak tidak melebihi 18 kata.
    4. Jumlah kata yang digunakan dalam Abstrak tidak melebihi 300 kata.
    5. Jumlah kata yang digunakan dalam Kata Kunci tidak melebihi 5 kata.
  4. Abstrak dikirim ke IHQN melalui lucia.evi.i@ugm.ac.id 

Bagi 10 peserta terpilih maka akan disediakan fasilitas pencetakan poster dari panitia dan harga khusus mengikuti Forum Mutu ke 11 sebesar Rp 1.000.000,- (sebagai pengganti konsumsi dan materi)

  BIAYA

Kegiatan

Biaya

Keterangan

Forum Mutu IHQN

Rp. 2.500.000,-

  • Diskon 10% untuk rombongan 10 orang atau lebih*
  • Diskon 10% untuk member IHQN*
  • Diskon 10% untuk mahasiswa S1 dan S2

*tidak dapat digabung dengan diskon lainnya

Pelatihan

Rp. 1.500.000,-

  • Diskon 10% untuk rombongan 10 orang atau lebih

Workshop

Rp. 500.000,-

Hanya untuk peserta yang telah mendaftar dalam BMJ International Forum for Quality and Safety (Hong Kong)

Benchmark

Gratis

Hanya untuk peserta Forum Mutu

Biaya Pendaftaran dapat ditransfer melalui Bank BNI UGM Yogyakarta No.Rekening 0203024192 atas nama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan

PRE_FORUM

Peserta dapat memilih salah satu:

  1. Pelatihan Koding dan INACBGs
  2. Pelatihan Monev RS Ponek 24 jam bagi Pimpinan dan Staf Dinas Kesehatan
  3. Pelatihan Pemenuhan Standar AMC JCI bagi Pimpinan dan Staf RS Pendidikan
  4. Pelatihan Standar Akreditasi Puskesmas
  5. Pelatihan Analisa Data Klaim Untuk Deteksi Potensi Fraud
  6. Workshop Persiapan Peserta BMJ International Forum for Quality and Safety (Hong Kong)
  7. Benchmark: RSUD/ Rumah Sakit Swasta di Surabaya

  Agenda Forum Mutu IHQN

Hari I : 9 September 2015

Keynote I: Menggapai Cita-Cita JKN: Memperluas cakupan, Meningkatkan jenis pelayanan dan Memastikan perlindungan biaya (3 Dimensi UHC dari WHO)

Keynote II: Mengukur mutu layanan kesehatan dalam JKN: efektiftas, efisiensi, kemudahan akses, keamanan, ketepatan waktu dan fokus kepada pasien.

Keynote III: Berbagai inovasi peningkatan mutu oleh para klinisi, pengelola sarana pelayanan kesehatan dan para regulator

Sesi Pararel A:

Manajemen Mutu Pelayanan Rujukan Kesehatan

Sesi Pararel B:

Pencegahan dan Pengendalian Fraud dalam Layanan Kesehatan

Sesi A1: Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu

Sesi B1: Dampak Fraud Terhadap Mutu Layanan Kesehatan

Sesi A2: Pengembangan Konsep Sistem Rujukan dii Rumah Sakit Rujukan Nasional

Sesi B2: Membangun Budaya Anti Korupsi di Organisasi

Sesi A3: Manual Rujukan KIA di Tingkat Provinsi

Sesi B3: Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud di RS

Hari II: 10 September 2015

Sesi Pararel C:

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Sesi Pararel D:

Pengukuran Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan

Sesi C1:  Penerapan e-Clinical Pathways

Sesi D1:  Mengukur Peran JKN dalam Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan: Konsep dan Hasil Pengukuran

Sesi C2: Penerapan e-Documentation dalam Akreditasi RS: Kebijakan, Pedoman dan SOP

Sesi D2:  Metode dan Hasil Pengukuran Tingkat Kepuasan Peserta dan Provider BPJS

Sesi C3: Sistem Informasi Manajemen Akreditasi RS (Si-MARS): Alat bantu monev persiapan akreditasi di RS berbasis web

Sesi D3: Evaluasi Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Sistem Kapitasi

Keynote IV: Mutu Pelayanan Kesehatan di RS dari Kaca Mata Pasien: Pengalaman Nyata Pasien dalam Program BPJS

Keynote V: Persaingan Dalam Era JKN: Pengalaman Jaringan RS “Mayo Clinic” menjadi RS Terbaik dalam 100 Best Hospital di USA

Keynote VI: Hasil Forum Mutu 2015 dan Penutupan serta Pengumuman Rencana Forum Mutu 2016

 

  PENDAFTARAN

Sdr. Lucia Evi Indriarini (Lucia)
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM Sayap Utara Lt. 2, Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Phone              : 0274-547658 (hunting)
Fax                   : 0274-549425
Mobile             : 0878 3825 8333
Email               : lucia.evi.i@ugm.ac.id
Informasil lengkap dapat diakses di www.mutupelayanankesehatan.net 

 

 

Asuhan Kebidanan Bermutu: Perspektif Pasien

Bidan memiliki peran penting pada pelayanan asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu hamil dan melahirkan, bahkan pada tahapan paska melahirkan. Bulan ini topik yang diangkat terkait dengan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan. Hal ini sejalan dengan peringatan Hari Bidan Nasional yang akan jatuh pada tanggal 24 Juni 2015, sedangkan Hari Bidan Internasional diperingati setiap tanggal 5 Mei.

Seperti tema utama peringatan bidan internasional 2015, “The World Needs Midwives More Than Ever” yang disampaikan oleh International Confederation of Midwives (ICM). Maka sebagai bentuk penghargaan terhadap upaya pelayanan kesehatan oleh profesi bidan, selama empat minggu ke depan akan dipaparkan berbagai artikel maupun informasi yang relevan dengan pelayanan kebidanan. Dua artikel minggu ini akan menguraikan dua hasil penelitian yang mengeskplorasi perspektif pasien pengguna pelayanan asuhan kebidanan serta upaya peningkatan mutu layanan. Aspek-aspek apa saja yang memberikan kontribusi yang dinilai dapat meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, serta pendekatan yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan. (lei)

{module [152]}

Mutu Pelayanan Terpadu Untuk Pasien Geriatri

Tema pelayanan bermutu untuk pasien geriatri masih menjadi bahasan yang akan disampaikan minggu ini. Setelah sebelumnya berbagai informasi terkait upaya perawatan pasien geriatri seperti; penatakalaksanaan gizi, penggunaan tools pendukung pelayanan kesehatan bagi pasien geriatri, perspektif pelayanan geriatri serta upaya mengurangi risiko medication error, telah disampaikan. Maka minggu ini 2 artikel akan memaparkan mengenai isu Tim Pengobatan Interdisipliner (TPI) serta penggunaan obat antidepresan pada lansia apabila ditinjau dari perspektif regulasi.

Pada salah satu artikel, bahasan penerapan sistem pelayanan yang terpadu dengan menggunakan teknik pengobatan interdisipliner diyakini dapat memberikan ourcome terbaik, mengingat tingkat kompleksitas penyakit yang diderita oleh pasien geriatri. Sedangkan artikel lainnya menguraikan mengenai penggunaan antidepresan bagi lansia yang memerlukan pertimbangan ‘khusus’. Dan apabila ditinjau dari perspektif regulasi, diperlukan lebih banyak data uji coba terkontrol pada pasien lansia, sebelum pedoman klinis terkait antidepresan dapat diformulasikan. (lei)

 

Hari Lansia Nasional: Pelayanan Bermutu Untuk Pasien Geriatri

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional pada pada 29 Mei 2015, merupakan bentuk penghargaan dan rasa peduli bagi orang lanjut usia. Pencanangan peringatan Hari Lanjut Usia di Semarang pada 29 Mei 1996 tersebut, merupakan bentuk penghargaan terhadap Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat yang dalam usia lanjut masih memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Peringatan tersebut dapat pula menjadi mometum yang tepat di dunia kesehatan, khususnya untuk mengupas dan berbagi informasi mengenai seluk beluk pelayanan kesehatan yang bermutu bagi pasien lanjut usia atau pasien geriatri. Pasien geriatri sendiri adalah pasien lanjut usia dengan beberapa penyakit dan masalah biopsikososial. Berbagai gangguan fungsional dan nurisi, serta menurunnya fungsi organ merupakan beberapa hal yang menjadikan pelayanan kesehatan bagi pasien geriatri menuntut pendekatan secara holistik. Kompleksitas dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi pasien lanjut usia, memicu banyak pihak untuk terus meningkatkan pengetahuan sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan oleh provider dapat tepat sesuai kebutuhan.

Untuk memperkaya informasi pelayanan kesehatan bagi pasien geriatri, minggu ini dipaparkan dua artikel yang akan membahas mengenai metode yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko medical error pada perawatan pasien lanjut usia serta paparan hasil studi yang dilakukan di London. Pada studi tersebut disampaikan hasil dari penggunaan suatu tool yakni, The Camberwell Assessment of Need for The Eldery untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien, perawat, dan tenaga kesehatan profesional dalam pelayanan kesehatan bagi pasien lanjut usia. “Selamat Hari Lanjut Usia Nasional” (lei)

{module [152]}