Laporan Forum Mutu 2010

Jakarta 24 Juni 2010

replaformut10-2Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) kembali dengan sukses menyelenggarakan Forum Mutu Pelayanan Kesehatan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta 23-24 Juni 2010. Bekerjasama dengan PMPK FK-UGM dan RSUP Persahabatan.

Forum Mutu ke-6 ini cukup berbeda dengan Forum Mutu sebelumnya, pada Forum Mutu ini telah dibahas mengenai konsekuensi dari telah diterbitkannya “Road Map” Reformasi Kesehatan Masyarakat Indonesia oleh Kementerian Kesehatan RI terhadap upaya peningkatan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan, “Road Map” ini kemudian “disandingkan” dengan “Road Map” dari PT. Garuda Indonesia sebagai bahan bagi para peserta untuk membandingkan kedua hal tersebut meski memang memiliki level yang berbeda, namun demikian sebuah “roadmap” tetaplah sebuah perencanaan yang harus secara spesifik menjelaskan apa yang akan dicapai, bagaimana cara mencapainya dan apa saja yang harus disiapkan.

Forum Mutu 2010 juga telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pembahasan pada Outcome Pasien (Clinical Outcome, Quality Outcome maupun Quality of Life), para peserta telah terpapar akan pentingnya mengelola clinical outcome (salah satunya dengan adanya Outcome Manajer) baik dari sudut pandang keilmuan dan juga pengalaman para praktisi dilapangan. Berbagai saran untuk menindaklanjuti sesi ini telah diajukan, antaralain dengan menggagas program “The National Clinical Quality Database and the National Indicator Project” yang akan dikerjakan bersama antara Regulator, Praktisi dan Akademinsi, serta akan memberikan kesempatan besar bagi para peserta untuk terlibat aktif dalam kegiatan tindak lanjut post Forum melalui kegiatan “Breaktrough Initiative”

replaformut10Forum Mutu juga telah membahas persiapan pelaksanaan “Breaktrough Initiative” yang merupakan program adopsi dari The Institute for Health Improvement (www.ihi.org), dua topik dipersiapkan sekaligus,yaitu breaktrough initiative untuk meningkatkan rasionalitas pengobatan penyakit paru di Puskesmas dan breaktrough initiative untuk meningkatkan keselamatan bedah di rumah-sakit. Klik proposal-breakthrough untuk melhat kerangka acuan detail dalam bentuk proposal yang telah diajukan kepada secara terbuka kepada seluruh direktur di Indonesia dan telah disetujui oleh 6 RS.

Forum Mutu juga telah mengadakan berbagai pelatihan dan kajibanding, antara lain: Pelatihan penggunaan Integrated Clinical Pathways Assessment Tools (ICPAT) untuk mengevaluasi penyusunan dan penggunaan clinical pathways di Rumah-sakit (klik pelatihan-icpat untuk detail kerangka acuan); Pelatihan mengelola klinik berhenti merokok oleh tim klinik berhenti merokok RSUP Persahabatan (klik pelatihan-klinik-berhenti-merokok untuk detail kerangka acuan); Kaji banding (benchmark) penerapan konsep green building dan green office di rumah sakit (klik benchmark-green-hospital untuk detail kerangka acuan)

 

 

WHO Patient Safety Tools & Resources CD-ROM

replaCDROMTelah terbit CD-ROM dari WHO yang berisi pedoman dan tools yang dapat digunakan oleh Dinas Kesehatan, Rumah-sakit dan Puskesmas dalam menetapkan kebijakan dan penerapan keselamatan pasien di sarana pelayanan kesehatan.

CD-ROM dapat diperoleh dengan menghubungi sekretariat IHQN gratis untuk anggota IHQN hanya dengan mengganti biaya pengiriman

 

 

Daftar isi CD-ROM:

  1. First Global Patient Safety Challenge – Clean Care is Safer Care
    • WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care
    • Guide to Implementation
    • Template Action Plan
    • Folder containing further tools (English)
    • Folders containing further tools (French)

  2. Second Global Patient Safety Challenge – Safe Surgery Saves Lives
    • WHO Guidelines For Safe Surgery 2009 (English only)
    • Implementation Manual for the 2009 WHO Surgical Safety Checklist (all UN languages)
    • Surgical Safety Checklist (all UN languages)

  3. Pulse Oximetry
    • WHO Global Pulse Oximetry Manual (English)

  4. Research for Patient Safety
    • WHO Patient Safety Research booklet (EN, FR & ES)
    • Global Priorities for Patient Safety Research
    • Summary of the Evidence

  5. Patient Safety Solutions
  6. Action on Patient Safety: High 5s
    • Fact Sheet on High 5s (EN and FR)
    • Fact Sheet: Medication Reconciliation
    • Fact Sheet: Concentrated Injectable Medicines
    • Fact Sheet: Correct Procedure at Correct Body Site

  7. Patients for Patient Safety
    • Poster
    • Postcard (EN & ES)

  8. Radiotherapy Risk Profile
  9. Learning from Error workshop materials
    • Booklet
    • Accompanying video

  10. Patient Safety Curriculum
    • Patient Safety Curriculum Guide for Medical Schools 2009
    • Curriculum Guide Summary 2009

  11. International Classification for Patient Safety
    • Conceptual Framework for the ICPS

  12. African Partnerships for Patient Safety
    • Booklet (EN & FR)
    • Poster (EN & FR)
    • Postcard (EN & FR)

 

 

Laporan Konfrensi ISQua

replaisqua

Pada bulan Oktober 2010, dr. Tjahjono Kuntjoro (PMPK FK-UGM), dr. Lia Partakusuma (RS Fatmawati) dan dr. Hanevi Djasri (PMPK) mewakili Indonesia sebagai pembicara dalam konfrensi internasional yang diselenggarakan oleh International Society for Quality in Healthcare (ISQua) di Paris, Perancis. Copy dari buku kumpulan abstrak dan berbagai poster tentang perkembangan mutu dan keselamatan pasien yang dibahas dalam konfrensi tersebut dapat diperoleh dengan menghubungi seketariat IHQN.

 

 

 

 

 

 

 

The IHI Improvement Map

replaIHI

Institute for Healthcare Improvement (www.ihi.org) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan alat bantu peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara on-line yang disebut sebagai “The IHI Improvement Map”. Tools ini menyediakan pedoman yang jelas untuk para pengelola sarana pelayanan kesehatan terutama manajer rumah-sakit untuk menetapkan agenda, memilih prioritas, mengorganisasi kegiatan dan mengelola sumber daya secara efisien dalam upaya peningkatan mutu.

IHI telah mengeluarkan versi percobaan pada bulan Juni 2009, namun demikian versi sebenarnya baru akan dikeluarkan pada bulan September 2009. Pada versi ini para fasilitator upaya peningkatan mutu akan mendapatkan akses interaktif, web-based, yang akan menyediakan informasi terbaik secara manajerial dan klinis untuk membantu rumah-sakit menyediakan pelayanan yang terbaik.

Halaman awal web ini akan ditampilkan pilihan tujuan peningkatan mutu sesuai prioritas yang ditetapkan oleh Institute of Medicine, yang dapat dipilih para pengguna, yaitu: Efektifitas; Efisiensi; Keadilan; Fokus kepada pasien; Keselamatan; dan Ketepatan waktu. Berdasarkan tujuan yang dipilih kemudian akan disajikan berbagai upaya peningkatan mutu yang pernah dilakukan berikut dengan hasil, waktu, biaya dan kesulitan serta level evidence-nya. Lebih lanjut setiap upaya tersebut juga dapat dibaca secara detail untuk mempelajari indikator keberhasilan yang digunakan, hubungannya dengan inisiatif nasional, instrumen dan referensi lain yang digunakan.

Informasi lebih lanjut pada:

http://www.ihi.org/IHI/Programs/ImprovementMap/ImprovementMapPreview.htm

Meski tools ini didesain terutama untuk digunakan oleh rumah-sakit di Amerika, tidak ada salahnya kita pelajari dengan baik untuk kemudian kita kembangkan tools serupa bagi rumah-sakit di Indonesia demi kemajuan bangsa. Dirgahayu Indonesia !

 

 

Indonesia Peringkat III Penderita Hepatitis B di Dunia

Medan (Analisadaily.com). Indonesia peringkat ketiga penderita Hepatitis B di dunia. Penyebabnya masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan individu dan kurangnya sosialisasi tentang hepatitis B.
Demikian diungkapkan ahli penyakit dalam dr Ilhamd Sp.PD dihadapan Keluarga Besar Institut Teknologi Medan (ITM), belumlama di ruang rapat Kampus ITM.

Continue reading

Laporan dari Konfrensi Hospital Management Asia, Singapore, 2011

Pada tanggal 7‐8 September 2011, Hospital Management Asia mengadakan konfrensi internasional ke 10 di Resorts Word Sentosa Convention Center, Singapore. Konfrensi yang diikuti 768 peserta dari 25 negara menyajikan berbagai pemikiran dan pengalaman para manajer RS dari seluruh dunia, termasuk juga dari beberapa industri terkait.

ftrelasing1

Paul vanOstenberg, dari Joint Commision International menegaskan bahwa upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah‐sakit harus masuk kedalam Rencana Stratejik Bisnis (RSB) rumah sakit tidak hanya merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan persyaratan pemerintah ataupun akreditasi. Menyusun RSB merupakan hal yang relatif mudah, namun tantangan terbesar justru untuk dapat menjalankan RSB tersebut. Claire Ching dari Banyan Tree Holding Limited (pemilik jejaring hotel di Asia) mengidentifikasi persamaan mendasar antara RS dan hotel, yaitu keduanya perlu memastikan bahwa patient (client) experience harus menjadi dasar dari kebijakan manajemen RS/Hotel. Low Guat Tin dari National Institute of Education menekankan pentingnya melayani pasien dengan sepenuh hati untuk menciptakan pengalam pasien yang “membekas di hati” (tentunya pengalaman positif.

Melibatkan staf RS dalam upaya mutu dan keselamatan pasien menjadi faktor kunci untuk menjalankan RSB, terutama staf klinis (terutama lagi adalah para dokter spesialis). Anupam Sibal dari Apollo Hospital Group (Group RS di India dengan lebih dari 50 RS) memiliki langkah‐langkah untuk dapat melibatkan para klinisi dalam kegiatan mutu dan keselamatan, yaitu dengan melakukan quality need assessment, menyusunan quality initiatife, menjalankan training dan sosialisasi, diikuti dengan mengukur outcome. Namun yang paling terpenting adalah memastikan adanya pengakuan (tidak hanya berupa insentif finasial) untuk setiap outcome yang baik, yang diberikan baik untuk klinisi hingga kepada komite medik dan jajaran direksi.

ftrelasing2Lean hospital merupakan salah satu upaya mutu yang dipaparkan oleh Rene Domingo dari Asian Institute of Management, pendekatan yang dikembangkan oleh Toyata Motor ini telah berhasil diterapkan dibeberapa RS dengan berbagai contoh penerapan yang khas bagi RS, antara lain bagaimana mengidentifikasi “waste” atau pemborosan yang bisa terjadi di RS (tidak hanya berupa pemborosan kertas, listrik atau telefon tapi jauh lebih kompleks dari hal tesebut), mengidentifikasi botol neck dari sebuah proses, membagi beban kerja secara merata pada setiap waktu, termasuk konsep “Pokayoke” yaitu mencegah terjadinya kesalahan bukan hanya mengurangi kesalahan.

Berbagai materi tersebut dapat peroleh dalam bentuk CD di sekertariat IHQN

 

 

 

 

 

Laporan Persiapan Riset Fasilitas Kesehatan (RIFAS)

ftrela2-1

Pada tanggal 18-21 Agustus 2010, IHQN mewakili Prof. Laksono Trisnantoro mengikuti kegiatan temu pakar membahas mengenai persiapan Riset Fasilitas: Rumah Sakit, Puskesmas dan Laboratorium yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Riset Fasilitas merupakan salah satu survey berkala yang diselenggarakan oleh Balitbangkes yang memang salah satu ruang lingkup kegiatannya adalah melakukan survey berkala untuk memantau indikator derajat kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan disamping melakukan Riset pengembangan/terapan (seperti pengembangan produk terobosan: diagnostik, vaksin, obat, formula makanan, prototipe teknologi kesehatan, model intervensi dan public health law serta studi kohort khususnya untuk penyakit tidak menular yang kronis). Riset-resit yang diselenggarakan sebenarnya terdiri dari 3 macam riset dasar, yaitu: Riskesdas berbasis komunitas (Rikom): status kesehatan dan faktor yang mempengaruhi, termasuk biomedis. Ini dilakukan setiap 3 tahun; Riskesdas berbasis fasilitas (Rifas): sarana dan kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit, puskesmas dan laboratorium juga setiap 3 tahun; Riskesdas khusus (Rikus): dampak kesehatan dari pencemaran oleh pabrik dan lingkungan sosial budaya yg mempengaruhi kesehatan masyarakat, juga setiap 3 tahun.

Riset Fasilitas sendiri (sebenarnya istilah baku yang digunakan di Kementerian Kesehatan adalah Sarana Pelayanan Kesehatan atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan? Red) “hanya” meliputi Rumah Sakit (Umum dan Khusus) dan Puskesmas. Dengan substansi yang di-riset adalah: Kelengkapan SDM kesehatan, Regulasi dan kebijakan, Sumber dana, unit cost, Sarana fasyankes, alat dan obat serta Kualitas yankes (ranap & rajal). Riset ini bertujuan untuk memotret Rumah Sakit (1.523) beserta IKRS (Indkes Kinerja Rumah Sakit), Puskesmas (8.737) beserta IKPus (Indeks Kinerja Puskesmas) dan Laboratorium (717) beserta IKL (Indeks Kinerja Laboratorium)nya.

Tujuan dari Rifas secara umum: Diketahuinya potret kinerja RS, puskesmas dan laboratorium di seluruh Indonesia. Tujuan khusus: Diketahuinya data dasar RS, puskesmas dan laboratorium (sarana fisik, peralatan medis/non-medis, dana dan ketenagaan) seluruh Indonesia; Dirumuskannya “indeks kinerja” IKRS, IKPus dan IKL; Diketahuinya peringkat RS, puskesmas dan lab. di seluruh Indonesia berdasarkan indeks ybs. Manfaat yang diharapkan adalah Dengan diketahuinya peringkat RS, puskesmas dan lab di Indonesia, dapat diinformasikan kepada masyarakat kondisi obyektif setiap RS, puskesmas & lab dari yg bagus sampai yg jelek. Kemudian data IKRS, IKPus dan IKL dapat digunakan untuk advokasi ke Pemda/pihak terkait untuk meningkatkan kinerja RS, puskesmas & lab, serta penajaman prioritas program intervensinya serta bisa digunakan sebagai salah satu parameter untuk mentukan besarnya alokasi bantuan Pusat ke RS dan puskesmas.

Kinerja sarana pelayanan kesehatan tersebut diukur berdasarkan beberapa kelompok kinerja, yaitu: Kelompok masukan (input); Kelompok proses; Kelompok keluaran (output); Kelompok hasil (outcome); Kelompok manfaat (benefit); dan Kelompok dampak (impact). Draf indikator kinerja dapat dilihat pada file-file terlampir.

Kegiatan yang dilakukan pada Tahun 2010 adalah tahap persiapan: Serangkaian temu pakar untuk menyusun instrumen, uji coba instrumen dan perbaikan instrumen. Kemudian pada tahun 2011 dilanjutkan dengan pelaksanaan yang terdiri dari: Pelatihan MOT (master of training), pelatihan TOT, pelatihan Enumerator, pengumpulan data, analisis data dan pelaporan deskriptif. Tahun 2012 akan dilanjutkan dengan analisa lanjut temasuk hubungan antar variabel.

Diharapkan para pemerhati pelayanan kesehatan di Indonesia dapat memberikan masukan untuk mengusulkan indikator yang layak untuk masuk dalam Indeks (IKRS, IKPus dan IKL) dan perumusan indeks (seperti IPKM atau pakai pendekatan lain), sedangkan pada saat penelitian berjalan mengusulkan siapa saja yang layak dilibatkan serta untuk jangka panjang usulan tentang membuat jejaring penelitian RIFAS.

Dokumen terkait:

  1. kerangka-konsep-prof-amal
  2. rancangan-rifaskes-2011-prof-purnawan
  3. drarf-instrumen-rifas-rumah-sakit-agustus-2010
  4. drarf-instrumen-rifas-puskesmas-agustus-2010
  5. draft-instruemen-rifas-laboratorium-agustus-2010
  6. www.litbang.depkes.go.id

 

 

Pelatihan dan Wokshop Audit Medis di Rumah Sakit: Implementasi Permenkes no 755 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di RS

ftrela1

IHQN bekerjasama dengan RS Akademik Universitas Hasanuddin dan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu mengadakan Pelatihan dan Wokshop Audit Medis di Rumah Sakit sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf RS dalam menerapkan Permenkes no 755 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di RS khususnya untuk sub-komite mutu profesi. Kegiatan telah diselengarkan pada tanggal 10-11 November 2011 di Hotel Sahid Jaya, Makasar yang diikuti oleh 17 RS, tidak hanya dari Makasar dan sekitarnya, namun juga dari Kalimantan dan Maluku.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/MenKes/Per/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit ditegaskan bahwa peran Komite Medik diarahkan untuk mengatur tata kelola klinis (clinical governance) yang baik agar mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien di rumah sakit lebih terjamin dan terlindungi serta mengatur penyelenggaraan komite medik di setiap rumah sakit dalam rangka peningkatan profesionalisme staf medis.

Salah satu tugas dan fungsi Komite Medik terutama Subkomite Mutu Profesi yang utama adalah melakukan Audit Medis sebagai upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis.

ftrela2

Pelatihan hari pertama diawali dengan penyampaian materi oleh dr. Agung P Sutiyoso SpOT, MM, MARS membahas hubungan antara Clinical governance, organisasi belajar, dan proses perbaikan kinerja klinis dimana audit medik merupakan salah satu perwujudan pilar dalam clinical governance dan merupakan proses pembelajaran dari organisasi. Selain itu dr. Agung juga membahas Permenkes 755 mengenai Komite Medik, dimana saat ini terjadi perubahan fungsi, tugas maupun tanggung jawab dari komite medik yang salah satu tugasnya adalah menyelenggarakan audit medik. Dalam diskusi mengenai Permenkes baru tersebut, para peserta banyak meminta penjelasan mengenai proses kredensial dan clinical priviledge.

Selanjutnya, pelatihan dan workshop dilakukan dengan mengkombinasikan teori yang diberikan dengan praktek, difasilitasi oleh Tim Fasilitator yang dikoordinir oleh dr. Hanevi Djasri, MARS. Praktek yang dilakukan merupakan simulasi pelaksanaan audit medis yang sebenarnya. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sesuai 3 jenis penyakit yang telah dipilih berdasarkan rekam medik yang disediakan oleh RS Unhas.

Akhir dari pelatihan dan workshop ini adalah menyusun plan of action sebagai rencana perbaikan dan dasar untuk melakukan re-audit. Kemudian diharapkan peserta dapat melakukan audit medik di RS masing-masing (maksimal 2 minggu setelah pelatihan) dengan melengkapi jumlah rekam medik minimal 30 buah dengan menggunakan kasus yang sama dan menyusun laporan audit medis. Dalam penyusunan ini peserta dapat berkomunikasi dan berkonsultasi via email dengan Tim Fasilitator. Laporan audit medis yang telah disusun tersebut dapat menjadi bukti bahwa RS telah menjalankan kewajiban yang diamanatkan dalam UU 44 tahun 2009 dan Permenkes 755 tahun 2011 serta bukti telah memenuhi standar Akreditasi RS baik dari KARS maupun dari JCI.

ftrela3

 

 

 

Manokwari kekurangan tenaga medis

MANOKWARI (cenderawasihpos.com) -Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari,drg H Sembiring mengakui kekurangan tenaga medis di Puskesmas. Bahkan, ada Puskemas yang hanya terdapat 4 tenaga medis. Sebagian besar kepala Puskesmas yang bergelar dokter ‘’dibajak’’ atau pindah ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat.
  
Continue reading