Accelerating access to universal health coverage

health starMore than 1 billion people in the world lack access to basic health care, and another 100 million fall into poverty trying to access it each year. Nearly a third of households in Southeast Asia that includes Bangladesh have to borrow money or sell assets to pay for health care. Study conducted by icddr,b showed that around 6.4 million or four percent people in Bangladesh get poorer every year due to excessive health cost. In Bangladesh, out of the pocket health expenditure is very high about 64 percent.

Continue reading

Reportase Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI

Narasumber : dr. Hanevi Djasri MARS, dr. Muhammad Hardhantyo PW, Armiatin SE, MPH

Kamis, 11 Desember 2014

15desmutu

Kegiatan pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer telah menghasilkan draf sistem rujukan layanan primer dan draf pedoman rujukan rujukan untuk empat penyakit spesifik. Berdasarkan draf sistem dan pedoman rujukan tersebut telah dilakukan kegiatan peningkatan kompetensi dokter umum dan uji coba sistem dan pedoman rujukan.

Continue reading

Asosiasi Asuransi Surati Jokowi soal JKN yang Dipercepat

bpjs 151214Jakarta, Kompas.com – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melayangkan surat kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Presiden RI Joko Widodo. Surat tersebut di antaranya berisi keberatan pelaku industri apabila pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dipercepat berlaku mulai 1 Januari 2015.

Continue reading

Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI

Kerangka Acuan

Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer
di Provinsi DKI

Narasumber : dr. Hanevi Djasri MARS, dr. Muhammad Hardhantyo PW, Armiatin S.E, MPH

  PENGANTAR

Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) telah menandatangani kerjasama untuk mengembangkan sistem rujukkan pelayanan primer di Puskesmas Propinsi DKI Jakarta. Kerjasama tersebut meliputi kegiatan audit mutu rujukan, pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer, peningkatan kompetensi dokter umum, uji coba sistem dan pedoman rujukan dan re-audit mutu rujukan.

Kegiatan audit mutu rujukan, pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer, dan telah menghasilkan draf sistem rujukan layanan primer dan draf pedoman rujukan rujukan untuk 4 penyakit spesifik. Berdasarkan draf sistem dan pedoman rujukan tersebut telah dilakukan kegiatan peningkatan kompetensi dokter umum dan uji coba sistem dan pedoman rujukan.

Untuk mendapatkan masukan perbaikan bagi sistem dan pedoman rujukan, maka diperlukan adanya sebuah pertemuan dalam bentuk workshop untuk melakukan evaluasi pelaksanaan uji coba dan re audit.

  TUJUAN

Workshop ini diharapkan dapat menghasilkan dokumen akhir (final) Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer dan Pedoman Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer bagi Provinsi DKI Jakarta. Scara khusus diharapkan dapat mengasilkan:

  1. Laporan pelaksanaan uji coba sistem dan pedoman rujukan
  2. Laporan pelaksanaan audit mutu rujukan layanan primer di Puskesmas
  3. Revisi Sistem dan Pedoman rujukan layanan primer di Puskesmas

Peserta

Pertemuan ini diharapkan dapat diikuti oleh satu orang perwakilan dari masing-masing Kepala Puskesmas kecamatan (44), dan perwakilan dari RS dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Tim Fasilitator

Fasilitator akan berasal dari tim Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), yang terdiri dari:

  1. dr. Hanevi Djasri, MARS
  2. Armiatin, SE, MPH
  3. dr. M. Hardantyo

  WAKTU & TEMPAT

Hari & tanggal : Kamis, 11 Desember 2014
Jam                : 08.00 – 16.00 WIB
Tempat           : Puskesmas Sawah Besar

 

   AGENDA KEGIATAN

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

08:00-08:30

Registrasi

Panitia

08:30-09:00

Pembukaan

Kadinkes

09:00-09:30

Pengantar workshop

Hanevi Djasri

09:30-10:30

Paparan uji coba sistem dan pedoman rujukan layanan primer

3 perwakilan Puskesmas

10:30-11:00

Diskusi untuk masukan perbaikan dokumen sistem dan pedoman

11:00-12:00

Paparan hasil re-audit

3 perwakilan Puskesmas

12:00-12:30

Diskusi untuk masukan perbaikan dokumen sistem dan pedoman

12:30-13:30

Istirahat siang

13:30-14:30

Diskusi kelompok finalisasi dokumen sistem dan pedoman

Peserta dibagi menjadi 5 kelompok

14:30-15:30

Presentasi hasil diskusi kelompok

Masing-masing 10 menit

15:30-16:00

Kesimpulan dan Penutup: POA

Hanevi Djasri

Catatan:
Pera peserta diharapkan membawa:

  • notebook
  • Hasil re-audit
  • Contoh form rujukan yang telah diisi
  • Catatan pelaksanaan uji coba (bila ada)

 

 

Mutu Pelayanan Kesehatan Untuk Ibu dan Anak

Mutu pelayanan kesehatan yang baik sebaiknya disediakan oleh setiap provider dalam memberikan pelayanan kesehatan, tidak terkecuali pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Salah satu indikator penilaian mutu pelayanan kesehatan di masyarakat dapat dilihat dari tingkat kematian ibu dan anak di suatu wilayah. Semakin tinggi kematian ibu di suatu wilayah dapat menjadi pertanda buruknya mutu layanan kesehatan di wilayah tersebut, sedangkan tingkat kematian bayi dapat menjadi indikator yang terkait dengan target kelangsungan hidup anak dan dapat mencerminkan kondisi sosial-ekonomi serta kesehatan di wilayah tersebut.

Gambaran situasi terkait angka kematian ibu, menurut data dari WHO seperti yang disampaikan dalam lamannya, menyebutkan bahwa salah satu target MDGs yang ditetapkan adalah mengurangi tiga per empat jumlah ibu yang meninggal selama hamil dan melahirkan pada 2015. Meskipun terjadi penurunan angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup, namun dinilai masih diperlukan upaya yang cukup keras untuk dapat mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/ MDGs) tersebut.

Sedangkan untuk mengurangi tingkat kematian anak dengan usia di bawah lima tahun, WHO telah menetapkan target penurunan angka sebesar dua pertiga pada 2015. Terdapat enam penyebab kematian yang diidentifikasi, salah satunya adalah penyebab kematian yang terkait dengan neonatal (bayi baru lahir).

Terkait dengan berbagai hal di atas, maka perlu diperhatikan mutu pelayanan kesehatan yang diterima oleh ibu dan anak agar angka kematian ibu dan anak, baik dalam proses prenatal, partus serta post partum, dapat ditekan serendah mungkin. Pada artikel yang dimuat dalam website minggu ini akan disajikan mengenai upaya nyata yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi di NTT, serta bahasan terkait faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kematian ibu. Kemudian, dengan dilengkapi referensi pendukung sehingga kita dapat melihat gambaran utuh mengenai berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan anak melalui pemberian pelayanan kesehatan yang bermutu serta mengelola berbagai faktor di luar proses pemberian pelayanan kesehatan itu sendiri. Hal ini sejalan dengan salah satu misi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2015 yakni memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat beserta lingkungannya. (lei)

{module [152]}

Pendekatan Perkesmas Untuk Menurunkan Kematian Bayi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Penurunan angka kematian bayi penting karena Angka Kematian Bayi (AKB) dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Indikator AKB terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial-ekonomi dan kesehatannya. Menanggapi permasalahan anak yang masih menjadi perhatian di Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana kematian ibu sudah bisa diturunkan namun hal ini tidak terjadi pada penurunan kematian bayi. Maka, dibutuhkan upaya-upaya luar biasa dari instansi pelayanan kesehatan untuk memecahkan permasalahan ini.

Seperti pada data yang dipaparkan oleh tim Dinkes Provinsi NTT dalam pertemuan lokakarya evaluasi akhir yang dilakukan di Bali (4-5/12/2014) bahwa belum ada perubahan yang berarti dalam menurunkan angka kematian bayi.

art8des14

Sumber: Sumber Data: Laporan F1 – F8 Bulan dan Indikator Antara Revolusi KIA NTT 2013- 2014 Kab/Kota melalui Bid. Kesmas Dinkes NTT

Pemerintah melalui Dinas kesehatan sudah berupaya untuk menekan angka kematian bayi di NTT baik melalui gebrakan revolusi KIA dengan pesan seluruh persalinan di Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT, harus ditolong oleh tenaga kesehatan berkompeten dan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai, sesuai dengan peraturan Peraturan Gubernur No. 42 Tahun 2009 tanggal 21 Agustus 2009. Upaya ini perlu didukung dengan pendekatan lainnya. Ada satu strategi yang dipaparkan oleh dr. Stefanus Bria Seran, MPH dalam upaya menurunkan angka kematian bayi yakni dengan menggunakan pendekatan PERKESMAS.

Seperti yang diketahui bahwa Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) merupakan salah satu upaya puskesmas yang mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan memadukan ilmu/praktik keperawatan dengan kesehatan masyarakat melalui dukungan peran serta aktif masyarakat yang mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu. Hal ini ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya.

Petugas Perkesmas dalam hal ini adalah seluruh perawat fungsional yang bekerja di puskesmas dan mendukung adanya kolaborasi dengan petugas kesehatan lain (dokter, bidan, petugas gizi, petugas kesling, dan lain-lain) sesuai kebutuhan dan lingkup permasalahan yang dihadapi ketika melayani masyarakat. Kegiatan pelayanan Perkesmas dapat dilaksanakan di dalam dan di luar gedung puskesmas. Di dalam gedung, perawat melakukan asuhan keperawatan bagi individu yang datang ke puskesmas sedangkan kegiatan di luar gedung, perawat dapat melakukan asuhan keperawatan keluarga maupun asuhan keperawatan kelompok khusus/rawan kesehatan di daerah binaan Perkesmas. Berbagai masalah kesehatan yang memerlukan pelayanan Perkesmas termasuk pada kelompok balita. Jenis kegiatan yang dilakukan selama memberikan pelayanan Perkesmas seperti; deteksi dini, penyuluhan kesehatan, konseling, perawatan kesehatan dasar, dan rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat.

Ide tersebut sesuai dengan latar belakang dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat yakni Puskesmas yang merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM maupun UKP di strata pertama pelayanan kesehatan, dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di Kabupaten/Kota. Upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas meliputi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat sangat menentukan kinerja Kabupaten/Kota untuk mewujudkan masyarakat sehat di wilayahnya. Prinsip penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh, terpadu, terjangkau dan bermutu merupakan prinsip yang seharusnya diterapkan di Puskesmas, sehingga kinerja Puskesmas lebih optimal.

Mengingat saat ini permasalahan kesehatan yang dihadapi cukup kompleks, upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh masyarakat meskipun Puskesmas telah tersedia di setiap kecamatan yang rata-rata ditunjang oleh tiga Puskesmas Pembantu namun Dinkes provinsi NTT tetap optimis dengan mengaktifkan kembali kegiatan perkesmas akan dapat membawa dampak yang lebih baik dalam menurunkan angka kematian bayi.

Oleh: Andriani, MPH

Referensi:

{module [150]}

Menengok Faktor Sosial Budaya yang Mempengaruhi Kematian Ibu

Kematian ibu hingga kini masih menjadi indikator penilaian mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Semakin tinggi kematian ibu di suatu wilayah, semakin buruk mutu layanan kesehatan di wilayah tersebut. Berbagai faktor penyebab kematian ibu digali untuk menentukan intervensi yang tepat. Salah satunya faktor sosial budaya.

Di Indonesia, dikenal “Tiga Terlambat” dan “Empat Terlalu” sebagai faktor penyebab kematian ibu. Terlambat pertama adalah terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan. Kedua, terlambat dalam mendapat pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan. Ketiga, terlambat dalam mengenali tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan. Sedangkan “Empat Terlalu” terdiri dari terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu banyak.

Lalu, di mana peran faktor sosial budaya dalam “mendukung” terjadinya kematian ibu?

Terlambat pertama, yaitu terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan, secara teknis disebabkan oleh hambatan dalam proses transportasi. Ketiadaan alat transportasi maupun jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan membuat ibu terlambat mendapat pelayanan. Selain problem teknis, perkara sosial budaya juga cukup punya andil dalam tahap ini. Di Indonesia, ibu hamil tidak bisa serta merta dirujuk ke fasilitas kesehatan bila belum mendapat persetujuan tetua. Kadangkala yang terjadi ialah komplikasi yang dialami ibu hamil dianggap sebagai akibat dari dosa-dosa yang pernah diperbuat keluarga. Akibatnya, ibu hamil tersebut harus menjalani proses pembersihan dosa selama beberapa waktu sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.

Contoh demikian ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Nigeria, keterlambatan atau keengganan ibu hamil pergi ke fasilitas kesehatan disebabkan kuatnya kepercayaan terhadap pengobatan tradisional dibanding pengobatan modern. Masyarakat juga meyakini bahwa komplikasi yang dialami ibu hamil, misalnya perdarahan, disebabkan oleh kutukan setan sehingga tidak mempan diatasi di fasilitas kesehatan. Di Gambia, ibu hamil disarankan menuju fasilitas kesehatan setelah waktu shalat dzuhur setempat. Selain itu, ibu hamil juga enggan menuju fasilitas kesehatan karena kerap diperlakukan kasar oleh perawat.

Terlambat kedua, yaitu terlambat mendapat pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan, secara teknis terkait dengan terbatasnya tenaga medis. Faktor sosial budaya juga berpengaruh dalam aspek ini. Di Indonesia, pelayanan kesehatan yang lambat diakibatkan oleh rendahnya motivasi kerja tenaga kesehatan karena isu remunerasi. Kesehatan juga kadang belum menjadi prioritas Pemda, sehingga pengadaan alat dan obat untuk melayani ibu hamil sering kali tidak tersedia. Akibatnya pelayanan terhadap ibu hamil terhambat. Selain itu, campur tangan politik menyebabkan tenaga kesehatan terlatih di suatu wilayah dimutasi ke tempat lain.

Terlambat ketiga dan “Empat Terlalu”, dari sudut pandang sosial budaya juga terkait dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat. Terlambat mengenali tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan seringkali disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat. Terlalu tua menikah dan melahirkan terkait dengan keputusan perempuan modern untuk mendahulukan karier atau mengupayakan kemapanan hidup sebelum menikah dan memiliki anak. Terlalu muda melahirkan terkait dengan kepercayaan wanita di desa yang umumnya malu menikah dan melahirkan di usia terlalu tua. Terlalu sering dan terlalu banyak melahirkan umumnya terkait dengan kepercayaan bahwa banyak anak banyak rejeki.

Faktor-faktor sosial budaya yang muncul dalam masyarakat memang tidak secara langsung mempengaruhi kematian ibu. Namun, hal ini berpengaruh terhadap intervensi yang akan diberikan dalam upaya penyurunan kematian ibu. Maka, perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak faktor sosial budaya dalam kematian ibu.

Oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH

Referensi:

  • Cham M; Sundby J; and Vangen S; 2005; Maternal mortality in the rural Gambia, a qualitative study on access to emergency obstetric care; Reproductive Health; 2:3
  • Dr. dr. Atik Triratnawati, 2013, Laporan Hasil Monev Aspek Kualitatif Program Sister Hospital
  • Okolocha C, Chiwuzie J, Braimoh S, Unuigbe J, dan Olumeko P; 1998; Socio-cultural factors in maternal morbidity and mortality: a study of a semi-urban community in southern Nigeria; J Epidemiol Community Health; 52:293–297
  • Ronsmans, C, and Graham, WJ; 2006; Maternal mortality: who, when, where, and why; The Lancet; Volume 368: 9542; Pages 1189 – 1200
  • Spot Dokter, Mencegah Risiko Kehamilan dan Persalinan: 3 Terlambat, 4 Terlalu, http://home.spotdokter.com/389/mencegah-risiko-kehamilan-dan-persalinan-3-terlambat-4-terlalu/
  • V. De Brouwere, et. al., 2002, Reducing Maternal Mortality in Developing Country, Tropical Medicine & International Health, Volume 3:10.

{module [150]}

Transforming Rural Health Care: High-Quality, Sustainable Access To Specialty Care

health careEditor’s note: This post is informed by a case study, the fourth in a series made possible through the Merkin Initiative on Physician Payment Reform and Clinical Leadership, a special project to develop clinician leadership in health care delivery and financing reform. The case study will be presented on Monday, December 8 using a “MEDTalk” format featuring live story-telling and knowledge-sharing from patients, providers, and policymakers.

Continue reading