Health and Human Services Secretary Sylvia Burwell announced this week that, through the Affordable Care Act (ACA), Medicare would be taking drastic steps to assure that doctors are paid not for visits and procedures, but rather for the value of their work. The Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) website states that “providers must make fundamental changes in their day-to-day operations that improve the quality and reduce the cost of health care.”
Lecut Kualitas dan Akses Pelayanan
Dari Peresmian Puskesmas Inti Dukuhturi – Untuk mewujudkan revitalisasi puskesmas inti Dukuhturi akhirnya membuahkan hasil. Bangunan yang didanai APBD II senilai Rp1,6 milliar itupun kini siap ditempati. Namun, ada tugas berat untuk terus meningkatkan kualitas dan akses pelayanan menuju puskesmas siap persalinan. Hermas Purwadi, Tegal
Medicare patients could see better care
The Obama administration Monday announced a goal of accelerating changes to Medicare so that within four years, half the program’s traditional spending will go to doctors, hospitals and other providers that coordinate their patient care, stressing quality and frugality.
Tindakan Kemenkes RI demi Cegah Bakteri Listeria
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menanggapi cepat kasus listeriosis (Listeria) yang membuat publik kaget. Melalui Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. H. M. Subuh, MPPM menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada laporan kejadian luar biasa (KLB) berupa keracungan pangan akibat mengonsumsi buah apel impor yang dilaporkan dari daerah.
Laporan Kegiatan PELATIHAN AUDIT KLINIS
Laporan Kegiatan
PELATIHAN AUDIT KLINIS
Sebagai bagian dari kegiatan Sustainable Hospital Delivery Managing System
for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2
kerjasama antara
RSUP Dr. Sardjito, RS Bethesda, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan PKMK FK UGM
![]()
Pendahuluan
Mutu pelayanan kesehatan masyarakat khususnya di rumah sakit perlu terus ditingkatkan demi meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya yang dinilai mempunyai peranan yang sangat penting adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang bermutu. Keberhasilan upaya tersebut dapat dinilai melalui peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit adalah lembaga yang terutama memberikan pelayanan klinik, sehingga mutu pelayanan klinik merupakan indikator penting bagi baik buruknya rumah sakit. Baik buruknya proses pelayanan klinik dipengaruhi oleh penampilan kinerja para dokter, perawat dan tenaga klinik lainnya.
Salah satu upaya menjamin mutu pelayanan kesehatan adalah dengan konsep clinical governance. Kegiatan untuk menerapkan konsep dasar clinical governance terdiri dari kegiatan audit klinik, menyediakan data klinik dengan mutu yang baik, pengukuran outcome, manajemen risiko klinik berdasarkan evidence, manajemen kinerja klinik yang buruk, dan mekanisme untuk memonitor outcome pelayanan.
Audit klinik meliputi audit medis dan audit keperawatan, dilaksanakannya audit medis dan keperawatan saat ini semakin dirasa penting tidak saja dari segi manfaat tetapi karena audit medis dan keperawatan juga menjadi salah satu instrumen akreditasi rumah sakit. Audit klinik dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan klinik secara kontinyu kepada pasien.
Audit Klinik juga menjadi salah satu bentuk intervensi peningkatan mutu dalam program Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care yang dikoordinasi oleh Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan bekerjasama dengan Otsuka Foundation. Kegiatan ini akan diselenggarakan di tiga rumah sakit yang terlibat, yaitu RSUP Dr. Sardjito, RS Bethesda, dan RSI Cempaka Putih.
Tujuan kegiatan
- Meningkatkan ketrampilan staf dalam melaksanakan audit klinik
- Mengaudit pelayanan TB sebelum dilakukan intervensi SHDMS
- Mengaudit pelayanan TB setelah dilakukan intervensi SHDMS
- Memberikan saran-saran perbaikan pada RS terkait dengan pelayanan TB
Narasumber dan Pelaksana kegiatan
- dr. Hanevi Djasri, MARS
- dr. Trisasi Lestari, M.Med.Sc
- dr. Nandy Wilasto, MPH
- Hary Sanjoto, S.Sos, MPH
Pelaksanaan
Hari 1 : Pelatihan Audit Klinik
Sesi 1 : Audit Klinik dalam Peningkatan Mutu di RS
Sesi 2 : Pemilihan topik dan pedoman klinis
Sesi 3 : Penyusunan instrumen audit klinik
Sesi 4 : Pengambilan data dan pelaporan hasil audit
Hari 2 : Ujicoba audit klinik
Sesi 1 : Pengenalan instrumen audit klinik
Sesi 2 : Pengambilan data
Sesi 3 : Pengambilan data
Sesi 4 : Analisa data dan pelaporan hasil
Waktu dan Tempat Kegiatan
Waktu : Senin dan Selasa, 26-27 Januari 2015
Jam : 08.30 – 16.00
Tempat : Lab. Leadership Gedung IKM Lama Lantai 3
Sayap Timur Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Peserta
Tim pelaksana audit klinis di RS atau tim peningkatan mutu pelayanan klinis di RS. Bisa terdiri dari dokter dan perawat.
Jumlah peserta dari setiap RS diharapkan 5 orang.
Bahan pelatihan
- Copy Rekam Medik
Setiap RS diharapkan membawa fotocopy RM pasien TB yang terdaftar pada tahun 2014 di rawat inap dan rawat jalan sebanyak 25 Rekam Medik, sehingga setiap peserta dapat melakukan audit pada 5 Rekam Medik. Rekam Medik difotocopy utuh, apa adanya. - Daftar Pasien TB Rawat Inap dan Rawat Jalan
Setiap RS diminta untuk membawa daftar pasien baru TB (IC.X. 16.00 – 19.- – dan TB MDR, termasuk dgn komplikasi HIV dan lainnya) yang terdaftar selama tahun 2014 (Januari – Desember) untuk simulasi sampling audit klinik. - Instrumen Audit Klinik
Instrumen audit klinik akan disediakan oleh panitia penyelenggara, dalam bentuk file dan printout.
Kegiatan Pelatihan Audit Klinis
Pelatihan Audit Klinis dilaksanakan pada tanggal 26 – 27 Januari 2015 di Ruang Leadership Gedung IKM (lama) Lantai 3 sayap timur. Kegiatan ini dimulai jam 09.00. Narasumber dalam pelatihan ini adalah dr. Hanevi Djasri, MARS. Pada pelatihan hari ini dihadiri wakil wakil dari RS Bethesda (5 orang)dan RSUP Dr. Sardjito (6 orang). Sedangkan RS Islam Jakarta Cempaka Putih pelaksanaannya ditunda, dikarenakan ada acara yang bersamaan. Untuk itu maka pelatihan audit ini akan dilakukan secara khusus pada tanggal lain. Wakil-wakil dari rumah sakit yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari Perawat Poliklinik Paru, Unit Peningkatan Mutu, Bagian Rekam Medis, dan Perawat Rawat Inap khusus pasien TB dan TB MDR.
Judul materi pelatihan audik klinik ini adalah Pelaksanaan Audit Medik/Klinik di Rumah Sakit. Pada hari pertama ini dijelaskan tentang apa dan bagaimana audit klinis, dan bagaimana mengorganisasian data. Bagaimana audit klinis ini diawali dengan pengorganisasian audit klinis. Pengorganisasian audit klinis dapat dilakukan oleh Komite Medik atau biasa dikenal dengan Sub Komite Mutu Profesi, atau oleh Tim Ad Hoc Audit Medik (tim yang sengaja dibentuk dalam rangka audit medik), Dan yang terakhir dilakukan oleh Asisten Audit Medik. Pengorganisasian yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh Bagian Rekam Medik.
Poin pertama dalam pelatihan audit klinis ini adalah pemilihan topik. Pemilihan topik ini berdasar data rutin rumah sakit, survey kepuasan pasien, observasi pemberian pelayanan, dan masukan dari direksi, asuransi, atau unit-unit lain di rumah sakit. Selain itu juga sangat perlu untuk dipertimbangkan dalam pemilihan topik yang akan diaudit adalah, bahwa topik yang akan diaudit dapat diperbaiki, high risk, high cost, high volume, dan high problem. Selain itu juga diperlukan adanya dukungan atau konsensus dari para klinisi, serta topik ini sudah ada clinical guidelines-nya. Dalam menentukan topik yang akan diaudit akan digunakan skoring dari 1 sampai 10.
Tujuan dari penentuan topik ini adalah memastikan adaanya memperbaiki mutu, artinya tidak hanya “menghitung jumlah” atau “memeriksa” tapi lebih pada usaha peningkatan mutu pelayanan. Sasaran dalam kegiatan ini untuk meyakinkan bahwa topik tersebut Appropriateness, Timeliness, dan juga Effectiveness. Sasaran lainnya adalah Acceptability, Accessibility, Efficiency, Equity.
Poin kedua, adalah penetapan kriteria. Maksud dari kriteria adalah bukti yang diperlukan dan yang harus ada, misalanya bahwa penderita telah diberikan pelayanan pada taraf yang seoptimal mungkin. Kriteria yang dapat dilakukan audit klinis adalah Proses diagnosis (bukan kriteria diagnosis), Proses terapi, misalnya tindakan, bedah, dsb, dan Output. Meski agak sulit karena akan terkait dengan faktor lain (penyakit penyerta), status keluar rumah sakit, LOS, kematian, komplikasi.
Dalam menentukan dan menuliskan kriteria menggunakan akronim SMART
- Specific: bersih, tidak ambigu dan bebas bumbu-bumbu “politik”
- Measureable: dapat diukur
- Agreed: disetujui oleh semua pihak
- Relevant: relevan
- Theoretically sound: berdasarkan bukti klinis yang terbaik dan terbaru
Lebih lanjut dijelaskan oleh dr. HaneviDjasri, MARS, tentang poin ke 3, yaitu Pengumpulan Data. Dalam pengumpulan data ada beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu,
- Tentukan variabel yang mungkina akan mempengaruhi hasil
- Tentukan cara pengambilan data
- Tentukan jumlah sampel
Setelah dilakukannya penjelasan tentang audit klinis, mulai dari pemilihan topik hingga pengumpulan data, maka peserta diminta mempraktekkan. Praktek audit klinis ini berdasarkan CP-CP yang telah disusun oleh masing masing rumah sakit. RS Bethesda telah menyusun 5 CP yaitu kasus TB Dewasa di Rawat Jalan, TB Dewasa di Rawat Inap, TB Dewasa dengan Hepatitis Drugs Induce, TB Paru Dewasa dengan HIV, dan TB Paru pada Anak di Rawat Jalan. Sedangkan RSUP Dr. Sardjito 2 CP yaitu kasus TB Paru Dewasa dengan Multi Drug Resisten (TB MDR) dan TB Paru pada Anak Rawat Inap.
Pada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan poin ke empat, yaitu Analisa Data.
Dalam analisa data ada beberapa catatan sebelum dilakukan analisa data, yaitu ;
- Re-check: analisa penyimpangan
- Memastikan apakah hasil audit menurut asisten audit sudah benar (yang disebut menyimpang benar-benar menyimpang)
- Identifikasi karakteristik sampel audit, apakah dapat mewakili seluruh populasi
- Menghitung tingkat kepatuhan secara umum
- Mengidentifikasi pola penyimpangan
- Mengidentifikasi penyebab penyimpangan
Dalam analisa data dapat menggunakan grafik histogram atau scatter diagram disesuaikan dengan kasus yang dilihat. Akan tetapi dalam analisa data permasalahan yang paling mudah dilakukan adalah denggan diagra ishikawa (Diagram Tulang Ikan) dengan 6 elemen yang dipertimbangkan yaitu method, management, material, machine, measurement, dan man.
Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah yaitu, a). Administrasi/ manajemen RS (fasilitas, peralatan, kebijakan), b). Staf/ Bagian Pelayanan Medik, c). Anggota SMF/ individual, d). Pelayanan medik khusus (Lab, X-ray, anestesi, dll), e). Unit/ Pelayanan Keperawatan, f). Perawat/ individual, g). Pelayanan terapi bukan oleh dokter, h). Kondisi atau ketidaktaatan pasien, i). Faktor masyarakat, j). Perlu penyelidikan lebih lanjut.
Poin kelima adalah Menetapkan Perubahan. dr. Hanevi Djasri, MARS, mengutip Baker et al. (1999) dalam melihat siklus audit klinis yaitu “Bagian terpenting dari siklus audit adalah membuat perubahan”. Dengan telah terjadinya perubahan untuk perbaikan maka audit klinis ini dapat dikatakan sukses.
Poin keenam yaitu tindak lanjut perubahan yang efektif. Ada beberapa catatan dalam tindak lanjut perubahan yaitu, ditujukan pada yang kompeten, ada batas waktu, tanggung jawab ditegaskan & dikomunikasikan, dibuat rencana tindakan secara detail (POA), dan permasalahan, rencana tindakan, pelaksana, batas waktu, persetujuan yang berwenang. Dalam sesi ini pelatihan ini dilanjutkan dengan latihan penyusunan POA oleh semua peserta.
Poin terakhir (ketujuh) dalam pelatihan audit klinis ini adalah Re-Audit, yaitu melakukan audit klinis ulang setelah selesai melakukan intervensi, meliputi:
- Audit terhadap pasien yang datang setelah intervensi
- Jumlah rekam medis yang hampir sama
- Kriteria dan Perkecualian yang sama
- Evaluasi apakah telah ada perbaikan, bila tidak maka perlu dirumuskan tindak lanjut yang baru
Pelatihan audit klinis diakhiri pada pukul 14.00 dengan mengenalkan website Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2 ke peserta yang dapat diakses dari website Divisi Manajemen Rumah Sakit PKMK FK UGM ( www.manajemenrumahsakit.net ) atau ke website Divisi Mutu Pelayanan Kesehatan PKMK FK UGM ( www.mutupelayanankesehatan.net ).
Demikian Laporan Kegiatan Pelatihan Audit Klinis kami laporkan.
Obama wants doctors’ pay linked to quality of care
The proposed system overhaul aims at improving patients’ care and cutting wasteful spending.
The Obama administration on Monday announced an ambitious goal to overhaul the way doctors are paid, tying their fees more closely to the quality of care rather than the quantity.
DPRD Jatim Siapkan Perda Pelayanan Tenaga Kesehatan
Untuk menyaring tenaga kesehatan yang akan masuk ke Jatim terutama dalam menghadapi MEA 2015, Komisi E DPRD Jatim menyiapkan Perda pelayanan tenaga kesehatan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Herry Sugihono mengatakan dengan adanya perda tersebut diharapkan bisa menjadi standarisasi bagi tenaga ahli kesehatan atau dokter yang akan buka praktek di Jatim.
Tools Untuk Peningkatan Mutu Gizi Pasien
Tanggal 25 Januari 2015 lalu diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, seperti dikutip dari gizi.depkes.go.id, hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an, dan kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga sekarang. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada tanggal 26 Januari 1951. Selanjutnya disepakati bahwa Hari Gizi Nasional ditetapkan menjadi tanggal 25 Januari.
Sejalan dengan peringatan hari Gizi Nasional, pembahasan topik terkait pengelolaan gizi pasien juga masih akan menjadi bahasan pada artikel minggu ini. Peringatan Hari Gizi Nasional sesuai dengan topik bahasan yang dipaparkan minggu ini, meskipun peringatan Hari Gizi Nasional disini sifatnya lebih umum, namun di dalamnya juga dapat mencakup pelayanan gizi yang diperuntukkan bagi pasien di rumah sakit khususnya untuk memberikan pelayanan bermutu yang komprehensif. Artikel minggu ini masih menampilkan ulasan yang terkait dengan paparan artikel minggu lalu yang membahas mengenai upaya peningkatan mutu pelayanan gizi di tingkat pasien, yakni menggali lebih dalam mengenai persepsi, kepuasan, dan harapan pasien terhadap pelayanan makanan yang mereka terima.
Apabila minggu lalu kita melihat proses pelayanan makanan di rumah sakit dari ‘kacamata’ pasien, maka minggu ini kita akan memaparkan proses pelayanan makanan di tingkat mikro, serta upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk melakukan perbaikan proses sehingga berdampak pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi pasien itu sendiri.
Dua artikel yang ditampilkan minggu ini akan memaparkan mengenai pedoman skrining gizi pasien dan skrining gizi khususnya untuk pasien yang memiliki risiko malnutrisi beserta informasi tools yang dapat dipergunakan. Dua artikel tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran untuk perbaikan proses di tingkat mikro khususnya untuk perbaikan pelayanan gizi pasien selama proses pelayanan kesehatan (lei).
{module [152]}
Nutritional Risk Screening, Sebagai Langkah Awal Penanganan Malnutrisi pada Pasien
Dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif, pengelolaan gizi di unit pelayanan rumah sakit menjadi semakin penting untuk menjamin mutu pelayanan yang diberikan. Hal ini ditambah dengan semakin luasnya clinical services yang ditawarkan dan perkembangan ekonomi, perhatian akan kejadian malnutrisi pada pasien di rumah sakit wajib mendapatkan penanganan yang serius. Beberapa studi menunjukan bahwa prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit meningkat antara 20-50%, walaupun demikian banyak kejadian tersebut tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan perawatan karena kurangnya perhatian dan rendahnya pengetahuan dari staf rumah sakit. Oleh karena itu , Nutrition Day Audit Team di Eropa menyarankan agar nutritional risk screening dijadikan sebagai titik awal yang sangat penting untuk meningkatkan perawatan gizi di rumah sakit di Eropa.
Screening merupakan langkah pertama yang sangat esensial dalam proses perawatan gizi di rumah sakit seperti yang disarankan oleh The Committee of Minister of the Council of Europe. Banyak screening tools yang digunakan untuk menentukan resiko malnutrisi pada pasien di rumah sakit salah satunya adalah Nutritional Risk Screening tools 2002 (NRS 2002) yang direkomendasikan oleh European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN). Salah satu studi yang dilakukan oleh Pavic, dkk di rumah sakit di Kroasia, mereka melakukan screening menggunakan tools tersebut pada 1.696 pasien dimana 329 diantaranya terindikasi mengalami resiko malnutrisi. Mereka juga menemukan bahwa pasien dengan risiko malnutrisi tersebut memiliki jumlah hari perawatan yang lebih lama dibandingkan pasien yang tidak berisiko. Selain itu; Pavic, dkk juga menemukan bahwa angka risiko malnutrisi lebih besar pada kelompok lansia (lebih dari 65 tahun) yakni 22.2% dibandingkan dengan kelompok umur kurang dari 65 tahun.
Studi lain yang dilakukan oleh Holst, dkk menambahkan bahwa malnutrisi juga berkaitan dengan kejadian komplikasi dan bahkan kematian setelah perawatan serta menyebabkan gejala depresi dan kemunduran kualitas hidup. Holst, dkk sangat merekomendasikan perawatan gizi yang intensif terutama untuk pasien lansia (65 tahun ke atas) mengingat kelompok umur ini mempunyai aktivitas fisik yang terbatas, kurang nafsu makan, dan sering mengalami penyakit kronik yang erat hubungannya dengan malnutrisi. Holst, dkk berpendapat bahwa nutritional screening harus fokus pada evaluasi fungsional dan psikologi seperti kemampuan mengunyah, gangguan mengecap rasa, dan sebagainya. Lebih jauh lagi Holst, dkk berharap kalau bisa screening juga mencakup penilaian depresi dimana depresi juga merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan risiko malnutrisi.
Hal ini semakin memperkuat bahwa pengelolaan gizi di rumah sakit sangat dibutuhkan terutama untuk pasien umur 65 tahun ke atas, mengingat semakin meningkatnya penyakit kronik (jantung, diabetes, stroke, dan sebagainya) yang mana sebagian besar penderitanya adalah kelompok umur tersebut. Selain menyarankan untuk menggunakan NSR 2002 atau screening tools lain yang relevan secara rutin; Pavic, dkk juga menekankan pentingnya membangkitkan awareness dari petugas kesehatan dalam perawatan gizi. Sebagai orang yang paling tahu kondisi pasien tentunya mereka perlu mendapatkan pelatihan untuk lebih aware terhadap kondisi pasien terutama pasien dengan risiko malnutrisi pada saat perawatan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah koordinasi yang baik antar unit kerja di rumah sakit dengan instalasi perawatan gizi sehingga intervensi atau perawatan yang diberikan bisa meningkatkan mutu layanan kepada pasien. Semuanya ini akan menjadi lebih baik lagi apabila memperoleh dukungan dari pihak manajemen rumah sakit dengan menetapkan standar pelayanan gizi yang berkualitas.
Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran UNDANA
Sumber : Pavic, et all. 2012. Nutritional Screening Model in Tertiary Medical Unit in Croatia. Annals of Nutrition & Metabolism; 61:65-69.
Holst, et all. 2012. Empirical Studies : Nutritional Screening and Risk Factors in Elderly Hospitalized Patients: Association to Clinical Outcome?. Scandinavian Journal of Garing Sciences.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/scs.12010/pdf
{module [150]}
Guidelines Nutrition Screening: Gizi Baik Pasien Untuk Pelayanan yang Bermutu
Sebesar 30% pasien kurang gizi ketika dirawat di rumah sakit, hal ini merupakan hasil penelitian J. Kondrup et all (2002) di Denmark. Maka, diperlukan perhatian extra terkait perawatan dan pemulihan gizi, selain itu pasien gizi kurang dengan komplikasi penyakit kronis perlu discreening rutin. Sehingga masalah gizi yang mengakibatkan risiko klinis lebih besar dapat diidentifikasi dini. Berikut pedoman risiko gizi buruk sebagai standar umum dan mudah dilakukan oleh pasien.
Tujuan screening
Memprediksi kemungkinan hasil terbaik atau terburuk dan pemberian pengobatan yang tepat. Hasil pengobatan ditaksir dengan cara:
- Memperbaiki atau mencegah sakit mental dan fungsi fisik
- Mengurangi komplikasi penyakit dan dampak pengobatan
- Mempercepat penyembuhan dan pemulihan setelah sakit
- Mengurangi konsumsi medis misalnya lama tinggal di rumah sakit, lama pengobatan dan perawatan.
Gizi kurang dapat diidentifikasi dengan screening dan sebaiknya tujuan relevan dengan cara taksir dan sesuai keadaan pasien. Gizi kurang dengan atau tanpa penyakit kronis menjadi faktor utama penentu mental atau fungsi fisik seseorang. Penyakit perlu diperhitungkan dalam memberikan takaran gizi sehingga berdampak baik pada kesembuhan pasien.
Pertimbangan metodologi
Screening tools dapat dievaluasi dengan metode. Mengidentifikasi risiko dengan metode medapatkan manfaat intervensi tepat dan memperbaiki hasil screening dengan baik. Selain itu, screening tools biasanya high degree mencakup semua komponen pemecahan masalah. Screening tools digunakan secara reliabel, cepat sederhana, objektif dan intuitif dan tidak diinterpretasikan secara berlebihan. Penggunaan screening tools sebaiknya diatur tata penggunaannya dari rujukan pasien kurang gizi, diperiksa awal oleh dokter ahli, di-screening dan rencana perawatan.
Screening nutrition care
Pasien risiko kurang gizi diidentifikasi awal dengan tata cara yang benar, dan melakukan tindakan perawatan pemulihan gizi dan mengurangi komplikasi dengan tepat. Hal ini dilakukan dengan memperkirakan syarat energi dan protein dengan berat badan dan tinggi badan, memberikan takaran makanan bergizi, oral supplements dan tube feeding sesuai kebutuhan. Berikut tips yang dapat dilakukan:
- Screening
Mudah dan prosesnya cepat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Seluruh pasien sebaiknya di-screening untuk mendapatkan cakupan gizi yang tepat.- Pasien tidak berisiko, di-screening ulang dengan rutin pada saat dirawat misalnya seminggu,
- Pasien risiko, direncanakan perawatannya dengan baik oleh tenaga kesehatan dan memberikan cakupan gizi dengan tepat,
- Pasien risiko dengan masalah metabolisme dan fungsi klinis, direncanakan perawatannya dengan baik, memberikan cakupan gizi yang tepat dan memberikan intervensi klinis dengan tepat. Paling penting para ahli memberikan penilaian awal.
- Assessment
Penilaian metabolisme, nutrisi dan fungsi gizi lainnya dilakukan oleh dokter ahli, ahli nutrisi dan ahli gizi perawat sehingga memberikan diagnosis, pemeriksaan laboratorium dengan benar guna memberikan perawatan, mempertimbangkan efek samping dan pada anak memberikan teknik menyusui yang tepat. Dalam assessment, termasuk mengevaluasi, mengukur risiko konsekuensi dari kurang gizi seperti kelemahan otot, kelelahan dan depresi dengan mempertimbangkan obat yang pernah dikonsumsi dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan asupan makanan. Seluruh upaya ini berguna saat pemberian obat dan gejala yang akan ditimbulkan. - Monitoring dan outcome
Care plan perlu dimonitoring dengan mengukur dan mengobservasi seperti pencatatan asupan makanan, berat badan fungsi organ dan mendeteksi kemungkinan ada efek samping. - Audit
Jika proses berjalan baik dengan cara sistematis, maka hasil audit memberikan informasi dalam membuat keputusan.
Komponen nutritional screening
Screening tools dibuat untuk mendeteksi kekurangan protein dan energi, selain itu mengetahui apakah gizi pasien akan membaik atau memburuk dalam proses perawatan. Empat prinsip screening tools sebagai berikut:
- Bagaimana kondisi sekarang?
Tinggi dan berat badan menurut indeks masa tubuh (IMB) normal range 20-25, obesitas >30, batasan kurus 18,5-20, Gizi kurang <18,5. Dalam kasus tertentu misalnya pasien sakit parah yang tidak dimungkinkan untuk mengukur berat badan dan tinggi badan, dapat dilakukan dengan mengukur lengan dengan pita. Pita diikat di lengan atas atau pertengahan lingkar lengan. - Apakah kondisi stabil?
Penurunan berat badan dapat dilihat dari patient’s history atau dari pengukuran sebelumnya. - Apakah kondisi akan menjadi buruk?
Berguna mengetahui asupan makanan menurun sampai saat screening, berapa lama dan berapa banyak, pengukuran dilakukan dengan mengukur asupan makanan pasien dan buku harian makanan. - Apakah penyakit mempercepat kekurangan gizi?
Selain mengurangi nafsu makan, penyakit-penyakit tertentu dapat meningkatkan nafsu makan karena metabolisme stres yang berhubungan dengan penyakit misalnya operasi, sepsis dan multitrauma, menyebabkan status gizi berkurang lebih cepat.
Screening tools direkomendasikan ESPEN
- Masyarakat: Pemberlakuan MUST sistem
Tujuan dari sistem MUST mendeteksi gizi berdasarkan gangguan fungsi gizi dan fungsi organ lainnya.
Validasi prediksi MUST di masyarakat berdasarkan penelitian sebelumnya tentang efek kelaparan pada mental dan fungsi fisik, telah didokumentasikan dan memiliki kehandalan yang tinggi. MUST telah melibatkan multidisiplin ilmu dan didokumentasikan dalam berbagai studi di kalangan masyarakat inggris. - Rumah sakit: NRS-2002
Mendeteksi kurang gizi dan risiko yang ditimbulkan serta mengembangkan keberadaan rumah sakit peduli gizi. Metode ini juga mencakup metode MUST. Seorang pasien dengan diagnosis tertentu tidak selalu mendapat skor yang sama dengan kategori yang sama misalnya pasien dengan perawatan intensif mendapatkan skor yang berbeda. - Dewasa: MNA
Mendeteksi keberadaan kekurangan gizi dan risiko pengembangan gizi kalangan orangtua dalam program perawatan di rumah merupakan tujuan dari metode MNA. Dalam keadaan ini prevalensi gizi dikalangan orangtua mencapai 15-60%, metode screening ini mendeteksi gizi usia lanjut, memberikan intervensi tepat yang mencakup perbaikan aspek fisik dan mental lansia. - Anak-anak
Alat screening yang diterima secara universal belum tersedia untuk anak-anak. Tinggi badan, berat badan serta usia mempengaruhi gizi anak selain itu masa pubertas juga dapat mempengaruhi gizi anak. - Sistem screening lainnya
Penelitian yang dilakukan Kondrup et all (2002) mengemukakan perlu ada kombinasi parameter klinis dan biokimia untuk menilai adanya kurang gizi. Disarankan menggunakan metode subjective global assessment (SGA) dengan melihat kembali riwayat pasien dan kondisi klinis namun metode ini kurang fokus pada tujuan screening.
Oleh: Dedison Asanab, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana
Sumber: J. Kondrup, et all. 2002. ESPEN Guidelines for Nutrition screening 2002
http://www.clinicalnutritionjournal.com/article/S0261-5614(03)00098-0/pdf