Asesmen Pasien Geriatri: Peningkatan Outcome dan Mutu Pelayanan Kesehatan

Suatu pelayanan yang bermutu di dalamnya terkandung rasa aman dan pemenuhan kebutuhan pengguna. Demikian pula bagi pasien lanjut usia, dimana biasanya permasalahan kesehatan yang dialami relatif kompleks dan memerlukan penanganan serta pelayanan kesehatan yang komprehensif. Penyakit yang kerap diderita oleh pasien lanjut usia terkadang tidak hanya satu penyakit tunggal, namun dapat terjadi suatu komplikasi. Selain itu, kondisi fisiologis dan biologis pada pasien usia lanjut usia juga memerlukan perawatan secara khusus dan berbeda apabila dibandingkan pasien dengan usia yang relatif lebih muda.

Minggu ini, dua artikel yang dipaparkan akan mengulas mengenai kegunaan instrumen asesmen bagi pasien lanjut usia serta pentingnya pengelolaan nutrisi yang disesuaikan dengan usia pasien, karena proses penyerapan nutrisi untuk pasien lanjut usia juga berbeda dengan pasien usia lebih muda. Berbagai metode yang dipergunakan akan berbeda sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik pasien baik secara medis, sosial dan psikologis. (lei)

 

 

Penatalaksanaan Pasien Diabetes Melitus: Maksimalkan Outcome – Minimalkan Biaya Perawatan

Topik bahasan minggu ini masih akan mengupas tentang penatalaksanaan pasien Diabetes Melitus. Jika tiga minggu sebelumnya, berturut-turut telah disampaikan artikel dari sudut pandang yang berbeda (pasien, unit pelayanan, dan organisasi rumah sakit), maka minggu ini artikel yang dipaparkan diharapkan dapat memberikan masukan bagi lingkungan di luar organisasi rumah sakit yang tentu saja terkait dengan proses pelayanan atau unit pelayanan kesehatan bagi pasien diabetes melitus itu sendiri, seperti; regulator, intansi dan lain sebagainya yang terkait dan concern terhadap isu tersebut.

Artikel minggu ini akan memaparkan upaya untuk meminimalkan biaya perawatan pasien diabetes dengan menerapkan program manajemen penyakit. Penelitian dilakukan untuk membuktikan efektivitas penerapan program manajemen penyakit diabetes tersebut dengan melakukan komparasi antara pasien yang terlibat dan pasien yang tidak terlibat dalam program tersebut. Sedangkan artikel lainnya akan menyampaikan upaya pengembangan indikator mutu untuk perawatan pasien Diabetes Melitus yang dapat dipergunakan sebagai kajian studi banding kinerja antar sistem pelayanan kesehatan, selain itu paparan dalam artikel tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pembuat kebijakan dan peneliti untuk memahami perbedaan mutu pelayanan diabetes antar sistem pelayanan kesehatan. (lei)

{module [152]}

Kolaborasi Tenaga Kesehatan Untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Optimalisasi peran berbagai pihak dalam suatu perawatan kesehatan merupakan salah satu hal yang masih terus dikembangkan saat ini. Istilah kolaborasi antar profesi (baca: tenaga kesehatan) merupakan salah satu sistem yang terus dikembangkan agar pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Berbagai definisi kolaborasi banyak dikemukakan, diantaranya menurut Henderson (1991) yang mendefinisikannya sebagai kerjasama antara tenaga kesehatan (Dokter, Perawat, tenaga kesehatan lain) dengan pasien dan keluarganya untuk mencapai tujuan. Kolaborasi juga dapat didefinisikan sebagai  hubungan timbal balik dimana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka. Praktik kolaborasi menekankan tanggung jawab bersama dalam menajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan keputusan bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan praktisi (American Nurses Association, 1992). Meskipun banyak definisi yang disampaikan, namun inti dari upaya kolaborasi ini untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan terbaik bagi pasien.

Masih mengulas tema pelayanan kesehatan bagi pasien dengan penyakit Diabetes Melitus, minggu ini fokus bahasan akan menguraikan  bagaimana kolaborasi antar tenaga kesehatan akan memberikan kontribusi dalam pemberian pelayanan yang bermutu kepada pasien Diabetes Melitus sehingga dapat menghasilkan outcome terbaik. Satu artikel diantaranya akan mengulas mengenai faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam proses kolaborasi, sedangkan artikel lainnya akan membahas program-program yang dapat diterapkan pada perawatan pasien Diabetes, yang tentu saja terkait dengan kerjasama yang dilakukan antar tenaga kesehatan. Artikel-artikel tersebut diharapkan menjadi referensi yang dapat dipergunakan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan di tingkat unit organisasi pelayanan kesehatan. (lei)

{module [152]}

“Selamat Hari Diabetes Nasional – 18 April 2015”

Pada Sabtu, 18 April 2015 lalu kita memperingati Hari Diabetes Nasional, peringatan ini seperti mengingatkan kita semua untuk senantiasa waspada agar tidak ‘dihinggapi’ penyakit tersebut. Seperti kita ketahui bahwa diabetes adalah penyakit dimana penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Upaya yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit ini adalah dengan memperhatikan gaya hidup, pola makan, kebiasaan kita untuk berolah raga dan berbagai kebiasaan baik lainnya sehingga seluruh fungsi tubuh kita dapat berjalan dengan baik.

Mengapa penyakit diabetes harus dicegah seoptimal mungkin? Pertanyaan ini seperti pertanyaan retoris bagi kita semua, tetapi yang perlu diingat bahwa semakin memburuknya penyakit diabetes dapat memicu munculnya penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Pencegahan penyakit diabetes merupakan hal yang penting untuk kita lakukan, namun bagi individu yang telah menderita penyakit ini, maka upaya optimal ‘wajib’ dilakukan pada penatalaksanaan penyakit ini baik oleh provider pelayanan kesehatan maupun individu yang bersangkutan. Apabila minggu lalu kita telah menyimak artikel mengenai penyakit Diabetes Melitus dari sisi pasien, maka minggu ini akan kita ulas bagaimana upaya penatalaksanaan yang dapat dilakukan di tingkat unit pelayanan. Dua artikel berikut, masing-masing akan menyampaikan pengetahuan terkait risiko patah tulang pada pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 2, dan artikel lainnya akan mengulas mengenai perkembangan teknologi dan metode keperawatan terhadap pasien pengidap Diabetes Melitus, yang diharapkan dapat memperkaya upaya peningkatan pelayanan mutu, “Selamat Hari Diabetes Nasional 2015”. (LEI)

{module [152]}

Policy Brief Untuk Peningkatan Kualitas Pelayanan Rawat Jalan

Kualitas pelayanan atau Quality of Care (QOC) merupakan tujuan utama dalam upaya peningkatan sistem kesehatan di negara-negara skala menengah ke bawah (Low and Middle Countries- LMICs). Kualitas pelayanan kesehatan di berbagai aspek menjadi perhatian kita semua, demikian juga dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut. Salah satunya adalah pelayanan rawat jalan, dimana saat ini masih terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan rawat jalan di negara-negara dengan skala tersebut masih buruk. Untuk menilai mutu pelayanan kesehatan tersebut, dilihat dari beberapa aspek, meliputi; inputs (fasilitas, staf, perlengkapan, suplai), proses (kepatuhan protokol dan standar pelayanan), dan outcomes (gejala yang muncul, usia hidup, komplikasi atau outcome yang buruk).

Di sisi lain, Universal Health Coverage (UHC) yang ‘diperkenalkan’ di LMICs of the Asia Pacific Region mengindikasikan munculnya masalah terkait mutu yakni rendahnya mutu pelayanan kesehatan serta diperlukannya strategi dan regulasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan tersebut. Berbagai penerapan strategi untuk meningkatkan pelayanan rawat jalan dilaksanakan di negara-negara ini, namun berbagai pertanyaan muncul terkait hal tersebut, seperti; apakah strategi yang diterapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan atau apakah strategi yang diterapkan sesuai dengan skala yang ada.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, maka policy brief berikut diharapkan dapat ‘menelusur’ permasalahan yang ada di pelayanan rawat jalan, me-review berbagai strategi peningkatan kualitas pelayanan rawat jalan, serta memberikan pedoman yang dapat dipergunakan oleh pembuat kebijakan di negara-negara skala menengah ke bawah tersebut. Secara lengkap policy brief tersebut dapat diakses di link berikut: Policy Brief: Quality of Care – What are effective policy options for governments in low- and middle-income countries to improve and regulate the quality of ambulatory care?

Selain memaparkan upaya peningkatan kualitas pelayanan di rawat jalan melalui pemaparan policy brief, minggu ini akan dimuat pula artikel terkait upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan melalui kewaspadaan pada proses administrasi obat dan upaya pencegahan kesalahan pemberian obat melalui pemanfaatan teknologi informasi. Seluruh paparan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dan memperkaya pengetahuan sehingga dapat mendukung upaya peningkatan Quality of Care di setiap lini pelayanan kesehatan (LEI).

{module [152]}

Jangan Lengah, Medication Error Selalu Mengancam

Beberapa pekan lalu kembali kita dikejutkan dengan munculnya kejadian sentinel di salah satu RS swasta besar di Indonesia, kejadian sentinel yang terkait dengan kematian pasien akibat medication error dimana obat anestesi spinal yang diberikan ternyata memiliki isi yang berbeda dengan isi yang tertera dalam kemasan obat.

Terlepas dari pihak mana penyebab kejadian ini dapat muncul, namun kejadian ini mengingatkan kita semua bahwa sarana pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit (RS) selalu memiliki risiko dalam memberikan pelayanan kesehatannya. Meski RS telah menerapkan berbagai standar dalam mencegah risiko tersebut muncul namun para pimpinan dan staf tidak boleh lengah sedikit pun, seluruh standar tersebut harus senantiasa dipelihara dan dipantau kepatuhan penerapannya dilapangan.

Paling tidak ada 3 kegiatan dalam manajemen risiko dalam layanan kesehatan, yaitu identifikasi risiko, analisa risiko dan pengelolaan risiko. Identifikasi risiko perlu dilakukan dalam setiap tahap pelayanan kehatan, termasuk pada kasus tersebut diatas adalah pada saat penerimaan obat dari rekanan, bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan penilaian terhadap proses produksi obat oleh rekanan, proses penilaian ini dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh RS atau dilakuan oleh institusi regulator terkait.

Analisa risiko terkait dengan menilai seberapa sering risiko tersebut dapat muncul, seberapa parah apabila terjadi dan bagaimana tingkat kesulitan dalam mendeteksinya, risiko yang sering terjadi, berdampak besar apabila terjadi dan sulit dideteksi merupakan risiko yang harus segera dikelola. Namun bila sebaliknya maka risiko tersebut tidak perlu ditindak lanjuti, dapat dianggap sebagai risiko yang dapat diterima.

Meskipun demikian, risiko yang sangat jarang terjadi namun berdampak besar hingga menyebabkan pasien meninggal haruslah dikelola dengan baik. Pengelolaan meliputi menghilangkan penyebab munculnya risiko, merancang ulang (redesign) hingga mencari sumber pembiayaan (asuransi) apabila risiko tersebut muncul. (HD)

{module [152]}

Medication Error: Perbaikan Pelayanan Kesehatan di Tingkat Mikro Sistem

Pelayanan kesehatan di tingkat mikro sistem sangat terkait dengan tim klinis yang berada di garis depan yang berinteraksi dengan pasien dan outcome yang dihasilkan. Berbagai aspek memerlukan perhatian di tingkat mikro sistem ini, seperti disampaikan oleh Berwick (Quality by Design: A Clinical Microsystem Approach) bahwa banyak upaya perbaikan dilakukan diantaranya yang berfokus pada pasien secara individual, dokter yang memberikan pelayanan klinis secara individual, organisasi sebagai provider, sistem pembayaran, serta aspek lainnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan, namun masih sangat sedikit upaya untuk memahami dan mengubah unit klinis frontliner untuk ‘benar-benar’ memberikan perawatan.

Salah satu aspek yang di’hadapi’ oleh tim frontliner adalah sistem tata kelola obat, yang juga memerlukan upaya pengelolaan yang baik dan benar. Sistem tata kelola obat yang dapat mencegah terjadinya medication error. Dua artikel minggu ini akan memaparkan upaya untuk mencegah medication error di tingkat mikro sistem yang dapat dilakukan oleh perawat. Perawat sebagai salah satu tim frontliner yang memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien memiliki keterkaitan dengan proses pemberian obat kepada pasien. Selain itu pada salah satu artikel yang dimuat minggu ini diuraikan pula hal-hal yang dapat dijadikan referensi dalam upaya pencegahan medication error seperti dirilis oleh American Society of Hospital Pharmacists (ASHP). Tentu saja paparan tersebut merupakan salah satu ‘bagian kecil’ referensi yang dapat dijadikan sumber pengetahuan dan dapat semakin dilengkapi dengan berbagai referensi ter-update agar pencegahan medication error dapat diupayakan dengan lebih optimal. (lei)

{module [152]}

Medication Error: Peran Pasien, Provider, dan Vendor Dalam Pencegahannya

Minggu terakhir bulan Februari 2015 lalu, publik dikejutkan dengan berita tertukarnya obat anestesi yang menyebabkan meninggalnya dua pasien di salah satu rumah sakit swasta di Indonesia. Tentu saja berita terjadinya medication error yang dapat menyebabkan terjadinya suatu Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) masih kerap kita dengar, baca, atau lihat di berbagai sarana pelayanan kesehatan. Namun, tetap saja berita tersebut kembali membuat kita terhenyak dan mempertanyakan banyak hal, seperti; bagaimana prosedur yang diterapkan, proses tata kelola obat di rumah sakit, hingga dugaan kejadian lainnya yang dapat menyebabkan obat anestesi Buvanest Spinal tertukar dengan asam Tranexamic.

Kejadian tersebut tentu saja sangat mengejutkan tetapi sekaligus dapat dijadikan sebagai suatu peringatan baik bagi praktisi kesehatan dan lembaga kesehatan yang berperan sebagai provider pelayanan kesehatan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di tempat lain. Meski pihak provider harus semakin berhati-hati, pada kenyataannya medication error yang terjadi di kasus ini diduga disebabkan oleh proses kesalahan yang terjadi di pihak vendor penyedia obat dimana vendor tersebut merupakan salah satu perusahaan skala nasional yang kredibel di Indonesia. Hal ini semakin mengejutkan karena ternyata sumber terjadinya medication error tidak hanya dapat bersumber dari pihak provider pelayanan kesehatan namun juga dapat bersumber dari vendor penyedia obat-obatan itu sendiri. Satu ‘pekerjaan rumah’ lagi bagi provider pelayanan kesehatan untuk menentukan strategi antisipasi agar kejadian medication error yang bersumber dari vendor dapat dicegah, dan menentukan langkah ‘cepat’ apa yang harus segera diambil oleh pihak provider pelayanan kesehatan ketika terjadi suatu KTD akibat medication error sehingga kejadian tersebut tidak ‘sempat’ terulang untuk pasien yang lain.

Medication error serta berbagai upaya pencegahannya masih menjadi topik yang ‘layak’ dibahas dan didiskusikan terus menerus, salah satunya sebagai upaya untuk menerapkan quality improvement di sarana pelayanan kesehatan. Peran berbagai pihak, baik pasien, provider, dan vendor sangat menentukan agar tidak terjadi medical error termasuk didalamnya medication error. Untuk itu selama empat minggu ke depan, akan kembali diulas berbagai artikel, strategi, dan pengalaman di berbagai tempat terkait dengan upaya pencegahan medication error ini. (lei)

{module [152]}

Pengalaman Peningkatan Mutu Gizi Pasien: Penentuan Kebijakan Pelayanan Gizi Pasien

Best practice di suatu daerah ada kalanya dapat dijadikan acuan dalam menentukan suatu kebijakan atau strategi perbaikan. Tidak terkecuali pada proses perbaikan mutu gizi pasien. Proses perbaikan mutu dapat dilakukan baik di tingkat pasien sampai di tingkat regulator.

Sebelumnya telah dipaparkan upaya perbaikan mutu gizi pasien dilihat dari sisi pasien, tingkat mikro, dan tingkat organisasi, maka minggu ini akan dipaparkan artikel yang memuat hasil penelitian yang dilakukan di United of Kingdom yang menguraikan manfaat dari pengukuran dan pendokumentasian tinggi dan berat pasien dalam upaya pengelolaan gizi pasien khususnya bagi pasien yang memiliki risiko malnutrisi.

Artikel lain yang dimuat minggu ini juga akan menampilkan hasil penelitian yang dilakukan dengan membandingkan tujuh instrumen screening gizi untuk pasien rawat inap usia lanjut dengan dua metode penilaian gizi lainnya.

Berbagai referensi hasil penelitian maupun penerapan pelayanan gizi yang baik untuk pasien tersebut diharapkan dapat memberikan masukan perbaikan, tidak hanya di tingkat mikro namun juga sampai di tingkat regulator. Seperti halnya salah satu contoh kebijakan tentang tenaga gizi yang telah dituangkan dalam Permenkes No. 26 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi, dimana telah ditetapkan pengaturan bagi tenaga gizi agar hasil kerjanya dapat meningkatkan status kesehatan yang optimal baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Atau dapat juga bentuk kebijakan atau ketentuan yang ditetapkan dituangkan dalam berbagai elemen persyaratan akreditasi seperti Akreditasi JCI, dimana penatalaksanaan gizi pasien menjadi salah satu item yang harus ada dalam form terintegrasi pasien.

Kesimpulan yang dapat diambil dari empat minggu paparan terkait pelayanan gizi ini adalah bahwa perbaikan mutu perlu terus dilakukan baik di tingkat pasien, pada proses mikro, di tingkat organisasi, maupun di lingkungan organisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. (lei)

{module [152]}

Mutu Gizi Pasien: Meningkatkan Program Perbaikan Gizi di Tingkat Organisasi Rumah Sakit

Upaya peningkatan pelayanan gizi pasien di rumah sakit masih menjadi topik bahasan minggu ini. Setelah dipaparkan artikel yang menyampaikan proses pelayanan gizi dari ‘pandangan’ atau sisi pasien serta upaya perbaikan proses pelayanan gizi yang dapat dilakukan di tingkat mikro, minggu ini akan disampaikan artikel yang memuat mengenai upaya perbaikan pelayanan gizi di tingkat organisasi.

Tidak hanya membahas mengenai upaya perbaikan atau peningkatan mutu pelayanan gizi di tingkat organisasi, salah satu artikel juga akan mengupas mengenai dampak dari malnutrisi yang dialami pasien yang dapat berdampak ‘luas’ pada proses pelayanan kesehatan pasien secara keseluruhan, salah satunya adalah biaya rumah sakit dapat mengalami peningkatan yang signifikan.

Mengacu pada uraian artikel-artikel tersebut diharapkan pengampu di tingkat organisasi dapat mengupayakan peningkatan mutu pelayanan gizi di rumah sakit. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti penentuan identifikasi yang jelas terkait pasien yang memiliki risiko tinggi gizi buruk, kriteria diagnosis pasien gizi buruk, serta memperhatikan penggunaan tools yang sesuai untuk screening awal pasien. Selain itu dipaparkan pula salah satu gambaran yang dapat dipergunakan untuk peningkatan program mutu pelayanan gizi pasien yakni penggunaan 5 kunci dalam program perbaikan gizi di Rumah Sakit serta panduan membuat suatu pertemuan untuk meningkatkan program perbaikan gizi d RS. (lei)

{module [152]}