Editorial, 29 Juni 2015

24 Juni 2015: Hari Bidan Nasional

postnatal-care

Dua puluh empat Juni 2015 lalu di peringati sebagai Hari Bidan Nasional, dan sebagai bentuk penghargaan bagi profesi bidan. Pada minggu ketiga ini masih akan dipaparkan 2 artikel dengan topik upaya peningkatan mutu pelayanan kebidanan, yang dapat dijadikan input bagi provider kesehatan khususnya di tingkat organisasi dalam upaya quality improvement.

Readmore

1436h

Artikel

Masalah Kualitas pada Kebidanan: Sebuah analisis kritis Kebidanan di Nigeria dalam konteks Konfederasi Internasional Bidan (ICM)

Fokus pembangunan kesehatan terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi masih terus menjadi perhatian yang sangat besar bagi pemerintah karena penurunan AKI dan AKB merupakan salah satu indikator pembangunan sebuah bangsa. Ujung tombak penurunan kematian ibu (AKI) tersebut adalah tenaga kesehatan, dalam hal ini adalah bidan.

Readmore

Evaluasi kebidanan perawatan primer di Belanda: berdasarkan desain dan pemikiran dari penelitian kohort dinamis

Bidan belanda adalah praktisi medis otonom. Bidan berhak memberikan perawatan bersalin pada semua perempuan yang hamil dan melahirkan mulai dari prenatal, intrapartum, dan posnatal.
Untuk menjadi seorang bidan di Belanda, perempuan harus menyelesaikan studi selama empat tahun disalah satu dari empat perguruan tinggi kebidanan yang ada di belanda, selain itu bidan dapat memilih mengikuti program kebidanan guru.

Readmore

+ ARSIP

Keselamatan Pasien, Keselamatan Rumah Sakit

Posted in Editorial

Share

Rasanya belum habis rasa deg-degan dan bingung saat membaca kasus kematian bayi Dera diberbagai surat kabar, kasus lain sudah mulai berkembang lagi di media massa. Kejadian memprihatinkan menimpa bayi Edwin. Walau tidak sampai meninggal, menurut berbagai pemberitaan yang berkembang, jari telunjuk bayi mungil ini diamputasi tanpa persetujuan orang tuanya. Dugaan bahwa kasus ini merupakan kasus malpraktik oleh dokter yang merawat bayi Edwin, langsung melambung. Walau masih dalam proses investigasi, namun berita yang diturunkan sudah terkesan "menghakimi". Dampak masalah ini bukan hanya menimpa dokter yang merawat bayi Edwin, rumah sakit tempat dia dirawat juga "ketiban sial". Dalam kasus-kasus semacam ini, media massa seolah berlomba untuk melabeli rumah sakit dan petugas kesehatan yang bekerja di dalamnya dengan label-label fantastis. Mulai dari rumah sakit yang menolak pasien miskin, rumah sakit yang pilih kasih, rumah sakit yang tidak peduli, dokter yang tidak punya rasa pengabdian, dokter yang enggan membantu, dokter yang kurang hati-hati hingga dokter yang melakukan malpraktek. Label-label ini bisa jadi salah total malah sebaliknya, benar total. Boleh jadi, label ini dibuat oleh media massa untuk melambungkan isi berita yang masih minim investigasi atau bahkan malah menjadi bukti dari kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Walau berbeda, benang merah yang dapat ditarik dari dua kasus ini adalah bahwa pasien dan keluarganya merasa kecewa, dirugikan, tidak nyaman dan merasa tidak mendapat pelayanan sebagaimana mestinya. Bukan tambah sembuh malah semakin sakit, mungkin begitu yang ada di batin pasien. Seringnya hal semacam ini terjadi di rumah sakit, membuat program keselamatan pasien semakin digalakkan. Tujuan utama digalakkannya program ini adalah agar pasien yang masuk ke rumah sakit dapat merasa aman dan selamat mulai dari awal masuk, selama di rumah sakit hingga kembali pulang ke rumah. Pasien harus merasa aman dan selamat bukan hanya dari kejadian-kejadian "luar biasa" seperti kehilangan anggota badan atau bahkan kehilangan nyawa, tetapi juga dari kejadian-kejadian "sederhana" yang memang seharusnya tidak perlu terjadi. Kejadian dekubitus atau terjatuh misalnya. Walaupun terkesan "sederhana", kejadian semacam ini ternyata berdampak pada tingginya biaya perawatan yang harus dikeluarkan pasien. Selain itu, bila kejadian-kejadian "sederhana" ini dibiarkan terus terjadi di rumah sakit, bukan tidak mungkin rumah sakit akan menjadi bulan-bulanan media massa bila ada tuntutan dari pasien. Hal "sederhana" pada keselamatan pasien ternyata dapat membawa dampak "rumit" bagi keselamatan rumah sakit. Akhirnya, berbagai strategi telah disusun untuk membawa keselamatan pada pasien yang tentunya dapat berujung pada keselamatan rumah sakit. Namun yang terpenting, strategi-strategi tersebut tidak hanya dipahami, tetapi juga diimplementasikan dengan baik. (par)

 

Add comment


Security code
Refresh

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq