Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan komitmen pemerintah untuk membawa rumah sakit pemerintah Indonesia menembus standar layanan kesehatan kelas dunia. Hal tersebut disampaikan dalam ajang 3rd RS Kemenkes Awards, yang menjadi momentum apresiasi atas transformasi rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan.
Dampak Transformasi Infrastruktur Rumah Sakit bagi Tenaga Kesehatan dan Pasien
Perubahan infrastruktur rumah sakit sering dipandang sebagai simbol kemajuan pelayanan kesehatan. Namun, studi Pomare et. al (2022) yang dilakukan di rumah sakit publik di Sydney, Australia, menunjukkan bahwa proses pindah ke gedung rumah sakit baru bukanlah perjalanan yang sepenuhnya mulus. Penelitian ini menelaah pengalaman staf dan pasien sebelum dan setelah pembukaan gedung rumah sakit baru sebagai bagian dari proyek pengembangan berskala besar dengan menyoroti dinamika perubahan organisasi, kesiapan staf, serta dampaknya terhadap pengalaman pasien.
Melalui survei staf dan pasien, wawancara mendalam, dan analisis data rumah sakit selama dua tahun, peneliti menemukan bahwa masa transisi ditandai oleh ketidakpastian yang tinggi di kalangan staf. Banyak staf merasa kurang mendapatkan informasi yang jelas, menghadapi perubahan rencana yang dinamis, serta harus beradaptasi dengan alur kerja dan tata ruang baru dalam waktu singkat. Menariknya, meskipun persepsi staf terhadap perubahan organisasi justru menurun setelah gedung baru dibuka, kepercayaan diri mereka dalam kemampuan menghadapi perubahan meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan adanya proses adaptasi dan ketahanan (resilience) staf dalam menghadapi tekanan perubahan besar.
Dalam sisi pasien, pengalaman yang dirasakan bersifat paradoks. Fasilitas baru dipandang lebih nyaman, modern, dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan perawatan. Namun di sisi lain, skor kepuasan pasien menurun secara signifikan sesaat setelah pembukaan gedung baru. Penurunan ini berkaitan dengan meningkatnya waktu tunggu, alur layanan yang membingungkan, serta persepsi bahwa staf tampak kelelahan dan kurang sumber daya. Kabar baiknya, kepuasan pasien kembali membaik seiring meningkatnya adaptasi staf dan stabilisasi sistem kerja beberapa bulan setelah operasional berjalan.
Studi ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan bahwa perubahan fisik rumah sakit tidak bisa dipisahkan dari kesiapan sumber daya manusia. Komunikasi yang terbuka, konsisten, dan melibatkan staf garis depan sejak tahap desain hingga operasional terbukti berperan besar dalam memperlancar transisi. Selain itu, kecukupan staf dan pelatihan adaptif menjadi kunci agar kualitas asuhan pasien tetap terjaga selama masa perubahan.
Temuan ini juga menegaskan bahwa investasi infrastruktur perlu diiringi dengan perencanaan operasional yang realistis. Perubahan tata ruang diketahui berdampak pada jarak tempuh, waktu kerja, dan beban staf, sehingga perlu diperhitungkan dalam penentuan rasio staf, alur logistik, dan model pelayanan. Melalui pendekatan yang lebih berpusat baik pada staf maupun pasien, transformasi rumah sakit diharapkan tidak hanya akan menghasilkan gedung baru tetapi juga sistem pelayanan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya:
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0272251
Rantai Dingin: Kunci Agar Obat Tetap Aman dan Berkhasiat
Rantai dingin adalah suatu sistem terintegrasi yang dirancang untuk menjamin kestabilan suhu produk farmasi sejak proses produksi hingga produk tersebut diterima dan digunakan oleh pasien. Sistem ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya bagi produk yang sensitif terhadap perubahan suhu seperti vaksin, insulin, produk biologis, sediaan injeksi tertentu, serta bahan pemeriksaan laboratorium.
Secara ilmiah, tidak semua obat memiliki stabilitas yang baik pada suhu ekstrem. Banyak vaksin, misalnya, harus disimpan dalam rentang suhu 2–8°C untuk mempertahankan potensi dan efektivitasnya. Paparan suhu di luar batas tersebut dapat menyebabkan degradasi zat aktif tanpa disertai perubahan fisik yang terlihat. Akibatnya, efektivitas obat dapat menurun, terapi menjadi tidak optimal, bahkan berpotensi membahayakan pasien. Selain risiko klinis, produk yang mengalami kerusakan juga harus dimusnahkan sehingga menimbulkan kerugian ekonomi. Dalam konteks vaksinasi, kegagalan menjaga suhu penyimpanan dapat berdampak pada tidak tercapainya target imunisasi serta menurunnya kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.
Agar sistem rantai dingin berfungsi secara optimal, diperlukan pengelolaan yang terstandar. Penyimpanan harus menggunakan peralatan khusus seperti lemari es farmasi atau ruang pendingin dengan pemantauan suhu secara kontinu. Selama distribusi, produk perlu diangkut menggunakan sarana berpendingin atau wadah terisolasi sesuai standar. Pemantauan suhu dilakukan dengan alat ukur yang terkalibrasi, seperti termometer digital atau data logger, untuk mendeteksi secara dini setiap penyimpangan. Selain itu, sumber daya manusia yang terlibat harus memahami prosedur operasional, termasuk penanganan ketika terjadi deviasi suhu.
Dalam praktiknya, implementasi rantai dingin kerap menghadapi kendala, antara lain gangguan pasokan listrik, keterbatasan fasilitas di wilayah terpencil, kurangnya pelatihan petugas, serta sistem dokumentasi yang belum optimal. Oleh karena itu, pengelolaan rantai dingin memerlukan komitmen yang kuat, pengawasan berkelanjutan, dan tanggung jawab profesional guna menjamin mutu serta keselamatan produk farmasi yang diberikan kepada masyarakat.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang topik ini bisa mengikuti pelatihan pada link berikut klik disini

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Kerangka Pikir
Pelayanan kesehatan yang bermutu dan aman bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan pelayanan yang bermutu serta mengutamakan keselamatan pasien. Pasal 176 dalam UU 17 Tahun 2023 sangat tegas menyampaikan bahwa (1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menerapkan standar keselamatan Pasien. (2) Standar keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui identifikasi dan pengelolaan risiko, analisis dan pelaporan, serta pemecahan masalah dalam mencegah dan menangani dan pada pasal 178 menyatakan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara internal dilakukan melalui: a. pengukuran dan pelaporan indikator mutu; b. pelaporan insiden keselamatan Pasien; dan c. manajemen risiko.
Ketentuan ini diperkuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 yang menegaskan bahwa peningkatan mutu dilakukan melalui pengukuran indikator mutu, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan manajemen risiko (Pasal 885 (ayat 2). Sebagai implementasinya, rumah sakit wajib menjalankan Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) secara sistematis, terintegrasi, dan berkesinambungan sesuai standar akreditasi rumah sakit terbaru.
Seperti Apa Pengelolaan Program PMKP dan Manajemen Risiko?
Pelaksanaan PMKP dimulai dari komitmen pimpinan dan pembentukan Komite Mutu yang terintegrasi dengan komite-komite lain seperti Komite Medis, Keperawatan, PPI, K3RS, PPRA, dan lainnya. Struktur ini memastikan tidak terjadi tumpang tindih program serta memperkuat koordinasi lintas unit.
Bagaimana Melakukan Pemilihan dan Pengumpulan Indikator Mutu?
Indikator mutu menjadi instrumen utama dalam mengukur kualitas layanan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022, Indikator Nasional Mutu (INM) antara lain:
- Kepatuhan kebersihan tangan
- Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
- Kepatuhan identifikasi pasien\
- Waktu tanggap seksio sesarea emergency
- Waktu tunggu rawat jalan
- Penundaan operasi elektif
- Kepatuhan waktu visite dokter penaggung jawab pelayanan
- Pelaporan hasil kritis laboratorium
- Kepatuhan penggunaan formularium nasional
- Kepatuhan terhadap clinical pathway
- Kepatuhan upaya penegahan risiko pasien jatuh
- Kecepatan waktu tanggap terhadap komplain
- Kepuasan pasien dan keluarga
Selain INM, rumah sakit menetapkan indicator mutu prioritas Rumah Sakit
- Indikator Sasaran Keselamatan Pasien (minimal 1 untuk tiap sasaran)
- Indikator Pelayanan Klinis Prioritas (minimal 1)
- Indikator Tujuan Strategis RS – KPI (minimal 1)
- Indikator Perbaikan Sistem (minimal 1)
- Indikator Manajemen Risiko (minimal 1)
- Indikator Penelitian Klinis & Program Pendidikan Kedokteran (minimal 1, apabila ada)
Selain indikator prioritas RS, maka RS juga melakukan pengukuran Indikator prioriotas unit
- Dipilih kepala unit (minimal 1) sesuai Tupoksi unit dan dijadikan prioritas untuk tahun itu
- Sebisa mungkin disesuaikan yang dapat mendukung tercapainya indikator mutu prioritas RS
Bagaiman Cara Melakukan Analisis, Validasi, dan Pelaporan Data
Data yang dikumpulkan dianalisis dengan cara:
- Membandingkan Trend RS sendiri dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun
- Membandingkan Dengan RS sejenis (seperti melalui database)
- Membandingkan Membandingkan Dengan standar yang ada (seperti dari badan akreditasi, organisasi professional, ditentukan regulasi)
- Dengan best practice (praktik terbaik) atau practice guidelines (panduan praktik klinik)
Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Insiden Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien merupakan sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman melalui identifikasi risiko, analisis insiden, serta implementasi solusi perbaikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017, insiden keselamatan pasien dikategorikan menjadi:
- Kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah insiden keselamatan pasien yang menyebabkan cedera pada pasien.
- Kejadian tidak cedera (KTC) adalah insiden keselamatan pasien yang sudah terpapar pada pasien namun tidak menyebabkan cedera.
- Kejadian nyaris cedera (KNC) adanya insiden keselamatan pasien yang belum terpapar pada pasien.
- Kondisi potensial cedera signifikan (KPCS) adalah suatu kondisi yang berpotensi menyebabkan terjadinya kejadian tidak diharapkan (KTD)
- Kejadian Sentinel* adalah suatu kejadian yang terjadi pada pasien dan menyebabkan: kematian; cedera permanen; atau cedera berat yang bersifat sementara/reversible.
Analisis data IKP dilakukan setiap 3 bulan untuk memantau tren dan variasi yang tidak diinginkan.
Pencapaian dan Keberlanjutan Perbaikan
Perbaikan mutu harus terdokumentasi menggunakan pendekatan: PDCA (Plan-Do-Check-Act) atau PDSA (Plan-Do-Study-Act). Jika indikator telah tercapai dan stabil selama 1 tahun, indikator dapat diganti dengan prioritas baru.
Evaluasi Budaya Keselamatan Pasien
Budaya keselamatan pasien adalah budaya organisasi yang mendorong setiap staf melaporkan masalah mutu dan keselamatan tanpa rasa takut. Survey budaya keselamatan dilakukan setiap tahun yang mana hasilnya dianalisis dan ditindaklanjuti oleh Direktur untuk memperkuat sistem yang aman dan transparan.
Penerapan Manajemen Risiko
Penerapan manajemen risiko merupakan bagian integral dari Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang dilaksanakan secara terstruktur dan berkelanjutan. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, fasilitas pelayanan kesehatan wajib menerapkan standar keselamatan pasien melalui identifikasi dan pengelolaan risiko, analisis dan pelaporan insiden, serta penyelesaian masalah secara sistematis. Proses ini diawali dengan penyusunan risk registry di setiap unit kerja untuk memetakan potensi risiko klinis maupun non-klinis, yang kemudian dianalisis berdasarkan tingkat dampak (severity), kemungkinan terjadi (occurrence), dan kemampuan deteksi (detectability). Pendekatan proaktif seperti FMEA, HVA, atau ICRA digunakan untuk menilai prioritas risiko sehingga organisasi dapat melakukan pencegahan sebelum insiden terjadi.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, rumah sakit melakukan langkah mitigasi melalui penyempurnaan SOP, redesign proses pelayanan, penguatan sistem monitoring, serta peningkatan kompetensi staf. Manajemen risiko tidak berhenti pada tahap pengendalian, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi berkala oleh Komite Mutu untuk memastikan efektivitas tindakan korektif serta mencegah terulangnya kejadian serupa. Budaya organisasi yang terbuka dan tidak menyalahkan (no blame culture) menjadi kunci keberhasilan penerapan manajemen risiko, karena mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk aktif melaporkan potensi bahaya. Dengan pendekatan yang konsisten dan terintegrasi, manajemen risiko menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang aman, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Penutup
Program PMKP bukan sekadar pemenuhan standar akreditasi, melainkan strategi manajemen rumah sakit untuk; menurunkan variasi klinis; mengurangi kejadian tidak diharapkan, Meningkatkan efisiensi sumber daya; membangun budaya keselamatan; meningkatkan kepercayaan Masyarakat melalui sistem yang terstruktur, data yang valid, kepemimpinan yang kuat, serta budaya aman yang konsisten sehingga rumah sakit dapat mencapai pelayanan yang unggul dan berkelanjutan.
Informasi lebih lanjut tentang penerapan PMKP di Fasilitas Layanan Kesehatan dapat menghubungi:
Andriani Yulianti, MPH
( Konsultan PKMK FK-KMK UGM)
Telepon/Email: 081328003119 / andriani_36@mail.ugm.ac.id

Reportase Pelatihan Tools Efisiensi & Efektivitas Berbasis Kuantitatif

Di tengah tuntutan peningkatan mutu layanan dan keterbatasan sumber daya di fasilitas pelayanan kesehatan, kebutuhan akan pengambilan keputusan berbasis data menjadi semakin mendesak. Meski berbagai upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas telah dilakukan, pemanfaatan alat ukur kuantitatif yang sistematis dan terstandar masih terbatas. Menjawab tantangan tersebut, PKMK-Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan penggunaan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Cost-Effectiveness Analysis (CEA) untuk membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan analitis dalam menilai efisiensi penggunaan input serta efektivitas biaya berbagai layanan dan intervensi kesehatan, sehingga proses pengambilan keputusan dapat berlangsung secara lebih objektif, terukur, dan berkelanjutan.
Pelatihan Pemahaman dan Keterampilan Koding INA-DRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit
Penggunaan INA-DRG sangat bergantung pada ketepatan koding diagnosis dan tindakan. Kesalahan atau ketidaktepatan koding dapat berdampak pada klaim yang tidak optimal, penolakan klaim (dispute), serta rendahnya kualitas data rumah sakit.
Di sisi lain, dinamika regulasi, pembaruan pedoman koding (ICD-10, ICD-9-CM), serta kompleksitas kasus klinis menuntut tenaga koder dan tenaga kesehatan terkait untuk memiliki kompetensi yang mutakhir dan seragam. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan yang terstruktur dan komprehensif guna meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan konsistensi dalam penerapan koding INA-DRG.
Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah: meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga koder serta tenaga kesehatan terkait dalam penerapan koding INA-DRG secara tepat, konsisten, dan sesuai regulasi terkini guna mendukung akurasi klaim dan peningkatan mutu data pelayanan rumah sakit.
Materi
- Kebijakan dan regulasi INA-CBG terkini
- Konsep dasar casemix dan alur klaim JKN
- Prinsip dan aturan koding ICD-10
- Prinsip dan aturan koding tindakan ICD-9-CM
- Penentuan diagnosis utama dan diagnosis sekunder
- Studi kasus dan simulasi koding INA-DRG
- Potensi fraud terkait koding
- Strategi pencegahan dispute klaim
- Audit koding
Sasaran Peserta
- Petugas koder
- Perekam medis
- Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP)
- Tim casemix/ klaim rumah sakit
- Tenaga kesehatan terkait lainnya
Fasilitator
Fasilitator berasal dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
dr. Endang Suparniati, M.Kes
- Konsultan PKMK FK-KMK UGM
- Kepala Instalasi Penjaminan RSUP Dr. Sardjito
- Tim anti fraud DIY

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH
- Peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajamen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM
- Konsultan Manajemen Kesehatan di IKKESINDO
- Founder Community of Practice (CoP) Manajemen Mutu Keperawatan
Biaya dan Fasilitas
Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 400.000,00
Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 09, contoh Rp. 400.009. No. Rekening sebagai berikut:
No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281
Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-
Fasilitas yang akan didapatkan peserta:
- Sertifikat
- Materi dalam bentuk .pdf
- Rekaman
Tempat dan Waktu
Hari, tanggal : Selasa, 3 Maret 2026
Pukul : 09.00 – 13.00 WIB
tempat : Online melalui zoom meeting
Agenda
| Waktu | Kegiatan | Narasumber/Fasilitator |
| 09.00 – 09.15 |
Pembukaan: |
Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
| 09.15 – 10.00 | Materi Sesi 1:
|
|
| 10.00 – 11.00 | Materi Sesi 2:
|
|
| 11.00 – 12.00 | Materi Sesi 3:
|
|
| 12.00 – 12.45 | Sesi Diskusi Tanya Jawab | Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
| 12.45 – 13.00 | Penutupan | Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
Narahubung
Eva Tirtabayu Hasri / 0823-2433-2525
Pelatihan Manajemen Mutu Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi Clinical Pathways (CP)
Berbagai hambatan masih ditemukan dalam penyusunan, implementasi, dan evaluasi Clinical Pathways, seperti keterbatasan pemahaman konsep CP, kurangnya keterlibatan tim multidisiplin, serta lemahnya mekanisme pemantauan dan evaluasi. Akibatnya, CP sering hanya berfungsi sebagai dokumen administratif dan belum berperan efektif dalam pengendalian mutu dan biaya pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas dan sistem agar Clinical Pathways dapat diterapkan secara optimal.
Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan serta pengelola mutu dalam penyusunan, implementasi, dan evaluasi Clinical Pathways (CP) sebagai instrumen manajemen mutu yang efektif untuk mendukung peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan.
Materi
- Konsep Clinical Pathways
- Cara menyusun Clinical Pathways
- Strategi implementasi Clinical Pathways
- Cara evaluasi Clinical Pathways
- Praktek menyusun Clinical Pathways
Sasaran Peserta
- Manajerial di Rumah Sakit,
- Tim casemix,
- Profesional Pemberi Asuhan,
- Tim Kendali Mutu Kendali Biaya,
- Komite medis, Komite mutu, Komite Keperawatan, Komite Nakes lainnya,
- Peneliti, Dosen, Mahasiswa, dan pihak yang tertarik.
Narasumber
- Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua (Narasumber)
- Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS (Fasilitator)
Biaya dan Fasilitas
Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 400.000,00
Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 09, contoh Rp. 400.009. No. Rekening sebagai berikut:
No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281
Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-
Fasilitas yang akan didapatkan peserta:
- Sertifikat
- Materi dalam bentuk .pdf
- Rekaman
Tempat dan Waktu
Hari, tanggal : Kamis, 5 Maret 2026
Pukul : 09.00 – 13.00 WIB
tempat : Online melalui zoom meeting
Agenda
| Waktu | Kegiatan | Narasumber/Fasilitator |
| 09.00 – 09.15 |
Pembukaan: |
Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
| 09.15 – 10.00 |
Konsep Clinical Pathways |
Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua |
| 10.00 – 11.00 |
|
Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua |
| 11.00 – 12.00 | Praktek menyusun Clinical Pathways |
Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua |
| 12.00 – 12.45 | Sesi Diskusi Tanya Jawab | Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
| 12.45 – 13.00 | Penutupan | Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS |
Narahubung
Eva Tirtabayu Hasri / 0823-2433-2525
Optimalisasi Pendekatan “Project Management” sebagai Kunci Ketangguhan Sistem Respon Darurat Kesehatan
Kasus krisis kesehatan dalam kondisi darurat seperti wabah penyakit menular hingga bencana alam menghadirkan tantangan yang kompleks khususnya di wilayah perkotaan. Kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, ketimpangan sosial, serta keterbatasan ruang dan sumber daya membuat respon darurat harus berjalan cepat, terkoordinasi, dan adaptif. Penelitian Ongesa, et al. (2024) menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan respons kesehatan masyarakat di kota tidak cukup hanya mengandalkan protokol kesehatan konvensional tetapi juga memerlukan integrasi pendekatan manajemen proyek yang sistematis dan terstruktur.
Melalui telaah naratif dalam berbagai pengalaman global, kerangka kerja manajemen proyek seperti Project Management Body of Knowledge (PMBOK) terbukti dapat meningkatkan efektivitas respons darurat kesehatan. Pendekatan ini membantu otoritas kesehatan dalam merencanakan, mengoordinasikan, dan mengevaluasi respons secara lebih jelas mulai dari pelaporan penyakit, distribusi sumber daya, manajemen risiko, hingga komunikasi krisis. Penggunaan kerangka PMBOK telah diimplementasikan oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman bioterorisme, Jepang saat gempa besar 2011, dan respons Singapura terhadap COVID-19. Hasilnya menunjukkan bahwa perencanaan yang matang dan koordinasi lintas sektor menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan krisis.
Ongesa, et al. (2024) juga menyoroti peran penting teknologi modern dalam mengoptimalkan sistem respons darurat di perkotaan. Pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, Internet of Things (IoT), serta sistem informasi geografis memungkinkan pemantauan kondisi kesehatan secara real-time, prediksi lonjakan kasus, dan alokasi sumber daya yang lebih tepat sasaran. Contohnya terdapat dalam penggunaan aplikasi pelacakan kontak dan dashboard data selama pandemi COVID-19. Penggunaan ini terbukti membantu pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis bukti sekaligus juga meningkatkan transparansi kepada publik.
Aspek lain yang ditekankan adalah keterlibatan pemangku kepentingan dan masyarakat. Respons krisis yang efektif membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum. Komunikasi yang jelas, konsisten, dan dapat dipercaya terbukti meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan kesehatan. Selain itu, keterlibatan tokoh masyarakat dan organisasi lokal berperan penting dalam menjangkau kelompok rentan yang sering kali terlewatkan oleh sistem formal.
Terkait isu etika dalam respons krisis, Ongesa, et al. (2024) menemukan banyak keterkaitan dengan alokasi sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, keputusan mengenai prioritas vaksin, alat kesehatan, atau tenaga medis harus mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi dan keadilan. Pendekatan manajemen proyek tentunya membantu proses tersebut dengan menyediakan mekanisme pengambilan keputusan yang transparan, berbasis data, dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan.
Bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit, temuan ini memiliki implikasi yang sangat relevan. Rumah sakit tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan klinis tetapi juga sebagai bagian dari sistem respons terintegrasi. Penerapan prinsip manajemen proyek dapat membantu rumah sakit dalam mengelola lonjakan pasien, memastikan distribusi sumber daya yang adil, menjaga mutu layanan, serta meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan dan simulasi krisis. Dalam tingkat manajemen, pendekatan PMBOK mendorong evaluasi rutin dari krisis sebelumnya untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan di masa depan.
Secara keseluruhan, penelitian Ongesa, et al. (2024) menegaskan bahwa integrasi manajemen proyek ke dalam kebijakan dan praktik kesehatan masyarakat bukan hanya sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak bagi kota-kota yang semakin rentan terhadap krisis kesehatan. Melalui perencanaan yang adaptif, pemanfaatan teknologi, keterlibatan komunitas, dan perhatian pada aspek etika, sistem respons darurat dapat menjadi lebih efektif, adil, dan berkelanjutan dalam melindungi kesehatan masyarakat perkotaan.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya:
https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2025/01170/optimizing_emergency_response_systems_in_urban.17.aspx
WHO launches 2026 appeal to help millions of people in health emergencies and crisis settings
The World Health Organization (WHO) today launched its 2026 global appeal to ensure that millions of people living in humanitarian crises and conflicts can access health care. In 2025, WHO and partners supported 30 million people funded through its annual emergency appeal. These resources helped deliver life-saving vaccination to 5.3 million children, enabled 53 million health consultations, supported more than 8000 health facilities, and facilitated the deployment of 1370 mobile clinics.
Hari Kanker Sedunia 2026: Membuka Era Baru Deteksi Dini Penyakit Kanker
Setiap 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara global terhadap isu dan tren penyakit kanker. Peringatan ini dipelopori oleh Union for International Cancer Control (UICC) dan telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2000. Pada periode 2025–2027, tema peringatan yang diangkat adalah “United by Unique” (Bersatu dalam Keunikan). Tema tersebut memiliki arti bahwa setiap masyarakat dapat menjadi pelopor dari setiap langkah perawatan penyakit kanker, salah satunya melalui upaya deteksi dini berbasis penelitian.
Sejalan dengan semangat perayaan Hari Kanker Sedunia, review artikel oleh Passaro, et al. (2024) membahas langkah deteksi dini penyakit kanker melalui pemanfaatan biomarker. Kini, kondisi pasien dapat dipetakan secara biologis dengan tanda molekuler. Tanda molekuler ini memungkinkan dokter memahami profil spesifik tumor. Integrasi biomarker dalam praktik klinis menandai pergeseran besar menuju pengobatan yang dipersonalisasi (personalized treatment). Intervensi medis tidak lagi bersifat seragam tetapi disesuaikan dengan karakteristik unik dari biologis masing-masing individu. Hal ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan karakteristik tubuh. Implementasi tren biomarker memiliki implikasi klinis yang sangat luas, mulai dari diagnosis dini yang lebih akurat hingga pemilihan terapi target yang lebih efektif.
Selain pemanfaatan biomarker berbasis jaringan tumor, Passaro et al. (2024) juga menyoroti perkembangan pesat liquid biopsy sebagai terobosan penting dalam deteksi dini kanker. Melalui analisis DNA tumor sirkulasi (circulating tumor DNA/ctDNA) yang diperoleh dari sampel darah, dokter kini dapat mendeteksi perubahan molekuler kanker secara non-invasif bahkan pada stadium sangat awal ketika gejala klinis belum muncul. Pendekatan ini membuka peluang besar skrining kanker yang lebih aman, nyaman, dan berulang sekaligus memungkinkan pemantauan respons terapi serta deteksi kekambuhan secara lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Artikel tersebut juga menegaskan bahwa masa depan deteksi dini kanker tidak lagi bergantung pada satu biomarker tunggal tetapi pada pendekatan multi parameter yang mengkombinasikan biomarker genetik, imunologis, dan karakteristik mikro-lingkungan tumor. Integrasi data genomik, profil respons imun, dan dinamika perubahan biomarker dari waktu ke waktu memungkinkan tenaga medis memahami heterogenitas kanker secara lebih komprehensif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi diagnosis tetapi juga membantu menghindari overdiagnosis dan terapi yang tidak perlu sehingga lebih efisien bagi sistem pelayanan kesehatan.
Peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 pada intinya menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perkembangan deteksi dini harus diiringi dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Melalui dukungan riset ilmiah, kebijakan kesehatan yang inklusif, dan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, era baru pengendalian kanker bukan lagi sekadar harapan melainkan sebuah langkah nyata menuju masa depan kesehatan yang lebih baik.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Sumber:
https://www.worldcancerday.org/about
https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(24)00244-7?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS0092867424002447%3Fshowall%3Dtrue

