Kualitas Hidup Pasien Demensia Alzheimer di Era Pandemi Covid 19

(Catatan kecil: refleksi tentang kualitas hidup pasien demensia di tengah pandemi)

Penulis:
Sabar P Siregar (Psikiater Dokdiknis (NIDK)
RSJ Prof dr Soeroyo, Magelang)

Seorang wanita 60 tahun dibawa oleh keluarganya ke poliklinik psikiatri. Dari informasi yang disampaikan bahwa belakangan menunjukkan perubahan perilaku. Awalnya tampak jadi pendiam dibanding biasanya, jarang senyum, jarang mengungkapkan apa yang dirasakan dan jarang memberi respon terhadap ungkapan perasaan orang lain terhadap dirinya. Masih dapat beraktivitas sehari-hari tetapi beberapa hal kegiatan harus diingatkan. Puncak perubahan perilaku itu terjadi saat klien suatu waktu mau memasak nasi.

Kegiatan ini sudah dilakukan bertahun-tahun. Seperti biasa sebelum memasak nasi, beras dicuci dulu dengan wadah berbahan plastik. Setelah itu baru ditempatkan ke tempat memasak nasi lalu ditaruh diatas kompor dan kompor dinyalakan. Tapi yang terjadi adalah wadah pencuci beras berbahan plastik yang biasa digunakan untuk mencuci beras, langsung ditaruh diatas kompor dan kompornya dinyalakan. Gejala lain yang bertambah berat adalah semakin lama penderita semakin pelupa terhadap banyak hal dan tambah banyak diam. Rawat diri, misal: makan dan mandi, harus dibantu.

***

Belakangan ini banyak aspek kehidupan di hubungkan dengan situasi pandemi yang sedang terjadi hampir di seluruh dunia. Tulisan ini mencoba membuat sedikit catatan untuk refleksi dampak pandemi terhadap klien demensia.

Literatur tentang demensia dapat banyak ditemukan dari berbagai sumber. Masih banyak hal yang belum diketahui tentang demensia. Walaupun demikian, sudah ada beberapa pemahaman yang telah diterima secara luas. Dari beberapa literatur disampaikan bahwa demensia adalah suatu terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan adanya berbagai gangguan kognitif (sindrom), terutama gangguan memori, yang disebabkan karena “sakit” otak.

Jadi demensia bukanlah suatu penyakit. Akan tetapi terjadinya demensia disebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit Alzheimer, yang bulan ini diperingati. Demensia Alzheimer adalah demensia yang disebabkan penyakit Alzheimer. Jenis demensia ini yang paling banyak terjadi dibandingkan jenis demensia lainnya. Selanjutnya pada tulisan ini, demensia yang dimaksud adalah demensia Alzheimer.

Dampak dari demensia sangat luas. Dapat berdampak langsung kepada klien demensianya sendiri maupun kepada sekitarnya, terutama bagi keluarganya. Dampak yang luas ini dilandasi seberapa luas jaringan otak yang “sakit” dimana hal ini akan menentukan tingkat gangguan kognitifnya. Definisi tentang kognitif yang dikemukakan dari berbagai literatur juga beragam. Pada tulisan ini yang dimaksud kognitif adalah kemampuan untuk berpikir dan mengetahui, menggunakan intelektual, logika, pertimbangan, memori dan semua fungsi tertinggi dari kortikal.

Kognitif yang utuh memungkinkan seseorang mampu menghargai dunia luar maupun dunia di dalam dirinya sendiri, juga memampukan seseorang berinteraksi dengan orang lain dan bernegosiasi dalam kehidupannya sehari-hari. Selanjutnya, komunikasi dan pemahaman yang tepat dari seseorang, tidak hanya tergantung pada kemampuan bahasa dan berbicara serta tidak adanya gangguan pada pikiran tetapi tergantung juga pada keadaan fungsi otak lainnya yaitu kognitif dan intelektual yang dimiliki. Fungsi kognitif adalah satu hal penting dalam kehidupan setiap orang.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa pada demensia ditemukan beberapa gangguan kognitif. Dengan pemahaman fungsi kognitif seperti di atas dan pada klien demensia ditemukan beberapa gangguan kognitif maka dapat dipahami kenapa klien-klien demensia mengalami hambatan pada hampir setiap aspek kehidupan pribadinya. Aspek yang paling terdampak adalah menurunnya kemampuan untuk mandiri.

Kemampuan untuk hidup mandiri pada level demensia tertentu, sangat menurun. Tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri bahkan untuk kebutuhan hidup yang paling dasar. Sehingga klien demensia sangat tergatung pada lingkungannya. Penurunan kemandirian ini juga terkait dengan menurunnya kemampuan memilih apa yang tepat untuk dirinya sendiri, termasuk keputusan-keputusan moral, kehilangan kesempatan menikmati aktivitas sehari-hari yang sebelumnya menyenangkan bagi dirinya dan terganggunya hubungan pribadi.

Pada klien demensia juga dapat terjadi beberapa masalah gejala-gejala psikopatologi seperti apatis, agitasi, depresi dan psikosis. Adanya gejala-gejala psikiatri ini tentu akan membuat keadaan akan lebih rumit karena gejala-gejala itu dapat berupa bagian gejala dari demensianya sendiri, juga dapat berupa kondisi klinis yang berdiri sendiri atau gejala itu merupakan cara klien demensia mengekspresikan apa yang dirasakan di dalam dirinya atau cara respon klien terhadap lingkungannya.

Jadi ekspresi adanya gejala-gejala psikopatologi pada klien demensia tidak selalu menunjukkan adanya gangguan-gangguan psikiatri. Untuk itu sangat diperlukan evaluasi yang komprehensif dan cermat dalam menganalisa gejala-gejala psikopatologi pada klien demensia. Karena pastinya hal ini akan terkait dengan penanganan lebih lanjut.

Level terakhir demensia adalah level dimana fungsi kognitif sudah terganggu total. Kontrol motorik hilang. Kontrol motorik yang hilang ini semakin berat karena biasanya klien demensia sudah lanjut usia (lansia). Seorang lansia pada umumnya sudah mengalami penurunan kontrol motorik. Sehingga ketika digabungkan, keadaan demensia dan lanjutnya usia maka dapat diprediksi hilangnya kontrol motorik bertambah berat.

Hal lain yang paling bermakna pada demensia level akhir adalah gangguan komunikasi. Gangguan komunikasi yang berat akan membuat seorang klien demensia tidak mampu menyampaikan: apa yang mereka pikirkan, rasakan, termasuk apa yang mereka inginkan, maupun butuhkan dan menyampaikan gejala-gejala medis yang mereka alami. Walaupun belakangan alat-alat medis sudah semakin maju dan itu adalah hal yang harus disyukuri, akan tetapi komunikasi antara terapis dan klien pada pelayanan medis adalah hal prinsip yang tidak dapat diganti alat-alat modern.

Hambatan komunikasi tentu akan mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan yang sebagian besar membutuhkan komunikasi dua arah antara terapis dan klien. Jika ada bias dalam komunikasi antara terapis dan kliennya dapat mengakibatkan tidak akuratnya diagnosis yang tentunya diikuti kurang maksimalnya hasil terapi.

Di tengah pandemi covid-19 yang tidak ada seorangpun dapat memprediksi kapan berakhirnya, klien demensia adalah salah satu kelompok yang memiliki resiko ganda. Kenapa resiko ganda? Seperti disampaikan melalui media-media bahwa kelompok lansia adalah kelompok paling rentan terinfeksi covid-19. Dari sisi usia klien demensia rata-rata sudah lansia, dengan demikian secara alami sudah memilki satu faktor resiko. Faktor resiko lainnya adalah klien demensia sangat tergantung kepada orang lain. Kontak klien demensia dengan yang merawat mereka adalah salah satu jalur kemungkinan terinfeksinya klien demensia.

Jadi sudah ada dua faktor resiko yaitu usia dan ketergantungannya dirawat orang lain. Hal lain adalah jika klien demensia positip terinfeksi covid-19, tentu ada gangguan komunikasi, maka klien demensia tidak mampu menyampaikan apa yang mereka alami karena lupa. Untuk pemeriksaan dan terapi yang membutuhkan prosedur-prosedur tertentu untuk kepentingan perawatan medis, tentu juga sulit dilakukan. Hambatan disebabkan berkurangnya kemampuan untuk mengingat tahapan-tahapan prosedur yang diinstruksikan, padahal prosedur-prosedur sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil terbaik.

Evaluasi progres penanganan pasien juga membutuhkan komunikasi. Terutama jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan efek dari terapi. Sebagian efek terapi memang dapat diobservasi tetapi ada efek terapi yang hanya dapat dilaporkan klien. Pada klien demensia sering lupa instruksi-instruksi yang diberikan sehingga tidak dapat melaporkan apa efek obat yang dialami dan sangat mungkin muncul efek yang tidak diharapkan. Klien demensia juga dapat salah melaporkan efek obat yang dialami. Karena klien demensia sulit mengingat kejadian-kejadian baru yang dialami maka yang dilaporkan adalah pengalaman efek obat lain yang sebelumnya pernah dipakai.

Permasalahan gangguan kognitif pada demensia ini sering juga memunculkan masalah dalam keluarga atau dengan pihak yang merawatnya. Masalah sering dimulai dari keseharian klien demensia. Sering mengatakan belum diberi makan, padahal sudah. Hal sebaliknya dapat terjadi, menolak makan karena merasa sudah makan, padahal belum. Menolak minum obat karena merasa sudah minum obat atau sebaliknya.

Mandi berkali-kali karena lupa sudah mandi atau belum, tetapi dapat juga sebaliknya. Mengatakan ke orang-orang bahwa barang berharga miliknya hilang diambil orang, padahal karena lupa tempat menyimpannya. Pergi dari rumah dan lupa jalan pulang. Menetap disatu tempat di luar rumah dan ketika diajak pulang tidak mau, karena meyakini tempat itulah rumahnya. Kadang bangun malam lalu menghidupkan kompor untuk merebus air lalu pergi tidur lagi dan lupa sedang menghidupkan kompor merebus air. Merasa ketakutan karena meyakini ada orang lain di dalam rumah, padahal tidak ada.

Saat bicara, kadang-kadang tiba-tiba diam karena lupa mau menyampaikan apa. Menyampaikan bahwa dirinya bertemu dengan kerabat atau orang yang sudah lama meninggal dunia. Menggabungkan suatu peristiwa di masa lalu dengan situasi saat ini, padahal sesungguhnya hal itu adalah keadaan yang tidak ada hubungan sama sekali. Semakin parah ketika klien demensia lupa bagaimana seharusnya ke kamar kecil. Kejadian-kejadian tersebut, dan masih banyak kejadian lain, sering membuat ketegangan antara klien demensia dengan orang / anggota keluarga yang merawatnya.

Ketegangan semakin memuncak karena ketika kepada klien demensia disampaikan semua fakta-fakta tentang apa yang sudah dilakukan, klien demensia sering membantahnya bahkan sampai marah membantahnya. Karena bantahan dari klien, keluarga juga mungkin menjadi jengkel karena menganggap klien demensia melawan atau berbohong, padahal sesungguhnya klien demensia membantah karena mereka sendiri lupa apa yang sudah dilakukan. Karenanya klien demensia sangat berpotensi mengalami kecelakaan karena tidak memahami resiko dari apa yang dilakukannya.

Orang atau keluarga yang merawat klien demensia juga punya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi tapi di sisi lain harus merawat klien demensia yang sulit dipahami. Walaupun demikian, kebanyakan dari keluarga yang merawat tetap lebih mendahulukan terpenuhinya kebutuhan klien demensia karena mereka menyadari bahwa klien demensia lebih memerlukan bantuan dibandingkan dengan diri mereka sendiri yang masih mampu mengurus diri sendiri.

Sementara di sisi lain, klien demensia tidak mengerti seberapa besarnya pengorbanan pihak yang merawatnya. Hal ini tentu dapat menimbulkan rasa lelah yang berat bagi yang merawat klien demensia. Sangat perlu dukungan bagi siapapun yang merawat klien demensia karena selain menghadapi gangguan kognitif yang sulit dipahami, perawatan demensia juga sering berlangsung lama dan harapan pulih sangat kecil. Keadaan ini sangat menguras energi psikis dan fisik.

Pada masa pandemi ini terjadi distraksi perekonomian, maka sangat mungkin pencari nafkah utama dalam keluarga yang salah satu anggota keluarganya adalah klien demensia, kehilangan pekerjaannya atau pendapatan usaha sangat menurun maka keadaan ini akan berdampak terhadap perawatan klien demensia selanjutnya baik secara psikis dan fisik.

Penulis pernah mendapatkan informasi seorang ibu yang memiliki beberapa anak dan anak-anaknya sudah pada menikah. Ibu ini tinggal dirumahnya sendiri ditemani anak perempuannya yang bungsu dan sudah menikah. Di saat usia bertambah lanjut ibu ini mengalami demensia. Lama kelamaan anak perempuan yang tinggal bersama ibu ini menyampaikan ke saudara-saudaranya yang lain sudah tidak kuat merawat ibu mereka dengan berbagai alasan dan salah satu alasannya karena memiliki anak-anak yang masih kecil. Anak-anak ibu ini, yang dilahirkan dari rahimnya, yang dirawat mulai janin sampai dewasa, saling melempar tanggung jawab.

Tetapi keputusan harus dibuat dan diputuskan anak pertama laki-laki dalam keluarga yang harus merawat. Keputusan tersebut diambil karena anak laki-laki tersebut secara ekonomi paling mapan dibanding saudara-saudara lainnya, rumahnya cukup besar dan juga tanggung jawab sebagai anak pertama. Seiring berjalannya waktu kondisi ibu ini bertambah sulit. Buang hajat sembarangan dan selalu mondar mandir. Tidak dapat dikendalikan. Sudah mendatangkan pengasuh lansia tapi semuanya minta berhenti karena tidak kuat. Akhirnya istri anak pertama marah dan mengatakan: “Itu bukan ibu saya, kenapa harus saya yang mengurus?”. Puncaknya, istri anak pertama itu minta supaya ibu mertuanya itu diurus anak-anaknya yang perempuan, kalau tidak, sang istri mau pergi.

Sebagai catatan, sang menantu (istri anak pertama) tidak berkarir di luar rumah. Reaksi pembaca mesti beragam kalau membaca kisah ini. Ini hanya sebagian konflik kecil yang dapat menggambarkan betapa sulit dan kompleksnya dampak merawat klien dengan demensia dan semoga sang menantu serta anak-anak yang lain tidak menjadi demensia di kemudian hari.

Studi kasus diawal tulisan ini menunjukkan gejala klinis dengan gangguan kognitif yang berat. Pasien tidak dapat lagi mencapai tujuannya (memasak nasi) dengan cara yang semestinya, padahal selama ini kegiatan itu sudah berulang-ulang dilakukan. Gejala diawali dengan gejala-gejala apatis. Gangguan memori terjadi belakangan. Jadi pada kasus-kasus demensia kadang diawali dengan gejala-gejala afektif bukan gangguan memori. Keluarga sangat memperhatikan keadaan klien dan mengantarkannya kontrol teratur. Tempat tinggal klien dekat dengan tempat tinggal anggota keluarga yang lain sehingga anggota keluarga dapat bergantian merawat klien. Kebersamaan keluarga klien memperhatikan klien ini adalah nilai positip untuk terjaminnya keberlanjutan perawatannya.

Sebagai catatan, penulis pernah menemukan kasus lain, seorang wanita lansia dengan demensia, diantar suaminya yang juga sudah lansia datang ke poliklinik. Klien ini sudah pada level demensia akhir, jadi harus total care. Memiliki seorang anak perempuan yang sudah nikah, tinggal di luar negeri dan tidak pernah lagi pulang ke Indonesia bahkan komunikasipun sangat jarang. Keluarga lansia ini hanya tinggal berdua di rumah. Semua kegiatan di rumah, termasuk merawat klien demensia ini, dilakukan sendiri oleh sang suami. Kadang ada asisten rumah tangga datang membantu. Saudara-saudara tinggal jauh dan tentunya saudara-saudaranya juga punya kehidupan masing-masing yang harus diurus jadi tidak mungkin diharapkan membantu secara terus menerus. Setelah beberapa kali pertemuan di poliklinik, suami klien bertanya pada penulis: “dokter, kalau saya “duluan”, istri saya ini bagaimana ya dok?”.

Di Undang-undang sudah diatur bagaimana tanggung jawab negara terhadap warganya termasuk lansia dan juga berarti lansia dengan demensia. Negara bukanlah hanya pemerintah tapi semua elemen yang ada dalam suatu negara. Seharusnya jika melihat undang-undang yang ada, maka keresahan sang suami yang disampaikan ke dokter, tidak perlu terjadi. Namun kesulitan suatu kebijakan adalah justru pada tataran pelaksanaan. Beberapa literatur melaporkan bahwa perhatian negara, terutama negara-negara berkembang, sangat terbatas pada kelompok demensia. Karena bagi negara-negara berkembang masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak dan menyangkut kebutuhan khalayak lebih banyak.

Demensia memang dilematis. Bagaimanapun keberadaan seseorang, termasuk jika mengalami demensia, mereka tetap sebagai warga negara suatu negara. Negara harus merawatnya. Di sisi lain, seberapapun besar investasi yang diberikan untuk merawat dan penelitian untuk penanganan demensia, saat ini progresnya memang masih sangat terbatas. Sejarah mencatat beberapa pesohor dunia, dimasa tuanya mengalami demensia dan salah satunya adalah mantan presiden negara adidaya. Artinya siapapun dapat menjadi seseorang dengan demensia. Para pesohor dunia itu pun tidak mengerti sebelumnya bahwa mereka nantinya akan mengalami demensia. Seandainya mereka mengerti akan mengalami demensia, tentu para pesohor tersebut, saat lagi berkuasa, akan membuat kebijakan-kebijakan yang memprioritaskan penanganan demensia.

Alangkah indahnya jika para pesohor dunia dimanapun saat ini, selagi berkuasa, memberi perhatian yang berkualitas dan berkelanjutan terkait kebijakan bagi klien-klien demensia. Bukan tidak mungkin kebijakan yang dibuat saat ini, secara tidak sengaja dipersiapkan untuk para pembuat kebijakan itu sendiri, siapa tau dimasa mendatang akan mengalami demensia. Walaupun jika nantinya benar mengalami demensia, akan lupa bahwa dirinyalah dahulu yang mempersiapkan kebijakan-kebijakan terhadap klien-klien demensia.

Diakhir tulisan ini penulis mengajak semua pihak, sejenak merenung, tentang klien demensia dengan segala dinamikanya dan hidup sebatang kara, siapakah yang akan merawatnya? Marilah kita semua, mengingat sesama kita yang sudah tidak mampu mengingat kita.

Daftar Pustaka:

  • Edited by: Budson A E, Kowall N W. The handbook of alzheimer’s disease ant other dementias. Wiley-Blackwell. 2011.
  • Budson A E, Solomon P R. Memory Loss, alzheimer’s disease and dementia. 2nd edition. Elsevier. 2016.
  • Hay D P, Klein D T, Hay L K, Groosberg G T, Kennedy J S. Agitation in patient with dementia. American Psychiatric Publishing, Inc. 2003.
  • Weiner M F & Lipton A M. Textbook of alzheimer disease and other dementias. American Psychiatric Publishing, Inc. 2009.
  • Edited by: Weiner M F & Lipton A M. Clinical manual of alzheimer disease and other dementias. American Psychiatric Publishing, Inc. 2012.

 

Keselamatan Tenaga Kesehatan Keselamatan Kita Semua

Stevie A. Nappoe1 dan Hanevi Djasri2

1. MPH Graduate from University of Alabama at Birmingham, 2016 Fulbright Scholar

2. Anggota Komite Nasional Keselamatan Pasien, Peneliti dan Konsultan di PKMK FKKMK UGM

 

Pandemi COVID-19 memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada sistem kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Seluruh komponen sistem kesehatan merasakan dampaknya termasuk tenaga kesehatan yang merasa lelah, takut, cemas, dan harus bekerja cepat dibawah tekanan, sebagai akibat perubahan workflow dalam pandemi, kurangnya dukungan psikologi dan kekurangan supply alat kesehatan terutama personal protective equipment (PPE) ditengah krisis finansial yang dialami oleh rumah sakit (Dhingra, 2020). Situasi ini dapat berdampak negatif pada pengambilan keputusan, akurasi, kewaspadaan, dan pertukaran informasi yang berpotensi menghasilkan outcome negative bagi keselamatan pasien (Zipperer, 2020).

Informasi terkait dampak dari pandemi COVID 19 terhadap keselamatan pasien masih terbatas sampai dengan saat ini. Sebelum situasi pandemi COVID 19, fakta menunjukan bahwa 1 dari 10 pasien yang dirawat di rumah sakit menerima perawatan yang tidak memadai dan berpotensi menimbulkan adverse event. Di negara berpendapatan rendah dan negara berkembang (low- and middle-income countries), setiap tahunnya ada 134 juta kejadian adverse event yang diakibatkan oleh perawatan yang tidak aman. Angka ini berkontribusi pada lebih dari 2.6 juta kematian, dimana 80% dari kejadian adverse event tersebut dapat dicegah. Faktor yang berkontribusi pada kejadian-kejadian adverse event tersebut adalah penundaan diagnosis, kesalahan peresepan, dan kekeliruan dalam penggunaan obat-obatan (WHO, 2019). Namun justru laporan insiden keselamatan pasien menunjukan trend penurunan selama masa pandemi.

National Pharmacy Association (NPA) di Inggris melaporkan penurunan sebesar 14% insiden medication error pada kuarter pertama tahun 2020 dibandingkan dengan laporan insiden pada kuarter yang sama tahun sebelumnya. Penurunan angka insidensi ini bisa saja terjadi karena ketidakmampuan tenaga kesehatan dalam menyampaikan laporan karena surge capacity/overload, perubahan persepsi error karena situasi pandemi, atau jumlah insiden yang memang lebih sedikit karena perubahan workflow. Perlu diingat bahwa penurunan insidensi keselamatan pasien juga berarti kehilangan kesempatan untuk menghasilkan pembelajaran guna mengantisipasi kejadian serupa ditengah kondisi pandemi yang tidak menentu ini (Denning et al., 2020).

Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan menjadi kunci dalam melewati pandemi ini. Namun demikian, keberadaan mereka di garis terdepan juga meningkatkan resiko keselamatan mereka. Secara global, lebih dari 3.000 tenaga kesehatan harus kehilangan nyawa karena COVID 19. Lembaga kesehatan dunia, WHO, memperkirakan kasus COVID 19 pada tenaga kesehatan berkisar 10% dari total kasus secara global. Di Indonesia sendiri hingga awal Bulan September 2020, sudah ada lebih dari 115 dokter, 78 perawat, 18 bidan, dan 8 dokter gigi serta juga beberapa tenaga kesehatan lainnya yang gugur akibat terinfeksi COVID 19.

Sebagai pemberi layanan, faktor tenaga kesehatan sangat vital dalam keselamatan pasien. Ditengah situasi pandemi ini, semua tenaga kesehatan merasakan dampak yang sangat luar biasa baik secara fisik maupun psikologis. Tenaga kesehatan harus bekerja dengan protokol baru yang lebih ketat dengan segala peralatan pelindung diri yang wajib digunakan selama berinteraksi dengan pasien, belum lagi tekanan psikis termasuk kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, diskriminasi dan lain sebagainya.

Atas dasar itu maka pada perayaan Hari Keselamatan Pasien se-Dunia yang jatuh pada tanggal 17 September 2020 ini, WHO mengangkat tema “Keselamatan Tenaga Kesehatan sebagai Prioritas Utama untuk Keselamatan Pasien”. Tema ini dipilih untuk mengapresiasi kerja keras dari semua tenaga kesehatan diseluruh dunia ditengah pandemi COVID 19 ini. Di Indonesia sendiri Kementerian Kesehatan dan Komite Nasional Keselamatan Pasien mengadopsi tema tersebut menjadi “Keselamatan Tenaga Kesehatan Keselamatan Kita Semua”.

Melalui perayaan ini WHO ingin agar semua tenaga kesehatan di seluruh dunia memahami peran mereka dalam upaya menegakan keselamatan pasien, merangkul berbagai stakeholder dalam upaya meningkatkan keselamatan tenaga kesehatan dan pasien, mengimplementasikan rencana aksi untuk mendukung investasi pada keselamatan tenaga kesehatan dan memberikan apresiasi pada seluruh tenaga kesehatan untuk dedikasi dan kerja keras mereka selama pandemi COVID 19 ini.

WHO mewajibkan semua tenaga kesehatan untuk lebih memperhatikan kesehatan fisik dan psikologis mereka selama bekerja, memahami dan menerapkan dengan seksama protokol keselamatan agar terhindar dari infeksi, proaktif dalam melaporkan insiden keselamatan pasien yang terjadi, memahami hak dan kewajiban dalam melayani pasien, dan selalu mempromosikan budaya keselamatan dimanapun bekerja.

Kepada pengambil keputusan, pemangku kebijakan, dan stakeholder terkait, WHO mendorong terbentuknya kebijakan perlindungan kepada tenaga kesehatan termasuk perlindungan dari diskriminasi, kelengkapan APD yang memadai, pengaturan staffing dan workflow yang aman dan nyaman, serta meningkatkan kerjasama dengan provider dan asosiasi tenaga kesehatan dalam hal keselamatan. Untuk provider, WHO menekankan pentingnya lingkungan kerja yang suportif dan aman, perlindungan pada staff yang melaporkan insiden keselamatan pasien, peningkatan kapasitas dari staff terutama yang berkaitan dengan pencegahan infeksi, dan pemberian reward untuk memotivasi staff dalam upaya menegakan budaya keselamatan pasien (WHO, 2020).

Kementerian Kesehatan RI bersama Komite Nasional Keselamatan Pasien, berbagai organisasi profesi serta Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Daerah, dan didukung oleh PKMK FKKMK UGM saat ini juga sedang melakukan proses telaah kasus-kasus kematian tenaga kesehatan untuk dapat mengidentifikasi berbagai upaya perbaikan yang perlu dan dapat dilakukan dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan angka kematian tenaga kesehatan akibat Covid-19. Upaya tersebut dilakukan melalui sebuah program yang disebut sebagai Covid-19 Morbidity and Mortality Reduction Program atau C-19-MMRP (Djasri, 2020).

Situasi pendemi COVID 19 memang memberikan dampak yang besar pada sistem pelayanan kesehatan dan berpotensi untuk meningkatkan resiko terhadap keselamatan pasien. Namun demikian, situasi pandemi ini juga menjadi kesempatan yang berharga untuk meningkatkan kembali kewaspadaan semua tenaga kesehatan, pasien, pemangku kebijakan, provider, dan stakeholder lain yang terlibat didalamnya untuk menjadikan keselamatan pasien sebagai sebuah budaya yang melekat erat di sistem pelayanan kesehatan ke depannya.

Selamat merayakan hari keselamatan pasien se-dunia, tetap jaga kesehatan, selalu pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Bersama kita bisa melewati situasi pendemi ini!

Sumber bacaan:

Denning, M., Goh, E. T., Clarke, J., Almonte, M., Chidambaram, S., Przybylowicz, J., . . . Yalamanchili, S. (2020). What has been the impact of Covid-19 on Safety Culture? medRxiv.

Dhingra, N. (2020). Patient Safety Implications during The COVID-19 Pandemic. In. Geneva: WHO.

Djasri, H. (2020). Covid-19 Morbidity and Mortality Reduction Program (C19-MMRP): Sebuah Usulan Kebijakan untuk Mencegah kematian Nakes akibat Covid-19. Retrieved from https://mutupelayanankesehatan.net/3501-covid-19-morbidity-and-mortality-reduction-program-c19-mmrp

WHO. (2019). Patient Safety Fact File. In. Geneva: WHO.

WHO. (2020). World Patient Safety Day 2020 Campaign Essential. Retrieved from https://www.who.int/campaigns/world-patient-safety-day/2020/campaign-essentials

Zipperer, L. (2020). COVID-19: Team and Human Factors to Improve Safety. Retrieved from https://psnet.ahrq.gov/primer/covid-19-team-and-human-factors-improve-safety

 

 

Panduan Sementara untuk Rapid Tes Antigen SARS-COV-2

Catatan: Tes antigen dapat digunakan dalam berbagai strategi pengujian sebagai tanggapan terhadap pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19). Panduan sementara ini ditujukan bagi dokter yang memesan tes antigen, menerima hasil tes antigen, dan / atau melakukan tes perawatan di tempat, serta untuk profesional laboratorium yang melakukan pengujian antigen di laboratorium atau di tempat perawatan dan melaporkan hasil tersebut. Tujuan dari panduan teknis sementara ini untuk mendukung penggunaan tes antigen yang efektif untuk situasi pengujian yang berbeda. Panduan ini berlaku untuk semua penggunaan tes antigen dan tidak spesifik untuk kelompok usia tertentu. Panduan ini melengkapi dan konsisten dengan Tinjauan Umum Pengujian SARS-CoV-2 CDC . CDC juga menyediakan ringkasan pertimbangan dalam penggunaan tes antigen di fasilitas panti jompo.

Definisi Pengujian Diagnostik

Pengujian diagnostik SARS-CoV-2 dimaksudkan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi dan dilakukan pada saat seseorang memiliki tanda atau gejala yang sesuai dengan COVID-19, atau ketika seseorang tidak menunjukkan gejala tetapi baru diketahui atau dicurigai terpapar SARS-CoV-2. Contoh pengujian diagnostik termasuk menguji orang yang bergejala, menguji orang yang diidentifikasi melalui upaya pelacakan kontak, dan menguji mereka yang terpapar oleh orang yang terkonfirmasi atau diduga COVID-19. Lihat Tinjauan CDC tentang Pengujian SARS-CoV-2 . Amerika Serikat. Administrasi Obat dan Makanan (FDA) tanya jawab mengenai Pengujian SARS-CoV-2 juga membahas pengujian diagnostik SARS-CoV-2.

Definisi Pengujian Skrining

Pengujian skrining SARS-CoV-2 dimaksudkan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi yang asimtomatik dan tanpa diketahui atau dicurigai terpapar SARS-CoV-2. Tes skrining dilakukan untuk mengidentifikasi orang yang mungkin tertular sehingga tindakan dapat diambil untuk mencegah penularan lebih lanjut. Contoh pemeriksaan termasuk pengujian dalam pengaturan gabungan, seperti fasilitas perawatan jangka panjang atau lembaga pemasyarakatan, tempat kerja yang melakukan pengujian pada karyawannya, atau sekolah yang melakukan pengujian pada siswanya, fakultas, dan stafnya. Lihat Tinjauan CDC tentang Pengujian SARS-CoV-2, Panduan Pengujian untuk Panti Jompo, Pertimbangan Sementara untuk Administrator Sekolah K-12 untuk Pengujian SARS-CoV-2, Pertimbangan untuk Tempat Kerja Non-Perawatan Kesehatan, dan Pedoman Sementara Penanganan Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) di Lapas dan Rutan . Tanya jawab FDA tentang Pengujian SARS-CoV-2 juga membahas pengujian skrining untuk SARS-CoV-2.

Definisi Pengujian Surveilans

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi data terkait kesehatan yang berkelanjutan dan sistematis yang penting untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi praktik kesehatan masyarakat. Lihat CDC’s Introduction to Public Health Surveillance . Pengujian surveilans untuk SARS-CoV-2 dimaksudkan untuk memantau infeksi dan penyakit pada tingkat komunitas atau populasi, atau untuk mengkarakterisasi kejadian dan prevalensi penyakit. Pengujian surveilans digunakan untuk mendapatkan informasi di tingkat populasi, bukan tingkat individu, dan hasil pengujian surveilans hanya dikembalikan secara agregat ke lembaga yang meminta. Pengujian pengawasan dilakukan pada spesimen yang tidak teridentifikasi, dan dengan demikian hasilnya tidak dikaitkan dengan individu. Pengujian pengawasan tidak melibatkan pengembalian hasil tes diagnostik kepada individu, atau untuk pengambilan keputusan individu. Contoh pengujian surveilans adalah rencana yang dikembangkan oleh departemen kesehatan untuk secara acak memilih dan mengambil sampel persentase dari semua orang di kota secara bergilir untuk menilai tingkat dan tren infeksi lokal. Lihat Tinjauan CDC tentang Pengujian SARS-CoV-2 . FAQ FDA tentang Pengujian SARS-CoV-2 juga membahas pengujian pengawasan untuk SARS-CoV-2.

Tes Rapid Antigen untuk SARS-CoV-2

Panduan Umum

Tes rapid antigen biasanya digunakan dalam diagnosis patogen pernapasan, termasuk virus influenza dan virus pernapasan syncytial (RSV). FDA telah memberikan otorisasi penggunaan darurat (EUA) untuk tes antigen yang dapat mengidentifikasi SARS-CoV-2.

Tes antigen adalah immunoassay yang mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu, yang menunjukkan infeksi virus saat ini. Tes antigen saat ini diizinkan untuk dilakukan pada spesimen usap nasofaring atau nasal yang ditempatkan langsung ke dalam buffer ekstraksi atau reagen uji. Tes antigen resmi saat ini tidak dibatasi untuk digunakan pada orang dengan usia tertentu. Lihat Tabel 2 untuk informasi tambahan tentang tes antigen.

Tes antigen relatif murah dan dapat digunakan di tempat perawatan. Perangkat yang saat ini diotorisasi memberikan hasil dalam waktu sekitar 15 menit. Tes antigen untuk SARS-CoV-2 umumnya kurang sensitif dibandingkan tes virus yang mendeteksi asam nukleat menggunakan transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Lihat daftar EUA Diagnostik In Vitro dari FDA untuk informasi lebih lanjut tentang kinerja tes resmi. Interpretasi yang tepat dari hasil tes antigen penting untuk manajemen klinis yang akurat dari pasien dengan dugaan COVID-19, atau untuk identifikasi orang yang berpotensi terinfeksi saat digunakan untuk skrining.

Kinerja klinis dari tes diagnostik antigen cepat sangat tergantung pada kondisi di mana tes tersebut digunakan. Tes rapid antigen bekerja paling baik ketika orang tersebut dites pada tahap awal infeksi SARS-CoV-2 ketika viral load umumnya paling tinggi. Mereka juga mungkin informatif dalam situasi pengujian diagnostik di mana orang tersebut terpapar pada kasus COVID-19 yang dikonfirmasi. Tes antigen cepat dapat digunakan untuk tes skrining dalam pengaturan gabungan berisiko tinggi di mana pengujian berulang dapat dengan cepat mengidentifikasi orang dengan infeksi SARS-CoV-2 untuk menginformasikan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi, sehingga mencegah penularan. Dalam kasus ini, mungkin ada nilai lebih dalam memberikan hasil langsung dengan tes antigen meskipun mereka mungkin memiliki sensitivitas yang lebih rendah daripada tes RT-PCR, terutama dalam pengaturan di mana waktu penyelesaian yang cepat diperlukan. Lihat FAQ FDA tentang skrining individu asimtomatik dan penggunaan tes antigen dalam pengaturan berkumpul berisiko tinggi.

Keterbatasan data untuk panduan penggunaan tes antigen cepat sebagai tes skrining pada orang tanpa gejala untuk mendeteksi atau mengecualikan COVID-19, atau untuk menentukan apakah kasus yang dikonfirmasi sebelumnya masih menular.

Dokter harus memahami karakteristik kinerja tes antigen untuk mengenali hasil yang berpotensi negatif palsu atau positif palsu dan untuk memandu manajemen pasien. Profesional laboratorium dan pengujian yang melakukan uji antigen cepat juga harus memahami faktor-faktor yang memengaruhi akurasi pengujian antigen, seperti yang dijelaskan dalam panduan ini.

Persyaratan Peraturan Pengunaan Tes Rapid Antigen untuk SARS-CoV-2

FDA mengatur perangkat diagnostik in vitro dan memberikan rekomendasi dan informasi mengenai permintaan EUA untuk tes diagnostik COVID-19 dalam Kebijakan Tes Penyakit Coronavirus-2019 Selama Darurat Kesehatan Masyarakat (Direvisi) (“Kebijakan untuk Tes COVID-19”) dan referensi template EUA dalam kebijakan itu. Pengujian COVID-19 dan sistem pengujian yang digunakan untuk pengujian diagnostik atau skrining, termasuk pengujian antigen, harus telah menerima EUA dari FDA atau ditawarkan berdasarkan kebijakan dalam Kebijakan FDA untuk Pengujian COVID-19ikon eksternal. Semua tes antigen cepat untuk SARS-CoV-2 yang diizinkan untuk digunakan oleh FDA akan dimasukkan dalam daftar EUA Diagnostik In Vitro.

Profesional laboratorium dan penguji yang melakukan pengujian diagnostik atau skrining untuk SARS-CoV-2 dengan tes rapid antigen harus mematuhi peraturan Clinical Laboratory Improvement Amendments ( CLIA ). Setiap laboratorium atau lokasi pengujian yang bermaksud untuk melaporkan hasil tes khusus pasien harus terlebih dahulu mendapatkan sertifikat CLIA dan memenuhi semua persyaratan untuk melakukan pengujian tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, lihat ringkasan peraturan CLIA dari Pusat Layanan Medicare & Medicaid (CMS). CMS telah memberikan informasi tambahan tentang diskresi penegakan untuk penggunaan tes antigen titik perawatan SARS-CoV-2 pada individu tanpa gejala di situs webnya.

Profesional laboratorium dan penguji yang melakukan pengujian pengawasan untuk SARS-CoV-2 dengan tes rapid antigen tidak diwajibkan untuk mematuhi persyaratan FDA dan CLIA ini. Namun, CDC merekomendasikan bahwa fasilitas yang melakukan pengujian pengawasan untuk SARS-CoV-2 dengan tes antigen harus menggunakan tes antigen yang telah diizinkan untuk digunakan, yang terdaftar di FDA’s In Vitro Diagnostics EUAs.

Pengumpulan dan Penanganan Spesimen Klinis

Semua pengujian SARS-CoV-2, termasuk pengujian rapid antigen, secara langsung dipengaruhi oleh integritas spesimen, yang bergantung pada pengumpulan dan penanganan spesimen. Pengumpulan spesimen yang tidak tepat dapat menyebabkan beberapa swab memiliki jumlah materi genetik atau antigenik virus yang terbatas untuk dideteksi. Prosedur jaminan kualitas yang tidak memadai dapat menyebabkan kontaminasi silang pada spesimen, yang dapat menyebabkan hasil pengujian yang tidak akurat. Penundaan dari pengumpulan sampel hingga pengujian harus diminimalkan. Tindakan keamanan biosafety dan instruksi penggunaan harus diikuti dengan tepat untuk memastikan pengujian yang akurat dan keselamatan mereka yang melakukan pengujian. Lihat panduan CDC tentang Pengumpulan, Penanganan, dan Pengujian Spesimen Klinis untuk COVID-19 .

Beberapa uji antigen telah mengeksplorasi penggunaan media transpor virus, tetapi pengenalan pengenceran ini dapat menurunkan sensitivitas uji tersebut dan membawa risiko kontaminasi silang yang dapat menyebabkan hasil positif palsu. Laboratorium dan tempat pengujian harus mengikuti petunjuk penggunaan dan sisipan paket yang khusus untuk sistem pengujian yang mereka gunakan.

Kinerja Tes Rapid Antigen untuk SARS-CoV-2

Penting bagi dokter dan personel pengujian untuk memahami karakteristik kinerja, termasuk sensitivitas dan spesifisitas analitik, dari test rapid antigen tertentu yang digunakan dan mengikuti instruksi pabrik dan sisipan kemasan.

RT-PCR tetaplah merupakan “Gold Standar/Standar emas” untuk deteksi diagnostik klinis SARS-CoV-2. Oleh karena itu, mungkin perlu untuk memastikan hasil uji antigen cepat dengan uji asam nukleat, terutama jika hasil uji antigen tidak sesuai dengan konteks klinis. Saat mengonfirmasi hasil tes antigen dengan tes RT-PCR, penting bahwa interval waktu antara pengumpulan sampel untuk dua tes kurang dari dua hari, dan tidak ada peluang untuk terpapar di antara kedua pengambilan sample. Jika lebih dari dua hari memisahkan dua kumpulan, atau jika ada peluang untuk eksposur baru, tes asam nukleat harus dianggap sebagai tes terpisah – bukan tes konfirmasi. Tabel 2 merangkum perbedaan antara tes RT-PCR dan tes antigen.

Sensitivitas tes antigen cepat umumnya lebih rendah daripada RT-PCR. Tes antigen pertama yang menerima FDA EUA menunjukkan sensitivitas berkisar dari 84,0% -97,6% dibandingkan dengan RT-PCR. Kadar antigen dalam spesimen yang dikumpulkan setelah 5-7 hari sejak timbulnya gejala dapat turun di bawah batas deteksi tes. Hal ini dapat menghasilkan hasil tes yang negatif, sedangkan tes yang lebih sensitif, seperti RT-PCR, dapat memberikan hasil yang positif.

Spesifisitas tes antigen cepat umumnya setinggi RT-PCR – tes antigen pertama yang telah menerima FDA EUA telah melaporkan spesifisitas 100% – yang berarti bahwa hasil positif palsu tidak mungkin. Nilai prediksi positif dan negatif dari semua tes diagnostik in vitro bervariasi tergantung pada probabilitas pretest pasien yang sedang diuji. Probabilitas pretest dipengaruhi oleh prevalensi target infeksi di komunitas serta konteks klinis penerima tes. Tabel 3 memberikan informasi tambahan tentang hubungan antara probabilitas pretes dan kemungkinan nilai prediksi positif dan negatif.

CDC merekomendasikan bahwa para profesional laboratorium dan penguji yang melakukan pengujian antigen cepat harus menentukan prevalensi infeksi berdasarkan rata-rata pengguliran tingkat positif dari pengujian SARS-CoV-2 mereka sendiri selama 7-10 hari sebelumnya. Prevalensi infeksi pada saat pengujian, serta konteks klinis penerima pengujian, berdampak pada probabilitas prates. Jika lokasi pengujian tertentu, seperti panti jompo, memiliki tingkat kepositifan mendekati nol, prevalensi penyakit di komunitas (misalnya, kasus per populasi) sebaiknya digunakan untuk membantu menentukan probabilitas prates. Tes antigen cepat harus ditafsirkan dalam konteks prevalensi infeksi atau penyakit, karakteristik kinerja perangkat dan petunjuk penggunaan, serta tanda, gejala, dan riwayat klinis pasien.

Mengevaluasi Hasil Pengujian Antigen Cepat untuk SARS-CoV-2

Mengevaluasi hasil tes antigen cepat untuk SARS-CoV-2 harus mempertimbangkan karakteristik kinerja (misalnya sensitivitas, spesifisitas), petunjuk penggunaan uji yang disahkan FDA, prevalensi COVID-19 di komunitas tertentu (kepositifan tingkat selama 7-10 hari sebelumnya atau kasus per populasi), dan konteks klinis dan epidemiologis dari orang yang telah diuji.

Evaluasi hasil tes antigen diagnostik harus mempertimbangkan lamanya waktu pasien mengalami gejala. Umumnya, dokter dapat mengandalkan hasil tes antigen diagnostik positif karena spesifisitas tes antigen resmi FDA saat ini tinggi pada orang yang memiliki gejala COVID-19.

Sensitivitas uji antigen resmi FDA saat ini bervariasi, dan dengan demikian hasil pengujian diagnostik negatif harus ditangani secara berbeda tergantung pada perangkat pengujian dan karakteristik kinerja yang dinyatakan. Dalam kebanyakan kasus, hasil tes diagnostik antigen negatif dianggap dugaan. CDC merekomendasikan untuk mengonfirmasi hasil tes antigen negatif dengan tes RT-PCR ketika probabilitas pretest relatif tinggi, terutama jika pasien bergejala atau memiliki paparan yang diketahui pada orang yang dikonfirmasi mengidap COVID-19. Idealnya, pengujian RT-PCR konfirmasi harus dilakukan dalam dua hari setelah pengujian antigen awal. Jika pengujian RT-PCR tidak tersedia, kebijaksanaan klinis dapat digunakan untuk merekomendasikan isolasi pasien. Lihat panduan CDC tentang Karantina dan Isolasi ,Penghentian Isolasi Orang dengan COVID-19 Tidak di Pengaturan Perawatan Kesehatan , Penghentian Tindakan Pencegahan Berbasis Penularan Pasien di Pengaturan Perawatan Kesehatan , dan Kembali Bekerja untuk Tenaga Kesehatan . CDC tidak merekomendasikan penggunaan tes antigen untuk membuat keputusan tentang penghentian isolasi.

Saat ini, tes antigen cepat yang telah menerima EUA dari FDA diizinkan untuk pengujian diagnostik pada orang-orang yang bergejala dalam lima hingga tujuh hari pertama setelah timbulnya gejala. Lihat EUA Diagnostik In Vitro FDAikon eksternalselain informasi dari CMS tentang kebijaksanaan penegakan untuk penggunaan pengujian diagnostik antigen di tempat perawatan SARS-CoV-2 pada individu tanpa gejala. Pengujian antigen serial dalam pengaturan pengumpulan tertutup, seperti fasilitas perawatan jangka panjang atau fasilitas pemasyarakatan, dapat dengan cepat mengidentifikasi seseorang dengan infeksi SARS-CoV-2 dan mencegah penularan lebih lanjut. Bukti pemodelan menunjukkan bahwa pengendalian wabah sangat bergantung pada frekuensi pengujian dan kecepatan pelaporan dan hanya meningkat sedikit dengan sensitivitas pengujian yang tinggi. Untuk alasan ini, pengujian antigen serial mungkin memiliki manfaat untuk identifikasi awal dan pengendalian wabah dalam beberapa situasi, seperti hidup berkelompok, dibandingkan dengan tes RT-PCR dalam pengaturan dengan waktu penyelesaian yang lama.

Saat digunakan untuk pengujian skrining dalam pengaturan gabungan, hasil tes untuk SARS-CoV-2 harus dipertimbangkan. Uji konfirmasi asam nukleat setelah uji antigen positif mungkin tidak diperlukan jika probabilitas pretes tinggi, terutama jika orang tersebut bergejala atau memiliki paparan yang diketahui. Ketika probabilitas pretest rendah, orang-orang yang menerima tes antigen positif harus mengisolasi sampai mereka dapat dikonfirmasi dengan RT-PCR.

Uji konfirmasi asam nukleat setelah uji antigen negatif yang digunakan untuk uji skrining mungkin tidak diperlukan jika probabilitas prates rendah, orang tersebut asimtomatik, atau tidak memiliki paparan yang diketahui, atau merupakan bagian dari kelompok yang akan menerima uji antigen dasar cepat secara berulang.. Pengujian asam nukleat juga dianggap praduga ketika skrining orang tanpa gejala, manfaat potensial dari pengujian konfirmasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati dalam konteks presentasi klinis orang tersebut.

CDC akan memperbarui panduan ini saat lebih banyak data tersedia.

Melaporkan Hasil Tes Antigen Cepat untuk SARS-CoV-2 ke Departemen Kesehatan dan Pasien

Laboratorium atau lokasi pengujian bersertifikasi CLIA harus melaporkan hasil uji diagnostik antigen cepat ke departemen kesehatan lokal, negara bagian, suku, atau teritori sesuai dengan Hukum Publik 116-136, § 18115, yang mewajibkan “setiap laboratorium yang melakukan atau menganalisis tes yang dimaksudkan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 atau mendiagnosis kemungkinan kasus COVID-19” untuk melaporkan hasil dari setiap tes tersebut. Hasil tes antigen yang dilaporkan ke departemen kesehatan masyarakat harus dibedakan dengan jelas dari tes COVID-19 lainnya, seperti tes RT-PCR dan tes antibodi.

Pada 4 Juni 2020, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menerbitkan panduan tentang Respons Pandemi COVID-19, Pelaporan Data Laboratorium: CARES Act Section 18115 yang menentukan data tambahan apa yang harus dikumpulkan dan dilaporkan secara elektronik ke departemen kesehatan bersama dengan hasil tes diagnostik atau skrining COVID-19 . Profesional laboratorium dan pengujian harus mengumpulkan dan melaporkan informasi demografis pasien secara lengkap dan memastikan bahwa mereka melaporkan hasil tes antigen menggunakan kode LOINC yang tepat untuk pengujian khusus yang diotorisasi FDA. Fasilitas harus mengacu pada Pemetaan Kode Tes LOINC In Vitro Diagnostic (LIVD) CDC untuk Tes SARS-CoV-2 .

Laboratorium atau lokasi pengujian bersertifikasi CLIA harus melaporkan hasil uji antigen kepada individu atau penyedia layanan kesehatan individu sesuai dengan petunjuk penggunaan perangkat diagnostik in vitro SARS-CoV-2 resmi FDA yang digunakan. Bergantung pada ketentuan otorisasi FDA, laboratorium atau situs pengujian mungkin diminta untuk melaporkan hasil tes negatif kepada pasien sebagai “dugaan negatif”.

Laboratorium yang bersertifikasi CLIA atau tidak bersertifikat CLIA dapat melakukan pengujian pengawasan. Hasil pengujian surveilans yang menggunakan tes antigen cepat dapat dikembalikan secara agregat ke lembaga yang meminta, seperti universitas atau lembaga kesehatan masyarakat. Hasil tes surveilans antigen negatif harus dilaporkan sebagai “dugaan negatif” kepada lembaga yang meminta. Laboratorium, apapun status CLIA-nya, tidak boleh secara resmi melaporkan hasil pengujian surveilans ke departemen kesehatan. Jika departemen kesehatan lokal, negara bagian, suku, atau teritori meminta akses ke hasil pengujian pengawasan SARS-CoV-2 yang menggunakan pengujian antigen, laboratorium harus menyatakan dalam laporan kepada departemen kesehatan bahwa datanya adalah hasil pengujian pengawasan antigen. yang tidak mewakili hasil tes diagnostik atau skrining COVID-19.

Laboratorium yang melakukan pengujian surveilans, termasuk uji surveilans yang menggunakan uji antigen, tidak boleh melaporkan hasil uji kepada orang yang spesimennya telah diuji, atau kepada penyedia layanan kesehatan, pemberi kerja, dll. Uji surveilans dilakukan pada spesimen yang tidak teridentifikasi, dan dengan demikian hasil tidak terkait dengan individu. Jika suatu saat laboratorium bermaksud melaporkan hasil tes khusus pasien, ia harus terlebih dahulu mendapatkan sertifikat CLIA dan memenuhi semua persyaratan untuk melakukan pengujian. Untuk informasi lebih lanjut, lihat ringkasan CMS tentang regulasi CLIA . Tabel 1 juga merangkum persyaratan pelaporan tergantung pada jenis pengujian yang dilakukan.

Tabel Ringkasan

Tabel 1: Strategi pengujian SARS-CoV-2

Diagnostik Skrining Survailance
bergejala atau Diketahui atau Dicurigai iya tidak N/A
Tanpa Gejala Tanpa Pajanan yang Diketahui atau Diduga tidak iya N/A
Karakterisasi Insiden dan Prevalensi di Komunitas N/A N/A iya
Hasil dapat Dikembalikan ke Individu iya iya tidak
Hasil Dikembalikan Secara Agregat ke Institusi Peminta tidak tidak iya
Hasil Dilaporkan ke Departemen Kesehatan Masyarakat Negara Bagian iya iya iya
Pengujian dapat dilakukan di Laboratorium Bersertifikat CLIA iya iya iya
Pengujian dapat dilakukan di Laboratorium Non-CLIA-Certified tidak tidak iya
Sistem Pengujian Harus Diotorisasi FDA atau Ditawarkan berdasarkan Kebijakan dalam Panduan FDA Iya Iya tidak

Tabel 2: Ringkasan beberapa perbedaan tes RT-PCR dan Tes Antigen

Tes RT-PCR Tes Antigen
Digunakan untuk Deteksi infeksi saat ini Deteksi infeksi saat ini
Analit terdeteksi RNA Virus AntigenViral
Jenis Spesimen Usap hidung, dahak, air liur Usap Hidung
Kepekaan tinggi moderat
Kekhususan tinggi tinggi
Uji Kompleksitas Bervariasi Relatif mudah digunakan
Diotorisasi untuk Digunakan di Point-of-Care Sebagian besar perangkat tidak, beberapa perangkat Iya
Waktu penyelesaian Berkisar dari 15 menit hingga> 2 hari Kurang lebih 15 menit
Biaya tes moderat rendah

Tabel 3: Hubungan antara probabilita spra tes dan kemungkinan nilai prediksi positif dan negatifTabel

Probabilitas Pretest * Nilai Prediktif Negatif ** Nilai Prediktif Positif ** Dampak pada Hasil Tes
rendah tinggi rendah

Meningkatnya kemungkinan Positif Palsu

Meningkatnya kemungkinan True Negatives

tinggi rendah tinggi

Meningkatnya kemungkinan Positif Benar

Peningkatan kemungkinan False Negatives

* Sensitivitas dan spesifisitas tes umumnya stabil dan tidak dipengaruhi oleh probabilitas pretest.
** Nilai prediksi dipengaruhi oleh probabilitas pretest.

Definisi
Probabilitas pretest: Probabilitas pasien mengalami infeksi sebelum hasil tes diketahui; berdasarkan proporsi orang dalam komunitas dengan penyakit pada waktu tertentu (prevalensi) dan presentasi klinis pasien.

Nilai prediksi negatif : Kemungkinan pasien yang memiliki hasil tes negatif benar-benar tidak mengalami infeksi.
Nilai Prediktif Positif : Kemungkinan pasien yang memiliki hasil tes positif benar-benar mengalami infeksi.
Hasil Positif Palsu : Hasil tes yang menunjukkan adanya infeksi padahal sebenarnya tidak ada.
Hasil Negatif Benar : Hasil tes dengan benar menunjukkan bahwa infeksi tidak ada.
Hasil Negatif Palsu : Hasil tes yang menunjukkan infeksi tidak ada saat itu.
Hasil Positif Benar : Hasil tes dengan benar menunjukkan bahwa ada infeksi.

Sumber: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/resources/antigen-tests-guidelines.html

 

World Patient Safety Day: Speak Up for Health Worker Safety!

The World Patient Safety Day is a global campaign to improve patient safety, celebrated each year on on 17th September. Recognizing patient safety as a global health priority, all 194 WHO Member States at The 72nd World Health Assembly in May 2019 endorsed the establishment of World Patient Safety Day (Resolution WHA72.6), to be marked annually on 17 September.

Continue reading

Mencegah Paparan Alkohol dalam Kehamilan

Konsumsi alkohol pada masa pranatal merupakan penyebab utama bayi lahir cacat. Namun kesadaran untuk berhenti minum alkohol menjadi hal yang masih susah dihilangkan. National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities, Centers for Disease Control and Prevention (Floyd), Atlanta, Georgia melakukan Randomized Controlled Trial untuk mencegah Alcohol-Exposed Pregnancy (AEP) menggunakan intervensi A brief motivational. Hasil penelitian menghasilkan bahwa intervensi tersebut mengurangi risiko AEP.

Setiap tahun ada 500.000 wanita hamil melaporkan mengkonsumsi alkohol. Janin yang terpapar alkohol menyebabkan Fetal alcohol syndrome (FAS). Kebanyakan wanita mengurangi konsumsi alkohol setelah mengetahui bahwa mereka hamil, tetapi banyak yang tetap meminum alkohol karena mereka tidak menyadari bahwa mereka hamil selama minggu-minggu. Konsumsi alkohol selama masa kehamilan bukan hanya dapat menyebabkan FAS pada anak, tapi juga meningkatkan risiko keguguran. Tidak ada kadar aman konsumsi alkohol pada ibu yang mengandung, banyak atau pun sedikit alkohol yang dikonsumsi, tetap akan berpotensi menyebabkan FAS.

Intervensi motivasi singkat (a brief motivational) dilakukan dengan cara memberikan konseling, konsultasi kontrasepsi, dan kunjungan layanan. Intervensi didasarkan pada teori dan penelitian dalam intervensi singkat, wawancara motivasi, dan Model Transtheoretical. Transtheoretical Model adalah perubahan perilaku atas kesiapan individu untuk memiliki tindakan yang lebih sehat, memberikan strategi, atau proses perubahan untuk memandu individu untuk berperilaku sehat melalui tahapan perubahan dan pemeliharaan kesehatan.Tujuan dari intervensi untuk mendorong perempuan untuk mengubah salah satu atau kedua target tersebut yaitu perilaku minum alkohol dan penggunaan kontrasepsi yang tidak efektif. Intervensi difokuskan untuk meningkatkan komitmen peserta agar berubah melalui penggunaan motivasi wawancara dan konten yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi. Wawancara motivasi adalah gaya konseling yang direktif tetapi berpusat pada klien dimaksudkan untuk meminimalkan penolakan terhadap perubahan.

Konselor menggunakan wawancara motivasi untuk mengekspresikan empati, tanpa mengelola perlawanan konfrontasi, dan mendukung kemanjuran diri peserta. Prosedur untuk meningkatkan motivasi disampaikan dalam empat sesi konseling wawancara motivasi dan satu kontrasepsi kunjungan konseling dengan penyedia layanan kesehatan .

Session Two

  • personalized feedback (delived from baseline assessment)
  • review and discussion of information recorded in the daily journal
  • arrangement of contraception counseling visit
  • review of decisional balance exercise
  • completion of self-evaluation rulers addressing readiness to change drinking and contraception
  • completion of initial goal statement and change plan
  • discussion of templation and confidence profiles

Session three

  • discussion of contraception counseling appointment
  • discussion of information recorded in daily journal
  • review and update of decisional balance and self-evaluation exercises, goal statements and change plans

Session Four

  • review of previous sessions
  • review of goals and finalization of change plans
  • problem solving reinforcement of goals, strengthening commitment to change, and discussion of the participant’s next steps

Contraceptive counseling visit

  • determine appropriate and suitable contaceptive methods
  • provide prescriptions or services
  • provide follow-up clinical cate or referral as needed

Kunjungan konsultasi kontrasepsi mencakup riwayat kesehatan peserta dan diskusi tentang pilihan kontrasepsi nya. Bagi sebagian wanita, pemeriksaan fisik, tes kehamilan, dan kontrasepsi gratis disediakan. Biasanya, kunjungan kontrasepsi terjadi antara detik dan sesi konseling ketiga, memberikan kesempatan kepada konselor wawancara motivasi untuk berdiskusi tentang kunjungan dengan peserta. Intervensi disampaikan oleh 21 konselor terlatih dan diawasi oleh Tim Peneliti dan enam penyedia perawatan kontrasepsi (dokter dan perawat keluarga berencana).

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan intervensi motivasi berperilaku singkat menghasilkan penurunan risiko AEP yang signifikan. Temuan ini menggembirakan karena intervensi bersifat prakonsepsi, dan meskipun banyak dari peserta yang tidak berencana hamil, sebenarnya tidak sadar bahwa mereka berisiko terkena AEP. Wanita yang tidak berencana untuk hamil boleh saja merasa mereka memiliki sedikit alasan untuk khawatir tentang kebiasaan minum atau praktek kontrasepsi mereka. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa wanita yang berisiko AEP bisa menyadari risikonya, dan dapat membuat perubahan selanjutnya untuk mengurangi risiko itu.

Penulis Eva tirtabayu Hasri, disarikan dari sumber dibawah ini.

Sumber: R. Louise Floyd, DSN, RN, Mark Sobell, PhD, ABPP, Mary M. Velasquez, PhD, Karen Ingersoll, PhD, Mary Nettleman, MD, MS, Linda Sobell, PhD, ABPP, Patricia Dolan Mullen, DrPH, Sherry Ceperich, PhD, Kirk von Sternberg, PhD, Burt Bolton, MS, Bradley Skarpness, PhD, Jyothi
Nagaraja, MS, and Project CHOICES Efficacy Study Group. (2007). Preventing Alcohol-Exposed Pregnancies: A Randomized Controlled Trial. Published in final edited form as: Am J Prev Med. 2007 January ; 32(1): 1–10. doi:10.1016/j.amepre.2006.08.028.

 

Memahami Kepatuhan terhadap Standar Perlindungan Pernafasan Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3-OSHA) Selama Pandemi Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19)

Pandemi Coronavirus 2019 (COVID-19) telah memiliki dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada ketersediaan respirator dan uji kesesuaian persediaan. Dokumen ini dimaksudkan untuk membantu pengusaha memahami dan mematuhi panduan penegakan sementara OSHA untuk Standar Perlindungan Pernafasan (29 CFR § 1910.134).

Latar Belakang

Pandemi COVID-19 berdampak pada keadaan darurat kesehatan masyarakat yang secara dramatis meningkatkan permintaan respirator, terutama filter penutup wajah respirator (FFR) N-95, serta perlengkapan uji yang biasanya digunakan untuk memastikan bahwa alat pernapasan cocok dan benar bagi pekerja serta memberikan tingkat perlindungan yang diharapkan. Kekurangan (baik intermiten atau diperpanjang) dari keduanya FFR dan perlengkapan uji memberikan tantangan hasil yang luar biasa. Untuk memastikan operasional penting terus berjalan, banyak pengusaha harus memanfaatkan strategi kontingensi dan krisis yang biasanya tidak sesuai dengan standar Perlindungan Pernafasan OSHA. Contoh strategi kontingensi dan krisis meliputi: penggunaan jangka panjang dari FFR sekali pakai, dekontaminasi dan penggunaan kembali FFR sekali pakai, dan penggunaan FFR asing yang tidak disetujui oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH).

Penting bagi pengusaha untuk memahami penyimpangan dari penggunaan respirator yang normal mendatangkan peningkatan resiko bagi pekerja, dalam kondisi tertentu, mungkin hanya diperbolehkan selama darurat kesehatan masyarakat karena tidak ada alternatif perlindungan pernapasan yang menghadirkan bahaya yang lebih baik bagi pekerja. Untuk memastikan perlindungan yang memadai bagi pekerja selama pelaksanaan strategi kontingensi dan krisis, OSHA telah mengeluarkan panduan penegakan sementara untuk Compliance Safety and Health Officers (CSHO). Panduan ini memungkinkan CSHO untuk berlatih melakukan diskresi penegakan dalam kasus yang melibatkan tempat kerja yang terpapar dan pemberi kerja kedapatan tidak mematuhi ketentuan standar Perlindungan Pernafasan tertentu karena kekurangan pasokan dan karenanya merasa perlu untuk menerapkan strategi kontingensi atau krisis untuk penggunaan respirator oleh pekerja.

Memahami Panduan Sementara Penegakan OSHA

Menanggapi FFR dan kekurangan pasokan perlengkapan uji selama pandemi COVID-19, OSHA telah mengeluarkan beberapa memorandum panduan penegakan sementara yang memungkinkan CSHO untuk melaksanakan diskresi penegakan saat mempertimbangkan untuk mengeluarkan kutipan di bawah Standar perlindungan dan / atau setara dengan ketentuan perlindungan pernafasan dari standar kesehatan lainnya.

Diskresi penegakan CSHO hanya diterapkan pada saat keadaan di luar kendali pemberi kerja dalam mencegah kepatuhan dengan bagian tertentu dari Standar Perlindingan Pernapasan dan pemberi kerja membuat secara objektif upaya yang wajar untuk mendapatkan dan menghemat persediaan. Pengusaha juga diharapkan untuk mengeksplorasi opsi dan memodifikasi praktik untuk memastikan perlindungan terbaik yang tersedia bagi pekerja (misalnya, menghindari penggunaan yang tidak standar pelindung pernapasan saat melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol dengan tingkat bahaya yang tinggi). Pengusaha diharapkan untuk sepenuhnya mematuhi Standar Perlindungan Pernapasan setelah masalah rantai pasokan terselesaikan (misalnya, melakukan pengujian setelah perlengkapan pengujiani tersedia). OSHA akan mencabut semua diskresi penegakan sementara dan kembali ke penegakan normal standar Perlindungan Pernafasan setelah institusi menentukan tambahan diskresi penegakan tersebut tidak lagi diperlukan

Pengusaha Mencari Bantuan Sementara Penegakan Panduan

Penting bagi pengusaha untuk memahami bahwa memorandum penegakan panduan sementara tidak menawarkan keringanan menyeluruh atau pengecualian untuk kepatuhan dengan standar OSHA atau ketentuan standar semacam itu, termasuk standar Perlindungan Pernafasan (misalnya, persyaratan pengujian tahunan). Sebaliknya, mereka memungkinkan diskresi penegakan oleh CSHO selama periode pandemi COVID-19 hanya pada keadaan di mana pemberi kerja dapat menunjukkan bahwa mereka melakukan upaya yang tidak berhasil tetapi secara obyektif masuk akal untuk mendapatkan dan menghemat pasokan FFR dan perlengkapan yang sesuai sebagaimana diuraikan dalam memorandum. Pengusaha harus memahami bahwa ketidakpatuhan terhadap pelanggaran standar. Namun, memo penegakan panduan sementara ini memberikan keleluasaan CSHO, berdasarkan kasus per kasus selama periode pandemi COVID-19 saja, untuk menahan diri dari mengeluarkan kutipan kepada pemberi kerja karena melanggar ketentuan tertentu dari standar Perlindungan Pernafasan dan / atau peraturan pernapasan yang setara. Ketentuan perlindungan standar kesehatan lainnya, di mana kepatuhan terhadap ketentuan ini dipengaruhi oleh kekurangan pasokan. Setiap memorandum panduan penegakan hukum sementara memiliki kriteria khusus yang akan dinilai oleh CSHO selama inspeksi. Misalnya, CSHO akan mencari dan mempertimbangkan dokumentasi dan informasi lain yang tersedia menunjukkan bahwa pemberi kerja:

  • Memanfaatkan strategi untuk memprioritaskan dan menghemat penggunaan N95 menurut panduan CDC:
    1. Pertimbangan untuk Rilis Stok N95 Di Luar Umur Simpan yang Ditunjuk Produsen
    2. Strategi untuk Mengoptimalkan Pasokan N95 Respirator;
  • Mempertahankan Perlindungan Pernafasan yang sepenuhnya sesuai Program (RPP) dalam semua hal lainnya (yaitu, program yang mencakup antara lain kebutuhan elemen, prosedur evaluasi medis karyawan, perawatan dan perawatan respirator, pelatihan karyawan);
  • Menilai kembali kontrol teknik dan administrasi, dan praktik kerja, dan mengidentifikasi dan menerapkan perubahan untuk mengurangi kebutuhan N95 tanpa mengekpos karyawan pada bahaya tambahan (misalnya, mempertimbangkan apakah mungkin untuk menangguhkan sementara prosedur tertentu, seperti prosedur medis elektif bahaya tinggi, atau meningkatkan penggunaan perlindungan layak lainnya, seperti memindahkan operasi di luar ruangan, menggunakan rotasi jadwal pekerjaan, atau meningkatkan penggunaan metode basah atau sistem pembuangan lokal portabel saat melakukan tugas yang menghasilkan debu);
  • Memantau persediaan respirator dan melakukan upaya yang wajar secara obyektif untuk mendapatkan respirator yang disetujui NIOSH; dan, dalam pengaturan perawatan kesehatan, memprioritaskan opsi perlindungan pernapasan terbaik yang tersedia untuk digunakan selama prosedur medis yang menimbulkan aerosol berbahaya;
  • Menjajaki opsi untuk mendapatkan dan menggunakan jenis respirator lain (misalnya, P-100, non-disposable, elastomeric respirator, dan powered air-purifying respirator (PAPR), serta respirator asing yang tidak disetujui NIOSH) yang menawarkan padanan atau perlindungan yang lebih tinggi ketika N-95 tidak tersedia; dan
  • Memantau persediaan perlengkapan uji dan melakukan upaya yang wajar secara obyektif untuk mendapatkan pasokan perlengkapan uji. Jika pemberi kerja dapat menunjukkan upaya yang wajar secara obyektif untuk mematuhi standar Perlindungan Pernafasan, dan / atau perlindungan pernapasan yang setara
  • Ketentuan standar kesehatan lainnya, maka OSHA dapat melaksanakan kebijakan penegakannya sesuai dengan memorandum selama pandemi COVID-19.

 

Evaluasi perkembangan “triple eliminasi” penularan penyakit HIV, syphilis, dan hepatitis B dari ibu ke bayi di Belanda

Di Belanda, seluruh wanita hamil diharuskan untuk menjalani screening untuk Human Immunodeficiency Virus (HIV), syphilis dan hepatitis B virus (HBV). Bila hasil screening positif, maka dilanjutkan dengan tes konfirmasi. Bila hasil tes lanjutan juga positif, sang ibu akan dirujuk ke pelayanan sekunder untuk perawatan dan atau pengukuran pencegahan lainnya.

Pada tahun 2014 World Health Organization (WHO) menetapkan kriteria validasi untuk mengeliminasi transmisi ibu ke bayi atau mother-to-child-transmission (EMTCT) untuk penyakit HIV dan syphilis yang kemudian diperbarui pada tahun 2017. Kriteria ini mencakup 3 dampak – 6 proses indikator minimum untuk validasi EMTCT HIV, syphilis, dan kriteria tambahan untuk hepatitis B. Tim peneliti yang dipimpin oleh Maartje Visser, melakukan evaluasi terhadap praktek yang telah berjalan di Belanda apakah telah mencapai kombinasi kriteria WHO untuk HIV, syphilis, dan HBV.

Data terkait HIV, syphilis, dan infeksi HBV pada ibu hamil dan anak-anak (yang lahir di Belanda dengan infeksi kongenital) sejak tahun 2009 – 2015, dan data yang dibutuhkan untuk memvalidasi kriteria WHO dikumpulkan dari berbagai sumber seperti: screening antenatal registry, database yayasan monitoring HIV, Perinatal Registry of the Netherlands, laboratorium referensi nasional untuk syphilis kongenital, dan data notifikasi HBV nasional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan screening diantara perempuan hamil mencapai lebih dari 99% dalam semua rentang umur, prevalensi HIV, syphilis, dan HBV sangat rendah. Pada tahun 2015, pervalensi HIB sebesar 0,006%; syphilis sebesar 0,006%; dan HBV sebesar 0,29%. Tidak ditemukan infeksi ketiga penyakit ini pada bayi yang baru lahir di Belanda yang dilaporkan sepanjang tahun 2015. Pada tahun tahun sebelumnya hanya kasus sporadic yang diobservasi pada tahun 2015. Terapi wanita hamil yang positif HIV sebesar 100% dan vaksinasi HBV pada anak-anak dengan ibu yang positif HBV mencapai lebih dari 99%. Untuk syphilis, data komprehensif untuk memvalidasi kriteria WHO sangat kurang.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa prevalensi HIV, syphilis, dan HBV maternal di Belanda rendah dan infeksi kongenital terbilang sangat jarang. Di Belanda semua kriteria WHO minimum untuk validasi EMTCT dijumpai untuk HIV dan HBV, namun untuk syphilis masih membutuhkan lebih banyak data untuk membuktikan eliminasi. Dapat disimpulkan juga bahwa Belanda memiliki program antenatal screening dengan cakupan yang tinggi, dan bahwa layanan tambahan untuk mengurangi EMTCT HIV dan HBV seperti perawatan dan vaksinasi sudah diselenggarakan dengan baik.

Dirangkum oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE

Referensi: Visser et al., 2019, Evaluating progress towards triple elimination of mother-to-children transmission of HIV, syphilis and hepatitis B in the Netherlands, BMC Public Health, 19:353, https://doi.org/10.1186/s12889-019-6668-6