Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Bukan Kutukan, Penyakit Kusta Diberantas dengan “Gelang Permata”

Screen Shot 2020 01 14 at 11.12.52 AMJOMBANG, KOMPAS.com - Kusta bukan penyakit kutukan. Kusta juga bukan penyakit turunan yang tidak bisa disembuhkan. Kusta merupakan jenis penyakit menular, namun penularannya tidak mudah. Jika bisa terdeteksi lebih dini lalu diobati,

penderita kusta bisa sembuh. Demikian di antara pesan-pesan yang hampir selalu disampaikan para petugas medis di Puskesmas Jogoloyo kepada masyarakat, dalam upayanya mengeliminisi kusta di wilayah kerjanya. Pesan-pesan itu disampaikan kepada masyarakat, para penderita kusta dan keluarganya, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Jogoloyo.

Agik Prasetyo, penanggung jawab program Pencegahan dan Pemberantasan (P2) kusta di Puskesmas Jogoloyo mengungkapkan, selama 8 tahun menangani program pencegahan dan pemberantasan kusta, ada perubahan pola pikir dan persepsi masyarakat terhadap kusta. Dulu, kata Agik, sebagian masyarakat beranggapan bahwa kusta adalah penyakit kutukan dan tidak bisa disembuhkan. Stigma negatif membuat para penderita kusta memilih menyembunyikan diri. "Tapi kalau sekarang, orang-orang yang positif terkena kusta maupun keluarganya sudah mulai terbuka," jelas dia saat ditemui Kompas.com, Senin (9/9/2019). Wilayah kerja Puskesmas Jogoloyo meliputi desa-desa di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Pada tahun 2011, wilayah Kecamatan Sumobito sempat dinyatakan sebagai daerah endemik kusta. "Dulu saat masih awal-awal menangani ini, jumlahnya (pasien) kusta cukup banyak, rata-rata 9 setiap tahun," ungkap Agik. Disebutkan, kasus penderita kusta ditemukan sebanyak 9 orang pada tahun 2011; 8 kasus pada 2012 dan; 6 kasus pada 2013.

Lalu pada tahun 2014, ada 8 kasus, tahun 2015 ada 4 kasus, serta tahun 2016 sebanyak 4 kasus. Dalam 3 tahun terakhir, kata Agik, tren penemuan kasus kusta terus menurun. Pada tahun 2017 ada 3 kasus, lalu pada tahun 2018 ada 2 kasus. Kasus kusta, jelas dia, ditemukan lewat dua metode pendekatan, yakni deteksi dini ke masyarakat serta observasi saat pasien berkunjung ke puskesmas. "Untuk tahun ini, sampai dengan sekarang ada 1 kasus yang kita temukan. Kita temukan dari kunjungan pasien ke Puskesmas Jogoloyo," ujar dia saat ditemui di tempat tugasnya. Kepala Puskesmas Jogoloyo, Rizkie Koerniawati menjelaskan, untuk melakukan pendeteksian, pencegahan hingga penanganan kusta, pihaknya menerjunkan tim khusus. Mereka dibantu kader pencegahan dan pemberantasan kusta yang tersebar di desa-desa. Tim ini, jelas Rizkie, bertugas melakukan sosialisasi soal kusta, meyakinkan masyarakat bahwa kusta bisa disembuhkan, melakukan deteksi dini serta mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pemeriksaan dini.

Selain itu, lanjut Rizkie, tim khusus untuk program pencegahan dan pemberantasan kusta juga melakukan pendampingan intensif kepada penderita kusta yang tergabung dalam Kelompok Perawatan Diri (KPD). "Pertemuannya tiap akhir bulan. Pertemuan itu untuk membekali mereka yang terkena kusta agar bisa sembuh, bisa dicegah dari kecacatan atau supaya cacatnya tidak bertambah," ujar dia saat ditemui di kantornya. Memutus mata rantai kusta dengan "Gelang Permata" Kepala Puskesmas Mayangan Kabupaten Jombang, Diah Ayu Yuliyastuti mengatakan, kusta merupakan penyakit menular. Namun, mata rantai penularan kusta bisa diputus.

Untuk memutus mata rantai penularan kusta, pihaknya membuat gerakan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, serta melibatkannya dalam pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan kusta. Sosialisasi tentang kusta dilakukan melalui pertemuan masyarakat di desa, lewat Posyandu, atau forum-forum lain yang memungkinkan, termasuk ke sekolah-sekolah. Lalu, untuk penderita kusta, Puskesmas Mayangan menelurkan program khusus yang diberi nama Gelang Permata. Gelang Permata adalah kependekan dari Gerakan Langsung Perawatan Mandiri Penderita Kusta. "Nama programnya Gelang Permata, program itu inovasinya Bu Ferry. Secara umum itu untuk mencegah supaya tidak menular, mengajak mereka mandiri melakukan perawatan, mencegah kecacatan, termasuk menguatkan mental mereka supaya proses sembuhnya lebih cepat," kata Diah.

Ferry Handayani, pengelola pencegahan dan pemberantasan kusta di Puskesmas Mayangan mengatakan, selain forum untuk pengobatan dan pencegahan penularan, Gelang Permata juga memperkuat hubungan emosional antar penderita kusta. Lewat forum itu, kata Ferry, komunitas penderita kusta, baik yang sudah sembuh maupun masih dalam proses pengobatan, sudah mampu membuat jejaring bisnis antar mereka. Dia mengungkapkan, sejak tahun 2012, pihaknya mendapatkan pekerjaan rumah cukup berat karena banyaknya orang yang positif terkena kusta. Kala itu tercatat ada 21 orang penderita kusta. Namun, berkat upaya dan sosialisasi yang masif dilakukan, tren kasus kusta di wilayah kerja Puskesmas Mayangan terus menurun. Pada tahun 2013, penderita kusta tercatat 11 kasus, tahun 2014 ada 10 kasus, lalu tahun 2015 ada 8 kasus. Pada tahun 2016, kasus yang ditemukan sebanyak 16, lalu pada 2017 terdapat 5 kasus dan tahun 2018 sebanyak 4 kasus.

"Untuk tahun ini ada 2 kasus. Satu dari kunjungan pasien, satu lagi hasil temuan dari proses deteksi dini," kata Ferry kepada Kompas.com. Dia menjelaskan, deteksi dini merupakan langkah yang ditempuh untuk mengeliminisi kusta di wilayah Puskesmas Mayangan selain menunggu kedatangan pasien memeriksakan kesehatannya. Bisa disembuhkan Petugas medis di Puskesmas Jogoloyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dokter Heri Wibowo menjelaskan, ada kondisi tertentu sehingga seseorang bisa tertular kuman mycobacterium leprae, penyebab kusta. Menurut dia, kusta berpotensi menular kepada orang dengan daya tahan tubuh rendah dan menghabiskan waktu lama dengan penderita kusta. Artinya, keluarga dekat rentan tertular kusta. Namun, tandas Heri, kusta secara medis adalah penyakit yang bisa sembuh dengan cara diobati. Kusta bukan penyakit kutukan atau turunan. "Makanya, ketika ada yang positif kusta, keluarganya juga kita periksa, supaya kalau keluarganya belum tertular bisa dicegah dan kalau sudah tertular bisa diobati," katanya saat ditemui Kompas.com di Puskesmas Jogoloyo.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Haryo Purwono mengatakan, seluruh pasien kusta yang ditangani seluruh Puskesmas di Kabupaten Jombang, tidak dipungut biaya alias gratis. Dia menyebutkan, hingga Agustus 2019, tercatat ada 30 kasus temuan baru untuk kasus kusta. Sedangkan pada tahun 2018, tercatat ada 80 kasus temuan penderita kusta.

 

Penulis : Kontributor Jombang, Moh. Syafií
Editor : Farid Assifa
Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/09/09/21484421/bukan-kutukan-penyakit-kusta-diberantas-dengan-gelang-permata?page=all