Quality Management in health Care – Part 1

observerQuality is something that everyone strives for. People flock to where there is evidence of quality services in terms of timely delivery, service satisfaction on the product that will give you positive outcomes, positive attitude from service providers etc. 

Continue reading

Outlook Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2015

Setelah mencermati peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 2014, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM memprediksi beberapa perkembangan/issue yang terkait dalam manajemen mutu pelayanan kesehatan di Indonesia dan dunia pada tahun 2015, yaitu:

Keterkaitan antara Mutu Pelayanan Kesehatandengan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional terutama terkait dengan risiko turunnya mutu pelayanan klinis (clinical care) akibat fraud. Hal ini akan membutuhkan berbagai kegiatan yang merupakan tindak lanjut kegiatan tahun 2014, yaitu: penyusunan Permenkes mengenai Upaya Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud dalam JKN; mendorong penyusunan dan pengesahan Pedoman Nasional Praktek Kedokteran (PNPK) dari berbagai organisasi profesi; mendorong penyusunan dan implementasi Clinical Pathway di RS sebagai salah satu upaya efisiensi dan mencegah fraud layanan kesehatan; Blended learning anti fraud bagi Dinkes disamping bagi RS; Realisasi pembentukan lembaga anti fraud di level sarana pelayanan kesehatan, BPJS dan Kemenkes/Dinkes; mendorong penggunaan IT untuk melakukan pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud di internal RS dan BPJS; serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendukung terbentuknya sistem Pencegahan, Deteksi, dan Penindakan Fraud dalam era JKN.

Keterkaitan antara Mutu Pelayanan KIA dengan Kematian Ibu dan Bayi terutama di rumah sakit (termasuk keterkaitan dengan sistem rujukan, PONEK, ketersediaan tenaga dokter spesialis) akan menjadi penting karena akan ada kelanjutan dari progam MDG dan juga akan adanya tuntutan akuntabilitas bagi pemerintahan baru (setelah pemilu) akan adanya program yang efektif menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi. Hal ini juga membutuhkan berbagai kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan tahun 2014, antara lain yaitu: Project AIPMNH tahap II (Project “Permata”); Diskusi bulanan KIA di Provinsi DIY, Pengembangan sistem rujukan KIA di Timika.

Keterkaitan antara Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Sistem Kesehatan secara Keseluruhan akan menjadi penting karena semakin disadari bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan sangat terkait dengan berbagai aspek lain dalam sistem kesehatan yaitu pembiayaan, SDM, pendidikan, pencatatan dan pengolahan data untuk mengambil kebijakan, organisasi profesi, pemerintah dan pemerintah daerah.

Mencermati perkembangan tersebut maka Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-UGM meyiapkan kegiatan sebagai berikut:

  1. Kegiatan Project Konsultasi
    1. Lanjutan Konsultasi SH dan PML dengan dana dari AusAID (Project “Permata”)
    2. Konsultasi Penerapan Sistem Rujukan KIA di Timika, Papua
    3. Konsultasi Penerapan Program Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud di RS
    4. Pelatihan Blended Learning Anti Fraud
  2. Kegiatan Penelitian
    1. Monitoring dan Evaluasi dampak BPJS/JKN terhadap mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
    2. Identifikasi Potensi Fraud dalam JKN
    3. Dampak akreditasi RS atau implementasi clinical pathway dalam upaya mencegah atau menurunkan fraud dalam layanan kesehatan
  3. Kegiatan Analisa Kebijakan
    1. Analisa Kebijakan Kendali Mutu dalam BPJS/JKN
    2. Analisa Kegiatan Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud dalam JKN
    3. Analisa Kebijakan Implementasi Manual Rujukan KIA

 

Laporan Kunjungan 3 Puskesmas Kecamatan di DKI Jakarta

Pada tanggal 25-27 Juni 2014, tim sistem rujukan mengunjungi 3 Puskesmas di Jakarta yaitu Puskesmas Kecamatan Keramat Jati yang berada di Jakarta Timur, Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk yang berada di Jakarta Barat dan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih yang berada di Jakarta Pusat.

Tiga Puskesmas ini merupakan Puskesmas perawatan yang melayani rawat inap, rumah bersalin, layanan 24 jam dan poliklinik.

Tabel. 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Kecamatan Keramat Jati & Puskesmas Kebon Jeruk Tahun 2013 dan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2014

No

PKM Kecamatan
Keramat Jati

PKM Kecamatan
Kebon Jeruk

PKM Kecamatan
Cempaka Putih

1.

Infeksi Akut Lain pada saluran Pernafasan Bagian Bawah

ISPA

ISPA

2.

Penyakit Lain pada Saluran Pernafasan Bagian Atas

Penyakit Darah Tinggi

Gastritis dan Duodenitis

3.

Gatritis dan Duodenitis

Infeksi Penyakit Usus yang Lain

Penyakit Tulang Belulang

4.

Penyakit pada Sistem Otot dan Jaringan pengikat (Penyakit Tulang Berulang)

Penyakit PD Sistem Otot & Jaringan Pengikat

Penyakit Tekanan Darah Tinggi

5.

TB Paru Klinis

Gingivitis & Penyakit Periodental

Penyakit kulit Infeksi

6.

Ulcus Genital – Herpes

Penyakit Kulit Alergi

Diare

7.

Pneumonia

Diare (Termasuk tersangka Kolera)

Penyakit Pulpa dan Jaringan Pariapikal

8.

Diare (termasuk tersangka kolera)

Penyakit Kulit Infeksi

Diabetes Melitus

9.

Vaginitis + GO dan Clamidia

Penyakit lain PD Sal. Pernafasan Atas

 

10.

Infeksi Penyakit Usus Lainnya

Penyakit Rongga Mulut, Kel. Ludah, rahang

 


1. Puskesmas Keramat jati (25 Juni 2014)

Puskesmas Keramat Jati terletak di Wilayah Jakarta Timur

24des-1

gambar. Puskesmas Keramat jati

RS rujukan yang paling banyak di rujuk oleh Puskesmas Keramat Jati adalah RSUD Pasar Rebo, RS POLRI, RS Budi Asih,

24des-1

Gambar. Status Pasien Poli Semi Spesialis Puskesmas Kecamatan Keramat Jati

24des-1

Gambar. Register Poliklinik Puskesmas Kecamatan Keramat Jati

24des-1

Gambar. Register Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Keramat Jati


2. Puskesmas Kebon Jeruk (26 Juni 2014)

Puskesmas Kebon Jeruk terletak di Wilayah Jakarta Barat

24des-1

Gambar. Puskesmas Kebon Jeruk (Tampak Samping)

24des-1

Gambar. Status Pasien & Surat Rujukan Poli Penyakit Dalam Kecamatan Kebon Jeruk

24des-1

Gambar. Register Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk

24des-1

Gambar. Register Pelayanan 24 Jam Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk

Berikut 10 Penyakit terbanyak yang dirujuk di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk adalah

  1. DM
  2. Hipertensi
  3. Coronary akut Disease
  4. TB Paru
  5. Katarak
  6. Hipertensi Heart Disease
  7. Akut Miocard Infark/MCI
  8. LBP
  9. CRF (cronic renal failure) /
  10. Kehamilan > 48 mgg

No

Jabatan

PNS

non PNS

Jumlah

1

Dokter Umum

9

14

23

2

Dokter Gigi

10

4

14

3

Perawat

18

8

26

4

Perawat gigi

3

4

7

5

Bidan

12

22

34

6

Ahli Gizi

3

3

6

7

Radiologi

1

1

2

8

Apoteker

1

0

1

9

Aisten Apoteker

0

8

8

10

Analisa Laboratorium

1

2

3

11

Lain- lain

15

26

41

12

Sopir

0

3

3

Total

73

95

168

 

3. Puskesmas Cempaka Putih (27 Juni 2014)

Puskesmas Cempaka Putih terletak di Wilayah Jakarta Pusat

24des-1

Gambar. Puskesmas Cempaka Putih (Tampak depan)

24des-1

Gambar. Register Rawat Inap Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih

24des-1

Gambar. Lembar Rekapitulasi Kunjungan dan Rujukan Rawat Inap Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih

Untuk rumah Bersalin di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih, status pasien rujukan

24des-1

Gambar. Lokasi Status Pasien Rujukan Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih

Data Kunjungan dan Rujukan PKM Kecamatan Cempaka Putih Tahun 2013

No

Puskesmas

Kunjungan

Rujukan

1.

CPT

152.155

6.766

2.

CPB I

15.315

1.709

3.

CPB 2

20.332

1.752

4.

Rawasari

14.782

2.215

Total

202.582

12.442

Lokakarya Evaluasi Akhir Program Sister Hospital dan PML Rumah Sakit di Provinsi NTT

Pada hari kedua kegiatan lokakarya evaluasi akhir program SH dan PML RS di Provinsi NTT ini lebih banyak menfokuskan pada diskusi rencana tindak lanjut kesepakatan untuk keberlangsungan dan pengembangan program SH dan PML di seluruh kabupaten yang termasuk bagianProvinsi NTT. Pengantar diskusi disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, dr. Idawati Trisno, M. Kes, dan dr. Hanevi Djasri, MARS. Kembali ke tujuan awal dari sister hospital yaitu mencapai ketersediaan pelayanan PONEK 24 jam rumah sakit di Provinsi NTT. Sementara, tujuan jangka pendek adalah melakukan kontrak kerja dengan tenaga medis spesialis dan tujuan jangka panjang adalah tersedianya tenaga medis spesialis di rumah sakit.

Continue reading

Palliative care needs dramatic improvements: Report

12,000 people die in hospital each year in Ontario
A report from Ontario’s auditor general that said access to palliative care services is not equitable across the province came as no surprise to Léo Therrien.

The executive director of Maison Vale Hospice said all three parties in Queen’s Park agree there needs to be more funding and support for hospice palliative care in Ontario.

The auditor general’s report said Ontario has no integrated and co-ordinated system to deliver palliative care services to an aging population.

Continue reading

Setahun Berjalan, Berbagai Persoalan Masih Dihadapi Program Jaminan Kesehatan Nasional

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah berjalan hampir satu tahun.

Awal November kemarin, pemerintah juga telah meluncurkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang akan menyempurnakan program JKN. Kartu ini memprioritaskan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), seperti gelandangan, yatim piatu, orang cacat, penghuni panti asuhan dan lainnya, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa.

Continue reading

Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas Provinsi DKI Jakarta

Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas
Provinsi DKI Jakarta

Re-Audit diperlukan sebagai tahapan dalam siklus audit mutu rujukan puskesmas, dimana digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap intervensi yang dikerjakan. Berdasarkan hasil pertemuan tanggal 11 November 2014 di Hotel Puri Denpasar, disepakati bahwa puskesmas akan mencoba menggunakan sebuah form rujukan baru beserta guideline rujukan dari Pedoman Praktek Klinis dari IDI. Intervensi dilakukan selama 2 minggu pada periode 24 November hingga 7 desember 2014.

Pasca pelaksanaan intervensi selama 2 minggu, kemudian dilakukan re-audit terhadap seluruh pasien yang dirujuk pada periode tersebut, dengan ketentuan maksimal sebanyak 100 pasien per puskesmas. Total data sementara yang didapat adalah sebanyak 11 puskesmas mengumpulkan audit mutu rujukan sebanyak 850 pasien yang terbagi dalam

  • Kasus Diabetes Melitus 105 (12,4%)
  • Kasus Demam Dengue 9 (1,1%)
  • Kasus PEB 11 (1,3%)
  • Kasus Hipertensi Esensial 93 (10,9%)
  • Kasus Lain (74,4%)

Berikut adalah gambaran hasil re-audit dibandingkan dengan audit sebelumnya

Kelengkapan Surat Rujukan

Hasil Audit

Hasil Re Audit

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian

Identitas Pasien

96,1%

0,0%

3,9%

100,0%

0,0%

0,0%

Tanggal Merujuk

93,0%

0,0%

7,0%

99,9%

0,0%

0,1%

Nama RS yang dtuju

92,7%

0,0%

7,3%

99,8%

0,0%

0,2%

Poli / UGD yang dituju

92,4%

0,0%

7,6%

97,6%

0,0%

2,4%

Hasil Anamnesa

24,0%

0,0%

76,0%

67,2%

2,7%

30,1%

Diagnosa

95,5%

0,0%

4,5%

99,4%

0,1%

0,5%

Hasil Pemeriksaan Fisik

31,4%

0,0%

68,6%

52,8%

8,0%

39,2%

Pemeriksaan Laboratorium

21,9%

32,9%

39,8%

26,1%

53,9%

20,0%

Terapi Sementara

28,4%

0,0%

71,6%

44,2%

25,3%

30,5%

Tindakan yang telah diberikan

24,3%

1,5%

74,6%

33,6%

28,8%

37,6%

Tanda tangan dokter yang merujuk

92,7%

0,0%

7,3%

99,9%

0,0%

0,1%

Tabel Kelengkapan Surat Rujukan

Tabel diatas menunjukkan bahwa pada awal penerapan audit mutu rujukan terkait kelengkapan komponen surat rujukan didapatkan ada 5 komponen kriteria yang berada dibawah standar mutu 80% yakni, hasil anamnesa yang tidak ditulis, pemeriksaan fisik, laboratorium jika ada, penulisan terapi sementara serta tindakan yang diberikan jika ada. Evaluasi yang dilakukan pada audit kedua ternyata didapatkan penurunan yang cukup besar dari kelima komponen tersebut, meskipun masih berada dibawah standar mutu 80% tetapi penerapannya sudah menjadi lebih baik, menurun tajam dibanding sebelumnya.

Mutu Rujukan PUSKESMAS

Hasil Audit

Hasil Re-Audit

Sesuai Kriteria Merujuk

Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian

Sesuai Kriteria Merujuk

Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian

Puskesmas A

74,5%

25,5%

93,7%

6,3%

Puskesmas B

62,5%

37,5%

83,8%

16,2%

Puskesmas C

76,2%

23,8%

88,2%

11,8%

Puskesmas D

74,9%

25,1%

94,9%

5,1%

Puskesmas E

72,1%

27,9%

100,0%

0,0%

Puskesmas F

88,4%

11,6%

99,9%

0,1%

Puskesmas G

76,6%

23,4%

86,5%

13,5%

Puskesmas H

53,7%

46,3%

70,9%

29,1%

Puskesmas I

78,2%

21,8%

77,2%

22,8%

Puskesmas J

43,4%

56,6%

90,2%

9,8%

Puskesmas K

97,4%

2,6%

99,7%

0,3%

Tabel …. Ketepatan rujukan di masing-masing puskesmas

Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan masing-masing puskesmas yang telah mengumpulkan data hasil re-audit, pada tabel hasil audit menunjukkan banyaknya ketidaksesuaian proses rujukan di 10 Puskesmas, seperti misalnya pada puskesmas H, data menunjukkan bahwa 46,3% pasien dirujuk tidak sesuai dengan kriteria rujukan, namun setelah adanya intervensi terjadi penurunan menjadi 29,1%, demikian pula dengan puskesmas lain, banyak rujukan yang kualitasnya meningkat. 

Ketepatan Proses Rujukan

Hasil Audit

Hasil Re Audit

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian

Diagnosa diluar diagnosa layanan primer

79,2%

38,4%

7,8%

85,4%

10,1%

4,5%

Merujuk ke tempat rujukan yang sesuai

96,0%

0,0%

4,0%

96,2%

2,1%

1,6%

Pasien didampingi tenaga kesehatan

17,2%

42,6%

21,3%

21,9%

74,9%

3,2%

Menggunakan ambulance transport

11,2%

42,8%

22,3%

21,9%

74,9%

3,2%

Memberikan edukasi

20,5%

0,0%

79,5%

67,6%

1,1%

31,3%

Melakukan Komunikasi dengan RS

12,4%

36,5%

37,2%

37,9%

61,3%

0,8%

Pasien dirujuk 1×24 jam sejak diagonis ditegakkan

43,0%

46,7%

7,0%

43,4%

56,7%

0,0%

Tabel ….. Tabel Ketepatan Proses Rujukan

Tabel …. menunjukan kriteria ketepatan proses rujukan secara umum, dimana terdapat tujuh kriteria proses yang digunakan untuk menilai apakah rujukan tersebut baik atau tidak. Berdasarkan tujuh kriteria, diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang masih memiliki nilai dibawah standar 80% kesesuaian yakni pada penggunaan ambulance transport, edukasi pasien, maupun komunikasi dengan pihak rumah sakit. Setelah dilakukan intervensi, ternyata terdapat peningkatan kualitas rujukan, dimana hasil re audit menunjukkan hanya satu komponen kriteria yang masih belum memenuhi kualitas yakni pada pemberian edukasi kepada pasien. Hasil wawancara dengan dokter menunjukkan bahwa bukan edukasi yang tidak diberikan namun lebih kearah hasil edukasi yang tidak dituliskan didalam lembar rujukan.

Pemberian edukasi penting untuk dituliskan didalam lembaran rujukan, tidak hanya disampaikan secara lisan, karena sering ditemukan pasien lupa akan pesan dokter puskesmas terkait edukasi untuk dokter spesialis dirumah sakit, seperti apakah perlu dilakukan pengobatan lanjutan di RS, bisakah obat diberikan di puskesmas saja atau lainnya. Demikian dengan dokter spesialis, mereka juga sering dihadapkan pada kondisi dimana pasien berkata “tidak diberitahu apa-apa, saya tidak tahu tentang penyakit saya”, hal ini yang menyebabkan informasi alasan mengapa pasien perlu dirujuk tidak sampai ke dokter spesialis dan pemeriksaan diulang dari awal.

Mutu Rujukan Khusus

Hasil Audit

Hasil Re Audit

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian

Diabetes Melitus

Merupakan DM Tipe 1*

29.2%

68.2%

Pemeriksaan HBA1C 3 bulanan*

6.1%

93.9%

Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan

29.1%

70,9%

57,1%

38,1%

4,8%

Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Diabetes Melitus Tipe 2

Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus diabetes melitus, dua kriteria awal tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan satu kriteria yakni Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan, dengan perkecualian pada kasus DM 2 dengan komplikasi, DM tipe 1 atau kasus DM baru. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus diabetes melitus yang tidak perlu.

Mutu Rujukan Khusus

Hasil Audit

Hasil Re Audit

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian

Demam Dengue

Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi

92,9%

0,0%

7,1%

88,9%

0,0%

11,1%

Sudah menghubungi RS

27,7%

0,0%

72,3%

77,8%

22,2%

0,0%

Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam

33,3%

55,6%

11,1%

Terpasang Infus

44,0%

40,0%

16,0%

Trombosit < 100.000

78,2%

0,0%

21,8%

Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Demam Dengue

Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Demam Dengue, dua kriteria tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan tiga kriteria yakni Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi, Sudah menghubungi RS dan Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan pemberian Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus Demam dengue yang tidak perlu.

Mutu Rujukan Khusus

Hasil Audit

Hasil Re Audit

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Kode 1

Kode 2

Kode 3

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian

Sesuai Kriteria

Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian

Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian

Hipertensi Esensial

Target tekanan darah tidak tercapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian terapi kombinasi 2 obat selama 3 bulan

62,4%

36,6%

1,1%

Pre Eklamsia Berat

tekanan darah > 160/110 / Proteinuria 500 gr/24 jam / dipstik +2

90,9%

9,1%

0,0%

Terdapat edema

69,9%

0,0%

30,1%

81,8%

9,1%

9,1%

Merujuk dalam waktu 1×24 jam sejak diagnosa PEB ditegakkan

93,6%

0,0%

6,4%

100,0%

0,0%

0,0%

Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Hipertensi Esensial dan PEB

Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Hipertensi Esensial dan PEB, Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas dapat menurunkan rujukan kasus Hipertensi Esensial dan PEB yang tidak perlu.

 

 

 

Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 02 – 08 Desember 2014)

Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 2 – 8 Desember 2014)

Sesuai dengan kesepakatan 44 Puskesmas DKI Jakarta pada pertemuan terakhir tanggal 11-12 November 2014 di Puri Denpasar lalu, menghasilkan tindak lanjut yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas yaitu perlunya ujicoba sistem dan pedoman rujukan layanan kesehatan primer yang telah disusun bersama-sama. Ujicoba diharapkan mulai dilaksanakan pada tanggal 24 November hingga 07 Desember 2014. Kemudian setelah ujicoba diharapakan 44 Puskesmas melakukan re audit pada pasien yang dirujuk pada periode dua minggu (24 Des-07 Des 2014) dengan jumlah maksimal 100 pasien. Pelaksaaan ujicoba dan re audit di monitoring oleh tim FK UGM melalui kunjungan lapangan dan telepon maupun sms dan WhatsApp untuk mengetahui apakah 44 puskesmas telah melakukan ujocoba dan re audit dan kendala-kendala yang ditemui selama pelaksanaan ujicoba dan re audit. Berikut ini hasil monitoring 44 Puskesmas:

No

44 Puskesmas

Mulai Ujicoba

Yang ditemui

Temuan

Melalui

1.

PKM Tanah Abang

26-11-2014

dr. Dwi Maisa

  • Menggunakan 2 form ujicoba, dari BPJS dan UGM
  • Selama proses ujicoba belum ada complain dari BPJS maupun dari RS
  • Belum ada rujukan balik yang diterima
  • Pada form
  • Tempat tanda tangan kecil
  • Form UGM lengkap

Kunjungan  langsung

Selasa, 02 Desember 2014, Pk. 10.30-12.00 WIB

2.

PKM Gambir

Belum Ujicoba

dr. Lady Simbolon

  • Belum dilakukan ujicoba, terkendala oleh koordinasi yang kurang dan kesibukan akhir tahun
  • Rencana mulai ujicoba pada Senin, 08 Desember 2014

Kunjungan langsung

Rabu, 03 Desember 2014,

3.

PKM Cempaka Putih

26-11-2014

dr. Eveline

  • Menggunakan 2 form rujukan (1 form BPJS dan 1 form dari yang sudah disusun
  • Internal: Petugas PKM agak berat untuk menulis 2 form
  • Sudah ada beberapa feedback dari RS
  • Jumlah kunjungan yang menggunakan form tersebut sebnayak 56 orang

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

4.

PKC Johar Baru

24-11-2014

dr. Linda

  • Menggunakan 2 form (form rujukan biasa dari Puskesmas dan form komunikasi yang sudah disepakati)
  • Selama pelaksanaan ujicoba, belum ada kendala, karena belum menerima rujukan balik dari rumah sakit
  • Jumlah pasien yang menggunakan form rujukan komunikasi dari UGM 3 orang

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

5.

PKC Palmerah

24-11 2014

dr. Endang

  • Jumlah pasien yang dirujuk dengan form baru dari tangal 24 sampai dengan 3 desember 2014 sejumlah 72 rujukan, dimana pasien umum145 pasien. Askes71 P. MTBS, 9 Poli KIA, 22 Poli Gigi, 4 L24J 2 P. PTM 1 dan RB 6

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

6.

PKC Pancoran

27-11-2014

dr. Mayalita

  • Menggunakan 2 form rujukan dari BPJS dan UGM
  • Sudah ada rujukan balik dari RS
  • Keluhan petugas PKM, karena lembar yang harus diisi banyak, sehingga disiasati, perawat mengisi form BPJS, sementara form UGM diisi oleh dokter
  • Form UGM lebih lengkap

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

7.

PKM Tebet

26-11-2014

dr. Lies

  • Menggunakan 2 form rujukan dari BPJS dan UGM
  • Biasanya tidak ada rujukan balik (menurut informasi yang diperoleh dari RS, selama dokter RS belum menuliskan diagnose dan hasil lab, petugas RS tidak mau mengembalikan form rujukan/rujukan balik

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

8.

PKC Kembangan

24-11-2014

dr. Irmawati

  • Menggunakan 2 form (rujukan BPJS online dan rujukan manual PKM). Form rujukan manua PKM hampir sama dengan form yang draf punya UGM. Sehingga draf dari UGM tdk digunakan karena isinya hampir sama
  • pasien minta rujukan tanpa membawa pasien

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

9.

PKM Pesanggrahan

25-11 2014

Dr. Maya

  • ada keluhan dari dokter2 puskesmas krn  format yg diisi terlalu panjang

Telepon

Rabu, 03 Desember 2014

10.

PKM Makassar

26-11-2014

dr. Ani

  • Menggunakan 2 form
  • Tidak ada kendala, baik dari BPJS maupun RS dan pasien
  • Sudah banyak rujukan yang balik

Kunjungan langsung

Kamis, 04 Desember 2014

11.

PKM Kramat Jati

26-11-2014

dr. Titut

  • Tidak ada kendal

Telepon

Kamis, 04 Desember 2104

12.

PKM Kemayoran

26-11-2014

Deby M Utami

  • rujukan belum ada yang balik, pasien sudah diedukasi
  • menggunakan 3 form, (DPJP, rujukan dan form dri UGM)

Kunjungan langsung

Jumat, 05 Desember 2014

13.

PKM Kemayoran Lama

Belum ujicoba

dr. Dian

  • form rujukan di website sulit didownload
  • beberapa pasien datang meminta no rujukan karena di RS sudah menerapkan sistem online

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

14.

PKM Mampang

26-11-2014

dr. Chitra

Belum ada rujukan balik yang dikembalikan oleh pasien yang sudah dirujuk

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

15.

PKC Pancoran

Belum Ujicoba

dr. Syah

Masih dikonsultasikan ke BPJS

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

16.

PKC Koja

25-11-3014

dr. Vinna

Menggunakan form yang pertama disusun, karena sdh terlanjur copy banyak

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

17.

PKC Cilandak

Belum diujicoba

dr. Luigi

Secepatnya, akan segera diujicoba

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

18.

PKC Duren Sawit

25-11-2014

dr. Onie

Sudah di Uji 

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

19.

PKC Cilincing

Belum ujicoba

dr. Lia

Karena belum terima surat resmi dari dinkes dan BPJS

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

20.

PKC Jagakarsa

24-11-2014

dr. Dewi

 

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

21.

PKC Kelapa Gading

26-11-2014

dr. Ika

 

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

22.

PKC Ciracas

24-11-2014

dr. Ahrahayati

 

Telepon

Jumat, 05 Desember 2014

23.

PKC Tanjung Priok

Sudah Ujicoba

dr. Devi

Karena sikon yang tidak memungkinkan pd tanggal tsb ada Konvensi Mutu tingkat nasional di Solo sdg Rahes tdk bs  mendelegasikan pd TS lain krn sdg pelatihan CTU

Telepon

05 Desember 2014

24.

PKC Sawah Besar

Belum Ujicoba

dr. Elisabeth

Saat pelaksanaan ujicoba Puskesmas sedang ISO sehingga tidak sempat melakukan ujicoba

SMS

8 Desember 2014

25.

PKC Menteng

Belum ujicoba

dr. Victor Apryanto

Belum mau ujicoba jika belum disosialisasikan ke BPJS

SMS

8 Desember 2014

26.

PKM Taman Sari

Belum Ujicoba

dr. Arum Puspitasari

Belum jelas siapa coordinator yang ditunjuk untuk menjalankan sistem dan pedoman tersebut

Telepon

8 Desember 2014

27.

PKC Senen

Sudah Ujicoba

dr.Anna Hasnaini

  • sudah menjalankan tapi hnya untuk 4 penyakit saja dengan melampirkan 2 rujukan
  • 15 pasien yang dirujuk dengan form rujukan
  • Mulai ujicoba 02 Desember 2014

Telepon

8 Desember 2014

28.

PKC Pulogadung

Belum ujicoba

 

Belum melakukan ujicoba karena kesibukan

Telepon

8 Desember 2014

29.

PKM Tambora

Sudah ujicoba

dr. Rahmi Marisa

 

Telepon

8 Desember 2014

30.

PKM Cakung

Belum Ujicoba

dr. Dessy  Aryani

Belum mengetahui

SMS

8 Desember 2014

31.

PKM Mampang

Sudah ujicoba

dr. Chitra R

 

Telepon

8 Desember 2014

32.

PKM Matraman

Sudah ujicoba

dr. M. Herry Zainal

 

Telepon

8 Desember 2014

33.

PKC Pasar Rebo

Sudah ujicoba

dr. Sri R. Amelia

 

Telepon

8 Desember 2014

34.

PKC Kepulauan Seribu Utara

Belum ujicoba

drg. Mulahutagaol

Direktur belum ACC

Sms

09 Desember 2014

35.

PKM Cipayung

Sudah Ujicoba

dr. Uty Kumalaningtyas

 

Telepon 09 Desember 2014

36.

PKC Cengkareng

Sudah ujicoba

dr. Eko Budi

Rujukan belum ada yang balik

Telepon 09 Desember 2014

37.

PKM Penjaringan

Belum ujicoba

Belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk. Yang datang pada pertemuan berganti-ganti

 

Tatap muka langsung 11 Desember 2014

38.

PKM Pademangan

Belum Ujicoba

Koordinator tidak diketahui, saat diundang pertemuan yang hadir berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas

 

Tatap muka langsung 11 Desember 2014

39.

PKM Kalideras

 

Sulit dihubungi

 

 

40.

PKM Petamburan

 

Sulit dihubungi

 

 

41

PKM Setia budi

 

Sulit dihubungi

 

 

44

PKM Pasar minggu

 

Sulit  dihubungi

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari hasil monitoring jarak jauh dan kunjungan lapangan yang dilakukan oleh tim FK UGM hingga tanggal 11 Desember 2014, tercatat ada tigabelas Puskesmas yang belum melakukan ujicoba yaitu PKC Kepulauan Seribu Utara, Cakung, Pulogadung, Taman sari, Menteng, Sawah Besar, Cilincing, Cilandak, Pancoran, Kebayoran lama, Gambir, Penjaringan dan Pademangan. Ada berbagai hal yang menyebabkan mengapa puskesmas tersebut belum melaksanakan ujicoba, diantaranya Koordinator yang datang pada setiap pertemuan berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas , belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk untuk bertanggungjawab pada pelaksanaan ujicoba, ada juga puskesmas yang tidak mau melakukan ujicoba jika draf sistem dan pedoman rujukan tersebut belum disosialisasikan ke BPJS dan menunggu persetujuan dari kepala Puskesmas. Sementara empat Puskesmas lainnya yaitu Puskesmas Kalideras, Petamburan, Setiabudi, dan pasar minggu sulit dihubungi, saat ditelepon tidak nyambung dan sms juga tidak dibalas, sehingga tim kesulitan untuk memperoleh informasi.