Hanevi Djasri, Melbourne, Sept 2012. Menjawab tuntutan perkembangan tehnologi informasi, maka ACHS sebagai salah satu lembaga akreditasi di Australia telah menggunakan IT secara maksimal untuk setiap tahap program akreditasi, mulai dari: Sosialiasi program dan standar; Sumber belajar (resources) yang berisi pedoman, tools dan case studies; Proses survey termasuk untuk input hasil penilaian; Mengelola survior termasuk untuk penugasan; Benchmark indikator klinis.
Terlibat Dalam Pengembangan Program Akreditasi Akan Meningkatkan Dukungan Pemerintah Daerah
Hanevi Djasri, Melbourne, Sept 2012. Sebelum terbitnya National Health Reform Act 2011, di Australia penyusunan program, standar, pelaksanaan dan pelaporan akreditasi hanya terkait antara lembaga akreditasi (misalnya ACHS) dengan sarana yang diakreditasi (misalnya RS), sehingga pemerintah daerah dan masyarakat tidak terdorong atau tidak mengetahui peran mereka untuk mendukung program akreditasi.
Akreditasi RS Sebagai Bagian dari Framework Nasional untuk Safety And Quality
Hanevi Djasri, Melbourne, Sept 2012. Setelah 6 (enam) tahun proses pengembangan, Australia melakuan reformasi program safety and qualtiy dalam bidang pelayanan kesehatan melalui penerbitan undang-undang (National Health Reform Act 2011) yang antara lain berisi pembentukan ACSQHC (Australian Commission for Safety and Quality in Health Care) sebagai komisi nasional untuk keselamatan dan mutu sarana pelayanan kesehatan yang bertindak sebagai pemimpin dan koordinator program keselamatan dan mutu termasuk untuk program akreditasi yang dilakukan oleh berbagai lembaga akreditasi (termasuk ACHS, sebuah lembaga akreditasi RS yang paling besar).
Pengorganisasian Tim Persiapan Akreditasi Internasional
Kerangka acuan workshop
Pengorganisasian Tim Persiapan Akreditasi Internasional
Berdasarkan Standar dari Joint Commission Internatinoal/JCI
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, 12 Oktober 2012
Latar Belakang
Standar akreditasi dari Joint Commission International (JCI) terdiri dari 2 fungsi, yaitu Patient-centered standards dan Healthcare organization management standards. Kedua fungsi ini menunjukan bahwa standar akreditasi JCI diterapkan disemua bagian/bidang/unit didalam RS, baik unit kerja yang memberikan pelayanan langsung kepada pasien maupun tidak langsung, baik yang bersifat fungsional maupun yang manajerial. Lebih lanjut masing-masing bab dalam standar JCI saling terkait sehingga membuat seluruh unit di RS harus bekerjasama dalam memenuhi standar akreditasi tersebut.
Cakupan standar akreditasi JCI pada seluruh aspek RS tersebut memerlukan pengorganisasian yang efektif untuk memastikan dan efektifitas serta efisiensi penggunaan sumber daya rumah sakit. Disamping itu pada saat ini di RS telah terdapat berbagai bagian/bidang dan tim-tim yang terkait dengan program peningkatan mutu dan keselamatan pasien, juga memiliki berbagai tupoksi yang terkait dengan kegaitan pemenuhan standar akreditasi JCI sehingga pengorganisasian baik menjadi lebih penting.
Tujuan
Secara umum workshop setengah hari ini bertujuan untuk mendiskusikan berbagai bentuk pengorganisasian dan pembagian berbagai peran tim persiapan dan penerapan akreditasi JCI yang dapat terdiri dari tim standar, tim pendukung dan tim pelaksana penerapan akreditasi JCI. Secara khusus workshop ini bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi bidang/bagian/unit/tim yang terlibat dalam pemenuhan standar akreditasi JCI
- Menyusun pola dan bentuk pengorganisasian antar berbagai bidang/bagian/unit/tim tersebut
Peserta
Peserta workshop ini diharapkan berasal dari para pimpinan dan manajer RS yang sedang mempersiapkan diri untuk memenuhi standar akreditasi RS
Fasilitator
Fasilitator akan berasal dari Tim Arkeditasi JCI RSUP dr. Sardjito dan dari Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN). RSUP dr. Sardjito adalah salah satu RSUP yang sedang mempersiapkan diri untuk memperoleh akreditasi dari JCI.
Agenda Workshop
|
Jam |
Topik |
Fasilitator |
|
Hari I: |
Jumat 12 Oktober 2012 |
|
|
09:00-09:30 |
Pengantar Workshop: Pengorganisasian Tim Akreditasi |
|
|
09:30-10:30 |
Diskusi Pengalaman RSUP dr. Sardjito dalam Pengorganisasian Tim Akreditasi |
|
|
10:30-11:00 |
Coffe break |
|
|
11:00-12:00 |
Diskusi Kelompok: Mengidentifikasi bidang/bagian/unit/tim yang terlibat dalam pemenuhan standar akreditasi JCI |
Sri Mulatsih (RSUP dr. Sardjito) |
|
12:00-13:00 |
Lunch break |
|
|
13:00-14:00 |
Diskusi Kelompok: Menyusun pola dan bentuk pengorganisasian antar berbagai bidang/bagian/unit/tim |
Sri Mulatsih (RSUP dr. Sardjito) |
|
14:00-15:00 |
Presentasi dan Diskusi Penyusunan Pengorganisasian Tim Persiapan Akreditasi Internasional |
Tempat Pelatihan : Ruang Senat FK UGM, Gedung KPTU Lt. 2 FK UGM
Kontak Person
MMR Jogjakarta :
- Hernie Setyowati (Menik)
- Telpun: 0274-581679/551408/0818 26 9560
- Email : menikmmr@yahoo.co.id
MMR Jakarta :
- Ki Syahgolang Permata (Kiki)
- Telpun: 021-52962568/52962569/081511981982
- Email : mmrkiki@gmail.com
PMPK :
- Angelina Yusridar (Yusri)
- Telpun: 0274-549425/08111498442
- Email : angelina_yusridar@yahoo.com
Auditor Internal untuk Akreditasi Internasional
Kerangka Acuan Pelatihan
Auditor Internal untuk Akreditasi Internasional
Berdasarkan Standar dari Joint Commission International /JCI
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, 12-13 Oktober 2012
Latar Belakang
Standar akreditasi dari Joint Commission International (JCI) terdiri dari 2 fungsi, yaitu Patient-centered standards dan Healthcare organization management standards. Penilaian kesesuaian standar-standar yang ada pada 2 fungsi tersebut lebih ditekankan pada pelaksanaan nyata. Ketersediaan dokumen kebijakan, prosedur dan instruktur kerja saja tidak memadai untuk membuktikan kepatuhan terhadap standar akreditasi JCI namun juga diperlukan bukti praktek sehari-hari.
Untuk memastikan penerapan dilapangan maka diperlukan suatu mekanisme yang efektif untuk memastikan perencanaan penerapan standar akreditasi telah diterapkan dilapangan, salah satu metodenya adalah dengan melakukan “tracer” atau telusur baik tracer pelayanan yang diterima oleh pasien maupun tracer untuk menilai kesesuaian sistem manajemen.
Audit internal dapat menjadi tools yang efektif untuk memastikan standar JCI telah diterapkan dalam praktek sehari-hari, namun untuk menjalankan audit internal yang efektif dibutuhkan auditor yang memiliki kompentensi tidak saja sebagai penilai tetapi juga sekaligus sebagai pembimbing.
Tujuan
Secara umum tujuan Pelatihan Audit Internal ini bertujuan untuk meningkatkan calon tim auditor intenal untuk menyusun rencana dan melaksanakan audit internal kesesuaian standar JCI. Secara khusus pelatihan ini bertujuan untuk:
- Memahami Standar Akreditasi JCI
- Memahami pelaksanaan Patient Tracer (individual)
- Memahami pelaksanaan System Tracer (Data Management, Infection Control, dan Medication Management)
Peserta
Peserta pelatihan diharapkan berasal dari para manajer/pengelola rumah-sakit yang telah atau akan menjadi anggota tim auditor internal untuk menilai mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit masing-masing
Fasilitator
Fasilitator akan berasal dari Tim Auditor Internal Eka Hospital dan dari Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN). Eka Hospital adalah RS swasta yang telah memperoleh akreditasi JCI pada tanggal 11 Desember 2010.
Agenda Pelatihan
|
Jam |
Topik |
Fasilitator |
|
Hari I: |
Jumat 12 Oktober 2012 |
|
|
09:00-09:30 |
Pembukaan dan Pre Test |
Hanevi Djasri (IHQN) |
|
09:30-10:30 |
Patient-centered standards dalam akreditasi JCI |
Tim Eka Hospital |
|
10:30-11:00 |
Coffee break |
|
|
11:00-12:00 |
Patient-centered standards dalam akreditasi JCI (lanjutan) |
Tim Eka Hospital |
|
12:00-13:00 |
Lunch break |
|
|
13:00-14:00 |
Healthcare organization management standards dalam akreditasi JCI |
Tim Eka Hospital |
|
14:00-15:00 |
Healthcare organization management standards dalam akreditasi JCI (lanjutan) |
Tim Eka Hospital |
|
|
||
|
Hari II |
Sabtu 13 Oktober 2012 |
|
|
09:00-10:00 |
Tim Eka Hospital |
|
|
10:00-10:30 |
Coffee break |
|
|
10:30-11:30 |
Tim Eka Hospital |
|
|
11:30-12:30 |
Tim Eka Hospital |
|
|
12:30-13:30 |
Lunch break |
|
|
13:30-14:30 |
Tim Eka Hospital |
|
|
14:30-15:00 |
Penutupan dan Post Test |
Hanevi Djasri (IHQN) |
Tempat Pelatihan : Ruang Senat FK UGM, Gedung KPTU Lt. 2 FK UGM
Kontak Person
MMR Jogjakarta :
- Hernie Setyowati (Menik)
- Telpun: 0274-581679/551408/0818 26 9560
- Email : menikmmr@yahoo.co.id
MMR Jakarta :
- Ki Syahgolang Permata (Kiki)
- Telpun: 021-52962568/52962569/081511981982
- Email : mmrkiki@gmail.com
PMPK :
- Angelina Yusridar (Yusri)
- Telpun: 0274-549425/08111498442
- Email : angelina_yusridar@yahoo.com
BPJS KESEHATAN : Tidak Ada Perbedaan Pelayanan untuk Masyarakat
JAKARTA (Suara Karya): Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) memastikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang beroperasi pada 1 Januari 2014 tidak membedakan pelayanan. Masyarakat yang menjalankan proses rawat inap di kelas 1, 2, dan 3 akan mendapat pelayanan yang sama.
“Harga obatnya sama, harga jasa dokter juga sama. Yang membedakan hanya harga kamarnya saja. Sebelumnya, masyarakat yang dirawat di kelas 1, harga obat dan jasa dokternya dihitung berdasarkan kelas 1. Nantinya tidak lagi,” kata Ketua DJSN Chazali Situmorang di Jakarta, akhir pekan lalu.
Ditandatangani, RS Harapan Kita dengan IJN Malaysia
JAKARTA (Pos Kota) – Indonesia boleh berbangga memiliki Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta yang sudah berkelas dunia.
Meski sudah memiliki reputasi internasional, RSJPD Harapan Kita terus berupaya meningkatkan kemampuan teknis para ahli medisnya, di antaranya dengan melakukan kerja sama (MOU) dengan Institut Jantung Negara (IJN) Malaysia.
Selangkah Lagi Rumah Sakit Jeneponto Naik Tipe B
BONTOSUNGGU (FAJAR) — Mutu pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Lanto Dg Pasewang Kabupaten Jeneponto, harus terus ditingkatkan untuk naik dari tipe C ke tipe B.
Bupati Jeneponto, Radjamilo, menyebutkan, seiring hampir rampungnya pembangunan rumah sakit baru tersebut, mutu pelayanan harus lebih diutamakan dan berkualitas. “Ini untuk mengenjot peningkatan IPM daerah ini,” imbuhnya, Senin 1 Oktober kemarin.
Meningkatkan Peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam Akreditasi RS di Indonesia
Oleh : dr. Hanevi Djasri, MARS
PMPK UGM & The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute) didukung oleh AusAID telah mengadakan fellowship dari Australian Leadership Award (ALA) pada tanggal 3-21 september 2012. Program selama 3 minggu fellowship ini bertujuan untuk mengambil pembelajaran dari Australia, mendiskusikan isu-isu yang terkait dan relevan di Indonesia serta menetapkan rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk mendukung Kemenkes mencapai target tersebut.
Peserta program ALA 2012 terdiri dari 2 kelompok, kelompok I terdiri dari 13 orang yang merupakan kelompok penelaah sistem akreditasi di Australia berdasarkan materi yang disampaikan atau diberikan oleh narasumber, kemudian membawanya kedalam diskusi dengan konteks di Indonesia baik untuk mengidentifikasi relevansi serta urgensinya pembelajaran tersebut untuk diterapkan di Indonesia. Kelompok ini kemudian juga menyusun rencana tindak lanjut (POA). Kelompok I terdiri dari perwakilan Kemenkes (2 orang), Dinkes Provinsi DIY (3 orang), Dinkes Provinsi Jateng (2 orang), KARS (2 orang), PERSI (2 orang) dan PMPK UGM (2 orang) anggota ditunjuk oleh pimpinan instansi masing-masing. Hasil penyusunan POA dari Kelompok I kemudian dipresentasikan kepada Kelompok II yang merupakan kelompok pengambil keputusan yang terdiri dari 6 orang, mewakili BUKR (1 Kasubdit, 1 staf), KARS/PERSI (1 Ketua), Dinkes Provinsi (2 Kadinkes) dan UGM (1 narasumber).

Program ALA 2012 meliputi kegiatan literatur review, presentasi dan diskusi dengan narasumber, kunjungan ke lapangan serta diskusi kelompok untuk mengidentifikasi lesson learnt, isu-isu di Indonesia dan Plan of Action baik POA bersama maupun individu institusi. Seluruh kegiatan tersebut difasilitasi oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PMPK FK-UGM) bekerjasama dengan The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute).

Terdapat 3 bagian tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peran Dinkes provinsi dalam program akreditasi RS. Bagian pertama berada ditingkat makro, yaitu menyusun Kerangka Kerja Nasional Peningkatan Mutu dan Keselamatan dalam Pelayanan Kesehatan, pedoman ini akan menjelaskan posisi program akreditasi serta menjelaskan peran dan kewenangan Kemenkes, KARS, Dinkes provinsi/kab/kota, PERSI pusat/daerah. Peran tersebut meliputi tahap persiapan, penyelenggaraan dan monitoring-evaluasi program akreditasi. Pedoman ini juga akan terkait dengan peran Badan Pengawas RS (BPRS) dan Komisi Nasional Keselamatan Pasien RS (KNKPRS)
Bagian kedua berada ditingkat mikro, yaitu Mengembangkan Proses Penyelenggaraan Program Akreditasi oleh KARS. Bagian ini akan terkait dengan draft Pedoman Tatalaksana Survei Akreditasi yang saat ini telah disusun oleh KARS yang akan dilengkapi dan disempurnakan pada bagian terkait dengan keterlibatan dan komunikasi Dinkes provinsi pada saat pra-survei, survei dan pasca survei. Disamping itu bagian ini akan terkait dengan rencana kerja KARS termasuk dalam memperoleh akreditasi dari ISQua.
Bagian ketiga adalah Capacity Building Tim Dinas Kesehatan Provinsi (akan terdiri dari staf dinkes, PERSI daerah, klinisi dan BPRS provinsi), materi capacity building terutama akan berasal dari pedoman yang disusun pada langkah pertama dan kedua. Peningkatan kompetensi ini tidak bertujuan menjadikan Tim Dinkes Provinsi sebagai Survior ataupun Pembimbing KARS namun sebagai regulator, pembina dan pengawas RS yang berada diwilayah kerjanya.
Jawa Tengah sebagai salah satu peserta Program ALA 2012 telah menyanggupi sebagai lokasi Pilot Project Peningkatan Peran Dinkes Provinsi dalam Program Akreditasi yang dapat segera dilakukan pada bulan Oktober-Desember tahun 2012 ini. Hasil pilot project ini diharapkan dapat menjadi model Nasional yang akan disosialisasikan pada tahun 2013.

|
MINGGU I |
||
|
Tanggal |
Agenda |
Narasumber |
|
3 September 2012 |
orientasi peserta mengenai program ALA Fellowship |
Nossal Institute |
|
4 September 2012 |
Literature review course |
|
|
5 september 2012 |
Me-review literatur :
|
Peserta ALA |
|
6 september 2012 |
Persentasi hasil me-review literatur dan diskusi |
Perserta ALA & Nossal Institute |
|
7 september 2012 |
Short course tentang akses penyandang keterbatasan fisik (disability) terhadap pelayanan publik. |
|
|
MINGGU II |
||
|
10-12 September 2012 |
Short course di Australian Concil for Health Service (ACHS) (Lembaga Akreditasi) |
ACHS |
|
13 September 2012 |
Persentasi mengenai peran board atau badan pengawas di RS |
Northern Health Board (Badan Pengawas tingkat distrik). |
|
14 September 2012 |
Presentasi tentang Australian Commision on Safety and Quality in Health Care (ACSQHC) |
Margaret Banks (ACSQHC) |
|
MINGGU III |
||
|
17 September 2012 |
penyusunan kesimpulan mengenai points pembelajaran kelompok I kepada kelompok II |
Peserta ALA |
|
18 September 2012 |
Professor Rosemary Aldrich (Nossal Institute) |
|
|
19 September 2012 |
Victorian Deptartemen of Health |
|
|
20-21 September 2012 |
Penyusunan plan of action dari masing-masing kelompok (6 topik dengan 10 action Plan) |
Peserta ALA |
Daftar peserta
Peserta gelombang I (penelaah sistem dan penyusun POA)
- Yuli Kusumastuti, Dinkes DIY
- Arif Dani Dahlius, RS Kota Jogja
- Betha Candrasari, Badan Mutu Jogja
- Sadono Wiwoho, Dinkes Jateng
- Ida Witiasati Idajati, RS Moewardi, Solo
- Octi Palupi Rahayuningtyas, Kemenkes
- Yuwanda Nova, Kemenkes
- Luwiharsih, KARS
- Masaah Amatyah, KARS
- Handjaja Rono Sulistyo, PERSI
- Johan Thamrin Saleh, PERSI
- Hanevi Djasri, PMPK UGM
- Luh Putu Eka Putri Andayani, PMPK UGM
Peserta gelombang II (pengambil keputusan)
- Sutoto, Ketua KARS & PERSI
- Anung Sugihantono, Kadinkes Jateng
- Sarminto, Kadinkes DIY
- Eka Anugrahi, Kasubdit RS Pendidikan, BUK-R, Kemenkes
- Yayan Gusman, Staf Subdit Akreditasi, BUK-R, Kemenkes
- Adi Utarini, Narasumber PMPK & MMR UGM
Melibatkan Pasien-Masyarakat di Tingkat Organisasi dan Lingkungan
(bagian IV) Institute for Patient and Family-Centered Care mengidentifikasi berbagai strategi dan cara bagi lembaga pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit untuk melibatkan pasien dan masyarakat dalam meningkatkan keselamatan pasien. Pasien dan masyarakat dapat terlibat dalam dewan penasehat atau dewan pengawas rumah sakit, komite atau kelompok kerja keselamatan pasien atau yang terkait lainnya, melakukan perubahan konsep keluarga sebagai pengunjung menjadi mitra dalam keselamatan pasien, membangun informasi dan edukasi keselamatan pasien kepada pasien-masyarakat