Dampak Penggunaan Internet pada Hubungan antara Dokter dan Pasien

Oleh : Nasiatul Aisyah Salim SKM.,MPH

Doc. RS Bedah SurabayaPemanfaatan informasi kesehatan dari internet dalam pelayanan kesehatan terus meningkat dan dapat dikatakan sebagai revolusi bagi pasien. Aktivitas yang biasa dilakukan pasien dalam penggunaan internet antara lain untuk (1) memutuskan cara mengobati penyakit, (2) menanyakan hal-hal baru atau meminta pendapat kedua dari dokter lain, (3) membuat keputusan untuk berkunjung ke dokter, dan (4) mencari cara merawat diri sendiri. Sehingga penggunaan internet dapat menimbulkan model consumerist yang membuat hubungan pasien dan dokter menjadi lebih efektif.

Dokter akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari pasien terkait informasi yang mereka peroleh dari internet seperti ketika pasien mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter tentang kondisi kesehatan, beberapa pasien mungkin akan melakukan banyak riset sebelum melakukan kunjungan medis karena pasien akan merasa lebih percaya diri dalam menangani kondisi medisnya. Akan tetapi, dokter yang terbiasa dengan peran otoriter atau selalu dituruti mungkin akan kesulitan menyesuaikan diri dengan model consumerist ini dan pasien yang mengerti informasi akan dipandang sebagai tantangan terhadap kewenangan medis yang “tradisional”.

Dampak Positif. Penggunaan informasi internet dapat mempererat kerjasama dan komunikasi antara dokter dan pasien. Jika akses internet semakin mudah di ruang pemeriksaan maka dokter dan pasien dapat meninjau informasi kesehatan bersama-sama melalui internet lalu mengembangkan informasi tersebut dengan cara pasien mengemukakan pendapatnya dan dokter memberikan saran secara langsung. Bagaimanapun, tenaga medis tidak hanya menanggapi pasien yang berpendidikan, tetapi juga membantu untuk mendidik mereka. Berbagai pendekatan konstruktif bisa dilakukan seperti penggunaan website yang mana dokter berperan menjadi konsultan, dokter menyediakan pelayanan berbasis website kepada pasien misalnya perangkat penatalaksanaan penyakit dan protokol perawatan pasien. Sehingga dokter yang “akrab dengan internet” akan lebih efektif menjalin hubungan yang tulus dengan pasien sehingga berkontribusi pada pelayanan kesehatan yang berkualitas dan menciptakan hubungan dokter-pasien yang lebih saling mempercayai.

Dampak negatif. Namun yang perlu diperhatikan, walaupun internet menjadi alat yang sangat berguna bagi pasien ketika mencari informasi kesehatan yang dibutuhkan, tetapi juga bisa sangat membingungkan karena beberapa situs yang mungkin tidak akurat (tidak update informasi). Sehingga pasien perlu selektif dalam mencari informasi medis dari internet walaupun sumbernya “dapat dipercaya” misalnya

  1. Alamat Website : carilah alamat website dari badan pemerintah yang menggunakan (.gov atau .go.id), institusi pendidikan yang menggunakan (.edu atau .ac.id), organisasi profesional dan rumah sakit yang menggunakan (.org atau .com)
  2. Currency (kekinian) : Website harus mengandung informasi terkini dengan mencantumkan tanggal pembaruan terakhir
  3. Informasi Aktual : Informasi harus faktual dan bersumber dari informasi yang andal seperti literatur profesional, intisari penelitian. Referensi dan sumber harus dicantumkan dengan jelas. Penulis atau kontributor disebutkan sebagai tenaga medis. Informasi kontak meliputi alamat email pengurus website harus dicantumkan. Informasi yang mengandung pendapat harus dijelaskan sebagai opini dan narasumber haruslah orang atau organisasi yang berkualifikasi. Klaim tentang perawatan, produk dan pelayanan harus didukung dengan bukti.
  4. Keterbukaan : Kepemilikan web, pihak-pihak komersial terkait dinyatakan dengan jelas. Potensi konflik kepentingan dicatat. Iklan dipisahkan dari isi situs yang sebenarnya. Sasaran web untuk konsumen atau petugas kesehatan dinyatakan dengan jelas. Informasi rahasia tentang pribadi pasien atau pengunjung website tidak boleh diungkapkan.

Referensi :

Hedy S., Catherine E., David C. 2007. Untangling the Web – The Impact of Internet Use on Health Care and The Physician-patient relationship. Patient Education and Counseling.

{module [150]}

Netizen Bertumbuh, Mutu Pelayanan Kesehatan Terpengaruh

Oleh: Ilham Akhsanu Ridlo, S.KM., M.Kes

Doc. RS Bedah SurabayaSebagai stakeholder dalam kajian mutu, konsumen menjadi kekuatan yang tidak akan pernah boleh dilupakan oleh provider layanan kesehatan. Sebagai bagian dari konsumen, maka Netizen memegang peranan yang sama dengan konsumen konvensional.

Apa itu Netizen?

Masih ingat betul saat mengamati pergeseran segmentasi pasar yang disampaikan oleh Hermawan Kartajaya yang merubah segmentasi konvensional yang membagi segmentasi pasar ke dalam 3 tiga (tiga) segmen yaitu Senior, Men and Citizen yang kemudian dewasa ini diperbaharui menjadi Youth, Woman and Netizen.

Kata Netizen Pertama kali dibuat oleh Michael Hauben. Pada tahun 1992 ia menciptakan istilah Netizen untuk menggambarkan pengguna internet (user) yang memiliki rasa tanggung jawab sebagai warga internet. Atau Netizen merupakan istilah yang dibentuk dari kata Net (internet) dan Citizen (warga). Jika di satukan, artinya kurang lebih “warga internet” atau “penduduk dunia internet”. Sederhananya, Netizen adalah pengguna internet yang berpartisipasi aktif (berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, berkolaborasi) dalam media internet.

Siapakah Netizen itu?

Netizen adalah semua orang yang mengakses dan menggunakan internet. Semua orang yang menggunakan Internet bisa di sebut Netizen mulai yang hanya menggunakan Mobile Internet, komputer rumah yang terkoneksi internet, mahasiswa yang berlama-lama di kampus hanya karena Facebook-an, ibu-ibu yang bersosialisasi di twitter atau aktivis yang konsen dengan blogging. Ketika sedang offline, Netizen tidak berbeda dengan citizen (warga) lainnya. Mungkin ada beberapa perilaku unik yang membedakan seorang netizen dengan citizen seperti kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi terhadap pengoptimalan mobile technology dan mungkin bersifat addict.

Mengapa Netizen dapat dikatakan Penting dalam Mutu Pelayanan Kesehatan ?

Netizen menjadi sangat valuable dan berpengaruh karena mereka sangat aktif menyuarakan pendapatnya lewat Sosial Media (internet). Netizen menyuarakan hal-hal yang sejalan dengan nilai yang dianutnya. Netizen tidak dibayar atau dikomando, melainkan berpartisipasi aktif dengan suka cita. Netizen dengan senang hati akan mengulas apapun yang menjadi perhatian personalnya.
Pengaruh Netizen di Indonesia di ranah global adalah topik-topik lokal yang menembus trending topic. Masih ingat kasus mengenai sengketa antara Rumah Sakit Omni dengan Prita yang membawa kasus ini pada tataran hukum.

Di twitter, kebanyakan dari para influncer yang memiliki follower yang banyak, mereka sangat mampu membuat suatu topik menjadi trending topic di twitter. Begitu juga blogger, seorang blogger yang blognya dibaca oleh 5000 orang setiap harinya memiliki ‘channel’ untuk mempengaruhi 5000 pembaca tersebut. Sebagian pembaca yang terinspirasi dan akan dapat mendiskusikan tulisan yang diterbitkan di blog tersebut di channel social media yang lain atau bahkan merekomendasikan tulisan tersebut kepada ‘follower‘ yang mengikutinya melalui twitter atau blog sang pembaca.Begitu hebatnya sosial media saat ini sehingga mampu membuat opini public dan secara masif mampu mempengaruhi policy maker.

Netizen Bertumbuh

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China (1,346 juta jiwa), India (1,198 juta jiwa), dan Amerika Serikat (315 juta jiwa). Sensus yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2010 menyebutkan bahwa populasi penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 237,6 juta jiwa, bertambah 32,5 juta jiwa dibandingkan dengan hasil sensus penduduk yang terakhir dilakukan oleh BPS tahun 2000 yaitu sebesar 205,1 juta jiwa.

Hal yang juga sangat menggembirakan adalah angka penetrasi penggunaan internet oleh rumah tangga di Indonesia secara umum yang mencapai 27% di perkotaan (urban) dan 8% di daerah pedesaan (rural). Dengan semakin tingginya penggunaan internet di Indonesia dan dukungan pemerintah untuk memberikan akses internet di seluruh desa di Indonesia, hal ini akan memiliki implikasi besar terhadap perubahan sikap, kebiasaan, dan perilaku masyarakat termasuk juga dalam pelayanan kesehatan yang utamanya terhadap pergeseran mutu layanan.

Netizen sebagai penentu dalam meraih Heart share. Yang dimaksud disini adalah emotional (emosi) target market (Sasaran mutu) yang menjatuhkan pilihannya lebih dari daya nalar pikiran dan mempunyai kekuatan bertahan terhadap apa yang dipilih secara emosional. Netizen bisa berdaya sebagai penentu dalam perubahan mutu pelayanan kesehatan.

Dewasa ini pelayanan kesehatan menghadapi persaingan paling sengit dalam banyak dasawarsa, dan segalanya akan semakin sengit di tahun-tahun mendatang. Tantangan juga demikian, regulasi dan gap asymentric knowledge dari pasien (konsumen) semakin sempit. Agar sukses dalam pasar dengan persaingan ketat, perusahaan harus beralih dari falsafah produk dan pen¬jualan menjadi falsafah pelanggan dan mutu. Perusahaan harus bekerja lebih giat lagi dengan konsep peningkatan mutu layanan mereka guna memenuhi dan memuaskan kebutuhan pelanggan.

Terlebih lagi di negara-negara maju dan berkembang, pasar industri pelayanan kesehatan yang sering kita temui adalah ‘pasar mutu’. Artinya jika mutu layanan kurang maka pasien akan pasti memilih dan membandingkan ke layanan kesehatan lainnya, hal ini dikarenakan adanya variasi yang sangat beragam di penyedia layanan itu sendiri. Belum lagi pasien (konsumen) menjadi semakin terdidik dan menuntut, serta harapan mutu terus naik akibat variasi provider dan layanan kesehatan. Agar sukses, atau hanya sekadar bertahan, perusahaan perlu falsafah baru. Agar unggul di pasar dewasa ini, perusahaan harus berpusat pada pelanggan (customer-centered) mereka harus memberikan nilai superior kepada pelanggan sasaran. Mereka harus ahli dalam membangun pelanggan, bukan hanya membangun produk.

Mutu Pelayanan Kesehatan Terpengaruh

Sudah cukup jelas dipenjelasan mengenai penetrasi Netizen di Indonesia yang perlu untuk mendapatkan perhatian bagi kalangan praktisi pelayanan kesehatan. Sebagai prediksi kedepan, Mutu Layanan Kesehatan akan terpengaruh oleh peningkatan penetrasi Netizen. Beberapa hal yang menurut saya dapat dijadikan cetak tebal antara lain:

  1. Gap Asymmetric Knowledge semakin sempit

    Dapat kita ketahui bersama bahwa industri jasa di bidang kesehatan mempunyai sifat asymmetric knowledge yang diartikan sebagai Ketidak-seimbangan pengetahuan dari pihak pemberi jasa pelayanan kesehatan (dokter, provider layanan kesehatan) terhadap pengguna jasa pelayanan kesehatan/konsumen/pasien. Informasi tentang bagaimana pelayanan pengobatan untuk penyembuhan suatu penyakit hanya dikuasai dan dipahami oleh pemberi jasa pelayanan kesehatan (dokter). Dengan demikian karena ketidakpahamannya, pasien pasrah menyerahkan sepenuhnya upaya penyembuhannya kepada dokter. Dokter yang menentukan semua upaya yang perlu dilakukan untuk penyembuhan seorang pasien.Kebutuhan akan pelayanan kesehatan (demand) dengan demikian tidak ditentukan oleh pengguna jasa tetapi oleh provider. Keadaan ini sering mendorong apa yang disebut sebagai supply induce demand. Artinya pemberi jasa pelayanan (dokter) dapat melakukan dorongan penggunaan pelayanan yang berlebihan, tidak sesuai standar dan induksi-induksi lainya, dan pasien dalam keterbatasan pemahamannya menyerah pada induksi-induksi penggunaan pelayanan kesehatan yang tak perlu dan berlebihan karena menguntungkan dokter dari sisi ekonomis.

    Kondisi diatas nantinya akan semakin dapat ditekan dan dipersempit gapnya saat semua orang bergeser atau menjadi seorang Netizen. Netizen sangat ‘candu’ terhadap informasi yang didapat di internet yang mana informasi itu didapat sangat murah, global dan mempunyai kebenaran yang mendekati sesungguhnya. Itu berakibat nantinya provider layanan kesehatan (dokter, rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya) wajib meningkatkan mutu layanan salah satunya mutu layanan di bidang komunikasi terapeutik yang akuntabilitasnya dapat dipertanggung jawabkan.

  2. Layanan Kesehatan Terpacu Kualitas Mutu

    Pada prediksi nomor 1 (satu) diatas dapat dinyatakan bahwa Netizen memegang peranan terciptanya perubahan gap asymmetric knowledge. Perubahan itu sebagai pendorong terhadap terciptanya perubahan kualitas mutu layanan kesehatan. Turbulensi kearah perbaikan mutu menjadi hal yang sangat mungkin dan wajib. Bisa dilihat bagaimana jika semua pasien akan terdidik secara informasi menjadi sangat peka akan kualitas dan mutu. Maka bisa ditebak komplain akan dengan mudah dan influence akan hal tersebut bisa sangat mudah disebarkan melalui dunia maya. Nah jika hal tersebut tidak dikelola dengan konsep mutu oleh provider layanan kesehatan maka akan menjadi suatu musibah massal terhadap provider bersangkutan.

  3. Pergeseran Budaya Komplain

    Keluarga pasien maupun pasien sekarang punya Facebook, Twitter dan beberapa jejaring sosial media untuk akses meluapkan emosinya tentang jeleknya kualitas mutu layanan kesehatan. Dulu kala, pasien mungkin hanya bisa menulis surat pembaca di majalah atau koran yang tentunya mempunyai beberapa keterbatasan konvensional. Ini yang perlu diwaspadai oleh Provider Layanan Kesehatan. Ingat, bagaimana seorang bisa berdiskusi via email dan membuahkan penyelesaian kasus hukum yang berujung panjang pada kasus malpraktik atau buruknya kualitas mutu layanan kesehatan.

  4. Pergeseran Pola Pencarian Informasi Layanan Kesehatan

    Yang terakhir adalah perubahan pola pencarian Informasi Layanan Kesehatan. Saat ini dan kedepannya seorang pasien dan keluarga pasien dapat membandingkan beberapa provider layanan kesehatan satu dengan lainnya hanya dengan membuka komputer-nya atau dengan smartphone-nya. Ini memudahkan konsumen, dan Netizen melakukan itu karena ‘candu’ Netizen adalah dunia internet.

Menarik bukan melihat geliat perkembangan Netizen dan dunianya yang menurut saya mempunyai pengaruh terhadap indutrialisasi jasa layanan kesehatan. Kajian ini menjadi menarik dan bisa dilakukan eksplorasi ilmiahnya.

 

{module [150]}

Internet dan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia

edi-29jul13Awal bulan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengumumkan peluncuran akun resmi Facebook miliknya. Akun itu bertujuan untuk memudahkan komunikasi SBY dengan masyarakat lebih banyak lagi. Sebelumnya SBY juga telah memiliki akun twitter yang dalam waktu kurang dari dua bulan telah memiliki lebih dari 2 juta followers. Juru Bicara Kepresidenan mengatakan bahwa SBY ingin lebih mudah berkomunkasi dengan berbagai kalangan masyarakat mengingat twitter hanya terbatas pada 140 karakter (Metrotvnews.com).

Jauh sebelum pelucuran akun tersebut, berbagai institusi baik pendidikan, sosial, bisnis dan pemerintah telah memanfaatkan internet melalui pembuatan website, blog, akun jejaring sosial dan sebagainya untuk membangun komunikasi yang efektif. Saat ini, perkembangan internet mengalami kemajuan yang pesat, menurut harian Kompas, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 55 juta orang dan merupakan negara peringkat ke 8 atau mengalahkan Inggris dan Perancis.

Dalam bidang pelayanan kesehatan, perawatan pasien merupakan upaya rumit yang sangat bergantung pada komunikasi informasi. Komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi kepada pasien berikut keluarganya, serta komunikasi antar petugas profesional kesehatan. Gagalnya komunikasi merupakan salah satu penyebab awal paling umum dari terjadinya insiden yang mencelakakan pasien.

Dalam menyediakan, mengoordinasikan dan mengintegrasi layanannya, sarana pelayanan kesehatan bergantung pada informasi tentang ilmu perawatan, tentang pasien itu sendiri, perawatan yang telah diberikan, hasil dari perawatan itu, dan kinerja sarana pelayanan kesehatan. Seperti layaknya sumber daya manusia, material dan keuangan, informasi merupakan sumber daya yang harus diolah secara efektif oleh pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Setiap sarana pelayanan kesehatan berusaha memperoleh, mengolah, dan menggunakan informasi itu untuk meningkatkan kesejahteraan pasien serta kinerja sarana pelayanan kesehatan baik secara keseluruhan maupun individu.

Walaupun komputerisasi dan teknologi lainnya mampu meningkatkan efisiensi, namun prinsip manajemen informasi yang baik tetap berlaku untuk semua metode, baik yang berbasis kertas maupun elektronik, yaitu: Mengidentifikasi kebutuhan informasi; Merancang sistem manajemen informasi; Mendefinisikan dan memperoleh data dan informasi; Menganalisis data dan mengubahnya menjadi informasi; Melakukan transmisi dan pelaporan data dan informasi; serta Mengintegrasikan dan menggunakan informasi.

{module [152]}

BPJS Perlu Perhatikan Keterbukaan Informasi Publik

(Hukumonline.com) – Menjelang beroperasinya BPJS Kesehatan tahun depan, pemerintah masih melakukan pemantapan dan persiapan. Namun, dari persiapan yang dilakukan, khususnya terkait sosialisasi kepada publik, dirasa kurang. Bahkan, Direktur MediaLink, Ahmad Faisol, menilai BPJS perlu memperhatikan keterbukaan informasi publik. Dengan begitu, masyarakat dapat mudah mengetahui segala informasi yang dibutuhkan terkait pelaksanaan BPJS, khususnya kesehatan karena mulai beroperasi tahun depan.

Continue reading

tes

Hasil polling kebutuhan pelatihan

Divisi mutu PKMK (Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan) FK UGM telah mengadakan polling secara online mengenai kebutuhan & keinginan para pelaku kesehatan terkait pelatihan yang tersedia di divisi mutu PKMK FK UGM. Polling dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2013. Sebanyak 125 responden telah mengisi polling dengan ketentuan bisa memilih lebih dari satu pelatihan yang dibutuhkan sesuai kebutuhan responden. Hasil didapatkan : 56 responden berasal dari rumah sakit, 33 responden berasal dari puskesmas, 16 responden dari dinas kesehatan, masing-masing 10 responden dari universitas dan pihak swasta.

Berikut dibawah ini hasil polling mengenai kebutuhan pelatihan :

Iuran BPJS Ditetapkan Rp 19 Ribu

Jakarta (Republika.co.id) — Pemerintah menetapkan premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebesar Rp 19.225 per orang per bulan. Angka itu lebih besar dibandingkan rencana sebelumnya yang hanya Rp 15.500 per orang per bulan. Nilai tersebut diputuskan dalam rapat yang dipimpin oleh Wapres  Boediono, Kamis (18/7). 

Continue reading

Setahun, Radang Paru dan Diare Bunuh 50 Ribu Anak

Jakarta (Tempo.co) – Dalam setahun, ada 50 ribu lebih anak di bawah usia lima tahun atau balita yang meninggal karena radang paru-paru dan diare. Kata Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan, Bambang Sardjono, angka kematian bayi dan balita pada 2012 masih di atas target Millenium Development Goals (MDGs) 2015. “Kedua penyakit infeksi ini adalah penyebab kematian balita,” kata Bambang dalam diskusi kesehatan di kantor Kemenkes, Jumat, 19 Juli 2013.

Continue reading

Jamkesda Tidak Boleh Bertentangan dengan BPJS Kesehatan

PKMK (Serpong). Penyelenggaraan Jamkesda tidak boleh berlawanan dengan program BPJS Kesehatan ataupun Undang-undang Nomor 20 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Program Jamkesda adalah subsistem dari SJSN, dan berfungsi memperkuat penyelenggaraan BPJS Kesehatan. Program ini berjalan dengan memberikan manfaat tambahan ataupun pelengkap bagi peserta BPJS Kesehatan yang berdomisili di wilayah administratif Pemda. Hal ini diungkapkan Asih Eka Putri, direktur Martabat Prima Konsultindo (21/7/2013).

Continue reading