Dokter Tolak Besaran Iuran Premi BPJS

JAKARTA (Pos Kota) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak rencana besaran iuran premi peserta Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp22,2 ribu per orang/bulan . Penetapan premi sebesar itu dinilai merugikan dokter yang ikut dalam program BPJS.

”Sebagai organisasi profesi, IDI protes keras! Jika premi tetap ditetapkan tidak sesuai dengan nilai keekonomian dan profesionalitas, maka para dokter akan mogok,” ujar Ketua Umum PB IDI Prijo Sidipratomo, di Jakarta, Selasa (4/9).

Continue reading

IDI Kecewa Tak Dilibatkan

JAKARTA, KOMPAS.com – Meski berada pada ujung tombak layanan kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tidak dilibatkan dalam penentuan besaran iuran jaminan kesehatan. Ini membuat nilai nominal sebesar Rp 22.000 per warga miskin atau sekitar Rp 26,4 triliun, jauh memenuhi harapan standar layanan medis.

“IDI menilai mutu kualitas pelayanan kesehatan akan tercapai, apabila pembiayaan/premi jaminan kesehatan tersebut memadai, sesuai nilai keekonomian dan profesionalitas tenaga kesehatan,” kata Slamet Budiarto, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar IDI, Selasa (4/9/2012) di Jakarta.

Continue reading

Pertemuan ilmiah Tahunan 2012 dan 20 Tahun MMR UGM

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN 2012 DAN 20 TAHUN MMR UGM

“MENDORONG PATIENT- CENTERED CARE DALAM PENDIDIKAN MANAJER DAN MANAJER KLINIS DI RUMAH SAKIT”

Yogyakarta, 10 – 13 Oktober 2012
Kampus UGM Yogyakarta

Kolaborasi antara :

Asosiasi Pendidikan S2 Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia,
Perguruan Tinggi dalam Asosiasi, Indonesian Healthcare Quality Network,
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, dan Minat utama Manajemen Rumahsakit UGM

DAFTAR PESERTA TERPILIH LOLOS SELEKSI ORAL & POSTER

Latar Belakang

Kontribusi Magister Manajemen Rumahsakit (MMR) Fakultas Kedokteran UGM dalam pengembangan kompetensi manajer rumah sakit di Indonesia telah berjalan selama 20 tahun.Apakah refleksi yang bisa dipelajari? Salah satu hal yang paling penting adalah kemampuan MMR UGM untuk menjadi motor perubahan paradigma pelayanan kesehatan, terutama di rumah sakit. MMR UGM terlibat dalam upaya pengembangan manajemen rumah sakit sejak awal tahun 1990-an. MMR UGM turut menjadi “whistle blower” isu medical error dan patient safety dalam pelayanan di rumah sakit pada tahun 2000-an. Bagaimana tantangan ke depan? Usia 20 tahun bagi MMR UGM adalah usia penting untuk meninjau kembali relevansi dan eksistensi MMR dalam upaya pengembangan rumah sakit di Indonesia. Tinjauan ini dikemas dalam Seminar 20 Tahun MMR dengan tema: “Mendorong Patient-Centered Care dalam Pendidikan Manajer dan Manajer Klinis Rumah Sakit”.

Pada sisi praktis, manajer rumah sakit yang kompeten adalah manajer rumah sakit yang memiliki awareness tinggi terhadap kualitas pelayanan.Isu ini akan dibahas dalam Forum Mutu VIII. Indonesian Healthcare Quality Network adalah institusi yang mengembangkan standar kualitas pelayanan rumah sakit pada tingkat global. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi manajer rumah sakit untuk mengembangkan mutu pelayanan di rumah sakit. Isu utama yang menjadi perhatian dalam Forum Mutu VIII ini adalah “Membangun Jejaring Kerjasama dalam Upaya Pengembangan Mutu Pelayanan Kesehatan’.

Forum ini merupakan wahana bagi institusi pendidikan manajemen rumah sakit, mahasiswa, peneliti, dan praktisi, untuk dapat berkumpul dan berdiskusi bersama lintas institusi. Seminar dan Forum Mutu IHQN VIII ini bertujuan untuk: 

  1. Membahas isu-isu kualitas pelayanan dan manajemen rumah sakit terkini
  2. Membahas strategi untuk menerapkan patient-centered care di rumah sakit
  3. Membahas bukti ilmiah yang telah dihasilkan oleh mahasiswa dan alumni yang terkait dengan manajemen rumah sakit

Pertemuan ini diharapkan diikuti oleh pakar manajemen rumah sakit dari berbagai institusi pendidikan rumah sakit di Indonesia, mahasiswa, serta peneliti dan praktisi manajemen rumah sakit.Pertemuan ini juga penting bagi bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) di rumah sakit, dimana isi dari pertemuan ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan program pendidikan dan pelatihan di rumah sakit masing-masing. Pengelola rumah sakit akademik juga diharapkan dapat mengikuti pertemuan ini karena ada beberapa topik yang sangat terkait dengan pengembangan rumah sakit akademik di masa mendatang. Pertemuan diselenggarakan di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

SEMINAR ILMIAH :

Rabu, 10 Oktober 2012

Waktu

Kegiatan

08.00 – 08.30

Registrasi peserta dan coffe break

08.30 – 09.00

Sambutan Pembukaan :

sambutan ketua MMR

Ketua Minat MMR
Ketua Forum Mutu IHQN

Ketua PMPK (dr. Yodi Mahendradata, MSc, PhD)
Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM

Setting the Stage (Moderator : Dr.Yodi Mahendradhata, MSc, PhD (Direktur PMPK FK UGM)

09.00 – 09.20

Kompetensi Manajer Rumah Sakit dalam Pengembangan patient centered care

Prof.Dr. Adi Utarini MSc.,MPH.,PhD (Ketua Minat Utama Manajemen Rumahsakit, Fakultas Kedokteran UGM)

09.20 – 09.40

Patient safety movement and educating Hospital Managers in Germany

Prof. Dr. Jochen Breinlinger O’Really  (MBA Health Care Management, Berlin)

Jochen 1

09.40 – 10.00

20 tahun pengembangan Manajemen di Fakultas Kedokteran UGM

Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD (MMR dan KMPK, FK UGM)

Sesi 1. Peran Klinisi dalam mendorong Implementasi keselamatan pasien di rumah sakit

Moderator : Dr. Andreasta Meliala, Mkes., MARS (MMR FK-UGM)

notulensi

10.00 – 10.30

Peran Klinisi dalam mendorong implementasi keselamatan pasien di rumah sakit

Prof. Dr. Iwan Dwiprahasto, MMedSc., PhD (Clinical Epidemiology and Biostatistics Umit dan MMR FK-UGM)

10.30 – 11.30

Integrasi materi patient-centered care dalam orientasi pendidikan spesialis di FK UGM

Dr. Ova Emilia, Sp.OG, MMed Sc, PhD (Koordinator Pendidikan Dokter Spesialis, FK-UGM)

11.00 – 11.30

Pembahas :

  • Peran profesi dalam mendorong implementasi oleh klinisi di rumah sakit
    Dr. Chairulsjah Sjahruddin, Sp.OG (Assosiasi Profesi Kebidanan dan Kandungan/ POGI)
  • Peran Pendidikan spesialis dalam mendorong implementasi keselamaan pasien oleh Klinisi di Rumah Sakit
    DR. Dr. Lukman Hakim, Sp KK (Universitas Brawijaya)

11.30 – 12.00

Diskusi

12.00 – 13.00

Makan Siang dan Sholat

Sesi 2. Kebijakan pembiayaan kesehatan dan remunerasi tenaga medis untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien

Moderator : Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA (KMPK FK UGM)

notulensi

13.00 – 13.30

Sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia

Anik Handayani Budi Lestari, SE, MM (PT ASKES Indonesia)

13.30 – 14.00

Pembayaran provider di Indonesia

Dr. Andreasta Meliala, MKes., MAS (MMR UGM)

14.00 – 14.30

Pembahas :

DR. Drg. Yulita Hendrartini, MKes (KPMAK FK-UGM dan RS Akademik UGM)

Student / Alumni Stage
Sesi 3. Penelitian patient-centered care di rumah sakit

15.00 –  17.00

Group I Kebijakan dan Lingkungan Eksternal Rumah Sakit (Auditorium FK UGM)

presentasi kelompok I

Moderator : Dr. Dumilah Ayuningtyas, SKM.,MARS & dr. Hanevi Djasri, MARS

  • Evaluasi Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia Oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) : Persepsi RS dan Standar ISQUA oleh Intan Irfianti (UGM)
  • Patient Safety Team Improvement Efforts Based on Six Goal International Patient Safety Standards from The Joint Commission International (Operational Research at Nyai Ageng Pinatih Mother and Children Hospital) oleh Moh.Ainul Yaqin (UNAIR)
  • Patient Safety Development Program Based on Six Goal International Patient Safety Standard in Surabaya Oncology Hospital oleh Mirrah Samiyah (UNAIR)
  • Hospital life cycle strategies : studi multi kasus RS Swasta di DIY oleh Eko Rahmadi (UGM)
  • Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan poli obat tradisional Indonesia di RSUD Dr.Soetomo Surabaya oleh Wisnu Sri Nurwening (UI)
  • Hubungan jampersal pada rasio tenaga kesehatan terhadap pasien dan keluaran klinis pasien bersalin di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta oleh Nur Hayati (UGM)

Group II Manajemen pelayanan Klinis di Rumah Sakit (Ruang Kuliah S3 Program S3 FK UGM)

Moderator : Dr. Dra. Thinnie Nurul.,MARS & Prof.dr.Adi Utarini.,MSc.,MPH.,PhD

  • Peran Umpan Balik Terhadap Peresepan Dokter dalam Upaya Meningkatkan Penerapan Medication Safety Practice oleh Eliza Konda Landowero (UGM)
  • Praktik Keselamatan Pasien Bedah di RSUD Sumbawa Oleh Eva Tirtabayu Hasri (UGM)
  • Implementasi Program Patient Safety di Rumah Sakit Umum di Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Puteri Citra Cinta Asyura Nasution (UGM)
  • Penggunaan Surgical Safety Checklist WHO pada Prosedur Penatalaksanaan Pembedahan di Kamar Operasi BLUD RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh oleh Merina CH (UGM)
  • Healthcare failure mode effect and analysis (HFME) in surgery cere procedure in the X hospital oleh Indiati (UB)
  • Pelaksanaan Surgical Patient Safety terhadap adverse events pasca operasi bedah digestif di instalasi bedah RSUP dr. Sadjito Yogyakarta oleh Erick Siagian (UGM)
  • Analisis Beberapa Faktor Determinan Medical Error pada Pasien Pascabedah di Unit Pelayanan Bedah RSUD Andi Makkasau Parepare oleh Kamaruddin Said (UNHAS)
  • Analisis Faktor Penyebab Medication Error di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar oleh Rusmi Sari Tajuddin (UNHAS)
  • Identifikasi Nursing Errors di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta oleh Budi Santoso (UGM)

Group III Fungsi manajemen di tingkat organisasi rumah sakit (Ruang Kuliah IKD Program S3 FK UGM)

Moderator : Drs. Agastya MBA. MPM

  • Utilization improvement of emergency unit with customer charateristic socio phyicoghraphic analysis and brand knowledge at PHC Hospital Surabaya oleh Martianawati (UNAIR)
  • Analisis value Chain pada unit layanan Trauma Center di RSUD Sunan Kalijaga Demak oleh Teddy Wahyu Nugroho (UNDIP)
  • Pengaruh ekuitas Merek terhadap kinerja customer relationship manajement (CRM) dengan reputasi rumah sakit sebagai variabel intervening oleh Evelina Yuliani (UGM)
  • Studi Interpersonal Communication Skills Tenaga Keperawatan terhadap Patient Satisfaction Ruang Rawat Inap sebagai Evaluasi Program Service Excellence RS Risa Sentra Medika Mataram oleh Aryo Astosaloko (UI)
  • The Arrangement of Brand Expression Based on Marketing Strategy and Brand Strategy oleh Ilham A.Ridlo (UNAIR)
  • Evaluasi sistem remunerasi di RS Dr. R Soetijono Kabupaten Blora oleh Endah Kurnia pembantjanawati (UGM)

19.00 – 21.00 Malam Performance Peserta seminar (University Club UGM)

gala dinner 2

Kamis, 11 Oktober 2012

Sesi 4. Kepemimpinan dan perubahan budaya organisasi menuju budaya keselamatan pasien

Moderator : dr. Hanevi Djasri, MARS (PMPK, Divisi Mutu dan IHQN)

08.30 – 08.50

Kepemimpinan sebagai kapital organisasi untuk membangun budaya keselamatan pasien di rumah sakit

Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD (FK-Universitas Gadjah Mada)

08.50 – 09.10

Understanding the Dynamic Interaction within Indonesia’s Health Care Competition

DR. Indrianty Sudirman, MSi (FE & MARS FKM Universitas Hasanudin)

09.10 – 09.45

Pembahas :

09.45 – 10.15

Diskusi

10.15 – 10.30

Coffe Break

Sesi 5. Strategi komunikasi kepada klinisi dan manajer rumah sakit untuk implementasi patient-centered care

Moderator: DR. Dr. Susilowati., MKes (MMR, FK-UGM)

notulensi

10.30 – 11.00

Strategi berkomunikasi dengan klinisi: Teknik Komunikasi, Role Model, dan Action

DR.Dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K)(pendiri Pelayanan Jantung Terpadu RS. Cipto Mangunkusumo)

11.00 – 12.00

Pembahas :

11.30 – 12.00

Diskusi

12.00 – 13.00

Makan Siang dan Sholat

Sesi 6. Desain fisik dan disain pelayanan sebagai pendukung utama penerapan Patient-centered Care

Moderator: Ni Luh Putu Eka Andayani, SKM, MKes (MMR dan PMPK, Divisi rumah sakit FK-UGM)

13.00 – 13.20

Desain Fisik untuk menciptakan patient centered care : Evidence-based Design

Dyah Permata Kurnia Dewi, ST, M.Kes (MMR FK-GM

13.20 – 13.40

Integrasi desain fisik dan pelayanan di Eka Hospital,

dr. Esther Nurima,MARS (direktur pengelola Korporat Eka Hospital Jakarta)

13.40 – 14.10

Pembahas :
Dr. Kuntjoro Adipurjanto, M.Kes (Ketua ARSADA),

Konsep dan implementasi Green Hospital di Indonesia,
Prof . Dr. Hari Kusnanto, MSc., DrPH (Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM)

Sesi 7. Membangun Jejaring Kerjasama Nasional dan Internasional dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Moderator: Dr. Viera Wardhani, M.Kes (MMRS, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya)

notulensi

14.45 – 15.05

Pengalaman IHQN dalam membangun jejaring kerjasama nasional dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan,

Dr. Hanevi Djasri, MARS (Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN)

15.05 – 15.25

Membangun jejaring kerjasama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan : pengalaman internasional

Dr. Krishna Hort (Nossal Institute, Melbourne)

15.25 – 16.15

Pembahas :

  • Pengembangan RSA di Indonesia : Apakah akan berbasis pada konsep jejaring?, DR. Drs. Syahrir A. Pasinringi, MS (Direktur Umum, Keuangan & SDM Rumah Sakit Akademik Universitas Hasanudin
  • Pengembangan Jejaring RS Siloam di Indonesia, Dr. Grace Frelita (Corporate Siloam Group)
  • Pengalaman PDMMI membangun jejaring kerjasama Nasional dalam peningkatan mutu pelayanan klinis, DR. Dr. Meliana Zailani, MARS (Perhimpunan Dokter Manajer Medik Indonesia)

16.15 – 16.45

Diskusi

suasana ruang

Penutup :
Moderator : Prof.dr.Adi Utarini, MSc, MPH,PhD (MMR UGM)

16.45 – 17.15

Penutup. Trend watching sinergi pengembangan rumah sakit & pendidikan manajer rumah sakit

Drs. Mulyadi, Msc. Akt (Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dan MMR UGM)

PELATIHAN

Auditor Internal untuk Akreditasi Internasional
Berdasarkan Standar dari Joint Commission International /JCI

WORKSHOP

Pengorganisasian Tim Persiapan Akreditasi Internasional
Berdasarkan Standar dari Joint Commission Internatinoal/JCI


Minggu, 14 Oktober 2012: JOGJA HERITAGE FUN BIKE

“Dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat…Dalam acara ulang tahun yang sehat, terdapat acara sepeda gembira…”

Fun Bike 20tahun MMR UGM akan membawa peserta menelusuri Kota Gede, salah satu sisi kota tua di Jogjakarta. Perjalanan bersepeda akan ditempuh melalui jalur khusus sepeda yang tersedia di jalan-jalan Kota Jogja. Rute ini akan menambah wawasan bagi peserta yang baru saja tiba dan akan menempuh kuliah di Jogja. Fun bike diharapkan dapat diikuti oleh mahasiswa S2, alumni, dosen, dan staf kependidikan FK UGM. Peserta berkumpul di Kampus FK UGM, Minggu 14 Oktober 2012 pkl 06.00 WIB. “Jangan mengaku pernah kuliah di Jogja jika belum melihat Kota Gede”.

BIAYA PENDAFTARAN

kegiatan Mahasiswa S2-S3 Alumni MMR-UGM Peserta luar/Umum
Seminar Ilmiah 400,000.00 750,000.00 1,200,000.00
Workshop 1 750,000.00 1,000,000.00 1,500,000.00
Workshop 2 500,000.00 750,000.00 1,000,000.00
Paket Seminar + WS1 1,100,000.00 1,750,000.00 2,700,000.00
Paket Seminar + WS2 850,000.00 1,500,000.00 2,200,000.00

Biaya Pendaftaran Dikirim Ke :

Rekening Bank Mandiri Cab. UGM Jogjakarta, No. Rekening : 137-00-0486003-3, an: dr. Andreasta Meliala, QQ MMR

INFORMASI LEBIH LANJUT :

MMR Jogjakarta:

  • Hernie Setyowati (Menik)
  • Telpun: 0274-581679/551408/0818 26 9560
  • Email : menikmmr@yahoo.co.id

MMR Jakarta :

  • Ki Syahgolang Permata (Kiki)
  • Telpun: 021-52962568/52962569/081511981982
  • Email : mmrkiki@gmail.com

PMPK :

  • Angelina Yusridar (Yusri)
  • Telpun: 0274-549425/08111498442
  • Email : angelina_yusridar@rocketmail.com

 

 

10 Dampak Program Akreditasi Rumah Sakit

Dari tahun 1970‐an, program akreditasi dan organisasi akreditasi muncul dan berkembang. Banyak organisasi akreditasi nasional dan badan internasional (ISQua) yang telah terdaftar menjadi anggota yaitu lebih dari 70 negara. Berikut lembaga Akreditasi di beberapa negara diantaranya :

No

Negara

Lembaga

1.

Internasional

The International Society for Qualit in Health Care (ISQua)

2.

Australia

Australian General Practice Accreditation Limited (AGPAL)

3.

Australia

Australian Council on Healthcare Standards (ACHS)

4.

Canada

Canadian Council on Health Services Accreditation (CCHSA)

5.

India

National Accreditation Board for Hospitals & Healthcare Providers

(NABH)

6.

Irlandia

Irish Health Service Accreditation Board (IHSAB)

7.

Malaysia

Malaysian Society for Quality in Health (MSQH)

8.

Belanda

Netherlands Institute for Accreditation of Hospitals (NIAZ)

9.

Afrika Selatan

Council of Health Service Accreditation South Africa (COHSASA)

10.

Amerika Serikat

Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations

(JCAHO)

11.

Amerika Serikat

Commission on Accreditation of Rehabilitation Facilities (CARF)

Keterlibatan dalam akreditasi di banyak negara adalah kegiatan peningkatan mutu. Namun bukti kasus untuk mendukung klaim dari program akreditasi, kurang. Sehingga banyak negara yang menggunakan program akreditasi tanpa bukti bahwa akreditasi adalah metode terbaik untuk meningkatkan kualitas dan tidak ada bukti tentang efektivitas dari sistem yang berbeda dan cara untuk menerapkannya (Ovretveit J & Gustafson D; 2003). Namun banyak studi yang meneliti hubungan antara akreditasi dan organisasi dan kinerja klinis (Braithwaite J et al, 2006). Sedangkan literatur mengenai manfaat akreditasi belum dikaji sehingga tujuan penelitian ini adalah ingin menjelaskan beberapa penelitian mengenai akreditasi di sektor kesehatan. Penelitian ini menggunakan strategi multi‐method dan dilakukan dari Maret hingga Mei 2007. Pencarian literatur melakukan konsultasi dengan melibatkan lembaga akreditasi sektor kesehatan.

Terdapat 66 penelitian mengenai dampak atau efektivitas program akreditasi telah ditelaah dan dikategorikan menjadi 10 temuan yaitu sikap profesi terhadap akreditasi, mendorong perubahan, dampak organisasi, dampak keuangan, ukuran mutu, program penilaian, kepuasan pasien, keterbukaan pada publik, pengembangan profesional dan issue surveyor. Temua dirangkum sebagai berikut

  1. Sikap para profesional terhadap akreditasi tidak sama : Beberapa penelitian menyatakan bahwa profesional kesehatan mendukung program akreditasi karena program akreditasi merupakan strategi yang efektif untuk menjamin mutu, kinerja organisasi menjadi lebih baik setelah akreditasi, menyediakan pedoman mengenai bagaimana mutu dan safety diatur dalam organisasi yang lebih baik. Namun terdapat penelitian yang menyatakan bahwa profesional kesehatan tidak mendukung program akreditasi karena meningkatkan beban kerja dan stress kerja, dirasakan hanya sedikit memberikan value bagi pasien karena hanya ditujukan pada proses dibanding kualitas, biaya akreditasi yang tinggi (langsung atau tidak langsung), kurangnya konsistensi diantara para penilai (assessors), membutuhkan banyak sumber daya, meragukan manfaat akreditasi untuk organisasi.
  2. Akreditasi mendorong Perubahan dalam organisasi kesehatan: Perubahan signifikan terjadi pada enam area (administrasi dan manajemen, review systems, organisasi staf medis, fasilitas dan keamanan fisik, layanan keperawatan, perencanaan) memberikan peluang bagi profesional kesehatan untuk merefleksikan praktek organisasional, memperkenalkan mengenai program mutu yang berkesinambungan, peningkatan kualitas pada pedoman klinis.
  3. Manfaat akreditasi untuk organisasi belum dapat dipastikan: Akreditasi dapat berdampak pada organisasi diantaranya gaya manajemen lebih partisipatif, adanya dukungan organisasi untuk proses akreditasi dan adanya strategi evaluasi dan strategi untuk peningkatan kualitas. Namun penelitian Mazmanian et al (1993) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam organisasi antara terakreditasi dan tidak terakreditasi.
  4. Akreditasi mempengaruhi Keuangan terkait dengan pembiayaan, tidak terkait dengan pendapatan: Mihalik, G et al (2003) menyatakan bahwa biaya pengeluaran untuk akreditasi harus dilihat sebagai investasi penting dan komitmen pada kualitas. Mayoritas pengeluaran akreditasi adalah biaya untuk persiapan akreditasi yang mana untuk daerah pedesaan dan rumah sakit lebih kecil menanggung beban lebih besar dari adanya akreditasi (Zarkin, G et al; 2006). Penelitian Bukonda, N et al (2003) menjelaskan bahwa adanya keterbatasan sumber daya baik finansial dan keahlian merupakan masalah program akreditasi rumah sakit di Zambian.
  5. Manfaat akreditasi terhadap mutu pelayanan belum dapat dipastikan: Dean B & Epstein, A (2002) menjelaskan bahwa akreditasi berasosiasi positif dengan beberapa pengukuran mutu namun tidak dapat memastikan tingkat kinerja yang artinya akreditasi tidak menjamin kualitas yang baik pada perawatan. Hal yang sama juga terjadi pada penelitian Salmon, J et al (2003) yang menyatakan bahwa akreditasi meningkatkan pencapaian standar akreditasi namun tidak ada peningkatan pada indikator kualitas. Synder C & Anderson, G (2005) menjelaskan bahwa rumah sakit yang berpartisipasi dalam program peningkatan mutu cenderung tidak menunjukkan peningkatan pada indikator mutu dibanding rumah sakit yang tidak berpartisipasi.
  6. Akreditasi meningkatkan kinerja rumah sakit: Kreig, T (1996) menjelaskan bahwa kelebihan program akreditasi meliputi meningkatnya komunikasi, komitmen pada best practice, ketersediaan informasi untuk kegiatan evaluasi dan kegiatan mutu perawatan, fokus yang lebih besar pada pasien, mendukung perubahan, pembinaan staf. Sedangkan Chen, J et al (2003) menyatakan bahwa rumah sakit yang tidak terakreditasi menunjukkan kualitas yang lebih rendah dibanding rumah sakit yang terakreditasi walaupun terdapat banyak variasi dalam kinerja diantara rumah sakit terakreditasi.
  7. Akreditasi tidak terkait dengan kepuasan pasien/pelanggan: Penelitian Heuer, AJ (2004) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara skor akreditasi rumah sakit dengan kepuasan pasien. Dengan akreditasi, pasien menilai bahwa dokter harus meningkatkan ketrampilan interpersonal, akses, ketersediaan informasi untuk pasien (Greco, M et al; 2001)
  8. Sosialisasi laporan akreditasi meningkatkan kredibilitas RS: Ito, H & Sugawa, H (2005) menjelaskan bahwa terdapat asosiasi positif antara skor akreditasi dan pengungkapan ke publik mengenai laporan akreditasi rumah sakit. Rumah sakit yang mengungkapkan laporan akreditasi merasa bahwa pengungkapan akan meningkatkan kredibilitas rumah sakit dan insentif untuk pembenahan rumah sakit.
  9. Akreditasi tidak terkait dengan kinerja para profesional: Dalam pendidikan profesional kesehatan, program akreditasi memiliki dampak kecil namun menguntungkan. Sedangkan penelitian Gropper, R (1996) menjelaskan bahwa program akreditasi tidak berkaitan pada kinerja profesional yang mana tidak ada perbedaan antara profesional kesehatan yang dilatih dan tidak dilatih dalam pemenuhan akreditasi.
  10. Efektifitas akreditasi terkait dengan kemampuan surveyor: Beberapa penelitian terkait akreditasi menjelaskan persoalan surveyor mengenai ketrampilan dan kualitas surveyor dan tantangan yang dihadapi surveyor ketika melakukan survey akreditasi. Persoalan surveyor yang terkait dengan standar akreditasi terdapat dalam penelitian Pongpirul, K et al (2006) menyatakan bahwa surveyor mengalami kesulitan dalam menyampaikan konsep peningkatan mutu pada profesional.

Sumber : Greenfield, D & Braithwaite, J (2007). A review of Health Sector Accreditation Research Literature. International Journal for Quality in Health Care. 20 (3). pp 172‐183

Melibatkan Pasien-Masyarakat di Tingkat Pasien dan Mikro Sistem

(bagian III) Keterlibatan pasien-masyarakat pada tingkatan ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, yaitu keterlibatan yang bertujuan untuk kepentingan individual pasien (yaitu diagnosis dan pengobatan) dan kepentingan pengembangan pelayanan. Sebuah systematic review yang menelaah publikasi pada tahun 1966-2000 menunjukkan bahwa bentuk keterlibatan pasien yang dominan adalah pada tingkat individual, yaitu dengan membuat berbagai sumber informasi untuk edukasi pasien dalam proses diagnosis dan pengobatan penyakitnya (Crawford et al., 2002).

Readmore

IPROSI Cabang Medan Gelar Temu Ilmiah Prostodontik Internasional

Medan (Analisa). Ikatan Prostodonsia Indonesia (IPROSI) Cabang Medan menggelar pertemuan ilmiah prostodontik internasional Medan 2012 (Medan International Prosthodontic Scientific Meeting/1st Medan Inpro 2012) selama tiga hari di Hotel JW Marriot, Medan, 30 Agustus-1 September.

Pertemuan bertema “Interprofessional Collaboration in Prostodhontic Treatment to Improve Quality of Life” itu diikuti ratusan peserta dan pembicara dari tujuh negara.

Continue reading

RS Unair Fokus Pasien Kaya

SURABAYA (Okezone.com) – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) menetapkan diri melayani pasien kaya. Mereka berupaya mencegah pasien berobat ke luar negeri.

Direktur Utama RS Universitas Airlangga, Surabaya, Prof. Muh Dikman Angsar SpOG(K) berkata, permintaan layanan kesehatan orang kaya sangat tinggi. Mulai dari keinginan menyembuhkan penyakit sampai keinginan untuk mempercantik diri.

Continue reading

Jangan Berobat ke Luar Negeri!

Oleh Wimpie Pangkahila

KOMPAS. Presiden SBY baru-baru ini menyatakan ketidaksenangannya terhadap warga bangsa yang sering berobat ke luar negeri.

Meski memicu banyak gugatan, pernyataan ini sebenarnya bisa menjadi momentum introspektif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Continue reading

Jaga Mutu Dokter, UKDI Tak Mungkin Dihapus

JAKARTA (HarianTerbit)— Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), menurut Sekjen PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Slamet Budiarto, tidak mungkin dihapuskan. Ini amanat UU Praktik Kedokteran. Namun, sebagai penyelenggara, PB IDI akan memperbaiki mekanisme dan pola UKDI. Kata kuncinya terletak pada transparansi.

“Adanya protes-protes, keberatan, atau pemanggilan oleh DPR kan karena kurang transparansi saja. Kalau pihak-pihak itu mengetahui lebih jauh mengenai UKDI, saya yakin mereka akan memahaminya,” kata Slamet Budiarto kepada Harian Terbit, Rabu (1/8), di Jakarta, terkait desakan dihapuskannya UKDI.

Continue reading

Obat Generik Berlogo Bukan Obat Orang Miskin

JAKARTA (KOMPAS) – Banyak komentar beragam di masyarakat ketika bicara soal obat generik. Dalam survei kecil-kecilan yang dilakukan Kompas.com di sejumlah apotek di kawasan Jakarta Timur, 13 dari 20 orang menganggap obat generik sebagai obat kelas dua, dan kurang berkhasiat ketimbang obat bermerek atau branded.

Seperti diungkapkan Doni (24), yang ditemui saat hendak menebus obat di apotek untuk orangtuanya yang sedang sakit. Pria lajang ini mengatakan, “Ya lebih bagus obat bermerek lah, soalnya dia punya merek. Kalau generik kan nggak punya.”

Sikap berbeda ditunjukkan Gunawan (34), seorang karyawan bank swasta di Jakarta. Dengan mantap ia mengatakan tak ada perbedaan antara obat generik dan bermerek. “Sama saja. Malah kalau berobat saya minta biar diresepin obat generik. Udah murah, khasiatnya sama aja,” katanya.

Continue reading