Alvin Toffler pada tahun 80an terkenal dengan bukunya “The Third Wave” yang mengatakan bahwa kita saat ini (tahun 1970-2000) berada dalam gelombang per-adab-an gelombang ketiga, yaitu peradaban yang lebih bermutu, lebih dalam, luas, dan lebih menyeluruh dari kedua peradaban sebelumnya. Pembaruan ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informasi yang memungkinkan jauh lebih banyak manusia mampu melihat semua fenomena yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi, dalam cakupan yang lebih dalam dan lebih luas.
Terlepas dari pendapat Toffler apakah setelah tahun 2000 apakah kita masih dalam Gelombang Informasi atau tidak, namun informasi masih merupakan suatu hal penting atau bahkan terpenting dalam menyusun upaya memecahkan masalah dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Mengambil keputusan dan memecahkan masalah adalah dua kegiatan yang paling penting dalam organisasi, termasuk dalam bidang pelayanan kesehatan. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses yang melalui serangkaian tahapan aktifitas yang menghasilkan keputusan untuk pemecahan sebuah masalah, dimana dalam prosesnya perlu difasilitasi oleh informasi. Berbagai penelitian telah menunjukan ada pengaruh kuat antara pembuatan keputusan dengan informasi yang dimiliki oleh setiap pembuat keputusan, bahkan juga menegaskan sistem informasi adalah senjata kunci dari persaingan bisnis.
Sarana pelayanan kesehatan merupakan tempat yang kaya akan informasi, ada informasi mengenai pasien dan pelayanan, informasi mengenai keuangan, informasi sumber daya manusia, dan masih banyak lagi. Teknologi informasi juga berkembang pesat, sehingga kecenderungannya kini semakin mudah mengakses berbagai informasi. Sekarang ini sumber informasi yang dapat dipilih para pengelola sarana pelayanan kesehatan menjadi sangat beragam baik dari dalam maupun luar negeri.
Berbagai informasi dapat diperoleh dari jurnal, koran, majalah, seminar-seminar perumahsakitan, dan internet yang sudah mulai diminati sebagian orang karena informasinya yang selalu baru dan dirasa canggih. Meski demikian pada kenyataannya tidak semua informasi tersebut relevan dengan kebutuhan. Untuk itulah seorang pengelola mutu pelayanan kesehatan perlu memilih informasi yang tepat untuk pengambilan keputusan yang sesuai bagi rumah sakitnya.
{module [152]}
(merdeka.com) – Ujian kompetensi menjadi polemik bagi para dokter muda. Di satu sisi mereka ingin segera mengabdi kepada negara. Tapi di sisi lain mereka diharuskan untuk ikut ujian-ujian kompetensi dulu sebelum menerapkan ilmunya.
Lensaindonesia.com – Rencana pemangkasan anggaran untuk RSUD Moh. Anwar Sumenep, Madura, yang akan dilakukan oleh DPRD setempat, diyakini akan mempengaruhi pelayanan kepada pasien.
Jakarta (Republika.co.id) — Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan umumkan Formularium Nasional (Fornas) dalam rangka menuju Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2014, Senin (17/6). Fornas merupakan daftar obat dan harga yang disusun oleh Komite Nasional Penyusunan Formularium.
Boyolali (solopos.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali menggenjot upaya menekan angka kematian ibu saat melahirkan di wilayah tersebut. Pada Januari hingga awal Juni 2013, Dinkes Boyolali mencatat ada lima kasus kematian ibu melahirkan.
(Okezone.com) – Polemik Kartu Jakarta Sehat (KJS) masih menuai kritik. Hal ini merupakan imbas dari rumah sakit yang mengutarakan bahwa klaim asuransi tak sebanding dengan biaya pengeluaran rumah sakit.
Program Kartu Jakarta Sehat yang digagas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tetap bisa memberikan keuntungan bagi rumah sakit yang melayani pasien KJS. Syaratnya, rumah sakit melakukan efisiensi dalam merawat pasien KJS. “Rumah sakit jangan boros dan jor-joran,” kata Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dokter Hasbullah Thabrany, Senin, 10 Juni 2013.