JOGJA (Solopos.com)— Klinik kesehatan Pasar beringharjo yang baru diresmikan Walikota Jogja pada 23 Januari lalu, sudah mengalami kendala kekurangan tenaga medis untuk melayani pasien. Meskipun klinik sudah mendapatkan bantuan tenaga medis dari tiga puskesmas dari Gondomanan, Ngampilan, dan Kraton, tetap saja klinik kewalahan melayani pasien.
RSUD AWS dan Tarakan Ingin tipe A
(Sapos.co.id) – Komisi IV DPRD Kaltim mengundang manajemen empat rumah sakit umum daerah (RSUD) Kaltim yakni RSUD Tarakan, RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), RSUD Atma Husada Mahakam (AHM) Samarinda dan RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, dalam rapat kerja (raker) dengan agenda membahas penanggulangan bencana daerah, Jumat (25/1) tadi.
Continue reading
Kemnakertrans Siapkan Lima Draf PP Pelaksana SJSN & BPJS
Jakarta (beritasatu.com) – Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) tengah menyiapkan lima draf Peraturan Pemerintah (PP), tiga draf Peraturan Presiden (Perpres) dan satu draf Keputusan Presiden (Kepres).
BPJS Uji coba BPJS di tiga provinsi
Jakarta (Kontan.co.id) – Pemerintah akan melakukan uji coba penerapan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada pertengahan tahun ini. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Gorontalo menjadi lokasi uji coba pelaksanaan sistem asuransi kesehatan masyarakat itu.
Reportase lain
[widgetkit id=10]
RS Khusus Tak Berizin Dibiarkan
Surabaya (Surabayapost.co.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya diprotes. Pasalnya, banyak rumah sakit (RS) khusus seperti rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak serta lainnya tidak sesuai ketentuan, tapi dibiarkan berdiri.
Sardjito Kejar Standar JCI
SLEMAN (Radarjogja.co.id) – Kementerian Kesehatan RI mendorong rumah sakit (RS) di Indonesia memiliki standar akreditasi internasional. Hingga kini baru empat RS yang memiliki sertifikasi Joint Commision International (JCI). Namun belum ada RS pelat merah memiliki standar tersebut.
GP Farmasi Bisa Beri Kontribusi Besar Wujudkan MDGs
Dinkes Tata Ulang SOP Puskesmas
Tanjung Redeb (Sapos.co.id)- Setiap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat mulai tingkat puskesmas hingga rumah sakit, telah diatur didalam prosedur tetap (Protap) yang mengikat setiap tenaga medis yang memberikan pelayanan. Bahkan setiap proses pelayanan telah diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) yang juga telah ditetapkan. Namun sejauh ini pelaksanaan dari SOP yang belum tertata secara baik. Hal itu diakui Kepala Dinas Keseharan (Dinkes) Berau, drg Totoh Hermanto, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/1) kemarin.
Pengalaman di China Menetapkan Indikator Mutu Pelayanan Klinis
Oleh : Nasiatul Aisyah Salim, SKM.,MPH
Menetapkan indikator mutu pelayanan klinis, mengukur dan mengevaluasinya secara periodik lalu melakukan intervensi berdasarkan hasil evalusi terbukti efektif meningkatkan mutu. Di Amerika Utara berkurangnya angka kematian di rumah sakit akibat penyakit cardiovascular terutama myocardial infarction akut (AMI) terjadi setelah banyak rumah sakit melaporkan indikator mutu secara rutin untuk membandingkan dan menilai rumah sakit.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menetapkan indikator mutu pelayanan klinis, salah satunya dilakukan oleh Hongpeng Sun dan kawan-kawan yang menetapkan 3 jenis indikator mutu yang potensial yaitu indikator struktur, indikator proses dan indikator hasil untuk AMI.
Indikator struktural didefinisikan sebagai aspek lingkungan atau teknis perawatan pasien. Indikator proses atau pengukuran kinerja klinis, meliputi bagaimana dokter menangani pasien. Indikator hasil didefinisikan sebagai perubahan status kesehatan pasien. American Heart Association (AHA) merekomendasikan bahwa aspek struktural perawatan AMI meliputi sarana dan prasarana yang diberikan sejak masa pre-hospitalisasi, IGD, rawat inap dan rawat jalan. Indikator proses didasarkan pada perawatan pharmakologis dan non-pharmakologis sesuai pedoman pelayanan klinis.
Untuk menentukan indikator mutu AMI, Hongpeng Sun dkk menggunakan 3 tahap melalui diskusi panel yaitu :
- Menetapkan definisi: Empat panelis dan dua ahli biostatistik dari Harbin diundang dalam pertemuan pertama tatap muka untuk mendiskusikan definisi dari masing-masing indikator, signifikansi klinis dan bagaimana menggunakan indikator.
- Menilai indikator mutu yang potensial: Kuesioner penilaian semua indikator dibuat dan dikirim ke anggota panel untuk memperoleh opini ahli. Panelis diminta untuk menilai masing-masing indikator yang potensial sesuai karakteristik berikut : berdasarkan bukti, kegunaan, kamampuan interpretasi, validasi, kemampuan mencegah akibat, kelayakan, dan dugaan secara keseluruhan. Masing-masing karakteristik, menggunakan skala 5 poin : tidak setuju (nilai=1), agak setuju (nilai=2-4), dan setuju (nilai=5).
- Menentukan indikator mutu: Dalam diskusi tatap muka kedua, hasil dari penilaian awal dipresentasikan ke para ahli. Panelis mendiskusikan variasi aspek indikator. Fokusnya mendiskusikan apakah indikator ini cocok dengan lingkungan perawatan kesehatan China atau tidak serta menguraikan alasannya. Jika anggota panel setuju ada indikator yang tidak sesuai dengan China maka indikator tersebut dibuang. Opini terakhir para ahli, diambil ketika mencapai sebuah konsensus.
Hasil penetapan indikator mutu pelayanan untuk pelayanan AMI yang disusun oleh Hongpeng Sun adalah sebagai berikut:
- Indikator struktur meliputi review administrasi ilmiah rumah sakit, menguatkan peraturan, menaikkan fasilitas medis, dan menjadi latar belakang dasar pemikiran alokasi sumber daya manusia.
- Indikator proses meliputi empat indikator pengobatan untuk mengevaluasi prosedur pemberian obat bagai pasien rawat inap meliputi aspirin, clopidogrel, beta-adrenoceptor blocking agent dan terapi thrombolytic.
- Indikator hasil meliputi angka kematian di rumah sakit.
Daftar Pustaka :
Hongpeng Sun, Meina Liu & Shuang Hou. Quality Indicators for Acute Myocardial Infarction Care in China. International Journal for Quality in Health Care 2011; Volume 23, Number 4: pp 365-374