Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Mengenal Metode Prevensi Sekunder Kardiovaskular Berbasis Nurse-Coordinated Prevention Programmes

Di Belanda, resiko peningkatan pasien kardiovaskular berangsur berkurang sejak diterapkannya sistem pencegahan berbasis Nurse Coordinated Prevention Programmes (NCPPs). Kemajuan ini mendorong European Society of Cardiology (ESC) pada 2012, merekomendasikan agar NCPPs diintegrasikan ke dalam praktik klinis pada sistem perawatan kesehatan di negara-negara Eropa. Meskipun tentu saja harus diakui bahwa, sebagai salah satu bentuk pendekatan pencegahan tersistem, NCPPs bukanlah sebuah program sederhana yang dapat diduplikasi dengan mudah. Faktanya Untuk membuat NCPPs berjalan dengan baik diperlukan rangkaian persiapan matang yang meliputi penyiapan sumber daya manusia yang memadai dari segi kompetensi, keahlian dan wawasan penunjang tambahan. Oleh karenanya ESC menekankan pula perlunya riset guna mengetahui jenis kompetensi dan keahlian apa saja yang harus dimiliki serta tahapan pendidikan tambahan apa saja yang diperlukan untuk menjamin kesiapan kualitas sumber daya manusia agar NCPPs sebagai kegiatan pencegahan kardiovaskular tersistem dapat berjalan secara efektif.

Adapun gambaran umum NCPPs sendiri secara singkat merupakan serangkaian kegiatan prevensi resiko kardiovaskular yang terdiri dari konseling, motivasi, konsultasi, pemeriksaan fisik berkala, intervensi terhadap pola dan gaya hidup, wawancara tentang tingkat kepatuhan konsumsi obat sesuai resep dan jadwal, hingga rekomendasi rujuk jika diperlukan. Dalam implementasinya NCPPs dijalankan oleh perawat yang direkrut melalui proses seleksi tertentu serta diwajibkan menyelsaikan beberapa tahapan pelatihan dan kursus yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Medis dan Academic Medical Center Universitas Amsterdam, Belanda.

Dalam NCPPs berbagai rangkaian kegiatan prevensi di lapangan dilakukan oleh perawat dengan merujuk pada panduan nasional dan pedoman tekhnis yang telah ditetapkan. Panduan nasional berfokus pada (1) gaya hidup sehat, (2) faktor resiko biometrik dan (3) kepatuhan konsumsi obat. Sementara pedoman teknis dirumuskan untuk memenuhi target tertentu seperti gaya hidup bebas rokok, pemilihan makanan sehat, olahraga teratur, pengendalian indeks massa tubuh 25Kg/m² atau kurang, kontrol diabetes, kontrol hipertensi dan dislipidaemia serta kepatuhan terhadap rangkaian proses pengobatan. Berikut contoh daftar singkat intervensi tekhnis yang dilakukan perawat pada program NCPPs;

art okt1

Adopsi dan Integrasi NCPPs dengan Program Perkeskom dan Promkes di Puskesmas

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan jumlah pasien dengan gejala kardiovaskular berdasarkan diagnosa dokter mencapai angka 2.650.340 jiwa, dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Fakta ini tentu bisa saja mengindikasikan banyak hal, mulai dari rendahnya kualitas pola dan gaya hidup dari segi kesehatan hingga belum efektifnya program dan kegiatan pencegahan peningkatan resiko kardiovaskular oleh berbagai lembaga, intansi dan penyedia layanan kesehatan. Sebuah kondisi yang tentunya laik dikhawatirkan mengingat hingga saat ini kardiovaskular/penyakit jantung koroner termasuk dalam daftar penyumbang angka kematian tertinggi di dunia.


Sejauh ini berbagai kalangan sepakat bahwa cara paling efektif dalam mencegah dan meminimalisir resiko kematian akibat kardiovaskular adalah melalui pola dan gaya hidup sehat. Namun sayangnya kesadaran dan pemahaman sebagaian besar masyarakat terutama kalangan menengah kebawah, masih sangat terbatas terkait pola dan gaya hidup sehat. Pada akhirnya pilihan paling rasional dalam menyikapi situasi semacam ini adalah dengan memaksimalkan kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi kesehatan secara langsung dan berkesinambungan kepada masyarakat.

Di Indonesia berbagai program yang terfokus dan berorientasi pada promosi dan edukasi kesehatan telah ada dan telah terselenggara cukup lama, hanya saja belum kunjung menunjukkan hasil yang signifikan terutama dalam kaitannya dengan upaya menekan angka penderita kardiovaskular. Di tingkat fasilitas kesehatan primer Sumber: Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar2013, Badan Litbangkes Kementerian (PUSKESMAS) misalnya, kita dapat menjumpai banyak program yang berkutat pada promosi kesehatan lingkungan, keluarga dan komunitas, dua diantaranya yakni Program Perawat Kesehatan Komunitas (PERKESKOM) dan Program Promosi Kesehatan (PROMKES) akan di bahas secara singkat dalam ulasan ini.

Dua program tersebut yakni PERKESKOM dan PROMKES sebenarnya memiliki potensi untuk dapat dimaksimalkan dan diandalkan dalam menekan angka resiko peningkatan kardiovaskular. Dikatakan demikian karena dua program tersebut memiliki beberapa syarat utama yang membuatnya mungkin menjadi instrument prevensi (pencegahan) yang efektif. Misalnya bahwa dua program tersebut memuat sejumlah aktivitas kongkrit seputar promosi dan edukasi kesehatan disamping memiliki intensitas pertemuan yang tinggi secara langsung dengan masyarakat, merupakan dua modal utama yang sangat mungkin dimaksimalkan.

Sementara beberapa faktor yang membuat dua program tersebut (PERKESKOM dan PROMKES) atau program lain yang sejenis belum mampu menunjukkan signifikansi pengaruhnya pada penurunan angka radiovaskular adalah karena tugas dan fungsinya yang terlampau umum dan luas. Dengan kata lain, tidak seperti program NCPPs di belanda yang memang sejak awal di desain untuk tujuan dan tugas yang sangat spesifik dibidang pencegahan dan penanganan kardiovaskular.

Kembali pada upaya memaksimalkan program PERKESKOM dan PROMKES, penulis melihat terdapat peluang dua program tersebut dapat mengadopsi dan mengintegrasikan pola dan strategi yang diterapkan di NCPPs. Meskipun adopsi/duplikasi ini bukanlah susatu yang sederhana dan mudah mengingat terbatasnya sumber daya medis yang kita memiliki, namun bukan berarti proses adopsi dan integrasi konsep program tersebut tidak mungkin dilakukan. Kita bisa misalnya memulai dengan proses adopsi dan integrasi bertahap. Sebagai contoh, PERKESKOM dan PROMKES yang sebelumnya memiliki tugas dan sasaran yang bersifat sangat umum dalam keseluruhan aktivitas dan kerjanya, perlahan dapat diarahkan untuk menyediakan sebagian ruang dan waktu khusus dalam rangkaian aktivitasnya guna menempatkan kegiatan promosi dan edukasi yang berkaitan dengan prevensi kardiovaskular sebagai salah satu agenda prioritas.

Selanjutnya proses adopsi dan integrasi NCPPs ke dalam PERKESKOM dan PROMKES tentu membutuhkan proses pra-kondisi yang cukup. Misalnya dengan mempersiapkan tenaga petugas lapangan melalui proses literasi dan studi banding terhadap NCPPs serta berbagai bentuk persiapan dan adaptasi lain yang diperlukan. Dengan demikian ke depan PREKESKOM dan PROMKES bukan tidak mungkin dapat diandalkan serta memberikan kontribusi signifikan dalam kaitannya dengan prevensi atau pencegahan kardiovaskular.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH.

Add comment


Security code
Refresh