General Session

Pada konferensi ini hanya ada dua kali sesi general, yaitu membahas mengenai Fraud and the ACA dan Partnering to Combat Health Care Fraud. Berikut reportasenya:

Topik I: Fraud and the ACA oleh Vicki Robinson, Senior Advisor for Health Care Reform, U.S. Department of Health & Human Services

Tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan asuransi kesehatan nasional, salah satunya adalah fraud layanan kesehatan. Bentuk-bentuk fraud yang berkembang hingga saat ini diantaranya pencurian identitas, penipuan terhadap calon peserta perorangan dengan menawarkan asuransi palsu, broker fraud, False Claim Liability dari lembaga asuransi, dan fraud pada masa pendaftaran.

Pencurian identitas dapat dilakukan melalui telemarketing. Petugas telemarketing menyamar sebagai agen atau perusahaan asuransi yang menanyakan riwayat kesehatan dan informasi finansial. Pencurian informasi ini biasa dilakukan kepada orang yang belum terjamin asuransi. Pencurian identitas juga dapat dilakukan melalui website. Data-data yang dicuri biasanya milik penduduk usia lanjut, orang-orang dengan bahasa Inggris terbatas, dan orang-orang yang belum memiliki asuransi. OIG dan FTC sudah mulai menelusuri kasus ini.

Penipuan kepada masyarakat untuk membeli asuransi palsu juga marak terjadi. Peluang kasus ini terbuka lebar dengan adanya amanat pemerintah agar masyarakat membeli asuransi yang bukan asuransi sebenarnya misalnya dalam bentuk kartu diskon. FTC menggugat beberapa telemarketer Kanada yang menjual program diskon sebagai “asuransi”. FTC juga menuntut perusahaan bernama Partners in Health Care karena melakukan cara-cara curang untuk merayu masyarakat membeli kartu diskon yang disebut “asuransi”. Semua pelaku mengatakan bahwa program “asuransi” yang mereka jual sudah berdasar standar Affordable Care Act (ACA).

Saat ini, tidak hanya ada broker saham, tetapi ada juga broker fraud. Namun, tujuan kedua jenis broker ini sama yaitu mendapat komisi. Broker fraud tentunya mendapat komisi dari penjualan asuransi baik kepada individu maupun atau perusaan kecil. Broker fraud dapat menipu calon tertanggung asuransi dengan menyatakan bahwa kesehatan mereka sudah tidak baik lagi dan membutuhkan asuransi segera. Broker fraud dapat juga berkolusi dengan calon peserta asuransi dengan cara menurunkan status pendapatan sehingga tertanggung sah untuk mendapat subsidi pemerintah. Broker fraud ini juga dapat berkolusi dengan perusahaan dengan memanipulasi jumlah pegawai sehingga perusahaan tersebut masuk dalam kualifikasi untuk mendapat subsidi pemerintah dan terhindar dari pajak. Broker fraud melakukan membuat masyarakat takut dan merasa tidak nyaman dengan ACA sehingga calon peserta tertarik membeli asuransi.

Bentuk fraud lain dalam era ACA dapat terjadi pada pertukaran jaminan dan pendaftaran peserta. Pertukaran jaminan dapat dilakukan bila lembaga asuransi menyediakan data terkait reinsurance, risk corridors, dan risk adjustment. Bila data-data yang disediakan oleh lembaga asuransi adalah palsu, maka lembaga tersebut dapat terkena False Claims Liability. Proses pendaftaran peserta suransi juga merupakan celah terjadinya fraud. Kecurangan yang mungkin terjadi pada masa ini adalah status kesehatan saat ini, status kepegawaian, status kependudukan untuk peserta yang bukan penduduk asli, tempat tinggal, pendapatan, dan status tanggungan asuransi dari perusahaan tempat bekerja.

   Topik II: Partnering to Combat Health Care Fraud

Sesi ini disampaikan oleh panelis yang terdiri dari:

  1. Alanna M.Lavelle,AHFI, MS, CPC, Healthcare Fraud Program Manager MITRE Corporation
  2. Michael Spector, Senior Counsel, America’s Health Insurance Plans
  3. Ralph Carpenter, Senior Director, Special Investigations Unit, Aetna, Inc.
  4. Shantanu Agrawal, MD, MPhil, Deputy Administrator and Director, Center for Program Integrity, U.S. Department of Health & Human Services, CMS

Acara ini dimoderatori oleh Louis Saccoccio, CEO, National Health Care Anti-Fraud Association

Dalam upaya pemberantasan fraud, partnership antara sektor publik dan swasta memegang peranan penting, menurut Shantanu Agrawal. Oleh karena itu, saat membangun program pemberantasan fraud pertama kali, CMS langsung membangun partnership dengan berbagai pihak. Tujuan awalnya adalah bertukar informasi terkait fraud yang ada dalam layanan kesehatan. Dalam partnership ini penting sekali untuk melihat seberapa cepat dan luas partnership bisa dikembangkan serta seberapa banyak mitra yang bisa terlibat. Perlu juga dipertimbangkan fokus pemerintah dan pihak swasta dalam menjalankan programnya. Saat ini, CMS sudah memiliki lebih banyak mitra untuk melakukan studi bersama terkait cakupan jaminan kesehatan pemerintah dan swasta. Kemitraan ini juga memungkinkan adanya pertukaran informasi dan data terkait fraud dalam layanan kesehatan untuk diidentifikasi.

Tanggapan senada disampaikan oleh Allana M. Lavelle. Partnership membawa keuntungan dalam proses pemberantasan fraud. Dengan adanya partnership dari berbagai pihak, dana yang bisa diselamatkan semakin meningkat. Shantanu menambahkan dampak dari partnership juga dirasakan dari aspek kualitatif. Misalnya dengan adanya kemitraan, maka semakin banyak pertemuan reguler dengan perusahaan asuransi swasta dan membangun ikatan dan kemitraan yang lebih kuat. Selanjutnya, menurut Ralph Carpenter, kemitraan yang terbangun antara perusahaan asuransi swasta dan pemerintah juga membawa dampak positif yaitu tidak hanya bertukar data tetapi juga dapat memvalidasi apa yang sudah dilakukan. Namun ada juga beberapa isu legal yang harus diperhatikan dalam membangun kemitraan ini, ungkap Shantanu. Misalnya bila kita ingin melakukan studi dari data klaim asuransi, maka ada pertimbangan legal seperti izin penggunaan data, kelaikan data, dan terkait perlindungan data.

Pembagian peran juga penting dalam kemitraan ini, seperti yang dilakukan Allana dan perusahaannya. Allana melakukan studi secara terus menerus dan cepat untuk menggali isu fraud dalam layanan kesehatan. Biasanya Allana dan tim bekerja dalam rentang 6-9 bulan. Hasil penelitian kemudian diolah dan disampaikan ke pemerintah pada bulan Januari. Dari hasil penelitian ini, Allana dan tim mengajukan rekomendasi untuk kebijakan sistem kesehatan maupun peraturan medis yang harus disusun secara tertulis. Kemitraan sektor pemerintah dan swasta ini juga melibatkan komite khusus untuk mengurus data. Komite ini lah yang memberi izin apakah data dapat digunakan dan penelitian dapat berlanjut. Sektor swasta yang akan melakukan penelitian akan melakukan kontrak dengan komite ini. Bisanya untuk keperluan penelitian, izin penggunaan data akan dipermudah.

Tatangan yang akan dihadapi di masa mendatang dalam membangun kemitraan ini adalah kelanggengan. Kelanggengan ini dapat terpengaruh dari prioritas kerja yang akan dilakukan olah masing-masing pihak. Terpengaruh juga dengan nilai-nilai yang dijalankan oleh masing-masing pihak. Kemudahan dalam proses bermitra juga menjadi tantangan untuk pengembangan kemitraan sektor pemerintah dan swasta. Hal lain yang mempengaruhi adalah terkait sumber-sumber daya lain yang bisa digali dalam upaya pemberantasan fraud dalam layanan kesehatan ini. Tantangan lainnya adalah terkait data yang dikumpulkan dari berbagai pihak. Bila kita bekerja sama dengan pihak dengan bermacam latar belakang, maka tipe data yang terkumpul juga akan berbeda-beda.

{jcomments on}

Training

Pada konferensi ini ,penulis berkesempatan untuk mengikuti dua sesi dengan topik Emerging Scheme dan Provider Interviewing Techniques. Masing-masing sesi diisi oleh narasumber terkemuka di bidang penanganan fraud dalam layanan kesehatan. Simak reportasenya di bawah ini.

dal19nov1

  Topik I: Emerging Schemes (Skema Fraud Utama)

Sesi ini dibawakan oleh empat narasumber yaitu:

  1. Ayms Lang, MD, CPC, AHFI, CFE, Medical Director, WellPoint, Inc.
  2. Gary Cicio, DPM, DABFAS, CPC, Clinical Director, Fraud Investigations, WellPoint, Inc.
  3. Jennifer Trussell, Special Advisor, U.S. Department of Health and Human Services, OIG – OI
  4. Michael Cohen, Inspector, U.S. Department of Health & Human Services, OIG-OI

Sesi pertama memaparkan tentang hasil identifikasi skema-skema fraud yang muncul dalam Medicare, Medicaid dan asuransi swasta sepanjang tahun 2013-2014. Narasumber juga berbagi tips agar kita dapat mengidentifikasi dengan cepat skema-skema ini. Dalam sesi ini didiskusikan juga mengenai teknologi medis, prosedur dan peralatan baru serta tantangan dalam jaminan kesehatan dan proses reimbursement yang dapat membantu kita lebih fokus dalam upaya investigasi fraud dalam layanan kesehatan.

Di Amerika sepanjang tahun 2013-2014, trend fraud yang muncul masih terkait farmasi, ambulan, pencurian data, maupun penagihan untuk peserta yang tinggal di luar negeri. Terkait farmasi, serta peresepan obat mahal yang tidak membawa dampak efektif bagi pasien masih marak terjadi. Pada rentang tahun ini, negara bagian yang paling tinggi dilaporkan meresepkan obat-obatan mahal adalah Detroit. Pencurian identitas (medical identity fraud) juga menjadi isu fraud yang marak di AS sepanjang 2013-2014. Kasus pencurian identitas ini memakan porsi 50% dari keseluruhan bentuk fraud layanan kesehatan.

Terkait fraud dalam obat-obatan, perhatian pemerintah Amerika terpusat pada pendekatan apa yang pernah dilakukan dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Menghadapi bentuk fraud berupa shifting obat-obatan dalam kategori non-controlled dan peresepan obat-obatan mahal, US Departement of Health and Human Services (HHS) di bawah Office of Inspector General (OIG) HHS/OIG mengambil pendekatan prediktif yang bersifat proaktif.

Obat-obatan mahal yang ditagihkan ke Medicare dan Medicaid umum disebut specialty drugs. Definisi obat-obatan ini belum jelas. Menurut Center for Medicare and Medicaid Services (CMS), obat-obatan golongan ini adalah obat yang berharga lebih dari 600 ribu USD. Obat-obatan ini digunakan unuk perawatan komplek dan penyakit-penyakit yang mengancam jiwa. Obat-obatan ini umumnya membutuhkan proses klaim yang rumit. Sepanjang tahun 2014, dana sebesar 40 % untuk pos obat-obatan di USA dipakai membayar tagihan obat-obatan ini.

Sebanyak 23% program jaminan kesehatan juga menempatkan untuk obat-obatan golongan ini dalam program tersendiri. Berdasarkan laporan IMS, penggunaan obat-obatan ini berkontribusi dalam 3,2% peningkatan total peresepan obat di tahun 2013. Kondisi ini akan meningkatkan premi untuk seluruh pasien. Dampaknya, potensi kriminal akan memiliki masa depan “cerah” dengan adanya reimbursement untuk jenis obat-obatan ini.

Secara umum, ada beberapa kategori spektrum obat-obatan yang dibuat oleh perusahaan farmasi. Spektrum yang paling tinggi adalah obat-obatan hipertensi (1:3). Spektrum obat-obatan yang digunakan oleh perusahaan obat. Obat-obatan yang menjadi favorit untuk diproduksi adalah multiple sclerosis (200:100.000), hiperlipidemia, hepatitis C (1:100.000), N-24 (1:10.000). Sedangkan spektrum yang cukup jarang diproduksi adalah ribose 5-phosphate. Secara umum, obat-obatan ini diproduksi untuk semua orang. Namun, belum ada bukti ilmiah yang cukup terkait efektivitas obat-obatan ini. Sebagian besar obat-obat ini dibuat hanya untuk keperluan komersil.

Contoh obat-obatan yang banyak diresepkan untuk pasien adalah obat hepatitis merk Sovaldi. Asuransi swasta melaporkan peningkatan diagnosis hepatitis C dan penggunaan Sovaldi. Contoh lain adalah obat PCSK-9 untuk kolesterol. Biaya yang ditagihkan untuk penggunaan obat-obatan ini adalah 10 ribu USD per tahun per pasien atau sekitar 3 M USD setahun. Juxtapid, obat untuk koleseterol tinggi juga dilaporkan cukup sering diresepkan. Obat ini masuk dalam golongan orphan drug, yaitu obat untuk kasus penyakit langka. Obat ini mendapat keistimewaan berupa keringanan pajak, kemudahan proses diterima oleh FDA, dan monopoli harga. Biaya obat ini adalah 300 ribu USD pertahun. Obat-obatan ini diklaim produsennya mampu mengobati penyakit-penyakit kardiovaskular dan meningkatkan masa hidup pasien.

Obat lainnya adalah Saxenda untuk menurunkan berat badan. Obat ini diterima untuk menangani obesitas yang marak di Amerika. Umumnya, obat-obatan penurun berat badan merupakan produk yang dapat membawa keuntungan jutaan dollar bagi produsennya. Obat ini sebenarnya mempunyai khasiat serupa dengan obat penurun berat badan lainnya, namun dengan dosis yang lebih tinggi. Golongan obat diabetes juga cukup banyak diresepkan tahun 2013-2014 ini. Misalnya, Farxiga yang memakan biaya 4.000 USD pertahun. Tanzeum juga memakan biaya 2.000-3.000 USD per tahun dan diinjeksi per minggu. Affeezza (TBD) merupakan inhalable insulin. Obat-obatan ini marak digunakan karena banyak pasien potensial yang menggunakannya, misalnya pasien yang takut disuntik.

Obat-obatan yang masuk dalam controlled drug juga masuk dalam kategori sering diresepkan. Misalnya Zohydro yang merupakan high dose hydrocodone. Contoh lainnya adalah Subsys (Fentanyl) Sublingual Spray. Obat ini diklaim sebagai cancer pain walaupun hanya 1% diresepkan oleh onkologis. Penjualan obat ini membumbung tinggi dan harganya juga meningkat 20% sejak 2012. Disinyalir terdapat pemasaran agresif karena penjual mengharapkan komisi lebih tinggi. Obat lainnya adalah Sustiva. Obat ini mahal namun tidak terlalu efektif untuk menyembuhkan HIV pada manusia. Malah lebih banyak efek sampingnya.

Fraud dalam farmasi memang harus mendapat perhatian khusus. Alasannya biaya yang dikeluarkan untuk obat-obatan cukup mengejutkan. Pengobatan yang baru disahkan dapat memicu kebangkrutan sistem jaminan kesehatan. Perhatian juga harus diberikan pemasaran obat-obatan ini secara off-label. Perhatikan juga tagihan fiktif atas peresepan obat-obatan ini. Untuk mengetahui kandungan dan khasiat obat-obatan, kita dapat mengunjungi: www.erowid.org, www.bluelight.org , dan NIH: National Drug Early Warning System.

 

Topik II: Provider Interviewing Techniques (Teknik Interview ke Provider)

dal19nov2Sesi ini diisi oleh Rick Wakefield, President, International Healthcare Consultants, Inc. Pada sesi ini, narasumber menjelaskan mengenai bagaimana melakukan wawancara dengan provider yang mungkin dapat menjadi hal sulit dalam proses investigasi. Saat wawancara, provider dapat menggunakan kosa kata teknis yang memungkinkan mereka mengontrol proses wawancara, mengalihkan pertanyaan atau menjawab dengan berbelit-belit. Sesi ini akan membekali kita dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengontrol proses wawancara sambil menjaga suasana profesional dan menghindari konfrontasi. Dengan penggunaan contoh wawancara dari video klip yang ditayangkan, peserta dapat melihat berbagai reaksi provider terhadap beberapa tipe pertanyaan. Dari video ini kita juga bisa belajar mengevaluasi komunikasi non verbal. Narasumber juga memberi panduan dan tips untuk seluruh aspek dalam proses wawancara, termasuk peninjauan rekam medis sebelum wawancara. Peserta juga diajarkan menyusun pertanyaan untuk mendorong provider memberikan informasi detail yang dibutuhkan termasuk juga cara untuk menutup sesi wawancara.

Narasumber memulai sesi dengan menyarankan sikap yang harus ditunjukkan investigator saat pertama kali datang ke kantor dokter. Saat datang ke klinik dokter, investigator harus menunjukkan sikap yang menarik sehingga provider akan memberikan jawaban yang nyaman. Investigator juga harus menunjukkan sikap terbuka agar dapat membangun komunikasi dengan baik.

Saat bertemu dokter di kantornya, ucapkan salam dengan baik, perkenalkan juga diri kita, dan jabatlah tangan dokter tersebut. Lakukan genggaman tangan yang pelan tapi pasti dan mantap. Invetigator harus menempatkan diri pada posisi sebagai pemegang kontrol. Posisi tangan di atas, lalu lepaskan genggaman tangan kita terlebih dahulu. Sampaikan bahwa kita meminta waktu untuk wawancara.

Setelah diterima masuk ke klinik, kita dapat meneruskan langkah dengan berjalan keliling ruangan kantor/klinik dokter tersebut. Pastikan dokter tersebut mengikuti kita. Selanjutnya perhatikan cara kita berdiri dan duduk. Saat duduk berhadapan, kita singkirkan benda-benda yang ada di meja di depan kita untuk membuktikan bahwa kita ingin melakukan komunikasi secara terbuka. Tempatkan kaki juga dalam posisi terbuka. Bila dokter berdiri, kita juga berdiri. Perhatikan posisi tangan, kursi, hambatan fisik, interupsi, dan koreksi. Kontrol wawancara harus bersifat lembut dan lunak.

Pada saat wawancara, minimalkan postur nonverbal agresif. Hindari “senjata” kita terlihat mata dokter. Investigator bisa memulai percakapan dengan membicarakan hal-hal yang terjadi saat ini. Saat wawancara perhatikan, tanda-tanda “penolakan” yang ditunjukkan dokter. Tanda-tanda dokter menunjukkan kemarahan adalah dengan bersikap tidak kooperatif atau defensif. Dokter juga menunjukkan sikap keengganan dengan hanya menjawab pertanyaan satu dua kata atau posisi duduk yang menempel pada kursi. Dokter juga dapat bersikap tidak kooperatif dan berpura-pura.

Investigator juga harus mengecek perilaku nonverbal dokter secara berkala. Pengecekan dilakukan sebelum dokter menjawab pertanyaan, saat menjawab pertanyaan dengan lengkap, dan setelah dokter memberi jawaban lengkap. Sikap-sikap umum yang ditunjukkan oleh dokter saat proses wawancara berlangsung adalah panik dan takut. Kepanikan umum terjadi karena mereka tidak tahu apa yang harus diekspresikan. Sedangkan ketakutan muncul karena ada perasaan jawaban tidak dipercaya atau takut terhadap dampak dari jawaban yang diberikan.

Dokter juga dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka bisa dipercaya. Pertama, saat wawancara, mereka bersikap tenang dan tidak ada perubahan mood mendadak. Dokter juga tetap pada posisi duduknya semula. Kedua, saat menjawab pertanyaan, dokter juga akan menjawab serealistis mungkin dan tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Ketiga, dokter bersikap kooperatif saat wawancara. Dokter datang sendiri tanpa kawalan pengacara, datang tepat waktu, dan menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Keempat, dokter yang jujur akan menjawab spontan dan tepat sasaran setiap pertanyaan yang diajukan. Kelima, dokter menunjukkan bahasa tubuh yang terbuka dan bisa diajak kerja sama. Keenam, dokter akan bersikap tulus dan menunjukkan emosi yang memadai. Ketujuh, dokter menunjukkan sikap kepercayaan diri.

Interview harus dilakukan dengan distraksi dan potensial interupsi minimum. Lakukan wawancara di ruangan kecil yang nyaman. Pertahankan momentum untuk tiap pertanyaan. Bila kita tidak mengerti jawaban dokter, minta dia jelaskan lebih detail dengan merendahkan diri, misalnya, “Saya kurang paham hal itu karena saya tidak sepintar Anda.”

Investigator harus menyiapkan daftar pertanyaan. Tulis pertanyaan dalam bentuk outline sehingga tidak ada kecendeungan untuk membacanya. Saat wawancara hendaknya investigator tidak terlalu sibuk menulis catatan. Catat poin-poin penting saja.

Akhiri wawancara dengan catatan akhir yang positif. Hindari menimbulkan permusuhan kecuali bila itu merupakan strategi untuk menggali data lebih lanjut. Investigator berpengalaman harus mampu membuat parafrase dari poin-poin hasil wawancara. Kemudian susun resume note dari hasil wawancara.

 

{jcomments on}

 

When it Comes to Health Care, the Glass is Half-Full

HnNSeveral developments — fewer uninsured, a focus on value, declining mortality, among others — indicate our health system is moving in a positive direction.

Many health care executives and professionals are wary, glass-half-empty people, conditioned by long experience to dwell on business risks. However, today’s health care environment is actually full of good news. Reflect on the following:

Continue reading

Ulang Tahun Emas Hari Kesehatan Nasional

HKN-50Jakarta (ANTARA News) – Peringatan HKN Ke-50 atau ulang tahun emas Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimaksudkan untuk menjadikan perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama setengah abad terakhir ini sebagai inspirasi untuk mempercepat terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta bermutu, produktif, dan berdaya-saing.

Continue reading

New Health Plans Help Improve Quality and Affordability for Federal Employees and Retirees

new health planHARTFORD, Conn.–()–Aetna (NYSE: AET) is expanding its presence in the Federal Employees Health Benefit Program (FEHBP) with two new options: a new Aetna Direct plan designed for federal retirees; and a new joint venture between Aetna and Inova Health Systems called Innovation Health. These new options add to Aetna’s broad variety of plans already available to federal employees.

Continue reading

RSUD Surakarta Siap Menerima Pasien KIS

RSUD Surakarta
Solo (ANTARA News)
– Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Surakarta siap menampung pasien yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta sampai saat ini belum menerapkan sistem KIS yang diluncurkan Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

RSUD Surakarta prinsipnya tidak ada masalah dan siap menerima pasien jika kondisinya darurat mereka menggunakan kartu KIS. 

Continue reading

BAB V Pembinaan

Apabila hasil deteksi dini terbukti ada potensi fraud yang dilakukan oleh manajemen dan/atau staf rumah sakit, maka perlu adanya upaya pembinaan agar fraud tidak berkembang lebih lanjut di rumah sakit. Pembinaan yang dapat dilakukan adalah berupa pemberian sanksi. Jenis pembinaan yang dapat diberikan kepada pelaku fraud di rumah sakit yaitu Pembinaan Administrasi. Direktur memberi pembinaan administrasi kepada staf/pelaku yang melakukan fraud dengan sanksi disiplin sebagai berikut:

  1. Peringatan tertulis
  2. Skorsing tergantung beratnya tindakan yang dilakukan
  3. Pencabutan kewenangan klinis bagi klinisi

Cat : untuk dibuat bagaimana penindakan fraud yang terbukti

{jcomments on}

Seminar Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI Jakarta

Kerangka Acuan
Seminar Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer
di Provinsi DKI Jakarta

11 November 2014

Kerjasama antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI dengan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

   PENDAHULUAN

Audit mutu rujukan di 41 Puskesmas Kecamatan di DKI Jakarta telah dilakukan dan hasilnya telah dipaparkan pada pertemuan tanggal 21-22 Juli tahun 2014. Hasil audit mutu rujukan menunjukkan, terjadi ketidaksesuaian pada surat rujukan yakni sebesar 58,4 % pada hasil anamnesa, 52,9 % pada hasil pemeriksaan fisik, 56,6 % pada terapi sementara, 57,5 % pada tindakan yang telah diberikan. Sedangkan untuk proses rujukan, ketidaksesuaian terjadi pada pemberian edukasi pasien (74 %) dan komunikasi dengan RS (35 %). Secara khusus audit mutu rujukan juga menunjukkan bahwa untuk penyakit-penyakit tertentu mutu rujukan juga perlu ditingkatkan.

Dari berbagai kesenjangan yang didapat dari hasil audit mutu rujukan tersebut, dapat diatasi dengan mengembangkan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer. Saat ini pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer telah disusun dan siap diterapkan dalam bentuk uji-coba di Provinsi DKI Jakarta. Sistem rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi payung dari berbagai komponen rujukan layanan primer dan diharapkan kedepan dapat dibakukan dalam pentuk peraturan Gubernur DKI. Sedangkan pedoman rujukan dikembangkan untuk menjadi petunjuk teknis pelaksanaan berbagai komponen rujukan layanan kesehatan primer dalam bentuk keputusan Kepala Dinas Kesehatan.

 

   TUJUAN

Tujuan Umum: Seminar ini bertujuan untuk menjelaskan isi dari Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer dan Pedoman Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer yang telah disusun bagi Provinsi DKI Jakarta. Secara khusus seminar ini bertujuan untuk

  1. Menjelaskan isi Pengembangan Sistem Rujukan PeLayanan Kesehatan Primer
  2. Menjelaskan Pedoman Rujukan Layanan Primer untuk 4 Penyakit
  3. Diskusi Rencana Tindak Lanjut, Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer

 

  WAKTU & TEMPAT

Hari dan tanggal: Selasa, 11-12 November 2014, Jam: 09.00 – 15.00 WIB
Tempat: Hotel Puri Denpasar, Jakarta

 

PESERTA

Pertemuan ini diharapkan dapat diikuti oleh satu orang perwakilan dari masing-masing Kepala Puskesmas kecamatan (44), dan perwakilan dari RS dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Tim Fasilitator
Fasilitator akan berasal dari tim Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) dan tim Dinas Kesehatan Provinsi DKI, yang terdiri dari:

  1. Prof Adi Utarini, MSc, MPH, PhD
  2. dr. Hanevi Djasri, MARS
  3. Armiatin, SE, MPH
  4. dr. M. Hardhantyo

 

  JADWAL KEGIATAN

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

Hari I (11 November 2014)

08:30-09:00

Registrasi

Panitia

09:00-09:30

Pembukaan acara

Dinas Kesehatan Provinsi DKI

09:30-10:00

Review Pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI

  Progress Project DKI – Hanevi Djasri

 

Prof. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD

10:00-11:00

Pengembangan Sistem Rujukan Layanan Primer  (Pengalaman Australia)

  Materi Presentasi

Monash University

11:00-12:00

  Draf Sistem Rujukan Layanan Primer

  Draf Sistem Rujukan DKI

Armiatin, SE, MPH

12:00-13.00

Lunch Break

 

13:00-14:00

Pedoman Rujukan Layanan Primer untuk 4 Penyakit

  PEB

  DBD

  Diabetes

  Hipertensi

  Panduan Praktek Klinis bagi Dokter

dr. M. Hardhantyo

14:00-15:00

Diskusi rencana Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer

Hanevi Djasri, dr. MARS

Hari II (12 November 2014)

09.00-10.30

Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer

4 Kelompok

10.30- 12.00

Presentasi Hasil Kelompok

(Masing-masing Kelompok, Presentasi selama 20 menit)

4 Kelompok

12.00-12.30

Tanggapan Terhadap Hasil Diskusi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer

Tim FK UGM

12.30 -13.00

Penutup (makan siang)

 

Pembiayaan: Kegiatan ini dibiayai dari APBD Dinas Kesehatan Provinsi DKI