Jakarta – Setahun penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai penyelenggara progran JKN masih diasosiasikan sebagai asuransi oleh masyarakat, bukan sebagai penyelenggara jaminan sosial kesehatan.
Quality Management in health Care – Part 1
Quality is something that everyone strives for. People flock to where there is evidence of quality services in terms of timely delivery, service satisfaction on the product that will give you positive outcomes, positive attitude from service providers etc.
Ratusan Puskesmas di Riau beroperasi 24 jam 2015
Pekanbaru (ANTARA News) – Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan sebanyak 211 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di provinsi itu akan beroperasi 24 jam pada tahun 2015.
Outlook Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2015
Setelah mencermati peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 2014, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM memprediksi beberapa perkembangan/issue yang terkait dalam manajemen mutu pelayanan kesehatan di Indonesia dan dunia pada tahun 2015, yaitu:
Keterkaitan antara Mutu Pelayanan Kesehatandengan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional terutama terkait dengan risiko turunnya mutu pelayanan klinis (clinical care) akibat fraud. Hal ini akan membutuhkan berbagai kegiatan yang merupakan tindak lanjut kegiatan tahun 2014, yaitu: penyusunan Permenkes mengenai Upaya Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud dalam JKN; mendorong penyusunan dan pengesahan Pedoman Nasional Praktek Kedokteran (PNPK) dari berbagai organisasi profesi; mendorong penyusunan dan implementasi Clinical Pathway di RS sebagai salah satu upaya efisiensi dan mencegah fraud layanan kesehatan; Blended learning anti fraud bagi Dinkes disamping bagi RS; Realisasi pembentukan lembaga anti fraud di level sarana pelayanan kesehatan, BPJS dan Kemenkes/Dinkes; mendorong penggunaan IT untuk melakukan pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud di internal RS dan BPJS; serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendukung terbentuknya sistem Pencegahan, Deteksi, dan Penindakan Fraud dalam era JKN.
Keterkaitan antara Mutu Pelayanan KIA dengan Kematian Ibu dan Bayi terutama di rumah sakit (termasuk keterkaitan dengan sistem rujukan, PONEK, ketersediaan tenaga dokter spesialis) akan menjadi penting karena akan ada kelanjutan dari progam MDG dan juga akan adanya tuntutan akuntabilitas bagi pemerintahan baru (setelah pemilu) akan adanya program yang efektif menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi. Hal ini juga membutuhkan berbagai kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan tahun 2014, antara lain yaitu: Project AIPMNH tahap II (Project “Permata”); Diskusi bulanan KIA di Provinsi DIY, Pengembangan sistem rujukan KIA di Timika.
Keterkaitan antara Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Sistem Kesehatan secara Keseluruhan akan menjadi penting karena semakin disadari bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan sangat terkait dengan berbagai aspek lain dalam sistem kesehatan yaitu pembiayaan, SDM, pendidikan, pencatatan dan pengolahan data untuk mengambil kebijakan, organisasi profesi, pemerintah dan pemerintah daerah.
Mencermati perkembangan tersebut maka Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-UGM meyiapkan kegiatan sebagai berikut:
- Kegiatan Project Konsultasi
- Lanjutan Konsultasi SH dan PML dengan dana dari AusAID (Project “Permata”)
- Konsultasi Penerapan Sistem Rujukan KIA di Timika, Papua
- Konsultasi Penerapan Program Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud di RS
- Pelatihan Blended Learning Anti Fraud
- Kegiatan Penelitian
- Monitoring dan Evaluasi dampak BPJS/JKN terhadap mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
- Identifikasi Potensi Fraud dalam JKN
- Dampak akreditasi RS atau implementasi clinical pathway dalam upaya mencegah atau menurunkan fraud dalam layanan kesehatan
- Kegiatan Analisa Kebijakan
- Analisa Kebijakan Kendali Mutu dalam BPJS/JKN
- Analisa Kegiatan Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud dalam JKN
- Analisa Kebijakan Implementasi Manual Rujukan KIA
Laporan Kunjungan 3 Puskesmas Kecamatan di DKI Jakarta
Pada tanggal 25-27 Juni 2014, tim sistem rujukan mengunjungi 3 Puskesmas di Jakarta yaitu Puskesmas Kecamatan Keramat Jati yang berada di Jakarta Timur, Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk yang berada di Jakarta Barat dan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih yang berada di Jakarta Pusat.
Tiga Puskesmas ini merupakan Puskesmas perawatan yang melayani rawat inap, rumah bersalin, layanan 24 jam dan poliklinik.
Tabel. 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Kecamatan Keramat Jati & Puskesmas Kebon Jeruk Tahun 2013 dan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2014
|
No |
PKM Kecamatan |
PKM Kecamatan |
PKM Kecamatan |
|
1. |
Infeksi Akut Lain pada saluran Pernafasan Bagian Bawah |
ISPA |
ISPA |
|
2. |
Penyakit Lain pada Saluran Pernafasan Bagian Atas |
Penyakit Darah Tinggi |
Gastritis dan Duodenitis |
|
3. |
Gatritis dan Duodenitis |
Infeksi Penyakit Usus yang Lain |
Penyakit Tulang Belulang |
|
4. |
Penyakit pada Sistem Otot dan Jaringan pengikat (Penyakit Tulang Berulang) |
Penyakit PD Sistem Otot & Jaringan Pengikat |
Penyakit Tekanan Darah Tinggi |
|
5. |
TB Paru Klinis |
Gingivitis & Penyakit Periodental |
Penyakit kulit Infeksi |
|
6. |
Ulcus Genital – Herpes |
Penyakit Kulit Alergi |
Diare |
|
7. |
Pneumonia |
Diare (Termasuk tersangka Kolera) |
Penyakit Pulpa dan Jaringan Pariapikal |
|
8. |
Diare (termasuk tersangka kolera) |
Penyakit Kulit Infeksi |
Diabetes Melitus |
|
9. |
Vaginitis + GO dan Clamidia |
Penyakit lain PD Sal. Pernafasan Atas |
|
|
10. |
Infeksi Penyakit Usus Lainnya |
Penyakit Rongga Mulut, Kel. Ludah, rahang |
|
1. Puskesmas Keramat jati (25 Juni 2014)
Puskesmas Keramat Jati terletak di Wilayah Jakarta Timur

gambar. Puskesmas Keramat jati
RS rujukan yang paling banyak di rujuk oleh Puskesmas Keramat Jati adalah RSUD Pasar Rebo, RS POLRI, RS Budi Asih,

Gambar. Status Pasien Poli Semi Spesialis Puskesmas Kecamatan Keramat Jati

Gambar. Register Poliklinik Puskesmas Kecamatan Keramat Jati

Gambar. Register Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Keramat Jati
2. Puskesmas Kebon Jeruk (26 Juni 2014)
Puskesmas Kebon Jeruk terletak di Wilayah Jakarta Barat

Gambar. Puskesmas Kebon Jeruk (Tampak Samping)

Gambar. Status Pasien & Surat Rujukan Poli Penyakit Dalam Kecamatan Kebon Jeruk

Gambar. Register Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk

Gambar. Register Pelayanan 24 Jam Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk
Berikut 10 Penyakit terbanyak yang dirujuk di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk adalah
- DM
- Hipertensi
- Coronary akut Disease
- TB Paru
- Katarak
- Hipertensi Heart Disease
- Akut Miocard Infark/MCI
- LBP
- CRF (cronic renal failure) /
- Kehamilan > 48 mgg
|
No |
Jabatan |
PNS |
non PNS |
Jumlah |
|
1 |
Dokter Umum |
9 |
14 |
23 |
|
2 |
Dokter Gigi |
10 |
4 |
14 |
|
3 |
Perawat |
18 |
8 |
26 |
|
4 |
Perawat gigi |
3 |
4 |
7 |
|
5 |
Bidan |
12 |
22 |
34 |
|
6 |
Ahli Gizi |
3 |
3 |
6 |
|
7 |
Radiologi |
1 |
1 |
2 |
|
8 |
Apoteker |
1 |
0 |
1 |
|
9 |
Aisten Apoteker |
0 |
8 |
8 |
|
10 |
Analisa Laboratorium |
1 |
2 |
3 |
|
11 |
Lain- lain |
15 |
26 |
41 |
|
12 |
Sopir |
0 |
3 |
3 |
|
Total |
73 |
95 |
168 |
3. Puskesmas Cempaka Putih (27 Juni 2014)
Puskesmas Cempaka Putih terletak di Wilayah Jakarta Pusat

Gambar. Puskesmas Cempaka Putih (Tampak depan)

Gambar. Register Rawat Inap Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih

Gambar. Lembar Rekapitulasi Kunjungan dan Rujukan Rawat Inap Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Untuk rumah Bersalin di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih, status pasien rujukan

Gambar. Lokasi Status Pasien Rujukan Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Data Kunjungan dan Rujukan PKM Kecamatan Cempaka Putih Tahun 2013
|
No |
Puskesmas |
Kunjungan |
Rujukan |
|
1. |
CPT |
152.155 |
6.766 |
|
2. |
CPB I |
15.315 |
1.709 |
|
3. |
CPB 2 |
20.332 |
1.752 |
|
4. |
Rawasari |
14.782 |
2.215 |
|
Total |
202.582 |
12.442 |
|
Lokakarya Evaluasi Akhir Program Sister Hospital dan PML Rumah Sakit di Provinsi NTT
Pada hari kedua kegiatan lokakarya evaluasi akhir program SH dan PML RS di Provinsi NTT ini lebih banyak menfokuskan pada diskusi rencana tindak lanjut kesepakatan untuk keberlangsungan dan pengembangan program SH dan PML di seluruh kabupaten yang termasuk bagianProvinsi NTT. Pengantar diskusi disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, dr. Idawati Trisno, M. Kes, dan dr. Hanevi Djasri, MARS. Kembali ke tujuan awal dari sister hospital yaitu mencapai ketersediaan pelayanan PONEK 24 jam rumah sakit di Provinsi NTT. Sementara, tujuan jangka pendek adalah melakukan kontrak kerja dengan tenaga medis spesialis dan tujuan jangka panjang adalah tersedianya tenaga medis spesialis di rumah sakit.
Palliative care needs dramatic improvements: Report
12,000 people die in hospital each year in Ontario
A report from Ontario’s auditor general that said access to palliative care services is not equitable across the province came as no surprise to Léo Therrien.
The executive director of Maison Vale Hospice said all three parties in Queen’s Park agree there needs to be more funding and support for hospice palliative care in Ontario.
The auditor general’s report said Ontario has no integrated and co-ordinated system to deliver palliative care services to an aging population.
Setahun Berjalan, Berbagai Persoalan Masih Dihadapi Program Jaminan Kesehatan Nasional
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah berjalan hampir satu tahun.
Awal November kemarin, pemerintah juga telah meluncurkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang akan menyempurnakan program JKN. Kartu ini memprioritaskan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), seperti gelandangan, yatim piatu, orang cacat, penghuni panti asuhan dan lainnya, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa.
Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas Provinsi DKI Jakarta
Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas
Provinsi DKI Jakarta
Re-Audit diperlukan sebagai tahapan dalam siklus audit mutu rujukan puskesmas, dimana digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap intervensi yang dikerjakan. Berdasarkan hasil pertemuan tanggal 11 November 2014 di Hotel Puri Denpasar, disepakati bahwa puskesmas akan mencoba menggunakan sebuah form rujukan baru beserta guideline rujukan dari Pedoman Praktek Klinis dari IDI. Intervensi dilakukan selama 2 minggu pada periode 24 November hingga 7 desember 2014.
Pasca pelaksanaan intervensi selama 2 minggu, kemudian dilakukan re-audit terhadap seluruh pasien yang dirujuk pada periode tersebut, dengan ketentuan maksimal sebanyak 100 pasien per puskesmas. Total data sementara yang didapat adalah sebanyak 11 puskesmas mengumpulkan audit mutu rujukan sebanyak 850 pasien yang terbagi dalam
- Kasus Diabetes Melitus 105 (12,4%)
- Kasus Demam Dengue 9 (1,1%)
- Kasus PEB 11 (1,3%)
- Kasus Hipertensi Esensial 93 (10,9%)
- Kasus Lain (74,4%)
Berikut adalah gambaran hasil re-audit dibandingkan dengan audit sebelumnya
|
Kelengkapan Surat Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Identitas Pasien |
96,1% |
0,0% |
3,9% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
|
Tanggal Merujuk |
93,0% |
0,0% |
7,0% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
|
Nama RS yang dtuju |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,8% |
0,0% |
0,2% |
|
Poli / UGD yang dituju |
92,4% |
0,0% |
7,6% |
97,6% |
0,0% |
2,4% |
|
Hasil Anamnesa |
24,0% |
0,0% |
76,0% |
67,2% |
2,7% |
30,1% |
|
Diagnosa |
95,5% |
0,0% |
4,5% |
99,4% |
0,1% |
0,5% |
|
Hasil Pemeriksaan Fisik |
31,4% |
0,0% |
68,6% |
52,8% |
8,0% |
39,2% |
|
Pemeriksaan Laboratorium |
21,9% |
32,9% |
39,8% |
26,1% |
53,9% |
20,0% |
|
Terapi Sementara |
28,4% |
0,0% |
71,6% |
44,2% |
25,3% |
30,5% |
|
Tindakan yang telah diberikan |
24,3% |
1,5% |
74,6% |
33,6% |
28,8% |
37,6% |
|
Tanda tangan dokter yang merujuk |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
Tabel Kelengkapan Surat Rujukan
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada awal penerapan audit mutu rujukan terkait kelengkapan komponen surat rujukan didapatkan ada 5 komponen kriteria yang berada dibawah standar mutu 80% yakni, hasil anamnesa yang tidak ditulis, pemeriksaan fisik, laboratorium jika ada, penulisan terapi sementara serta tindakan yang diberikan jika ada. Evaluasi yang dilakukan pada audit kedua ternyata didapatkan penurunan yang cukup besar dari kelima komponen tersebut, meskipun masih berada dibawah standar mutu 80% tetapi penerapannya sudah menjadi lebih baik, menurun tajam dibanding sebelumnya.
|
Mutu Rujukan PUSKESMAS |
Hasil Audit |
Hasil Re-Audit |
||
|
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
|
|
Puskesmas A |
74,5% |
25,5% |
93,7% |
6,3% |
|
Puskesmas B |
62,5% |
37,5% |
83,8% |
16,2% |
|
Puskesmas C |
76,2% |
23,8% |
88,2% |
11,8% |
|
Puskesmas D |
74,9% |
25,1% |
94,9% |
5,1% |
|
Puskesmas E |
72,1% |
27,9% |
100,0% |
0,0% |
|
Puskesmas F |
88,4% |
11,6% |
99,9% |
0,1% |
|
Puskesmas G |
76,6% |
23,4% |
86,5% |
13,5% |
|
Puskesmas H |
53,7% |
46,3% |
70,9% |
29,1% |
|
Puskesmas I |
78,2% |
21,8% |
77,2% |
22,8% |
|
Puskesmas J |
43,4% |
56,6% |
90,2% |
9,8% |
|
Puskesmas K |
97,4% |
2,6% |
99,7% |
0,3% |
Tabel …. Ketepatan rujukan di masing-masing puskesmas
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan masing-masing puskesmas yang telah mengumpulkan data hasil re-audit, pada tabel hasil audit menunjukkan banyaknya ketidaksesuaian proses rujukan di 10 Puskesmas, seperti misalnya pada puskesmas H, data menunjukkan bahwa 46,3% pasien dirujuk tidak sesuai dengan kriteria rujukan, namun setelah adanya intervensi terjadi penurunan menjadi 29,1%, demikian pula dengan puskesmas lain, banyak rujukan yang kualitasnya meningkat.
|
Ketepatan Proses Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diagnosa diluar diagnosa layanan primer |
79,2% |
38,4% |
7,8% |
85,4% |
10,1% |
4,5% |
|
Merujuk ke tempat rujukan yang sesuai |
96,0% |
0,0% |
4,0% |
96,2% |
2,1% |
1,6% |
|
Pasien didampingi tenaga kesehatan |
17,2% |
42,6% |
21,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Menggunakan ambulance transport |
11,2% |
42,8% |
22,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Memberikan edukasi |
20,5% |
0,0% |
79,5% |
67,6% |
1,1% |
31,3% |
|
Melakukan Komunikasi dengan RS |
12,4% |
36,5% |
37,2% |
37,9% |
61,3% |
0,8% |
|
Pasien dirujuk 1×24 jam sejak diagonis ditegakkan |
43,0% |
46,7% |
7,0% |
43,4% |
56,7% |
0,0% |
Tabel ….. Tabel Ketepatan Proses Rujukan
Tabel …. menunjukan kriteria ketepatan proses rujukan secara umum, dimana terdapat tujuh kriteria proses yang digunakan untuk menilai apakah rujukan tersebut baik atau tidak. Berdasarkan tujuh kriteria, diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang masih memiliki nilai dibawah standar 80% kesesuaian yakni pada penggunaan ambulance transport, edukasi pasien, maupun komunikasi dengan pihak rumah sakit. Setelah dilakukan intervensi, ternyata terdapat peningkatan kualitas rujukan, dimana hasil re audit menunjukkan hanya satu komponen kriteria yang masih belum memenuhi kualitas yakni pada pemberian edukasi kepada pasien. Hasil wawancara dengan dokter menunjukkan bahwa bukan edukasi yang tidak diberikan namun lebih kearah hasil edukasi yang tidak dituliskan didalam lembar rujukan.
Pemberian edukasi penting untuk dituliskan didalam lembaran rujukan, tidak hanya disampaikan secara lisan, karena sering ditemukan pasien lupa akan pesan dokter puskesmas terkait edukasi untuk dokter spesialis dirumah sakit, seperti apakah perlu dilakukan pengobatan lanjutan di RS, bisakah obat diberikan di puskesmas saja atau lainnya. Demikian dengan dokter spesialis, mereka juga sering dihadapkan pada kondisi dimana pasien berkata “tidak diberitahu apa-apa, saya tidak tahu tentang penyakit saya”, hal ini yang menyebabkan informasi alasan mengapa pasien perlu dirujuk tidak sampai ke dokter spesialis dan pemeriksaan diulang dari awal.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diabetes Melitus |
||||||
|
Merupakan DM Tipe 1* |
29.2% |
– |
68.2% |
– |
– |
– |
|
Pemeriksaan HBA1C 3 bulanan* |
6.1% |
– |
93.9% |
– |
– |
– |
|
Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan |
29.1% |
– |
70,9% |
57,1% |
38,1% |
4,8% |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Diabetes Melitus Tipe 2
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus diabetes melitus, dua kriteria awal tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan satu kriteria yakni Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan, dengan perkecualian pada kasus DM 2 dengan komplikasi, DM tipe 1 atau kasus DM baru. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus diabetes melitus yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Demam Dengue |
||||||
|
Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi |
92,9% |
0,0% |
7,1% |
88,9% |
0,0% |
11,1% |
|
Sudah menghubungi RS |
27,7% |
0,0% |
72,3% |
77,8% |
22,2% |
0,0% |
|
Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam |
– |
– |
– |
33,3% |
55,6% |
11,1% |
|
Terpasang Infus |
44,0% |
40,0% |
16,0% |
– |
– |
– |
|
Trombosit < 100.000 |
78,2% |
0,0% |
21,8% |
– |
– |
– |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Demam Dengue
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Demam Dengue, dua kriteria tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan tiga kriteria yakni Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi, Sudah menghubungi RS dan Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan pemberian Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus Demam dengue yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Hipertensi Esensial |
||||||
|
Target tekanan darah tidak tercapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian terapi kombinasi 2 obat selama 3 bulan |
– |
– |
– |
62,4% |
36,6% |
1,1% |
|
Pre Eklamsia Berat |
||||||
|
tekanan darah > 160/110 / Proteinuria 500 gr/24 jam / dipstik +2 |
– |
– |
– |
90,9% |
9,1% |
0,0% |
|
Terdapat edema |
69,9% |
0,0% |
30,1% |
81,8% |
9,1% |
9,1% |
|
Merujuk dalam waktu 1×24 jam sejak diagnosa PEB ditegakkan |
93,6% |
0,0% |
6,4% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Hipertensi Esensial dan PEB
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Hipertensi Esensial dan PEB, Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas dapat menurunkan rujukan kasus Hipertensi Esensial dan PEB yang tidak perlu.
Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 02 – 08 Desember 2014)
Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 2 – 8 Desember 2014)
Sesuai dengan kesepakatan 44 Puskesmas DKI Jakarta pada pertemuan terakhir tanggal 11-12 November 2014 di Puri Denpasar lalu, menghasilkan tindak lanjut yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas yaitu perlunya ujicoba sistem dan pedoman rujukan layanan kesehatan primer yang telah disusun bersama-sama. Ujicoba diharapkan mulai dilaksanakan pada tanggal 24 November hingga 07 Desember 2014. Kemudian setelah ujicoba diharapakan 44 Puskesmas melakukan re audit pada pasien yang dirujuk pada periode dua minggu (24 Des-07 Des 2014) dengan jumlah maksimal 100 pasien. Pelaksaaan ujicoba dan re audit di monitoring oleh tim FK UGM melalui kunjungan lapangan dan telepon maupun sms dan WhatsApp untuk mengetahui apakah 44 puskesmas telah melakukan ujocoba dan re audit dan kendala-kendala yang ditemui selama pelaksanaan ujicoba dan re audit. Berikut ini hasil monitoring 44 Puskesmas:
|
No |
44 Puskesmas |
Mulai Ujicoba |
Yang ditemui |
Temuan |
Melalui |
|
1. |
PKM Tanah Abang |
26-11-2014 |
dr. Dwi Maisa |
|
Kunjungan langsung Selasa, 02 Desember 2014, Pk. 10.30-12.00 WIB |
|
2. |
PKM Gambir |
Belum Ujicoba |
dr. Lady Simbolon |
|
Kunjungan langsung Rabu, 03 Desember 2014, |
|
3. |
PKM Cempaka Putih |
26-11-2014 |
dr. Eveline |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
4. |
PKC Johar Baru |
24-11-2014 |
dr. Linda |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
5. |
PKC Palmerah |
24-11 2014 |
dr. Endang |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
6. |
PKC Pancoran |
27-11-2014 |
dr. Mayalita |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
7. |
PKM Tebet |
26-11-2014 |
dr. Lies |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
8. |
PKC Kembangan |
24-11-2014 |
dr. Irmawati |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
9. |
PKM Pesanggrahan |
25-11 2014 |
Dr. Maya |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
10. |
PKM Makassar |
26-11-2014 |
dr. Ani |
|
Kunjungan langsung Kamis, 04 Desember 2014 |
|
11. |
PKM Kramat Jati |
26-11-2014 |
dr. Titut |
|
Telepon Kamis, 04 Desember 2104 |
|
12. |
PKM Kemayoran |
26-11-2014 |
Deby M Utami |
|
Kunjungan langsung Jumat, 05 Desember 2014 |
|
13. |
PKM Kemayoran Lama |
Belum ujicoba |
dr. Dian |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
14. |
PKM Mampang |
26-11-2014 |
dr. Chitra |
Belum ada rujukan balik yang dikembalikan oleh pasien yang sudah dirujuk |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
15. |
PKC Pancoran |
Belum Ujicoba |
dr. Syah |
Masih dikonsultasikan ke BPJS |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
16. |
PKC Koja |
25-11-3014 |
dr. Vinna |
Menggunakan form yang pertama disusun, karena sdh terlanjur copy banyak |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
17. |
PKC Cilandak |
Belum diujicoba |
dr. Luigi |
Secepatnya, akan segera diujicoba |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
18. |
PKC Duren Sawit |
25-11-2014 |
dr. Onie |
Sudah di Uji |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
19. |
PKC Cilincing |
Belum ujicoba |
dr. Lia |
Karena belum terima surat resmi dari dinkes dan BPJS |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
20. |
PKC Jagakarsa |
24-11-2014 |
dr. Dewi |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
21. |
PKC Kelapa Gading |
26-11-2014 |
dr. Ika |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
22. |
PKC Ciracas |
24-11-2014 |
dr. Ahrahayati |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
23. |
PKC Tanjung Priok |
Sudah Ujicoba |
dr. Devi |
Karena sikon yang tidak memungkinkan pd tanggal tsb ada Konvensi Mutu tingkat nasional di Solo sdg Rahes tdk bs mendelegasikan pd TS lain krn sdg pelatihan CTU |
Telepon 05 Desember 2014 |
|
24. |
PKC Sawah Besar |
Belum Ujicoba |
dr. Elisabeth |
Saat pelaksanaan ujicoba Puskesmas sedang ISO sehingga tidak sempat melakukan ujicoba |
SMS 8 Desember 2014 |
|
25. |
PKC Menteng |
Belum ujicoba |
dr. Victor Apryanto |
Belum mau ujicoba jika belum disosialisasikan ke BPJS |
SMS 8 Desember 2014 |
|
26. |
PKM Taman Sari |
Belum Ujicoba |
dr. Arum Puspitasari |
Belum jelas siapa coordinator yang ditunjuk untuk menjalankan sistem dan pedoman tersebut |
Telepon 8 Desember 2014 |
|
27. |
PKC Senen |
Sudah Ujicoba |
dr.Anna Hasnaini |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
28. |
PKC Pulogadung |
Belum ujicoba |
|
Belum melakukan ujicoba karena kesibukan |
Telepon 8 Desember 2014 |
|
29. |
PKM Tambora |
Sudah ujicoba |
dr. Rahmi Marisa |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
30. |
PKM Cakung |
Belum Ujicoba |
dr. Dessy Aryani |
Belum mengetahui |
SMS 8 Desember 2014 |
|
31. |
PKM Mampang |
Sudah ujicoba |
dr. Chitra R |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
32. |
PKM Matraman |
Sudah ujicoba |
dr. M. Herry Zainal |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
33. |
PKC Pasar Rebo |
Sudah ujicoba |
dr. Sri R. Amelia |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
34. |
PKC Kepulauan Seribu Utara |
Belum ujicoba |
drg. Mulahutagaol |
Direktur belum ACC |
Sms 09 Desember 2014 |
|
35. |
PKM Cipayung |
Sudah Ujicoba |
dr. Uty Kumalaningtyas |
|
Telepon 09 Desember 2014 |
|
36. |
PKC Cengkareng |
Sudah ujicoba |
dr. Eko Budi |
Rujukan belum ada yang balik |
Telepon 09 Desember 2014 |
|
37. |
PKM Penjaringan |
Belum ujicoba |
Belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk. Yang datang pada pertemuan berganti-ganti |
|
Tatap muka langsung 11 Desember 2014 |
|
38. |
PKM Pademangan |
Belum Ujicoba |
Koordinator tidak diketahui, saat diundang pertemuan yang hadir berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas |
|
Tatap muka langsung 11 Desember 2014 |
|
39. |
PKM Kalideras |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
40. |
PKM Petamburan |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
41 |
PKM Setia budi |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
44 |
PKM Pasar minggu |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dari hasil monitoring jarak jauh dan kunjungan lapangan yang dilakukan oleh tim FK UGM hingga tanggal 11 Desember 2014, tercatat ada tigabelas Puskesmas yang belum melakukan ujicoba yaitu PKC Kepulauan Seribu Utara, Cakung, Pulogadung, Taman sari, Menteng, Sawah Besar, Cilincing, Cilandak, Pancoran, Kebayoran lama, Gambir, Penjaringan dan Pademangan. Ada berbagai hal yang menyebabkan mengapa puskesmas tersebut belum melaksanakan ujicoba, diantaranya Koordinator yang datang pada setiap pertemuan berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas , belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk untuk bertanggungjawab pada pelaksanaan ujicoba, ada juga puskesmas yang tidak mau melakukan ujicoba jika draf sistem dan pedoman rujukan tersebut belum disosialisasikan ke BPJS dan menunggu persetujuan dari kepala Puskesmas. Sementara empat Puskesmas lainnya yaitu Puskesmas Kalideras, Petamburan, Setiabudi, dan pasar minggu sulit dihubungi, saat ditelepon tidak nyambung dan sms juga tidak dibalas, sehingga tim kesulitan untuk memperoleh informasi.