Reportase Pelatihan Tools Efisiensi & Efektivitas Berbasis Kuantitatif

Di tengah tuntutan peningkatan mutu layanan dan keterbatasan sumber daya di fasilitas pelayanan kesehatan, kebutuhan akan pengambilan keputusan berbasis data menjadi semakin mendesak. Meski berbagai upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas telah dilakukan, pemanfaatan alat ukur kuantitatif yang sistematis dan terstandar masih terbatas. Menjawab tantangan tersebut, PKMK-Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan penggunaan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Cost-Effectiveness Analysis (CEA) untuk membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan analitis dalam menilai efisiensi penggunaan input serta efektivitas biaya berbagai layanan dan intervensi kesehatan, sehingga proses pengambilan keputusan dapat berlangsung secara lebih objektif, terukur, dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS selaku penanggung jawab kegiatan. Dalam pembukaannya disampaikan bahwa tuntutan efisiensi dan efektivitas di sektor kesehatan semakin meningkat seiring dengan keterbatasan sumber daya dan meningkatnya kebutuhan pelayanan. Oleh karena itu, fasilitas pelayanan kesehatan dituntut untuk tidak hanya memberikan layanan yang bermutu, tetapi juga mampu mengelola sumber daya secara optimal melalui pendekatan berbasis bukti dan data.
Materi pertama membahas konsep strategi peningkatan efektivitas dan efisiensi di fasilitas pelayanan kesehatan. Pada sesi ini ditekankan pentingnya penggunaan data sebagai dasar perencanaan, implementasi, dan evaluasi kinerja layanan, sehingga setiap keputusan manajerial memiliki landasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya, peserta memperoleh pemaparan mendalam mengenai konsep Data Envelopment Analysis (DEA) yang disampaikan oleh narasumber utama, Diah Anggeraini Hasri, M.Sc., CIQnR. DEA diperkenalkan sebagai metode analisis non-parametrik untuk mengukur efisiensi relatif unit pengambilan keputusan, seperti rumah sakit atau unit layanan, dengan membandingkan input dan output yang digunakan. Melalui penjelasan yang disertai contoh kasus di bidang kesehatan, peserta mendapatkan gambaran bagaimana DEA dapat digunakan untuk mengidentifikasi unit yang efisien, sekaligus menemukan potensi ketidakefisienan yang masih dapat diperbaiki.
Sesi diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan terkait penentuan variabel input dan output, ketersediaan dan kualitas data, serta tantangan penerapan DEA di fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan langkah-langkah pelaksanaan DEA secara lebih teknis, mulai dari proses pengolahan data hingga interpretasi hasil analisis. Pada sesi praktik, peserta diajak memahami secara langsung bagaimana DEA dapat diaplikasikan dalam penilaian kinerja pelayanan kesehatan.
Pasca break ishoma, kegiatan dilanjutkan dengan materi mengenai Cost-Effectiveness Analysis (CEA). Pada sesi ini dijelaskan bahwa CEA merupakan alat analisis penting untuk membandingkan berbagai alternatif intervensi kesehatan berdasarkan biaya yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh. CEA dinilai sangat relevan dalam mendukung pengambilan keputusan di tengah keterbatasan anggaran, sekaligus memastikan bahwa intervensi yang dipilih memberikan manfaat kesehatan yang optimal.
Peserta diperkenalkan pada tahapan penyusunan analisis CEA, termasuk penentuan perspektif analisis, identifikasi dan pengukuran biaya, penentuan outcome, hingga interpretasi rasio efektivitas biaya. Diskusi pada sesi ini menekankan peran CEA dalam mendukung perencanaan program dan kebijakan kesehatan berbasis bukti, baik pada level klinis maupun manajerial. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan pertanyaan yang diajukan terkait penerapan CEA dalam berbagai konteks pelayanan kesehatan.
Pada sesi selanjutnya, peserta mengikuti praktik penggunaan CEA melalui contoh kasus yang disajikan oleh narasumber. Sesi praktik ini memberikan gambaran komprehensif mengenai proses analisis CEA secara bertahap dan aplikatif, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikannya sesuai dengan kebutuhan institusi masing-masing.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi penutup dan penyampaian rencana tindak lanjut. Peserta didorong untuk mulai menerapkan pendekatan DEA dan CEA secara bertahap di tempat kerja masing-masing, sesuai dengan ketersediaan data dan kapasitas organisasi. Secara keseluruhan, kegiatan Pelatihan Tools Efisiensi & Efektivitas Berbasis Kuantitatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan berlangsung dengan lancar dan interaktif. Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan untuk mendorong pengelolaan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih efisien, efektif, dan berkelanjutan tanpa mengesampingkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Reporter:
Tri Yatmi, S.Kep., Ns., MNSc
