Sardjito Kejar Standar JCI

SLEMAN (Radarjogja.co.id) – Kementerian Kesehatan RI mendorong rumah sakit (RS) di Indonesia memiliki standar akreditasi internasional. Hingga kini baru empat RS yang memiliki sertifikasi Joint Commision International (JCI). Namun belum ada RS pelat merah memiliki standar tersebut.

Continue reading

GP Farmasi Bisa Beri Kontribusi Besar Wujudkan MDGs

Medan (Analisa) – Mengingat vitalnya organisasi farmasi, yakni mampu menyediakan layanan obat bermutu, murah dan terjangkau mulai dari produksi hingga distribusi, maka Gabungan (GP) Farmasi bisa memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan visi Millenium Development Goals (MDGS) atau Tujuan Pembangunan Millenium. Namun tak cukup cuma satu pihak, diperlukan sinergi seluruh pihak.

Continue reading

Dinkes Tata Ulang SOP Puskesmas

Tanjung Redeb (Sapos.co.id)- Setiap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat mulai tingkat puskesmas hingga rumah sakit, telah diatur didalam prosedur tetap (Protap) yang mengikat setiap tenaga medis yang memberikan pelayanan. Bahkan setiap proses pelayanan telah diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) yang juga telah ditetapkan. Namun sejauh ini pelaksanaan dari SOP yang belum tertata secara baik. Hal itu diakui Kepala Dinas Keseharan (Dinkes) Berau, drg Totoh Hermanto, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/1) kemarin.

 

Continue reading

Screening Penyakit Menjadi Metode yang Efisien Untuk Perbaikan Pengukuran Mutu

artjan28-2Ketika banyak sistem pelayanan kesehatan yang berusaha untuk memperbaiki kualitas pelayanan dengan mengendalikan biaya, terdapat cara lain seperti berfokus pada penyedia pelayanan kesehatan melalui indikator kinerja mutu pelayanan. Pada tahun 2006, di Amerika membentuk Physician Quality Reporting Initiative (PQRI) yang mana bertujuan untuk mendukung praktek dokter dalam melaporkan mutu pelayanan perawatan medis. Dalam PQRI, dokter yang terlibat harus melaporkan setidaknya tiga ukuran mutu.

Salah satu pengukurannya adalah untuk pasien penderita kanker. Kriteria pengukuran melalui persentase kunjungan pasien dengan diagnosis kanker yang menerima kemoterapi atau terapi radiasi tanpa memperhatikan usia pasien. Dokter yang memilih untuk menggunakan pengukuran tersebut dapat menggunakan data registrasi pasien untuk melaporkan screening penyakit di setiap kunjungan yang dihitung selama periode 6 atau 12 bulan sebagai proporsi kunjungan pasien yang terpilih dalam screening penyakit. Terdapat tiga pendekatan untuk pengukuran kinerja screening penyakit meliputi apakah screening penyakit telah terjadi atau belum (1) ketika mempertimbangkan sebuah sampel kunjungan terpilih (satu kunjungan per pasien terpilih), (2) ketika mempertimbangkan semua kunjungan terpilih dan (3) ketika membuat rata-rata angka screening penyakit di antara semua pasien terpilih.

Penelitian Bentley, T et al bertujuan untuk mengidentifikasi sebagian besar strategi sampel yang paling efisien untuk mengukur kinerja dalam memperkirakan pelayanan yang tersedia di setiap kunjungan pasien. Kelompok pasien yang dipilih adalah pasien kanker stadium IV yang di diagnosis pada tahun 2006 dengan kunjungan rawat jalan selama periode 3 bulan. Penelitian dilakukan terhadap 106 pasien dengan hasil penelitian 75 % pasien melakukan 4 kunjungan dalam 3 bulan, 46 % pasien melakukan 8 kunjungan dan 29 % pasien melakukan 11 kunjungan.

Hasil penelitian Bentley, T et al menyatakan bahwa terdapat ruang besar untuk perbaikan dalam mengevaluasi penyakit kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan screening penyakit onkologi dalam program pengukuran kinerja menjadi evaluasi paling efisien dengan mengumpulkan data dari sampel pasien daripada dari kelompok seluruh pasien dan dari empat kunjungan yang berurutan per pasien daripada dari semua kunjungan yang dimiliki oleh setiap pasien selama periode laporan.

Kesimpulannya, bahwa PQRI dapat membantu untuk membentuk standar perkiraan dan dokumentasi penyakit untuk memastikan bahwa penyakit dapat diketahui dan dirawat dengan segera sehingga dapat mengoptimalkan efisiensi pengumpulan data, mengurangi biaya dan memperbaiki kelayakan mutu.

Daftar Pustaka :
T.G.K. Bentley, J.Malin, S.Longino, S.Asch, S.DY & KA. Lorenz. Methods for Improving Efficiency in Quality Measurement : The Example of Pain Screening. International Journal for Quality in Health Care 2011; Volume 23, Number 4; pp 657-663

 

 

Indikator Mutu Perawatan Myocardial Infarction Acut

artjan28Ada perbedaan besar antara standar optimum perawatan dan perawatan actual yang diterima pasien di rumah sakit saat mengalami myocardial infarction akut (AMI). Aplikasi indikator mutu untuk AMI di beberapa negara barat dihasilkan dari pengetahuan yang bernilai tinggi dalam kelayakannya, mudah digunakan dan sesuai keperluan data. Di Amerika Utara, banyak rumah sakit yang melaporkan indikator mutu secara rutin untuk membandingkan dan menilai rumah sakit. Melalui perbandingan dan penilaian, mutu perawatan terus meningkat seperti berkurangnya kematian di ruamh sakit akibat penyakit cardiovascular.

Penelitian Hongpeng Sun et al menggunakan 3 indikator mutu yang potensial yaitu indikator struktural rumah sakit, indikator proses dan indikator hasil. Indikator struktural didefinisikan sebagai aspek lingkungan atau teknis perawatan pasien. Indikator proses atau pengukuran kinerja klinis, meliputi bagaimana dokter menangani pasien. Indikator hasil didefinisikan sebagai perubahan status kesehatan pasien. ACC/AHA merekomendasikan bahwa aspek struktural perawatan AMI meliputi prehospitalisasi, departemen emergency, perawatan pasien rawat inap dan perawatan pasien rawat jalan serta rencana kepulangan. Proses indikator perawatan didasarkan pada perawatan pharmakologis dan non-pharmakologis seperti yang dianjurkan petunjuk praktek klinis.

Untuk menentukan indikator mutu yang potensial, Hongpeng Sun et al menggunakan 3 tahap melalui diskusi panel yaitu :

  1. Definisi
    Empat panelis dan dua ahli biostatistik dari Harbin diundang dalam pertemuan pertama tatap muka untuk mendiskusikan definisi dari masing-masing indikator, signifikansi klinis dan bagaimana menggunakan indikator.
  2. Menilai indikator mutu yang potensial
    Kuesioner penilaian semua indikator dibuat dan dikirim ke anggota panel untuk memperoleh opini ahli. Panelis diminta untuk menilai masing-masing indikator yang potensial sesuai karakteristik berikut : berdasarkan bukti, kegunaan, kamampuan interpretasi, validasi, kemampuan mencegah akibat, kelayakan, dan dugaan secara keseluruhan. Masing-masing karakteristik, menggunakan skala 5 poin : tidak setuju (nilai=1), agak setuju (nilai=2-4), dan setuju (nilai=5).
  3. Menentukan indikator mutu
    Dalam diskusi tatap muka kedua, hasil dari penilaian awal dipresentasikan ke para ahli. Panelis mendiskusikan variasi aspek indikator. Fokusnya mendiskusikan apakah indikator ini cocok dengan lingkungan perawatan kesehatan China atau tidak serta menguraikan alasannya. Jika anggota panel setuju ada indikator yang tidak sesuai dengan China maka indikator tersebut dibuang. Opini terakhir para ahli, diambil ketika mencapai sebuah konsensus.

Hasil penelitian Hongpeng Sun et al menjelaskan bahwa untuk Iindikator struktural meliputi review administrasi ilmiah rumah sakit, menguatkan peraturan, menaikkan fasilitas medis, dan menjadi latar belakang dasar pemikiran alokasi sumber daya manusia. Indikator proses meliputi empat indikator pengobatan untuk mengevaluasi prosedur pasien rawat inap meliputi aspirin, clopidogrel, beta-adrenoceptor blocking agent dan terapi thrombolytic. Tiga diantaranya (aspirin, beta-adrenoceptor blocking agents dan thrombolytics) berhubungan dengan indikator STEMI/NSTEMI seperti yang direkomendasikan AHA/ACC. Indikator akibat meliputi kematian di rumah sakit.

Untuk dua proses indikator perawatan pasien rawat inap, terutama percutaneous coronary intervention (PCI) dan thrombolytics mendapatkan perawatan dalam 30 menit kedatangannya ke rumah sakit, ada ukuran waktu yang digunakan untuk thrombolytic tetapi tidak untuk PCI. Ini karena PCI terlalu mahal sehingga banyak pasien yang memenuhi syarat, tidak dapat membayarnya dalam waktu dekat, tetapi thrombolysis dapat diterima.

Kesimpulannya, untuk penggunaan indikator diharapkan untuk mengatur sendiri sesuai dengan keadaan di Negaranya. Indikator tersebut ditujukan untuk membimbing praktek dan evaluasi perawatan untuk pasien myocardial infarction akut di rumah sakit di China.

Daftar Pustaka :
Hongpeng Sun, Meina Liu & Shuang Hou. Quality Indicators for Acute Myocardial Infarction Care in China. International Journal for Quality in Health Care 2011; Volume 23, Number 4: pp 365-374

 

 

Nantinya, Dokter Dilarang Praktik Pribadi

KOMPAS.com — Menjelang dijalankannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada tahun 2014, pemerintah berusaha untuk menyiapkan kelengkapan fasilitas dan kualitas layanan medis. Nantinya, tidak ada lagi dokter yang berpraktik pribadi di rumah karena semua standarnya adalah klinik.

Continue reading

Kemkes: Iuran BPJS Bukan Perkara Mudah

Jakarta (Beritasatu.com) – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan mulai diberlakukan 1 Januari 2014, namun saat ini banyak pihak –termasuk Kementerian Kesehatan (Kemkes)– tengah mempersiapkan beberapa komponen pendukung, salah satunya tentang besar iuran yang mesti ditanggung peserta, serta kesiapan atau mutu pelayanan kesehatan yang akan diberikan kepada masyarakat.

Continue reading