Training

Pada konferensi ini ,penulis berkesempatan untuk mengikuti dua sesi dengan topik Emerging Scheme dan Provider Interviewing Techniques. Masing-masing sesi diisi oleh narasumber terkemuka di bidang penanganan fraud dalam layanan kesehatan. Simak reportasenya di bawah ini.

dal19nov1

  Topik I: Emerging Schemes (Skema Fraud Utama)

Sesi ini dibawakan oleh empat narasumber yaitu:

  1. Ayms Lang, MD, CPC, AHFI, CFE, Medical Director, WellPoint, Inc.
  2. Gary Cicio, DPM, DABFAS, CPC, Clinical Director, Fraud Investigations, WellPoint, Inc.
  3. Jennifer Trussell, Special Advisor, U.S. Department of Health and Human Services, OIG – OI
  4. Michael Cohen, Inspector, U.S. Department of Health & Human Services, OIG-OI

Sesi pertama memaparkan tentang hasil identifikasi skema-skema fraud yang muncul dalam Medicare, Medicaid dan asuransi swasta sepanjang tahun 2013-2014. Narasumber juga berbagi tips agar kita dapat mengidentifikasi dengan cepat skema-skema ini. Dalam sesi ini didiskusikan juga mengenai teknologi medis, prosedur dan peralatan baru serta tantangan dalam jaminan kesehatan dan proses reimbursement yang dapat membantu kita lebih fokus dalam upaya investigasi fraud dalam layanan kesehatan.

Di Amerika sepanjang tahun 2013-2014, trend fraud yang muncul masih terkait farmasi, ambulan, pencurian data, maupun penagihan untuk peserta yang tinggal di luar negeri. Terkait farmasi, serta peresepan obat mahal yang tidak membawa dampak efektif bagi pasien masih marak terjadi. Pada rentang tahun ini, negara bagian yang paling tinggi dilaporkan meresepkan obat-obatan mahal adalah Detroit. Pencurian identitas (medical identity fraud) juga menjadi isu fraud yang marak di AS sepanjang 2013-2014. Kasus pencurian identitas ini memakan porsi 50% dari keseluruhan bentuk fraud layanan kesehatan.

Terkait fraud dalam obat-obatan, perhatian pemerintah Amerika terpusat pada pendekatan apa yang pernah dilakukan dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Menghadapi bentuk fraud berupa shifting obat-obatan dalam kategori non-controlled dan peresepan obat-obatan mahal, US Departement of Health and Human Services (HHS) di bawah Office of Inspector General (OIG) HHS/OIG mengambil pendekatan prediktif yang bersifat proaktif.

Obat-obatan mahal yang ditagihkan ke Medicare dan Medicaid umum disebut specialty drugs. Definisi obat-obatan ini belum jelas. Menurut Center for Medicare and Medicaid Services (CMS), obat-obatan golongan ini adalah obat yang berharga lebih dari 600 ribu USD. Obat-obatan ini digunakan unuk perawatan komplek dan penyakit-penyakit yang mengancam jiwa. Obat-obatan ini umumnya membutuhkan proses klaim yang rumit. Sepanjang tahun 2014, dana sebesar 40 % untuk pos obat-obatan di USA dipakai membayar tagihan obat-obatan ini.

Sebanyak 23% program jaminan kesehatan juga menempatkan untuk obat-obatan golongan ini dalam program tersendiri. Berdasarkan laporan IMS, penggunaan obat-obatan ini berkontribusi dalam 3,2% peningkatan total peresepan obat di tahun 2013. Kondisi ini akan meningkatkan premi untuk seluruh pasien. Dampaknya, potensi kriminal akan memiliki masa depan “cerah” dengan adanya reimbursement untuk jenis obat-obatan ini.

Secara umum, ada beberapa kategori spektrum obat-obatan yang dibuat oleh perusahaan farmasi. Spektrum yang paling tinggi adalah obat-obatan hipertensi (1:3). Spektrum obat-obatan yang digunakan oleh perusahaan obat. Obat-obatan yang menjadi favorit untuk diproduksi adalah multiple sclerosis (200:100.000), hiperlipidemia, hepatitis C (1:100.000), N-24 (1:10.000). Sedangkan spektrum yang cukup jarang diproduksi adalah ribose 5-phosphate. Secara umum, obat-obatan ini diproduksi untuk semua orang. Namun, belum ada bukti ilmiah yang cukup terkait efektivitas obat-obatan ini. Sebagian besar obat-obat ini dibuat hanya untuk keperluan komersil.

Contoh obat-obatan yang banyak diresepkan untuk pasien adalah obat hepatitis merk Sovaldi. Asuransi swasta melaporkan peningkatan diagnosis hepatitis C dan penggunaan Sovaldi. Contoh lain adalah obat PCSK-9 untuk kolesterol. Biaya yang ditagihkan untuk penggunaan obat-obatan ini adalah 10 ribu USD per tahun per pasien atau sekitar 3 M USD setahun. Juxtapid, obat untuk koleseterol tinggi juga dilaporkan cukup sering diresepkan. Obat ini masuk dalam golongan orphan drug, yaitu obat untuk kasus penyakit langka. Obat ini mendapat keistimewaan berupa keringanan pajak, kemudahan proses diterima oleh FDA, dan monopoli harga. Biaya obat ini adalah 300 ribu USD pertahun. Obat-obatan ini diklaim produsennya mampu mengobati penyakit-penyakit kardiovaskular dan meningkatkan masa hidup pasien.

Obat lainnya adalah Saxenda untuk menurunkan berat badan. Obat ini diterima untuk menangani obesitas yang marak di Amerika. Umumnya, obat-obatan penurun berat badan merupakan produk yang dapat membawa keuntungan jutaan dollar bagi produsennya. Obat ini sebenarnya mempunyai khasiat serupa dengan obat penurun berat badan lainnya, namun dengan dosis yang lebih tinggi. Golongan obat diabetes juga cukup banyak diresepkan tahun 2013-2014 ini. Misalnya, Farxiga yang memakan biaya 4.000 USD pertahun. Tanzeum juga memakan biaya 2.000-3.000 USD per tahun dan diinjeksi per minggu. Affeezza (TBD) merupakan inhalable insulin. Obat-obatan ini marak digunakan karena banyak pasien potensial yang menggunakannya, misalnya pasien yang takut disuntik.

Obat-obatan yang masuk dalam controlled drug juga masuk dalam kategori sering diresepkan. Misalnya Zohydro yang merupakan high dose hydrocodone. Contoh lainnya adalah Subsys (Fentanyl) Sublingual Spray. Obat ini diklaim sebagai cancer pain walaupun hanya 1% diresepkan oleh onkologis. Penjualan obat ini membumbung tinggi dan harganya juga meningkat 20% sejak 2012. Disinyalir terdapat pemasaran agresif karena penjual mengharapkan komisi lebih tinggi. Obat lainnya adalah Sustiva. Obat ini mahal namun tidak terlalu efektif untuk menyembuhkan HIV pada manusia. Malah lebih banyak efek sampingnya.

Fraud dalam farmasi memang harus mendapat perhatian khusus. Alasannya biaya yang dikeluarkan untuk obat-obatan cukup mengejutkan. Pengobatan yang baru disahkan dapat memicu kebangkrutan sistem jaminan kesehatan. Perhatian juga harus diberikan pemasaran obat-obatan ini secara off-label. Perhatikan juga tagihan fiktif atas peresepan obat-obatan ini. Untuk mengetahui kandungan dan khasiat obat-obatan, kita dapat mengunjungi: www.erowid.org, www.bluelight.org , dan NIH: National Drug Early Warning System.

 

Topik II: Provider Interviewing Techniques (Teknik Interview ke Provider)

dal19nov2Sesi ini diisi oleh Rick Wakefield, President, International Healthcare Consultants, Inc. Pada sesi ini, narasumber menjelaskan mengenai bagaimana melakukan wawancara dengan provider yang mungkin dapat menjadi hal sulit dalam proses investigasi. Saat wawancara, provider dapat menggunakan kosa kata teknis yang memungkinkan mereka mengontrol proses wawancara, mengalihkan pertanyaan atau menjawab dengan berbelit-belit. Sesi ini akan membekali kita dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengontrol proses wawancara sambil menjaga suasana profesional dan menghindari konfrontasi. Dengan penggunaan contoh wawancara dari video klip yang ditayangkan, peserta dapat melihat berbagai reaksi provider terhadap beberapa tipe pertanyaan. Dari video ini kita juga bisa belajar mengevaluasi komunikasi non verbal. Narasumber juga memberi panduan dan tips untuk seluruh aspek dalam proses wawancara, termasuk peninjauan rekam medis sebelum wawancara. Peserta juga diajarkan menyusun pertanyaan untuk mendorong provider memberikan informasi detail yang dibutuhkan termasuk juga cara untuk menutup sesi wawancara.

Narasumber memulai sesi dengan menyarankan sikap yang harus ditunjukkan investigator saat pertama kali datang ke kantor dokter. Saat datang ke klinik dokter, investigator harus menunjukkan sikap yang menarik sehingga provider akan memberikan jawaban yang nyaman. Investigator juga harus menunjukkan sikap terbuka agar dapat membangun komunikasi dengan baik.

Saat bertemu dokter di kantornya, ucapkan salam dengan baik, perkenalkan juga diri kita, dan jabatlah tangan dokter tersebut. Lakukan genggaman tangan yang pelan tapi pasti dan mantap. Invetigator harus menempatkan diri pada posisi sebagai pemegang kontrol. Posisi tangan di atas, lalu lepaskan genggaman tangan kita terlebih dahulu. Sampaikan bahwa kita meminta waktu untuk wawancara.

Setelah diterima masuk ke klinik, kita dapat meneruskan langkah dengan berjalan keliling ruangan kantor/klinik dokter tersebut. Pastikan dokter tersebut mengikuti kita. Selanjutnya perhatikan cara kita berdiri dan duduk. Saat duduk berhadapan, kita singkirkan benda-benda yang ada di meja di depan kita untuk membuktikan bahwa kita ingin melakukan komunikasi secara terbuka. Tempatkan kaki juga dalam posisi terbuka. Bila dokter berdiri, kita juga berdiri. Perhatikan posisi tangan, kursi, hambatan fisik, interupsi, dan koreksi. Kontrol wawancara harus bersifat lembut dan lunak.

Pada saat wawancara, minimalkan postur nonverbal agresif. Hindari “senjata” kita terlihat mata dokter. Investigator bisa memulai percakapan dengan membicarakan hal-hal yang terjadi saat ini. Saat wawancara perhatikan, tanda-tanda “penolakan” yang ditunjukkan dokter. Tanda-tanda dokter menunjukkan kemarahan adalah dengan bersikap tidak kooperatif atau defensif. Dokter juga menunjukkan sikap keengganan dengan hanya menjawab pertanyaan satu dua kata atau posisi duduk yang menempel pada kursi. Dokter juga dapat bersikap tidak kooperatif dan berpura-pura.

Investigator juga harus mengecek perilaku nonverbal dokter secara berkala. Pengecekan dilakukan sebelum dokter menjawab pertanyaan, saat menjawab pertanyaan dengan lengkap, dan setelah dokter memberi jawaban lengkap. Sikap-sikap umum yang ditunjukkan oleh dokter saat proses wawancara berlangsung adalah panik dan takut. Kepanikan umum terjadi karena mereka tidak tahu apa yang harus diekspresikan. Sedangkan ketakutan muncul karena ada perasaan jawaban tidak dipercaya atau takut terhadap dampak dari jawaban yang diberikan.

Dokter juga dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka bisa dipercaya. Pertama, saat wawancara, mereka bersikap tenang dan tidak ada perubahan mood mendadak. Dokter juga tetap pada posisi duduknya semula. Kedua, saat menjawab pertanyaan, dokter juga akan menjawab serealistis mungkin dan tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Ketiga, dokter bersikap kooperatif saat wawancara. Dokter datang sendiri tanpa kawalan pengacara, datang tepat waktu, dan menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Keempat, dokter yang jujur akan menjawab spontan dan tepat sasaran setiap pertanyaan yang diajukan. Kelima, dokter menunjukkan bahasa tubuh yang terbuka dan bisa diajak kerja sama. Keenam, dokter akan bersikap tulus dan menunjukkan emosi yang memadai. Ketujuh, dokter menunjukkan sikap kepercayaan diri.

Interview harus dilakukan dengan distraksi dan potensial interupsi minimum. Lakukan wawancara di ruangan kecil yang nyaman. Pertahankan momentum untuk tiap pertanyaan. Bila kita tidak mengerti jawaban dokter, minta dia jelaskan lebih detail dengan merendahkan diri, misalnya, “Saya kurang paham hal itu karena saya tidak sepintar Anda.”

Investigator harus menyiapkan daftar pertanyaan. Tulis pertanyaan dalam bentuk outline sehingga tidak ada kecendeungan untuk membacanya. Saat wawancara hendaknya investigator tidak terlalu sibuk menulis catatan. Catat poin-poin penting saja.

Akhiri wawancara dengan catatan akhir yang positif. Hindari menimbulkan permusuhan kecuali bila itu merupakan strategi untuk menggali data lebih lanjut. Investigator berpengalaman harus mampu membuat parafrase dari poin-poin hasil wawancara. Kemudian susun resume note dari hasil wawancara.

 

{jcomments on}

 

Reportase National Health Care Anti-Fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference (ATC)

rep dallas

Oleh:
Puti Aulia Rahma, drg, MPH
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM

 PENGANTAR

National Health Care Anti-Fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference (ATC) adalah forum anti fraud layanan kesehatan skala nasional yang diselenggarakan tahunan. Kali ini acara berlokasi di Hyatt Regency Hotel, Dallas, Texas, Amerika Serikat. Konferensi ini menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai institusi yang berpengalaman dalam upaya pemberantasan fraud layanan kesehatan.

Pelatihan ini terbagi dalam empat acara besar yaitu pre-conference, concurrent workshop, networking events, dan anti-fraud expo. Dalam acara pre-conference kita akan mendapatkan informasi dan berdiskusi lebih dalam tentang strategi anti-fraud layanan kesehatan. Pada acara concurrent workshop, kita dapat mengikuti lebih dari 70 topik yang dikelompokkan dalam 8 track, yaitu:

  1. Clinical Issues for the Health Care Fraud Investigator
  2. Detecting and Investigating Dental Fraud
  3. Fraud Schemes and Investigative Skills
  4. Fraud in the Medicaid Program
  5. Pharmacy & Part D Fraud
  6. Legal, Management & Compliance
  7. Life, Disability & Workers’ Compensation
  8. Anti-Fraud Technology Solutions

Pada kunjungan kali ini kami memilih topik-topik dari 7 track yang kami nilai pada saat ini paling diperlukan di Indonesia, yaitu track 2, 3, 4, 6 dan 7

Pada konferensi ini, kita juga akan mengikuti networking events dan anti-fraud expo. Dalam acara networking events, kita dapat membangun jejaring dengan lembaga-lembaga anti-fraud layanan kesehatan. Sedangkan dalam anti-fraud expo, kita dapat melihat terobosan-terobosan terbaru dalam strategi pemberantasan fraud layanan kesehatan. Anti-fraud expo ini dihadiri oleh total 57 peserta pameran yang terutama terdiri dari: lembaga asuransi, konsultan kesehatan dan perusahaan teknologi.

Reportase akan memuat ringkasan isi dari setiap acara yang kami ikuti beserta dengan power-point (bila disediakan oleh panitia), foto dan analisa keterkaitannya dengan konteks Indonesia.

Akibat adanya perbedaan waktu Dallas 11 jam lebih lambat dari Wib, maka reportase akan dapat diakses dengan jadwal sebagai berikut;

  1. Reportase Hari I: Selasa, 18 November 2014 malam waktu Dallas atau Rabu, 19 November 2014 jam 16:00 Wib.
  2. Reportase Hari II: Rabu, 19 November 2014 malam waktu Dallas atau Kamis, 20 November 2014 jam 16:00 Wib.
  3. Reportase Hari III: Kamis, 20 November 2014 malam waktu Dallas atau Jumat, 21 November 2014 jam 16:00 Wib.

 

  REPORTASE 

Silahkan klik pada setiap judul sesi di bawah ini untuk membaca reportase berdasarkan sesi atau silahkan klik pada menu sebelah kanan untuk mengikuti reportase berdasarkan track.

title

8:30 am – 12:00 pm Training I

Emerging Schemes

1:00 pm – 4:30 pm Training II

Provider Interviewing Techniques

 

title

7:45 am – 8:45 am
Opening General Session I

Fraud and the ACA

9:00 am – 10:15 am
Concurrent Sessions 1

Investigating Medicaid Fraud

10 Legal Issues to Watch (R)

11:00 am – 12:00 am
Concurrent Session 2

Identifying Abuse of Dental Codes

1:30 pm – 2:30 pm
Concurrent Sessions 3

Lessons learned from HEAT, the most successful federal health care fraud initiative in U.S. history. A blueprint for the future

Data Analysis That Works: Using Simple Approaches to Communicate with Prosecutors and Jurors

3:10 am – 4:10 am
Concurrent Session 4

Maximizing Witness Value during Patient and Provider Interviews

4:15 pm – 5:00 pm
General Session II

Partnering to Combat Health Care Fraud

title

8:15 am – 9:30 am
Concurrent Sessions 5

Health IT and the Impact on Investigations (R)

Making the Case with Data: Two Case Studies

10:15 am – 11:15 am
Concurrent Sessions 6

Impact of ICD-10 on the SIU

Compliance and The SIU

11:30 am – 12:30 pm
Concurrent Sessions 7

Dental Benefits and the ACA

Behavioral Health Audits

2:00 pm – 3:00 pm
Concurrent Sessions 8

Using the Anti-Kickback Statute to Attack Corruption in the Healthcare Industry

3:30 pm – 5:00 pm
Hands-On Interactive Sessions

Emerging Fraud Schemes in Medicare

Meningkatkan Keselamatan Pasien dalam Komunikasi Lisan atau Telepon

Pesan atau komunikasi secara lisan lebih berpeluang untuk terjadi kesalahan dibanding dengan pesan yang tertulis atau dikirim secara elektronik. Berbagai permasalahan yang dapat terjadi dan ‘mengganggu’ proses komunikasi lisan antara lain; dialek, artikulasi, aksen bicara yang berbeda-beda, backsound, interupsi, nama obat yang tidak familiar, serta terminologi. Setelah pesan secara lisan diterima harus ditranskripsikan ke dalam pesan atau perintah tertulis yang dapat menambah kompleksitas dan risiko pada proses pemesanan. Satu-satunya ‘catatan’ nyata mengenai pesan lisan ini adalah ingatan pihak-pihak yang terlibat.

Pada saat penerima mencatat pesan lisan, penulis resep berasumsi bahwa penerima pesan mengerti dengan benar. Tidak ada seorangpun kecuali penulis resep yang dapat memverifikasi apakah yang didengar oleh penerima pesan adalah benar. Dan apabila kemudian perawat yang menerima pesan menelpon ke apotek terkait pesan atau perintah tersebut maka akan membuka peluang lebih tejadinya kesalahan. Apoteker bergantung pada keakuratan transkripsi pesan tertulis oleh perawat dan pengucapannya ketika dibacakan kepada apoteker. Nama obat yang terdengar mirip pengucapannya juga mempengaruhi akurasi pesan atau perintah lisan. Banyak laporan yang disampaikan kepada PA-PSRS (Patient Safety Advisory-Pennsylvania Safety Reporting System) terkait nama obat yang salah dengar (misheard) seperti; pengucapan erythromycin yang mirip dengan azithromycin, pengucapan klonopin dengan clonidine. Selain itu kesalahan dengar tidak hanya terbatas pada pengucapan nama obat tetapi dapat terjadi pada pengucapan dosis obat, seperti; pengucapan toradol 50mg padahal dosis yang dimaksud adalah 15mg, pasien biasanya mengkonsumsi 5 tablet phenobarbital 30mg dan dokter memberikan phenobarbital 530mg.

Penyampaian pesan pemberian obat secara bersamaan juga berpeluang menimbulkan kesalahan. Institute for Safe Medication Practices (ISMP) menerima laporan kasus bayi yang lahir prematur mengalami permasalahan pernafasan setelah lahir, bayi tersebut rencananya akan dibawa ke NICU di RS anak terdekat. Sambil menunggu proses transfer, dokter memberikan pesan atau perintah secara lisan untuk memberikan ampicilin 200mg, gentamicin 5mg, dan perawat salah dengar bahwa antibiotik kedua yang diperintahkan adalah gentacimin 500mg, dan karena apotek sudah tutup maka diberikan obat yang dinilai setara yang tersedia, namun ternyata telah terjadi medication error, dan hal tersebut diketahui ketika kru ambulans dari RS anak datang dan menemukan bahwa tingkat gentacimin pada bayi tersebut 590mcg/mL.

Medication error juga dapat terjadi akibat kesalahan dalam mengkomunikasikan hasil laboratorium. Laporan yang diterima PA-PSRS menyebutkan bahwa banyak terjadi kesalahan akibat salah tafsir kadar gula darah untuk pasien terapi insulin. Misalnya kasus dimana pasien diberi 10 unit insulin reguler berdasarkan informasi yang disampaikan secara lisan bahwa gula darah pasien menjadi 353, padahal gula darah pasien tersebut 85.

Masalah signifikan lainnya yang dapat muncul akibat penggunaan perintah lisan adalah gangguan komunikasi terkait informasi pasien yang relevan, seperti; daftar obat saat ini, diagnosis, kondisi co-morbid, dan alergi. Ketika pengobatan dipesan secara lisan dan sistem pengecekan apotek tidak berjalan, maka masalah lainnya akan timbul. Salah satu contoh kasus yang diterima PA-PSRS adalah kejadian dimana seorang perawat menerima pesan secara lisan dari dokter untuk zosyn, pada dokumen pasien disebutkan bahwa pasien alergi terhadap penicillin. Baik perawat dan dokter sama-sama tidak menyadari bahwa zoysin kontraindikasi untuk pasien tersebut.

Pentingnya mengelola pesan atau perintah secara lisan juga mendapat perhatian dari The Joint Commission Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) dengan menambahkan sasaran patient safety nasional untuk mengatasi kecenderungan kesalahan prosedur perintah lisan. Tujuannya menyebutkan bahwa penerima pesan lisan atau telpon harus menuliskan pesan lengkap atau mengetiknya dalam komputer kemudian membacanya kembali dan menerima konfirmasi dari pemberi pesan atau hasil tes.

Fax, surat elektronik, dan penerimaan pesan secara komputerisasi dapat mengurangi kebutuhan perintah atau pesan secara lisan untuk situasi yang tidak gawat, namun sepertinya tidak mungkin untuk benar-benar menghilangkan komunikasi secara lisan tersebut. Untuk itu berbagi praktik yang aman atau safe practices dengan perawat, apoteker, dokter di unit kerja dapat menstimulasi diskusi. Meskipun mungkin tidak semua saran feasibel diterapkan di setiap organisasi tetapi dapat dipergunakan unttuk mengevaluasi praktik yang terjadi di organisasi tersebut. Safe practices tersebut antara lain meliputi:

  • Membatasi komunikasi lisan untuk peresepan atau perintah pengobatan pada situasi yang mendesak dimana tidak memungkinkan untuk dapat langsung menulis atau menggunakan komunikasi elektronik
  • Untuk pemberi resep mengucapkan perintah atau pesan secara jelas. Untuk penerima pesan menulis pesan atau mengetiknya dalam komputer, membaca kembali, menerima konfirmasi dari individu yang memberikan pesan
  • Untuk semua pesan terkait pengobatan termasuk tujuan dari obat tersebut dipastikan agar ‘masuk akal’ dalam konteks kondisi pasien
  • Termasuk dosis mg/ kg seiring dengan dosis spesifik untuk pasien untuk semua pesan atau perintah lisan pengobatan neonatal dan pediatrik
  • Untuk pemberi resep menanyakan informasi penting pasien seperti alergi obat, hasil lab, diagnosis atau kondisi co morbid yang mungkin akan berefek pada obat yang diberikan
  • Menyebutkan dosis obat dalam unit berat, misalnya: mg, gr, mEq, mMol
  • Apabila memungkinkan ada orang kedua yang mendengarkan pesan/ perintah lisan tersebut
  • Mencatat pesan/ perintah lisan secara langsung ke dalam lembar pesanan yang ada di tabel pasien
  • Penerima perintah/ pesan lisan dapat diminta menandatangani, menulis tanggal, waktu, dan catatan pesanan sesuai dengan prosedur peresepan yang ditentukan
  • Larangan perintah lisan untuk kemoterapi karena kompleksitasnya dan kesalahan fatal yang dapat terjadi
  • Larangan permintaan obat dari unit keperawatan ke apotek kecuali pesan lisan tersebut ditranskripsikan ke dalam form pesanan serta dilakukan sekaligus
  • Membatasi pesan/ perintah lisan untuk obat yang ada di dalam formularium
  • Membatasi jumlah tenaga yang kemungkinan akan menerima perintah/ pesan lisan untuk membantu memastikan ‘keterbiasaan’ dengan pedoman fasilitas dan kemampuan untuk mengenali penelpon, sehingga dapat mengurangi potensi perintah/ pesan palsu yang disampaikan melalui telpon
  • Apabila memungkinkan memiliki apoteker penerima perintah/ pesan lisan untuk pengobatan dan memastikan mekanisme bagi apoteker untuk menuliskan perintah lisan langsung ke dalam rekam medis
  • Meningkatan kesadaran permasalahan obat

Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan petugas Patient Safety untuk meningkatkan proses keamanan obat terkait dengan perintah/ pesan secara lisan:

  • Menentukan apakah kebijakan dan prosedur di unit kerja sudah membahas mengenai perintah atau komunikasi secara lisan
  • Apabila sudah ada kebijakan dan prosedur yang relevan, dapat menggunakanelemen yang ada dalam tabel di bawah ini sebagai ceklis untuk mengidentifikasi potensi kesenjangan atau peluang untuk pengembangan

    tabel1
    tabel1

  • Apabila kebijakan dan prosedur sudah membahas semua elemen lingkungn yang aman terkait dengan perintah lisan, maka untuk mengetahui sejauh mana dokter mengikuti prinsip-prinsip tersebut dapat dipergunakan tabel berikut:

    table3

Disarikan Oleh: Lucia Evi I

Sumber : Improving the Safety of Telephone or Lisan Orders. The PA-PSRS Patient Safety Advisory—Vol. 3, No. 2 (June 2006)

http://patientsafetyauthority.org/ADVISORIES/AdvisoryLibrary/2006/Jun3(2)/Pages/01b.aspx 

{module [150]}

Peringatan Hari Kesehatan Nasional 2014: Tingkatkan Tindakan Preventif dalam Keselamatan Pasien

Hari Kesehatan Nasional yang diiperingati setiap tanggal 12 November, pada tahun 2014 ini merupakan peringatan yang ke-50 atau ulang tahun emas HKN. Filosofi yang diangkat HKN kali ini memiliki makna semangat promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan agar perilaku hidup bersih dan sehat diterapkan setiap waktu dan sepanjang hayat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Peringatan HKN Ke-50 ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan dan program-program kesehatan.

Semangat promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan tersebut sejalan dengan tema artikel yang diangkat minggu ini yakni mengenai upaya peningkatan keselamatan pasien dengan melakukan tindakan preventif dan melakukan tindakan promotif terkait teknik pencegahan kesalahan komunikasi lisan yang dapat menyebabkan terjadinya medication error.

Komunikasi atau pemberian pesan/perintah secara lisan antar tenaga kesehatan dapat terjadi pada situasi-situasi tertentu dan hal ini berpeluang menimbulkan permasalahan ketika komunikasi yang terjadi mengalami gangguan seperti; tidak jelasnya pengucapan/artikulasi, dialek bahasa yang berbeda-beda, backsound pada saat komunikasi terjadi hingga terminologi. Gangguan tersebut berpeluang menyebabkan terjadinya medication error yang dapat membahayakan pasien. Untuk itu perlu diterapkan langkah-langkah untuk mencegah atau meminimalkan hal tersebut terjadi, salah satunya dengan melakukan pembacaan kembali atau ‘read back’ terhadap informasi yang diterima secara lisan atau melalui telepon.

Pada artikel yang dimuat minggu ini akan menyajikan hasil penelitian dimana diterapkan teknik ‘membaca kembali’ informasi yang diterima secara lisan terbukti dapat mereduksi terjadinya kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien. Serta disajikan pula beberapa metode yang dapat dijadikan referensi yang disampaikan oleh Patient Safety Advisory-Pennsylvania Safety Reporting System (PA-PSRS) yang dapat dipergunakan untuk meminimalkan terjadinya kesalahan pada proses komunikasi lisan atau telepon, salah satunya dengan ‘membaca kembali’ atau mengulang informasi/perintah, mencatatnya, dan memperoleh verifikasi dari pemberi informasi/perintah bahwa informasi tersebut sudah benar.  Tentu saja upaya peningkatan keselamatan pasien ini memerlukan perhatian dan peran aktif dari seluruh pihak yang terlibat di dalam proses pemberian pelayanan kesehatan agar dapat terwujud. “Selamat Memperingati Hari Kesehatan Nasional Ke-50” (lei)

{module [152]}

When it Comes to Health Care, the Glass is Half-Full

HnNSeveral developments — fewer uninsured, a focus on value, declining mortality, among others — indicate our health system is moving in a positive direction.

Many health care executives and professionals are wary, glass-half-empty people, conditioned by long experience to dwell on business risks. However, today’s health care environment is actually full of good news. Reflect on the following:

Continue reading

Ulang Tahun Emas Hari Kesehatan Nasional

HKN-50Jakarta (ANTARA News) – Peringatan HKN Ke-50 atau ulang tahun emas Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimaksudkan untuk menjadikan perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama setengah abad terakhir ini sebagai inspirasi untuk mempercepat terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta bermutu, produktif, dan berdaya-saing.

Continue reading

Meningkatkan Keselamatan Pasien dengan Membaca Kembali Informasi Penting yang Diterima Melalui Telpon

Penerapan patient safety adalah bersifat menyeluruh untuk semua bagian di rumah sakit. Unit-unit atau bagian-bagian di rumah sakit dengan banyak prosedur atau tindakan di dalamnya mengandung konsekuensi risiko tersendiri untuk terjadinya kesalahan. Hal ini terjadi karena pelayanan kesehatan banyak melibatkan aspek kolaborasi antar banyak tenaga kesehatan sehingga mempunyai dampak terhadap peningkatan potensi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan. Atas dasar tersebut, RS diharuskan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien dengan mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap derajat kesehatan manusia yang setinggi-tingginya.

Dalam perjalananya, banyak sekali permasalahan yang membutuhkan penyelesaian mulai dari skala yang besar hingga cara-cara yang sederhana namun memiliki dampak yang besar, misalnya memperbaiki komunikasi. Ini merupakan hal sederhana namun sangat penting dan seringkali merupakan penyebab dominan medication error sehingga harus menjadi perhatian. Berbagai teknik komunikasi efektif sudah diupayakan untuk mencegah medication error sebagai contoh pada industri penerbangan bahwa pihak penerbangan sudah memiliki kesepakatan yang mensyaratkan pilot agar mengulangi instruksi yang diterima dari pengawas lalu lintas udara. Hal serupa juga bisa diterapkan pada dunia kesehatan bahwa untuk petugas diharapkan melakukan membaca kembali instruksi yang diterima secara lisan maupun melalui telepon atau melaporkan hasil pemeriksaan penting yang membutuhkan verifikasi oleh orang yang menerima informasi.

Meningkatkan keselamatan pasien dengan melakukan read back atau membaca kembali dalam penelitian yang dilakukan oleh Joan Barenfanger dkk mengungkap fakta bahwa dari 822 telepon yang keluar dari pihak laboratorium terdapat 29 kesalahan yang terdeteksi (rata-rata kesalahan 3,5%), telepon tersebut paling tinggi berasal dari tenaga kesehatan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk meminta informasi dan melakukan pengulangan pesan memerlukan waktu hingga 12,8detik per panggilan dimana dapat membenarkan atau mengkoreksi terjadinya 29 kesalahan tersebut. Ternyata hal sederhana tersebut memiliki potensi mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien apabila dapat dilakukan secara maksimal. Meskipun ada sedikit kenaikan biaya ketika melakukan pengulangan pesan kepada penerima hasil laboratorium namun dampak yang dihasilkan sangat besar, karena terkadang kesalahan komunikasi dapat berdampak fatal.

Pada penelitian tersebut juga dijelaskan jenis kesalahan yang sering dilakukan yakni kesalahan nama pasien, kesalahan bahan percobaan dan penolakan bagi si penerima untuk mengulangi pesan. Hal ini perlu ditekankan kembali kepada si penerima hasil laboratorium untuk memastikan bahwa mereka menerima pesan yang benar. Maka, diperlukan sebuah catatan harian yang menanyakan kembali kepada si penerima pesan untuk mengulangi data yang sudah diterima, dengan pernyataan sebagai berikut “untuk menjamin pesanan yang anda terima dengan informasi yang benar, maka silakan mengulangi kembali nama, tes, dan hasil yang sudah kami berikan kepada Anda”.
Hasil dari telephone back dapat dituliskan dalam bentuk catatan harian dengan format sebagai berikut:

Laboratory area

Date

Report result

Repeat result

Person receiving report

Floor/unit receiving report

If refuse to repeat

Time necessary to entire phone call (second)

Time necessary for repeating data

Oleh: Andriani Yulianti

Referensi:
Barenfanger, L Robert (ed). 2014. Improving Patient Safety by Repeating (Read-Back) Telephone Reports of Critical Information. American Society for Clinical Pathology, Am J ClinPathol;121:801-803

{module [150]}

New Health Plans Help Improve Quality and Affordability for Federal Employees and Retirees

new health planHARTFORD, Conn.–()–Aetna (NYSE: AET) is expanding its presence in the Federal Employees Health Benefit Program (FEHBP) with two new options: a new Aetna Direct plan designed for federal retirees; and a new joint venture between Aetna and Inova Health Systems called Innovation Health. These new options add to Aetna’s broad variety of plans already available to federal employees.

Continue reading

RSUD Surakarta Siap Menerima Pasien KIS

RSUD Surakarta
Solo (ANTARA News)
– Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Surakarta siap menampung pasien yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta sampai saat ini belum menerapkan sistem KIS yang diluncurkan Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

RSUD Surakarta prinsipnya tidak ada masalah dan siap menerima pasien jika kondisinya darurat mereka menggunakan kartu KIS. 

Continue reading

BAB V Pembinaan

Apabila hasil deteksi dini terbukti ada potensi fraud yang dilakukan oleh manajemen dan/atau staf rumah sakit, maka perlu adanya upaya pembinaan agar fraud tidak berkembang lebih lanjut di rumah sakit. Pembinaan yang dapat dilakukan adalah berupa pemberian sanksi. Jenis pembinaan yang dapat diberikan kepada pelaku fraud di rumah sakit yaitu Pembinaan Administrasi. Direktur memberi pembinaan administrasi kepada staf/pelaku yang melakukan fraud dengan sanksi disiplin sebagai berikut:

  1. Peringatan tertulis
  2. Skorsing tergantung beratnya tindakan yang dilakukan
  3. Pencabutan kewenangan klinis bagi klinisi

Cat : untuk dibuat bagaimana penindakan fraud yang terbukti

{jcomments on}