Lucia Evi Indriarini, MPH

Lucia Evi Indriarini, MPH., menyelesaikan pendidikan S2 di Minat Manajemen Rumah Sakit, Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM Yogyakarta pada 2015. Pernah bergabung di Badan Mutu Pelayanan Kesehatan Yogyakarta sejak tahun 2004. Saat ini aktif tercatat sebagai peneliti dan konsultan di Divisi Manajemen Mutu PKMK FKKMK UGM Yogyakarta, sekaligus sebagai pengelola (manajer) IHQN (Indonesian Healthcare Quality Network) yang merupakan jejaring pemerhati mutu kesehatan di seluruh Indonesia.

Bidang yang diminati dan ditekuni saat ini terkait dengan mutu pelayanan kesehatan. Selama bergabung di Badan Mutu Pelayanan Kesehatan (BMPK) dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM telah banyak terlibat dalam kegiatan penelitian, pelatihan, maupun konsultasi seperti; Evaluasi HMT Batch I, Survei Kesehatan Daerah Propinsi DIY, RAP Home II HMT II, Survei Pengetahuan, Sikap, Praktisi Swasta terkait TB di 12 Kota Besar Indonesia, Studi Pengembangan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Fase II, Pelatihan FMEA, Pelatihan Penyusunan Dokumen Akreditasi RS, Pelatihan Manajemen Risiko, Survei Kajian Indeks Kepuasan Fasilitas Kesehatan-BPJS Kesehatan, Diagnostic Study on Barriers to University Research in Indonesia, Kegiatan Blended Learning Strategic Purchasing bagi Pimpinan dan Staf BPJS, Tim Peneliti Formative Research Pencegahan dan Penanganan Asma di Tiga Provinsi di Indonesia, Koordinator SEMLOKNAS FKTP Seluruh Indonesia Tahun 2018, Koordinator Forum Mutu (forum ilmiah nasional tahunan, sejak periode 2015). Saat ini juga aktif menjadi pengelola website www.mutupelayanankesehatan.net dan menjadi Asisten Editor untuk The Journal of Hospital Accreditation (JHA), jurnal kerjasama KARS & Divisi Manajemen Mutu PKMK FKKMK UGM.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelayanan Bermutu Untuk Penderita HIV

James W. Bunn dan Thomas Netter yang bekerja di bagian informasi Global Programme World Health Organization (WHO) merupakan dua tokoh penting penggagas Hari AIDS sedunia yang diperingati setiap 1 Desember. Peringatan ini dimaksudkan untuk menambah kesadaran penting dalam berjuang melawan virus penyebab AIDS, yakni HIV, sekaligus memberikan support pada pengidap AIDS dan mengenang para korban penyakit tersebut. Hari AIDS Sedunia pun diikuti oleh negara-negara anggota PBB yang secara resmi mengakui Hari AIDS pada 27 Oktober 1988, termasuk Indonesia.

Pada 1996, Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja dan mengambil alih perencanaan, serta promosi Hari AIDS Sedunia. UNAIDS juga menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun.

Berdasarkan data UNAIDS hingga akhir 2018, sebanyak 1.7 juta orang baru terinfeksi HIV. Meskipun saat ini sudah ada obat Antiretroviral (ARV) yang mampu menekan virus HIV/AIDS dalam tubuh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun kesadaran untuk menekan pertumbuhan angka penderita HIV harus selalu dipupuk, salah satunya dengan peringatan Hari AIDS Sedunia setiap tahun. Untuk memperingati Hari AIDS Sedunia, laman www.mutupelayanankesehatan.net akan menampilkan berbagai artikel, berita, dan penelitian terupdate terkait upaya pelayanan yang bermutu untuk pasien dengan HIV. Semoga bermanfaat.

Daftar Seminar dan Pelatihan Peningkatan Mutu dan Keselamatan dalam Layanan kesehatan

Pada page ini Anda dapat menemukan topik-topik seminar dan pelatihan terkait upaya peningkatan mutu dan keselamatan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh atau bekerja sama dengan Divisi Manajemen Mutu PKMK FK KMK UGM.

Topik-topik besar seminar dan pelatihan dapat Anda baca pada link berikut Booklet Program Tahun 2021

 SEMINAR

  BLENDED LEARNING

  BIMBINGAN TEKNIS

  IN HOUSE TRAINING

  KERJA SAMA

Mutu Pelayanan dan Pengaruh Pengobatan Antiretroviral Untuk Pasien HIV dari Perspektif Pasien

Kepuasan pasien masih merupakan salah satu faktor penting untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dan memperkirakan outcome pelayanan yang positif. Pada artikel ini akan dipaparkan hasil studi pengaruh persepsi pasien HIV/AIDS terhadap mutu pelayanan kesehatan yang terkait dengan penggunaan antiretroviral sebagai pengobatan di Manaus Brazil.

Penelitian menggunakan non-randomized dan analisis cross sectional untuk mengeksplorasi hubungan antara kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral sebagai perawatan pasien HIV/AIDS. Studi ini juga membandingkan antara kepuasan pasien di rumah sakit utama di kota dengan fasilitas kesehatan di daerah. Menggunakan data respon dari survei terhadap 812 pasien dan data kesehatan dari 713 pasien, analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi untuk mengidentifikasi karakteristik fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan tingginya tingkat kepuasan pasien dan tingginya tingkat kepatuhan menggunaan obat antiretroviral.

Berikut adalah tabel distribusi responden dalam penelitian ini:

tb1

Responden penelitian merupakan pasien dengan HIV/AIDS berusia 18 tahun atau lebih, berjenis kelamin pria dan wanita, yang pernah setidaknya berkunjung satu kali di fasilitas kesehatan. Pasien baru tidak dijadikan responden dalam penelitian ini karena survei kepuasan yang dilakukan berdasarkan pada kepuasan terhadap konsultasi terakhir pasien pada saat berobat ke fasilitas kesehatan. Sedangkan demografi karakteristik responden secara detil adalah sebagai berikut:

tb2

Dua pertanyaan utama dalam penelitian ini mencakup:

  1. Apa yang paling relevan di fasilitas kesehatan terkait faktor yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepuasan Pasien= F(karakteristik fasiitas kesehatan, karakteristik pasien)
  2. Apakah tingkat kepuasan pasien yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepatuhan penggunaan obat antiretroviral= F(kepuasan pasien, karakteristtik pasien)

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ditemukan hubungan yang jelas dan positif antara kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Pasien yang memilik akses lebih baik terhadap fasilitas kesehatan dan pelayanannya (kenyamanan lokasi, kemudahan waktu perjalanan, dan waktu tunggu yang singkat) memiliki tingkat mutu pelayanan yang tinggi dan juga kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Studi ini juga menemukan bahwa tingkat kepuasan pasien lebih tinggi di fasilitas kesehatan daerah dibandingkan dengan pasien yang memperoleh pelayanan di rumah sakit utama.

Berikut adalah tabel kepuasan pasien secara umum dan indikator aksesbilitas yang dihasilkan pada penelitian ini:

Sedangkan faktor-faktor yang berhubngan dengan kepuasan pasien ditampilkan secara lengkap pada tabel berikut:

Penelitian ini juga membandingkan antara faktor-faktor terkait kepuasan pasien yang ada di rumah sakit pusat/utama dengan faktor-faktor terkait kepuasan pasien di fasilitas kesehatan daerah, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Selain membandingkan tingkat kepuasan pasien di dua fasilitas kesehatan tersebut. Penelitian ini juga mengkaji dampak kepuasan pasien terhadap tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral, yang secara lengkap ditampilkan pada tabel berikut:

Penelitian ini membuktikan bahwa pengalaman pasien pada saat memperoleh perawatan di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan outcome kesehatan yang diharapkan. Banyak faktor lain berperan penting pada kepatuhan atau ketidakpatuhan pasien menggunakan obat antiretroviral yang berada di’luar’ kendali fasilitas kesehatan. Namun temuan yang perlu ditekankan adalah fasilitas kesehatan dapat berkontribusi untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral dengan meningkatkan pengalaman postif pasien saat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Studi ini juga dapat menunjukkan adanya manfaat potensial dari pelayanan kesehatan daerah untuk meningkatkan kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral.

Dirangkum oleh : Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber : Leon et al. (2019). HIV/AIDS health services in Manaus, Brazil: patient perception of quality and its influence on adherence to antiretroviral treatment. BMC Health Service Research. 19:344. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4062-9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6543648/pdf/12913_2019_Article_4062.pdf