Reportase Kegiatan Pertemuan Koordinasi Tindak Manual Rujukan Provinsi DKI Jakarta dengan Tim FK UGM

Penyusunan manual rujukan di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 lalu menunjukkan hasil yang positif dimana terjadi perbaikan pada mutu rujukan dari puskesmas. Hasil audit pertama menggunakan data dari 41 puskesmas dan 3912 rekam medis menunjukkan bahwa aspek kelengkapan masih merupakan kendala, dimana banyak sekali komponen yang tidak dituliskan dalam formulir rujukan, seperti hasil anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, terapi sementara hingga tindakan yang telah dikerjakan. Nilai dari komponen tersebut masih dibawah angka 80%. Berdasarkan hasil tersebut kami melakukan intervensi berupa penyusunan sistem rujukan yang efektif yang berisi manual rujukan dan pedoman rujukan spesifik pada 4 kasus, serta perbaikan form rujukan BPJS. Pasca dilakukan penerapan di beberapa puskesmas, hasil reaudit menunjukkan adanya perbaikan kualitas rujukan dari puskesmas, beberapa komponen yang sebelumnya dibawah 80% saat ini sudah terjadi perbaikan 

materi presentasi

Pergantian pejabat di dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta membawa angin perubahan yang signifikan, yakni peningkatan kelas 15 puskesmas rawat inap menjadi rumah sakit tipe D, hal ini berarti akses masyarakat terhadap pelayanan sekunder akan turut meningkat. Penambahan jumlah rumah sakit harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan di puskesmas, untuk itu agar kegiatan peningkatan mutu terus berlanjut, perlu adanya tindak lanjut kegiatan penyusunan manual rujukan ditahun 2015.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk Mengembangkan sistem rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dengan layanan tingkat lanjut (rumah sakit), dan secara khusus dilakukan untuk menilai kesesuaian (appropriateness) rujukan di DKI sebagai data awal, mengembangkan dan menerapkan manual rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dangan rumah sakit, meningkatkan kemampuan dokter untuk mengelola kasus – kasus di layanan primer Puskesmas dan melakukan re-audit untuk menilai perbaikan sistem rujukan yang dihasilkan dari penerapan manual rujukan.

Tindak lanjut berupa koordinasi dengan BPJS akan dilakukan agar format rujukan baru dapat segera terealisasi, karena terdapat kekhawatiran dari puskesmas apabila menggunakan form yang lebih lengkap maka klaim BPJS di rumah sakit tidak akan keluar. Selain itu sosialisasi lanjutan akan dilakukan apabila koordinasi lintas sektor dengan pihak BPJS telah selesai.

 

Health is ladder out of poverty

CaptureDr. Colleen Kraft is the medical director at Health Network by Cincinnati Children’s.

I was a Head Start child, the daughter of Irish Catholic parents who struggled to make ends meet but valued education. Medical screenings were a part of my Head Start experience.

Continue reading

3 Puskesmas akan Dipugar Tahun Ini

PUSKESMAS-ilustrasi-370x191Pelayanan kesehatan Sragen ditingkatkan dengan memugar 3 puskesmas tahun ini.

Tiga puskesmas di Sragen akan dipugar tahun 2015 ini.  Tiga puskesmas itu meliputi Puskesmas I Sambungmacan, Puskesmas Ngrampal, dan Puskesmas Jenar.

“Tahun ini tiga puskesmas akan kita pugar. Anggaran sudah ada di APBD tahun ini,” tutur Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, saat ditemui solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2015) siang.

Continue reading

Dua Puskesmas Akan Jadi Rumah Sakit Tipe D

tribunDua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Magelang dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D tahun 2016 mendatang. Pengalihfungsian itu untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan.

Asisten Administrasi Umum Endra Endah Wacana menjelaskan, dua puskesmas yang rencananya akan dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D itu adalah Puskesmas Salaman I dan Puskesmas Grabag I. Endra menjelaskan, dipilihnya Grabag dan Salaman lantaran di Kabupaten Magelang, rumah sakit terkonsentrasi di wilayah Muntilan.

Continue reading

Community Connections: Grateful for quality end-of-life care

It takes time to gear up for Christmas and it takes time to decompress from the holidays. So at the front end of the holiday drama I found myself paging through Consumer Reports.

Those Christmas gift lists almost demand it — the best 55-inch HDTV — who knew the current 48-inch in the man cave at our house was now inadequate! And maybe a new camera? Or some exotic techie device. My fingers fairly vibrated at the thought.

There I sat wanting to be a responsible consumer, paging through the Holy Grail of responsible, committed spending. And there it was — a consumer’s report on “Going Your Way” — sort of a thoughtful spender’s guide to, well, to dying.

Continue reading

Ujian Blended Learning

Ujian Blended learning per rumah sakit akan di selenggarakan tanggal 24 Februari 2015

  • Kelompok A ada 4 rumah sakit yakni RSU Parama Sidhi Singaraja; RSAD Udayana; RSU Manuaba; dan RSU Premagana Pukul 12.00-13.00 WIB
  • Kelompok B ada 4 rumah sakit yakni RSIA Puri Bunda; RSUD Sanjiwani Gianyar; RSUD Badung; dan RSU Surya Husada Pukul 10.00-11.00 WIB
  • Kelompok C ada 3 rumah sakit yakni RSUD Klungkung; RSU Bangli; dan RSU Bali Royal Pukul 08.00-09.00 WIB

  Tata cara ujian blended learning per rumah sakit:

Webinar ujian blended learning (BL) dilakukan per kelompok. Ada 5 pertanyaan yang harus dijawab secara lisan. Soal nomor 1,2,3, dan 5 sama antara berbagai rumah sakit, sedangkan soal nomor 4 berupa kasus dimana setiap rumah sakit diajukan kasus yang berbeda. Semua Fasilitator akan mengajukan pertanyaan satu per satu dan dijawab secara bergantian oleh rumah sakit peserta pelatihan BL Koding. Setelah selesai menjawab soal nomor 1, akan dilanjutkan dengan nomor berikutnya, dan begitu juga seterusnya. Mohon setiap rumah sakit dapat menyiapkan jawaban soal sehingga akan memudahkan peserta dalam menjawab pertanyaan dari fasilitator.

Soal Ujian Per Rumah sakit

  1. Soal Ujian Kelompok A
  2. Soal Ujian Kelompok B
  3. Soal Ujian Kelompok C

 

 

Kemkes Targetkan 6.000 Puskesmas Terakreditasi

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menandatangani prasasti keberhasilanSanur – Kementerian Kesehatan (Kemkes) menargetkan sebanyak 6.000 puskesmas memenuhi standar pelayanan dan terakreditasi hingga 2019. Untuk penguatan fasilitas kesehatan primer ini, termasuk perbaikan puskesmas yang rusak, Kemkes mengusulkan anggaran Rp 654 miliar melalui mekanisme Tugas Pembantuan dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2015 sebesar Rp 1,6 triliun dalam APBN-P.

Continue reading