3 Puskesmas akan Dipugar Tahun Ini

PUSKESMAS-ilustrasi-370x191Pelayanan kesehatan Sragen ditingkatkan dengan memugar 3 puskesmas tahun ini.

Tiga puskesmas di Sragen akan dipugar tahun 2015 ini.  Tiga puskesmas itu meliputi Puskesmas I Sambungmacan, Puskesmas Ngrampal, dan Puskesmas Jenar.

“Tahun ini tiga puskesmas akan kita pugar. Anggaran sudah ada di APBD tahun ini,” tutur Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, saat ditemui solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2015) siang.

Continue reading

Dua Puskesmas Akan Jadi Rumah Sakit Tipe D

tribunDua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Magelang dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D tahun 2016 mendatang. Pengalihfungsian itu untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan.

Asisten Administrasi Umum Endra Endah Wacana menjelaskan, dua puskesmas yang rencananya akan dialihfungsikan menjadi rumah sakit tipe D itu adalah Puskesmas Salaman I dan Puskesmas Grabag I. Endra menjelaskan, dipilihnya Grabag dan Salaman lantaran di Kabupaten Magelang, rumah sakit terkonsentrasi di wilayah Muntilan.

Continue reading

Community Connections: Grateful for quality end-of-life care

It takes time to gear up for Christmas and it takes time to decompress from the holidays. So at the front end of the holiday drama I found myself paging through Consumer Reports.

Those Christmas gift lists almost demand it — the best 55-inch HDTV — who knew the current 48-inch in the man cave at our house was now inadequate! And maybe a new camera? Or some exotic techie device. My fingers fairly vibrated at the thought.

There I sat wanting to be a responsible consumer, paging through the Holy Grail of responsible, committed spending. And there it was — a consumer’s report on “Going Your Way” — sort of a thoughtful spender’s guide to, well, to dying.

Continue reading

Ujian Blended Learning

Ujian Blended learning per rumah sakit akan di selenggarakan tanggal 24 Februari 2015

  • Kelompok A ada 4 rumah sakit yakni RSU Parama Sidhi Singaraja; RSAD Udayana; RSU Manuaba; dan RSU Premagana Pukul 12.00-13.00 WIB
  • Kelompok B ada 4 rumah sakit yakni RSIA Puri Bunda; RSUD Sanjiwani Gianyar; RSUD Badung; dan RSU Surya Husada Pukul 10.00-11.00 WIB
  • Kelompok C ada 3 rumah sakit yakni RSUD Klungkung; RSU Bangli; dan RSU Bali Royal Pukul 08.00-09.00 WIB

  Tata cara ujian blended learning per rumah sakit:

Webinar ujian blended learning (BL) dilakukan per kelompok. Ada 5 pertanyaan yang harus dijawab secara lisan. Soal nomor 1,2,3, dan 5 sama antara berbagai rumah sakit, sedangkan soal nomor 4 berupa kasus dimana setiap rumah sakit diajukan kasus yang berbeda. Semua Fasilitator akan mengajukan pertanyaan satu per satu dan dijawab secara bergantian oleh rumah sakit peserta pelatihan BL Koding. Setelah selesai menjawab soal nomor 1, akan dilanjutkan dengan nomor berikutnya, dan begitu juga seterusnya. Mohon setiap rumah sakit dapat menyiapkan jawaban soal sehingga akan memudahkan peserta dalam menjawab pertanyaan dari fasilitator.

Soal Ujian Per Rumah sakit

  1. Soal Ujian Kelompok A
  2. Soal Ujian Kelompok B
  3. Soal Ujian Kelompok C

 

 

Kemkes Targetkan 6.000 Puskesmas Terakreditasi

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menandatangani prasasti keberhasilanSanur – Kementerian Kesehatan (Kemkes) menargetkan sebanyak 6.000 puskesmas memenuhi standar pelayanan dan terakreditasi hingga 2019. Untuk penguatan fasilitas kesehatan primer ini, termasuk perbaikan puskesmas yang rusak, Kemkes mengusulkan anggaran Rp 654 miliar melalui mekanisme Tugas Pembantuan dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2015 sebesar Rp 1,6 triliun dalam APBN-P.

Continue reading

Pengalaman Peningkatan Mutu Gizi Pasien: Penentuan Kebijakan Pelayanan Gizi Pasien

Best practice di suatu daerah ada kalanya dapat dijadikan acuan dalam menentukan suatu kebijakan atau strategi perbaikan. Tidak terkecuali pada proses perbaikan mutu gizi pasien. Proses perbaikan mutu dapat dilakukan baik di tingkat pasien sampai di tingkat regulator.

Sebelumnya telah dipaparkan upaya perbaikan mutu gizi pasien dilihat dari sisi pasien, tingkat mikro, dan tingkat organisasi, maka minggu ini akan dipaparkan artikel yang memuat hasil penelitian yang dilakukan di United of Kingdom yang menguraikan manfaat dari pengukuran dan pendokumentasian tinggi dan berat pasien dalam upaya pengelolaan gizi pasien khususnya bagi pasien yang memiliki risiko malnutrisi.

Artikel lain yang dimuat minggu ini juga akan menampilkan hasil penelitian yang dilakukan dengan membandingkan tujuh instrumen screening gizi untuk pasien rawat inap usia lanjut dengan dua metode penilaian gizi lainnya.

Berbagai referensi hasil penelitian maupun penerapan pelayanan gizi yang baik untuk pasien tersebut diharapkan dapat memberikan masukan perbaikan, tidak hanya di tingkat mikro namun juga sampai di tingkat regulator. Seperti halnya salah satu contoh kebijakan tentang tenaga gizi yang telah dituangkan dalam Permenkes No. 26 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi, dimana telah ditetapkan pengaturan bagi tenaga gizi agar hasil kerjanya dapat meningkatkan status kesehatan yang optimal baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Atau dapat juga bentuk kebijakan atau ketentuan yang ditetapkan dituangkan dalam berbagai elemen persyaratan akreditasi seperti Akreditasi JCI, dimana penatalaksanaan gizi pasien menjadi salah satu item yang harus ada dalam form terintegrasi pasien.

Kesimpulan yang dapat diambil dari empat minggu paparan terkait pelayanan gizi ini adalah bahwa perbaikan mutu perlu terus dilakukan baik di tingkat pasien, pada proses mikro, di tingkat organisasi, maupun di lingkungan organisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. (lei)

{module [152]}