Forum Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan XXII
“Navigating The Perfect Storm:
Quality Leadership for Organizational Transformation Through Clinical Governance,
Change Management, Digital Innovation, and Integrated Quality Governance”
PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bersama dengan Minat Utama Manajemen Rumah Sakit Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan Forum Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan IHQN XXII pada Sabtu (05/09/26) di UC Hotel UGM. Kegiatan mengusung tema “Navigating the Perfect Storm: Quality Leadership for Organizational Transformation through Clinical Governance, Change Management, Digital Innovation, and Integrated Quality Governance”. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana fasilitas pelayanan kesehatan dapat tetap bertumbuh, beradaptasi, dan menjaga mutu di tengah berbagai tekanan perubahan.
Sesi Captains Talk menghadirkan dr. H. Rachim Dinata Marsidi, Sp.B., FINACS, M.Kes. dan R. Octdy Hendrawan Wulantra, S.S. untuk membahas penguatan tata kelola dari perspektif rumah sakit publik dan swasta. dr. Rachim membagikan pengalaman RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dalam memperkuat sistem melalui standardisasi proses, integrasi lintas unit, optimalisasi utilisasi, serta digitalisasi. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi variasi proses, memperkuat keselamatan pasien, dan meningkatkan efisiensi pelayanan.
Dari perspektif rumah sakit swasta, Octdy menyoroti pentingnya keberlanjutan organisasi melalui keseimbangan antara mutu pelayanan, pengalaman pasien, sumber pendapatan, serta pengelolaan SDM dan budaya organisasi. Pihaknya menekankan perlunya pergeseran dari orientasi volume menuju value, dengan melihat pelayanan sebagai perjalanan pasien secara utuh. Data dan teknologi juga perlu dimanfaatkan bukan sekadar sebagai perangkat, tetapi sebagai bagian dari sistem yang membantu organisasi menghasilkan keputusan dan tindakan yang lebih tepat.
Pada sesi Comanders Talk, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. mengangkat ketidakpastian pendanaan kesehatan sebagai salah satu tantangan masa depan mutu. Kondisi pendanaan yang tidak pasti perlu diantisipasi melalui penyusunan berbagai skenario sehingga organisasi dapat mempersiapkan strategi dalam menghadapi kemungkinan perubahan lingkungan pembiayaan.
Pembicara selanjutnya, Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B., Sp.BTKV(K), MPH yang mengajak peserta membangun new mind dalam menghadapi transformasi pelayanan kesehatan. Pemanfaatan precision medicine, kecerdasan artifisial, dan teknologi perlu diarahkan pada peningkatan patient outcome, dengan tetap menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi transformasi.
Perspektif pasien disampaikan oleh Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D melalui pembahasan “Building Trust through Patient Experience”. Pengalaman pasien dipandang sebagai salah satu penanda penting mutu pelayanan. Oleh karena itu, pengukuran patient experience perlu dilanjutkan dengan analisis dan aksi peningkatan mutu pada aspek yang benar-benar penting bagi pasien.
Selanjutnya, Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B.Onk. membahas kepemimpinan mutu dan pentingnya membangun ekosistem yang mendukung inovasi. Organisasi perlu menyediakan ruang bagi pembelajaran, eksperimen, kolaborasi, serta akses terhadap sumber daya agar gagasan inovatif dapat berkembang menjadi perubahan nyata.
Pada forum ini, dilakukan juga peluncuran Program Fellowship Indonesian Healthcare Quality Network (FIHQN) sebagai wadah pengembangan kompetensi, jejaring, dan kepemimpinan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beberapa pertanyaan dari peserta yang memperkaya pembahasan mengenai tata kelola, pembiayaan, inovasi, kepemimpinan, dan pengalaman pasien. Berbagai perspektif tersebut menunjukkan bahwa menghadapi perfect storm membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, dengan mutu sebagai bagian dari keseluruhan strategi organisasi.
Reporter:
Helen Anggraini Budiono
Perkembangan sektor pelayanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat cepat dan kompleks. Fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit, dihadapkan pada berbagai tantangan yang terjadi secara bersamaan, mulai dari transformasi kebijakan kesehatan, perubahan regulasi dan tata kelola organisasi, keterbatasan sumber daya manusia, tekanan pembiayaan, percepatan digitalisasi pelayanan, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap mutu pelayanan, keselamatan pasien, transparansi, dan pengalaman pasien (patient experience). Kondisi tersebut dikenal sebagai The Perfect Storm, yaitu situasi ketika berbagai tantangan strategis muncul secara simultan dan saling memengaruhi.
Di Indonesia, transformasi sistem kesehatan melalui berbagai kebijakan pemerintah, termasuk implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026, mendorong penguatan tata kelola organisasi rumah sakit, restrukturisasi pengelolaan mutu dan keselamatan pasien, serta peningkatan akuntabilitas pelayanan kesehatan. Pada saat yang sama, berbagai forum internasional seperti BMJ International Forum on Quality and Safety in Healthcare dan International Society for Quality in Health Care (ISQua) menempatkan Quality Leadership sebagai faktor kunci dalam mewujudkan organisasi pelayanan kesehatan yang adaptif, tangguh, inovatif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Dalam menghadapi Perfect Storm, mutu pelayanan kesehatan tidak lagi dipandang sebagai sekadar pemenuhan standar akreditasi atau kepatuhan terhadap regulasi. Mutu harus menjadi bagian dari strategi organisasi yang didukung oleh kepemimpinan yang visioner, tata kelola klinis yang kuat (clinical governance), kemampuan mengelola perubahan (change management), pemanfaatan teknologi digital, serta sistem tata kelola mutu yang terintegrasi (integrated quality governance). Selain itu, rumah sakit juga dituntut mampu membangun kepercayaan publik melalui pengelolaan pengalaman pasien, komunikasi yang efektif, serta pengelolaan reputasi dan pengaduan di era digital.
Forum Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan IHQN XXII diselenggarakan sebagai forum ilmiah dan kolaboratif untuk mempertemukan regulator, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, organisasi profesi, praktisi mutu, peneliti, serta mitra pembangunan kesehatan dalam berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Melalui tema “Navigating the Perfect Storm: Quality Leadership for Organizational Transformation through Clinical Governance, Change Management, Digital Innovation, and Integrated Quality Governance”, forum ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan mutu, mempercepat transformasi organisasi pelayanan kesehatan, serta menghasilkan solusi inovatif yang mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan saat ini dan masa depan. Dengan demikian, mutu dan keselamatan pasien tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga menjadi budaya organisasi yang berkelanjutan demi terwujudnya pelayanan kesehatan yang aman, efektif, efisien, berpusat pada pasien, dan berdaya saing global.
Tujuan Kegiatan
Memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola organisasi kesehatan dalam memimpin transformasi digital, membangun budaya mutu dan keselamatan pasien, serta mengoptimalkan pengalaman pasien secara berkelanjutan.
Tujuan Khusus
- Memahami tantangan strategis (The Perfect Storm) yang dihadapi organisasi pelayanan kesehatan pada era transformasi sistem kesehatan.
- Memperkuat kompetensi Quality Leadership dalam memimpin perubahan organisasi dan membangun budaya mutu serta keselamatan pasien.
- Mengembangkan penerapan Clinical Governance sebagai fondasi peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang efektif, aman, dan berpusat pada pasien.
- Mengimplementasikan prinsip-prinsip Change Management untuk mendukung transformasi organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.
- Mengoptimalkan pemanfaatan Digital Innovation, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), analitik data, dan teknologi digital dalam mendukung peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan efisiensi pelayanan.
- Memperkuat implementasi Integrated Quality Governance melalui integrasi manajemen mutu, keselamatan pasien, manajemen risiko, kepatuhan regulasi, dan tata kelola organisasi.
- Meningkatkan kemampuan dalam mengelola patient experience, digital reputation, serta digital complaint management sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
- Mengadopsi inovasi dan praktik terbaik (best practices) dari berbagai institusi pelayanan kesehatan untuk diterapkan sesuai konteks organisasi masing-masing.
- Membangun jejaring profesional dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.
Waktu dan Tempat Kegiatan
Hari, tanggal : Sabtu, 5 September 2026
Waktu : 08.30 – 16.00 WIB
Tempat : UC Hotel UGM
Jadwal Kegiatan
|
Waktu |
Materi |
Narasumber |
|
08.30 – 09.00 |
Opening Ceremony |
MC: Renaldi |
|
09.00 – 10.30 |
Captains Talk |
Narasumber:
Moderator: Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. MAS |
|
10.30 – 10.45 |
Q & A |
Moderator: |
|
10.45 – 11.30 |
Commanders Talk 1 |
Narasumber: |
|
11.30 – 11.40 |
Coffee Break |
|
|
11.40 – 12.25 |
Commanders Talk 2 |
Narasumber: Moderator: |
|
12.25 – 12.40 |
Q & A |
Moderator: |
|
12.40 – 13.40 |
Lunch Break |
|
|
13.40 – 14.25 |
Commanders Talk 3 |
Pembicara: Moderator: |
|
14.25 – 15.10 |
Commanders Talk 4 |
Pembicara: Moderator: |
|
15.10 – 15.25 |
Q & A |
|
|
15.25 – 16.00 |
Closing Keynote |
Pembicara: |
Narahubung
Qonita Nur Amalia (+62 851-1744-8499)

Sesi pertama menghadirkan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua yang membahas audit klinis sebagai instrumen peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Audit klinis tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan untuk menemukan ketidakpatuhan atau dilakukan ketika terjadi kasus bermasalah. Audit perlu dilaksanakan secara sistematis sebagai proses pembelajaran untuk meningkatkan quality of care dan memperkuat akuntabilitas dalam clinical governance.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh dr. Novi Zain Alfajri, MPH, FISQua melalui pengalaman implementasi audit klinis di Rumah Sakit Akademik UGM. Dalam praktiknya, audit klinis membutuhkan keterlibatan lintas profesi sesuai dengan karakteristik kasus yang diaudit. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa rekomendasi perbaikan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan sosialisasi, tetapi perlu melihat faktor yang lebih mendasar dan mendorong tim untuk bekerja bersama menemukan solusi.

Webinar diawali dengan pengantar oleh Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS mengenai pentingnya memandang KMKB bukan sekadar sebagai upaya penghematan biaya atau kepatuhan terhadap regulasi. Kendali mutu dan kendali biaya perlu ditempatkan sebagai strategi untuk memastikan setiap sumber daya yang digunakan memberikan nilai bagi pasien dan menghasilkan outcome pelayanan yang optimal. Dengan demikian, peningkatan mutu dan efisiensi biaya tidak seharusnya diposisikan sebagai dua kepentingan yang berlawanan.
Sesi pertama menghadirkan dr. Lipin Tjung, MPH, FISQua yang membahas strategi KMKB dari perspektif rumah sakit swasta. Pembahasan menyoroti berbagai tantangan eksternal, seperti perubahan regulasi, kesenjangan tarif dan biaya riil, inflasi medis, serta meningkatnya ekspektasi pasien. Dari sisi internal, rumah sakit juga menghadapi tantangan berupa perbedaan kepentingan antara pemilik, manajemen, dan klinisi serta keterbatasan kapasitas SDM. Strategi yang ditawarkan mencakup penguatan Clinical Pathway, eliminasi pemborosan melalui pendekatan Lean Healthcare, pemanfaatan digitalisasi dan Clinical Decision Support System, penguatan patient experience, serta pembangunan budaya apresiasi bagi SDM.
Perspektif rumah sakit pemerintah kemudian disampaikan oleh Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B, Subsp.Onk. (K), yang berbagi pengalaman implementasi KMKB di Rumah Sakit Akademik UGM. Pembahasan menekankan pentingnya menjadikan tim KMKB sebagai bagian integral dari sistem rumah sakit, bukan sekadar pemenuhan formalitas. Pengendalian biaya dilakukan dengan tetap mempertahankan akses dan mutu pelayanan, didukung oleh clinical documentation, costing, Clinical Pathway, koordinasi lintas unit, serta keterlibatan dokter dalam proses perbaikan.
Materi pertama oleh dr. Novika membahas penguatan pelayanan laktasi melalui implementasi kontak laktasi dan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM). Pembahasan menekankan pentingnya kesinambungan kontak laktasi sejak masa antenatal hingga periode pascapersalinan untuk memastikan ibu memperoleh dukungan yang sesuai pada setiap tahap menyusui.
Materi kedua oleh dr. Aisyah, Sp.OG mengangkat optimalisasi konseling menyusui antenatal dan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Konseling sejak kehamilan dipaparkan sebagai fondasi penting untuk membangun pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesiapan ibu serta keluarga dalam menghadapi proses menyusui. Peserta juga diajak memahami fisiologi laktasi, faktor risiko keterlambatan produksi ASI, pentingnya kontak kulit ke kulit, serta IMD sebagai bagian dari rangkaian pelayanan yang mendukung keberhasilan menyusui.
Pembahasan kemudian diperluas melalui materi mengenai kolaborasi multidisiplin dalam mengatasi tantangan menyusui. Dr. dr. Ekawaty, MPH, Sp.A(K) menekankan bahwa dukungan menyusui tidak cukup dilakukan oleh satu profesi. Dokter, bidan, perawat, konselor laktasi, ahli gizi, keluarga, komunitas, hingga tempat kerja perlu bekerja dalam satu tujuan dan rencana yang terintegrasi agar ibu memperoleh pesan, rujukan, dan dukungan yang konsisten.

Pada sesi pertama, Dr. dr. Hanevi membahas sistem akreditasi rumah sakit berdasarkan perspektif standar internasional ISQua. Akreditasi dipandang sebagai bagian dari rangkaian kebijakan peningkatan mutu, bukan instrumen yang berdiri sendiri maupun sekadar sarana pemenuhan regulasi. Sistem akreditasi yang ideal perlu memperhatikan keterkaitan antara input, proses, output, dan outcome serta didukung oleh standar yang relevan, penyurvei yang kompeten, dan mekanisme pengawasan serta evaluasi yang akuntabel.
Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh dr. Eniarti mengenai strategi rumah sakit menghadapi arah baru akreditasi. Narasumber menekankan pergeseran paradigma dari sekadar memastikan kepatuhan menuju pembuktian hasil pelayanan. Input dan proses tetap menjadi fondasi, tetapi outcome menjadi bukti bahwa sistem yang dibangun benar-benar menghasilkan mutu. Pemanfaatan data mutu juga perlu bergerak dari sekadar pelaporan menuju pengambilan keputusan dan perbaikan berkelanjutan.
