Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Kelompok Relawan Ini Fokus Bantu Kesehatan dan Psikologi Korban Gempa Lombok

Screen Shot 2018 08 23 at 11.04.08 AMTRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Lombok kembali diguncang gempang bumi 7,0 SR pada Minggu, pukul 21.56 WIB, (19/8/2018).


Gempa 7.0 Skala Richter ini merupakan gempa lanjutan dari gempa yang terjadi pada Minggu (5/8/2018) dengan skala yang sama.

Gempa yang terjadi pada Minggu (5/8/2018) itu berdampak pada tujuh kota/kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Bali, di antaranya yaitu di Kota Denpasar, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Tengah, bahkan hingga ke Kabupaten Sumbawa Barat.

Atlas Medical Pioneer memberangkatkan tim berkolaborasi dengan Yayasan KUN-Humanity System untuk respon tanggap darurat yang datang ke Lombok sejak Selasa (7/8/2018).

Tim ini menurunkan tujuh orang tim respons yang terdiri dari lima orang medis (dua dokter dan tiga mahasiswa), satu orang psikolog, dan satu orang logistik.

Program Psikolog Kun Humanity System, Dien Fakhri Iqbal, mengatakan bahwa gempa berkekuatan 7 SR berdampak pada kesehatan dan psikologis korban.
"Gempa dengan kekuatan 7 SR ini otomatis yang luka, meninggal, dan serangan panic attack banyak," ujar Iqbal di Jalan Dago Asri IV No 4, Bandung, Minggu (19/8/2018).
Iqbal mengatakan bahwa hal yang harus dilakukan adalah program tanggap darurat dan rehabilitasi psikososial.

"Ketika sampai di Lombok kami langsung fokus menyelamatkan jiwa dan medis, karena banyak korban yang patah tulang dan masih ada yang tertimbun berhari-hari tertimpa bangunan," ujar Iqbal.

Kun Humanity System adalah komunitas yang bergerak di sistem kemanusiaan yang saling tolong-menolong dan saling membantu satu sama lain.

Menurut Iqbal bantuan yang dibutuhkan untuk korban bencana Lombok harus seimbang antara dokter dan psikolog.

Berdasarkan laporan yang dirangkum oleh Tim Kun Humanity System yang selama seminggu berada di Lombok keadaan disana yaitu banyak yang mengalami luka, kondisi pos pengungsian minim sehingga banyak mengalami ISPA, penyakit kulit, dan diare.

Sedangkan secara psikologis, banyak korban yang terkena serangan panik dan cemas karena cukup tingginya frekuensi gempa dan intensitas gempa sususlan.
Gejala-gejala psikosomatis pada pasien-pasien di posko medis cukup tinggi terutama pada orang tua (pusing, mual, lemas, sesak nafas, sulit tidur) dan anak (selera makan terganggu, kegiatan berlebihan atau minim, kelekatan berlebihan).

 

 

 

 

Oleh: Putri Puspita

Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2018/08/21/kelompok-relawan-ini-fokus-bantu-kesehatan-dan-psikologi-korban-gempa-lombok