Tanggapan Rumah Sakit Tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

  Pengantar

Sistem JKN telah mengubah pola pembiayaan dan pelayanan kesehatan di rumah-rumah sakit di Indonesia. Perubahan ini memunculkan berbagai tantangan yang harus disikapi dengan bijak bagi pelaku sektor kesehatan. Penting untuk mengubah mindset agar siap melahirkan inovasi baru di rumah sakit. Beberapa rumah sakit di Indonesia telah menunjukkan sikap dan tanggapan terkait perubahan sistem kesehatan ini.

Tanggapan Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.BTKV Dirut RS PELNI – Jakarta

  1. Healthcare Transformation and Innovation Challenges
    Apa saja perubahan dalam sistem layanan kesehatan di era JKN ini dan bagaimana berinovasi untuk menjawab segala tantangan yang ada? Silakan simak video berikut:  

  2. Potensi Fraud di Rumah Sakit
    Salah satu tantangan yang muncul dalam era JKN ini adalah faud layanan kesehatan yang terjadi di rumah sakit. Apa saja bentuk-bentuk fraud yang mungkin terjadi di rumah sakit? Apa saja upaya yang dapat dilakukan di rumah sakit untuk mengidentifikasinya? Silakan simak video berikut:

Contoh Strategi Rumah Sakit untuk Mencegah dan Meminimalisir Fraud Layanan Kesehatan

  Pengantar

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa fraud layanan kesehatan sebagian besar dilaksanakan oleh klinisi, baik secara individu maupun berkelompok seperti di rumah sakit. Berbagai faktor menjadi penyebab munculnya fraud dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), salah satunya adalah persepsi bahwa tarif INA CBG’s yang terlalu rendah. Persepsi macam ini selain menimbulkan niat untuk melakukan kecurangan, juga menimbulkan niat untuk menurunkan mutu layanan kesehatan. Kondisi ini kadang diperparah dengan adanya “legalisasi” dari manajemen rumah sakit sebagai upaya “menyelamatkan” rumah sakit.

Sebenarnya rumah sakit juga memiliki peran mulai dari upaya pencegahan, deteksi hingga penindakan fraud secara internal. Peran ini diemban baik oleh manajemen dan klinisi. Manajemen berfokus kepada pendekatan-pendekatan yang untuk menunjang pelayanan yang efisien. Klinisi berfokus memberi pelayanan terbaik bagi peserta jaminan. Untuk mendukung perannya, manajemen butuh wawasan dan keterampilan yang baik. Pembelajaran dapat berasal dari mana saja, baik dari teori maupun dari pengalaman rumah sakit lain. Untuk membantu proses belajar, kami sajikan video pengalaman beberapa rumah sakit untuk mencegah dan meminimalisir fraud.

Pengalaman Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.BTKV Dirut RS PELNI – Jakarta

  Lean Management

Dalam video yang kami sajikan berikut, Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp. BTKV bercerita mengenai lean management sebagai upaya pencegahan fraud. Lean management adalah pendekatan manajemen untuk menghilangkan pemborosan dan menghargai pegawai. Filosofinya adalah memberi pelayanan terbaik dengan harga terrendah. Lean management merupakan sebuah budaya yang melibatkan organisasi.

Bagaimana Dr. Fathema menerapkan lean management sebagai upaya pencecagahan fraud di rumah sakitnya? Simak video berikut:

 

 

Online tool simplifies healthcare complexities

When trying to make educated decisions, it’s easy to get overwhelmed by the sheer volume of information available online.

But one digital resource in Greater Cincinnati is drilling down healthcare quality metrics and creating a one-stop shop for healthcare consumers, providers and insurance payers.

Continue reading

Pasien BPJS Diperbolehkan Cari Rumah Sakit Lain

Pasien yang sulit mendapatkan kamar rawat inap di satu rumah sakit tidak perlu menunggu berhari-hari.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah bekerja sama dengan banyak rumah sakit, sehingga pasien dapat mencari rumah sakit lain.Kecuali untuk penyakit tertentu. Misalnya bedah syaraf dan kanker yang saat ini hanya ada di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan.

Continue reading

Peningkatan Gizi Pasien Untuk Mutu Kesehatan yang Lebih Baik

Fokus terhadap pelanggan menjadi perhatian khusus dalam usaha yang bergerak di bidang jasa, tidak terkecuali bidang kesehatan. Pada bidang kesehatan, fokus perhatian pelanggan mencakup berbagai aspek pelayanan, salah satunya adalah pelayanan gizi bagi pasien. Definisi pelayanan gizi rumah sakit sendiri menurut Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS), Kemenkes RI 2013 adalah pelayanan yang diberikan dan disesuaikan dengan keadaan pasien, berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien.

Pelayanan gizi pasien di suatu rumah sakit haruslah mempertimbangkan berbagai faktor agar proses pelayanan yang diterima oleh pasien menjadi optimal. Perkiraan kebutuhan gizi pasien yang akurat, koordinasi antar tim kesehatan, monitoring dan pencatatan berat serta tinggi badan, asupan makanan, tingkat berat penyakit, serta status gizi awal pasien pada saat masuk rumah sakit adalah beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam proses pelayanan gizi kepada pasien. Pelayanan gizi yang baik juga menjadi salah satu penunjang bagi rumah sakit dalam penilaian akreditasi yang mengacu pada JCI.

Topik peningkatan mutu yang akan dibahas di website mutu untuk empat minggu ke depan akan menampilkan berbagai artikel terkait upaya peningkatan mutu melalui perbaikan pelayanan gizi bagi pasien. Mengacu pada rantai efek peningkatan mutu oleh Donald Berwick, secara berturut-turut dan berkesinambungan akan dipaparkan materi upaya peningkatan mutu khususnya melalui perbaikan pelayanan gizi, yang akan disampaikan mulai dari upaya di tingkat pasien, perbaikan di proses mikro, upaya di tingkat organisasi pelayanan kesehatan, dan upaya perbaikan lingkungan organisasi pelayanan kesehatan.

Minggu ini akan dibahas topik yang terkait upaya peningkatan mutu pelayanan gizi di tingkat pasien, artikel pertama akan memaparkan tentang kepuasan pasien terhadap pelayanan gizi di rumah sakit sebagai salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan artikel kedua akan memaparkan penelitian yang dilaksanakan di empat perwakilan National Health Service (NHS) untuk menggali data mengenai persepsi dan harapan pasien terhadap pelayanan makanan serta pentingnya atribut-atribut pada pelayanan makanan tersebut dalam menentukan kepuasan pasien. (lei)

{module [152]}

Mutu Pelayanan Gizi di Rumah Sakit: Indikasi Kepuasan Pasien

Kepuasan adalah memahami kebutuhan pasien dan keinginan konsumen dalam mempengaruhi kepuasan pasien yang merupakan aset yang sangat berharga, karena jika pasien puas mereka akan terus melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya. Namun, jika pasien merasa tidak puas mereka akan enggan kembali untuk memakai jasa tersebut. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan rumah sakit kehilangan kepercayaan sehingga pasien beranggapan bahwa rumah sakit tidak akan menyediakan pelayanan yang dapat memuaskan pasien.

Sistem pelayanan makanan di rumah sakit merupakan bagian primer dalam pelayanan kesehatan yang merupakan bagian dari terapi medis. Selama ini pelayanan makanan di rumah sakit seolah berdiri sendiri, padahal dalam sistem operasinya sistem pelayanan makanan harus bekerja beriringan dengan pelayanan medis dan sistem pelayanan lainnya yang beroperasi di rumah sakit guna memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Dalam hal ini makanan sebagai salah satu bagian dari terapi kesembuhan pasien, apabila asupan makan pasien baik maka akan berdampak pada kesembuhan pasien, lama rawat inap dan biaya yang dikeluarkan.

Dalam sistem pelayanan makanan di rumah sakit, ahli gizi sangat berperan penting. Mulai dari sistem perencanaan menu diet, pembiayaan hingga interaksi langsung kepada pasien. Setiap tahap pelayanan makanan ahli gizi berkolaborasi dengan tenaga medis atau non-medis. Selama pasien dirawat di rumah sakit ahli gizi berkolaborsi dengan perawat, dokter serta apoteker.

Untuk mengetahui pelayanan di rumah sakit terutama dalam bagian pelayanan makanan diperlukan komunikasi evaluasi kepada pasien dan tenaga medis lainnya. Kepuasan pasien dalam pelayanan makanan sangat perlu dilakukan agar ada perbaikan yang secara berkesinambungan dalam pelayanan makanan di rumah sakit. Beberapa negara bagian di Eropa telah melakukan penelitian mengenai kepuasan pelayanan makanan di rumah sakit. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit di UK National Health Service, dimana dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan dokter, perawat, petugas bangsal, pasien beserta pengunjung pasien, serta wawancara dengan manajer pelayanan makanan, manajer fasilitas, kepala dietisien, dietisien bangsal ortopedic, dan kepala farmasi untuk mengeksplorasi hal-hal yang terkait dengan kepuasan dan pengalaman pasien dalam pelayanan gizi makanan, termasuk didalamnya mengeksplorasi unsur pelayanannya. Hasil dari evaluasi tersebut adalah pasien merasa kurang puas dengan suhu dan tekstur makanan yang diterima. Ketika makanan sampai kepada pasien seringkali suhu makanan sudah turun atau sudah tidak hangat lagi dan tekstur makanan kurang sesuai dengan standar. Faktor yang berpengaruh salah satunya adalah kendala jarak pengiriman dari dapur ke pasien dan jumlah tenaga kerja pramusaji yang tersedia di rumah sakit. Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan penggunaan troli pengiriman makanan yang sesuai standar agar dapat mempertahankan suhu makanan.

Berikut adalah teori model pengalaman dan kepuasan pasien terhadap pelayanan gizi di rumah sakit oleh UK National Health Service :

art19jan

Feedback dari pasien mengenai kepuasan makanan sangat diperlukan dalam pengembangan sistem pelayanan makanan di rumah sakit, sehingga harus dilakukan secara berkala. Dengan penyampaian informasi secara individual serta pelayanan makanan yang lebih baik di rumah sakit, maka kejadian gizi buruk dapat menurun, pengalaman pasien akan meningkat baik secara berkesinambungan serta lama rawat inap di rumah sakit dapat dikurangi.

Oleh : Elisa Sulistyaningrum

Sumber : Hartwell et al., Food Service in Hospital: an Indicative Model for Patient Satisfaction.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1745-4506.2006.00040.x/pdf 

{module [150]}

Policy Brief Sistem Pencegahan, Deteksi, dan Penindakan Fraud Layanan Kesehatan dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

  Lampiran Policy Brief

 

 

Top Healthcare Quality Issues for 2015, Part 1

mediaSix quality issues warrant the attention of healthcare leaders: misdiagnoses, star ratings, socioeconomic adjustment for readmissions, the end of Partnership for Patients programs, Medicaid parity expiration, and Disproportionate Share Hospital cuts.

Healthcare has experienced fascinating changes during the last few years, and 2015 will be no exception.

Major programs stemming from the Patient Protection and Affordable Care Act are well under way, dozens of new quality measures and data galore are flowing into the public domain, and quality of care remains in the spotlight for providers at all levels.

Continue reading