Pasal 303 UU Kesehatan Tahun 2023 mengamanatkan “Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya (KMKB) serta memperhatikan keselamatan Pasien”. Berbagai negara dan organisasi kesehatan mulai mengadopsi prinsip-prinsip VBHC sebagai strategi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi (KMKB). Value-Based Healthcare (VBHC), yaitu pendekatan yang berfokus pada pencapaian luaran kesehatan terbaik bagi pasien dengan biaya yang efisien. Konsep ini diperkenalkan oleh Michael Porter dan Elizabeth Teisberg pada tahun 2006.
Salah satu bidang yang mulai menerapkan konsep ini adalah oftalmologi (pelayanan kesehatan mata). Hasil scoping review yang dilakukan oleh Abubakar dkk Tahun 2024 menunjukkan bahwa implementasi VBHC dalam oftalmologi memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai pelayanan bagi pasien serta penurunan biaya pelayanan kesehatan. Untuk itu, perlunya peningkatan pemahaman dan kapasitas tenaga kesehatan, manajer rumah sakit, akademisi, serta pengambil kebijakan mengenai konsep, prinsip, strategi implementasi, dan tantangan penerapan VBHC.
Tujuan
Meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep tata kelola KMKB, VBHC dan implementasinya.
Tujuan Khusus:
- Memahami tata kelola kendali mutu dan kendali biaya (KMKB)
- Memahami konsep dan implementasi Value-Based Healthcare (VBHC) dalam pelayanan kesehatan
Sasaran
- Manajemen rumah sakit: Direktur, Wakil Direktur Pelayanan, Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, Komite Medik, Komite Keperawatan, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Instalasi/Kepala Unit RS, Tim Manajemen Risiko, Manajer Pelayanan Pasien (MPP), Tim Akreditasi Rumah Sakit.
- Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
- Akademisi dan mahasiswa bidang manajemen rumah sakit
- Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.
Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Kamis, 13 Agustus 2026
Waktu : 09.00-12.00 WIB
Link Zoom : akan diinformasikan
Meeting ID : akan diinformasikan
Passcode : akan diinformasikan
Narasumber
- Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH. – Guru Besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI
- Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS – Corporate Secretary JEC ORBITA Eye Hospital & Clinics
- Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS – Peneliti PKMK FK-KMMK UGM
Rundown Kegiatan
|
Waktu |
Agenda |
Narasumber/Fasilitator |
|
08.45 – 09.00 |
Registrasi peserta |
Panitia |
|
09.00 – 09.05 |
Pembukaan |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
09.05 – 09.20 |
Materi 1: “Pembelajaran dari Hasil Penelitian PKMK tentang Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB) di Rumah Sakit” |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
09.20 – 10.00 |
Materi 2: “Tata kelola KMKB di Fasyankes” |
Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH. |
|
10.00 – 10.20 |
Sesi diskusi pertama |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
10.20 – 11.20 |
Materi 3: “Konsep dan studi kasus implementasi Value-Based Healthcare (VBHC)” |
Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS |
|
11.20 – 11.55 |
|
Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS |
|
11.55 – 12.00 |
Penutup |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
Reportase Kegaitan
PKMK-Yogyakarta. Pelatihan “Implementasi Value-Based Healthcare (VBHC) untuk Kendali Mutu dan Biaya Rumah Sakit” diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM secara daring pada Kamis (13/08/26). Kegiatan ini menghadirkan Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH.; Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS; dan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS sebagai narasumber. Pelatihan ditujukan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai tata kelola Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB), konsep VBHC, serta penerapannya dalam pelayanan kesehatan.
Sesi awal oleh Eva membahas pembelajaran dari hasil penelitian PKMK mengenai implementasi kebijakan KMKB dalam Program JKN. Dengan pendekatan realist evaluation, pembahasan menunjukkan bahwa pelaksanaan KMKB menghasilkan sejumlah manfaat, seperti proses verifikasi klaim yang lebih cepat dan berkurangnya klaim pending. Namun, pelaksanaan utilization review masih menghadapi keterbatasan akses dan kemampuan analisis data, sementara pelaksanaan audit medis juga dipengaruhi oleh dukungan dan kewenangan manajemen rumah sakit.
Pembahasan dilanjutkan oleh Prof. dr. Ascobat mengenai tata kelola KMKB dalam ekosistem rumah sakit. KMKB ditempatkan sebagai bagian dari manajemen strategis yang perlu mengintegrasikan kendali mutu, kendali biaya, core values, dan perspektif Balanced Scorecard. Ascobat menekankan pentingnya pembentukan Tim KMKB yang lintas unit dengan prinsip structure follows function. Berbagai strategi seperti clinical pathway, utilization review, audit medis, pencegahan komplikasi, pengendalian kasus berbiaya tinggi, continuous quality improvement, serta pemanfaatan teknologi digital dapat digunakan untuk menghubungkan mutu dan efisiensi secara lebih sistematis.
Sesi berikutnya oleh Dr. dr. Zulkarnain menyampaikan konsep VBHC yang menempatkan luaran kesehatan yang bermakna bagi pasien dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan sebagai dasar penciptaan nilai. Pembahasan mencakup pengorganisasian pelayanan melalui Integrated Practice Units, pengukuran outcome dan biaya sepanjang siklus pelayanan, hingga penerapan value-based bundled payment. Studi kasus pelayanan katarak juga menunjukkan bahwa capaian outcome yang baik dapat berjalan bersama dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beberapa pertanyaan dari peserta mengenai penerapan clinical pathway, pengukuran outcome dan biaya, serta strategi meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi mutu pelayanan. Peserta kemudian diajak mempraktikkan perhitungan VBHC melalui pemetaan proses pelayanan dan penghitungan biaya berbasis sumber daya. Latihan tersebut memperlihatkan bahwa penerapan VBHC membutuhkan kemampuan rumah sakit untuk menghubungkan proses pelayanan, outcome pasien, penggunaan sumber daya, dan biaya secara utuh.
Melalui pelatihan ini, VBHC diperkenalkan bukan sekadar sebagai konsep pengendalian biaya, melainkan sebagai pendekatan untuk memastikan bahwa setiap sumber daya yang digunakan berkontribusi pada outcome yang lebih baik dan bernilai bagi pasien.

Reporter:
Helen Anggraini Budiono