Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal (AMP) Efektif dengan 10 Langkah

Training of Trainer (ToT) Online

29 – 31 Maet 2021

 

  Topik ini membahas Masalah apa?

Tingginya angka kematian yang terjadi menuntut usaha yang keras dari semua pihak dalam memainkan perannya sehingga AKI&AKB dapat dicegah. Untuk mendukung penurunan kematian maternal dan neonatal yakni salah satunya dengan melakukan AMP. Audit Maternal Perinatal sebagai bagian dari kegiatan audit medik perlu dilakukan sebagai upaya mengejawantahkan etika kedokteran dan melindungi pasien (Moeloek, 2005). Tujuan audit medik juga bukan merupakan upaya memberikan sanksi melainkan merupakan cara dan alat evaluasi pelayanan medik, untuk menjamin pasien dan masyarakat pengguna, bahwa mutu pelayanan yang tinggi perlu ditegakkan sebagai sasaran yang harus dibina secara terus menerus.

Secara umum setiap daerah telah melakukan kegiatan AMP setiap tahun, pertemuan khusus untuk membahas kegiatan tersebut juga rutin dilaksanakan. Namun pada beberapa Kota / Kabupaten penyebab kematian sering terjadi secara berulang – ulang. Bila melihat dari penyebab kematian ibu dan bayi, maka tercatat bahwa penyebab utama kematian seperti perdarahan, hipertensi, infeksi, abortus pada kematian ibu dan pada anak seperti BBLR, asfiksia, infeksi dan lain-lain, sebuah kondisi medis yang sebenarnya dapat dicegah dan diatasi. Sehingga tentunya menimbulkan pertanyaan bagaimana dengan kualitas pelaksaaan AMP, bagaimana rekomendasi yang dihasilkan, apakah rekomendasi dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, dan terakhir apakah rekomendasi dilaksanakan dengan baik.

  Manfaat apa yang anda dapatkan?
  • Memahami pelaksanaan AMP dengan metode dengan 10 langkah
  • Memahami proses Audit Kematian sebagai proses pembelajaran dan non-blame culture
  • Pemahaman proses pembahasan audir kematian ibu dan bayi
  • Memahami prinsip penyusunan rekomendasi
  • Memahami metode praktis penggalian akar masalah.
  Apa yang dibahas?
  1. Pengenalan metode AMP dengan 10 langkah
  2. Membangun proses Audit Kematian sebagai proses pembelajaran dan non-blame culture
  3. Pembahasan bersama Audit Kematian Ibu dan bayi
  4. Prinsip Penyusunan Rekomendasi
  5. Metode Penggalian akar masalah berdasarkan kematian dan rekomendasi yang dihasilkan
  Sasaran Peserta
  1. Tim AMP Kabupaten
  2. Tim KIA Puskesmas
  3. dr. Spesialis Anak
  4. dr. Spesialis Kandungan
  5. Kepala Ruang VK RS
  6. Kepala Ruang Perinatologi RS
  Narasumber

Tim Konsultan Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang berkualifikasi konsultan manajemen kesehatan ibu dan anak.

Fasilitator

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan (modul dalam bentuk PPT & template yang digunakan dalam praktikum) dalam bentuk soft file.
  3. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.
  Biaya

Biaya pelatihan sebesar Rp. 750.000 per orang (belum termasuk akomodasi). Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK  Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Metode Penyelenggaraan Bimtek

Bimtek akan diselenggarakan secara online menggunakan aplikasi Webex. Bimtek akan dilaksanakan mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB setiap hari selama 3 (tiga) hari sesuai tanggal yang telah ditetapkan.

  Narahubung & Koordinator Pelaksana

Andriani Yulianti
No. HP 0813.2800.3119
Email ndiani_86@yahoo.com

 

 

 

 

Pengorganisasian Pencegahan dan Pengendalian infeksi (PPI) di FKTP

Bimbingan Teknis Online:

3 – 5 Maret 2021

 

  Topik ini membahas Masalah apa?

Membahas mengenai Kejadian infeksi nosokomial bagi FKTP yang dapat memperburuk performance di mata masyarakat, yang sebenarnya dapat dicegah bila fasilitas pelayanan kesehatan secara konsisten melaksanakan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang tertuang dalam Standar Akreditasi FKTP maupun Permenkes No. 27/2017.

  Manfaat apa yang anda dapatkan?

Dalam bimtek ini anda akan mendapatkan :

  1. Peserta memahami konsep dan implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai Permenkes No 27 tahun 2017 dan standar akreditasi FKTP.
  2. Memahami kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP dan standar akreditasi FKTP yang terkait dengan pencegahan dan pengendalian infeksi.
  3. Memahami dan dapat mengimplementasikan kewaspadaan standar di FKTP dan dapat mengimplementasikan kewaspadaan berdasar transmisi di FKTP.
  4. Memahami dan dapat menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi terkait pelayanan kesehatan di FKTP dengan bundles HAIs serta mampu merencanakan dan melaksanakan surveilans HAIs.
  5. Mampu melakukan Infection Control Risk Assessment.
  6. Mampu menyusun dokumen pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP yang dipersyaratkan dalam akreditasi.
  7. Mampu menyusun program pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP yang dipersyaratkan dalam akreditasi.
  8. Mampu melakukan monitoring dan evaluasi dalam program pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP
  Apa yang dibahas?
  1. Konsep dan implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai Permenkes No 27 tahun 2017 dan standar akreditasi FKTP.
  2. Kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP dan Pemahaman standar akreditasi FKTP yang terkait dengan pencegahan dan pengendalian infeksi.
  3. Implementasi kewaspadaan standar di FKTP dan kewaspadaan berdasar transmisi di FKTP.
  4. Penerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi terkait pelayanan kesehatan di FKTP dengan bundles HAIs serta Perencanaan dan pelaksanaan surveilans HAIs.
  5. Infection Control Risk Assessment.
  6. Dokumen yang dibutuhkan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP sesuai standar akreditasi.
  7. Pembahasan program dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP.
  8. Mekanisme Monitoring dan Evaluasi pencegahan dan pengendalian infeksi di FKTP.
  Sasaran Peserta

Peserta yang diharapkan hadir pada Bimtek ini adalah:

  1. Kepala Puskesmas, Klinik Pratama, Klinik Utama.
  2. Pendamping Akreditasi FKTP.
  3. Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di FKTP.
  4. Tim Peningkatan Mutu FKTP.
  5. Tim Keselamatan Pasien FKTP.
  Narasumber

Tim Konsultan Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Materi pelatihan dalam bentuk soft file.
  2. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk soft file.
  Biaya

Biaya pelatihan sebesar Rp. 1.000.000 per orang. Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK  Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Metode Penyelenggaraan Bimtek

Jadwal pelatihan diselenggarakan selama 3 (tiga) hari pada 3-5 Maret 2021, mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB setiap hari pelaksanaan.

  Narahubung & Koordinator Pelaksana

Andriani Yulianti
No. HP 0813.2800.3119
Email ndiani_86@yahoo.com

 

 

 

 

Pengenalan Sistem Rujukan Ibu dan Anak Melalui Konsep Manual Rujukan Maternal Neonatal

Bimbingan teknis

Pengenalan Sistem Rujukan Ibu dan Anak Melalui Konsep Manual Rujukan Maternal Neonatal

Yogyakarta, 24 April 2020

 

  Topik ini membahas Masalah apa?

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM, telah melakukan pendampingan perbaikan sistem KIA di berbagai kabupaten di Indonesia. Beberapa memandang bahwa derajat kesehatan ibu dan anak serta masyarakat akan naik apabila anggaran kesehatan ditingkatkan, namun ternyata pandangan tersebut salah, anggaran kesehatan pada beberapa daerah mungkin sudah cukup, tetapi porsinya yang tidak tepat, banyak kegiatan overlapping atau saling tumpang tindih antara bidang satu dengan bidang lain, antara seksi satu dengan seksi lainnya. Hal ini tentu membuang sumber daya di dinas kesehatan itu sendiri, perencanaan yang tidak tepat akan menghasilkan penganggaran yang tidak tepat. Target kesehatan tentu tidak akan tercapai.

Implementasi manual rujukan bisa menjadi alat bantu untuk menghasilkan sebuah sistem khusus KIA yang komprehensif, mulai dari sistem transportasi, pelayanan kesehatan, ketersediaan darah, hingga sistem pembiayaan yang terintegrasi dengan BPJS. Khusus untuk kasus ibu hamil, regulasi sistem rujukan harus segera diterapkan, karena aturan yang diterapkan oleh BPJS mengharuskan persalinan normal dilakukan di faskes primer, padahal ibu – ibu dengan resiko tinggi harus melahirkan di rumah sakit, meskipun pada akhirnya mereka melahirkan normal, tetapi perdarahan dan komplikasi lain dapat terjadi sewaktu-waktu dan hal tersebut hanya dapat ditangani di rumah sakit PONEK. Hal ini yang ingin diselesaikan dengan regulasi manual rujukan.

Prinsip utama adalah mengurangi kepanikan dan kegaduhan yang tidak perlu dengan cara menyiapkan persalinan (rujukan terencana) bagi yang membutuhkan (pre-emptive strategy). Untuk itu, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM akan memperkenalkan Sistem Rujukan Ibu dan Anak Melalui Konsep Manual Rujukan Maternal Neonatal yang dapat membantu dalam upaya menurunkan AKI-AKB di Indonesia.

  Manfaat apa yang anda dapatkan?
  1. Memahami prinsip utama pelaksanan sistem rujukan MRMN
  2. Memahami 10 langkah dalam penerapan manual rujukan
  3. Memahami langkah-langkah penerapan manual rujukan MRMN
  4. Memahami alur persalinan dalam MRMN
  5. Memahami pengelompokkan kasus pada alur persalinan
  6. Memahami mekanisme proses monitoring dalam implementasi MRMN
  Apa yang dibahas?
  1. Prinsip Utama Sistem Rujukan MRMN
  2. Pedoman 10 langkah penerapan manual rujukan
  3. langkah-langkah penerapan manual rujukan
  4. Alur persalinan dalam MRMN
  5. pengelompokkan kasus pada alur persalinan
  6. Mekanisme monitoring dalam implementasi MRMN
  Sasaran Peserta
  1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/ Kab Kota
  2. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Bidang Kesehatan Keluarga
  3. Direktur RS
  4. Kepala Puskesmas
  5. Lembaga Donor
  6. Mahasiswa
  Narasumber

Tim Konsultan Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

Fasilitator

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan (modul dalam bentuk PPT & template yang digunakan dalam praktikum) dalam bentuk soft file.
  3. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.
  Biaya

Biaya pelatihan sebesar Rp. 1.500.000 per orang (belum termasuk akomodasi). Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK  Dana Kerjasama Penelitian Umum.

  Narahubung & Koordinator Pelaksana

Andriani Yulianti
No. HP 0813.2800.3119
Email ndiani_86@yahoo.com

 

 

 

Profile: A nurse’s battle for leprosy patients

Screen Shot 2020 01 17 at 1.42.42 PMHANGZHOU, March 7 (Xinhua) — When Pan Mei’er first arrived in a hospital in Shangbai, a place known as the “leprosy village” due to the big number of leprosy patients, she was shocked and disturbed.

“They were cheering because someone finally came to their help,” Pan says. “I smelled a strong choking smell,

Continue reading

Leprosy Overview

Screen Shot 2020 01 16 at 11.57.29 AMLeprosy is an infectious disease that causes severe, disfiguring skin sores and nerve damage in the arms, legs, and skin areas around the body. The disease has been around since ancient times, often surrounded by terrifying, negative stigmas and tales of leprosy patients being shunned as outcasts. Outbreaks of leprosy have affected, and panicked, people on every continent. The oldest civilizations of China,

Continue reading

Building a Leprosy Free Bangladesh

Screen Shot 2020 01 14 at 11.29.08 AMDHAKA, Bangladesh, Dec 9 2019 (IPS) – Despite having remarkable success in leprosy control in the last decades, the Bangladesh government is now moving forward with a vision to build a leprosy- free country.

Continue reading

Konsep, Standar, dan Audit Penerapan Tata Kelola Klinis

Oleh: Hanevi Djasri

Tata kelola pelayanan klinis yang baik atau Good Clinical Governance kembali hangat dibicarakan di Indonesia pada era Jaminan Kesehatan Nasional, dimana fasilitas pelayanan kesehatan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu namun tetap dapat menjaga biaya pelayanan tetap efisien (kendali mutu dan kendali biaya).

Sejak tahun 2006, penulis telah melakukan pendampingan penerapan tatakelola klinis diberbagai rumah sakit (RS) pemerintah dan swasta dan juga diberbagai Puskesmas. Meskipun detail penerapan tata kelola klinis di pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat sekunder-tersier
berbeda, namun secara umum konsep dasarnya tetap sama.

Konsep dasar yang perlu dipahami sebelum mulai menerapkan berbagai kegiatan terkait tata kelola klinis yang baik adalah pemahaman mengenai pilar/komponen yang membangun clinical governance serta standar yang dapat digunakan untuk menilai/mengaudit ketepatan penerapan good clinnical governace.

Berikut ini akan penulis paparkan mengenai ke 4 pilar dan 8 standar clinical governance serta cara melakuan audit/ penilaian dengan contoh aplikasi di RS namun juga dapat berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Pilar Good Clinical Governance

Banyak konsep tentang komponen kegiatan clinical governance akan tetapi secara garis besar terdiri atas empat pilar seperti yang dikembangkan di negara bagian Australia Barat (gambar 1)

gb1

Gambar 1. Clinical Governance for the Western Australian Public Health System

1. Fokus pada customer (customer value)

Pilar pertama adalah nilai konsumen, yang mendorong pelayanan kesehatan untuk melibatkan konsumen dan stakeholder dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja pelayanan dan dalam perencanaan untuk masa depan organisasi. Konsumen dalam hal ini bukan hanya pasien, akan tetapi juga meliputi pemerintah setempat dan organisasi non-pemerintah.

Dalam menerapkan pilar pertama ini selain melibatkan konsumen, rumah sakit juga harus memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut. Contoh nilai-nilai yang dianut oleh konsumen misalnya pasien meyakini bahwa suatu rumah sakit yang baik adalah rumah sakit yang dokternya mampu menjelaskan dengan baik mengenai penyakit yang dialami oleh pasien dan juga dokter dapat menjelaskan rencana tindakan medis yang akan dilakukan.

Keterlibatan konsumen yang efektif memerlukan kepemimpinan yang baik pula untuk memastikan bahwa keterlibatan tersebut bermanfaat, efektif dan memberikan hasil yang positif hasil bagi pelayanan kesehatan. 

Berikut adalah hal-hal penting dari customer value: a) Hubungan yang berkelanjutan, yaitu melibatkan konsumen yang menekankan komunikasi dua arah antara konsumen dan rumah sakit. Contohnya adalah termasuk informed consent, manajemen keluhan, survei kepuasan pasien dan memberikan informasi tentang layanan bagi pasien dan keluarganya. b) Partisipasi konsumen, yaitu melibatkan konsumen dalam perencanaan rumah sakit, kebijakan pembangunan dan pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kepada konsumen bahwa rumah sakit benar-benar menyediakan pelayanan yang mudah diakses, adil dan responsif terhadap prioritas-prioritas setempat.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Peningkatan pemahaman karyawan terhadap pelayanan kesehatan dan lebih responsive terhadap kebutuhan pelanggan/pasien.
  • Peningkatan pengetahuan pelanggan/pasien dan juga peningkatan partisipasi pelanggan/pasien dalam pelayanan kesehatan dan manajemen.
  • Peningkatan kepercayaan pelanggan/pasien terhadap organisasi pelayanan kesehatan/rumah sakit.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.

Dengan menerapkan Clinical Governance diharapkan RS dapat

lebih memperhatikan konsumen dengan memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut.

2. Clinical performance and evaluation

Pilar yang kedua ini bertujuan untuk menjamin penggunaan serta monitoring dan evaluasi standar klinis yang berbasis bukti (evidence-based). Hasilnya adalah sebuah budaya, di mana evaluasi organisasi dan kinerja klinis, termasuk audit klinis merupakan hal yang umum dan diharapkan ada di setiap organisasi pelayanan klinis. Terdapat tiga buah alat yang dapat digunakan untuk membantu organisasi layanan kesehatan
untuk mencapai hasil ini, yaitu standar klinis, indikator klinik, dan audit klinik.

Hal ini sudah diwujudkan oleh RS dengan telah dimilikinya daftar indikator klinik yang digunakan untuk mengukur kinerja klinik. Tahap yang masih harus dilakukan RS adalah melakukan evaluasi terhadap hasil dari pengukuran kinerja klinik tersebut. Perlu ada kerjasama dari semua pihak di rumah sakit, antara lain komite medis, keperawatan, hingga marketing. Jika pengukuran kinerja klinik menunjukkan hasil yang baik, maka hal ini dapat digunakan sebagai alat untuk marketing rumah sakit, yaitu dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa RS mampu memberikan pelayanan klinik dengan baik yang ditunjukkan dengan bukti pengukuran kinerja klinik.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Pengembangan clinical pathway di dalam praktek klinis.
  • Peningkatan kepatuhan terhadap praktek klinis berbasis bukti dan berkurangnya variasi dalam praktek klinis.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.
  • Berkurangnya biaya perawatan kesehatan melalui pengurangan efek samping.

3. Clinical risk management

Segala kegiatan di rumah sakit memiliki risiko, baik untuk pasien maupun untuk petugas yang berada di dalam rumah sakit tersebut. Meskipun demikian perlu dilakukan penjaminan bahwa risiko yang muncul minimal. Pilar ketiga ini menitikberatkan untuk meminimalisir risiko klinis dan
meningkatkan keamanan kepada pasien dan petugas secara keseluruhan. Hal ini dicapai dengan melakukan identifikasi, mengurangi risiko, dan mengurangi kejadian yang tidak diinginkan.

Aspek-aspek yang tercakup dalam manajemen risiko klinis adalah: a) pelaporan, monitoring, dan analisis trend kejadian yang tidak diinginkan, b) pelaporan, monitoring, dan penyelidikan klinis kejadian yang jarang terjadi (sentinel event), c) analisis risiko, termasuk identifikasi, penyelidikan, evaluasi dan analisis risiko klinis.

Sebagai catatan komite atau subkomite keselamatan pasien bukanlah satu-satunya pihak yang berperan dalam menerapkan pilar ini, namun menjadi tanggung jawab dari seluruh staf dan seluruh pihak yang ada di rumah sakit.

Outcome yang diharapkan:

  • Peningkatan monitoring dan pelaporan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan pemantauan terhadap insiden klinik dan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan proses risk management.
  • Pengurangan jumlah kejadian yang tidak diharapkan.

4. Profesional development and management

Pilar keempat ini mendukung proses pemilihan dan perekrutan staf klinis. Dalam hal ini profesionalisme terus dikembangkan, dijaga, dimonitor, dan dikontrol. Proses ini menjamin staf yang ditunjuk dan diperkerjakan adalah orang yang terampil dan berhati-hati terhadap prosedur baru. Hal yang tercakup dalam pilar keempat ini adalah standar kompetensi dan pengembangan profesional berkelanjutan.

RS melakukan upaya agar semua staf dapat meningkatkan kompetensinya, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Dalam skala besar misalnya adalah dengan menjalani pendidikan formal, mengikuti pelatihan-pelatihan. Sedangkan peningkatan kompetensi dalam skala kecil dicontohkan dengan belajar melalui pengalaman yang ada sehari-hari yang muncul dan dibahas di dalam kegiatan morning meeting, yaitu
masalah yang ada dipecahkan berumah sakitama dan diupayakan kegiatan tindak lanjutnya.

Termasuk dalam profesional development and management adalah pengelolaan kinerja para staf. RS telah memiliki Key Performance Indicators (KPI), bahkan KPI yang ada telah sampai pada level individu. Perlu juga dikembangkan KPI untuk para dokter, KPI untuk para perawat, dan KPI untuk para profesional.

Bagian SDM bukanlah satu-satunya bagian yang bertanggung jawab terhadap profesional development and management di rumah sakit, namun merupakan tanggung jawab dari seluruh staf yang ada di rumah sakit, dan tugas tim auditor internal adalah memastikan bahwa semua staf terlibat di dalamnya.

Outcome yang diharapkan adalah: Peningkatan kredensial dokter; Peningkatan pengembangan profesional dan pelatihan keterampilan untuk karyawan; Peningkatan kinerja manajemen; dan Peningkatan kepuasan kerja karyawan.

baca selengkapnya pada link berikut

klik disini