Cara Memasukkan Hasil Penelitian Anda ke Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Website Mutu Pelayanan Kesehatan mengajak Bapak/Ibu untuk mengirimkan hasil penelitiannya ke Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan (JMPK) untuk di publikasikan. JMPK diterbitkan oleh Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta setiap empat kali setahun (triwulan).

Misi JMPK adalah menerbitkan, menyebarluaskan dan mendiskusikan berbagai tulisan ilmiah mengenai manajemen pelayanan kesehatan yang membantu manajer pelayanan kesehatan, peneliti, dan praktisi agar lebih efektif.

Jurnal ini ditujukan sebagai media komunikasi bagi kalangan yang mempunyai perhatian terhadap ilmu manajemen pelayanan kesehatan antara lain para manajer, pengambil kebijakan manajerial di organisasi-organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, dinas kesehatan, Kementerian Kesehatan, pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, BKKBN, pengelola industri obat, dan asuransi kesehatan, serta institusi pendidikan penelitian.

Isi jurnal berupa artikel hasil penelitian yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan, dan masalah-masalah yang relevan dengan manajemen pelayanan kesehatan.

JMPK dalam menerima artikel akan menyaring untuk keaslian, relevansi penelitian dan praktisi manajemen pelayanan kesehatan. Setelah penyaringan awal artikel akan dikirimkan kepada mitra bestari untuk meninjau ulang isi artikel. Editor akan memutuskan penerimaan artikel dengan mempertimbangkan rekomendasinya dari mitra bestari yang telah ditunjuk. Editor berhak untuk mengubah artikel apabila dipandang perlu, misal dengan memperpendek isi artikel atau menghilangkan bagan dan tabel.

Anda bisa mengirimkan artikel dalam bentuk :

  1. Artikel Penelitian
    1. Artikel dapat memuat hasil penelitian atau systematic review mengenai manajemen pelayanan kesehatan.
    2. Artikel tidak lebih dari 5000 kata (tidak termasuk abstrak, tabel, gambar dan referensi).
    3. Artikel disertai abstrak bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan bentuk terstruktur (introduction, methods, results, conclusion atau latar belakang, metode, hasil, kesimpulan), dan disertai kata kunci (keywords). Keywords disarankan merujuk ke Medical Subject Heading (MeSH).
    4. Abstrak hendaknya tidak melebihi 300 kata.
    5. Artikel menggunakan tidak lebih dari 50 referensi, diutamakan artikel hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal.

  2. Resensi
    1. Review buku yang diterbitkan dua tahun terakhir yang relevan dengan ruang lingkup manajemen pelayanan kesehatan
    2. Menggunakan 400-850 kata, tanpa referensi.

  3. Korespondensi
    1. Berisi tanggapan atas artikel penelitian yang diterbitkan di Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pada edisi sebelumnya atau pendapat atas permasalahan kontemporer dalam manajemen pelayanan kesehatan
    2. Menggunakan 400-850 kata
    3. Menggunakan maksimal enam referensi.

Adapun persyaratannya adalah

  1. Menyertakan surat pernyataan bahwa artikel yang dikirim belum pernah dan tidak sedang dalam proses untuk publikasi di jurnal lain.
  2. Menyertakan surat pernyataan bahwa artikel yang dikirim tidak mengandung unsur plagiarisme
  3. Menyertakan pernyataan konflik kepentingan dan ethical clearance (ada template).
  4. Artikel ditulis menggunakan perangkat lunak MS-WORD, diserahkan dalam bentuk elektronik (melalui email atau CD) dan print out (rangkap dua). Artikel diketik dengan spasi 1,5 cm pada ukuran kertas A4, serta tidak bolak-balik (satu kolom).
  5. Judul artikel tidak melebihi 14 kata, ditulis dalam dua bahasa disertai ringkasan judul untuk kepala halaman (header).
  6. Nama pengarang tidak disertai gelar dan mencantumkan nomor telefon/HP, alamat instansi yang jelas, serta e-mail untuk korespondensi.
  7. Nama yang dicantumkan sebagai pengarang harus memenuhi kriteria penulis (dapat dilihat di www.icmje.org , www.jmpk-online.net ).
  8. Tabel dan ilustrasi harus diberi judul dan keterangan yang tidak membutuhkan penjelasan. Judul tabel diletakkan di atas tabel. Judul gambar diletakkan di bawah gambar. Jumlah tabel dan gambar tidak melebihi lima buah.
  9. Penulisan rujukan memakai sistem nomor atau vancouver style (dapat dilihat di www.jmpk-online.net )
  10. Pernyataan terima kasih diletakkan di atas kepustakaan dengan mencantumkan sumber pendanaan dan nama yang berkontribusi dalam penelitian.

Jika ada pertanyaan, bisa menghubungi Hilaria Lestari Budiningsih di email: hiillary@yahoo.com 

 

Salam,

 

Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD
Pimpinan redaksi

 

Sekretariat Redaksi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

d.a Gedung Program Pascasarjana (S3)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/Fax: 0274-547490, 549425
email: hiillary@yahoo.com 
Web-site: www.jmpk-online.net 

 

 

Pelatihan

Divisi Mutu PKMK (Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan) FK UGM menyediakan pelatihan mutu pelayanan kesehatan untuk para pelaku kesehatan yang meliputi

Penyusunan Clinical Pathways dan Perhitungan Cos of Treatment  

Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Implementasi Standar PelayananMinimal Bidang Kesehatan

 
Pelatihan Tim Perijinan Untuk Petugas Dinas Kesehatan  
Pelatihan Surveyor Regulasi Pelayanan Kesehatna: Standar ISO 9000 dan Standar Akreditasi Medik Dasar
Pelatihan Audit Medis/Klinis
Pelatihan Penerapan Cinical Governance Melalui Sistem Manajemen Mutu ISO 9000

Pelatihan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Sebagai Alat Peningkatan Mutu Saranan Pelayanan Kesehatan

8
Pelatihan Root Cause Analysis Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia 7

Presiden Gelar Rapat Terbatas Bahas Intensif Dokter

Jakarta, (Kompas.com) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menggelar rapat kabinet terbatas pada Rabu (8/1/2014) sekitar pukul 10.00 WIB. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, rapat kali ini membahas implementasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), terutama yang berkaitan dengan intensif dokter.

Continue reading

“Seharusnya JKN Bisa Dorong Penyebaran Dokter”

Okezone.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Andy Jap pada tanggal 27 Desember 2013 mengakui saat ini Kalbar kekurangan 1.800 dokter umum dan 100 dokter spesialis. Sekiranya ia mengatakan bahwa Kalbar memiliki 200 dokter spesialis, dan 180 orang spesialis dasar, serta 600-700 dokter umum.

Continue reading

6 Februari 2014 : Deadline Call for Paper Konferensi Internasional ISQua Ke 31 Di Brazil

Tahun ini, ISQua kembali akan menyelenggarakan Konferensi ISQua ke 31 di Brazil pada tanggal 5-8 Oktober 2014. Dr. Tjahjono kunjoro, MPH, DrPH sebagai konsultan dari PKMK FK UGM telah mengikuti acara Konferensi ISQua ke 30 (Reportase acara) di Edinburgh tahun lalu. Dan sekarang, kami mengajak Bapak/Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam acara konferensi ISQua tahun ini melalui pengumpulan call for paper. Semoga tahun ini adalah kesempatan bagi Bapak/Ibu untuk menjadi salah satu peserta dari Indonesia yang bisa mengikuti acara Konferensi Dunia bergengsi ini.

Tema ISQUA International Conference ke 31 adalah Quality and Safety along the Health and Social Care Continuum. Deadline call for paper adalah tanggal 6 Februari 2014.

Track yang bisa dipilih antara lain:

  1. Governance, Leadership and Health Policy
  2. Improvement Science and Patient Safety Solutions
  3. Patient Centred Care
  4. Accreditation and External Evaluations Systems
  5. Education and Research
  6. Learning with Transitional and Developing Countries
  7. Comparative Effectiveness in Health Information Technology and Health Technology Assessment
  8. Health and Social Care for Vulnerable and Older Persons
  9. Integrated Care

Informasi selengkapnya bisa klik disini

{module [152]}

Mutu Pelayanan Bayi Baru Lahir Antara Ghana & NTT di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Upaya menurunkan AKI masih harus melalui jalan yang terjal. Terlebih bila dikaitkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 karena waktu yang tersisa hanya tinggal satu tahun ini. Sehingga diperlukan upaya-upaya yang luar biasa dan perbaikan kualitas layanan agar dapat menekan tingginya AKI. Kualitas pelayanan bayi baru lahir tidak terlepas dari dukungan dan ketersediaan peralatan esensial neonatal care, kelengkapan obat-obatan, ketersediaan staf, pelatihan dan keterampilan staf. Sama seperti yang terjadi di negara yang berpenghasilan rendah seperti Ghana. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia terutama di wilayah sulit seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di prediksikan bahwa hanya sekitar 33,2%1 bayi yang lahir dengan akses fasilitas yang baik. Demikian pula dengan pelatihan penggunaan fasiltas pelayanan dasar yang diprediksikan hanya berdampak kecil terhadap penyediaan kualitas layanan. Artikel yang disajikan oleh Linda Vesel dkk lebih cenderung melihat bagaimana kualitas pelayanan bayi baru lahir dilihat dari pemberi layanan yang dibagi menjadi tujuh tipe yakni: Regional Hospital, RSUD, RS lainnya, RS Swasta, Puskesmas, Klinik dan rumah bersalin.

Dalam penelitiannya, tim peneliti ingin melihat apakah aspek-aspek dibawah ini tersedia pada tujuh level pelayanan yang ada di Ghana, seperti:

  1. Aspek infrastrukutur
    Pelayanan ini lebih fokus untuk melihat (1) ketersediaan air bersih, (2) Ketersediaan listrik, (3) Tempat untuk menyimpan alat kesehatan (kulkas), (4) Bak cuci dan sabun pencuci tangan. Semua indikator di atas sudah tersedia pada level Region hospital, RSUD dan RS Swasta.
    Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia khususnya di wilayah NTT. Di level RSUD masih sering ditemukan permasalahan terkait dengan ketersediaan air bersih maupun kecukupan listrik yang masih menjadi kendala. listrik yang digunakan oleh RSUD bukanlah dari gardu tersendiri sehingga ketika lampu mati pada wilayah tersebut akan langsung berpengaruh ke rumah sakit, sedangkan respon time untuk menyalakan getset terbilang masih cukup lama. hal ini akan langsung berpengaruh terhadap keawetan alat-alat kesehatan yang dimiliki. Demikian pula halnya dengan kulkas yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan alat kesehatan juga masih sering disalahgunakan oleh beberapa RSUD sebagai tempat untuk menyimpan makanan dll. Wastafel sudah mulai di modifikasi oleh pihak RSUD untuk menggunakan wastafel dari ember namun masih terkendala pada kesadaran petugas kesehatan untuk mencuci tangan untuk mencegah infeksi, hal ini terbukti dari tingginya angka sepsis di beberapa RSUD di NTT 2.

  2. Aspek kemampuan pelayanan dasar untuk bayi baru lahir untuk semua level pelayanan dibagi menjadi 3 bagian yakni:
    1. Ketersediaan pelayanan resusitasi yakni tersedianya tas dan masker, oksigen silinder dan aspirator.
    2. Pelayanan bayi BBLR dan masalah pemberian makanan yakni tersedianya inkubator, timbangan bayi dan gelas untuk mengukur air susu.
    3. Umum yakni ketersediaan cairan intravena dan setelan infus. 

      Hasil yang didapatkan dalam penelitian1 menyatakan bahwa kecuali RSUD dan RS swasta selain itu tidak memiliki tas dan penutup wajah untuk resusitasi. Berbeda halnya dengan rumah bersalin yang memiliki peralatan resusitasi yang lebih spesifik dibandingkan dengan klinik meskipun terlepas dari itu mereka sama-sama memiliki timbangan bayi BBLR. Meskipun demikian 1 dari 4 RSUD di sana tidak memiliki inkubator yang dapat berfungsi dan 2 RSUD tidak memiliki cups untuk mengukur air susu. Dan untuk ketersediaan cairan intravena dan setelan infus tersedia pada semua jenis fasilitas pelayanan yang ada.

      Hampir sama dengan ketersediaan alat esensial seperti Inkubator, di wilayah NTT terutama di kabupaten masih kekurangan bahkan lebih ekstrim karena ada RSUD yang menaruh 2 bayi kedalam 1 inkubator, hal ini pernah terjadi karena minimnya peralatan kesehatan. Dalam penelitian lain2 juga dikemukakan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menunjang pelayanan dasar ponek di RSUD yakni penyediaan alat emergency yang memadai, penyediaan CPAP/ ventilator, penyediaan inkubator, penyediaan oksigen sentral, penyediaan injeksi phenobarbital.

  3. Aspek ketersediaan obat dasar untuk bayi baru lahir yang sakit dibagi menjadi 3 bagian yakni:
    1. Manajemen sepsis yakni dengan penyediaan intramuscular ampicillin dan intramuscular gentacimicin
    2. Manajemen convulsion yakni dengan penyediaan intravenous diazepam
    3. Pencegahan permasalahan pernafasan yakni dengan penyediaan intramuscular dexametazon.

      Pada pelayanan regional hospital dan RSUD sudah menyiapkan semua jenis obat yang dibutuhkan untuk pelayanan anak namun hanya 1 RSUD saja yang tidak memiliki dexametazon. Untuk ketersediaan diazepam juga sudah di stok bahkan oleh rumah bersalin maupun klinik. Bahkan untuk pelayanan dengan fasilitas yang rendah sudah memiliki kecukupan ampicillin sebagai antibiotika namun berbeda halnya dengan di Indonesia dimana kecukupan obat masih menjadi kendala baik dari ketersediaan obat maupun cara pemeliharaan obat. Pentingnya melakukan pengawalan dalam pengadaan obat di RSUD perlu diperhatikan agar obat-obat yang sudah dipesan benar-benar digunakan dan bermanfaat bagi pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Referensi:

  1. Linda vessel, Alexander Manu, Terhi J Lahela etc, Quality Of Newborn Care: A health facility assessment in rural Ghana using survey, vignette and surveillance data.
  2. Laksono Trisnantoro, Hanevi Djasri, Puti A Rahma, Muhammad Hardhantyo, Evaluasi Mendalam Hasil Audit Maternal Perinatal di 3 RSUD Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penulis : Andriani Yulianti SE.,MPH

{module [150]}

Hitungan Tarif dalam BPJS Itu Sudah Dihitung oleh Ahlinya, Lho!

Jakarta (Liputan6.com) : Banyaknya anggapan miring mengenai rendahnya tarif kapitasi (besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan) dan InaCBG’s (besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit) masih menuai kontroversi.

Continue reading