Advance practice registered nurses can help improve health care, if allowed: PennLive letters

letterAccess to quality health care is a major barrier in our nation and our Commonwealth. While the healthcare landscape evolves, patient-centered, team-based care must take precedence.

To meet this need, full partnership between physicians, nurses and other healthcare professionals will be required to increase the quality, access, and value that will strengthen the confidence in healthcare delivery for patients and families.

Continue reading

Pelayanan Kepada Masyarakat Harus Lebih Diutamakan

dolokKepala Rumah Sakit Umum Dolok sanggul Dr.Sugito Panjaitan ketika dikonfirmasi KPKPos di ruang kerjanya (25/2) menjelaskan, Pihaknya akan terus meningkatkan mutu pelayanan, mewujudkan efisiensi dan berkompetisi secara sehat dalam menjalankan fungsi sosialnya dengan baik.

Continue reading

Medical Error: Perspektif Pasien

Medical error merupakan salah satu topik yang masih banyak dibahas dalam berbagai kesempatan di bidang pelayanan kesehatan. Medical error sendiri merupakan suatu adverse event yang dapat dicegah dengan adanya pengetahuan medis saat ini (Institute of Medicine, 1999). Medical error dapat terjadi pada berbagai aspek pemberian layanan kesehatan seperti; pemberian obat, operasi, diagnosa, peralatan, dan hasil laboratorium sekalipun dapat berpeluang terjadinya suatu kesalahan medis. Banyak kajian yang dilakukan terkait dengan terjadinya medical error ini, namun demikian informasi yang terkait dengan perspektif pasien terhadap medical error ini dirasakan masih terbatas.

Penelitian yang terkait dengan pemahaman pasien terhadap medical error dinilai terbatas, rata-rata penelitian lebih berfokus pada bagaimana pasien menginginkan kejadian medical error diungkapkan kepada mereka. Beberapa penelitian juga mengungkapkan bagaimana pasien menginginkan dukungan emosi atas terjadinya kesalahan medis tersebut, termasuk di dalamnya permintaan maaf.

Pada salah satu penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan melibatkan 38 pasien sebagai responden, diungkapkan bahwa pasien lebih fokus pada aspek akses pelayanan kesehatan, gangguan komunikasi antara pasien dan provider dibandingkan aspek teknis terkait terjadinya medical error itu sendiri (Kuzel et al., 2004). Hal ini mendasari ketertarikan dilakukannya suatu penelitian untuk menggali lebih jauh perspektif pasien terhadap medical error yang terjadi, karena perspektif penerima layanan adalah salah satu alat yang dapat mendukung peningkatan proses pemberian pelayanan kesehatan. Pada artikel ini, penelitian dilakukan dengan melibatkan 30 anggota komunitas yang merupakan sampel yang diambil secara acak dari suatu komunitas yang besar. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode wawancara melalui telepon. Sejumlah 29 responden bersedia berpartisipasi dan satu responden tidak bersedia berpartisipasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis konten kualitatif. Hasil dari penelitian yang dilakukan secara ringkas adalah sebagai berikut:

  • Arti Medical Error
    Pada penelitian ini definisi medical error bagi responden disamakan dengan buruknya komunikasi. Medical Error dirasakan oleh responden sebagai adanya gap komunikasi, missed communication, kemampuan dan gaya komunikasi interpersonal dokter ataupun provider pelayanan kesehatan lain yang kurang baik.
  • Kurangnya Rasa Hormat
    Medical error dirasakan oleh responden dari berbagai hal seperti; kurangnya rasa respek yang dirasakan oleh responden terkait penampilan fisik responden, adanya gap pemahaman terkait dengan budaya, serta perasaan inferior yang dirasakan responden terkait komunikasi yang dilakukan oleh provider.
  • Menyalahkan
    Responden merasa ‘disalahkan’ dan juga ‘dihakimi’ oleh provider terkait gaya hidup dan kebiasaan yang mereka pilih sehingga menyebabkan keadaan yang terjadi saat ini.
  • Stigma
    Responden merasa di’labeli’ memiliki gangguan mental, emosional yang tidak seimbang, potensi ancaman keamanan. Terdapat responden yang berpendapat bahwa telah terjadi perilaku yang tidak profesional dalam proses komunikasi antara provider dan pasien. Salah satu contohnya adalah provider yang mengungkapkan masalah personal pasien dan tekanan harian yang dialami pasien di ruang gawat darurat atau psikiatri yang membahas keinginan bunuh diri dengan pasien gangguan mental dan keluarganya. Beberapa contoh tersebut dilihat sebagai suatu error.
  • Cara Untuk Meningkatkan Komunikasi Antara Pasien-Provider Pelayanan Kesehatan
    Medical error dirasakan sebagai error dalam komunikasi, penelitian yang dilakukan dengan 30 responden mengarah pada bagaimana meningkatkan komunikasi antara provider dengan pasien. Responden meyakini bahwa dengan meningkatkan komunikasi antara provider dan pasien maka akan dapat mengurangi terjadinya berbagai jenis error. Kemampuan ‘mendengarkan’ pasien menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan serta pengakuan provider pelayanan kesehatan terhadap adanya gap pengetahuan.

Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa medical error dapat terjadi pada setiap aspek dalam proses pemberian pelayanan kesehatan termasuk didalamnya pada saat pemberian obat kepada pasien (medication error). Hal ini juga menjadi salah satu topik yang terus menerus dibahas karena masih banyaknya kasus medication error yang terjadi, dimana terjadinya kesalahan obat tersebut dapat diakibatkan oleh sistem pengelolaan obat yang diterapkan oleh saranan pelayanan kesehatan maupun diakibatkan oleh kelalaian dari petugas. Mengacu hasil penelitian pada artikel ini dapat ditarik suatu benang merah bahwa pada upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, provider juga harus memperhatikan masukan dari pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Perspektif pasien menjadi penting karena ternyata dapat menggali lebih jauh, apa yang sebenarnya menjadi pendapat dan pandangan pasien terkait medical error ini.

Pencegahan terhadap medical error dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ), US Department of Health & Human Services, dimana cara terbaik untuk membantu mencegah terjadinya medical error adalah menjadi pasien yang terlibat aktif dengan anggota tim pelayanan kesehatan dengan memperhatikan berbagai aspek dalam pelayanan kesehatan seperti; pengobatan, waktu tinggal di rumah sakit, operasi, serta beberapa langkah lainnya terkait pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Secara lengkap AHRQ merilis 20 tips yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya medical error tersebut (link terlampir).

Oleh : Lucia Evi I.

Sumber :

{module [150]}

Reportase Kegiatan Pertemuan Koordinasi Tindak Manual Rujukan Provinsi DKI Jakarta dengan Tim FK UGM

Penyusunan manual rujukan di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 lalu menunjukkan hasil yang positif dimana terjadi perbaikan pada mutu rujukan dari puskesmas. Hasil audit pertama menggunakan data dari 41 puskesmas dan 3912 rekam medis menunjukkan bahwa aspek kelengkapan masih merupakan kendala, dimana banyak sekali komponen yang tidak dituliskan dalam formulir rujukan, seperti hasil anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, terapi sementara hingga tindakan yang telah dikerjakan. Nilai dari komponen tersebut masih dibawah angka 80%. Berdasarkan hasil tersebut kami melakukan intervensi berupa penyusunan sistem rujukan yang efektif yang berisi manual rujukan dan pedoman rujukan spesifik pada 4 kasus, serta perbaikan form rujukan BPJS. Pasca dilakukan penerapan di beberapa puskesmas, hasil reaudit menunjukkan adanya perbaikan kualitas rujukan dari puskesmas, beberapa komponen yang sebelumnya dibawah 80% saat ini sudah terjadi perbaikan 

materi presentasi

Pergantian pejabat di dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta membawa angin perubahan yang signifikan, yakni peningkatan kelas 15 puskesmas rawat inap menjadi rumah sakit tipe D, hal ini berarti akses masyarakat terhadap pelayanan sekunder akan turut meningkat. Penambahan jumlah rumah sakit harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan di puskesmas, untuk itu agar kegiatan peningkatan mutu terus berlanjut, perlu adanya tindak lanjut kegiatan penyusunan manual rujukan ditahun 2015.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk Mengembangkan sistem rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dengan layanan tingkat lanjut (rumah sakit), dan secara khusus dilakukan untuk menilai kesesuaian (appropriateness) rujukan di DKI sebagai data awal, mengembangkan dan menerapkan manual rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dangan rumah sakit, meningkatkan kemampuan dokter untuk mengelola kasus – kasus di layanan primer Puskesmas dan melakukan re-audit untuk menilai perbaikan sistem rujukan yang dihasilkan dari penerapan manual rujukan.

Tindak lanjut berupa koordinasi dengan BPJS akan dilakukan agar format rujukan baru dapat segera terealisasi, karena terdapat kekhawatiran dari puskesmas apabila menggunakan form yang lebih lengkap maka klaim BPJS di rumah sakit tidak akan keluar. Selain itu sosialisasi lanjutan akan dilakukan apabila koordinasi lintas sektor dengan pihak BPJS telah selesai.

 

Health is ladder out of poverty

CaptureDr. Colleen Kraft is the medical director at Health Network by Cincinnati Children’s.

I was a Head Start child, the daughter of Irish Catholic parents who struggled to make ends meet but valued education. Medical screenings were a part of my Head Start experience.

Continue reading

3 Puskesmas akan Dipugar Tahun Ini

PUSKESMAS-ilustrasi-370x191Pelayanan kesehatan Sragen ditingkatkan dengan memugar 3 puskesmas tahun ini.

Tiga puskesmas di Sragen akan dipugar tahun 2015 ini.  Tiga puskesmas itu meliputi Puskesmas I Sambungmacan, Puskesmas Ngrampal, dan Puskesmas Jenar.

“Tahun ini tiga puskesmas akan kita pugar. Anggaran sudah ada di APBD tahun ini,” tutur Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, saat ditemui solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2015) siang.

Continue reading

Dua Puskesmas Akan Jadi Rumah Sakit Tipe D

tribunDua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Magelang dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D tahun 2016 mendatang. Pengalihfungsian itu untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan.

Asisten Administrasi Umum Endra Endah Wacana menjelaskan, dua puskesmas yang rencananya akan dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D itu adalah Puskesmas Salaman I dan Puskesmas Grabag I. Endra menjelaskan, dipilihnya Grabag dan Salaman lantaran di Kabupaten Magelang, rumah sakit terkonsentrasi di wilayah Muntilan.

Continue reading

Community Connections: Grateful for quality end-of-life care

It takes time to gear up for Christmas and it takes time to decompress from the holidays. So at the front end of the holiday drama I found myself paging through Consumer Reports.

Those Christmas gift lists almost demand it — the best 55-inch HDTV — who knew the current 48-inch in the man cave at our house was now inadequate! And maybe a new camera? Or some exotic techie device. My fingers fairly vibrated at the thought.

There I sat wanting to be a responsible consumer, paging through the Holy Grail of responsible, committed spending. And there it was — a consumer’s report on “Going Your Way” — sort of a thoughtful spender’s guide to, well, to dying.

Continue reading