Reportase Merajut Kolaborasi Pakar untuk Penguatan Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2026

PKMK-Yogyakarta. Meningkatnya kompleksitas sistem pelayanan kesehatan, yang ditandai dengan dinamika kebijakan nasional, penguatan standar mutu dan keselamatan pasien, percepatan transformasi digital, serta tuntutan transparansi dan keberlanjutan sistem kesehatan, kondisi tersebut menuntut adanya arah strategis pengembangan mutu yang terencana dan terintegrasi, agar upaya peningkatan mutu tidak berjalan parsial atau sektoral. Dalam rangka merespon tantangan strategis pengembangan mutu pelayanan kesehatan, Divisi Manajemen Mutu, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Diskusi Kolaboratif Pakar Mutu Pelayanan Kesehatan: Merumuskan Arah Strategis Pengembangan Pelatihan Mutu di Indonesia Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (22/1/2026) secara hybrid, bertempat di Malioboro 1 Room, 101 Hotel Yogyakarta serta melalui platform Zoom Meeting.
Para peserta Merajut Kolaborasi Pakar untuk Penguatan Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2026 di Yogyakarta. (Dok. Tim DMM PKMK UGM)
Diskusi kolaboratif ini diikuti 16 pakar dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik dari akademisi, praktisi, dinas kesehatan, dan Kementerian Kesehatan. Webinar dibuka dengan pengantar oleh dr. M. Hardhantyo, MPH., PhD, selaku Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM yang menekankan pentingnya forum dialog sebagai ruang refleksi bersama antara akademisi dan praktisi. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa pelatihan mutu pelayanan kesehatan perlu dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga sebagai pengungkit perubahan sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan pasien.

(Kiri) dr. M. Hardhantyo, MPH., PhD selaku Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK) membuka kegiatan dan (Kanan) Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS., FISQua selaku peneliti PKMK memaparkan outlook mutu pelayanan kesehatan Indonesia (Dok. Tim DMM PKMK UGM)
Sebelum memasuki sesi diskusi, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS., FISQua selaku peneliti serta konsultan PKMK memaparkan outlook mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Paparan ini mengulas arah pengembangan mutu pelayanan kesehatan tahun 2026 yang kemudian ditanggapi oleh pakar yang hadir baik secara luring maupun daring. Para pakar menekankan bahwa arah pengembangan mutu pelayanan kesehatan tahun 2026 perlu difokuskan pada penguatan sistem surveilans, skrining, dan pemanfaatan data berbasis layanan primer hingga rujukan. Dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP dan dr. Endah Kusumowardhani, M.Epid (Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan) menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas Puskesmas, Pustu, serta kader kesehatan dalam melakukan skrining dan surveilans berbasis pedoman terbaru.

Para pakar yang memberikan pandangannya dalam Merajut Kolaborasi Pakar untuk Penguatan Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2026 (Dok. Tim DMM PKMK UGM)
Selain itu, para pakar menekankan pentingnya pengembangan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pengalaman pasien dan keberlanjutan sistem. Prof. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D menyoroti urgensi penguatan riset mutu pelayanan kesehatan yang kokoh secara metodologis, termasuk pemanfaatan desain penelitian kuantitatif dan kualitatif, pembelajaran dari patient experience, serta pengembangan mutu pada layanan dan kelompok penyakit spesifik. Dari perspektif mutu rumah sakit, drg. Farichah Hanum, M.Kes., dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D., Sp.N.(K), dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THT-KL, dan Sugiarsih, S.Kep., Ns., MPH menekankan perlunya penguatan tata kelola klinis dan manajerial guna memastikan implementasi mutu yang berjalan efektif dan berkelanjutan. Sementara itu, dari sisi kebijakan dan manajemen kesehatan, Apt. Edwin Daru Anggara, M.Sc., MPH, Deni Herbianto, S.E., M.Ec., serta dr. Endang Suparniati, M.Kes. menegaskan pentingnya pendampingan penyusunan rencana strategis rumah sakit, peningkatan kapasitas dalam perhitungan costing dan efisiensi anggaran, advokasi akses pendanaan alternatif seperti CSR, serta penguatan kapasitas regulasi dan jejaring lintas sektor. Melengkapi perspektif tersebut, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD., Ph.D. menekankan penguatan mutu pelayanan gizi, khususnya dalam mendukung implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara optimal.
Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat berbagai isu prioritas, seperti penyesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan lapangan, penguatan aspek keselamatan pasien, serta integrasi transformasi digital dalam strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Usai sesi diskusi utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi breakout room yang berfokus pada perumusan rencana tindak lanjut pelaksanaan pelatihan mutu tahun 2026. Para pakar dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi yang difasilitasi oleh tim PKMK FK-KMK UGM. Pada sesi ini, para pakar menyampaikan rekomendasi konkret terkait kebutuhan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk strategi implementasi dan keberlanjutan program. Melalui forum ini, diharapkan terbangun kolaborasi pengembangan pelatihan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia tahun 2026 antara divisi dengan pakar. Hasil diskusi menjadi dasar penting bagi perencanaan program pelatihan mutu yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berdampak nyata dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan nasional yang akan diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM.
Reporter: Tri Yatmi, S.Kep., Ns., MNSc
