Kuliah Terbuka Topik “Prinsip-prinsip Pembiayaan Kesehatan dan Keadaan di Indonesia: Apakah Mengarah ke Pemerataan atau Tidak?”

KULIAH TERBUKA

Dengan Topik
“Prinsip-prinsip Pembiayaan Kesehatan dan Keadaan di Indonesia:
Apakah Mengarah ke Pemerataan atau Tidak?”

Pembicara:

  1. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph. D
  2. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M. Kes, AAK

Kuliah Terbuka ini akan diselenggarakan pada hari Senin, 30 Maret 2015 mulai pukul 11. 00 – 12.00 WIB, bertempat di Ruang Senat Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM.

Peserta dapat mengikuti kuliah terbuka melalui :

  1. Tatap muka
  2. Webinar (dapat ikut aktif) melalui = https://attendee.gotowebinar.com/register/3228060951392329217 
  3. Live-streaming di www.manajemen-pembiayaankesehatan.net  (bersifat pasif)

Demikian Pemberitahuan ini disampaikan, kami mohon Bapak/Ibu dapat berpartisipasi pada kegiatan tersebut.

 

 

 

4 Ways the Affordable Care Act Is Improving the Quality of Health Care in America

obamaAmerican medicine is the best in the world. But waste and inefficiencies in the system have traditionally put your health and your pocketbook at risk. Patients who stay in the hospital longer than they need to could be exposed to infection. Vital information can get lost in the transition from primary care doctors to specialists. And when patients are given different prescriptions from multiple doctors, dangerous drug interactions can occur.

Continue reading

Jurist: make quality medical care affordable

the hinduJustice K. Narayana Kurup, chairman, State Police Complaints Authority, has called upon the authorities to make healthcare affordable for the common man.

While addressing the convocation ceremony of the Kerala University of Health Sciences, here, he said the government has the constitutional responsibility to provide facilities improvement of public health.

Health was important and a nation cannot exist without healthy citizens, he said. However, quality health care has become unaffordable for the common man, he added. He stressed the need for preventive measures like exercise against diseases.

Continue reading

Akhir 2016, Depok integrasikan Jamkesda ke BPJS

bpjsSalah satu langkah strategis yang perlu diambil pemerintah daerah adalah melakukan integrasi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menyatakan akan mengintegrasikan Jamkesda ke BPJS pada 2016.

Continue reading

Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat dengan Teknologi Sistem Informasi

Kesalahan pemberian obat di tatanan rumah sakit memberikan dampak langsung yang besar terhadap keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Sebuah bukti penting dari literatur internasional menunjukkan risiko yang ditimbulkan oleh kesalahan pengobatan dan mengakibatkan efek samping yang sebenarnya dapat dicegah. Di Amerika serikat, kesalahan pengobatan diperkirakan merugikan sedikitnya 1,5 juta pasien per tahun. Di rumah sakit Australia sekitar 1% dari semua pasien menderita efek samping sebagai akibat dari kesalahan pengobatan. Di Inggris, seribu klaim berturut-turut dilaporkan ke perlindungan Medical Society terkait dengan kesalahan pemberian resep dan obat-obatan.

Untuk pencegahan kesalahan pengobatan pada pasien ada banyak cara yang dapat digunakan dengan menggunakan teknologi informasi. Teknologi informasi memiliki potensi untuk mengurangi kesalahan pengobatan. salah satu yang dianjurkan adalah penggunaan Computerized Physician Order Entry ( CPOE). CPOE merupakan suatu sistem pencatatan perintah/order medikasi dari dokter yang berbasis teknologi komputer. Perintah ini kemudian ditransmisikan kepada berbagai departemen dan staf medis yang bertanggungjawab atas pelaksanaan perintah seperti laboratorium, farmasi, radiologi dan bidang keperawatan. Sistem ini mempunyai banyak keunggulan terutama di bidang efisiensi dan keamanan pengobatan. Melalui sistem ini dokter, perawat dan apoteker bekerja secara bersama-sama dalam proses medikasi untuk mengurangi kesalahan pengobatan (medication error). Hal ini terjadi karena dengan CPOE, setiap tenaga kesehatan dapat mengakses data riwayat medikasi seorang pasien. Perawat merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan dari pelaksanaan CPOE. Oleh karena itu, perawatan pasien dengan CPOE merupakan sebuah proses tim, dimana semua anggotanya terlibat untuk meningkatkan kesehatan pasien maka perawat dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuan kolaboratifnya terutama dibidang komunikasi, pengetahuan serta teknologi informasi.

Dalam sistem ini, CPOE ini memberikan keuntungan anatara lain 1) mengurangi tingkat keterlambaran dalam proses keperawatan, 2) mengurangi kesalahan interpretasi tulisan tangangan, 3) memungkinkan input data dariunit-unit pelayanan ataupun dari tempat lain, 4) menyediakan fasilitas pengecekan atas pemberian dosis yang tidak tepat, 5) menyederhanakan inventaris dan proses penagihan, 6) dengan penggunaan CPOE prescribing sistem sinyal dosis dan pemeriksaan interaksi terdeteksi secara otomatis, misalnya memberi tahu pengguna bahwa dosis yang digunakan terlalu tinggi dan berbahaya serta bisa juga memberi tahu pengguna bahwa obat-obat yang digunakan dapat mengganggu kesehatan. Selain itu, sistem ini juga meningkatkan efiseiensi dan keamanan dari proses pemberian obat serta mengurangi kesalahan pemberian obat oleh perawat.

Solusi teknologi informasi untuk meningkatkan proses tatacara pemberian obat dan mengurangi kejadian kesalahan pemberian obat adalah dengan Barcode Medication Administration System. Teknologi barcode secara otomatis akan melakukan cek 5 benar pada saat perawat melakukan scan tanda pengenal, dan mengidentifikasi tanda pengenal pasien (gelang pengenal) untuk mengakses profil pengobatan pasien dan memverifikasi nama obat, pasien, dosis, waktu dan cara pemberian yang tepat. Pengecekan ini dilakukan untuk satu kali pemberian obat, disamping tempat tidur pasien, sebelum obat diberikan. Proses kerja penggunaan barcode medication administration system meliputi: (1) scan tanda pengenal agar dapat mengakses sistem barcode, (2) mengambil obat di area penyimpanan, (3) cek label obat sesuai dengan BCMA, (4) scan medication barcode, (5) scan tanda pengenal pasien dipergelangan tangan, (6) memberikan obat, (7) dokumentasi.

Meskipun sistem IT menyediakan mekanisme yang jelas dan menarik untuk mengurangi kesalahan pengobatan dan meningkatkan mutu namun tantangan yang harus dihadapi adalah, hanya 10% dari rumah sakit AS yang menggunakan CPOE. Hambatan utama dalam proses adopsi adalah biaya yang tinggi dari sistem dan lingkungan, insentif sama, dimana rumah sakit dan dokter membayar untuk sistem, tetapi asuransi kesehatan meraup keuntungan finansial yang lebih besar. Salah satu mekanisme penting untuk menghapus rintangan ini adalah melalui insentif keuangan untuk organisasi kesehatan.

Oleh : Armiatin, SE., MPH.
Sumber : Medication errors: prevention using information technology systems. Agrawal, A. Journal compilation © 2009 The British Pharmacological Society.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2723209/pdf/bcp0067-0681.pdf 

{module [150]}

Waspada Proses Administrasi Obat

Keliru mengidentifikasi pasien terjadi hampir di semua aspek diagnosis dan pengobatan. Pemberian obat menjadi salah satu tugas seorang perawat yang paling penting karena perawat adalah mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Peran ini sering dilalaikan oleh perawat.

Perawat mengantarkan obat pasien ke kamar setelah menerima obat dari bagian farmasi. Tugas perawat bukan hanya sekedar memberikan injeksi, pil dan memperhitungkan jumlah tetes infus, tapi perawat harus memastika bahwa obat yang diberikan enam benar yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara, benar waktu dan benar dokumentasi.

Sering kali dalam proses pengobatan menimbulkan kekeliruan maupun kesalahan. Ada beberapa kesalahan pengobatan yang terjadi karena salah pasien yaitu 1) kesalahan yang salah pasien selama administrasi; 2) kesalahan slah pasien selama penulisan; 3) kesalahan yang salah pasien selama peresepan; dan 4) kesalahan yang salah pasien selama pemberian obat. Insulin, heparin, dan vankomisin adalah tiga obat yang paling umum terlibat dalam kesalahan yang salah-pasien.

Hasil penelitian dari Pennsylvania Patient Safety Advisory yang dilakukan tahun 2011 menunjukkan bahwa kesalahan obat paling banyak teradi pada proses administrasi. Dari 123 laporan administration error yang diterima, 108 (88%) memenuhi kriteria administration error. Administration error yang paling sering dilaporkan adalah obat yang tidak tepat, dosis yang tidak tepat dan kelalaian dosis.

24mar

Berbagai langkah yang direkomendasikan oleh Pennsylvania Patient Safety Advisory untuk mengatasi kesalahan salah pasien dalam proses pengobatan yaitu meningkatkan verifikasi pasien, pastikan penyimpanan obat dan dokumen spesifik yang tepat, gunakan tekhnologi kesehatan dengan benar misalnya menggunakan computerized prescriber order entry (CPOE), batasi penggunaan pesan verbal dan memberdayakan pasien untuk mencegah dan mendeteksi kesalahan.

Solusi mengatasi kesalahan pasien dalam proses pengobatan ini dapat menjadi referensi bagi rumah sakit di Indonesia untuk memenuhi syarat akreditasi Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) 2012. Sebagaimana pada Sasaran keselamatan pasien rumah sakit, salah satunya sasaran ketepatan indentifikasi pasien. Selain itu World Health Organization (WHO) juga mendorong pasien dan keluarga untuk menjadi peserta aktif dalam melakukan identifikasi pasien.

Oleh : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
Sumber : Pennsylvania Patient Safety Advisory. 2013. Wrong-Patient Medication Errors: An Analysis of Event Reports in Pennsylvania and Strategies for Prevention
http://www.patientsafetyauthority.org/ADVISORIES/AdvisoryLibrary/2013/Jun;10%282%29/documents/41.pdf 

{module [150]}

Policy Brief Untuk Peningkatan Kualitas Pelayanan Rawat Jalan

Kualitas pelayanan atau Quality of Care (QOC) merupakan tujuan utama dalam upaya peningkatan sistem kesehatan di negara-negara skala menengah ke bawah (Low and Middle Countries- LMICs). Kualitas pelayanan kesehatan di berbagai aspek menjadi perhatian kita semua, demikian juga dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut. Salah satunya adalah pelayanan rawat jalan, dimana saat ini masih terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan rawat jalan di negara-negara dengan skala tersebut masih buruk. Untuk menilai mutu pelayanan kesehatan tersebut, dilihat dari beberapa aspek, meliputi; inputs (fasilitas, staf, perlengkapan, suplai), proses (kepatuhan protokol dan standar pelayanan), dan outcomes (gejala yang muncul, usia hidup, komplikasi atau outcome yang buruk).

Di sisi lain, Universal Health Coverage (UHC) yang ‘diperkenalkan’ di LMICs of the Asia Pacific Region mengindikasikan munculnya masalah terkait mutu yakni rendahnya mutu pelayanan kesehatan serta diperlukannya strategi dan regulasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan tersebut. Berbagai penerapan strategi untuk meningkatkan pelayanan rawat jalan dilaksanakan di negara-negara ini, namun berbagai pertanyaan muncul terkait hal tersebut, seperti; apakah strategi yang diterapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan atau apakah strategi yang diterapkan sesuai dengan skala yang ada.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, maka policy brief berikut diharapkan dapat ‘menelusur’ permasalahan yang ada di pelayanan rawat jalan, me-review berbagai strategi peningkatan kualitas pelayanan rawat jalan, serta memberikan pedoman yang dapat dipergunakan oleh pembuat kebijakan di negara-negara skala menengah ke bawah tersebut. Secara lengkap policy brief tersebut dapat diakses di link berikut: Policy Brief: Quality of Care – What are effective policy options for governments in low- and middle-income countries to improve and regulate the quality of ambulatory care?

Selain memaparkan upaya peningkatan kualitas pelayanan di rawat jalan melalui pemaparan policy brief, minggu ini akan dimuat pula artikel terkait upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan melalui kewaspadaan pada proses administrasi obat dan upaya pencegahan kesalahan pemberian obat melalui pemanfaatan teknologi informasi. Seluruh paparan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dan memperkaya pengetahuan sehingga dapat mendukung upaya peningkatan Quality of Care di setiap lini pelayanan kesehatan (LEI).

{module [152]}

Repotase Kegiatan Seminar Bedah Buku Inovasi KIA

23mar-2Pada aspek Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) capaian MDGs Indonesia belum sesuai dari target yang diharapkan. diantaranya adalah menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 32 per 1000 KH, menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 359 per 100.000 KH dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita menjadi 18,4%. Tetapi angka tersebut masih jauh dari target sebesar AKB 19 per 1000 KH, AKI 102 per 100.000 KH dan prevalensi gizi kurang 18,8%. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Bedah Buku Inovasi KIA di Ruang Senat, Gd KPTU Lt. 2 FK UGM Yogyakarta pada Rabu, 18 Maret 2015, yang diselenggarakan pkl. 08.00-16.00wib. Dalam diskusi juga terungkap bahwa terdapat beberapa penyebab mengapa target MDGs dalam sektor KIA tidak tercapai diantaranya adalah:

Continue reading

Edukasi untuk Membangun Budaya Anti Fraud di Rumah Sakit

23mar-1

RSUD Sidoarjo menyelenggarakan Seminar Pengetahuan Dasar Pencegahan dan Pengendalian Fraud Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Kamis, 12 Maret 2015 lalu. Acara yang bertempat di ruang Hipocrates ini bertujuan memberi wawasan kepada seluruh staf RSUD Sidoarjo dan beberapa peserta dari rumah sakit sekitar serta verifikator dan kepala cabang BPJS di wilayah sekitar mengenai fraud layanan kesehatan. drg. Syaf Satriawarman, Sp. Pros. selaku Wadir Perencanaan dan Pendidikan RSUD Sidoarjo berharap setelah paham mengenai fraud layanan kesehatan, peserta dapat berpartisipasi membangun budaya anti fraud di rumah sakit. Narasumber dalam seminar ini adalah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, Ph.D; dr. Hanevi Djasri , MARS; dan drg. Puti Aulia Rahma, MPH dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM. Seminar setengah hari ini berjalan hangat dan diikuti dengan antusiasme peserta saat sesi diskusi.

Continue reading