Pendekatan Telemedicine Dalam Rangka Menekan Penyebaran Covid-19

Penulis: Andriani Yulianti,  Divisi Mutu PKMK FK KMK UGM)

Pandemi COVID-19 saat ini memaksa banyak sistem kesehatan secara proaktif mengurangi pemberian pelayanan kesehatan untuk mengurangi kontak dengan sarana pelayanan kesehatan demi menghindari paparan virus. Terdapat kekhawatiran bahwa penangguhan pelayanan memiliki dampak kesehatan yang negatif, sehingga pemanfaatan telemedicine dapat memberikan alternatif yang layak untuk dipertimbangkan.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menghimbau rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk mengembangkan dan menggunakan pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Hal tersebut dilakukan Diyakini bahwa telemedicine merupakan pendekatan inovatif untuk mengelola situasi COVID-19.

Pelayanan telemedicine merupakan pemberian pelayanan kesehatan jarak jauh oleh profesional kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, dan pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan untuk kepentingan peningkatan kesehatan individu dan masyarakat (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2019).

Beberapa pelayanan telemedicine di era COVID-19 dengan pemberian informasi dan edukasi kesehatan, pemberian konsultasi online masalah kesehatan, pemeriksaan kesehatan di rumah dan pelayanan keperawatan, pemeriksaan rapid test di rumah, pemberian obat serta mengarahkan rujukan ke fasilitas kesehatan / Rumah Sakit.

Pelayanan telemedicine di era COVID-19 telah tertuang dalam Surat Edaran Menkes HK.02.01/MENKES/303/2020 bahwa pelayanan telemedicine merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Dokter dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendiagnosis, mengobati, mencegah, dan/atau mengevaluasi kondisi kesehatan pasien sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya, yang dibuktikan dengan surat tanda registrasi (STR) dengan tetap memperhatikan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Hasil pelayanan telemedicine dicatatkan dalam catatan digital atau manual yang dipergunakan oleh Dokter sebagai dokumen rekam medik dan menjadi tanggung jawab dokter, harus dijaga kerahasiaannya, serta dipergunakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Terdapat beberapa kewenangan klinis dokter seperti yang tertuang dalam surat edaran tersebut yakni; melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik tertentu yang dilakukan melalui audiovisual, pemberian anjuran/nasihat yang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang, dan/atau hasil pemeriksaan fisik tertentu, penegakkan diagnosis, penatalaksanaan dan pengobatan pasien, penulisan resep obat dan/atau alat kesehatan yang diberikan kepada pasien sesuai dengan diagnosis, serta penerbitan surat rujukan untuk pemeriksaan atau tindakan lebih lanjut ke laboratorium dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan sesuai hasil penatalaksanaan pasien.

Penulisan resep elektronik obat dan/atau alat kesehatan harus silakukan secara hati-hati dengan ketentuan dapat dilakukan secara tertutup atau secara terbuka, dengan ketentuan sebagai berikut: a. Penyelenggaraan resep elektronik tertutup dilakukan melalui aplikasi dari Dokter ke fasilitas pelayanan kefarmasian. b. Penyelenggaraan resep elektronik terbuka dilakukan dengan cara pemberian resep elektronik secara langsung kepada pasien. Penyelenggaraan resep secara terbuka membutuhkan kode identifikasi resep elektronik yang dapat diperiksa keaslian dan validitasnya oleh fasilitas pelayanan kefarmasian. c. Resep elektronik digunakan hanya untuk 1 (satu) kali pelayanan resep/pengambilan sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan/atau suplemen kesehatan dan tidak dapat diulang (iter).

Beberapa hal harus diperhatikan dalam implementasi telemedicine yakni memastikan jasa pengantaran, atau penyelenggara sistem elektronik kefarmasian dalam melakukan pangantaran, harus: 1) menjamin keamanan dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan/atau suplemen kesehatan yang diantar; 2) menjaga kerahasiaan pasien; 3) mengantarkan sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan/atau suplemen kesehatan dalam wadah yang tertutup dan tidak tembus pandang; 4) memastikan sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan/atau suplemen kesehatan yang diantarkan sampai pada tujuan; 5) mendokumentasikan serah terima sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan/atau suplemen kesehatan; dan 6) Pengantaran melengkapi dengan dokumen pengantaran, dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Penggunaan telemedicine tidak lepas dari beberapa tantangann yang dapat mempengaruhi keberhasilan penggunanya seperti kerahasiaan data pasien yang harus dibangun. Selain itu, efektivitas telemedicine tergantung pada kualitas gambar dan video. Dengan demikian, penyebaran telemedicine yang efektif membutuhkan ketersediaan infrastruktur yang baik untuk pasien dan dokter. Biasanya beberapa diagnosis mungkin sulit dilakukan secara virtual. Dengan demikian, penting juga bahwa perangkat lunak virtual yang digunakan untuk telemedicine harus ramah pengguna dan juga menyediakan akses ke bantuan online untuk pasien dengan kemampuan teknologi rendah.

Selain itu, praktisi medis mungkin memerlukan pengetahuan dan peningkatan keterampilan untuk dapat menggunakan teknologi dan peralatan virtual. Praktisi medis yang sudah memiliki pengetahuan sebelumnya dalam menggunakan platform virtual dapat memberikan pelatihan dan dukungan kepada pengguna staf baru lainnya. Oleh karena itu, perlu diberikan pelatihan kepada dokter dalam menggunakan telemedicine (Anthony, 2020)

Dalam sebuah penelitian lainnya juga disebutkan tantangan lainnya untuk implementasi telemedicine di Rumah Sakit yakni adanya beban regulasi (kebutuhan akan dokumentasi tambahan )dan teknis pelaksanaan yang dapat menghambat, hal ini terutama berlaku untuk sektor publik, dimana dilaporkan setidaknya sesekali kendala telemedicine dalam lingkungan kerja. Penting untuk mengurangi hambatan ini serta berinvestasi dalam infrastruktur teknis untuk memberikan perawatan optimal bagi pasien yang dirugikan karena krisis COVID-19 harus menjadi prioritas penyelenggara pemerintah. Selanjutnya aspek sosial, seperti kendala bahasa dalam percakapan audio-video langsung dan kurangnya keterampilan teknis, dapat menghambat implementasi (Yamada, et al 2020).
Contoh Implementasi telemedicine di RS Siloam

art28ags

Setelah di implementasikan, maka penting dilakukan evaluasi pelayanan kepada pasien agar dapat memberikan kesempatan perbaikan dalam penyediaan layanan kesehatan sebagai proses perbaikan yang berkelanjutan. Survei kepuasan pasien memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk memastikan apakah implementasi telemedicine telah memenuhi harapan pasien agar dapat mengekspos area yang memerlukan perbaikan menuju standar yang ditetapkan. Ini sangat penting selama meningkatnya penggunaan telemedicine untuk penyediaan layanan kesehatan di masa COVID-19.

Sumber:

  • Anthony Jnr, (2020), Use of Telemedicine and Virtual Care for Remote Treatment in Response to COVID-19 Pandemic, Nature public health emergency collection, Published online 2020 Jun 15. doi: 10.1007/s10916-020-01596-5
  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Telemedicine Antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan
  • Surat Edaran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.01/MENKES/303/2020 TAHUN 2020 tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka pencegahan penyebaran corona virus disease 2019 (COVID-19)
  • Yamada N, Aslanidis T, Ditchburn J, (2020), Telemedicine in Germany During the COVID-19 Pandemic: Multi-Professional National Survey, Journal of Medical Internet Research, Published online 2020 Aug 5. doi: 10.2196/19745

 

Perawatan Rumah Bagi Pasien yang Dicurigai atau Dikonfirmasi Covid-19 dan Pengelolaan Kontak

Panduan sementara
12 Agustus 2020

Latar Belakang

Dokumen ini adalah pembaruan dari panduan yang diterbitkan pada 17 Maret 2020 bertajuk “Perawatan rumah bagi pasien COVID-19 dengan gejala ringan dan penanganan kontak mereka”. Panduan sementara ini telah diperbarui dengan anjuran mengenai perawatan rumah yang aman dan tepat bagi pasien dengan penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) dan tindakan kesehatan bagi masyarakat terkait dengan pengelolaan kontak mereka.
Perbedaan utama dari versi sebelumnya meliputi:

  • Pertimbangan bagi dokter saat mengidentifikasi dan mendukung pasien yang dapat menerima perawatan di rumah,
  • Pertimbangan tentang persyaratan IPC yang sesuai bagi rumah tangga untuk merawat pasien COVID-19 di rumah;
  • Pemantauan dan pengobatan klinis bagi pasien COVID-19 di rumah;
  • Pengelolaan limbah di rumah dalam konteks COVID-19 dan;
  • Lampiran tentang penerapan efektif kebijakan dan pedoman perawatan di rumah bagi pasien COVID-19

Tujuan pedoman

Anjuran ini dimaksudkan untuk membimbing kesehatan masyarakat dan pencegahan dan pengendalian infeksi (infection prevention and control – IPC) secara profesional, manajer fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan tenaga terlatih berbasis komunitas saat menangani masalah terkait perawatan di rumah bagi pasien yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19, dan dengan demikian dokumen ini sebagai acuan bagi pasien yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19.

Dalam banyak konteks, layanan kesehatan diberikan pada level masyarakat dan di rumah oleh petugas kesehatan komunitas, praktisi pengobatan tradisional, pekerja sosial, atau berbagai penyedia berbasis komunitas formal dan informal, termasuk pengasuh. Untuk tujuan dokumen ini, “Pengasuh” mengacu pada orang tua, pasangan dan anggota keluarga lainnya atau teman yang memberikan perawatan informal sebagai lawan dari perawatan yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan formal ( 1 ).

Oleh karena itu penting untuk memastikan bahwa pengasuh memiliki pelatihan dan panduan yang tepat tentang cara merawat pasien serta cara meminimalkan risiko infeksi, termasuk pelatihan yang penting menegenai prosedur kebersihan dan pengenalan tanda-tanda saat kondisi pasien COVID-19 semakin memburuk dan perlu dikirim ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, petugas kesehatan dan pengasuh yang memberikan dukungan di rumah agar selalu disediakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dalam melaksanakan tugasnya dan terlatih dalam menggunakan dan melepaskan APD.

Panduan ini didasarkan pada bukti terbaru yang tersedia di manajemen klinis COVID-19, kelayakan dalam penerapan perawatan yang aman di rumah, termasuk langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC), kapasitas untuk komunikasi antara pengasuh berbasis rumah dan penyedia kesehatan komunitas, serta pasien berbasis rumah, akses ke fasilitas kesehatan. Pada lampiran disajikan strategi implementasi bagi perawatan di rumah.

Keputusan untuk merawat pasien COVID-19 di rumah

Perawatan di rumah dapat menjadi pertimbangan bagi orang dewasa atau anak yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19 pada saat rawat inap tidak tersedia atau tidak aman (misalnya saat kapasitas layanan kesehatan tidak dapat memenuhi permintaan untuk layanan perawatan kesehatan). Pasien yang telah keluar dari rumah sakit juga dapat dirawat di rumah, jika perlu.

Merawat orang yang terinfeksi di rumah, bukan di fasilitas medis atau khusus lainnya, meningkatkan risiko penularan virus pada orang lain di rumah. Namun, isolasi untuk orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 yang penyebabkan COVID-19 dapat memberikan kontribusi penting untuk memutus rantai penularan virus. Keputusan mengenai apakah akan mengisolasi dan merawat orang yang terinfeksi di rumah bergantung pada tiga faktor berikut: 1) evaluasi klinis pasien COVID-19, 2) evaluasi mengenai pengaturan di rumah dan 3) kemampuan untuk memantau perkembangan klinis seseorang dengan COVID-19 di rumah.

1. Evaluasi klinis pasien COVID-19

Keputusan untuk mengisolasi dan memantau pasien COVID-19 di rumah harus dibuat berdasarkan kasus per kasus. Evaluasi klinis mereka harus mencakup:

  • presentasi klinis
  • segala persyaratan untuk mendukug perawatan
  • Faktor risiko penyakit parah (yaitu usia (>60 tahun), merokok, obesitas dan penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronis, penyakit ginjal kronis, imunosupresi dan kanker) (4)

Pasien tanpa gejala atau mereka dengan penyakit ringan atau sedang tanpa faktor risiko bagi terjadinya output yang buruk mungkin tidak memerlukan intervensi darurat atau rawat inap, dan mungkin cocok untuk isolasi dan perawatan di rumah, apabila dua persyaratan berikut ini terpenuhi di lingkungan rumah:

  1. kondisi untuk menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) yang sesuai seperti yang diuraikan dalam dokumen ini terpenuhi;
  2. pemantauan ketat untuk setiap tanda atau gejala penurunan kondisi kesehatan mereka oleh tenaga kesehatan yang terlatih dapat dilaksanakan (4).

Kedua persyaratan ini juga berlaku bagi wanita hamil, wanita nifas, dan anak-anak. Pastikan ketentuan mengenai APD yang memadai dan sesuai bagi pasien dan pengasuh (4,5).

2. Evaluasi pengaturan rumah

Seorang pekerja kesehatan yang terlatih harus menilai apakah rumah tersebut sesuai untuk isolasi dan pemberian perawatan untuk pasien COVID-19, termasuk apakah pasien, pengasuh dan / atau anggota rumah tangga lainnya memiliki semua yang mereka butuhkan untuk mematuhi rekomendasi isolasi perawatan di rumah. Misalnya, mereka membutuhkan perlengkapan kebersihan tangan dan pernapasan, bahan pembersih lingkungan, kemampuan untuk penekanan dan patuh untuk membatasi pergerakan orang di sekitar atau dari rumah. Kemampuan dalam menangani permasalahan keamanan seperti tertelan secara tidak sengaja dan bahaya kebakaran berkenaan dengan pengunaan pembersih tangan berbasis alkohol dan produk pembersih juga perlu dipertimbangkan dalam penilaian.

Terbatas atau ada tidaknya akses air bersih dan sanitasi, serta sumber daya untuk pembersihan dan disinfeksi dan kebersihan yang beresiko bagi pengasuh dan anggota masyarakat dalam penularan COVID-19. Kementerian kesehatan dan mitra lintas sektoral di tingkat nasional dan subnasional harus terlibat dengan masyarakat dan aktor lain untuk mengidentifikasi dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan, menerapkan strategi komunikasi risiko untuk memberikan dukungan, dan melihat ke konteks lain untuk solusi yang memungkinkan untuk memastikan bahwa tindakan pengukuran pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC), seperti yang dijelaskan dalam bagian selanjutnya dari dokumen ini, dapat dipenuhi dalam memberikan perawatan yang aman dan bersih di rumah (6).

Anak-anak sebisa mungkin tetap bersama pengasuh mereka dan hal ini harus diputuskan melaui konsultasi dengan pengasuh dan anak. Untuk mempersiapkan keluarga dengan anak-anak dari potensi penyakit dalam sebuah keluarga, focal point perlindungan komunitas dan pekerja sosial harus membantu keluarga merencanakan dan menyetujui sebelumnya tentang bagaimana mereka akan merawat anak-anak jika pengasuh utama jatuh sakit. Anak-anak yang tinggal dengan pengasuh utama yang sudah tua, cacat atau memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya harus diprioritaskan (7-9).

Jika orang-orang ini atau orang-orang rentan lainnya ada di lingkungan rumah dan tidak dapat dipisahkan dari pasien, maka petugas kesehatan harus menawarkan lokasi alternatif untuk isolasi pasien jika tersedia (10).

Jika isolasi yang memadai dan penilaian pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) tidak dapat terpenuhi di rumah, maka isolasi mungkin perlu diatur, dengan persetujuan dari pasien, dan persetujuan dari pengasuh, dan anggota keluarga di fasilitas komunitas yang memadai yang ditunjuk, (seperti hotel yang telah ditata ulang, stadion atau gimnasium) atau di fasilitas kesehatan (1,5,10-12).

21agsmutu

3. Kemampuan memantau evolusi klinis seorang pasien dengan COVID-19 di rumah

Pastikan pasien dapat dipantau secara memadai di rumah. Perawatan berbasis rumah harus disediakan oleh tenaga kesehatan
jika memungkinkan. Jalur komunikasi antara pengasuh dan petugas kesehatan terlatih atau personel kesehatan masyarakat atau keduanya, harus ditetapkan selama periode perawatan di rumah, yaitu sampai gejala pasien telah diselesaikan sepenuhnya. Memantau pasien dan pengasuh di rumah dapat dilakukan oleh pekerja komunitas yang terlatih atau menjangkau tim melalui telepon atau email (1,6).

Nasihat bagi petugas kesehatan yang memberikan perawatan secara pribadi
rumah

1. Tindakan IPC untuk tenaga kesehatan

Petugas kesehatan harus mengambil tindakan berikut saat memberikan perawatan di rumah:

  • Melakukan penilaian risiko untuk menentukan APD yang sesuai yang mereka butuhkan saat merawat serta sabar dan ikuti anjuran untuk tindakan pencegahan dan kontak droplet (5,14).
  • Pasien harus ditempatkan di tempat yang berventilasi memadai kamar dengan ruangannya yang besar segar dan udara luar bersih untuk mengontrol kontaminan dan bau (15).
  • Pertimbangkan untuk menggunakan ventilasi alami, dengan membuka jendela jika memungkinkan dan aman untuk melakukannya.
  • Untuk sistem mekanis, tingkatkan persentase udara luar ruangan, menggunakan mode economizer dari HVAC operasi dan berpotensi setinggi 100% (16).
  • Jika pemanas, ventilasi, dan AC (HVAC) sistem digunakan, mereka harus diperiksa secara teratur, dipelihara, dan dibersihkan. Standar yang ketat untuk pemasangan dan pemeliharaan sistem ventilasi penting untuk memastikan bahwa mereka efektif dan berkontribusi pada lingkungan yang aman (16).
  • Penggunaan kipas angin untuk sirkulasi udara harus dihindari jika mungkin kecuali dalam satu kamar hunian ketika tidak ada orang lain yang hadir. Jika penggunaan kipas angin tidak dapat dihindari, tingkatkan tukar udara luar dengan membuka jendela dan meminimalkan udara bertiup dari satu orang langsung ke orang lain (15,16).
  • Batasi jumlah anggota rumah tangga yang hadir selama setiap kunjungan dan permintaan agar mereka menjaga jarak pada minimal 1 meter (m) dari petugas kesehatan.
  • Saat memberikan perawatan atau bekerja dalam jarak 1m dari pasien meminta agar pasien memakai masker medis. e Orang yang tidak bisa mentolerir masker medis harus mempraktikkan kebersihan pernapasan yang ketat; misalnya adalah, batuk atau bersin ke siku atau jaringan yang tertekuk dan kemudian segera membuang tisu diikuti dengan kebersihan tangan (5,17 )
  • Lakukan kebersihan tangan setelah semua jenis kontak dengan pasien atau lingkungan terdekatnya dan menurut WHO 5 momen (18) . Kesehatan pekerja harus membawa persediaan alkohol- berbasis gosok tangan untuk penggunaannya.
  • Saat mencuci tangan dengan sabun dan air, gunakan handuk kertas sekali pakai untuk mengeringkan tangan. Jika handuk kertas tidak tersedia, gunakan handuk kain bersih dan ganti sesering mungkin (18,19).
  • Memberikan instruksi kepada pengasuh dan anggota rumah tangga tentang cara membersihkan dan mendisinfeksi rumah, serta tentang penggunaan dan penyimpanan yang aman dan benar bahan pembersih dan disinfektan (19) .
  • Bersihkan dan disinfeksi peralatan yang dapat digunakan kembali yang digunakan di perawatan pasien sebelum digunakan pada pasien lain sesuai dengan yang ditetapkan protokol kewaspadaan standar( 20) .
  • Lepaskan APD dan bersihkan tangan sebelumnya meninggalkan rumah dan membuang APD sekali pakai. Bersihkan dan mendisinfeksi item yang dapat digunakan kembali (misalnya pelindung mata) atau simpan item yang dapat digunakan kembali untuk dekontaminasi nanti sesuai dengan protokol yang ditetapkan (20) .
  • Jangan menggunakan kembali APD sekali pakai (21 ).
  • Buang limbah yang dihasilkan dari pemberian perawatan kepada pasien sebagai limbah infeksius dalam kantong yang kuat atau kotak pengaman yang sesuai, tutup sepenuhnya dan keluarkan dari rumah (14).
  • Untuk panduan lebih lanjut tentang pengelolaan limbah di pengaturan komunitas, silakan merujuk ke Air, sanitasi, kebersihan dan pengelolaan limbah untuk virus covid-19.

2. Pertimbangan klinis untuk perawatan berbasis rumah pasien dengan COVID-19 ringan atau sedang

Pengobatan simtomatik

WHO merekomendasikan agar pasien dengan COVID-19 menerima pengobatan untuk gejala mereka, seperti antipiretik untuk demam dan rasa sakit (menurut petunjuk pabrik) serta nutrisi yang cukup dan rehidrasi yang tepat (4). WHO menyarankan agar profilaksis atau pengobatan antibiotik untuk pasien dengan COVID-19 ringan. Untuk penderita sedang COVID-19, antibiotik tidak boleh diresepkan kecuali ada kecurigaan klinis dari infeksi bakteri (4) . Untuk detail tentang resep antimikroba, silakan lihat pedoman dari WHO: Penatalaksanaan klinis COVID -19. Di daerah dengan infeksi endemik lain yang menyebabkan demam (mis seperti influenza, malaria, demam berdarah, dll.), pasien demam harus mencari perawatan medis, diuji dan dirawat bagi mereka yang endemik Infeksi sesuai dengan protokol rutin , terlepas adanya tanda dan gejala pernapasan.

Manajemen suplai obat untuk penderita penyakit kronis

pasien COVID-19 dengan penyakit tidak menular atau kondisi kronis lainnya yang harus menerima perawatan berbasis rumah
memiliki persediaan obat yang memadai (mis. pasokan obat 6 bulan sebagai pengganti pasokan 60-90 hari biasa). Orang yang lebih tua harus memiliki minimal persediaan obat-obatan kritis selama 2 minggu. Ulangi resep dan mekanisme penyampaian isi ulang harus tersedia (6) .

Pantau gejala yang memburuk secara teratur

Beri tahu pasien COVID-19 dan pengasuhnya tentang tanda dan gejala komplikasi atau cara mengenali kemunduran status kesehatan mereka yang membutuhkan perhatian pengobatan. Pantau ini secara teratur, idealnya sekali sehari. Misalnya, jika gejala pasien menjadi jauh lebih buruk (seperti seperti pusing, kesulitan bernapas, nyeri dada, dehidrasi, dll.) dari penilaian klinis awal, dia harus diarahkan untuk mencari perawatan segera (4) . Pengasuh anak-anak dengan COVID-19 juga harus memantau pasien mereka dengan tanda dan gejala klinis kerusakan yang membutuhkan evaluasi ulang segera. Ini termasuk kesulitan bernapas / pernapasan cepat atau dangkal, bibir atau wajah biru, nyeri atau tekanan dada, kebingungan baru, serta ketidakmampuan untuk bangun, berinteraksi saat bangun, minum atau menahan cairan. Untuk bayi termasuk: mendengus dan ketidakmampuan untuk menyusui (4) . Oksimetri nadi di rumah adalah cara yang aman dan non-invasif untuk menilai saturasi oksigen dalam darah dan dapat mendukung identifikasi sejak dini kadar oksigen rendah pada pasien dengan permulaan COVID-19 ringan atau sedang atau hipoksia diam, saat pasien tidak tampak seperti sesak napas tetapi oksigennya level lebih rendah dari yang diharapkan. Oksimetri nadi rumah bisa mengidentifikasi individu yang membutuhkan evaluasi medis, oksigen terapi atau rawat inap, bahkan sebelum menunjukkan tanda bahaya klinis atau gejala yang memburuk (22,23) .

Perawatan paliatif di rumah

Termasuk perawatan paliatif tetapi tidak terbatas pada perawatan akhir kehidupan. Perawatan paliatif adalah pendekatan multifaset yang terintegrasi meningkatkan kualitas hidup orang dewasa dan pasien anak dan keluarga mereka menghadapi masalah yang terkait dengan kehidupan- penyakit yang mengancam. Semua petugas kesehatan yang merawat COVID-19 pasien harus dapat menawarkan perawatan paliatif dasar, termasuk meredakan sesak napas (dispnea) atau gejala lainnya, dan dukungan sosial, ketika perawatan seperti itu diperlukan ( 4 ). Upaya harus dibuat untuk memastikan bahwa intervensi paliatif dapat diakses pasien, termasuk akses ke obat-obatan, peralatan, manusia sumber daya dan dukungan sosial di rumah. Perawatan paliatif intervensi dijelaskan secara rinci dalam pedoman WHO berjudul Mengintegrasikan perawatan paliatif dan meredakan gejala ke dalam tanggapan terhadap keadaan darurat dan krisis kemanusiaan.

3. Membebaskan pasien COVID-19 dari isolasi di rumah

Pasien COVID-19 yang telah keluar dari rumah sakit harus terus dirawat di rumah. termasuk individu yang telah pulih secara klinis dari penyakit kritis atau parah dan atau mungkin tidak lagi menular. Pasien yang dirawat di rumah harus diisolasi sampai mereka tidak lagi menular (5,8):

  • Untuk orang tanpa gejala: 10 hari setelah pengujian positif.
  • Pasien COVID-19 yang menerima perawatan di rumah atau telah keluar dari rumah sakit harus tetap di isolasi minimal 10 hari setelah gejala muncul, ditambah setidaknya 3 hari tambahan tanpa gejala (termasuk tanpa demam dan tanpa gejala pernapasan) (4,24 ).
  • Petugas kesehatan perlu membangun sarana komunikasi dengan pengasuh individu dengan COVID-19 selama masa isolasi.

4. Manajemen kontak

Kontak adalah seseorang yang pernah mengalami salah satu kontak berikut dengan kasu yakni selama dua hari sebelum dan 14 hari setelah timbulnya gejala yang mungkin terjadi atau dikonfirmasi kasus: 1. kontak tatap muka dengan kemungkinan atau dikonfirmasi kasus dalam 1 meter dan setidaknya 15 menit; 2. Langsung kontak fisik dengan kasus yang mungkin atau terkonfirmasi; 3. Langsung merawat pasien dengan kemungkinan atau dikonfirmasi COVID-19 penyakit tanpa menggunakan alat pelindung diri yang direkomendasikan; 4. situasi lain yang ditunjukkan oleh lokal penilaian risiko.

Kontak harus tetap dikarantina di rumah dan dipantau kesehatan mereka selama 14 hari sejak hari terakhir kemungkinan kontak dengan orang yang terinfeksi (12) . Panduan tindak lanjut dan manajemen kontak dapat ditemukan di Kesehatan masyarakat pengawasan untuk COVID-19.

Saran pencegahan infeksi untuk pengasuh yang memberikan perawatan di rumah Pengasuh, anggota keluarga dan individu dengan COVID-19 yang mungkin atau terkonfirmasi harus menerima dukungan dari petugas kesehatan terlatih. Pengasuh dan anggota keluarga harus menerima bimbingan dari tenaga kesehatan yang terlatih tentang cara mematuhi rekomendasi pencegahan infeksi untuk tenaga kesehatan serta mengikuti tambahan rekomendasi berikut ini:

  • Batasi pergerakan pasien di sekitar rumah dan meminimalkan ruang bersama. Pastikan ruang bersama (misalnya dapur, kamar mandi) berventilasi baik. (5,15).
  • Anggota rumah tangga harus menghindari memasuki ruangan di mana pasien berada atau, jika tidak memungkinkan, pertahankan jarak setidaknya 1m dari pasien (misalnya tidur di tempat tidur terpisah) f (5) .
  • Batasi jumlah pengasuh. Idealnya, tetapkan satu orang yang dalam keadaan sehat dan tidak memiliki kondisi kronis dasar (4,5) .
  • Pengunjung tidak diperbolehkan berada di rumah sampai orang telah sembuh total, tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala COVID-19 dan telah dilepaskan dari isolasi.
  • Lakukan kebersihan tangan sesuai dengan anjuran WHO dengan 5 moment (18). Kebersihan tangan juga harus dilakukan sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan kapan pun tangan terlihat kotor. Jika tangan tidak terlihat kotor, alkohol- berbasis gosok tangan dapat digunakan. Untuk tangan yang terlihat kotor, selalu gunakan sabun dan air.
  • Masker medis 4 harus disediakan untuk pasien, dipakai sebanyak mungkin oleh pasien dan diganti setiap hari dan kapan pun basah atau kotor dari sekresi. Individu harus berlatih kebersihan pernapasan dengan ketat; yaitu, batuk atau bersin dengan menekukkan siku atau menggunakan tisu lalu segera dibuang lalu diikuti dengan kebersihan tangan (5,17).
  • Bahan yang digunakan harus menutupi mulut dan hidung dan harus dibuang atau dibersihkan dengan benar setelah digunakan (mis cuci sapu tangan dengan sabun atau deterjen biasa dan air).
  • Pengasuh harus memakai masker medis yang menutupi mulut dan hidung mereka ketika mereka berada di ruangan yang sama dengan pasien COVID-19. Masker tidak boleh disentuh dengan tangan selama digunakan. Jika masker basah atau kotor karena sekresi, maka harus segera diganti dengan masker baru yang bersih dan kering. Lepaskan masker menggunakan teknik yang sesuai, yaitu melepaskannya tanpa menyentuh bagian depan masker, untuk membuangnya segera setelah digunakan dan kemudian melakukan kebersihan tangan (17,21).
  • Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh pasien, terutama sekresi oral atau pernapasan, dan tinja. Gunakan sarung tangan sekali pakai dan masker saat menyediakan perawatan mulut atau pernapasan, dan saat menangani tinja, urine dan limbah lainnya. Lakukan kebersihan tangan sebelumnya memakai masker dan sarung tangan dan setelah melepas sarung tangan dan topeng (5).
  • Jangan menggunakan kembali masker atau sarung tangan medis (kecuali sarung tangan adalah produk yang dapat digunakan kembali seperti sarung tangan utilitas) (19,21).
  • Sarung tangan dan pakaian pelindung (misalnya celemek plastik) harus digunakan saat membersihkan permukaan atau penanganan pakaian atau linen yang terkena cairan tubuh. Bergantung sesuai konteksnya, kenakan sarung tangan utilitas atau sekali pakai (19).
  • Bersihkan dan desinfeksi permukaan yang sering disentuh di ruangan tempat pasien dirawat, seperti meja samping tempat tidur, rangka tempat tidur, dan lainnya misalnya furnitur kamar tidur setidaknya sekali sehari. Bersihkan dan desinfeksi permukaan kamar mandi dan toilet setidaknya sekali sehari. Seharusnya sabun atau deterjen rumah tangga biasa digunakan pertama kali untuk membersihkan, dan kemudian, setelah dibilas, disinfektan rumah tangga biasanya mengandung 0,1% natrium hipoklorit (setara dengan 1000 ppm) harus diterapkan dengan menyeka permukaan (19).
  • Gunakan linen khusus dan peralatan makan untuk pasien; barang-barang ini harus dibersihkan dengan sabun dan air setelah digunakan dan dapat digunakan kembali sebagai pengganti dibuang (8 ).
  • Tempatkan linen yang terkontaminasi ke dalam kantong cucian. Jangan digoyang cucian kotor dan hindari bahan yang terkontaminasi bersentuhan dengan kulit dan pakaian (19).
  • Membersihkan pakaian pasien, sprei, handuk mandi dan tangan menggunakan sabun cuci biasa dan air, atau cuci mesin pada 60–90 ° C (140–194 ° F) dengan deterjen rumah tangga biasa dan keringkan seluruhnya ( 19).
  • Setelah digunakan, sarung tangan utilitas harus dibersihkan dengan sabun dan air dan didekontaminasi dengan natrium 0,1% larutan hipoklorit. Sarung tangan sekali pakai (misalnya, nitril atau lateks) harus dibuang setelah digunakan. Melakukan kebersihan tangan sebelum memakai dan setelah melepas sarung tangan (19) .
  • Limbah yang dihasilkan di rumah saat merawat pasien COVID- 19 selama masa pemulihan harus dikemas dalam tas yang kuat dan ditutup rapat sebelum menempatkan pada jasa pembuangan dan pengumpulan sampah kota (*Jika layanan seperti itu tidak ada, sampah mungkin dikuburkan. Membakar adalah opsi yang paling tidak disukai, karena itu buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan (5,19 ).
  • Hindari jenis paparan lain terhadap barang yang terkontaminasi dari lingkungan terdekat pasien (mis. Lakukan tidak berbagi sikat gigi, rokok, peralatan makan, barang pecah belah, handuk, waslap atau sprei) (5) .

Ucapan Terima Kasih

Dokumen ini dikembangkan setelah berkonsultasi dengan WHO Jaringan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Global Ad-hoc, dan pakar internasional lainnya.

Referensi

  1. Support home and community-based care. Social Science in Humanitarian Action Platform: 2020 (https://www.socialscienceinaction.org/resources/covid-19-strategies-to-support-home-and-community-based-care/ accessed 20 July 2020).
  2. World Health Organization. Health employment and economic growth: an evidence base. Geneva: World Health Organization; 2017 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/326411. accessed 25 June 2020)
  3. Vita-Finzi L, Campanini B, editors. Working together for health: the world health report: 2006. Geneva: World Health Organization; 2006 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/43432 accessed 25 June 2020)
  4. World Health Organization. Clinical management of COVID-19:interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/332196 accessed 8 June 2020)
  5. World Health Organization. Home care for patients with Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection presenting with mild symptoms and management of contacts: interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2018 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/272948 accessed 26 January 2020)
  6. World Health Organization & United Nations Children’s Fund (UNICEF). (2020). Community-based health care, including outreach and campaigns, in the context of the COVID-19 pandemic: interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/331975 accessed 26 June 2020)
  7. Better Care Network, The Alliance for Child Protection in Humanitarian Action, United Nations Children’s Fund (UNICEF). Protection of children during the COVID-19 Pandemic 2020 (https://www.unicef.org/sites/default/files/2020-05/COVID-19-Alternative-Care-Technical-Note.pdf accessed 21 July 2020
  8. The Allliance for Child Protection in Humanitarian Action.Technical Note: Protection of children during the coronoavirus pandemic v.2 2020 (https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/the_alliance_covid_19_tn_version_2_05.27.20_final.pdf accessed 21 July 2020)
  9. Fischer, HT, Elliott L, Bertrand SL. Guidance Note: Protection of children during infectious disease outbreaks. The Alliance for Child Protection in Humanitarian Action 2019 (https://alliancecpha.org/en/system/tdf/library/attachments/cp_during_ido_guide_0.pdf?file=1&type=node&id=30184 accessed 21 July 2020)
  10. Chan EYY, Gobat N, Hung H et al. A review on implications of home care in a biological hazard: The case of SARS-CoV-2/COVID-19. Collaborating Centre for Oxgford University and CUHK for Disaster and Medical Humanitarian Respone CCOUC 2020 (Health-Emergency and Disaster Risk Management Technical Brief Series #202001 http://www.ccouc.ox.ac.uk/_asset/file/a-review-on-implications-of-home-care-in-a-biological-hazard.pdf. accessed 21 July 2020)
  11. World Health Organization. Severe acute respiratory infections treatment centre: practical manual to set up and manage a SARI treatment centre and SARI screening facility in health care facilities. Geneva: World Health Organization; 2020 ( https://www.who.int/publications/i/item/10665-331603 accessed 21 July 2020)
  12. World Health Organization. Considerations for quarantine of individuals in the context of containment for coronavirus disease (COVID-19) Geneva: World Health Organization; 2020 ( https://apps.who.int/iris/handle/10665/331497 accessed 26 June 2020)
  13. World Health Organization. Infection prevention and control of epidemic- and pandemic prone acute respiratory diseases in health care. Geneva: World Health Organization; 2014 https://apps.who.int/iris/handle/10665/112656 accessed 26 January 2020)
  14. World Health Organization. Infection prevention and control during health care for probable or confirmed cases of Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection: interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2019. (https://apps.who.int/iris/handle/10665/174652 accessed 26 January 2020)
  15. World Health Organization. Natural ventilation for infection control in health-care settings. Geneva: World Health Organization; 2009. (https://apps.who.int/iris/handle/10665/44167 accessed 26 January 2020)
  16. American Society of Heating, Refigeration and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE)[Internet]. Reopening of schools and universities. 2020 (https://www.ashrae.org/technical-resources/reopening-of-schools-and-universities accessed 10 Aug 2020)
  17. World Health Organization Advice on the use of masks in the context of COVID-19. Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/331693 accessed 26 Jun2020)
  18. World Health Organization and WHO Patient Safety. WHO guidelines on hand hygiene in health care. Geneva: World Health Organization; 2009 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/44102 accessed 20 January2020).
  19. World Health Organization & United Nations Children’s Fund (UNICEF). Water, sanitation, hygiene and waste management for SARS-CoV-2, the virus that causes COVID-19: interim guidance Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/333560 accessed 17 July 2020).
  20. World Health Organization. Aide-memoire for infection prevention and control in a health care facility. Geneva: World Health Organization; 2004 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/130165 accessed 17 July 2020)
  21. World Health Organization. (2020). Rational use of personal protective equipment for coronavirus disease (COVID-19) and considerations during severe shortages: interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/331695 accessed 18 June 2020)
  22. Jouffroy R, Jost D, Prunet B. Prehospital pulse oximetry: A red flag for early detection of silent hypoxemia in COVID-19 patients. Critical Care. 2020; 24:313 (https://doi.org/10.1186/s13054-020-03036-9 accessed 26 July 2020)
  23. Shah,S, Majmudar K, Stein A, Gupta N, Suppes S, Karamanis M, Capannar J, Sethi S, Patte C. Novel Use of Home Pulse Oximetry Monitoring in COVID-19 Patients Discharged From the Emergency Department Identifies Need for Hospitalization. Academic emergency medicine: official journal of the Society for Academic Emergency Medicine, 17 June 2020 (https://doi.org/10.1111/acem.14053 accessed 26 July 2020)
  24. World Health Organization. Criteria for releasing COVID-19 patients from isolation: scientific brief. Geneva: World Health Organization; 2020 (https://apps.who.int/iris/handle/10665/332451 accessed 26 June 2020)
  25. Van Bavel JJ, Baicker K, Boggio PS, Capraro V, Cichocka A, Cikara M, et al. Using social and behavioural science to support COVID-19 pandemic response. Nature Human Behaviour. 2020 4:460-471 (https://doi.org/10.1038/s41562-020-0884-z accessed 21 July 2020)
  26. Chan EYY, Gobat N, Kim JH, Newnham EA, Huang Z, Hung H, et al. Informal home care providers: the forgotten health-care workers during the COVID-19 pandemic. The Lancet. 2020 395(10242):1957-1959 (DOI: 10.1016/s0140-6736(20)31254-x accessed 21 July 2020)
  27. CORE Group. Home-based care: Reference guide for COVID-19. 2020 (https://coregroup.org/home-based-care-reference-guide-for-covid-19/ accessed 21 Jul 2020)

Lampiran: Penerapan kebijakan perawatan di rumah dan pedoman

Kebijakan dan pedoman terkait perawatan di rumah untuk pasien yangdikonfirmasi atau dicurigai COVID-19 tentu saja akan ditafsirkan dan diterapkan di tingkat nasional dan lokal pada negara. Konteks dan kebutuhan rumah tangga akan bervariasi; oleh karena itu, direkomendasikan pendekatan yang disesuaikan untuk informasi dan dukungan paket untuk perawatan di rumah.

Sistem kesehatan dan sosial

Penerapan pedoman dan kebijakan untuk perawatan berbasis rumah bagi orang dengan COVID-19 harus, sebisa mungkin, dibangun dari layanan kesehatan masyarakat dan rumah sakit dan sektor masyarakat lainnya, termasuk sektor sosial dan swasta.
Dengan cara ini, implementasi kebijakan dapat memanfaatkan aset yang sudah ada. Contoh inovatif dari adaptasi layanandari belahan dunia lain dapat dan harus dibagikan secara luas (Lihat kotak 2).

Informasi dan Komunikasi

Penyediaan informasi yang jelas dan konsisten tentang COVID-19, termasuk cara penyebarannya dan cara mencegah penularan di rumah, adalah bagian penting dari penerapan panduan ini. Informasi harus disesuaikan untuk kelompok yang berbeda, tersedia dalam bahasa lokal, diekspresikan dalam teks yang sederhana dan jelas dan gambar menarik yang bercerita kepada penduduk lokal. Gambar-gambar harus menyertakan orang tua dan anak muda, orang dari kelompok etnis yang berbeda, dan penyandang disabilitas. Gambar nyata mungkin lebih disukai. Informasi in juga dilengkapi dengan detail tentang di mana mereka bisa mendapatkan informasi tentang COVID-19 dan perawatan di rumah, serta di mana pengasuh dan anggota rumah tangga dapat mengakses dukungan untuk mereka sendiri. Informasi publik ini harus mencakup anjuran mengenai cara mengikuti rekomendasi WHO dan pada umumnya yang paling baik diberikan melalui interaksi dua arah.

Pahami kebutuhan dukungan rumah tangga

Informasi saja tidak cukup untuk memastikan praktik pengendalian infeksi yang baik dan kepatuhan terhadap tindakan yang direkomendasikan dan perilaku di rumah untuk mencegah penularan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan orang untuk mengikuti panduan yang direkomendasikan, termasuk persepsi mereka tentang risiko terinfeksi, keyakinan mereka tentang COVID-19 dan perawatan COVID-19, sikap dan keyakinan mereka tentang efektivitas rekomendasi, dan sejauh mana rekomendasi tersebut praktis dan layak di lingkungan tempat tinggal mereka (25). Faktor-faktor ini juga dapat berubah seiring waktu. Selanjutnya, sakit atau tinggal bersama anggota keluarga yang sakit dapat memicu respons emosional yang kuat. Anggota keluarga merasa marah, takut dan kesal, yang mempengaruhi cara berhubungan satu sama lain dan kesehatan mental mereka. Keluarga mungkin membutuhkan dukungan praktis, seperti bantuan makanan, air dan obat-obatan. Memahami faktor-faktor ini akan membantu pihak berwenang mengembangkan paket dukungan yang disesuaikan untuk keluarga yang terdampak. Misalnya, pihak berwenang dapat mempertimbangkan pengiriman persediaan medis, makanan, dll. ke rumah mengurangi pergerakan keluarga.

Kebutuhan penyedia perawatan

Pengasuh utama pasien COVID-19 mungkin memiliki kebutuhan khusus yang membutuhkan dukungan. Pengasuh ini mungkin juga bertanggung jawab untuk merawat anggota keluarga lainnya, seperti orang tua, dewasa atau anak-anak disabilitas, atau dengan anak kecil (26) . Selanjutnya, mereka mungkin memiliki tanggung jawab sendiri, seperti bekerja atau sekolah, dan kerentanan mereka sendiri, seperti kondisi kronis (10). Wanita secara tidak proporsional menanggung beban pekerjaan perawatan yang tidak dibayar, termasuk dalam memberikan perawatan kepada mereka yang sakit di rumah dan kepada anggota keluarga lainnya. Ini termasuk wanita lansia yang merawat anak-anak kecil atau anak dewasa. Perhatian khusus harus diberikan kepada keluarga yang dipimpin oleh seorang wanita lajang yang harus berhenti bekerja untuk merawat kerabat yang sakit. Implementasi kebijakan dan panduan perawatan di rumah harus memperhitungkan kebutuhan pengasuh ini. Misalnya penilaian terhadap rumah tangga awal untuk menentukan kebutuhan dukungan primer pengasuh (1,2,6 ).

Kebutuhan tenaga kesehatan

Petugas kesehatan komunitas akan menjadi poin utama yang mnejadi penghubung antara rumah tangga dan fasilitas perawatan kesehatan (6) . Untuk memberikan dukungan yang efektif kepada rumah tangga, para petugas kesehatan tersebut harus diberikan pelatihan dan alat praktis untuk membantu mereka (1) . Misalnya, alat ini dapat mencakup paket informasi yang mudah digunakan, alat penilaian, daftar cek list, dan peralatan kit kebersihan khusus. Petugas kesehatan komunitas bisa juga memberi dukungan pada rumah tangga dengan memastikan mereka menerima bantuan sosial tepat waktu. Selain itu, memperlengkapi komunitas petugas kesehatan dengan pendekatan sederhana untuk menyediakan Dukungan psikososial juga membantu memenuhi kebutuhan pasien. Pada saat yang sama, kesehatan mental petugas kesehatan masyarakat perlu diperhatikan, terutama saat menghadapi stigma, kelelahan dan kesusahan.

Faktor dan kendala lingkungan

Saat merumuskan pedoman nasional dan lokal di negara, rekomendasi tentang pengendalian dan penularan infeksi pencegahan di rumah dapat dilakukan di lingkungan rumah. Misalnya di banyak belahan dunia, dimana air bersih yang mengalir tidak mudah dijangkau, alternatif pendekatan untuk kebersihan tangan, seperti keran buatan rumah, dibutuhkan (27) .

Isolasi orang dengan COVID-19 secara fisik tidak mungkin bisa dilaksanakan dalam rumah tangga dengan beberapa keluarga yang tinggal didalamnya. Apalagi di rumah tangga antargenerasi, anggota keluarga yang rentan mungkin buth perlindungan atau pengaturan alternatif untuk orang yang sakit atau anggota keluarga yang rentan ini.

Translate by: Andriani Yulianti (Divisi Mutu PKMK FKKMK UGM)

 

Reportase Rekam Medis untuk Meningkatkan Mutu Tata Laksana Pelayanan Klinis

19ags2Minimnya tenaga rekam medis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer (FKTP) banyak dikeluhkan oleh tenaga kesehatan, hal ini berdampak pada rendahnya kualitas RM. Kualitas RM menjadi bukti tata laksana layanan medis, keperawatan maupun kebidanan yang baik.

Audit rekam medis penting dilakukan untuk menilai mutu layanan yang diberikan oleh Nakes di FKTP, dilakukan dalam bentuk audit klinis. Standar akreditasi menyebutkan bahwa, audit klinis minimal dilakukan sekali dalam setahun. Secara fakta, audit klinis dapat dilakukan lebih dari itu.

Continue reading

Reportase Bimtek Pengisian Resume Medis

19ags

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) telah menyelenggarakan Bimtek Pengisian Resume Medis pada tanggal 10-11 Agustus lalu, fasilitator Bimtek dr. Endang Suparniati, M.Kes dan Eva tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH. Bimtek ini diselenggarakan karena adanya temuan di fasilitas pelayanan kesehatan bahwa pengisian resume medis sering tidak lengkap sehingga terjadi klaim pending.

Continue reading

FORUM MUTU IHQN KE-16

Mutu Pelayanan Kesehatan dalam Pandemi COVID-19
Dengan Tema “lesson learn dari Pandemi COVID-19”

Bekerja sama dengan: Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB)
Didukung oleh: Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM

23–26 November 2020 secara Online 

PENGANTAR

Corona virus telah ditetapkan sebagai bencana nasional melalui KEPPRES No 12 Tahun 2020 sebagai bencana non alam,1 dan World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai Global Pandemic per tanggal 11 Maret 2O2O dan dikategorikan sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh virus bernama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 [SARS-CoV-2].

COVID-19 tidak hanya sebatas bencana tetapi mempunyai dampak yang sangat luas terhadap tata kelola klinis dan tata kelola manajemen sehingga penting agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tetap dapat menyediakan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan konsep mutu yang dikeluarkan oleh WHO Tahun 2019 yakni mewujudkan layanan kesehatan yang efektif, aman, berfokus pada individu, tepat waktu, efisien, adil, dan terintegrasi bagi individu dan populasi sesuai standar, perkembangan ilmu pengetahuan terkini, serta memperhatikan hak dan keterlibatan pasien – masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal.

Berbeda dengan Forum Mutu IHQN sebelumnya, dimana saat ini kita diharuskan untuk membatasi kontak langsung untuk mengurangi penyebaran COVID-19, sehingga pelaksanaan Forum Mutu IHQN ke-16 ini dilaksanakan secara online. Pelaksanaan secara online diharapkan tidak mengubah esensi diskusi sehingga dapat menjawab berbagai kebutuhan daerah dan membawa pembelajaran nasional terbaik untuk permasalah saat ini.

Forum ini dikembangkan dalam kemitraan erat dengan mitra strategis daerah, bertujuan untuk mempertemukan para profesional kesehatan yang memiliki perhatian dan semangat untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan, serta untuk memberikan kesempatan bagi para profesional kesehatan untuk mempublikasikan pengalaman mereka dalam bentuk poster atau menjadi pembicara. Forum juga diadakan untuk mempelajari praktik-praktik terbaik terutama pengalaman dalam menghadapi COVID-19 dari sisi mutu layanan kesehatan sehingga perlu mengadakan forum untuk membahas berbagai macam lesson learn dalam pandemi COVID-19.

AGENDA

Agenda Forum Mutu IHQN ke-16
Hari/ Tanggal : Senin-Kamis, Tanggal 23-26 November 2020
Metode : Dilaksanakan secara Online melalui webinar/ zoom meeting

PRE FORUM MUTU

  1. Bimtek Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB)
  2. Bimtek Cara Efektif Melakukan FMEA dan RCA Untuk RS dan Pelayanan Kesehatan Primer
  3. Bimtek Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di FKTP
  4. Bimtek Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program PMKP RS

JADWAL FORUM MUTU

TANGGAL 23-24 NOVEMBER 2020

 

23 - 24 November 2020

Pukul 09.00-12.00 WIB

Pukul 13.00-16.00 WIB

Bimtek Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB)

(hari I)

Bimtek Cara Efektif Melakukan FMEA dan RCA Untuk Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Primer (hari I)

Bimtek Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program PMKP RS (hari I)  

Bimtek Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB)

(hari II)

Bimtek Cara Efektif Melakukan FMEA dan RCA Untuk Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Primer (hari II)

Bimtek: Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program PMKP RS (hari I) (hari II)  

 

TANGGAL 25 NOVEMBER 2020

 

Tanggal 25 November 2020

Pukul 09.00-12.00 WIB

Pukul 13.00-16.00 WIB

Pembukaan Forum IHQN

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

MATERI

Pembukaan Topik: Implementasi NQPS “Kolaborasi Lintas Sektor dalam Mutu Pelayanan Kesehatan di Era Pandemi Covid-19”

Pembicara I: Strategi pengelolaan dana kesehatan untuk menjamin akses dan kontinuitas pelayanan kesehatan sesuai dengan UU No 1 Tahun 2020 COVID-19
Narasumber: Prof. dr. Abdul Kadir, PhD., SpTHT-KL(K)., MARS (Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan - Kementerian Kesehatan)

Pembicara II: Strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mematuhi Protokol kesehatan
Narasumber: Dr. Machli Riyadi, S.H., M.H (Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin)

MATERI

Pembicara I: Peran Lembaga Donor dalam Mutu Pelayanan Kesehatan di Era Covid-19
Narasumber: Yogi Mahendra (Acting Country Representative - Project HOPE)

MATERI

Pembicara II: Kolaborasi Lintas Sektor bersama Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Nasional
Narasumber: Dr. dr. Lia Gardenia partakusuma, Sp.PK(K)., MM, MARS (Ketua Sub Bidang Penanganan Limbah Medis, Bidang Penanganan Kesehatan, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional)

MATERI

Pembahas I: M. Faozi Kurniawan SE, MPH, AAK (PKMK FKKMK UGM)

MATERI

Pembahas II: dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D. (Pusat Kedokteran Tropis)

Pembahas I: Prof. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD

MATERI

Pembahas II: drg. Farichah Hanum, M.Kes (Direktur Mutu & Akreditasi Kemenkes)

Reportase

Reportase

VIDEO REKAMAN

 

TANGGAL 26 NOVEMBER 2020

 

Tanggal 26 November 2020

Pukul 09.00-12.00 WIB

Pukul 13.00-16.00 WIB

Pembukaan Topik: Celah Kecurangan (Fraud) dalam Pelayanan Pasien COVID-19

Pembukaan topik: Manajemen mutu dan keselamatan pasien & tenaga kesehatan dalam pandemi COVID-19

Pembicara I: Aspek psikologis terjadinya kecurangan (fraud) dalam situasi pandemi
Narasumber: Dra. Reni Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog - Ketua Umum Apsifor Indonesia

MATERI

Pembicara II: Skema potensi & kesiapan sistem pengendalian kecurangan (fraud) dalam pelayanan pasien COVID-19 di Rumah Sakit
Narasumber: Edward Harefa, SE, MM - Inspektur I Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

MATERI

Pembicara I: Manajemen mutu upaya kesehatan masyarakat terkait COVID-19
narasumber: dr. Siti Marlina, MSc - (Kepala Puskesmas Bantul 2 dan Sekretaris Forum Komunikasi Puskesmas DIY)

MATERI

Pembicara II: Pengalaman Re-design pelayanan dan fisik RS menghadapi tantangan COVID-19
Narasumber: dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., Sp.OG (Dirut- RSUP Dr Sardjito)

MATERI

Pembahas I: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSC. PhD (Board PKMK dan Ketua HPM FKKMK UGM)

MATERI

Pembahas II: dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes - PERSI

MATERI

  • Pembahas I: dr. Suarjaya, MPPM (Dinas Kesehatan Propinsi Bali)
  • Pembahas II: dr. Vierra Wardhani, M.Kes, Ph.D
    (Universitas Brawijaya Malang)

Reportase

Reportase

Review dan Rencana Tindak Lanjut - Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

MATERI

VIDEO REKAMAN

 

 

PESERTA FORUM

Peserta yang diharapkan dapat ikut serta dalam Forum Mutu ini adalah:

  1. Pengelola fasilitas pelayanan kesehatan: Direktur/ Manajer RS, Kepala Puskesmas dan Pimpinan klinik dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi profesi (IDI, POGI, HOGSI, IDAI, PPNI, IBI, dsb), lembaga asuransi/ pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, Jamkesda, Asuransi Kesehatan Swasta), lembaga sertifikasi/ akreditasi (KARS, KALK, ISO, MenPAN, Badan Mutu, dsb), LSM bidang kesehatan dan sebagainya
  3. Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, penunjang medik, dsb
  4. Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Dosen, Peneliti, Konsultan

PESERTA PRE FORUM

Bimtek Sasaran Peserta
Bimtek Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB)
  1. TKMKB Koordinasi
  2. TKMKB Rumah Sakit (Teknis)
  3. Tim anti fraud
  4. Komite medis, keperawatan dan Nakes lain
  5. PMKP RS
  6. Tim Mutu PKM
  7. Profesional Pemberi Asuhan (PPA)
  8. Tenaga Kesehatan lain
  9. Peneliti
  10. Dosen
  11. Mahasiswa
  12. BPJS Kesehatan
Cara Efektif Melakukan FMEA dan RCA Untuk RS dan Pelayanan Kesehatan Primer
  1. Pimpinan dan Staf Sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit, Puskesmas, rumah bersalin dan sebagainya) baik pemerintah maupun swasta.
  2. Pimpinan dan Staf lembaga regulator sarana pelayanan kesehatan (Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi, dan sebagainya)
  3. Dosen
  4. Mahasiswa
Bimtek Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program PMKP RS
  1. Pimpinan, manajer dan staf RS.
  2. Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien yang terkait dengan pengumpulan, validasi, pengolahan dan analisa data Program PMKP.

 

CALL FOR PAPER

Peserta dapat mengirimkan hasil laporan penelitian, studi kasus dan atau kajian (review) terkait mutu pelayanan kesehatan sesuai tema Forum Mutu Ke-16 dalam bentuk Abstrak terstruktur. Penulis akan mendapatkan pemberitahuan hasil seleksi yang diputuskan Komisi Ilmiah melalui surat elektronik (E-mail).

Abstrak terpilih akan di tampilkan dalam website: https://www.mutupelayanankesehatan.net/ dan dapat di akses oleh seluruh peserta forum mutu saat kegiatan berlangsung.

Naskah Terbatas yang dikirimkan harus memenuhi format dan struktur penulisan berikut:

  1. Abstrak dapat berupa Hasil laporan penelitian atau Hasil Analisa (studi kasus dan atau kajian review) Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Format Penulisan
    1. Menggunakan Bahasa Indonesia
    2. Menggunakan Tipe Huruf Calibri
    3. Menggunakan Ukuran Huruf 12pt
    4. Menggunakan Format Paragraf 1,5 spasi
  3. Struktur Penulisan Abstrak
    1. Judul, Nama Lengkap Penulis dan Afiliasi, dan Alamat Email Penulis.
    2. Mengandung Unsur: pendahuluan (termasuk latar belakang dan tujuan), metode penelitian dan bahan, hasil dan diskusi, kesimpulan.
    3. Jumlah kata yang digunakan dalam Judul Abstrak tidak melebihi 18 kata.
    4. Jumlah kata yang digunakan dalam Abstrak tidak melebihi 300 kata.
    5. Jumlah kata yang digunakan dalam Kata Kunci tidak melebihi 5 kata.
  4. Abstrak dikirim ke panitia penyelenggara melalui email: forummutuIHQN2020@gmail.com

INVESTASI

Pre Forum:

  1. Bimtek Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB) (23-24 November 2020): Rp. 750.000,-
  2. Bimtek Cara Efektif Melakukan FMEA dan RCA Untuk RS dan Pelayanan Kesehatan Primer (23-24 November 2020): Rp. 750.000,-
  3. Bimtek Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di FKTP (23-24 November 2020): Rp. 750.000,-
  4. Bimtek Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program PMKP RS (23-24 November 2020): Rp. 750.000,-

Forum Mutu:

FREE

Meeting ID 829 0169 1759
Passcode FORMUT2020

LINK ZOOM

Link Streaming https://www.youtube.com/c/unitpublikasi/live

 

INFORMASI & PENDAFTARAN

Andriani Yulianti
No. HP 0813.2800.3119
Email ndiani_86@yahoo.com

 

 

Standar APD untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia [Revisi 3] per tanggal 11 Agustus 2020

Ketersediaan APD yang diakui semakin berkurang, perlu diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan APD yang harus disesuaikan dengan standar yang ada. Oleh karena itu, pembuatan Standar APD ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat umum dalam memenuhi kebutuhan APD. Tujuan dari penyusunan standar ini untuk menyamakan kualitas APD sesuai standar internasional bagi masyarakat umum, tenaga kesehatan, serta para produsen dan distributor. Standar ini dibuat berdasarkan hasil identifikasi dan masukan oleh para tim pakar medis, serta disesuaikan dengan Petunjuk Teknis Penggunaan APD dalam Menghadapi Wabah COVID-19 dari Kementerian Kesehatan.

Selengkapnya dapat disimak pada link berikut

klik disini