Editorial, 25 Mei 2015

Hari Lansia Nasional: Pelayanan Bermutu Untuk Pasien Geriatri

postnatal-care

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional pada pada 29 Mei 2015, merupakan bentuk penghargaan dan rasa peduli bagi orang lanjut usia. Pencanangan peringatan Hari Lanjut Usia di Semarang pada 29 Mei 1996 tersebut, merupakan bentuk penghargaan terhadap Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat yang dalam usia lanjut masih memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Peringatan tersebut dapat pula menjadi mometum yang tepat di dunia kesehatan, khususnya untuk mengupas dan berbagi informasi mengenai seluk beluk pelayanan kesehatan yang bermutu bagi pasien lanjut usia atau pasien geriatri. Pasien geriatri sendiri adalah pasien lanjut usia dengan beberapa penyakit dan masalah biopsikososial.

readmore

perpres

Artikel

"Metode Terintegrasi" (Sebuah Pendekatan Holistik dalam Mengurangi Risiko "Medical Errors" Pada Pasien Usia Lanjut)

Terdapat beberapa kasus dalam dunia kesehatan yang memiliki tingkat kompleksitas persoalan di atas rata-rata dan biasanya disertai oleh kondisi-kondisi yang tergolong khas dan unik. Kasus dengan jenis ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri karena selalu menuntut tersedianya pendekatan penanganan yang berbeda jika dibandingkan dengan kasus medis lainnya, 

More


Penilaian dan Manajemen Gizi Pada Orang Lanjut Usia: Manfaat Bagi Kesehatan

Gizi merupakan salah satu elemen penting bagi kesehatan orang lanjut usia. Nafsu makan pada orang lanjut usia sering berkurang, sedangkan energi yang dikeluarkan banyak, selain itu juga diikuti dengan menurunnya fungsi-fungsi biologis dan psikologis. Selain perubahan patologis pada usia lanjut, penyakit kronis, penyakit psikologis, semua berperan dalam terjadinya kekurangan gizi pada orang lanjut usia. 

More


Lima Item Geriatric Depression Scale (GDS) pada Pasien Lanjut Usia

Gangguan depresi pada orang lanjut usia memiliki prevelansi yang bervariasi, baik di rumah sakit maupun panti jompo. Depresi sendiri terkait dengan tingginya prevelansi dan risiko gangguan disabilitas. Lebih lanjut diketahui bahawa outcome penyakit seperti penyakit jantung, stroke, parkinson, akan menjadi lebih buruk apabila terkait dengan adanya depresi. Depresi juga terkait dengan peningkatan penggunaan pelayanan medis. 

More


+ ARSIP

Keselamatan Pasien, Keselamatan Rumah Sakit

Posted in Editorial

Share

Rasanya belum habis rasa deg-degan dan bingung saat membaca kasus kematian bayi Dera diberbagai surat kabar, kasus lain sudah mulai berkembang lagi di media massa. Kejadian memprihatinkan menimpa bayi Edwin. Walau tidak sampai meninggal, menurut berbagai pemberitaan yang berkembang, jari telunjuk bayi mungil ini diamputasi tanpa persetujuan orang tuanya. Dugaan bahwa kasus ini merupakan kasus malpraktik oleh dokter yang merawat bayi Edwin, langsung melambung. Walau masih dalam proses investigasi, namun berita yang diturunkan sudah terkesan "menghakimi". Dampak masalah ini bukan hanya menimpa dokter yang merawat bayi Edwin, rumah sakit tempat dia dirawat juga "ketiban sial". Dalam kasus-kasus semacam ini, media massa seolah berlomba untuk melabeli rumah sakit dan petugas kesehatan yang bekerja di dalamnya dengan label-label fantastis. Mulai dari rumah sakit yang menolak pasien miskin, rumah sakit yang pilih kasih, rumah sakit yang tidak peduli, dokter yang tidak punya rasa pengabdian, dokter yang enggan membantu, dokter yang kurang hati-hati hingga dokter yang melakukan malpraktek. Label-label ini bisa jadi salah total malah sebaliknya, benar total. Boleh jadi, label ini dibuat oleh media massa untuk melambungkan isi berita yang masih minim investigasi atau bahkan malah menjadi bukti dari kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Walau berbeda, benang merah yang dapat ditarik dari dua kasus ini adalah bahwa pasien dan keluarganya merasa kecewa, dirugikan, tidak nyaman dan merasa tidak mendapat pelayanan sebagaimana mestinya. Bukan tambah sembuh malah semakin sakit, mungkin begitu yang ada di batin pasien. Seringnya hal semacam ini terjadi di rumah sakit, membuat program keselamatan pasien semakin digalakkan. Tujuan utama digalakkannya program ini adalah agar pasien yang masuk ke rumah sakit dapat merasa aman dan selamat mulai dari awal masuk, selama di rumah sakit hingga kembali pulang ke rumah. Pasien harus merasa aman dan selamat bukan hanya dari kejadian-kejadian "luar biasa" seperti kehilangan anggota badan atau bahkan kehilangan nyawa, tetapi juga dari kejadian-kejadian "sederhana" yang memang seharusnya tidak perlu terjadi. Kejadian dekubitus atau terjatuh misalnya. Walaupun terkesan "sederhana", kejadian semacam ini ternyata berdampak pada tingginya biaya perawatan yang harus dikeluarkan pasien. Selain itu, bila kejadian-kejadian "sederhana" ini dibiarkan terus terjadi di rumah sakit, bukan tidak mungkin rumah sakit akan menjadi bulan-bulanan media massa bila ada tuntutan dari pasien. Hal "sederhana" pada keselamatan pasien ternyata dapat membawa dampak "rumit" bagi keselamatan rumah sakit. Akhirnya, berbagai strategi telah disusun untuk membawa keselamatan pada pasien yang tentunya dapat berujung pada keselamatan rumah sakit. Namun yang terpenting, strategi-strategi tersebut tidak hanya dipahami, tetapi juga diimplementasikan dengan baik. (par)

 

Add comment


Security code
Refresh

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq