Indikator Mutu Perawatan Myocardial Infarction Acut

artjan28Ada perbedaan besar antara standar optimum perawatan dan perawatan actual yang diterima pasien di rumah sakit saat mengalami myocardial infarction akut (AMI). Aplikasi indikator mutu untuk AMI di beberapa negara barat dihasilkan dari pengetahuan yang bernilai tinggi dalam kelayakannya, mudah digunakan dan sesuai keperluan data. Di Amerika Utara, banyak rumah sakit yang melaporkan indikator mutu secara rutin untuk membandingkan dan menilai rumah sakit. Melalui perbandingan dan penilaian, mutu perawatan terus meningkat seperti berkurangnya kematian di ruamh sakit akibat penyakit cardiovascular.

Penelitian Hongpeng Sun et al menggunakan 3 indikator mutu yang potensial yaitu indikator struktural rumah sakit, indikator proses dan indikator hasil. Indikator struktural didefinisikan sebagai aspek lingkungan atau teknis perawatan pasien. Indikator proses atau pengukuran kinerja klinis, meliputi bagaimana dokter menangani pasien. Indikator hasil didefinisikan sebagai perubahan status kesehatan pasien. ACC/AHA merekomendasikan bahwa aspek struktural perawatan AMI meliputi prehospitalisasi, departemen emergency, perawatan pasien rawat inap dan perawatan pasien rawat jalan serta rencana kepulangan. Proses indikator perawatan didasarkan pada perawatan pharmakologis dan non-pharmakologis seperti yang dianjurkan petunjuk praktek klinis.

Untuk menentukan indikator mutu yang potensial, Hongpeng Sun et al menggunakan 3 tahap melalui diskusi panel yaitu :

  1. Definisi
    Empat panelis dan dua ahli biostatistik dari Harbin diundang dalam pertemuan pertama tatap muka untuk mendiskusikan definisi dari masing-masing indikator, signifikansi klinis dan bagaimana menggunakan indikator.
  2. Menilai indikator mutu yang potensial
    Kuesioner penilaian semua indikator dibuat dan dikirim ke anggota panel untuk memperoleh opini ahli. Panelis diminta untuk menilai masing-masing indikator yang potensial sesuai karakteristik berikut : berdasarkan bukti, kegunaan, kamampuan interpretasi, validasi, kemampuan mencegah akibat, kelayakan, dan dugaan secara keseluruhan. Masing-masing karakteristik, menggunakan skala 5 poin : tidak setuju (nilai=1), agak setuju (nilai=2-4), dan setuju (nilai=5).
  3. Menentukan indikator mutu
    Dalam diskusi tatap muka kedua, hasil dari penilaian awal dipresentasikan ke para ahli. Panelis mendiskusikan variasi aspek indikator. Fokusnya mendiskusikan apakah indikator ini cocok dengan lingkungan perawatan kesehatan China atau tidak serta menguraikan alasannya. Jika anggota panel setuju ada indikator yang tidak sesuai dengan China maka indikator tersebut dibuang. Opini terakhir para ahli, diambil ketika mencapai sebuah konsensus.

Hasil penelitian Hongpeng Sun et al menjelaskan bahwa untuk Iindikator struktural meliputi review administrasi ilmiah rumah sakit, menguatkan peraturan, menaikkan fasilitas medis, dan menjadi latar belakang dasar pemikiran alokasi sumber daya manusia. Indikator proses meliputi empat indikator pengobatan untuk mengevaluasi prosedur pasien rawat inap meliputi aspirin, clopidogrel, beta-adrenoceptor blocking agent dan terapi thrombolytic. Tiga diantaranya (aspirin, beta-adrenoceptor blocking agents dan thrombolytics) berhubungan dengan indikator STEMI/NSTEMI seperti yang direkomendasikan AHA/ACC. Indikator akibat meliputi kematian di rumah sakit.

Untuk dua proses indikator perawatan pasien rawat inap, terutama percutaneous coronary intervention (PCI) dan thrombolytics mendapatkan perawatan dalam 30 menit kedatangannya ke rumah sakit, ada ukuran waktu yang digunakan untuk thrombolytic tetapi tidak untuk PCI. Ini karena PCI terlalu mahal sehingga banyak pasien yang memenuhi syarat, tidak dapat membayarnya dalam waktu dekat, tetapi thrombolysis dapat diterima.

Kesimpulannya, untuk penggunaan indikator diharapkan untuk mengatur sendiri sesuai dengan keadaan di Negaranya. Indikator tersebut ditujukan untuk membimbing praktek dan evaluasi perawatan untuk pasien myocardial infarction akut di rumah sakit di China.

Daftar Pustaka :
Hongpeng Sun, Meina Liu & Shuang Hou. Quality Indicators for Acute Myocardial Infarction Care in China. International Journal for Quality in Health Care 2011; Volume 23, Number 4: pp 365-374

 

 

Nantinya, Dokter Dilarang Praktik Pribadi

KOMPAS.com — Menjelang dijalankannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada tahun 2014, pemerintah berusaha untuk menyiapkan kelengkapan fasilitas dan kualitas layanan medis. Nantinya, tidak ada lagi dokter yang berpraktik pribadi di rumah karena semua standarnya adalah klinik.

Continue reading

Kemkes: Iuran BPJS Bukan Perkara Mudah

Jakarta (Beritasatu.com) – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan mulai diberlakukan 1 Januari 2014, namun saat ini banyak pihak –termasuk Kementerian Kesehatan (Kemkes)– tengah mempersiapkan beberapa komponen pendukung, salah satunya tentang besar iuran yang mesti ditanggung peserta, serta kesiapan atau mutu pelayanan kesehatan yang akan diberikan kepada masyarakat.

Continue reading

RSUD Abdya Berbenah

Blangpidie, (Analisa). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Barat Daya (Abdya) mulai melakukan pembenahan internal, mulai dari disiplin hingga peningkatan pelayanan kesehatan bagi pasien. Direktur RSUD Abdya, dr H Yunalis MKes, kepada Analisa Kamis (17/1) mengatakan, pembenahan tersebut dilakukan agar rumah sakit itu menjadi salah satu rumah sakit rujukan terbaik.

 

Continue reading

Manajemen RS Studi Banding di Selandia Baru

JAKARTA (suaramerdeka.com) – Duta Besar RI, A Agus Sriyono, semalam di KBRI Wellington, menjamu 24 orang delegasi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, yang terdiri dari berbagai Dokter Spesialis di bidangnya termasuk jajaran manajemen beberapa rumah sakit terkemuka Indonesia antara lain RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RS Fatmawati, RSIA Bunda dan RS Pondok Indah.

 

Continue reading