Konsep patient Safety sebagai Fokus Pelayanan Kesehatan yang bermutu

Penelitian Harvard menemukan bahwa sekitar 4% pasien mengalami adverse event selama dirawat di rumah sakit, yang 70%nya berakhir dengan kecacatan sementara, sedangkan 14%nya berakhir dengan kematian. Laporan yang disusun oleh the Institute of Medicine (IOM) bahkan menggoreskan kisah yang lebih dramatik karena setiap tahunnya di Amerika Serikat diduga ada sekitar 44.000 hingga 98.000 pasien yang meninggal akibat tindakan medik selama menjalani perawatan di rumahsakit.

Penelitian Wilson et al meneliti secara acak 15.548 catatan pasien di 26 rumah sakit. Hasil menunjukkan bahwa 8,2 % menunjukkan kejadian adverse event yang mana dari 858 adverse event yang dikodekan untuk kecacatan, 305 (32 %) pasien dipulihkan dalam waktu 30 hari, 154 (16 %) dipulihkan dalam waktu 6-12 bulan, 111 (14 %) mengalami cacat permanen dan 288 (30 %) meninggal dari penyebab yang berhubungan dengan adverse event. Sehingga masing-masing adverse event menyebabkan 9 hari tambahan di rumah sakit yang akhirnya berdampak pada biaya perawatan yang lebih besar.

Wilson et al menjelaskan bahwa adverse event disebabkan oleh kesalahan terapi (34,2 %) diikuti dengan kesalahan diagnosis (19,1 %) dan operatif (18,4 %). Kesalahan terapi masuk dalam error of commission sedangkan kesalahan diagnosis merupakan error of omission. Kesalahan terapi mengindikasikan bahwa diagnosis dilakukan tetapi tidak didukung/ dilakukan respon terapi yang memadai. Kesalahan diagnosis mengindikasikan kegagalan membuat diagnosis atau kegagalan untuk membuat diagnosis yang tepat dari informasi yang tersedia.

Adverse event memiliki risiko yang dapat saja mengancam jiwa pasien sehingga perlu adanya konsep patient safety sebagai fokus pelayanan kesehatan yang bermutu seperti menurut Wong J & Beglarya H (2004) yang merekomendasikan untuk setiap rumah sakit hendaknya berinisiatif mensosialisasikan, melaksanakan dan memantau pelaksanaan konsep patient safety dengan mengukur kinerja petugas, peningkatan/perbaikan teknologi baik medik maupun informasi yang menjamin dilaksanakannya medik berdasarkan bukti ilmiah yang terbaru dan valid.

Menurut Institute of Medicine, pengukuran kinerja dapat dilakukan berbagai cara seperti pengumpulan data dan monitoring terhadap outcome spesifik, program pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit, pengembangan program risk management yang merupakan respon terhadap kejadian medical error yang sebenarnya dapat dicegah apabila prosedur dilaksanakan secara benar.

Wilson et al merekomendasikan perlu diselenggarakannya pendidikan dan pelatihan medik yang berkelanjutan yang mana setiap rumah sakit harus menjamin standar dan protokol patient safety yang selalu up to date dikarenakan pelatihan dan pengawasan staf klinis yang tidak memadai menjadi faktor terbesar terjadinya adverse event diikuti dengan ketiadaan atau kegagalan implementasi protokol atau kebijakan yang relevan. Selain itu perlu adanya komunikasi dan perbaikan sistem pelaporan medik. (NAS)

Daftar Pustaka :

  1. R M Wilson, P Michel, S Olsen, R W Gibberd, C Vincent, R El-Assady, O Rasslan, S Qsous, W M Macharia, A Sahel, S Whittaker, M Abdo-Ali, M Letaief, N A Ahmed, A Abdellatif, I Larizgoitia. Patient Safety in Developing Countries : Retrospective estimation of Scale and Nature of Harm to patients in Hospital.
  2. Institute of Medicine. To err is human: building a safety health system. Washington, DC: National Academy Press; 1999.
  3. Wong J and Beglarya H. Strategies for Hospitals to Improve Patient Safety:A Review of the Research. The Change Foundation, 2004.

 

 

 

Belajar “Puaskan” Pasien dari Rumah Sakit Bumrungrad

rsOkezone.com – Potret buram pelayanan kesehatan Indonesia kembali mencuat di akhir 2012 ini. Sebuah kasus managemen rumah sakit yang membiarkan pasiennya meninggal akibat penggunaan area rumah sakit sebagai tempat syuting film cukup mengejutkan masyarakat Indonesia.
 
Banyak kasus yang sering terjadi terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit yang tidak memadai. Setiap tahun, selalu ada kasus yang menggemparkan mengenai buruknya pelayanan kesehatan di negeri ini.
 

Continue reading

DPD-RI Desak Sahkan UU Keperawatan

MEDAN (Beritasore.com) –  Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumatera Utara, Prof Dr Ir Hj Darmayanti Lubis mendesak DPR RI segera mensahkan UU Keperawatan agar kesejahteraan perawat terjamin.

“Kita sudah membahas RUU ini dan sudah kita paripurnakan dan sudah kita serahkan ke DPR RI segera diketok. Namun hingga saat ini, RUU tersebut belum disahkan. Kita minta agar DPR RI segera mensahkan UU Keperawatan ini,” sebut Darmayanti di Medan, Rabu (26/12) kemarin.

Continue reading

Hanya Perlu 5 sampai 15 Menit untuk Keluhan Mutu Layanan

(Kaltimpost.co.id) – Fasilitas dan pelayanan publik di Kanada ternyata memberikan banyak inspirasi bagi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari. Terutama, soal standard operating procedure (SOP) yang mestinya diterapkan di tiap instansi agar pelayanan lebih cepat. Bahkan kalau perlu, membersihkan WC pun harus ada SOP-nya. Ini diceritakannya dengan gaya bertutur.

 
Kepergian saya ke Kanada dalam program kerja sama Kementerian Dalam Negeri RI dengan Institute of Public Administrations of Canada (IPAC), minggu ketiga November lalu, benar-benar menginspirasi.

Tiga Puskesmas Kota Bogor Kantongi ISO

Bogor (Beritasatu.com) – Tiga Pusat Layanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Bogor, Jawa Barat berhasil meraih dan mengantongi sertifikat “ISO” 9001-2008  dari “Worldwide Quality Assurance (WQA)”.

“Dengan sertifikat ISO untuk tiga Puskesmas ini, total sudah ada enam puskesmas yang memiliki sertifikat ISO pada 2012,” Kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah, di Bogor, Jumat (21/12).

Ketiga puskesmas yang mendapat sertifikat ISO 9001-2008 adalah Puskesmas Tegal Gundil, Puskesmas Kedung Badak, dan Puskesmas Semplak. Sertifikar ISO 9001-2008 diserahkan oleh Direktur WQA kepada Wali Kota Bogor, Diani Budiarto pada Senin (17/12) lalu.

Continue reading

Layanan Mirip Puskesmas, RS BDH Disuntik Rp 50 M

SURABAYA (surabayapost.co.id) – Keberadaan Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (RS BDH) di Benowo dinilai kalangan DPRD Surabaya masih belum maksimal. Indikatornya, rumah sakit (RS) milik Pemkot itu layanannya masih seperti Puskesmas, kendati statusnya sudah menjadi rumah sakit tipe B. Karena itu untuk meningkatkan pelayanan, RS di Benowo itu akan disuntik Rp 50 miliar tahun 2013.

“Kami melihatnya seperti itu. Padahal RS BDH adalah rumah sakit tipe B yang dilengkapi ruang rawat inap dan sejumlah alat kesehatan (alkes),” ungkap Saifudin Zuhri, Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Jumat (21/12).

Continue reading

Kimia Farma rambah rumah sakit

JAKARTA (Kontan.co.id) – Perusahaan farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan melebarkan sayap bisnis tahun depan. Perusahaan plat merah ini  akan merangsek masuk ke bisnis  rumah sakit.

Dana sekitar Rp 300 miliar sudah Kimia Farma siapkan untuk aksi korporasi ini. Niatannya, dana tersebut untuk membangun rumah sakit khusus liver. Rumah sakit khusus ini berlokasi di Jalan Sahardjo, Tebet, Jakarta yang berdiri di atas lahan seluas 5.200 m2.

Djoko Rusdianto, Sekretaris Korporat PT Kimia Farma  Tbk bilang ada dua alasan Kimia Farma mendirikan rumah sakit tersebut. Pertama, merujuk data Kementeria Kesehatan, sekitar 10% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 23 juta penduduk pernah terserang penyakit liver atau hepatitis.

Continue reading

RS Antam Medika Layani Pasien BPJS dan KJS

JAKARTA (Pos Kota) – Rumah Sakit   Aneka Tambang   Medika (Antam) menyatakan,    siap menerima pasien Jakarta Sehat (KJS) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014 mendatang.

Rumah Sakit  yang  mengusung konsep lingkungan hijau ini menjadi percontohan pada pembangunan rumah sakit di DKI Jakarta.

Continue reading

Kemenkes Alokasikan Anggaran Khusus Pelatihan Keperawatan Jiwa

Nusa Tenggara Barat (Beritasatu.com)– Kementerian Kesehatan mengalokasikan sejumlah anggaran khusus untuk pelatihan keperawatan jiwa bagi paramedis di berbagai institusi pelayanan kesehatan.

“Anggarannya sudah dialokasikan untuk 2013 dari dana dekonsentrasi, namun saya lupa angka persisnya,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, setelah meninjau kondisi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tadi sore.

Menurut dia, bukan hanya soal jumlah dana, tetapi yang terpenting adalah komitmen pemerintah daerah dalam pengelolaan anggaran pelatihan itu.

Continue reading

RS Bergerak di Morotai Mulai diaktifkan

TERNATE, KOMPAS.com – Rumah Sakit (RS) Bergerak di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut) yang sudah beroperasi secara umum masih meminjamkan tenaga kesehatan dari RSUD Pulau Morotai mulai diaktifkan.

Kepala RS Bergerak Julius Kabupaten Pulau Morotai, Giscard Krons ketika dihubungi dari Ternate, Senin mengatakan, saat ini dari tenaga kesehatan RSUD yang digunakan di RSB kurang lebih sebanyak 20 orang, dengan diberikan tunjangan.

Selain itu, untuk tenaga dokter, pihaknya memastikan pada Januari 2013 mendatang sudah ada dan kehadiran tenaga dokter akan disiapkan secara bertahap sesuai kebutuhan.

Continue reading