
Jakarta – Boleh saja alergi pada BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan, tetapi sembrono jika menyimpulkannya membuat rumah sakit menurunkan kualitas layanan atau merusakkan keseimbangan bisnis rumah sakit.

Jakarta – Boleh saja alergi pada BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan, tetapi sembrono jika menyimpulkannya membuat rumah sakit menurunkan kualitas layanan atau merusakkan keseimbangan bisnis rumah sakit.
Evaluasi Penerapan Clinical Pathways, Quality Improvement
dan Manual Rujukan di RSUD Sister Hospital
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan workshop Evaluasi penerapan clinical pathways, quality improvement dan manual rujukan di RSUD Sister Hospital pada acara pre Forum Mutu XI. Acara ini berlangsung di hotel Mercure Surabaya, Selasa 8 September 2015.

Sebagai wujud kerjasama PKMK dengan AIPMNH, sister hospital adalah program yang bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), namun hasil evaluasi yang dipresentasikan oleh dr. Idawati Trisno, M.Kes yang dilakukan menunjukkan bahwa trend kematian ibu dan bayi meningkat. Fenomena ini bukan gambaran yang buruk, tapi ini adalah pembelajaran bagi RSUD untuk menjawab tantangan dalam era JKN.
Hasil presentasi 9 RSUD menunjukan bahwa tingginya angka kematian ini disebabkan oleh tingkat keparahan penyakit, penyakit penyerta pasien, fasilitas kesehatan yang tidak memadai, kompetensi SDM yang belum maksimal, implementasi manula rujukan yang tidak berjalan maksimal. Ini merupakan masalah klasik yang sudah dialami oleh 9 RSUD.
Workshop ini mengevakuasi tiga program tambahan yakni penerapan clinical pathway, quality improvement, dan manual rujukan beserta satu program umum yakni MONEV BLUD. Workshop ini menghadirkan pembahas dr. Hanevi Djasri MARS, dr. Siti Noor Zaenab, M.Kes; Ni Luh Putu Eka Andayani, SKM., M.Kes; Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH; Armi, SE., MPH dan didampingi dengan tim AIPMNH yang diwakili dr. Yustina Yudha Nita.
Sistem rujukan berbasis manual rujukan di 9 kabupaten NTT telah menghasilkan kemajuan yang cukup menggembirakan diantaranya 9 kabupaten telah melakukan implementasi di puskesmas sebagai pemberi rujukan dan RS sebagai penerima rujukan, meskipun 9 kabupaten telah banyak mengalami kemajuan, dalam tahap implementasi ini ada banyak permasalahan atau kendala-kendala yang dialami baik dari Dinas kesehata, RS, Puskesmas maupun lintas sektoral yang terkait.
Dari lima sistem atau indikator yang dimonitoring yaitu sistem manajemen, sistem manajemen klinis, sistem komunikasi/transportasi, sistem transportasi dan sistem pembiayaan beberapa diantaranya masih menemui banyak masalah, misalnya masalah yang ditemui untuk sistem manajemen adalah untuk rujukan ibu kelompok A belum berjalan dengan baik karena bidan di puskesmas belum mampu mendiagnosis pengelompokan kasus, koordinasi antar lembaga, antara dinas kesehatan, puskesmas, RS dan lintas sektoral belum berjalan. Kemudian untuk sistem manajemen klinis juga masih ditemukan adanya ANC yang belum berkualitas karena tidak tersedianya sarana dan prasarana, obat-obatan, dan SDM. Tidak hanya itu sistem transportasi juga berperan dalam penyumbang kematian karena tanpa adanya alat transportasi atau ambulance/mobil untuk mengantar pasien ke fasilitas yang lebih lengkap. Dari hasil presentasi 9 RS ditemui juga permasalahan sistem pembiayaan rujukan yang belum jelas.
Untuk menjawab tantangan dalam JKN, 9 RS menerapkan clinical pathway dan melakukan quality improvement. Program ini dilakukan untuk mendukung upaya dalam kendali mutu dan kendali biaya. Prrogram ini diharapkan dapat membantu 9 RS dalam menjawab masalah-masalah dari sistem JKN yang masih dalam proses perbaikan.
Reporter:
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH
Armiatin, SE.,MPH
The ‘Hickman Lines’ or central line catheters, will be safely and comfortably hidden away in the harness, while still delivering the medication, including chemotherapy, to children.
CIREBON – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, pihak rumah sakit mengadakan pelatihan tata kelola pelayanan dan keperawatan yang aman dan berkualitas untuk masyarakat.
Top manajemen sering disebut sebagai penentu kesuksesan dalam pengimplementasian Quality Improvement (QI). Karena top manajemen dianggap mampu membangun kualitas suatu organisasi sebagai prioritas utama, menciptakan kualitas sebagai budaya yang ditanamkan dalam organisasi, dan memobilisasi sumber daya keuangan dan manusia yang diperlukan untuk mendukung perkembangan organisasi. Begitu pula top manajemen pada rumah sakit. Sebagai suatu organisasi, pentingnya peran dari top manajemen pada rumah sakit di dunia budaya klinis dalam Continuous Quality Improvement/ Total Quality Management (CQI/TQM).
Namun fakta yang terjadi, manajer kesehatan kurang mampu melakukan kontrol secara langsung atas insentif dan kondisi kerja yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku dokter dan akan berdampak pada biaya dan kualitas penanganan klinis. Hal ini dapat terjadi karena ketika mereka dipekerjakan oleh suatu organisasi kesehatan, dokter diberikan status dengan hak otonomi dalam pengambilan keputusan dalam melakukan tindakan klinis. Mengingat status khusus dari dokter di organisasi kesehatan, manajer kesehatan tidak dapat bergantung pada struktur manajemen yang konvensional.
Peningkatan mutu rumah sakit harus selalu dilakukan secara berkesinambungan agar bisa memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dulu, tugas untuk meningkatkan mutu rumah sakit hanya merupakan tugas dari manajemen rumah sakit, tetapi dengan CQI/ TQM, semua pihak dilibatkan dalam peningkatan mutu rumah sakit mulai dari manajemen puncak, staf sampai dengan petugas pelayanan. CQI/ TQM mengendalikan mutu berdasar pada fakta yang objektif. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui gambaran situasi dan persolan yang ada sehingga untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam meningkatkan manajemen mutu juga berdasar atas fakta bukan opini pribadi ataupun golongan.
Pada CQI/ TQM, keterlibatan petugas medis sangat dibutuhkan. Keterlibatan tenaga medis pada CQI/ TQM dapat dilihat dari partisipasi dokter dalam pelatihan QI formal, partisipasi dokter dalam tim QI, klinisi yang terlibat dalam proyek QA/ QI dan departemen klinis di rumah sakit yang memliki proyek QA/QI resmi yang terogranisir.
Berdasarkan survei dari beberapa rumah sakit yang menerapkan CQI/ TQM, 11% dari dokter ahli telah menerima pelatihan QI formal, tetapi hanya 8% yang berpartisipasi dalam tim proyek QI. Lebih dari setengah dari departemen klinis di rumah sakit yang memiliki proyek QI yang terorganisir resmi. Akan tetapi, hanya 18% tim proyek yang menggunakan data untuk perbaikan mutu. Data ini dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan data ini, kondisi rumah sakit yang menerapkan CQI/ TQM masih perlu ditingkatkan, diharapkan semua rumah sakit dapat menggunakan data tersebut untuk peningkatan mutu rumah sakit.
Tabel 1. Study Measures and descriptive Statistics

Keterlibatan semua pihak di rumah sakit sangat penting guna meningkatkan kualitas rumah sakit. Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa keetrlibatan semua unsur manajemen puncak, staf dan kepemimpinan dokter sangat siginifikan.
Tabel 2. Logistic Regression Analysis of Physician Involvement in Governance, Board Leadership for Quality, and CEO Leadership for Quality on Clinical Involvement in CQI/ TQM

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dari atas adalah faktor kunci keberhasilan dalam memenuhi semua masalah ini. Sebagai contoh, pemimpin rumah sakit dapat meningkatkan kredibilitas dari upaya CQI/ TQM dengan menghubungkan semua aspek SDM dan keuangan untuk CQI/ TQM, selain itu juga komitmen yang kuat dan perbaikan yang berkelanjutan juga berperan dalam hal ini. Pemimpin rumah sakit dapat mendorong kinerja tim lintas fungsional antara professional kesehatan dengan menetapkan anggaran pada jalur layanan klinis.
Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH
Sumber: Weiner et al., 1997. Promoting Clinical Involvement in Hospital Quality Improvement Efforts: The Effects of Top Management, Board, and Physician Leadership. HSR: Health Services Research 32:4.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1070207/pdf/hsresearch00036-0116.pdf
{module [150]}
Ada beragam bentuk upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. Salah satunya dengan menurunkan lama rawat inap (length of stay/LOS) di rumah sakit. Banyak pula metode untuk menjamin peningkatan mutu ini. Salah satunya adalah metode yang melibatkan akuntabilitas dokter.
Penelitian di berbagai negara menunjukkan proporsi besar masa rawat inap tercurah pada pelayanan non akut yang sebenarnya tidak perlu rawat inap. Dari penelitian serupa ditemukan sebanyak 20% tempat tidur di rumah sakit digunakan secara tidak patut. Kejadian ini berdampak pada pemborosan biaya dan sumber daya manusia. Masa rawat inap yang panjang juga menyebabkan pasien terkena resiko komplikasi iatrogenik. Pada pasien lanjut usia, masa rawat inap berlebih meningkatkan resiko penurunan fungsi tubuh yang mempengaruhi kualitas hidup.
Studi observasi menunjukkan berbagai penyebab perpanjangan lama rawat inap, yaitu akses terhadap layanan komunitas, tertundanya pelayanan medis, dan yang tidak kalah penting adalah akibat perilaku klinisi. Berbagai intervensi seperti discharge planning, penggunaan care pathways, program pengingat bagi klinisi, audit periodik untuk identifikasi dan merespon alasan keterlambatan, penggunaan ceklis untuk perencanaan kunjungan, maupun identifikasi motivasi rujukan dokter pernah diadopsi untuk menurunkan LOS yang tidak perlu. Umumnya, intervensi yang dilakukan hanya menggunakan satu jenis strategi. Setelah implementasi strategi ini dievaluasi, hasilnya belum dapat disimpulkan strategi umum yang dapat menurunkan masa rawat inap yang tidak perlu.
Alasan inilah yang mendasari Caminiti dkk. melakukan penelitian untuk mengevaluasi dampak berbagai komponen strategi, dengan audit dan umpan balik sebagai komponen inti, untuk menurunkan LOS yang tidak perlu. Audit dan umpan balik adalah intervensi yang umum digunakan untuk meningkatkan praktek profesional baik digunakan sendiri atau menjadi komponen intervensi peningkatan mutu multifaset. Ada kepercayaan bahwa profesional kesehatan terdorong untuk memodifikasi prakteknya ketika diberikan umpan balik mengenai kinerja mereka yang tidak optimal. Studi yang bersifat cluster randomized trial itu dilakukan di 12 bangsal dengan LOS terpanjang di salah satu rumah sakit di Italia.
Strategi dalam penelitian ini bertujuan memotivasi masing-masing klinisi untuk mengadopsi pola praktek yang lebih efisien. Strategi ini terdiri dari dua komponen terintegrasi. Pertama, distribusi dua laporan bulanan. Laporan pertama berisi daftar pasien yang diklasifikasikan sebagai pasien yang masih ada di bangsal walau status klinis mereka sudah layak pulang. Laporan kedua berisi profil LOS masing-masing pasien dalam kelompok intervensi. Kedua, audit oleh profesional di masing-masing bangsal dalam kelompok intervensi. Audit ini bertujuan untuk mendiskusikan kasus-kasus pasien yang dinilai layak pulang.
Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang langsung melibatkan dokter terbukti bermanfaat untuk menurunkan LOS pada kelompok pasien yang masih dirawat tanpa alasan jelas. Strategi ini menunjukkan bahwa proses mengingatkan dokter untuk mengurangi masa rawat inap dapat dilakukan dengan cara sederhana tanpa perlu tambahan intervensi kompleks. Strategi yang melibatkan dokter, dapat membantu menurunkan masalah masa rawat inap yang terkait kontrol staf medis (lihat tabel 1). Dengan cara sederhana ini, pasien dapat juga selamat dari dampak buruk masa rawat inap yang terlalu panjang.
Tabel 1. Daftar alasan perpanjangan masa rawat inap

Oleh : drg. Puti Aulia Rahma, MPH
Sumber : Caminiti et al., Reducing unnecessary hospital days to improve quality care through physician accountability: a cluster randomized trial, BMC Health Service Research 2013; 13:14.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3577481/pdf/1472-6963-13-14.pdf
AKRON, Ohio, Aug. 26, 2015 (GLOBE NEWSWIRE) — The Centers for Medicare & Medicaid Services today issued 2014 quality and financial performance results showing that more Medicare Accountable Care Organizations (ACOs) continue to generate financial savings while improving the quality of care for Medicare beneficiaries by fostering greater collaboration between doctors, hospitals, and health care providers.
Mayapada Group akan membangun rumah sakit di Jakarta Garden City, kota mandiri terintegrasi seluas 370 hektare di Cakung, Jakarta Timur, yang dikembangkan PT Modernland Realty Tbk. Ini merupakan rumah sakit ketiga yang dibangun Mayapada Group di Indonesia.
Berbagai upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan membutuhkan para klinisi (dokter, perawat, bidan dan klinisi lainnya) sebagai pelaksana utama dan terpenting di lapangan. Meskipun terlihat dan dianggap berbeda namun sesungguhnnya berbagai upaya tesebut seperti: TQM, CQI, GKM, PSBH, Akreditasi, ISO 9000, Audit Klinik, Lean Hospital pada dasarnya sama persis.
Kieran Walshe (2009) seorang peneliti di Inggris menemukan bahwa berbagai upaya tersebut semuanya membutuhkan paling tidak empat hal, yaitu kepemimpinan, siklus dan alat peningkatan mutu; Keterlibatan seluruh staf; dan komitmen para klinisi (terutama klinisi senior).
Keterlibatan klinisi sangat penting karena ditangan merekalah pelayanan kesehatan disampaikan kepada para pasien/masyarakat, manajemen “hanya” mendukung dari aspek regulasi organisasi. Namun demikian saat ini peran tersebut perlu ditingkatkan, berbagai kendala terkait dengan keterlibatan klinisi adalah beban kerja dilapangan dan juga karena motivasi para klinisi.
Menjadi tugas para manajer sarana pelayanan kesehatan dan organisasi profesi termasuk institusi pendidikan tenaga kesehatan untuk dapat meningkatkan keterlibatan klinsi dalam upaya peningkatan mutu. Dua artikel yang dapat dijadikan sumber ide untuk hal tersebut kami tampilkan pada minggu ini. Selamat berinovasi.(hd)
{jcomments on}
THE Australian Government will increase audits on child care training organisations, in the Sunshine Coast and other regions, consider more on the job training, enforce the use of penalties and establish a ‘preferred provider’ scheme following the release of a new report into the training of child care workers.