Divisi Regional Makassar BPJS Kesehatan Merancang Sistem untuk Melawan fraud

4feb-mks

Divisi regional (Divre) sembilan BPJS kesehatan telah melakukan presentasi plan of action. Kegiatan berlangsung tanggal 23 Januari lalu. Presentasi dilakukan dalam rangka menyelesaikan modul enam pelatihan blended learning pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud yang diselenggarakan atas kerjasama BPJS kesehatan dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM.

Continue reading

Upaya Divre 12 (Jayapura) BPJS Mencegah Fraud

4feb15

15 Januari 2015

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM telah bekerjasama dengan BPJS kesehatan dalam pelatihan blended learning pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud. Kegiatan ini sebagai langkah awal BPJS untuk mencegah fraud dalam layanan kesehatan. Sebagai tindak lanjut BPJS dalam memerangi fraud, BPJS berencana melakukan penelitian untuk pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud di rumah sakit.

Continue reading

HumanLink – Connecting You with Quality Elder Care Anywhere

humanlink

A 2013 report issued by the Pew Research Institute found that 39 percent of American households provide care to a family member, with the average caregiver falling within the ages of 45 to 64.

A study released by AARP in 2013 forecasts a dramatic decline in the availability of family caregivers. While the number of Americans over 80 is projected to increase by 79 percent between 2010 and 2030, the demographic of people between the ages of 45-64 will increase by only 1 percent.

Continue reading

85 Persen Pasien Harusnya Diselesaikan di Puskesmas

puskesmasMenteri Kesehatan Nila F Moeloek berharap agar prosentase pasien yang masuk ke RS rujukan hanya 15 persen. Artinya 85 persen pasien bisa diselesaikan di fasilitas kesehatan tingkat primer atau Puskesmas atau dokter keluarga.

“Rumah sakit sebaiknya lebih difokuskan pada rumah sakit pendidikan dan penelitian. Bukan untuk pengobatan,” kata Nila disela Rapat Arahan Strategis Nasional Tahun 2015 bertema Tri Sukses BPJS Kesehatan 2015.

Continue reading

Mutu Gizi Pasien: Meningkatkan Program Perbaikan Gizi di Tingkat Organisasi Rumah Sakit

Upaya peningkatan pelayanan gizi pasien di rumah sakit masih menjadi topik bahasan minggu ini. Setelah dipaparkan artikel yang menyampaikan proses pelayanan gizi dari ‘pandangan’ atau sisi pasien serta upaya perbaikan proses pelayanan gizi yang dapat dilakukan di tingkat mikro, minggu ini akan disampaikan artikel yang memuat mengenai upaya perbaikan pelayanan gizi di tingkat organisasi.

Tidak hanya membahas mengenai upaya perbaikan atau peningkatan mutu pelayanan gizi di tingkat organisasi, salah satu artikel juga akan mengupas mengenai dampak dari malnutrisi yang dialami pasien yang dapat berdampak ‘luas’ pada proses pelayanan kesehatan pasien secara keseluruhan, salah satunya adalah biaya rumah sakit dapat mengalami peningkatan yang signifikan.

Mengacu pada uraian artikel-artikel tersebut diharapkan pengampu di tingkat organisasi dapat mengupayakan peningkatan mutu pelayanan gizi di rumah sakit. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti penentuan identifikasi yang jelas terkait pasien yang memiliki risiko tinggi gizi buruk, kriteria diagnosis pasien gizi buruk, serta memperhatikan penggunaan tools yang sesuai untuk screening awal pasien. Selain itu dipaparkan pula salah satu gambaran yang dapat dipergunakan untuk peningkatan program mutu pelayanan gizi pasien yakni penggunaan 5 kunci dalam program perbaikan gizi di Rumah Sakit serta panduan membuat suatu pertemuan untuk meningkatkan program perbaikan gizi d RS. (lei)

{module [152]}

Kurus, Kurang Gizi atau Malnutrisi? Hati-hati, Pasien Akan Dirawat Lebih Lama

Sektor gizi seringkali masih menjadi sektor yang terpinggirkan di rumah sakit, fungsinya hanya sebatas memenuhi kebutuhan asupan makan bagi petugas maupun pasien. Namun bila ditelusur lebih mendalam, ternyata sektor gizi memegang salah satu peranan penting sebagai penentu lamanya rawat inap pasien di rumah sakit selain dari ketepatan diagnosis dan pengobatan dokter. Diketahui bahwa pada pasien malnutrisi (gizi buruk), rerata waktu rawat inap di rumah sakit adalah tujuh hari, dan pada pasien gizi baik dengan kondisi sama hanya diperlukan lima hari. Pasien gizi buruk juga memiliki risiko dua kali lebih besar bila dibandingkan dengan gizi baik untuk kembali dirawat dalam waktu dua minggu pasca kepulangan. Biaya rumah sakit juga mengalami peningkatan yang signifikan pada pasien dengan gizi buruk (Lim, Benjamin, Chan, Loke, Ferguson, & Daniels, 2011).

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini, lamanya hari rawat tentu akan berdampak buruk pada kondisi keuangan rumah sakit karena klaim pembayaran menggunakan sistem paket yang mematok tarif pengobatan, tanpa memandang jumlah hari rawat. Untuk itulah diperlukan kerjasama berbagai sektor untuk mencapai efisiensi. Dokter UGD harus dapat mengidentifikasi dan membedakan pasien-pasien yang datang dengan kondisi gizi buruk. Agar penanganan gizi dapat dilakukan seketika mungkin sebelum pasien tiba di bangsal, dokter harus dapat menentukan status gizi meskipun pasien tidak sadarkan diri. Anamnesis lengkap kepada keluarga tentu akan sangat membantu.

Pada kondisi sakit berat, pasien akan mengalami reaksi katabolisme dimana struktur kompleks akan dipecah menjadi sebuah struktur sederhana dan menghasilkan energi untuk kelangsungan hidup sel tubuh yang vital, seperti otak dan jantung (Prins, 2010). Tanpa asupan yang baik, reaksi katabolisme berlebih berakibat pada hilangnya energi. Pasien dengan risiko gizi buruk tinggi dan memerlukan perhatian khusus ditunjukkan pada tabel 1 (Robert H, Demling MD, Leslie DeSanti RN. , 2003).

Tabel 1. Pasien Dengan Risiko Tinggi Gizi Buruk

Berat Badan pasien < 80% Berat Ideal

Berat Badan Pasien > 120% Berat Ideal

Kehilangan Berat > 10% dalam 3 bulan

Pemakai zat terlarang / peminum alkohol

Pasien dengan kondisi kehilangan nutrisi

  • Malabsorbsi
  • Short Bowel Syndrome
  • Fistula usus
  • Abses
  • Dialisis

Pasien dengan peningkatan kebutuhan cairan

  • Trauma
  • Luka Bakar
  • Infeksi Berat

Apabila pasien memiliki salah satu risiko di atas, maka ia harus diawasi agar tidak terjatuh pada kondisi gizi buruk. Screening awal oleh dokter akan dilanjutkan screening mendalam oleh dietician rumah sakit menggunakan berbagai instrumen yang tersedia seperti Mini Nutritional Assesment (MNA) atau Nutritian Risk Index (NRI). Sedangkan gejala pasien dengan gizi buruk adalah sebagai berikut:

Tabel 2 kriteria diagnosis pasien gizi buruk

Apabila Pasien memiliki 1 atau lebih gejala ini

Apabila Pasien memiliki 2 atau lebih gejala ini

  • BMI < 16
  • BMI < 18,5
  • Kehilangan berat badan yang tidak wajar > 15% dalam 3-6 bulan
  • Kehilangan berat badan yang tidak wajar > 10% dalam 3-6 bulan
  • Intake makanan yang rendah > 10 hari
  • Intake makanan yang rendah > 5 hari
  • Kadar K, PO dan Mg yang rendah
  • Riwayat penggunaan obat yang tidak baik, termasuk insulin, kemoterapi atau diuretik yang berlebih

Pasien dengan kondisi gizi buruk HARUS mendapatkan penanganan yang berbeda dibandingkan pasien gizi baik, yang terjadi saat ini adalah pengelompokan diet hanya berdasarkan kondisi umum pasien seperti diet diabetes melitus, diet ginjal atau diet jantung. Padahal kebutuhan kalori dan kondisi pasien sangatlah beragam meskipun pada penyakit yang sama terlebih bila pasien tersebut berada di unit perawatan intensif. Asesmen rutin dari dietician di dalam penentuan menu makanan harian sangatlah yang dibutuhkan. Gagal untuk merencanakan diet bisa menjadi bumerang, dimana cost yang dikeluarkan rumah sakit akan semakin besar dengan pemberian nutrisi yang tidak perlu dan hari rawat yang memanjang.

Oleh : dr. M. Hardhantyo Puspowardoyo

Bibliography
Lim, S. L., Benjamin, K. C., Chan, Y. H., Loke, W. C., Ferguson, M., & Daniels, L. (2011). Malnutrition and its impact on cost of hospitalization, length of stay, readmission and 3-year mortality. Clinical Nutrition , 345 – 350. http://eprints.qut.edu.au/50643/2/c50643.pdf 
Prins, A. (2010). Nutritional assessment of the critically ill patient. Clinical Nutrition , 11 – 18. www.ajol.info/index.php/sajcn/article/download/52741/41346 
Robert H, Demling MD, Leslie DeSanti RN. . (2003). Protein-Energy Malnutrition, and the non healing cutaneous wound. Medscape CME . http://www.medscape.org/viewarticle/418377 

{module [150]}

Program Peningkatan Nutrisi di Rumah Sakit

Pelayanan pendukung medis seperti instalasi gizi di suatu rumah sakit merupakan suatu kegiatan yang membantu dalam upaya penyembuhan dan pemulihan pasien, yang kegiatannya dapat dari usaha dapur sampai pengolahan diet bagi penderita. Bagian ini harus diatur dengan mempertimbangkan kebutuhan klinis, kebutuhan masyarakat, keamanan, kebersihan, serta manajemen yang tepat guna dalam memperbaiki pelayanan gizi di Rumah Sakit. Proses penyembuhan pasien yang berlangsung dibantu dengan adanya makanan yang memenuhi syarat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Ada beberapa prinsip-prinsip utama yang dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan program gizi pelayanan kesehatan di rumah sakit menurut NHS Scotlandia, dimana program ini mencerminkan pendekatan peningkatan pelayanan kesehatan yang memberikan saran dan bimbingan serta dukungan yang kuat secara berkelanjutan baik implementasi perbaikan serta link untuk feedback. Adapun hal yang perlu diperhatikan yakni memusatkan perhatian pada stakeholder karena merupakan kunci dengan membangun budaya perbaikan untuk mencapai perbaikan yang terukur, menjaga dan membangun prestasi yanga ada, memperluas fokus dari pelayanan perawatan primer/masyarakat, membangun multidisiplin kerja antara pengaturan perawatan yang berbeda, membangun pemahaman mengenai perbaikan antara perawatan staf di rumah sakit dan manajer serta melakukan integrasi dengan program nasional mengenai gizi.

Ada lima kunci dalam program perbaikan gizi di rumah sakit yang dapat dilakukan yakni:

  1. Nutrisi yang cukup merupakan bagian yang penting dari pelayanan yang berpusat ke orang, keamanan dan pelayanan yang efektif. Sehingga perlu ditekankan bahwa penting untuk membuat pengalaman yang positif bagi pasien dengan memberikan perawatan gizi yang baik.
  2. Dukungan dari manajer senior
  3. Perlunya kejuaraan gizi seperti yang dilakukan di NHS Scotlandia agar dapat meningkatkan gizi di RS.
  4. Perubahan harus di uji coba di wilayah yang kecil sebelum diluncurkan.
  5. Memproduksi makanan kemasan yang dapat membantu meningkatkan pengalaman waktu makan pasien.

Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan penyediaan layanan gizi yang baik, diantaranya perlu untuk melakukan kajian yang sistematis berdasarkan bukti pada layanan gizi untuk mengidentifikasi sejauh mana kita perlu melakukan program perbaikan kualitas pelayanan. Dalam penelitian NHS Healthcare Skotlandia juga mempriortaskan program perbaikan pada:

  1. Meningkatkan proses waktu makan;
  2. Memfasilitasi manajemen diri untuk layanan gizi sebagai kebutuhan jangka panjang
  3. Meningkatkan perpindahan antara rumah sakit dan perawatan rumah.

Program ini menarik untuk peningkatan mutu dan program keselamatan pasien karena tim didorong untuk mengembangkan laporan kemajuan, studi kasus dan cerita untuk mendukung proses perbaikan dan menunjukkan kemajuan mereka sendiri. Tim juga menggunakan telekonferensi yang dilakukan antara sesi belajar untuk mempertahankan dukungan dan memberikan kesempatan pada tim untuk belajar lebih lanjut untuk berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain. Tujuan umumnya adalah untuk memberikan perbaikan dalam bidang-bidang prioritas perawatan gizi yang disepakati. Serta mendukung aktivitas spesifik di lokasi uji dan sesi pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang peningkatan gizi.

Berbagai pendekatan untuk menyebarkan perbaikan ini telah diadopsi dan telah membantu meningkatkan kesadaran di kalangan praktisi tentang potensi untuk meningkatkan pelayanan gizi. Adanya umpan balik dari pasien, perawat dan staf merupakan kunci untuk melakukan perbaikan. Umpan balik dari pasien, perawat dan staf kunci untuk menginformasikan perbaikan ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk membuat suatu pertemuan untuk meningkatkan program perbaikan gizi d RS:

  1. Sesi pelatihan dalam bentuk cerita digital
  2. Pedoman yang digunakan untuk mengamati pengalaman pasien, termasuk alat-alat observasi dan teknik;
  3. Alat untuk mengamati interaksi pada waktu makan;
  4. Bimbingan dan materi pelatihan untuk mendukung alat observasi;
  5. Kartu komentar untuk menangkap pengalaman dari pemantauan waktu makan.

Program dengan panduan di atas telah memberikan kontribusi terhadap NHS dalam mempertimbangkan perawatan gizi dari perspektif yang lebih strategis, dan telah membantu untuk menempatkan perawatan gizi di garis depan kebijakan lokal dan nasional. Dukungan NHS dalam meningkatkan pelayanan gizi melalui pendidikan dan menjalankan praktek inovatif, juga telah membantu membangun kerja kolaboratif antara staf di beberapa daerah, dengan perawat berbasis lingkungan, ahli gizi dan staf katering yang mengakui bahwa ada peningkatan pemahaman peran satu sama lainnya.

Memberikan perawatan gizi yang baik adalah kunci untuk pengalaman pasien kesehatan dan elemen inti dari perawatan orang berpusat. Umpan balik yang diterima dari staf kesehatan, pasien dan perawat selama program ini jelas mencerminkan ini perawatan gizi harus tetap menjadi prioritas nasional, lokal dan individu.

Oleh : Andriani, MPH
Sumber : A hospital nutrition improvement programme. Nursing Times 02.10.13 / Vol 109 No 39 /
http://www.nursingtimes.net/Journals/2013/09/27/a/p/r/021013-A-hospital-nutrition-improvement-programme.pdf

{module [150]}

Health care affiliations benefit patients, payers

PhotoYou may have heard that ThedaCare recently affiliated with Community Health Network, based in Berlin, and Wild Rose Community Memorial Hospital. In a time when many people are confused by the myriad changes occurring across the health care landscape, we at ThedaCare thought it might be helpful to share our perspective on why these new affiliations benefit patients and payers, and how we’re working to make health care less confusing and more aligned.

Continue reading

Saintifikasi Obat Herbal

jamuTren pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati tanaman untuk pengobatan herbal di Indonesia semakin meningkat. Saintifikasi atau pembuktian bahan herbal secara ilmiah terus digalakkan. 

Indonesia tak hanya terkenal sebagai negeri yang kaya sumber daya alamnya, juga kaya potensi tanaman obat untuk sekadar menjaga kesehatan atau penyembuhan berbagai penyakit.

Continue reading