Disini anda bisa mengunduh Buku Panduan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 Tahun 2020.
Tema HKN-56: “Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat”
Sub-tema HKN-56: “Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19”
Disini anda bisa mengunduh Buku Panduan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 Tahun 2020.
Tema HKN-56: “Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat”
Sub-tema HKN-56: “Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19”
Disarikan oleh: Andriani Yulianti, MPH
Situasi pandemi COVID-19 membuka berbagai problematika di bidang kesehatan, yang menunjukkan bahwa banyak celah dalam pelayanan bidang kesehatan yang perlu diperbaiki, khususnya dalam hal melindungi tenaga kesehatan agar tidak terpapar infeksi. Dalam hal ini dokter sebagai tenaga kesehatan garda terdepan dalam peperangan melawan wabah penyakit. Menjadi prioritas kesehatan masyarakat bagi pembuat kebijakan untuk memahami faktor risiko kelompok rentan ini dengan mencegah penularan pekerjaan. Berbagai pertimbangan di bidang kesehatan perlu dibuat dalam menjalani adaptasi kebiasaan baru pada masa Pandemi COVID-19.
Banyaknya korban tenaga medis akibat COVID- yakni data per 9 Oktober mencapai 132 Dokter yang meninggal. Oleh karena itu, tim mitigasi dokter dalam pandemi COVID -19 PB IDI telah menyusun sebuah pedoman perlindungan dokter di era COVID-19 untuk mencegah bertambahnya korban khususnya dari kalangan dokter. Beberapa pertimbangan yang perlu diambil baik bagi tenaga kesehatan maupun sistem kesehatan di era COVID-19 (lihat tabel1)
Tabel 1. Pertimbangan bagi tenaga kesehatan dan sistem kesehatan di era COVID-19
| Tenaga Kesehatan | Sistem Kesehatan |
|
Aplikasi telemedicine untuk triase dan penanganan pasien apabila memungkinkan |
Menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan fasilitas untuk telemedicine |
| Mematuhi pedoman penggunaan APD |
Menyediakan APD yang lengkap untuk keluarga pasien dan tenaga kesehatan |
| Melaporkan diri dan menghentikan kegiatan sebagai tenaga kesehatan apabila masuk dalam kriteria kasus sesuai dengan pedoman resmi pemerintah yang berlaku |
Meningkatkan edukasi ke pasien dan publik mengenai indikasi karantina dan kunjungan ke rumah sakit |
| Membatasi prosedur elektif |
Melakukan tes/pengujian COVID-19 secara berkala untuk mengendalikan penularan |
Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan tempat kerja yang memiliki risiko terhadap keselamatan dan kesehatan sumber daya manusia fasilitas pelayanan kesehatan, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun masyarakat di sekitar lingkungan fasilitas terutama dalam masa pandemi COVID-19 ini. Mengeliminasi bahaya potensial merupakan cara terbaik, dibandingkan dengan mengurangi bahaya potensial tersebut. Namun, apabila bahaya potensialnya adalah biologi, terutama yang menyebabkan pandemi, maka tidak mungkin menghilangkannya. Oleh karena itu, langkah-langkah perlindungan yang paling efektif dimulai dari eliminasi, pengendalian teknik, administrasi, dan alat pelindung diri perlu dilakukan. (Lihat Gambar 1)

Gambar 1. Hierarki pengendalian risiko transmisi infeksi (PMK no 52 tahun 2018 dan K3RS)
Penjelasan:
Perlunya memetakan tingkat risiko tertular virus SARS-CoV-2 untuk dokter dibedakan menjadi 4 kelompok :

Gambar 2. Klasifikasi pajanan tenaga kesehatan terhadap SARS-CoV-2 sesuai piramida risiko okupasi untuk COVID-19
Setelah melakukan pemetaan tingkat risiko maka dapat menentukan standar dan protokol dengan menerapkan hierarki pengendalian risiko transmisi infeksi untuk melindungi dokter di Fasilitas tingkat pertama, fasilitas tingkat lanjut, ruang prosedur/tindakan operasi. Kemudian melakukan pembagian zonasi Rumah Sakit, hingga pada level penggunaan alat pelindung diri, pengaturan aliran udara dan ventilasi, penentuan penyakit akibat COVID-19, Pemeriksaan SARS-CoV-2 untuk dokter dan kriteria kembali bekerja. Standar dan protokolnya dapat dipelajari lebih lengkap dengan membuka bab 2 pada pedoman standar perlindungan dokter di era COVID-19.
Selengkapnya: Baca Pedoman
Sumber:
COVID-19 cases are surging in rural places across the Mountain States and Midwest, and when it hits health care workers, ready reinforcements aren’t easy to find.
In Montana, pandemic-induced staffing shortages have shuttered a clinic in the state’s capital, led a northwestern regional hospital to ask employees exposed to COVID-19 to continue to work and emptied a health department 400 miles to the east.
Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) memperingati HUT ke-70 pada 24 Oktober 2020. Banyak yang memaknai HUT IDI ini sebagai Hari Dokter Nasional. Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar (PB) IDI dan Ketua Terpilih PB IDI, dr Adib Khumaidi, SpOT, mengungkapkan, meski HUT IDI kerap dimaknai sebagai Hari Dokter Nasional, tetapi belum tercatat resmi secara nasional.
Penulis: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H., M.Ked.Klin., SpBP-RE
Ceklis keselamatan pembedahan atau surgical safety checklist (SSC) diluncurkan World Health Organization (WHO) tahun 2008 dalam the second global patient safety challenge: safe surgery saves lives. Panduan lengkapnya diterbitkan WHO tahun 2009 dan memuat sepuluh tujuan esensial keselamatan pembedahan, ceklis standar, dan manual pelaksanaan bagi rumah sakit. Dokumen-dokumen ini dapat diakses secara daring dan gratis di situs WHO.
Pelaksanaan SSC di Indonesia sendiri diperkenalkan oleh Komisi Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) dalam rangkaian dengan six goals gerakan keselamatan pasien. Lebih lanjut, implementasi SSC diformalkan dalam standar nasional akreditasi rumah sakit sejak tahun 2012. Seluruh rumah sakit di Indonesia yang telah terakreditasi hampir pasti telah menerapkan SSC pada saat persiapan survei akreditasi.
Namun demikian, apakah penerapan tersebut menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari tetap menjadi pertanyaan besar tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Hal ini menjadi penting karena usia SSC sudah melampaui satu dekade. Sebuah survei yang mencakup 94 negara di tahun 2014-2016 menemukan bahwa SSC diterapkan pada hampir 80% pembedahan dengan berbagai variasi berdasarkan human development index (HDI) dan macam pembedahan (Delisle et al., 2020). Survei ini menemukan bahwa HDI memainkan peranan penting dalam variasi penerapan SSC. Pada negara dengan HDI yang tinggi dan sangat tinggi, SSC lebih sering diterapkan dan berimbang baik pada operasi elektif maupun urgent. Pada negara dengan HDI sedang dan rendah, penerapan SSC lebih jarang. Penerapan di negara dengan HDI sedang dan rendah juga lebih jarang pada pembedahan urgen dibanding elektif.
Temuan mengenai korelasi penerapan SSC dengan HDI menunjukkan bahwa SSC sebenarnya dikenal pada negara-negara dengan HDI sedang dan rendah namun penerapannya tidak konsisten. Walaupun dirancang untuk dapat digunakan secara universal, diduga penerapannya tidak konsisten pada saat sumber daya yang diperlukan untuk penerapannya secara penuh tidak tersedia (Delisle et al., 2020). Dalam konteks sehari-hari, infrastruktur yang tersedia dan keberadaan peralatan dan tenaga terlatih menjadikan penerapan SSC adalah tantangan unik di banyak tempat (Weiser & Haynes, 2018). Menurut daftar HDI 2017 yang menjadi acuan penelitian ini, Indonesia memiliki HDI 0,694 (medium/sedang).
Sekelompok dokter anestesi di India juga pernah melakukan telaah pustaka mengenai kendala penerapan SSC. Telaah ini menyebut masalah hirarki, penundaan pelayanan, penambahan beban kerja, situasi darurat, kecemasan pasien, kurangnya pemahaman terhadap esensi, dan masalah saat operasi selesai sebagai kendala dalam penerapan SSC (Jain, Sharma & Reddy, 2018). Telaah ini menarik karena masalah-masalah ini dalam praktik sehari-hari di Indonesia kerap kita jumpai.
Pertama mengenai hirarki. Dalam berbagai pertemuan mengenai keselamatan pasien di berbagai tingkat dan oleh berbagai pihak, komunikasi selalu ditekankan sebagai salah satu hal penting yang perlu diintervensi. Salah satu unsur dalam komunikasi ini adalah hirarki. Tidak jarang kita jumpai tenaga kesehatan yang lebih junior atau lebih sedikit jumlah tahun pelatihannya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan suatu usulan atau peringatan di kamar bedah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperpendek jeda hirarki ini (Green et al., 2017).
Kedua mengenai keluhan dari kru kamar bedah. Keluhan-keluhan penerapan SSC sama saja dijumpai di berbagai tempat: menunda mulai operasi, menambah beban kerja, dan sekedar dianggap sebagai tugas mengisi ceklis. Penundaan mulai operasi tentu berkaitan dengan time out. Diperlukan suatu kerja sama yang baik antara perawat kamar bedah, dokter bedah, dan dokter anestesi. Berbagai penelitian telah menunjukkan manfaat dilakukannya time out dan salah satunya adalah menghindari sentinel event (Papadakis, Meiwandi & Grzybowski, 2019).
Ketiga adalah kendala terbesar, yaitu mengenai sign out. Terdapat kendala yang unik pada saat pengisian ceklis untuk sign out karena adanya perbedaan persepsi waktu selesai operasi menurut dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat (Jain, Sharma & Reddy, 2018). Pada saat “operasi selesai”, dokter bedah terkadang sudah meninggalkan kamar bedah untuk mengisi laporan di ruangan lain atau beristirahat sebelum operasi berikutnya. Pada saat bersamaan, perawat kamar bedah sibuk untuk mengurus sampel jaringan yang diambil, atau mengumpulkan dan menghitung kembali peralatan dan mulai membersihkannya. Sementara itu, dokter anestesi berada pada saat-saat yang kritis membangunkan pasien dan membuat asesmen untuk rencana pascaoperasi. Sign out, dengan demikian tidak mendapatkan perhatian penuh dari seluruh tim operasi.
Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini? Jawabannya cukup sederhana, yaitu mengenali apa penyebab SSC yang tidak dapat dengan baik diterapkan dan mulai dari situ. Meski sederhana, hal ini tidak mudah dilaksanakan. Sebagai contoh mengenai hirarki. Perusahaan-perusahaan penerbangan telah berkutat dengan masalah ini untuk memperbaiki pola komunikasi antara pilot dan kopilot dengan tujuan utama meningkatkan keselamatan penerbangan (Green et al., 2017). Beberapa berhasil dengan baik. Dalam konteks di Indonesia, hirarki ini lebih menantang untuk diintervensi karena berkaitan erat dengan budaya setempat.
Berikutnya lebih teknis seperti memilih champion, meningkatkan pelatihan, mulai secara perlahan dengan target terukur, menyesuaikan format ceklis dengan muatan lokal, dan audit berkala (Jain, Sharma & Reddy, 2018). Penyesuaian format ceklis ini penting untuk meningkatkan cakupan keterlibatan personel kamar bedah sehingga ceklis bukan menjadi tanggung jawab satu orang. Satu inovasi yang kemungkinan belum dicoba di Indonesia adalah melibatkan pasien dalam proses time out. Cara ini membutuhkan kesadaran penuh dari pasien mengenai manfaat time out dalam pembedahannya dan terbukti tidak meningkatkan kecemasan pasien (Papadakis, Meiwandi & Grzybowski, 2019).
Uraian di atas diharapkan dapat membantu kita di Indonesia untuk menilik kembali bagaimana penerapan SSC di rumah sakit masing-masing. Mengingat bahwa SSC diciptakan untuk dapat diadaptasi secara universal dan telah terbukti bermanfaat, maka ada alasan signifikan penerapannya secara optimal di Indonesia. Perlu digarisbawahi, SSC harus menjadi gaya hidup yang disadari seluruh kru kamar operasi dan bukan sekedar tugas mengisi ceklis semata. Semoga tulisan ini dapat memantik perhatian lebih mengenai penerapan SSC di rumah sakit masing-masing. Salam sehat!
Penulis
Penulis adalah dokter spesialis alumni Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga, tinggal di Sidoarjo.
Kepustakaan
Rapid Response:
COVID-19 checklist: a tool for hospitals facing the pandemic
Dear Editor,
The unprecedented increase in the workforce and infrastructure of the NHS and other health systems that governments are implementing in response to the covid-19 pandemic is certainly of utmost importance.
Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/ tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi.
Panduan sementara 4 September 2020
Latar Belakang
Panduan sementara ini dibuat untuk individu yang merawat tubuh orang yang telah meninggal karena dicurigai atau dikonfirmasi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19). Potensi pengguna meliputi manajerdari fasilitas pelayanan kesehatan dan kamar mayat, serta tokoh agama dan kesehatan masyarakat berwenang . Selain itu, dokumen ini memberikan panduan untuk pengelolaan jenazah dalam konteks COVID-19 di lingkungan berpenghasilan rendah, menengah dan tinggi. Panduan berikut dapat direvisi saat data/bukti baru tersedia. Silakan merujuk ke situs web WHO untuk pembaruan tentang virus dan panduan teknis .
Dokumen ini memperbarui panduan yang dikeluarkan pada 24 Maret dengan konten baru atau yang dimodifikasi berikut ini:
COVID-19 adalah penyakit pernafasan akut yang disebabkan oleh SARSCoV-2 yang terutama menyerang paru-paru dan terkait dengan manifestasi mental dan neurologis antara lain. Sebagian besar pasien COVID-19 mengalami demam, batuk, kelelahan, anoreksia, dan sesak napas. (1) Namun, gejala nonspesifik lainnya mungkin termasuk sakit tenggorokan, hidung tersumbat, sakit kepala, diare, mual dan muntah. Penularan virus SARS-CoV-2 dapat terjadi melalui kontak langsung, tidak langsung, atau dekat dengan sekresi, seperti air liur dan sekresi pernapasan atau tetesan pernapasan, yang dikeluarkan dari orang yang terinfeksi . (2 ) Transmisi kontak tidak langsung yang melibatkan kontak melalui fomites juga dimungkinkan. Dalam pengaturan layanan kesehatan, penularan SARS-CoV-2 melalui udara dapat terjadi selama prosedur medis yang menghasilkan aerosol (“prosedur yang menghasilkan aerosol “); (3) informasi lebih lanjut tentang pengelolaan prosedur yang menimbulkan aerosol selama perawatan almarhum dapat ditemukan di bagian otopsi. Berdasarkan pengetahuan saat ini tentang gejala COVID-19 dan cara penularan utamanya (droplet / kontak), kemungkinan penularan saat menangani jenazah manusia rendah . (4)
Pertimbangan utama
Mempersiapkan dan mengemas jenazah untuk dipindahkan dari kamar pasien di fasilitas kesehatan ke unit otopsi, kamar mayat, krematorium, atau tempat pemakaman
Memastikan bahwa personel yang berinteraksi dengan jenazah (petugas kesehatan atau kamar jenazah, atau tim yang mempersiapkan jenazah untuk dikuburkan atau dikremasi) menerapkan kewaspadaan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), (4,8-10)) termasuk kebersihan tangan sebelum dan setelah interaksi dengan jenazah, dan lingkungan pasien; dan penggunaan APD yang sesuai (pelindung mata, seperti pelindung wajah atau kacamata, serta masker, gaun , dan sarung tangan medis ) tergantung pada tingkat interaksi dengan tubuh.
Siapkan tubuh untuk dipindahkan termasuk pelepasan semua kateter dan perangkat indwelling lainnya. Jika otopsi akan dilakukan, ikuti panduan lokal tentang prosedur persiapan jenazah.
Staf medis yang terlatih harus:
Persyaratan otopsi
Prosedur keselamatan untuk mengelola jenazah orang yang meninggal yang terinfeksi COVID-19 harus konsisten untuk otopsi orang yang meninggal karena penyakit pernapasan akut atau penyakit menular lainnya. (7,11-13) Jika orang tersebut meninggal karena COVID-19 saat dia terinfeksi, paru-paru dan organ lain mungkin masih mengandung virus hidup.[11 ) Jika tubuh seseorang yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19 dipilih untuk diautopsi, fasilitas layanan kesehatan harus memastikan bahwa langkah-langkah keamanan tersedia untuk melindungi mereka yang melakukan otopsi termasuk:
Saran bagi perawatan kamar mayat / rumah duka
Dalam konteks di mana layanan kamar mayat tersedia, tetapi upacara pemakaman tradisional melibatkan membawa jenazah ke rumah untuk berjaga atau melihat-lihat rumah sebelum penguburan atau kremasi, panduan di atas harus diikuti dan bisa diadaptasi sebagai berikut:
Pembersihan lingkungan
Penguburan atau kremasi
Orang yang meninggal karena COVID-19 dapat dimakamkan atau dikremasi sesuai dengan standar lokal dan preferensi keluarga.
Penguburan oleh anggota keluarga atau kematian di rumah
Dalam konteks di mana layanan kamar jenazah tidak standar atau tidak selalu tersedia, atau di mana ritual pemakaman tradisional diperlukan, keluarga dan petugas pemakaman tradisional dapat dilengkapi dan diinstruksikan dalam persiapan jenazah untuk penguburan atau kremasi.
Referensi
Acknowledgments
WHO wishes to acknowledge the following individuals for their contribution to the document:
Elizabeth Bancroft, Centers for Disease Control and Prevention, USA; Gwendolen Eamer, International
Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), Switzerland; Oran Finnegan, International Committee of the Red Cross (ICRC), Switzerland; Fernanda Lessa, Centers for Disease Control and Prevention, United States of America (USA); Shaheen Mehtar, Infection Control Africa Network, South Africa; Maria Clara Padoveze, School of Nursing, University of São Paulo, Brazil; Wing Hong Seto, Hong Kong, Special Administrative Region, China; Morris TidballBinz, International Committee of the Red Cross (ICRC), Switzerland.
From WHO:
Kamal Ait-Ikhlef, Benedetta Allegranzi, Gertrude AvortriMekdim Ayana, April Baller, Elizabeth Barrera-Cancedda, Alessandro Cassini, Giorgio Cometto, Ana Paula Coutinho Rehse, Sophie Harriet Dennis, Luca Fontana, Jonas Gonseth-Garcia,Landry Kabego, Pierre Claver Kariyo, Ornella Lincetto, Abdi Rahman Mahamud, Madison Moon, Takeshi Nishijima, Kevin Ousman, Pillar Ramon-Pardo, Alice Simniceanu Valeska Stempliuk, Maha Talaat Ismail, Joao Paulo Toledo, Anthony Twyman, Maria Van Kerkhove,Vicky Willet, Masahiro Zakoji, Bassim Zayed.WHO continues to monitor the situation closely for any changes that may affect this interim guidance. Should any factors change, WHO will issue a further update. Otherwise, this interim guidance document will expire 2 years after the date of publication.
Lampiran I: Peralatan pengelolaan jenazah dalam konteks COVID-19
Tabel 1. Perlengkapan prosedur penanganan kamar mayat jenazah COVID-19
| Peralatan | Detail |
| Kebersihan tangan |
|
| Alat pelindung diri |
|
|
Kantong pembuangan untuk limbah bio-berbahaya
|
|
Lampiran II: Ringkasan alat pelindung diri yang dibutuhkan
Tabel 2. Penggunaan alat pelindung diri dalam penanganan kamar mayat jenazah COVID-19
| Prosedur | Kebersihan tangan | Sarung tangan sekali pakai |
Masker medis
|
Respirator (N-95 atau serupa) | Gaun Berlengan panjang (isolasi |
Pelindung wajah (lebih disukai) atau anti- kacamata kabut |
Sarung tangan karet
|
Celemek
|
|
Pengepakan dan transportasi tubuh
|
Iya |
Iya
|
Iya | |||||
| Perawatan kamar mayat | Iya | Iya | iya | iya | Iya | Iya | ||
| Autopsi | Iya | Iya | iya | Iya | iya | iya | iya | |
|
observasi Keagamaan -perawatan tubuh oleh keluarga anggota
|
Iya | iya | Iya, atau celemek | Iya, atau gaun |
Sumber: © World Health Organization 2020. Some rights reserved.This work is available under the CC BY-NC-SA 3.0 IGO licence.
WHO reference number: WHO/2019-nCoV/IPC_DBMgmt/2020.2
Disarikan Oleh: dr.Novika Handayani (Divisi Mutu PKMK FKKMK UGM)
Glaukoma, khususnya glaukoma sudut terbuka primer, adalah neuropati optik kronis progresif yang ditandai dengan penipisan lapisan serat saraf retinal dan hilangnya penglihatan secara bertahap mulai dari bidang penglihatan perifer dan meluas ke penglihatan sentral pada kondisi lebih lanjut. Glaukoma adalah penyakit yang berpotensi membuat buta tetapi jika terdeteksi pada tahap awal penyakit ini dapat dikontrol, sehingga penglihatan tetap terjaga. Orang yang berisiko tinggi terkena glaukoma seringkali berasal dari populasi dengan tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan mata yang rendah, sebagian akibat faktor akses yang kurang, biaya, dan pengetahuan yang tidak memadai tentang pentingnya pelayanan kesehatan mata. Diperkirakan bahwa hampir setengah dari penderita glaukoma mungkin tidak mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit tersebut karena gejala muncul di akhir perjalanan penyakit.
Intervensi yang meningkatkan deteksi dini glaukoma, termasuk yang membuat pelayanan lebih mudah diakses dan nyaman dan yang meningkatkan pengetahuan pasien, melalui penggunaan pendidikan kesehatan mata berbasis bukti, dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan orang yang berisiko terkena glaukoma. Telemedicine yang secara khusus dimasukkan dalam deteksi dan manajemen glaukoma, adalah intervensi yang berpotensi menjangkau segmen populasi yang berisiko terkena glaukoma serta memudahkan aksesibilitas ke pelayanan kesehatan mata. Pendidikan kesehatan mata dapat dibangun menjadi interaksi antara staf klinis dan pasien, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit mata, kepatuhan untuk datang saat jadwal pemeriksaan mata yang direkomendasikan dan meningkatkan kepatuhan terhadap rekomendasi pengobatan.
Rhodes dkk telah melakukan studi dengan program bernama EQUALITY (Eye Care Quality and Accessibility Improvement in the Community) dimana program ini menggunakan edukasi kesehatan mata berbasis bukti yang secara khusus dirancang untuk mengedukasi pasien tentang glaukoma secara langsung melalui berbagai materi dan juga untuk mendidik staf klinis mata tentang glaukoma, sehingga mereka dapat dengan terampil memberikan informasi kepada pasien. Tujuan dari studi ini adalah menilai dampak program edukasi kesehatan mata terhadap program telemedicine EQUALITY tentang pengetahuan pasien berisiko tentang glaukoma dan perilaku terhadap perawatan kesehatan mata. Tujuan kedua adalah untuk menggambarkan kepuasan pasien dengan pengalaman pelayanan mata dalam program EQUALITY.
Kuesioner diberikan sebelum pasien menjalankan pemeriksaan mata komprehensif pasien dan sebelum pasien menerima program edukasi kesehatan mata berbasis bukti (melalui video, poster dan paket yang dimasukkan brosur tentang glaukoma). Setelah itu kuesioner tindak lanjut diberikan 2-4 minggu kemudian melalui telepon. Tanggapan pasien saat awal (baseline) dan tanggapan saat tindak lanjut mengenai pengetahuan tentang glaukoma dan perilaku terhadap perawatan mata dibandingkan dengan menggunakan tes McNemar. Model regresi logistik digunakan untuk menilai hubungan karakteristik tingkat pasien dengan peningkatan pengetahuan dan perilaku. Kepuasan pasien secara keseluruhan dirangkum.
Hasil menunjukkan bahwa setelah menerima program edukasi kesehatan mata tentang glaukoma, pengetahuan dari pasien berisiko glaukoma dalam program EQUALITY meningkat. Peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan pasien dalam klinik yang dapat diakses ini mungkin telah dicapai dalam penelitian ini karena penggunaan multimedia, seperti video, pamflet, dan poster, untuk menyampaikan edukasi, karena pendekatan multimedia dapat menangani berbagai gaya belajar pasien. Selain itu, program ini melatih staf klinik tentang bagaimana menyebarkan pengetahuan tentang glaukoma kepada pasien. Interaksi staf klinik dengan pasien selama pemeriksaan mata komprehensif mungkin juga membantu meningkatkan pengetahuan tentang glaukoma. Secara keseluruhan, pengetahuan mereka yang tidak bekerja atau memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung tidak meningkat.
Selain itu, hasil menunjukkan bahwa peserta EQUALITY memiliki perilaku yang secara umum positif tentang perawatan mata bahkan sebelum program edukasi kesehatan mata. Pada saat tindak lanjut, 80% pasien menyadari pentingnya pergi ke dokter mata setiap 2 tahun dan kebutuhan untuk menerima pelayanan mata meski tidak ada masalah mata. Setelah program EQUALITY, 98% peserta melaporkan niat mereka untuk melengkapi pemeriksaan mata komprehensif dalam 2 tahun ke depan. Tingginya persentase pasien yang menyatakan niat mereka ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, program edukasi kesehatan mata mungkin berhasil mencapai tujuannya untuk mengedukasi pasien yang berisiko terkena glaukoma tentang pentingnya perawatan mata rutin dalam mendeteksi glaukoma. Kedua, ada kemungkinan bahwa sifat “high technology” dari program telemedicine dengan tinjauan subspesialis pada akhir membuat mereka merasa bahwa mereka menerima pelayanan tingkat tersier tanpa harus melakukan perjalanan ke pusat tersebut.
Dalam studi ini, ditemukan juga bahwa persentase hasil kepuasan pasien tinggi yaitu 99%. Hasil ini konsisten dengan studi telemedicine glaukoma lainnya. Telemedicine adalah strategi yang mungkin untuk meningkatkan deteksi dan manajemen penyakit dengan meningkatkan akses dan kepatuhan terhadap pelayanan mata rutin. Dengan menggunakan teknologi saat ini, program telemedicine EQUALITY memungkinkan penerapan evaluasi klinis tingkat tinggi dari jarak jauh ke klinik pelayanan mata primer berbasis komunitas dan menyediakan program edukasi kesehatan mata berbasis bukti yang meningkatkan pengetahuan tentang glaukoma dan perilaku terhadap perawatan mata. Meningkatkan pengetahuan pasien tentang glaukoma dan sikap terhadap perawatan mata pada kelompok berisiko adalah penting, karena hal itu dapat meningkatkan pemanfaatan perawatan mata dan meningkatkan deteksi dini penyakit, sehingga menurunkan risiko kebutaan.
Dari studi ini, dapat kita kaitkan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang cukup menantang bagi sistem Kesehatan di seluruh dunia, dimana pelayanan kesehatan menggunakan telemedicine menjadi alternatif. Provider pelayanan kesehatan di Indonesia yang juga sudah menggunakan telemedicine untuk beberapa pelayanan. Telemedicine ataupun penggunaan konsultasi online tetap tidak menggantikan pelayanan tatap muka dokter dan pasien, tapi ini merupakan salah satu langkah untuk mengurangi risiko transmisi Covid-19 dan sebagai media edukasi kesehatan serta media untuk tetap follow-up kondisi kesehatan pasien.
Sumber: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27274329/
World Sight Day: The prevalence of visual impairment and blindness is higher in patients older than 50 years with cataract being the most frequent cause. More than 90% cases of cataract-related visual impairment and blindness are avoidable.