Pada tanggal 7‐8 September 2011, Hospital Management Asia mengadakan konfrensi internasional ke 10 di Resorts Word Sentosa Convention Center, Singapore. Konfrensi yang diikuti 768 peserta dari 25 negara menyajikan berbagai pemikiran dan pengalaman para manajer RS dari seluruh dunia, termasuk juga dari beberapa industri terkait.

Paul vanOstenberg, dari Joint Commision International menegaskan bahwa upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah‐sakit harus masuk kedalam Rencana Stratejik Bisnis (RSB) rumah sakit tidak hanya merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan persyaratan pemerintah ataupun akreditasi. Menyusun RSB merupakan hal yang relatif mudah, namun tantangan terbesar justru untuk dapat menjalankan RSB tersebut. Claire Ching dari Banyan Tree Holding Limited (pemilik jejaring hotel di Asia) mengidentifikasi persamaan mendasar antara RS dan hotel, yaitu keduanya perlu memastikan bahwa patient (client) experience harus menjadi dasar dari kebijakan manajemen RS/Hotel. Low Guat Tin dari National Institute of Education menekankan pentingnya melayani pasien dengan sepenuh hati untuk menciptakan pengalam pasien yang “membekas di hati” (tentunya pengalaman positif.
Melibatkan staf RS dalam upaya mutu dan keselamatan pasien menjadi faktor kunci untuk menjalankan RSB, terutama staf klinis (terutama lagi adalah para dokter spesialis). Anupam Sibal dari Apollo Hospital Group (Group RS di India dengan lebih dari 50 RS) memiliki langkah‐langkah untuk dapat melibatkan para klinisi dalam kegiatan mutu dan keselamatan, yaitu dengan melakukan quality need assessment, menyusunan quality initiatife, menjalankan training dan sosialisasi, diikuti dengan mengukur outcome. Namun yang paling terpenting adalah memastikan adanya pengakuan (tidak hanya berupa insentif finasial) untuk setiap outcome yang baik, yang diberikan baik untuk klinisi hingga kepada komite medik dan jajaran direksi.
Lean hospital merupakan salah satu upaya mutu yang dipaparkan oleh Rene Domingo dari Asian Institute of Management, pendekatan yang dikembangkan oleh Toyata Motor ini telah berhasil diterapkan dibeberapa RS dengan berbagai contoh penerapan yang khas bagi RS, antara lain bagaimana mengidentifikasi “waste” atau pemborosan yang bisa terjadi di RS (tidak hanya berupa pemborosan kertas, listrik atau telefon tapi jauh lebih kompleks dari hal tesebut), mengidentifikasi botol neck dari sebuah proses, membagi beban kerja secara merata pada setiap waktu, termasuk konsep “Pokayoke” yaitu mencegah terjadinya kesalahan bukan hanya mengurangi kesalahan.
Berbagai materi tersebut dapat peroleh dalam bentuk CD di sekertariat IHQN




SAMPIT, Jaringnews.com – Meski memiliki bangunan pusat kesehatan pembantu (Pustu), sampai saat ini Kecamatan Bukit Santuai,Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah masih kekurangan tenaga kesehatan.
(Sapos.co.id) – Komisi IV DPRD Kaltim mengundang manajemen empat rumah sakit umum daerah (RSUD) Kaltim yakni RSUD Tarakan, RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), RSUD Atma Husada Mahakam (AHM) Samarinda dan RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, dalam rapat kerja (raker) dengan agenda membahas penanggulangan bencana daerah, Jumat (25/1) tadi.
Surabaya (Surabayapost.co.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya diprotes. Pasalnya, banyak rumah sakit (RS) khusus seperti rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak serta lainnya tidak sesuai ketentuan, tapi dibiarkan berdiri.