INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response In Indonesia)

Kegiatan INSPIRASI singkatan Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance & Response In Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kualitas surveilans dan respon terhadap penyakit dengan potensi KLB. Kegiatan INSPIRASI berfokus pada solusi untuk mengatasi kendala dalam sistem surveilans di Indonesia. Tantangan besar dalam surveilans saat ini adalah ancaman terhadap new emerging disease seperti Monkey Pox dan berbagai penyakit yang telah ada sebelumnya.

Sistem surveilans harus mampu untuk mendeteksi potensi ancaman berbagai penyakit, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat secara cepat melalui sistem surveilans real-time dengan pelaporan elektronik yang terintegrasi serta mudah untuk dioperasionalkan oleh tim di lapangan. Pengembangan interkoneksi sistem surveilans di Kementerian Kesehatan, akan mampu merespons ancaman kesehatan masyarakat secara cepat dan efektif.

 

  Berita Terbaru

Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Klaster Kesehatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan United Stated Center for Disease Control and Prevention (US CDC) telah menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Kluster Kesehatan pada 28 – 31 Juli 2025.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkuat penyusunan rancangan simulasi kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi krisis kesehatan akibat kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Selain bekerja sama dengan US CDC, kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Readmore


Finalisasi Kurikulum dan Bahan Ajar MOOC SKDR

Tanggal 28-29 Mei 2024, PKMK UGM telah sukses menyelenggarakan pertemuan Finalisasi Massive Open Online Course (MOOC) Pelatihan Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular Potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) di Unit Pelapor. Kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam memastikan kualitas dan kesesuaian kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan ini merupakan Kerjasama antara PKMK dengan kementrian kesehatan, WHO (World Health Organization), JICA (Japan International Cooperation Agency), Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto dan didukung oleh CDC (Centers for Disease Prevention and Control) dan safetynet.

Readmore


Reportase Workshop Pertemuan Penyusunan Kerangka Strategis Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan

 

Kegiatan penyusunan kerangka strategis ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, terutama dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah penyakit dengan cepat dan tepat.

Kita ketahui bahwa Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan responsivitas sistem kesehatan terhadap ancaman pandemi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 lalu bukanlah yang terakhir, mengingat tingginya mobilitas penduduk dan peningkatan dinamika interaksi manusia dengan lingkungan dan hewan yang terus berubah. Perlu adanya pendekatan program yang mampu menyasar aspek strategis dalam mendukung kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman kesehatan masyarakat.

Readmore


Diseminasi Riset Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

Pandemi menunjukkan bahwa kerja sama antar lembaga sangat penting dalam mengelola bencana kesehatan masyarakat. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tapi juga Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu berkolaborasi dengan pendekatan One Health untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis. Kolaborasi ini penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Penelitian dalam kerangka “Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi” memberikan informasi dan wawasan untuk mengatasi dampak kesehatan masyarakat setelah pandemi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan hasil penelitian ini dan membahas masalah kesehatan yang akan muncul di masa depan.

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan CDC US menggelar Diseminasi Lima Studi Kolaborasi Dampak Jangka Panjang COVID-19 di Indonesia pada 28 Februari 2024 di Jakarta, informasi selengkapnya dapat diakses pada link berikut

Readmore


Pertemuan Sosialisasi dan Pelatihan Enumerator Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular dengan Potensi Wabah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

25jan23

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia pada bulan September 2022 – Desember 2022 telah melakukan uji validasi kode ICD-10 dengan melibatkan dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Untuk meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR, maka diperlukan sosialisasi kepada dokter klinisi dan petugas surveilans di puskesmas sebagai unit pelapor.

Penggunaan kode ICD-10 untuk SKDR telah diimplementasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sejak April 2023. Sosialisasi bagi dokter umum dan petugas surveilans di puskesmas-puskesmas di wilayah DIY telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juli tahun 2023. Evaluasi penggunaan kode ICD-10 dalam algoritma sistem kewaspadaan dini dan respon di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan kualitas data laporan SKDR sebagai acuan dan bahan pertimbangan bagi provinsi lain.

Readmore


Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

Pandemi COVID-19 di Indonesia juga menunjukkan bahwa tidak mungkin satu lembaga bekerja sendiri untuk mengelola bencana kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan, selaku pimpinan di sektor kesehatan, tidak mungkin mampu untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis seorang diri, karena penanganannya membutuhkan peran dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui pendekatan One Health. Maka dari itu salah satu aspek yang menjadi tujuan besar dari kegiatan ini adalah untuk mampu meningkatkan kolaborasi lintas sektor, lintas lembaga dalam menghadapi tantangan permasalahan kesehatan di masa depan. 

Kegiatan penelitian dalam rangka “Request for Proposal: Collaboration and Partnership in Addressing Public Health Challenges After the Pandemic” telah mulai dilaksanakan. Supervisi pelaksanaannya perlu dilakukan untuk memastikan pelaksanaannya sesuai dengan protokol.

selengkapnya


Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Center for Disease Control (CDC) di bawah program INSPIRASI mengadakan “Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE) di Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros” bertempat di Four Points Hotel, Makassar selama 4 hari sejak 22 – 25 Agustus 2023. Kegiatan ini dibagi dalam 4 hari, dimulai dari hari pertama merupakan persiapan Functional Exercise, hari kedua academic session dan briefing, hari ketiga pelaksanaan functional exercise, dan hari keempat merupakan kegiatan evaluasi dan revisi dokumen perencanaan sesuai dengan hasil temuan functional exercise hari ketiga.

TOR   reportase


 

 

 

Pentingnya Vaksinasi Covid-19 bagi Tenaga Kesehatan

Diperbarui oleh CDC pada 28 Desember 2020

Berdasarkan rekomendasi dari Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) , sebuah panel ahli medis dan kesehatan masyarakat yang independen, CDC merekomendasikan petugas kesehatan untuk menjadi salah satu yang ditawarkan dosis pertama vaksin COVID-19 . Personel pelayanan kesehatan mencakup semua orang yang dibayar maupun tidak dibayar yang bertugas di pengaturan pelayanan kesehatan yang memiliki potensi untuk terpapar langsung atau tidak langsung ke pasien atau bahan yang dapat menular.

Rekomendasi ini berkaitan dengan personel pelayanan kesehatan berbayar dan tidak berbayar yang bekerja di berbagai pengaturan pelayanan kesehatan — misalnya, fasilitas pelayanan akut, fasilitas pelayanan akut jangka panjang, fasilitas rehabilitasi rawat inap, panti jompo dan fasilitas hidup berbantuan, pelayanan kesehatan di rumah, klinik keliling, dan fasilitas rawat jalan, seperti pusat dialisis dan kantor layanan kesehatan.

Contoh tenaga kesehatan meliputi:

  • Personel layanan medis darurat
  • Perawat dan asisten perawat
  • Dokter
  • Teknisi
  • Terapis
  • Dokter gigi
  • Ahli kebersihan gigi dan asistennya
  • Phlebotomists
  • Apoteker
  • Siswa dan peserta pelatihan
  • Staf kontrak
  • Staf layanan makanan dan makanan
  • Staf layanan lingkungan
  • Staf administrasi

Petugas kesehatan berisiko terpapar

Tenaga kesehatan terus berada di garis depan dalam perjuangan bangsa melawan pandemi mematikan ini. Ras dan etnis petugas kesehatan, kondisi kesehatan yang mendasarinya, jenis pekerjaan, dan pengaturan pekerjaan dapat berkontribusi pada risiko tertular COVID-19 dan mengalami kondisi yang parah, termasuk kematian. Dengan memberikan pelayanan kritis kepada mereka yang sedang atau mungkin terinfeksi virus penyebab COVID-19, tenaga kesehatan memiliki risiko tinggi terpapar dan jatuh sakit karena COVID-19. Pada 3 Desember CDC menerbitkan rekomendasi ini, ada lebih dari 249.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan 866 kematian di antara petugas kesehatan.

Petugas pelayanan kesehatan yang memvaksinasi melindungi kapasitas pelayanan kesehatan

Ketika petugas kesehatan sakit karena COVID-19, mereka tidak dapat bekerja dan memberikan layanan utama untuk pasien atau klien. Mengingat bukti infeksi COVID-19 yang sedang berlangsung di antara petugas kesehatan dan peran penting yang mereka mainkan dalam merawat orang lain, perlindungan berkelanjutan terhadap mereka di tempat kerja, di rumah, dan di komunitas tetap menjadi prioritas nasional. Akses vaksin dini sangat penting untuk memastikan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja penting bagi sekitar 21 juta orang ini, tidak hanya melindungi mereka tetapi juga pasien, keluarga, komunitas, dan kesehatan yang lebih luas di negara kita.

Petugas kesehatan yang memvaksinasi membantu mencegah pasien tertular COVID-19

Petugas kesehatan yang tertular COVID-19 juga dapat menularkan virus kepada orang yang mereka rawat — termasuk pasien yang dirawat di rumah sakit dan penghuni fasilitas pelayanan jangka panjang. Banyak dari orang-orang ini mungkin memiliki kondisi kesehatan mendasar yang membuat mereka berisiko terkena penyakit COVID-19 yang parah. Petugas kesehatan juga dapat menyebarkan virus ke petugas kesehatan lainnya.

Manfaat vaksinasi harus lebih besar daripada kemungkinan risikonya

Penting untuk membantu membuat produk medis, termasuk vaksin, tersedia dengan cepat selama pandemi COVID-19 , Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dapat menggunakan apa yang dikenal sebagai Otorisasi Penggunaan Darurat (EUA) . Sebelum vaksin apa pun dapat diizinkan untuk digunakan di bawah EUA, FDA harus menentukan bahwa manfaat vaksin yang diketahui atau potensialnya lebih besar daripada risiko yang diketahui atau potensialnya. Ini berlaku untuk semua vaksin, termasuk vaksin COVID-19.

Setelah vaksin diotorisasi untuk digunakan di bawah EUA, ACIP akan meninjau data yang tersedia pada vaksin tersebut sebelum memberi tahu CDC apakah akan merekomendasikan vaksin tersebut.

Keamanan vaksin COVID-19 dan tenaga kesehatan yang menerima vaksin menjadi prioritas utama
Keamanan semua vaksin dipelajari secara menyeluruh dalam uji klinis. Setelah petugas kesehatan dan anggota masyarakat lainnya mulai menerima vaksinasi COVID-19, CDC dan FDA akan terus memantau keamanan vaksin dengan cermat. Pelajari lebih lanjut tentang pemantauan keamanan vaksin COVID-19.

Risiko dan manfaat akan dijelaskan kepada setiap orang yang ditawari vaksinasi COVID-19

Sebelum siapa pun dapat menerima vaksin COVID-19, mereka harus diberikan lembar fakta EUA dengan informasi terperinci tentang vaksin COVID-19 yang akan mereka terima.

Sumber: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/recommendations/hcp.html

 

Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)

Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan nomer 84 Tahun 2020 tentang pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) untuk mengurangi transmisi/penularan COVID-19, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19, mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd imunity); serta melindungi masyarakat dari COVID-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

Peraturan tersebut memuat tahapan pelaksanaan vaksinasi mulai dari tahap perencanaan meliputi pemetaan sasaran, ketersediaan tenaga pelaksana, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, jadwal pelaksanaan, jumlah, jenis Vaksin COVID-19, dan logistik lainnya. Kemudian pada tahap pelaksanaan dilakukan dengan memastikan ketersedian tenaga pelaksana, tempat, Vaksin COVID-19, standar operasional prosedur, sarana rantai dingin, manajemen logistik, alat pelindung diri, manajemen limbah, dan pencatatan dan pelaporan. Serta melakukan pemantauan dan evaluasi mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan melalui pemanfaatan Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi COVID-19, termasuk surveilans Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi COVID-19.

selengkapnya