Yogyakarta, 03 Januari 2013

Acara yang berlangsung di KPTU FK UGM ini di buka oleh Prof Laksono. Trisnantoro, MSc,PhD. Dalam pembukaannya, prof. Laksono menyampaikan harapannya agar kedepan angka kematian bayi dapat menurun karena bila tidak diperhatikan dengan benar, akan terjadi kematian bayi walaupun ibunya tertolong. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah leadership dalam profesi melalui pendekatan surveilans respon dengan menggunakan AMP (Audit Maternal Perinatal).
Paparan selanjutnya disampaikan oleh dr.Kirana (Kemenkes) yang membahas mengenai hasil survey SDKI : Apakah benar ada pemburukan di DIY?. Beliau menjelaskan bahwa terjadi peningkatan angka kematian untuk daerah yogyakarta sehingga harus ada tindakan akselerasi konkret. SDKI (Survei Demografi Kesehatan Indonesia) 2012 menggambarkan kondisi sampai 5 tahun sebelum survei. Bila dibandingkan antar Provinsi, AKBnya bila dibandingkan 2007 dengna 2012 mengalami peningkatan. Bila dibandingkan laporan, AK Neonatal yang bisa dikumpulkan sekitar 1/4nya dibandingkan kejadian yang terjadi sesungguhnya dimasyarakat karena pelaporan dan pemahaman terminologi mengenai kematian neonatal sangat rendah. Untuk kematian ibu, under reported juga msih ada namun tidak sebesar AK Neonatal karena adanya perpindahan kematian di RS. Penyebab kematian adalah neonatal. SDKI tidak pernah bisa menentukan penyebab kematian karena tidak dilakukan kajiannya. Untuk MDG 5 (Kesehatan Ibu) belum ada SDKI 2012 jadi menggunakan data Riskesdas.
Di Indonesia, angka tenaga kesehatan yang tinggi tidak dapat menurunkan AKI AKB karena di Indonesia sarana kesehatannya yang belum siap namun kalau di negara lain, tingginya tenaga kesehatan malah membantu penurunan AKI – AKB. Untuk kesehatan Ibu, kualitas pelayanan persalinan menjadi permasalahan pada saat survei tahun 2012. Sebagai contoh penggunaan partograf di RS dan Puskesmas tidak optimal, edukasi kepada ibu hamil, dll. Sedangkan untuk kelengkapan komponen PONEK, SDM menjadi masalah karena bidan desa dan puskesmas lebih banyak dilatih dibandingkan di RS. Dalam hal desentralisasi, kabupaten/ kota-lah yang memegang peran penting sehingga yang berperan untuk intervensi RSUD adalah pihak kabupaten/ kota.
Dinkes Kota Yogyakarta memberitahukan bahwa di Kota Yogyakarta terdapat 5 RS PONEK. Selain itu dinkes kota Yogyakarta juga memberikan tanggapannya bahwa belum diketahui penyebab peningkatan kematian ibu, kematian bayi, kematian balita namun direncanakan tanggal 8 Januari 2013 akan dilakukan audit. Selain itu akan direncanakan juga konseling terkait pre pregnancy untuk remaja yang rencananya akan dibuat dalam metode penyuluhan. Dengan harapan tidak menimbulkan keinginan remaja untuk berbuat yang “tidak-tidak” karena menurut laporan dari apotik, tahun baru kemarin apotik sampai kehabisan kondom.
Dari Dinkes Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa data kematian menunjukkan adanya penurunan angka kematian ibu dan anak. Selain itu, untuk pelaksanaan manual rujukan dikabupaten sleman sudah berjalan baik. Namun draf manual rujukan belum final masih dalam proses. Sedangkan untuk Dinkes Kab. Kulon Progo, dr. Bambang memaparkan bahwa penyebab kematian karena pre eklampsia berat. Sedangkan untuk jumlah kematian maternal & neonatal mengalami penurunan. Selain itu, Kabupaten kulon progo memiliki sms gateway kegawatdaruratan obstetric dan neonatal untuk rujukan.
Untuk Dinkes Kab. Gunung Kidul menjelaskan bahwa penerapan manual rujukan dikabupaten gunung kidul untuk finalisasi belum final masih proses namun uji coba sudah dilaksanakan. Selain itu jumah kematian ibu menurun, neonatal menurun, namun kematian balita meningkat. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Dinkes Kab. Bantul bahwa draf manual rujkan belum sempurna namun sudah dilakukan uji coba dan ada 3 puskesmas yang belum menyetor data-data kematian sehingga data yang disajikan hanya membuat prediksi saja.
dr. Risanto dari RS Sardjito menyampaikan keprihatinannya mengenai kematian di yogyakarta karena jumlah dokter obsgyn di jogja kurang lebih 67 orang dan jumlah dokter anak yang banyak sekali. Sehingga seharusnya 59 % bisa dicegah. Jika ada tim penanggulangan mungkin hal demikian tidak akan terjadi yang mana penyebab utama kematian karena terlambat. Dan keterlambatan tersebut, 40% karena terlambat mengambil keputusan sedang 29% karena perdarahan dan pre eklamsi. Ada fenomena baru bahwa kematian karena jantung juga meningkat. Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh Direktur RS Sardjito adalah dengan membuat surat untuk dikirimkan kepada dokter obsgyn agar dengan adanya kematian ini, spesialis dapat merespon dengan cepat.
dr. Titut (Kemenkes Direktorat Ibu) mengharapkan agar pertemuan ini tidak hanya focus pada draf manual rujukan, dibuatnya jejaring tidak hanya sekedar buku manual. Sehingga 59,9 % kematian dapat dihindarkan kedepannya dan model rujukan dapat dikembangkan untuk pengembangan daerah lain yang mana DIY dan NTT akan dijadikan sebagai narasumber. Direktorat BUK, dr. Soffie menambahkan bahwa dalam era meningkatkan mutu melalui akreditasi diharapkan adanya pedoman manual rujukan yang bisa dijadikan pedoman yang mengarahkan pada segi ibu dan anak karena ada kesinambungan dampak dari pemberian jampersal.
dr.Inni (Dinkes Prov DIY) memberikan masukannya bahwa perlu adanya kebijakan mengenai reward dan Punishment. Selain itu perlu kebijakan intervensi seperti misalnya sosialisasi mengenai anemi perlu dipikirkan dana/anggaran dari mana, dana keistimewaan informasi perlu di telusur. Dan perlu adanya integrasi kenapa kematian ibu dan bayi stagnant. Sehingga perlu melakukan survei kebutuhan peralatan esensial PONED – PONEK sehingga bisa mencukupi kebutuhan Puskesmas – RSUD. Selain itu perlu diperhatikan bagi Kabupaten Sleman yang mana RSUD di Sleman dan dokter ahli di Sleman banyak namun kematian AKI dan AKB justru meningkat.
Selama melakukan kunjungan terkait manual rujukan, dr. Sitti Noor Zaenab, M. Kes memberikan penilaiannya yang mana Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo mendapatkan nilai 40 % untuk kekompakan Tim Rujukan KIA, Finalisasi Buku Manual Rujukan diperoleh oleh Kabupaten Kulon Progo sebesar 20 %, SMS Gateway diperoleh oleh Kabupaten Kulon Progo sebesar 20 % dan Surveilans Respon dan Lain-Lain Manual Rujukan (100%) diperoleh oleh 5 Kabupate/Kota.
Akhir acara, Prof Laksono menyampaikan bahwa dokumen manual rujukan menjadi tanggung jawab bersama sehingga akan diketahui dimana kematian terjadi, waktu, berapa banyak. Prof Laksono juga menghimbau untuk rumah bersalin swasta jangan mencari masalah dengan menangani kasus-kasus komplikasi. Selain itu, untuk penganan kematian Ibu dan Anak diperlukan kerjasama lintas disiplin antara orang IKM, dr. spesialis lain untuk bekerja sama.
Materi Acara dapat di akses di sini