Medication Error: Perbaikan Pelayanan Kesehatan di Tingkat Mikro Sistem

Pelayanan kesehatan di tingkat mikro sistem sangat terkait dengan tim klinis yang berada di garis depan yang berinteraksi dengan pasien dan outcome yang dihasilkan. Berbagai aspek memerlukan perhatian di tingkat mikro sistem ini, seperti disampaikan oleh Berwick (Quality by Design: A Clinical Microsystem Approach) bahwa banyak upaya perbaikan dilakukan diantaranya yang berfokus pada pasien secara individual, dokter yang memberikan pelayanan klinis secara individual, organisasi sebagai provider, sistem pembayaran, serta aspek lainnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan, namun masih sangat sedikit upaya untuk memahami dan mengubah unit klinis frontliner untuk ‘benar-benar’ memberikan perawatan.

Salah satu aspek yang di’hadapi’ oleh tim frontliner adalah sistem tata kelola obat, yang juga memerlukan upaya pengelolaan yang baik dan benar. Sistem tata kelola obat yang dapat mencegah terjadinya medication error. Dua artikel minggu ini akan memaparkan upaya untuk mencegah medication error di tingkat mikro sistem yang dapat dilakukan oleh perawat. Perawat sebagai salah satu tim frontliner yang memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien memiliki keterkaitan dengan proses pemberian obat kepada pasien. Selain itu pada salah satu artikel yang dimuat minggu ini diuraikan pula hal-hal yang dapat dijadikan referensi dalam upaya pencegahan medication error seperti dirilis oleh American Society of Hospital Pharmacists (ASHP). Tentu saja paparan tersebut merupakan salah satu ‘bagian kecil’ referensi yang dapat dijadikan sumber pengetahuan dan dapat semakin dilengkapi dengan berbagai referensi ter-update agar pencegahan medication error dapat diupayakan dengan lebih optimal. (lei)

{module [152]}

coba shortcode

[button type=”info” target=”_self” link=”#” icon=”info-sign”]coba button[/button]

Pendampingan Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal (AMP) di Sumba Timur, TTS dan Manggarai Barat

9mar15

Program sister hospital sudah berjalan hampir 5 tahun dan berjalan dengan dinamis. Angka kematian maternal dan neonatal sebagai salah satu indikator program yang dicapai di beberapa Kabupaten berhasil ditekan, namun ada beberapa Kabupaten yang masih berjalan fluktuatif, diantaranya di Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur. Bila melihat dari penyebab kematian ibu dan bayi, maka tercatat bahwa penyebab utama kematian seperti perdarahan, hipertensi, infeksi, abortus pada kematian ibu dan pada anak seperti BBLR, asfiksia, infeksi dan lain-lain, sebuah kondisi medis yang sebenarnya dapat dicegah dan diatasi namun audit maternal perinal (AMP) yang dilakukan kurang bermutu baik rekomendasi maupun tindak lanjutnya, sehingga terjadi kematian berulang.

Continue reading

We’re all in for health care innovation

postcrescentEinstein’s classic definition of insanity — doing the same thing over and over and expecting a different result — often applies to health care.

No matter how hard we work, and how many changes any given provider system like ThedaCare effects in our safety, quality, transparency, cost, outcomes and more, health care remains driven by a fee-for-service model that encourages payers to reward services, procedures and tests generated by providers, instead of the value providers deliver.

Continue reading

109 Pustu di Kabupaten Kupang Tanpa Bidan dan Perawat

kupangSebanyak 109 Puskesmas Pembantu (Pustu) dari 169 Pustu di Kabupaten Kupang, tanpa bidan dan perawat. Akibatnya, pelayanan ibu hamil dan balita hanya ditangani kader posyandu.

“Tapi bila ibu hamil mengalami situasi emergency atau darurat, harus bidan dan perawat yang menangani. Jika tidak, bisa berbahaya. Makanya saya pusing berpikir untuk mencari solusinya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, dr. Robert AJ Amaheka, Jumat (6/3/2015).

Continue reading

Study Finds Lack of Evidence That HIEs Boost Care Quality, Cut Costs

ihealthThere is little evidence demonstrating that health information exchanges help to reduce costs or improve the quality of care,according to a new study published in Health AffairsFierceHealthITreports.

Study Details

For the study, researchers from the University of Alabama at Birmingham, Weill Cornell Medical College in New York and Indiana University analyzed 27 scientific studies that consisted of 94 individual HIE analysis. The researchers then determined whether or not there was a beneficial relationship between the HIE and outcomes for each analysis (Bowman, FierceHealthIT, 3/3).

Continue reading

Obat Berkualitas di Indonesia Masih Jadi Impian

obatJaminan dan perlindungan akses akan obat  yang berkualitas dengan harga yang murah agaknya masih menjadi impian bagi rakyat Indonesia tidak terkecuali bagi kelompok ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS).

Dari informasi yang dikumpulkan oleh kelompok #ODHABerhakSehat, banyak ODHA yang mengalami kesulitan mengakses obat   murah dikarenaka obat yang beredar di pasaran saat ini mayoritas obat  versi patent dengan harga yang mencekik leher.

Continue reading

The Supreme Court’s decision on health care subsidies — what you need to know

obama careThe top court will start hearing arguments in the King v. Burwell case Wednesday, and the cost of insurance could be at stake.

The Supreme Court is set to hear arguments Wednesday in a case that could derail the Affordable Care Act (ACA), commonly referred to as Obamacare, and potentially increase the cost of insurance for millions across the U.S. It’s a big deal, and it has insurance companies, medical providers and everyday workers holding their breath.

Continue reading

Dua Bulan Lagi, Iuran BPJS Kesehatan Non PBI Naik Rp 10.000

bpjsUsulan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) Kesehatan untuk mengerek besaran iuran bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) maupun non-PBI, mendapat restu dari Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Harap maklum, alih-alih sukses, badan publik ini malah mengalami defisit di tahun pertamanya beroperasi.

Chazali Situmorang, Ketua DJSN mengatakan, saat ini, rasio klaim BPJS Kesehatan sudah di atas 100%. Itu artinya, besar pasak daripada tiang alias lebih besar klaim ketimbang iuran yang diraup.

Continue reading

Medication Error: Peran Pasien, Provider, dan Vendor Dalam Pencegahannya

Minggu terakhir bulan Februari 2015 lalu, publik dikejutkan dengan berita tertukarnya obat anestesi yang menyebabkan meninggalnya dua pasien di salah satu rumah sakit swasta di Indonesia. Tentu saja berita terjadinya medication error yang dapat menyebabkan terjadinya suatu Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) masih kerap kita dengar, baca, atau lihat di berbagai sarana pelayanan kesehatan. Namun, tetap saja berita tersebut kembali membuat kita terhenyak dan mempertanyakan banyak hal, seperti; bagaimana prosedur yang diterapkan, proses tata kelola obat di rumah sakit, hingga dugaan kejadian lainnya yang dapat menyebabkan obat anestesi Buvanest Spinal tertukar dengan asam Tranexamic.

Kejadian tersebut tentu saja sangat mengejutkan tetapi sekaligus dapat dijadikan sebagai suatu peringatan baik bagi praktisi kesehatan dan lembaga kesehatan yang berperan sebagai provider pelayanan kesehatan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di tempat lain. Meski pihak provider harus semakin berhati-hati, pada kenyataannya medication error yang terjadi di kasus ini diduga disebabkan oleh proses kesalahan yang terjadi di pihak vendor penyedia obat dimana vendor tersebut merupakan salah satu perusahaan skala nasional yang kredibel di Indonesia. Hal ini semakin mengejutkan karena ternyata sumber terjadinya medication error tidak hanya dapat bersumber dari pihak provider pelayanan kesehatan namun juga dapat bersumber dari vendor penyedia obat-obatan itu sendiri. Satu ‘pekerjaan rumah’ lagi bagi provider pelayanan kesehatan untuk menentukan strategi antisipasi agar kejadian medication error yang bersumber dari vendor dapat dicegah, dan menentukan langkah ‘cepat’ apa yang harus segera diambil oleh pihak provider pelayanan kesehatan ketika terjadi suatu KTD akibat medication error sehingga kejadian tersebut tidak ‘sempat’ terulang untuk pasien yang lain.

Medication error serta berbagai upaya pencegahannya masih menjadi topik yang ‘layak’ dibahas dan didiskusikan terus menerus, salah satunya sebagai upaya untuk menerapkan quality improvement di sarana pelayanan kesehatan. Peran berbagai pihak, baik pasien, provider, dan vendor sangat menentukan agar tidak terjadi medical error termasuk didalamnya medication error. Untuk itu selama empat minggu ke depan, akan kembali diulas berbagai artikel, strategi, dan pengalaman di berbagai tempat terkait dengan upaya pencegahan medication error ini. (lei)

{module [152]}