Probolinggo, Kabarpas.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar rapat koordinasi (rakor) pelayanan kesehatan tradisional empiris, Selasa (24/4/2018).
Alat untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan
Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM aktif menyelenggarakan sharing knowledge “Audit Klinis” dalam bentuk pelatihan maupun pendampingan. Tahun 2018 ini, telah diselenggarakan pelatihan “audit klinis” di Yogya tanggal 16-17 April di hotel Cakra Kusuma. Narasumber dan fasilitator: dr. Hanevi Djasri, MARS; Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH; drg. Puti Aulia Rahma, MPH.
Only 37% of MIPS Quality Measures Deemed Valid by ACP
CMS should pause the Merit-Based Incentive Payment System (MIPS) to reassess and improve quality measures used to determine payment adjustments, ACP advised.
Bekasi Targetkan Seluruh Puskesmasnya Terakreditasi Tahun 2020
Trubus.id — Sejak tahun 2016 silam, Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas harus memenuhi standar mutu yang diterapkan Kementerian Kesehatan. Salah satunya terkait sarana dan prasarana yang dimiliki.
In House Training
{tab title=”FKTP” class=”red” align=”justify”}
| Pelatihan standar akreditasi FKTP | Pelatihan audit mutu internal untuk FKTP |
| Peningkatan Mutu & keselamatan pasien (PMKP) untuk FKTP | Pelatihan penyusunan dokumen akreditasi FKTP |
| Manajemen resiko untuk FKTP | Audit medis & utilization review untuk FKTP |
| Deteksi potensi fraud layanan kesehatan di FKTP |
{tab title=”FKRTL” class=”orange”}
| Audit klinis untuk peningkatan Mutu di RS | Ketepatan penulisan resume medis untuk dokter dalam menghadapi Era V-klaim JKN |
| Audit Keperawatan untuk peningkatan mutu layanan keperawatan di RS | Menghitung Cost of Quality Rumah sakit |
|
Peningkatan Mutu & Keselamatan pasien (PMKP) untuk Rumah sakit |
Manajemen resiko untuk Rumah sakit |
| Pelatihan ketepatan penulisan koding ICD 10 & ICD 9 | Membangun sistem Anti Fraud di Rumah sakit |
| Audit medis & Utilization review untuk TKMKB di Rumah sakit | Membuat sistem Red Flag dengan IT Rumah sakit |
| Deteksi potensi fraud layanan kesehatan di Rumah sakit | Dasar-dasar Manajemen Mutu Rumah sakit |
| Penyusunan clinical pathway untuk peningkatan mutu layanan klinis |
{/tabs}
Kontak
Antasiana Noviana | 0821.1616.1620 | novi_pmpk@yahoo.com
Bukti dari Input di Tingkat Fasilitas dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir: Intervensi dan Temuan
Sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi saat proses persalinan atau selama periode 24 jam setelah proses persalinan. Oleh karena itu, intervensi untuk menyelamatkan hidup ibu dan bayi baru lahir sangat penting dilakukan di fasilitas perawatan obstetrik darurat dasar atau komprehensif. Fasilitas kesehatan memberikan intervensi yang kompleks mencakup layanan gawat darurat, rujukan, perawatan paska pulang, manajemen jangka panjang pada kondisi kronis, dan disertai dengan pelatihan staf dan dukungan manajerial dan administratif. Kajian ini meninjau efektivitas input pada tingkat fasilitas dalam peningkatan outcome kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan fungsi layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif:

Dengan pemberian intervensi esensial oleh layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif dengan cakupan lebih dari 90%, diperkirakan dapat menurunkan angka kematian neonatal sebanyak 70%. Dalam kajian ini, terdapat empat pembagian kategori intervensi yaitu: 1. Tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi (Well performing and motivated workforce), pelayanan interpersonal dan dukungan sosial (interpersonal care and social support), budaya keselamatan (safety culture), dan model kepegawaian (staffing models) yang terangkum dalam tabel dibawah ini:

Studi ini mengidentifikasi 352 judul systematic review yang relevan, termasuk 32 review yang memenuhi syarat setelah evaluasi lebih lanjut. Terdapat dua belas review tentang tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi, lima review tentang dukungan sosial, sembilan review mengenai intervensi untuk promosi budaya keselamatan dan enam review pada model kepegawaian.
Pada tingkat fasilitas, temuan menunjukkan bahwa pelayanan dari tim kebidanan khusus dan dukungan sosial selama kehamilan dan persalinan telah menunjukkan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan outcome kesehatan pada ibu yang baru melahirkan. Di antara intervensi yang ditujukan untuk petugas layanan kesehatan, ditemukan bahwa pelatihan manajemen stres, pertemuan multidisiplin dan sesi umpan balik dapat mengurangi stres terkait pekerjaan dan meningkatkan kinerja. Hasil yang dilaporkan sangat bervariasi karena intervensi yang terlibat cukup kompleks. Intervensi pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan outcome kesehatan secara umum, meningkatkan kinerja tenaga kesehatan dan memberi manfaat bagi layanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Sebagian besar data dari kajian ini berasal dari negara dengan pendapatan tinggi, sehingga membatasi generalisasi dari hasil temuan ini. Meskipun kurangnya data dari negara berpendapatan menengah ke bawah, intervensi seperti dukungan selama kehamilan dan persalinan diharapkan bisa efektif pada semua kondisi. Kurangnya bukti dari negara pendapatan menengah ke bawah mungkin disebabkan oleh lemahnya infrastruktur sistem kesehatan yang ada.
Banyaknya intervensi termasuk dukungan selama kehamilan, peningkatan ketersediaan tenaga kerja, peningkatan kinerja tenaga kesehatan dan promosi budaya keselamatan diarahkan untuk peningkatan layanan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONEK). Intervensi terhadap peningkatan motivasi staf terbukti dapat menghasilkan dukungan dan peningkatan mutu pelayanan selama kehamilan dan persalinan, sehingga menghasilkan pengalaman persalinan yang lebih baik. Demikian juga dengan penerapan pedoman standar untuk pelayanan ibu dan bayi baru lahir yang dapat memfasilitasi pendekatan sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan layanan KIA. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya pengenalan audit klinis rutin. Hasil temuan pada intervensi untuk promosi budaya keselamatan di PONED dan PONEK adalah adanya pemenuhan kelengkapan seperti obat-obatan dan peralatan yang memadai untuk persalinan yang aman.
Dalam studi ini tidak ditemukan bukti yang memadai pada tingkat fasilitas dari negara-negara dengan pendapatan menengah ke bawah, dimana sebagian besar morbiditas dan kematian ibu dan bayi baru lahir terkonsentrasi. Pembuat kebijakan di negara dengan pendapatan menengah ke bawah harus menerapkan intervensi di tingkat fasilitas meliputi ketersediaan staf yang memadai dan terampil, beserta akses yang baik untuk peralatan dan obat-obatan di fasilitas PONED dan PONEK untuk memberi pelayanan ibu dan bayi baru lahir dengan tepat dan cepat. Hal ini dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Bukti lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi kombinasi strategi terbaik yang disesuaikan dengan kebutuhan implementasi.
Dirangkum oleh: dr. Novika Handayani
Referensi: Das et al. Evidence from facility level inputs to improve quality of care for maternal and newborn health: interventions and findingsReproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S4
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4160922/
{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}
{jcomments on}
Quality care to continue at Cleveland Clinic Union Hospital
Union Hospital is now Cleveland Clinic Union Hospital and a full member of the Cleveland Clinic Health System.
“Our primary mission to serve
BPJS Kesehatan Tingkatkan Mutu Layanan Faskes Tingkat Pertama
JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan fokus meningkatkan mutu pelayanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Pelatihan Peningkatan Ketepatan Koding Diagnosis Sesuai Kaidah ICD 10 dan ICD 9 CM di Rumah Sakit
Oleh Divisi Manajemen Mutu
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKKMK UGM
![]()
Latar Belakang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan tanggung jawab nNegara dan hak konstitusional setiap orang. Salah satu jenis program SJSN adalah Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan secara nasional (JKN). Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nno 24 Ttahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), pemerintah menunjuk BPJS Kesehatan sebagai pelaksana JKN.
Sistem pembiayaan kesehatan yang sudah berlangsung sebelum adanya BPJS Kesehatan adalah yaitu dengan cara “fee for service”. Dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diatur pola pembayaran kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan adalah dengan INA- CBGs sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013.
Dasar pengelompokkan dalam INA-CBG’s menggunakan siystem kodifikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur. Pengelompokan menggunakan siystem teknologi informasi berupa Aplikasi INA-CBG yang menghasilakan kode-kode rawat inap dan rawat jalan.
Klaim dengan sistem INA-CBG’s sangat tergantung pada ketepatan penulisan diagnosis yang dicantumkan dalam bentuk kode. Kesalahan penulisan kode dapat mengakibatkan “under coding” atau “over coding”. Kesalahan ini berimbas pada besaran klaim biaya perawatan dan atau dapat menyentuh ranah hukum.
Semua rumah sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan wajib menggunakan output dari aplikasi INA CBG’s untuk mengajukan tagihan pembiayaan atas pelayanan yang sudah dilakukan. Untuk itu, perlu kesiapan berbagai profesi yang terkait dan bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan dengan siystem pembiayaan INA-CBG’s ini. Pemahaman tentang INA-CBG’s, koding diagnosis dengan ICD 10 dan ICD – 9 CM merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh profesi-profesi yang terkait, terutama Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), petugas koding rekam medis dan petugas yang bertanggung jawab untuk pengajuan klaim.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya pelatihan dan pendampingan dalam menerapkan kaidah koding diagnosis dan tindakan serta penerapannya dalam INA-CBrG’s dan tidak ada perbedaan pemahaman antara DPJP, petugas koding dan verifikator BPJS Kesehatan.
Tujuan
Pelatihan ini bertujuan untuk:
- Membantu peserta memahami dan mampu menggunakan aplikasi INA CBGs.
- Membantu peserta memahami dan melakukan koding diagnosis sesuai dengan kaidah ICD 10 dan ICD 9 CM.
Kriteria Peserta
Peserta yang diharapkan terlibat dalam kegiatan ini adalah komite medik, dokter, petugas koding rekam medis, petugas klaim, hingga petugas verifikasi BPJS Kesehatan di RS.
Narasumber dan Fasilitator
Narasumber dalam pelatihan ini adalah:
- Prof. dr. Laksono Trisnantoro MSc.,PhD
- dr. Endang Suparniati, M.Kes
Fasilitator dalam pelatihan ini adalah:
- Andriani Yulianti SE.,MPH
- Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH
- drg. Puti Aulia Rahma MPH
Tim pelatih berasal dari Divisi Manajemen Mutu – PKMK FKKMK UGM dan berpengalaman dalam penelitian, konsultasi, pendampingan, maupun pelatihan terkait koding INA CBGs.
Waktu dan Tempat
Pelatihan akan diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 26-27 April 2018.
Biaya
Biaya pelatihan sebesar Rp. 3.500.000. Biaya pelatihan mencakup materi, kit pelatihan, sertifikat, dan konsumsi.
Jadual Tentative
| Waktu | Materi | Narasumber |
| Hari 1: | ||
| 09.00-09.15 | Pembukaan Pelatihan | PKMK |
| 09.15-10.00 | Materi 1: Potensi Fraud Layanan Kesehatan dalam Era JKN | PKMK |
| 10.00-10.15 | Coffee break | |
| 10.15-11.00 | Materi 2: Pengenalan System Pembiayaan dan Software INA CBGs | PKMK |
| 11.00-11.45 | Materi 3: Peran Rekam Medis dalam INA CBGs | PKMK |
| 11.45-12.30 | Materi 4. Pengenalan Klasifikasi ICD 10 | PKMK |
| 12.30-13.30 | Ishoma | PKMK |
| 13.30-14.15 | Materi 5. Penggunaan ICD 10 dan Konvensi Makna Tanda Baca | PKMK |
| 14.15-15.00 | Praktikum 1. Penggunaan ICD 10 dan Konvensi Makna Tanda Baca | PKMK |
| 15.00-15.45 | Materi 6. Penggunaan ICD 9 | PKMK |
| 15.45-16.00 | Coffee break dan istirahat | Panitia |
| Hari 2: | ||
| 09.00-09.45 | Praktikum 2. Penggunaan ICD 9 | PKMK |
| 09.45-10.30 | Materi 7. Kaidah-kaidah Koding Morbiditas | |
| 10.30-10.45 | Coffee break | Panitia |
| 10.45-11.00 | Praktikum 3. Kaidah-kaidah Koding Morbiditas | Tim PKMK |
| 11.00-11.45 | Materi 8. Penentuan Penyebab Kematian | PKMK |
| 11.45-13.00 | Ishoma | Panitia |
| 13.00-15.00 | Praktikum 4. Penentuan Penyebab Kematian | PKMK |
| 15.00-15.30 | Penyusunan RTL dan Penutupan | PKMK |
Kontak
Maria Adelheid Lelyana / Anantasia Noviana
PKMK UGM PKMK UGM
Telepon: (0274) 549425 Telepon: (0274) 549425
Hp: 0811 1019 077 Hp: 0821 1616 1620
Email: lelyana.pkmk@gmail.com / Email: noviana.pmpk@gmail.com
Peningkatan Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi: Upaya Peningkatan Mutu di Tingkat Fasilitas Kesehatan
Saat ini Kesehatan ibu dan Anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia. Angka kematian ibu yang masih tinggi pada 305/100.000 kelahiran dan angka kematian bayi 32 /1.000 pada tahun 2015 menjadikan Indonesia gagal mencapai target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals /MDGs)4. Kesenjangan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak masih dapat dirasakan terutama untuk wilayah di luar pulau jawa, Padahal kedepan kita dihadapkan pada target SDG’s 2030 yang lebih ambisius.
Yang terpenting dalam kualitas perawatan rumah sakit yang diberikan kepada ibu dan bayi yang baru lahir dapat dicapai melalui proses penilaian yang berbasis aksi dan partisipatif dan pengkajian ulang berbasis standar. beberapa cara dilakukan termasuk penggunaan tools untuk Penilaian Kualitas Perawatan Rumah Sakit untuk Ibu dan Bayi yang baru lahir ditujukan untuk membantu manajer rumah sakit dan profesional kesehatan di tingkat fasilitas dan pembuat kebijakan di tingkat nasional untuk mengidentifikasi perawatan di bidang obstetri dan neonatal yang perlu ditingkatkan dan untuk mengembangkan rencana tindakan untuk menerapkan perubahan.
Tools yang digunakan untuk melakukan penilaian berdasarkan pada pedoman WHO dan pengalaman sebelumnya dilakukan secara global untuk perawatan anak. Semua aspek utama perawatan, termasuk infrastruktur, peralatan dan layanan pendukung, keamanan dan efektivitas manajemen kasus dan hak untuk informasi, privasi, dan perawatan holistik untuk ibu dan bayi digunakan. Berikut dibawah ini beberapa detail penilaian yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi:
| No | Fokus Area Pelayanan | Aksi Peningkatan Layanan yang Dilakukan |
| 1 | Catatan statistik | Secara periodik melakukan audit terhadap indikator pelayanan yang ada |
| Melakukan audit kematian ibu bekerja sama dengan kabupaten di rumah sakit | ||
| Peningkatan isi dan kelengkapan catatan medis | ||
| Pengenalan sistem informasi berbasis komputer | ||
| 2 | Persediaan obat | Peningkatan ketersediaan obat-obatan esensial |
| 3 | Peralatan | Peningkatan ketersediaan perlengkapan untuk pelayanan bayi |
| 4 | Laboratorium | Peningkatan peralatan dan reagen laboratorium |
| 5 | Infarastruktur | Peningkatan ketersediaan air panas, toilet, kamar mandi, ,meningkatan sistem pemanas |
| 6 | Bangsal Buruh | Meningkatkan privasi, sumber pemanasan yang memadai untuk bayi yang baru lahir dan meningkatkan secara keseluruhan lay out dari tenaga kerja dan ruang bersalin |
| 7 | Bangsal neonatal | Peningkatan peralatan di NICU (CPAP, inkubator) |
| 8 | Kelahiran normal |
Peningkatan pilihan dalam persalinan ditawarkan, lebih sedikit penggunaan enema, Partogram digunakan untuk pengambilan keputusan, Manajemen aktif dari tahap 3 persalinan. Perluasan peran Bidan selama bekerja dan persalinan, Peningkatan pemantauan janin Dan Pelatihan staf di EPC |
| 9 | Sectio secarean |
Revisi indikasi yang tidak tepat, Peningkatan penilaian Kehilangan darah |
| 10 | Komplikasi Obstetri |
Peningkatan penggunaan oksitosin, Mengurangi polifarmasi, protokol tentang penggunaan Magnesium sulfat yang benar Revisi protokol untuk hipertensi, Revisi protokol untuk komplikasi kebidanan, Peningkatan pemantauan preeklamsia, Pelatihan ahli anestesi dalam manajemen kasu hipertensi berat |
| Pelayanan neonatal | Peningkatan kontrol termal, Peningkatan penggunaan skor Apgar, Peningkatan promosi pemberian ASI, Peningkatan resusitasi neonatal, Ibu lebih terlibat dalam perawatan neonatal, Melatih lebih banyak staf dalam perawatan perinatal yang efektif | |
| Komplikasi neonatal | Memonitor grafik dari bayi yang baru lahir diterima di NICU diisi, Perhitungan kebutuhan makan, Ibu dilibatkan dalam perawatan untuk bayi yang baru lahir sakit | |
| Pelayaan emergency kebidanan |
Meningkatkan privasi ibu di ruang gawat darurat kebidanan. Protokol dikembangkan untuk meningkatkan kerja tim dan Protokol untuk profilaksis tromboemboli |
|
| Kontrol infeksi | Tidak ada pemeriksaan vagina pada membran ketuban pecah dini, Fasilitas untuk mencuci tangan ditingkatkan dan Revisi protokol antibiotik profilaksis | |
| Monitoring | Peningkatan pemantauan tanda-tanda vital untuk bayi yang baru lahir sakit dan Peningkatan pemantauan dan perekaman untuk ibu | |
| Panduan | Pengembangan protokol lokal berdasarkan standar WHO | |
| Audit | Audit kematian ibu diperkenalkan dan Audit nyaris meninggal dan kematian perinatal diperkenalkan | |
| Akses dan rujukan | Penilaian dilakukan di rumah sakit kabupaten di daerah tangkapan | |
| Keramahan dalam layanan ibu dan anak | Meningkatkan Informasi yang diberikan kepada ibu saat masuk, selama tinggal di rumah sakit dan saat pulang dan memberikan izin yang akan menemani pasien saat di ruang bersalin dan memberikan kesemapatn untuk menemani saat setelah operasi caesar |
Demikian di atas merupakan proses partisipatif yang mampu membangun kesadaran untuk melihat kesenjangan yang ada dan yang paling penting adalah motivasi untuk melakukan perubahan di antara para manajer rumah sakit dan staf kunci. Proses penilaian, selain mempromosikan perubahan dalam fasilitas kesehatan, manajer rumah sakit diminta melakukan tindakan otoritas kesehatan baik secara lokal dan nasional untuk memastikan masalah sistemik, seperti kurangnya komoditas khusus dapat ditangani. Perbedaan antar rumah sakit dapat dikaitkan dengan berbagai tingkat komitmen dan kepemimpinan. Bahkan, kepemimpinan yang efektif merupakan otoritatif dukungan bagi mereka yang ingin mempromosikan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.
Penulis : Andriani Yulianti, SE., MPH.
Referensi : Tamburlini et al. Improving the Quality of Maternal and Neonatal Care: the
Role of Standard Based Participatory Assessments. Plos One. October 2013 | Volume 8 | Issue 10 | e78282
{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}
{jcomments on}