Seiring dengan kemajuan teknologi medis dan peningkatan kualitas hidup, dunia saat ini memasuki era aging population dengan pertumbuhan populasi lanjut usia yang sangat pesat. Fenomena ini membawa konsekuensi meningkatnya prevalensi penyakit kronis, termasuk gangguan tidur yang selama ini kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa gangguan tidur bukan sekadar keluhan kualitas hidup, melainkan faktor risiko vaskular independen yang signifikan dan sering kali terabaikan (underdiagnosed) dalam praktik klinis sehari-hari.
Insomnia dan Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan dua gangguan tidur yang memiliki dampak sistemik luas terhadap sistem kardiovaskular dan serebrovaskular. Secara patofisiologis, insomnia kronis memicu aktivasi sistem saraf simpatis secara berlebihan serta disregulasi aksis Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA), yang berkontribusi pada hipertensi kronik, inflamasi sistemik, dan disfungsi endotel. Sementara itu, OSA ditandai oleh hipoksia intermiten berulang yang menimbulkan stres oksidatif, aktivasi inflamasi, gangguan hemodinamik, serta kondisi protrombotik. Kombinasi mekanisme ini meningkatkan risiko terjadinya fibrilasi atrium, aterosklerosis progresif, dan pada akhirnya stroke, baik iskemik maupun hemoragik.
Meskipun hubungan antara gangguan tidur dan stroke semakin kuat didukung oleh data klinis dan epidemiologis, skrining kualitas tidur belum menjadi bagian standar dalam evaluasi risiko stroke di fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun sekunder. Praktik klinis masih berfokus pada faktor risiko tradisional seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia, sementara gangguan tidur sering kali terlewatkan. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya literasi tenaga kesehatan mengenai metode skrining yang sederhana dan efisien, serta belum terintegrasinya alur rujukan untuk evaluasi gangguan tidur secara sistematis.
Di Indonesia, beban morbiditas dan disabilitas akibat stroke masih sangat tinggi, menjadikannya salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dalam pencegahan stroke yang tidak hanya berfokus pada faktor risiko konvensional, tetapi juga memasukkan gangguan tidur sebagai komponen penting dalam strategi preventif. Pendekatan preventif berbasis prinsip “When Sleep Fails, Act Early” menekankan pentingnya deteksi dini, intervensi tepat waktu, serta penyusunan care pathways yang terstruktur untuk pasien dengan risiko tinggi.
Webinar ini dirancang untuk membedah kaitan antara gangguan tidur dan stroke dari sudut pandang neurobiologi dan manajemen klinis praktis. Diharapkan, melalui pemahaman yang lebih komprehensif, tenaga kesehatan dapat menjadi garda terdepan dalam menurunkan angka kejadian stroke melalui optimalisasi kesehatan tidur pasien.
Tujuan
Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi dan mengelola gangguan tidur sebagai upaya reduksi risiko stroke pada populasi dewasa dan lansia.
Tujuan Khusus
- Memahami mekanisme patofisiologi bagaimana insomnia dan sleep apnea berkontribusi pada kerusakan vaskular otak.
- Meningkatkan kemampuan nakes dalam melakukan skrining gangguan tidur menggunakan instrumen yang tervalidasi di layanan primer.
- Menyusun jalur rujukan dan tata laksana komprehensif bagi pasien dengan komorbiditas gangguan tidur dan risiko tinggi stroke.
Sasaran Peserta
- Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan bidan.
- Pengelola Fasyankes: Kepala Puskesmas, pimpinan klinik, dan manajer mutu RS.
- Akademisi: Mahasiswa kedokteran (S1, S2, S3) dan peserta pendidikan dokter spesialis.
- Peneliti dan konsultan manajemen kesehatan.
Narasumber
- Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K)
- dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D, Sp.N, Subsp.NGD (K)
Tempat dan Waktu
Hari, tanggal : Sabtu, 16 Mei 2026
Pukul : 13.00 – 15.30 WIB
Agenda
| Waktu | Agenda | Narasumber/Fasilitator |
| 11.00 – 13.00 | Registrasi peserta dan Pre test | Panitia |
| 13.00 – 13.10 | Pembukaan | dr. Helen Anggraini B. |
| 13.10 – 13.55 |
Sesi 1: Hubungan Antara Insomnia Kronis dan Risiko Stroke: Perspektif Neurobiologi serta Intervensinya |
Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K) |
| 13.55 – 14.15 |
Sesi diskusi dan tanya jawab |
dr. Helen Anggraini B. |
| 14.15 – 15.00 |
Sesi 2: Sleep Apnea sebagai “Silent Killer”: Deteksi Dini dan Manajemen sleep apnea di Fasilitas Kesehatan Primer |
dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D, Sp.N, Subsp.NGD (K) |
| 15.00 – 15.20 |
Sesi diskusi dan tanya jawab |
dr. Helen Anggraini B. |
| 15.20 – 15.30 |
Penutup |
dr. Helen Anggraini B. |
Biaya dan Fasilitas
Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 50.018,-
Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 18, contoh Rp 50.018,- No. Rekening sebagai berikut:
No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281
Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-
Fasilitas yang akan didapatkan peserta:
- Sertifikat
- Materi dalam bentuk .pdf
- Rekaman
Reportase Kegiatan
PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar bertajuk “Insomnia, Sleep Apnea dan Risiko Stroke: Update Manajemen Tidur untuk Dewasa dan Lansia” pada Sabtu (16/5/2026). Webinar diikuti oleh 118 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, yang berasal dari beragam latar belakang profesi kesehatan, diantaranya dokter umum, dokter spesialis, perawat, psikolog, bidan, tenaga kefarmasian, serta tenaga kesehatan masyarakat.
Webinar menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K) dan dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D, Sp.N, Subsp.NGD(K), yang membahas keterkaitan gangguan tidur dengan peningkatan risiko stroke dari aspek neurobiologi, deteksi dini, hingga tata laksana di fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam pembukaan kegiatan, dr. Helen Anggraini Budiono sebagai moderator menyampaikan bahwa gangguan tidur masih sering dianggap sebagai keluhan biasa, padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa insomnia dan obstructive sleep apnea (OSA) berhubungan erat dengan peningkatan risiko penyakit serebrovaskular dan kardiovaskular.
Pada sesi pertama, Astuti menjelaskan bahwa tidur memiliki fungsi penting bagi tubuh, termasuk proses perbaikan sel-sel tubuh, konsolidasi energi dan memori, serta stabilitas emosi. Gangguan tidur kronis, khususnya insomnia, dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik. Narasumber menjelaskan bahwa insomnia tidak hanya berupa kesulitan memulai tidur, tetapi juga dapat berupa sering terbangun, bangun terlalu dini, tidur yang tidak berkualitas, maupun durasi tidur yang kurang dari enam jam.
Selain membahas definisi dan patofisiologi insomnia, sesi ini juga menyoroti tingginya prevalensi gangguan tidur di masyarakat modern akibat pola hidup dan tuntutan aktivitas sehari-hari. Narasumber menekankan bahwa tenaga kesehatan perlu meningkatkan kesadaran terhadap gangguan tidur karena kondisi tersebut dapat menjadi faktor risiko stroke yang sering terabaikan. Oleh karena itu, skrining sederhana terkait kualitas tidur perlu mulai diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.
Pada sesi kedua, Amelia membahas sleep apnea sebagai “silent killer” yang sering tidak terdeteksi pada pasien dewasa maupun lansia. Materi yang disampaikan mencakup pentingnya deteksi dini OSA di layanan primer, penggunaan instrumen skrining sederhana seperti STOP-BANG, hingga penanganan pasien dengan komorbid insomnia dan OSA. Narasumber juga menegaskan bahwa evaluasi gangguan tidur penting dilakukan terutama pada pasien stroke berulang, pasien usia muda dengan stroke, maupun pasien dengan faktor risiko seperti obesitas dan fibrilasi atrium.
Webinar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi bersama peserta. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain terkait indikasi pemeriksaan polisomnografi pada pasien insomnia, prioritas tata laksana pada pasien stroke dengan insomnia dan OSA secara bersamaan, serta kriteria pasien pasca stroke yang memerlukan evaluasi gangguan tidur lebih lanjut. Narasumber menjelaskan bahwa pendekatan penanganan perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi pasien dan faktor komorbid yang menyertai. Selain itu, peserta juga diingatkan mengenai pentingnya sleep hygiene, pengaturan pola aktivitas, serta pola makan dalam mendukung kualitas tidur yang lebih baik
Melalui kegiatan ini, diharapkan tenaga kesehatan semakin memahami bahwa gangguan tidur bukan sekadar masalah kualitas hidup, tetapi juga bagian penting dalam upaya pencegahan stroke dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara komprehensif.
Reporter:
Helen Anggraini Budiono