Pada hari kedua kegiatan lokakarya evaluasi akhir program SH dan PML RS di Provinsi NTT ini lebih banyak menfokuskan pada diskusi rencana tindak lanjut kesepakatan untuk keberlangsungan dan pengembangan program SH dan PML di seluruh kabupaten yang termasuk bagianProvinsi NTT. Pengantar diskusi disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, dr. Idawati Trisno, M. Kes, dan dr. Hanevi Djasri, MARS. Kembali ke tujuan awal dari sister hospital yaitu mencapai ketersediaan pelayanan PONEK 24 jam rumah sakit di Provinsi NTT. Sementara, tujuan jangka pendek adalah melakukan kontrak kerja dengan tenaga medis spesialis dan tujuan jangka panjang adalah tersedianya tenaga medis spesialis di rumah sakit.
Palliative care needs dramatic improvements: Report
12,000 people die in hospital each year in Ontario
A report from Ontario’s auditor general that said access to palliative care services is not equitable across the province came as no surprise to Léo Therrien.
The executive director of Maison Vale Hospice said all three parties in Queen’s Park agree there needs to be more funding and support for hospice palliative care in Ontario.
The auditor general’s report said Ontario has no integrated and co-ordinated system to deliver palliative care services to an aging population.
Setahun Berjalan, Berbagai Persoalan Masih Dihadapi Program Jaminan Kesehatan Nasional
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah berjalan hampir satu tahun.
Awal November kemarin, pemerintah juga telah meluncurkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang akan menyempurnakan program JKN. Kartu ini memprioritaskan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), seperti gelandangan, yatim piatu, orang cacat, penghuni panti asuhan dan lainnya, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa.
Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas Provinsi DKI Jakarta
Analisa Data Hasil Re-Audit Mutu Rujukan di 44 Puskesmas
Provinsi DKI Jakarta
Re-Audit diperlukan sebagai tahapan dalam siklus audit mutu rujukan puskesmas, dimana digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap intervensi yang dikerjakan. Berdasarkan hasil pertemuan tanggal 11 November 2014 di Hotel Puri Denpasar, disepakati bahwa puskesmas akan mencoba menggunakan sebuah form rujukan baru beserta guideline rujukan dari Pedoman Praktek Klinis dari IDI. Intervensi dilakukan selama 2 minggu pada periode 24 November hingga 7 desember 2014.
Pasca pelaksanaan intervensi selama 2 minggu, kemudian dilakukan re-audit terhadap seluruh pasien yang dirujuk pada periode tersebut, dengan ketentuan maksimal sebanyak 100 pasien per puskesmas. Total data sementara yang didapat adalah sebanyak 11 puskesmas mengumpulkan audit mutu rujukan sebanyak 850 pasien yang terbagi dalam
- Kasus Diabetes Melitus 105 (12,4%)
- Kasus Demam Dengue 9 (1,1%)
- Kasus PEB 11 (1,3%)
- Kasus Hipertensi Esensial 93 (10,9%)
- Kasus Lain (74,4%)
Berikut adalah gambaran hasil re-audit dibandingkan dengan audit sebelumnya
|
Kelengkapan Surat Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Identitas Pasien |
96,1% |
0,0% |
3,9% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
|
Tanggal Merujuk |
93,0% |
0,0% |
7,0% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
|
Nama RS yang dtuju |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,8% |
0,0% |
0,2% |
|
Poli / UGD yang dituju |
92,4% |
0,0% |
7,6% |
97,6% |
0,0% |
2,4% |
|
Hasil Anamnesa |
24,0% |
0,0% |
76,0% |
67,2% |
2,7% |
30,1% |
|
Diagnosa |
95,5% |
0,0% |
4,5% |
99,4% |
0,1% |
0,5% |
|
Hasil Pemeriksaan Fisik |
31,4% |
0,0% |
68,6% |
52,8% |
8,0% |
39,2% |
|
Pemeriksaan Laboratorium |
21,9% |
32,9% |
39,8% |
26,1% |
53,9% |
20,0% |
|
Terapi Sementara |
28,4% |
0,0% |
71,6% |
44,2% |
25,3% |
30,5% |
|
Tindakan yang telah diberikan |
24,3% |
1,5% |
74,6% |
33,6% |
28,8% |
37,6% |
|
Tanda tangan dokter yang merujuk |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
Tabel Kelengkapan Surat Rujukan
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada awal penerapan audit mutu rujukan terkait kelengkapan komponen surat rujukan didapatkan ada 5 komponen kriteria yang berada dibawah standar mutu 80% yakni, hasil anamnesa yang tidak ditulis, pemeriksaan fisik, laboratorium jika ada, penulisan terapi sementara serta tindakan yang diberikan jika ada. Evaluasi yang dilakukan pada audit kedua ternyata didapatkan penurunan yang cukup besar dari kelima komponen tersebut, meskipun masih berada dibawah standar mutu 80% tetapi penerapannya sudah menjadi lebih baik, menurun tajam dibanding sebelumnya.
|
Mutu Rujukan PUSKESMAS |
Hasil Audit |
Hasil Re-Audit |
||
|
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
|
|
Puskesmas A |
74,5% |
25,5% |
93,7% |
6,3% |
|
Puskesmas B |
62,5% |
37,5% |
83,8% |
16,2% |
|
Puskesmas C |
76,2% |
23,8% |
88,2% |
11,8% |
|
Puskesmas D |
74,9% |
25,1% |
94,9% |
5,1% |
|
Puskesmas E |
72,1% |
27,9% |
100,0% |
0,0% |
|
Puskesmas F |
88,4% |
11,6% |
99,9% |
0,1% |
|
Puskesmas G |
76,6% |
23,4% |
86,5% |
13,5% |
|
Puskesmas H |
53,7% |
46,3% |
70,9% |
29,1% |
|
Puskesmas I |
78,2% |
21,8% |
77,2% |
22,8% |
|
Puskesmas J |
43,4% |
56,6% |
90,2% |
9,8% |
|
Puskesmas K |
97,4% |
2,6% |
99,7% |
0,3% |
Tabel …. Ketepatan rujukan di masing-masing puskesmas
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan masing-masing puskesmas yang telah mengumpulkan data hasil re-audit, pada tabel hasil audit menunjukkan banyaknya ketidaksesuaian proses rujukan di 10 Puskesmas, seperti misalnya pada puskesmas H, data menunjukkan bahwa 46,3% pasien dirujuk tidak sesuai dengan kriteria rujukan, namun setelah adanya intervensi terjadi penurunan menjadi 29,1%, demikian pula dengan puskesmas lain, banyak rujukan yang kualitasnya meningkat.
|
Ketepatan Proses Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diagnosa diluar diagnosa layanan primer |
79,2% |
38,4% |
7,8% |
85,4% |
10,1% |
4,5% |
|
Merujuk ke tempat rujukan yang sesuai |
96,0% |
0,0% |
4,0% |
96,2% |
2,1% |
1,6% |
|
Pasien didampingi tenaga kesehatan |
17,2% |
42,6% |
21,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Menggunakan ambulance transport |
11,2% |
42,8% |
22,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Memberikan edukasi |
20,5% |
0,0% |
79,5% |
67,6% |
1,1% |
31,3% |
|
Melakukan Komunikasi dengan RS |
12,4% |
36,5% |
37,2% |
37,9% |
61,3% |
0,8% |
|
Pasien dirujuk 1×24 jam sejak diagonis ditegakkan |
43,0% |
46,7% |
7,0% |
43,4% |
56,7% |
0,0% |
Tabel ….. Tabel Ketepatan Proses Rujukan
Tabel …. menunjukan kriteria ketepatan proses rujukan secara umum, dimana terdapat tujuh kriteria proses yang digunakan untuk menilai apakah rujukan tersebut baik atau tidak. Berdasarkan tujuh kriteria, diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang masih memiliki nilai dibawah standar 80% kesesuaian yakni pada penggunaan ambulance transport, edukasi pasien, maupun komunikasi dengan pihak rumah sakit. Setelah dilakukan intervensi, ternyata terdapat peningkatan kualitas rujukan, dimana hasil re audit menunjukkan hanya satu komponen kriteria yang masih belum memenuhi kualitas yakni pada pemberian edukasi kepada pasien. Hasil wawancara dengan dokter menunjukkan bahwa bukan edukasi yang tidak diberikan namun lebih kearah hasil edukasi yang tidak dituliskan didalam lembar rujukan.
Pemberian edukasi penting untuk dituliskan didalam lembaran rujukan, tidak hanya disampaikan secara lisan, karena sering ditemukan pasien lupa akan pesan dokter puskesmas terkait edukasi untuk dokter spesialis dirumah sakit, seperti apakah perlu dilakukan pengobatan lanjutan di RS, bisakah obat diberikan di puskesmas saja atau lainnya. Demikian dengan dokter spesialis, mereka juga sering dihadapkan pada kondisi dimana pasien berkata “tidak diberitahu apa-apa, saya tidak tahu tentang penyakit saya”, hal ini yang menyebabkan informasi alasan mengapa pasien perlu dirujuk tidak sampai ke dokter spesialis dan pemeriksaan diulang dari awal.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diabetes Melitus |
||||||
|
Merupakan DM Tipe 1* |
29.2% |
– |
68.2% |
– |
– |
– |
|
Pemeriksaan HBA1C 3 bulanan* |
6.1% |
– |
93.9% |
– |
– |
– |
|
Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan |
29.1% |
– |
70,9% |
57,1% |
38,1% |
4,8% |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Diabetes Melitus Tipe 2
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus diabetes melitus, dua kriteria awal tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan satu kriteria yakni Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan, dengan perkecualian pada kasus DM 2 dengan komplikasi, DM tipe 1 atau kasus DM baru. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus diabetes melitus yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Demam Dengue |
||||||
|
Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi |
92,9% |
0,0% |
7,1% |
88,9% |
0,0% |
11,1% |
|
Sudah menghubungi RS |
27,7% |
0,0% |
72,3% |
77,8% |
22,2% |
0,0% |
|
Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam |
– |
– |
– |
33,3% |
55,6% |
11,1% |
|
Terpasang Infus |
44,0% |
40,0% |
16,0% |
– |
– |
– |
|
Trombosit < 100.000 |
78,2% |
0,0% |
21,8% |
– |
– |
– |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Demam Dengue
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Demam Dengue, dua kriteria tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan tiga kriteria yakni Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi, Sudah menghubungi RS dan Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan pemberian Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus Demam dengue yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Hipertensi Esensial |
||||||
|
Target tekanan darah tidak tercapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian terapi kombinasi 2 obat selama 3 bulan |
– |
– |
– |
62,4% |
36,6% |
1,1% |
|
Pre Eklamsia Berat |
||||||
|
tekanan darah > 160/110 / Proteinuria 500 gr/24 jam / dipstik +2 |
– |
– |
– |
90,9% |
9,1% |
0,0% |
|
Terdapat edema |
69,9% |
0,0% |
30,1% |
81,8% |
9,1% |
9,1% |
|
Merujuk dalam waktu 1×24 jam sejak diagnosa PEB ditegakkan |
93,6% |
0,0% |
6,4% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
Tabel …. Kriteria Rujukan Khusus Kasus Hipertensi Esensial dan PEB
Tabel…. menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Hipertensi Esensial dan PEB, Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas dapat menurunkan rujukan kasus Hipertensi Esensial dan PEB yang tidak perlu.
Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 02 – 08 Desember 2014)
Hasil Monitoring 44 Puskesmas ( 2 – 8 Desember 2014)
Sesuai dengan kesepakatan 44 Puskesmas DKI Jakarta pada pertemuan terakhir tanggal 11-12 November 2014 di Puri Denpasar lalu, menghasilkan tindak lanjut yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas yaitu perlunya ujicoba sistem dan pedoman rujukan layanan kesehatan primer yang telah disusun bersama-sama. Ujicoba diharapkan mulai dilaksanakan pada tanggal 24 November hingga 07 Desember 2014. Kemudian setelah ujicoba diharapakan 44 Puskesmas melakukan re audit pada pasien yang dirujuk pada periode dua minggu (24 Des-07 Des 2014) dengan jumlah maksimal 100 pasien. Pelaksaaan ujicoba dan re audit di monitoring oleh tim FK UGM melalui kunjungan lapangan dan telepon maupun sms dan WhatsApp untuk mengetahui apakah 44 puskesmas telah melakukan ujocoba dan re audit dan kendala-kendala yang ditemui selama pelaksanaan ujicoba dan re audit. Berikut ini hasil monitoring 44 Puskesmas:
|
No |
44 Puskesmas |
Mulai Ujicoba |
Yang ditemui |
Temuan |
Melalui |
|
1. |
PKM Tanah Abang |
26-11-2014 |
dr. Dwi Maisa |
|
Kunjungan langsung Selasa, 02 Desember 2014, Pk. 10.30-12.00 WIB |
|
2. |
PKM Gambir |
Belum Ujicoba |
dr. Lady Simbolon |
|
Kunjungan langsung Rabu, 03 Desember 2014, |
|
3. |
PKM Cempaka Putih |
26-11-2014 |
dr. Eveline |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
4. |
PKC Johar Baru |
24-11-2014 |
dr. Linda |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
5. |
PKC Palmerah |
24-11 2014 |
dr. Endang |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
6. |
PKC Pancoran |
27-11-2014 |
dr. Mayalita |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
7. |
PKM Tebet |
26-11-2014 |
dr. Lies |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
8. |
PKC Kembangan |
24-11-2014 |
dr. Irmawati |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
9. |
PKM Pesanggrahan |
25-11 2014 |
Dr. Maya |
|
Telepon Rabu, 03 Desember 2014 |
|
10. |
PKM Makassar |
26-11-2014 |
dr. Ani |
|
Kunjungan langsung Kamis, 04 Desember 2014 |
|
11. |
PKM Kramat Jati |
26-11-2014 |
dr. Titut |
|
Telepon Kamis, 04 Desember 2104 |
|
12. |
PKM Kemayoran |
26-11-2014 |
Deby M Utami |
|
Kunjungan langsung Jumat, 05 Desember 2014 |
|
13. |
PKM Kemayoran Lama |
Belum ujicoba |
dr. Dian |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
14. |
PKM Mampang |
26-11-2014 |
dr. Chitra |
Belum ada rujukan balik yang dikembalikan oleh pasien yang sudah dirujuk |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
15. |
PKC Pancoran |
Belum Ujicoba |
dr. Syah |
Masih dikonsultasikan ke BPJS |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
16. |
PKC Koja |
25-11-3014 |
dr. Vinna |
Menggunakan form yang pertama disusun, karena sdh terlanjur copy banyak |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
17. |
PKC Cilandak |
Belum diujicoba |
dr. Luigi |
Secepatnya, akan segera diujicoba |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
18. |
PKC Duren Sawit |
25-11-2014 |
dr. Onie |
Sudah di Uji |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
19. |
PKC Cilincing |
Belum ujicoba |
dr. Lia |
Karena belum terima surat resmi dari dinkes dan BPJS |
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
20. |
PKC Jagakarsa |
24-11-2014 |
dr. Dewi |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
21. |
PKC Kelapa Gading |
26-11-2014 |
dr. Ika |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
22. |
PKC Ciracas |
24-11-2014 |
dr. Ahrahayati |
|
Telepon Jumat, 05 Desember 2014 |
|
23. |
PKC Tanjung Priok |
Sudah Ujicoba |
dr. Devi |
Karena sikon yang tidak memungkinkan pd tanggal tsb ada Konvensi Mutu tingkat nasional di Solo sdg Rahes tdk bs mendelegasikan pd TS lain krn sdg pelatihan CTU |
Telepon 05 Desember 2014 |
|
24. |
PKC Sawah Besar |
Belum Ujicoba |
dr. Elisabeth |
Saat pelaksanaan ujicoba Puskesmas sedang ISO sehingga tidak sempat melakukan ujicoba |
SMS 8 Desember 2014 |
|
25. |
PKC Menteng |
Belum ujicoba |
dr. Victor Apryanto |
Belum mau ujicoba jika belum disosialisasikan ke BPJS |
SMS 8 Desember 2014 |
|
26. |
PKM Taman Sari |
Belum Ujicoba |
dr. Arum Puspitasari |
Belum jelas siapa coordinator yang ditunjuk untuk menjalankan sistem dan pedoman tersebut |
Telepon 8 Desember 2014 |
|
27. |
PKC Senen |
Sudah Ujicoba |
dr.Anna Hasnaini |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
28. |
PKC Pulogadung |
Belum ujicoba |
|
Belum melakukan ujicoba karena kesibukan |
Telepon 8 Desember 2014 |
|
29. |
PKM Tambora |
Sudah ujicoba |
dr. Rahmi Marisa |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
30. |
PKM Cakung |
Belum Ujicoba |
dr. Dessy Aryani |
Belum mengetahui |
SMS 8 Desember 2014 |
|
31. |
PKM Mampang |
Sudah ujicoba |
dr. Chitra R |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
32. |
PKM Matraman |
Sudah ujicoba |
dr. M. Herry Zainal |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
33. |
PKC Pasar Rebo |
Sudah ujicoba |
dr. Sri R. Amelia |
|
Telepon 8 Desember 2014 |
|
34. |
PKC Kepulauan Seribu Utara |
Belum ujicoba |
drg. Mulahutagaol |
Direktur belum ACC |
Sms 09 Desember 2014 |
|
35. |
PKM Cipayung |
Sudah Ujicoba |
dr. Uty Kumalaningtyas |
|
Telepon 09 Desember 2014 |
|
36. |
PKC Cengkareng |
Sudah ujicoba |
dr. Eko Budi |
Rujukan belum ada yang balik |
Telepon 09 Desember 2014 |
|
37. |
PKM Penjaringan |
Belum ujicoba |
Belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk. Yang datang pada pertemuan berganti-ganti |
|
Tatap muka langsung 11 Desember 2014 |
|
38. |
PKM Pademangan |
Belum Ujicoba |
Koordinator tidak diketahui, saat diundang pertemuan yang hadir berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas |
|
Tatap muka langsung 11 Desember 2014 |
|
39. |
PKM Kalideras |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
40. |
PKM Petamburan |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
41 |
PKM Setia budi |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
44 |
PKM Pasar minggu |
|
Sulit dihubungi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dari hasil monitoring jarak jauh dan kunjungan lapangan yang dilakukan oleh tim FK UGM hingga tanggal 11 Desember 2014, tercatat ada tigabelas Puskesmas yang belum melakukan ujicoba yaitu PKC Kepulauan Seribu Utara, Cakung, Pulogadung, Taman sari, Menteng, Sawah Besar, Cilincing, Cilandak, Pancoran, Kebayoran lama, Gambir, Penjaringan dan Pademangan. Ada berbagai hal yang menyebabkan mengapa puskesmas tersebut belum melaksanakan ujicoba, diantaranya Koordinator yang datang pada setiap pertemuan berganti-ganti dan tidak ada pelimpahan tugas yang jelas , belum jelas siapa Koordinator yang ditunjuk untuk bertanggungjawab pada pelaksanaan ujicoba, ada juga puskesmas yang tidak mau melakukan ujicoba jika draf sistem dan pedoman rujukan tersebut belum disosialisasikan ke BPJS dan menunggu persetujuan dari kepala Puskesmas. Sementara empat Puskesmas lainnya yaitu Puskesmas Kalideras, Petamburan, Setiabudi, dan pasar minggu sulit dihubungi, saat ditelepon tidak nyambung dan sms juga tidak dibalas, sehingga tim kesulitan untuk memperoleh informasi.
Peran Perawat untuk Mendukung Akreditasi Rumah Sakit Versi KARS 2012
“Perawat mempunyai peran penting untuk mendukung good clinical governance“, ungkap Sri Martuti ketika memberikan pelatihan Audit Keperawatan di rumah sakit A.M Parikesit Tenggarong. Perawat sebagai lini terdepan pelayanan klinis memberikan kontribusi besar untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, salah satunya adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan evidence based.
PKMK FK UGM bekerjasama dengan RSUD Dr. Moewardi memberikan pelatihan Audit Keperawatan kepada 40 perawat RS Parikesit. Kegiatan berlangsung selama tiga hari di Hotel Liza. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal rumah sakit Parikesit untuk akreditasi KARS versi 2012 tahun 2016 mendatang.
Duduk Bersama, Membangun Kesepahaman Tentang Kebijakan Kesehatan
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berlangsung mulai 1 Januari 2014.Bersamaan dengan implementasi program, diterbitkan pula peraturan-peraturan baru yangmengatur tentang kepesertaan dan pelayanan kesehatan. Ketiakpahaman berbagai pihakdalam implementasi peraturan ini menimbulkan masalah di lapangan. Alasan inilah yangmendorong BPJS Kesehatan Divisi Regional VII wilayah Jawa Timur menyelenggarakanpertemuan di Hotel Shangri-La Surabaya pada Rabu 17 Desember 2014.
Pertemuan Fasilitas Kesehatan dan Tim Teknis TKMKB dalam Rangka Sosialisasi Kebijakandan Pemahaman bersama Pelaksanaan Program JKN Tahun 2014 BPJS Kesehatan DivisiRegional Jawa Timur adalah bertujuan salah satunya untuk menjalin komunikasi dankoordinasi yang baik pada lintas sektor untuk pelayanan kesehatan. Dalam pertemuan inidilakukan juga sosialisasi peraturan baru, baik peraturan kepesertaan dan pelayanankesehatan. Diharapkan setelah terselenggaranya pertemuan ini, terjalin pemahaman bersamadalam pelayanan kesehatan program JKN. Pertemuan ini dihadiri oleh 202 orang dari 202 rumah sakit mitra BPJS Kesehatan, 162 orangtim teknis TKMKB BPJS, Kepala Divisi Regional Jawa Timur, Kepala Departemen MPKDivre Jatim, Kepala Unit Manajemen Pelayanan Kesehatan Rujukan Divre Jatim, dan stafMPK Divre Jatim. Narasumber pertemuan ini terdiri dari 5 orang yang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Akademisi (PKMK FK UGM),NCC, dan BPJS Kesehatan Divre Jatim.
Accelerating access to universal health coverage
More than 1 billion people in the world lack access to basic health care, and another 100 million fall into poverty trying to access it each year. Nearly a third of households in Southeast Asia that includes Bangladesh have to borrow money or sell assets to pay for health care. Study conducted by icddr,b showed that around 6.4 million or four percent people in Bangladesh get poorer every year due to excessive health cost. In Bangladesh, out of the pocket health expenditure is very high about 64 percent.
Reportase Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI
Narasumber : dr. Hanevi Djasri MARS, dr. Muhammad Hardhantyo PW, Armiatin SE, MPH
Kamis, 11 Desember 2014

Kegiatan pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer telah menghasilkan draf sistem rujukan layanan primer dan draf pedoman rujukan rujukan untuk empat penyakit spesifik. Berdasarkan draf sistem dan pedoman rujukan tersebut telah dilakukan kegiatan peningkatan kompetensi dokter umum dan uji coba sistem dan pedoman rujukan.
Asosiasi Asuransi Surati Jokowi soal JKN yang Dipercepat
Jakarta, Kompas.com – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melayangkan surat kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Presiden RI Joko Widodo. Surat tersebut di antaranya berisi keberatan pelaku industri apabila pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dipercepat berlaku mulai 1 Januari 2015.