ASIK: Layanan Kesehatan Digital untuk Kesehatan Anak di Indonesia
Pada Januari 2025, ASIK mencapai tonggak sejarah yang luar biasa—memenangkan ASEAN Digital Award, sebuah pengakuan atas dampaknya yang mendalam pada kesehatan anak-anak di seluruh Indonesia.
Sejak diluncurkan pada 2022 oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, dengan dukungan dari UNICEF, ASIK telah mengubah cara pengelolaan catatan kesehatan anak-anak, memastikan ketersediaan data kesehatan lebih dari 48,6 juta anak di seluruh Indonesia.
Selama bertahun-tahun, tenaga kesehatan seperti Novi Yuliana, Koordinator Imunisasi di sebuah pusat kesehatan masyarakat di Banda Aceh, berjuang dengan catatan kertas untuk mendapatkan data — sebuah proses manual yang memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan. Pada 2022, Kementerian Kesehatan Indonesia, yang didukung oleh UNICEF, bermitra dengan Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID dan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Pemerintah Australia, berupaya mengubah hal ini. Jawabannya adalah ASIK—aplikasi digital yang mudah digunakan yang dapat diakses oleh tenaga kesehatan di ponsel atau komputer mereka. Tim Data UNICEF Indonesia mengembangkan ASIK melalui kerja sama erat dengan Kementerian.
"Kami ingin membuat data kesehatan dapat diandalkan dan dapat ditindaklanjuti. Kami merancang ASIK dengan bekerja sama erat dengan calon pengguna untuk memastikannya memenuhi kebutuhan mereka. Tujuan kami adalah peralihan yang mulus dari kertas ke digital, memastikan tenaga kesehatan dapat dengan mudah mengadopsi aplikasi tersebut dalam tugas sehari-hari mereka," kenang I Made Suwancita, seorang Petugas Teknologi untuk Pembangunan di UNICEF Indonesia.
Data yang Menyelamatkan Nyawa
ASIK telah dikembangkan secara nasional setelah uji cobanya sukses di provinsi Aceh pada 2022. Haditya Mukri, Kepala Pusat Data UNICEF Indonesia, mengenang masa-masa awal tersebut: "Melihat dampaknya di Aceh memberi kami keyakinan untuk memperluas cakupan ke seluruh negeri. Kami tahu ASIK akan mengubah kehidupan.”
Sebelum adanya ASIK, tenaga kesehatan mencatat data imunisasi secara manual dengan cara menulis nama, tanggal, dan jenis vaksin di buku catatan tebal yang mudah hilang atau rusak. Hilangnya data berarti anak-anak berisiko kehilangan akses ke vaksinasi yang menyelamatkan nyawa. Kini, akses ke informasi real-time memungkinkan respons yang lebih cepat untuk mengatasi masalah seperti kesenjangan vaksinasi, membantu memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan. "Saya memimpikan saat ASIK dapat digunakan oleh semua tenaga kesehatan, bukan hanya mereka yang berada di puskesmas, sehingga catatan imunisasi setiap anak lengkap dan akurat," kenang Novi. "Anak yang sehat berarti masa depan yang sehat."
Sejak diluncurkan pada 2022, ASIK telah mengubah cara pengelolaan catatan kesehatan, memastikan bahwa data kesehatan yang akurat untuk lebih dari 48,6 juta anak di seluruh Indonesia ada di ujung jari tenaga kesehatan. ASIK pertama kali dikembangkan untuk mengumpulkan data imunisasi anak selama kampanye vaksinasi yang ditargetkan. Kini, ASIK telah diperluas untuk juga mencatat imunisasi rutin, deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), dan data puskesmas lainnya. Pada 2023, aplikasi ini telah berkembang dari regional menjadi nasional, dengan lebih dari 10.000 pusat kesehatan (98,5%) kini menggunakannya.
Pengakuan Internasional
Pada Januari 2025, ASIK memenangkan ASEAN Digital Award sebagai pengakuan atas dampaknya yang mendalam terhadap kesehatan anak-anak di seluruh Indonesia. Ini adalah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada organisasi, bisnis, dan individu yang telah memelopori produk atau layanan inovatif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap lanskap digital di kawasan Asia Tenggara.
“Kami sangat bersyukur atas kehormatan menerima ASEAN Digital Award ini. Ini adalah penghargaan yang sangat penting dan berharga, dan benar-benar membuat kami rendah hati. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua orang yang terlibat, koordinator program direktorat masing-masing, mitra pendukung, dan petugas kesehatan. Kami juga berterima kasih kepada UNICEF atas keahlian teknis dan dukungan berkelanjutannya dalam meningkatkan dan mempercepat implementasi ASIK di seluruh Indonesia. ASIK dikembangkan dengan tujuan untuk mendigitalkan kegiatan penjangkauan masyarakat di tingkat perawatan kesehatan primer, menghubungkan layanan kesehatan bagi jutaan masyarakat Indonesia." kata Dewi Nur Aisyah, Penasihat Teknis untuk Perawatan Kesehatan Primer di Kantor Transformasi Digital.
Selain Penghargaan Digital ASEAN, Organisation for Economic Cooperation and Development Observatory for Public Sector Innovation, yang mengumpulkan dan berbagi praktik inovatif yang baik, menerbitkan studi kasus tentang ASIK pada 2024.
Risdianto Irawan, Spesialis Teknologi untuk Pembangunan di Kantor Regional UNICEF di Bangkok, menjelaskan mengapa ASIK merupakan kisah sukses: "UNICEF secara aktif mendukung agenda transformasi kesehatan digital mitranya dengan memanfaatkan prinsip-prinsip pengembangan digital yang mapan. Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Indonesia untuk mengembangkan platform ASIK ini merupakan salah satu contohnya dan mencerminkan bagaimana UNICEF memanfaatkan prinsip-prinsip digital utama seperti merancang dengan pengguna, skalabilitas, berbasis data, serta menangani privasi dan keamanan data untuk memastikan bahwa solusi digital memajukan hak-hak anak."