Quality Management System (QMS) sebagai Solusi AI Translation Gap dalam Pelayanan Kesehatan

Quality Management System (QMS) sebagai Solusi AI Translation Gap dalam Pelayanan Kesehatan

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin banyak digunakan dalam pelayanan kesehatan dalam membantu diagnosis, memprediksi risiko pasien, hingga mendukung pengambilan keputusan klinis. Namun, inovasi AI yang benar-benar berhasil diterapkan dalam praktik klinis diketahui hanya sedikit. Fenomena ini dikenal sebagai AI translation gap, yaitu kesenjangan antara hasil penelitian AI dan implementasinya. Overgaard, et. al (2023) menyoroti bahwa salah satu penyebab utama kesenjangan tersebut adalah ketidaksiapan organisasi pelayanan kesehatan dalam mengelola pengembangan, implementasi, dan pemantauan teknologi AI secara sistematis. Para penulis mengusulkan penerapan Quality Management System (QMS) atau Sistem Manajemen Mutu sebagai kerangka kerja yang dapat membantu rumah sakit dan organisasi kesehatan memastikan bahwa teknologi AI yang digunakan benar-benar aman, efektif, etis, dan sesuai regulasi. 

QMS merupakan sistem yang mendokumentasikan proses, prosedur, tanggung jawab, serta standar mutu yang harus dipenuhi sepanjang siklus hidup suatu produk. Dalam konteks AI kesehatan, QMS tidak hanya mengatur tahap pengembangan teknologi tetapi juga mencakup implementasi, pemeliharaan, evaluasi, hingga pemantauan setelah sistem digunakan dalam pelayanan pasien. Terdapat tiga komponen utama QMS yang penting untuk mendukung implementasi AI di layanan kesehatan, yaitu budaya dan sumber daya manusia (People & Culture), proses dan data (Process & Data), serta teknologi yang tervalidasi (Validated Technology). Ketiga komponen tersebut harus berjalan secara terpadu agar rumah sakit mampu mengintegrasikan inovasi AI dengan standar pelayanan klinis yang tinggi. 

Dalam penerapannya, salah satu tantangan terbesar QMS adalah masih terpisahnya penggunaan AI dan proyek perbaikan mutu rumah sakit. Ketika teknologi AI dianggap siap digunakan untuk pelayanan pasien, tim pengembang sering mengulang beberapa tahapan karena belum memenuhi persyaratan mutu, dokumentasi, atau regulasi. Kondisi ini menyebabkan pemborosan waktu, biaya, dan sumber daya. Oleh karena itu, peneliti juga menyarankan pentingnya pembentukan budaya mutu berbasis AI yang baik sejak dini. Pembentukan budaya mutu dapat dimulai dari pengendalian desain AI, pengelolaan versi perangkat lunak, validasi sistem, audit, dan pengecekan dokumentasi yang dapat ditelusuri. 

Selain aspek mutu, penerapan prinsip etika juga menjadi perhatian utama. AI di bidang kesehatan harus memenuhi prinsip efektivitas, keselamatan, keadilan, kesetaraan, akuntabilitas, transparansi, privasi, dan keamanan data. Organisasi kesehatan tetap perlu menerapkan prinsip-prinsip tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab profesional dan perlindungan pasien ketika suatu aplikasi AI belum termasuk kategori yang diatur secara ketat oleh regulator. 

Overgaard, et. al (2023) juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis risiko (risk-based approach). Dalam pendekatan ini, rumah sakit harus mengidentifikasi potensi risiko yang timbul dari penggunaan AI kemudian menganalisis dampaknya terhadap pasien maupun alur kerja klinis serta merancang strategi mitigasi. Risiko yang perlu diperhatikan tidak hanya terkait keselamatan pasien tetapi juga bias algoritma, ketidakadilan pelayanan, pelanggaran privasi data, hingga kegagalan sistem yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan. Secara lebih lanjut, sistem AI tentunya juga harus terus dipantau melalui mekanisme monitoring, pelaporan insiden, analisis akar masalah, dan tindakan korektif dan pencegahan (Corrective and Preventive Action/CAPA). Melalui cara ini, organisasi dapat mendeteksi perubahan performa algoritma, mengidentifikasi masalah sejak dini, dan melakukan perbaikan sebelum berdampak pada pasien. 

Pada dasarnya, keberhasilan AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan algoritma tetapi juga kesiapan organisasi dalam mengelolanya. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan perlu memahami cara kerja dan keterbatasan sistem AI yang digunakan serta berpartisipasi dalam proses evaluasi dan pemantauan. Keterlibatan pengguna akhir menjadi faktor penting untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar mendukung kebutuhan klinis dan meningkatkan mutu pelayanan. Melalui pendekatan tersebut, rumah sakit tidak hanya dapat mempercepat adopsi inovasi digital tetapi juga menjaga keselamatan pasien dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi kesehatan berbasis AI. 

 

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

  • Overgaard, S.M., Graham, M.G., Brereton, T. et al. Implementing quality management systems to close the AI translation gap and facilitate safe, ethical, and effective health AI solutions. npj Digit. Med. 6, 218 (2023). https://doi.org/10.1038/s41746-023-00968-8

 

Bimbingan Teknis “Implementasi FMEA dan RCA untuk Mendukung Keselamatan Pasien di Fasilitas Kesehatan”

Bimbingan Teknis “Implementasi FMEA dan RCA untuk Mendukung Keselamatan Pasien di Fasilitas Kesehatan”

Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Berbagai kejadian tidak diharapkan (KTD) yang terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan, baik di tingkat pelayanan primer maupun rujukan, menunjukkan perlunya upaya sistematis untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko sebelum maupun setelah insiden terjadi.

Dalam standar akreditasi fasilitas kesehatan, baik FKTP maupun FKRTL, pengelolaan risiko menjadi salah satu elemen penting yang harus diterapkan secara berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan adalah Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) sebagai metode proaktif untuk mengidentifikasi potensi kegagalan proses pelayanan sebelum menimbulkan dampak terhadap pasien. Melalui FMEA, organisasi dapat mengenali titik-titik risiko, menentukan prioritas perbaikan, serta merancang tindakan pencegahan secara sistematis.

Selain pendekatan proaktif, fasilitas kesehatan juga perlu melakukan analisis terhadap insiden yang telah terjadi melalui Root Cause Analysis (RCA). RCA merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu kejadian sehingga organisasi dapat mengembangkan solusi yang berfokus pada perbaikan sistem dan mencegah terulangnya kejadian serupa.

Meskipun FMEA dan RCA telah menjadi bagian dari persyaratan akreditasi, masih banyak fasilitas kesehatan yang menghadapi tantangan dalam memahami konsep, menentukan prioritas risiko, menyusun analisis, serta menerjemahkan hasil analisis menjadi rencana perbaikan yang efektif. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas kesehatan melalui kegiatan bimbingan teknis yang membahas konsep dan praktik penerapan FMEA dan RCA secara komprehensif.

Tujuan Umum

Meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerapkan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA) sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan.

Tujuan Khusus:

  1. Memahami konsep dasar FMEA dan RCA dalam pengelolaan risiko pelayanan kesehatan.
  2. Mengidentifikasi proses prioritas yang memiliki risiko tinggi untuk dilakukan analisis.
  3. Menyusun diagram proses dan mengidentifikasi potensi failure mode serta dampaknya.
  4. Menentukan prioritas risiko menggunakan pendekatan Risk Priority Number (RPN).
  5. Melakukan analisis akar penyebab masalah menggunakan metode RCA.
  6. Menyusun rancangan perbaikan proses berdasarkan hasil analisis.
  7. Menyusun rencana tindak lanjut (Plan of Action) untuk implementasi perbaikan.

Sasaran

  1. Pengelola fasilitas kesehatan: Direktur, manajer mutu, komite mutu, tim PMKP, tim manajemen risiko, kepala unit/instalasi, kepala puskesmas, pimpinan klinik, dan pengelola fasilitas kesehatan lainnya.
  2. Regulator dan pemangku kepentingan: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, lembaga akreditasi, LSM kesehatan, dan institusi terkait lainnya.
  3. Tenaga kesehatan: Dokter, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, tenaga kesehatan masyarakat, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Akademisi dan mahasiswa: Mahasiswa, dosen, peneliti, dan peserta pendidikan profesi maupun spesialis.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Konsultan, akademisi, peneliti, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu, keselamatan pasien, dan manajemen risiko pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Coming soon
Waktu : 09.00 – 13.00 WIB

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

09.00 – 09.15

Pre-test dan Pembukaan

Andriani Yulianti, MPH

09.15 – 10.00

Materi 1:
Konsep Dasar FMEA dan RCA serta Langkah-langkah Pelaksanaannya

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

10.00 – 11.00

Materi 2:
Manajemen Risiko, Penyusunan Diagram Proses, dan Identifikasi Potential Failure Modes

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

11.00 – 12.00

Praktik Perhitungan RPN, Penentuan Prioritas Risiko, RCA, dan Redesign Proses

Andriani Yulianti, MPH

12.00 – 12.40

Presentasi Hasil Praktik dan Diskusi

Andriani Yulianti, MPH

12.40 – 13.00

Post-test, Diskusi Rencana Tindak Lanjut, dan Penutup

Andriani Yulianti, MPH

 

Registrasi Waiting List

Pelatihan ini saat ini belum membuka pendaftaran resmi dan menggunakan sistem waiting list untuk pendataan calon peserta. Peserta yang telah terdaftar akan mendapatkan informasi lebih awal mengenai jadwal, biaya, serta mekanisme pendaftaran ketika pelatihan akan diselenggarakan.

Link registrasi waiting list peserta:  KLIK DISINI

Perkiraan biaya bimbingan teknis: Rp 400.000,-

 

Narahubung

Pendaftaran: Helen (0851-1744-8499)
Konten: Andriani Yulianti (0813-2800-3119)

 

Webinar Mutu Corner 4: Insiden Keselamatan Pasien: Ancaman atau Kesempatan Belajar ?

patient safety

Insiden keselamatan pasien merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pelayanan kesehatan. Insiden dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), hingga kejadian tidak cedera (KTC). Setiap insiden pada dasarnya menyimpan informasi penting mengenai kelemahan sistem yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan pelayanan.

Namun dalam praktik di lapangan, insiden keselamatan pasien sering kali dipandang sebagai ancaman, baik bagi individu maupun institusi. Insiden dianggap sebagai bentuk kesalahan yang harus dihindari, ditutupi, atau bahkan disangkal. Cara pandang ini menyebabkan insiden tidak dilihat sebagai peluang pembelajaran, melainkan sebagai risiko yang harus diminimalkan eksposurnya.

Dampak dari cara pandang tersebut adalah rendahnya pelaporan insiden oleh tenaga kesehatan. Banyak tenaga kesehatan merasa takut untuk melaporkan insiden karena berbagai alasan, seperti kekhawatiran terhadap sanksi, stigma, penilaian negatif, hingga potensi konsekuensi hukum. Selain itu, budaya menyalahkan (blaming culture) yang masih ada di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan semakin memperkuat rasa takut tersebut.

Tidak hanya faktor budaya, hambatan dalam pelaporan insiden juga dipengaruhi oleh sistem yang belum mendukung, seperti mekanisme pelaporan yang rumit, kurangnya umpan balik terhadap laporan, serta tidak adanya perubahan nyata setelah insiden dilaporkan. Kondisi ini membuat tenaga kesehatan merasa bahwa pelaporan insiden tidak memberikan manfaat yang jelas, sehingga motivasi untuk melapor menjadi rendah.

Padahal, dalam pendekatan keselamatan pasien modern, insiden merupakan sumber pembelajaran yang sangat berharga. Organisasi yang mampu mengelola insiden secara terbuka dan sistematis akan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengidentifikasi risiko, mencegah kejadian berulang, serta meningkatkan mutu pelayanan secara berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan perubahan cara pandang dari melihat insiden sebagai ancaman menjadi sebagai kesempatan belajar, serta pembangunan budaya pelaporan yang aman dan konstruktif.

Melalui seri keempat Mutu Corner ini, peserta diharapkan dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pelaporan insiden, memahami pentingnya membangun budaya pelaporan yang aman, serta mengembangkan langkah-langkah strategis untuk mendorong pelaporan insiden sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

Tujuan Umum

Meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pelaporan insiden keselamatan pasien sebagai bagian dari budaya keselamatan dan sistem perbaikan mutu pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus:

  1. Memahami konsep, jenis, dan peran insiden keselamatan pasien dalam peningkatan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.
  2. Mengidentifikasi tantangan dalam pelaporan dan pengelolaan insiden, termasuk faktor-faktor yang menyebabkan tenaga kesehatan enggan melaporkan insiden.
  3. Memahami dampak rendahnya pelaporan insiden serta pentingnya pendekatan pembelajaran dalam pengelolaan insiden keselamatan pasien.
  4. Mendorong peserta untuk mengembangkan langkah awal dan strategi dalam memanfaatkan insiden sebagai dasar perbaikan sistem serta membangun budaya pelaporan yang terbuka dan berorientasi pada pembelajaran.

Sasaran

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta/perusahaan), lembaga akreditasi fasyankes, LSM bidang kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Jumat, 26 Juni 2026
Waktu : 13.00-15.00 WIB

Link Zoom : akan diinformasikan

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

12.45 – 13.00

Registrasi peserta

Panitia

13.00 – 13.15

Pembukaan

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

13.15 – 13.45

Materi 1:
“Insiden Keselamatan Pasien: Ancaman atau Kesempatan Belajar?”

Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D.

13.45 – 14.15

Materi 2:
“Membangun Budaya Aman di Fasilitas Kesehatan”

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL

14.15 – 14.45

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

14.45 – 15.00

Penutup

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

 

Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran: Rp 50.000,00.

LINK PENDAFTARAN

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman 

 

Reportase 12th ERAS World Congress

Reportase 12th ERAS World Congress

Oleh: dr. Dzikri Fadhilah, M.HPM

Kongres Dunia ERAS® ke-12 di Singapura menjadi momen perdana perhelatan kongres tahunan ERAS Society di ASIA. Penulis berkesempatan mengikuti seluruh rangkaian kongres yang meliputi kunjungan ke Tan Tock Seng Hospital (TTSH) (13 Mei), program pra-kongres ERAS bidang obstetri dan ginekologi (14 Mei), serta kongres utama selama dua hari (15–16 Mei 2026). Kongres membahas implementasi ERAS secara komprehensif. Aspek klinis, riset implementasi, manajemen mutu hingga sistem kesehatan disampaikan oleh pemateri yang beragam mulai dari klinisi, peneliti, residen, pemangku kebijakan hingga perwakilan pasien melebur dalam setiap sesi yang sama. Ahli bedah, anestesi dan geritari tak hanya membahas aspek luaran klinis dari ERAS, tetapi upaya peningkatan mutu serta riset implementasi menjadi topik yang juga dibawakan oleh klinisi dan hal ini memberikan praktik baik budaya upaya peningkatan mutu dan riset implementasi yang sudah menjadi budaya pada layanan sehari-hari. Komprehensifitas dan keberagaman tersebut membuat peserta kongres dapat mempelajari secara objektif bagaimana implementasi dan manfaat ERAS dari berbagai sudut pandang. Kongres ini memperlihatkan bagaimana kolaborasi dari berbagai latar belakang dalam memajukan ilmu pengetahuan dan implementasi ERAS itu sendiri. Penyajian kongres seperti ini menarik dan berbeda dari kongres yang umumnya diikuti oleh penulis.

Reportase disajikan dalam enam halaman tematik sesuai dengan agenda kongres untuk membagi pengalaman, pengetahuan dan praktik baik selama rangkaian kongres. Tak hanya perihal implementasi ERAS, reportase ini juga membahas praktik baik inovasi pelayanan kesehatan dari berbagai fasilitas kesehatan di Dunia, salah satunya adalah sistem kesehatan singapura yang mengusung konsep Appropriate-Value Based Care dalam mendukung efisiensi dan efektifitas layanan kesehatan, tanpa mengurangi manfaat untuk pasien.

Gambar 1. Kongres utama hari pertama, dokumentasi penulis.


Enhanced Recovery After Surgery
atau ERAS adalah jalur perawatan perioperatif multimodal untuk meningkatkan pemulihan pasien pasca menjalani operasi. Bukti mengenai efikasi dan efektivitas ERAS pada perbaikan luaran klinis pasien pasca operatif serta efisiensi dalam pembiayaan operasi sudah banyak dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Guideline ERAS juga berkontribusi pada perbaikan budaya patient safety melalui pendekatan kolaboratif interprofesional disetiap perjalanan operasi pasien yang  mencakup fase pra-operasi, intra-operasi, hingga pasca-operasi dan pemulihan di komunitas. Namun demikian, variabilitas pada implementasi menjadi tantangan dalam efektivitas ERAS terhadap luaran klinis pasca operasi, terutama pada layanan dengan sumber daya yang terbatas.

Benang Merah Rangkaian Kongres

Pesan kunci dari kongres ERAS adalah bagaimana prinsip quality improvement dan riset implementasi menjadi praktik keseharian di layanan kesehatan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam memberikan layanan baik secara langsung ataupun manajemen dan pemangku kebijakan kesehatan. Berikut adalah beberapa isu yang menjadi benang merah dari kongres ERAS:

Pertama, kolaborasi antara riset implementasi, perbaikan mutu, perspektif klinisi, perspektif pasien serta transformasi sistem kesehatan menjadi salah satu praktik baik keberhasilan implementasi ERAS. Kedua, ERAS tidak menjadi intervensi tunggal, melainkan sebuah sistem yang berprinsip pada perbaikan mutu berkelanjutan dan juga menjadi momentum menginisiasi sistem kesehatan yang belajar atau learning health system dari level mikro hingga makro. Ketiga, teknologi seperti artifisial intelijen dan kesehatan digital, memiliki potensi dan bukti awal menjadi alat bantu dalam implementasi ERAS dan juga peningkatan mutu serta keselamatan pasien, namun hal ini tidak dapat menggantikan peran manusia sebagai pemberi layanan serta sesuai dengan etika kedokteran dan kesehatan.

Salah satu praktik baik dalam konteks sistem kesehatan makro adalah bagaimana sistem kesehatan Singapura berhasil mendukung implementasi ERAS melalui strategi Appropriate and Value-Based Care (AVBC). AVBC adalah kerangka strategis yang menempatkan bukti ilmiah, keterpusatan pada pasien, penempatan perawatan di setting yang tepat, koordinasi lintas disiplin, dan efisiensi biaya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. ERAS menjadi salah satu bagian dari intervensi dalam implementasi AVBC pada fasilitas kesehatan publik dan swasta di Singapura.

Gambar 2. Elemen kunci AVBC. Hak Cipta Kementerian Kesehatan Singapura. AVBC Primer. Singapura: MOH; 2024. Tersedia di: https://go.gov.sg/mohavbc-primer-weblaunch-edm


Tema-tema besar lainnya yang akan dibahas lebih mendalam di halaman-halaman berikutnya meliputi: ERAS sebagai micro learning health system, inovasi dalam peningkatan mutu bedah, bagaimana keterlibatan aktif pasien (patient engagement) serta dampaknya pada hasil pemulihan, kemajuan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam perioperatif, perancangan bersama (co-designing) dengan tenaga kesehatan rumah sakit, serta peran setiap tingkatan sistem kesehatan, mulai dari rumah sakit, komunitas, hingga pasien dan keluarga.

Kongres ini menjadi wake up call untuk sistem kesehatan Indonesia, bagaimana praktik baik implementasi ERAS berkontribusi pada penguatan layanan dan sistem kesehatan terutama melalui riset dan sistem kesehatan yang belajar. Beberapa rumah sakit di Indonesia telah memiliki pembelajaran tersendiri dalam implementasi ERAS, beberapa diantaranya juga telah melakukan sertifikasi dibawah ERAS Society. Pertanyaan besarnya adalah: Bagaimana implementasi ERAS di Indonesia dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan serta terintegrasi kedalam penguatan sistem kesehatan Indonesia yang sedang berjalan?

Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui praktik baik dari berbagai sesi di Kongres ERAS dan sistem kesehatan Singapura dari lensa pengamatan dan analisis penulis.

Benchmark Tan Tock Seng Hospital (TTSH)

Dalam rangkaian ERAS® World Congress, penulis berkesempatan untuk mempelajari implementasi ERAS di Tan Tock Seng Hospital (TTSH), salah satu rumah sakit publik dalam klaster National Healthcare Group (NHG) Singapura mempelopori implementasi ERAS di Singapura dan memiliki sertifikasi ERAS sejak 2016. TTSH menjadi salah satu Centre of Excellence ERAS pertama di Asia. Implementasi ERAS di TTSH dimulai dari bedah kolorektal yang kemudian berkembang secara bertahap ke berbagai prosedur bedah seperti Total Knee Replacement hingga breast surgery. Implementasi ERAS pada prosedur bedah kolorektal di TTSH berdampak pada penurunan lama rawat inap dari 7 hari menjadi 5 hari; penurunan angka rawat inap ulang dari 11% menjadi 4,6%; dan penghematan biaya operasi dan perawatan sekitar SGD 2.197 untuk setiap pasien berhasil. Luaran ini dicapai karena tingkat fidelitas implementasi yang baik pada prosedur ERAS serta komponen dan faktor pendukung pada proses implementasi.

Kunjungan dipandu oleh dr. Kwang Yeong How spesialis bedah yang juga treasurer dari ERAS Society dan dr. Verra Lim spesialis anestesi. Diawali penjelasan dr. How dan dr. Verra mengenai fondasi konseptual dan strategi implementasi ERAS di TTSH, kegiatan lalu dilanjutkan melihat secara langsung tiga unit pendukung ERAS di TTSH antara lain; Bangsal Rawat Inap ERAS, Klinik PACE (Pre-Admission Counseling and Evaluation), dan Unit Fisioterapi.

Pasien yang akan mengakses layanan ERAS di TTSH akan mengakses klinik PACE, unit fisioterapi, operasi elektif, bangsal khusus ERAS, hingga layanan rumah pasca admisi. Dengan fasilitas layanan yang terlihat high-end untuk rumah sakit publik, sebagian besar infrastruktur pendukung ERAS di TTSH sudah tersedia sebelum program dimulai seperti unit fisioterapi dan klinik PACE, sehingga investasi dalam fasilitas pendukung dapat ditekan dan layanan ERAS disesuaikan dengan konteks dan sumber daya rumah sakit tersebut.

Fasilitas yang dibangun setelah implementasi ERAS di TTSH diklaim tidak memerlukan biaya investasi tinggi, tetapi berdampak pada tata kelola, proses dan luaran implementasi ERAS. Fasilitas tersebut adalah Perioperative Recovery Office (PRO) untuk tata kelola ERAS serta bangsal khusus pasien ERAS yang mendukung pasien pasca operasi ERAS dapat melakukan mobilisasi.  Pada artikel ini penulis merangkum 4 praktik baik dari implementasi ERAS di TTSH.

Praktik baik 1: Perioperative Recovery Office dan Strategi Implementasi ERAS

TTSH membentuk Perioperative Recovery Office (PRO) sebagai unit koordinasi yang bertugas mengelola keberlangsungan program ERAS dan perbaikan mutu berkelanjutan. PRO beroperasi berlandaskan empat pilar antara lain: Implementasi program ERAS, Audit, Pelatihan dan Edukasi, serta Peningkatan Mutu dan Inovasi Berkelanjutan. Dalam model ini, PRO tidak hanya menjadi unit administratif, tetapi mekanisme perbaikan berkelanjutan yang memastikan program terus belajar dari praktiknya sendiri, sebuah konsep learning health system dalam konteks mikro.

Gambar 1. Presentasi Kwang Yeong How MD mengenai PRO pada sesi kunjungan TTSH


Dalam operasional PRO dan implementasi ERAS, TTSH menggunakan strategi implementasi dengan akronim TEAM: Team, Engagement, Audit, dan Method. Keempat komponen ini saling melengkapi. Kolaborasi tim lintas profesi membangun fondasi relasional yang menjadi prasyarat kerja multidisiplin. Engagement memastikan seluruh anggota tim tidak hanya hadir secara struktural tetapi benar-benar terlibat dan teredukasi. Audit menyediakan umpan balik terhadap praktik yang berjalan. Komponen method mencakup dua hal yang saling menopang: metodologi implementasi ERAS, dan metode bedah minimal invasif.

Kolaborasi tim tidak hanya dibangun melalui rapat formal, tetapi juga melalui hubungan kerja dan interpersonal yang organik seperti kegiatan bersama diluar jam kerja. Dalam komposisi tim pelaksana ERAS di TTSH, perawat disebut sebagai tulang punggung program karena perawat hadir lebih dekat dengan pasien dan lebih awal mendeteksi ketidaksesuaian protokol. Peningkatan kapabilitas dan kekompakan seluruh tim yang terlibat melalui pelatihan berkelanjutan menjadi salah satu strategi pada komponen team.

Gambar 2. Internal Benchmarking TTSH

TTSH menggunakan sistem audit interaktif digital untuk memantau kepatuhan protokol ERAS serta didukung memiliki 2 mekanisme benchmark yaitu internal dan eksternal. Benchmark eksternal memungkinkan TTSH membandingkan performa mereka dengan institusi lain secara berkala untuk. Data ditampilkan dalam rentang performa tertinggi dan terendah di antara seluruh rumah sakit peserta, sehingga peringkat performa setiap rumah sakit dapat dinilai secara transparan dari waktu ke waktu. Benchmarking internal ditujukan antar klinisi bedah seperti terlihat pada gambar 2, hasil audit tidak disamarkan antar klinisi sehingga setiap dokter mengetahui performa mereka dibandingkan kolega. Strategi ini mendorong perbaikan secara kolegial dan menumbuhkan budaya perbaikan mutu berkelanjutan, yang menjadi faktor pendukung dalam implementasi ERAS.

TTSH mengadopsi Institute for Healthcare Improvement (IHI) Breakthrough Series dari ERAS Society untuk metodologi implementasi, yang terdiri dari empat seminar dalam rentang delapan hingga sepuluh bulan. Di antara setiap seminar terdapat periode kerja aktif di rumah sakit, di mana tim menjalankan implementasi secara bertahap: mulai dari registrasi pasien pre-ERAS dan pengembangan sistem entri data, berlanjut ke implementasi bertahap pada pasien dan pengembangan materi pendukung, hingga ERAS berjalan secara rutin untuk seluruh pasien yang relevan. Seminar keempat digunakan untuk pelaporan hasil akhir, refleksi pengalaman, dan perencanaan ke depan.

 

Praktik baik 2: Bangsal ERAS

Bangsal ERAS di TTSH dirancang untuk mobilisasi dalam pemulihan pasien. Berbeda dari bangsal konvensional yang cenderung membatasi aktivitas pasien pada tempat tidur, bangsal ini menyediakan fasilitas yang mendorong mobilisasi dan asupan nutrisi sejak hari pertama pasca-operasi antara lain: walking track berupa penanda di lantai yang memandu pasien berjalan,  ruang makan bersama, serta ruang interaksi sosial. Meja di bangsal dirancang dapat dipindahkan untuk memudahkan mobilisasi. Fasilitas ini dikembangkan dengan biaya yang relatif rendah, mencerminkan prinsip yang ditekankan dalam sesi presentasi bahwa inovasi dalam peningkatan mutu tidak selalu memerlukan investasi teknologi tinggi. Dalam satu tahun pertama implementasi desain bangsal ini, dilaporkan peningkatan asupan oral tiga kali lipat, peningkatan mobilisasi dini dua kali lipat, dan penurunan lama rawat hampir 50% pada pasien bedah mayor.

Gambar 3. Dokumentasi Bangsal Khusus ERAS


Instrumen dokumentasi utama yang digunakan di bangsal adalah ERAS flow sheet, yang terintegrasi dalam sistem EMR serta tersedia dalam bentuk cetak di sisi tempat tidur pasien. Versi digital memastikan aksesibilitas data bagi seluruh anggota tim, sementara versi cetak berfungsi sebagai pengingat visual di sisi bed pasien. Flow sheet ini dirancang untuk menjalankan tiga fungsi secara bersamaan. Pertama, sebagai pengingat yang memastikan seluruh target ERAS diidentifikasi dan diupayakan pada setiap shift. Kedua, sebagai instrumen komunikasi antar shift yang memfasilitasi serah terima informasi secara terstruktur sehingga kontinuitas perawatan terjaga. Ketiga, sebagai infrastruktur pengumpulan data yang mengonsolidasikan seluruh titik data dalam satu dokumen untuk keperluan monitoring dan audit. Dalam praktiknya, perawat mengisi dua dokumen secara paralel: flow sheet ERAS yang terstruktur setiap shift untuk pencatatan target dan capaian, serta shift assessment note berupa catatan naratif keperawatan. Keduanya terdokumentasi dalam EMR.

Monitoring Nutrisi, Mobilisasi dan Tanda Vital

Dalam monitoring nutrisi, target kalori harian dihitung secara individual per pasien. Pada setiap shift, perawat mendokumentasikan ketercapaian target tersebut. Apabila target belum tercapai pada shift pagi, tindak lanjut dilakukan pada shift selanjutnya dalam hari yang sama. Terkait mobilisasi, pada hari pasca-operasi, pasien didorong untuk duduk di tepi tempat tidur sesuai toleransi. Pada hari pertama pasca-operasi, pasien mulai ambulasi di sekitar tempat tidur. Pada hari kedua dan seterusnya, pasien berjalan di koridor bangsal dan mulai aktivitas penguatan otot. Durasi mobilisasi dan pencapaian target mobilisasi yang telah ditetapkan terdokumentasi dalam EMR. Untuk pasien bariatrik, terdapat checklist tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan klinis populasi tersebut. Pemantauan tanda vital dilakukan enam kali per jam pada fase awal pascaoperasi, kemudian beralih ke interval empat jam apabila skor National Early Warning Score (NEWS) berada dalam batas yang dapat diterima. Setiap tim, yakni keperawatan, nutrisi, dan rehabilitasi, memiliki komponen checklist tersendiri yang terintegrasi dalam sistem dokumentasi yang sama.

Tailored  Innovation

Gambar 4. Aplikasi SERA

Sejumlah inovasi dan perbaikan mutu di bangsal ERAS berkembang secara organik dari inisiatif perawat sesuai dengan hal yang mereka perlukan. Pertama adalah pengadaan stok suplemen nutrisi oral langsung di lemari bangsal, sebagai respons terhadap hambatan praktis berupa waktu tunggu pengiriman dari farmasi yang menghambat pencapaian target nutrisi. Kedua adalah inisiatif perawat untuk secara proaktif mengkomunikasikan kepada dokter pengampu apabila instruksi mengenai dimulainya asupan oral belum terdokumentasikan pasca-operasi. Inisiatif tersebut mencerminkan pergeseran budaya pola kerja yang reaktif dan menunggu instruksi menuju pola yang lebih proaktif.

Tak hanya inovasi di dalam ruang perawatan, TTSH memiliki inovasi mobile-health untuk pasien yaitu  aplikasi SERA (Surgical Enhanced Recovery Assistant). Aplikasi ini dirancang untuk mendampingi pasien sepanjang perjalanan perioperatif melalui pengingat dan panduan berbasis smartphone. Pada studi pilot awal dengan 50 pasien, tingkat kepatuhan pasien terhadap protokol ERAS yang tercatat pada aplikasi tersebut mencapai 78,5%.

 

 

 

Praktik baik 3: PACE (Pre-Admission Counseling and Evaluation)

Gambar 5. PACE Unit

PACE merupakan unit pra-admisi yang berfungsi sebagai titik masuk pertama pasien ke dalam sistem perawatan perioperatif berbasis ERAS, sebelum prosedur pembedahan dilakukan. Skrining awal dilakukan di klinik rawat jalan bedah. Pasien yang dinyatakan layak untuk menjalani operasi dirujuk secara bersamaan ke PACE dan ke unit fisioterapi untuk program prehabilitasi.

Pasien menjalani serangkaian tahapan yang terstruktur antara lain: registrasi, konseling finansial, asesmen pra-operasi oleh ahli anestesi atau perawat terlatih, pemeriksaan penunjang bila diindikasikan (pemeriksaan darah, EKG, rontgen), dan edukasi pasien melalui konseling panduan ERAS. Pasien dengan jalur standar dijadwalkan untuk kunjungan PACE 2 hingga 3 minggu sebelum operasi. Pasien dengan kondisi yang memerlukan persiapan lebih komprehensif dijadwalkan 4 minggu sebelum operasi, untuk memberikan ruang bagi optimasi medis dan rujukan spesialis bila diperlukan.

Asesmen Keperawatan dan Peran Dietisien

Perawat PACE menjalankan asesmen multi-domain yang mencakup: evaluasi fungsi kognitif untuk skrining demensia, depresi, dan ansietas sekaligus penilaian kapasitas pasien dalam memberikan persetujuan tindakan medis; penilaian ketersediaan dukungan sosial dan kesiapan keluarga untuk mengantisipasi kebutuhan pasca pemulangan; rekonsiliasi obat untuk mengidentifikasi penggunaan obat yang tidak tepat dan meminimalkan risiko delirium pascaoperasi; serta penilaian status nutrisi untuk menentukan kebutuhan rujukan ke dietisien. Keterlibatan tim PACE tidak berakhir pada saat pasien masuk rawat inap. Tim PACE menjalankan fungsi co-managing bersama dokter bedah selama fase perawatan rawat inap, mencakup pemantauan kondisi harian, deteksi dini komplikasi, dan persiapan pemulangan sejak hari-hari awal pasca-operasi. Dietisien dilibatkan untuk pasien yang diidentifikasi berisiko malnutrisi berdasarkan skrining oleh perawat bedah. Konseling yang diberikan mencakup penetapan target energi dan protein, rekomendasi restriksi serat bila diindikasikan secara klinis, panduan penggunaan imunonutrisi serta penyesuaian suplemen pra-operasi. Pada fase pasca-operasi, keterlibatan dietisien didasarkan pada rujukan dokter, dan mencakup pelatihan diet bagi pengasuh sebelum pasien dipulangkan. Tindak lanjut nutrisi jangka panjang dilaksanakan di klinik rawat jalan umum, di luar lingkup PACE.

Tailored Carepathway and information

Gambar 6. Buku Panduan ERAS untuk Pasien

Jalur perawatan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien. Contohnya, pasien hepatobilier mendapatkan koordinasi tambahan melalui sistem folder tersendiri, dilengkapi dengan reviu case manager dan konsultasi dietisien di luar jalur standar. Untuk populasi geriatri, TTSH mengembangkan Program ROSE yang diperuntukkan bagi pasien berusia 65 tahun ke atas. Program ini mengintegrasikan reviu geriatri ke dalam alur PACE dan menyelenggarakan sesi fisioterapi langsung di klinik PACE untuk mengurangi beban perjalanan pasien ke unit lain. Program fisioterapi di rumah bagi pasien dengan hambatan mobilitas yang lebih signifikan masih dalam tahap pengembangan dan belum diimplementasikan dalam skala penuh.

Pasien dan pendamping tidak hanya mendapat informasi melalui sesi tatap muka pada klinik PACE, setiap pasien menerima buku panduan ERAS yang mencakup tiga domain utama: persiapan pra-operasi, ekspektasi pasca-operasi, dan perencanaan pemulangan. Proses konseling dilakukan secara sistematis halaman per halaman mengingat volume informasi yang bersumber dari berbagai departemen yang disampaikan dalam satu kunjungan.

 

 

Tindak Lanjut Pasca Pulang

Sistem tindak lanjut pasca pemulangan di TTSH terstruktur dalam dua tahap. Pada hari kedua setelah pemulangan, perawat menghubungi pasien menggunakan daftar pemulangan bersama yang terdapat dalam EMR; setelah berhasil dihubungi, nama pasien dikeluarkan dari daftar tersebut. Setiap panggilan menggunakan checklist terstandar yang mencakup skrining gejala red flag dan asesmen kualitas hidup. Tindak lanjut pada hari ke-30 dilakukan oleh koordinator ERAS. Persetujuan untuk seluruh rangkaian tindak lanjut pasca pemulangan diperoleh secara verbal pada saat kunjungan PACE, termasuk konfirmasi nomor kontak yang dapat dihubungi.

Kendala Implementasi: Gap Komunikasi PACE dan Bangsal

Salah satu  permasalahan yang teridentifikasi  adalah kesenjangan informasi antara klinik PACE dan unit rawat inap. Beberapa pasien yang telah menerima edukasi komprehensif di PACE tiba di bangsal tanpa perawat rawat inap mengetahui riwayat edukasi tersebut, sehingga proses edukasi terduplikasi. Mekanisme mitigasi yang saat ini berjalan bergantung pada pembacaan dokumentasi EMR secara proaktif oleh perawat bangsal, sebuah asumsi yang tidak selalu dapat dipenuhi. Pengembangan sistem notifikasi otomatis  EMR ketika pasien yang telah melalui PACE masuk ke bangsal rawat inap berpotensi menjadi solusi yang paling untuk kesenjangan ini.

Praktik baik 4: Fasilitas Fisioterapi

Unit Fisioterapi Medis di TTSH beroperasi dengan prinsip kontinum perawatan yang terintegrasi. Tim fisioterapi yang sama mengelola pasien mulai dari fase pra-operasi di unit rawat jalan, berlanjut ke fase perawatan pasca-operasi di bangsal rawat inap, hingga tindak lanjut rawat jalan setelah pemulangan. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa konteks klinis dan fungsional pasien tidak perlu direkonstruksi ulang setiap kali terjadi transisi antar fase perawatan.

Gambar 7. Dokumentasi Visitasi Unit Fisioterapi

 

Skrining dan Prehabilitas Praoperasi

Pasien dirujuk ke unit fisioterapi melalui dokter, termasuk dari klinik PACE. Pasien lalu akan dilakukan skrining fragilitas dilakukan menggunakan Clinical Frailty Scale, sebuah instrumen yang menilai tingkat kemandirian fungsional pasien pada skala ordinal. Pasien dengan skor 4 ke atas, yang mengindikasikan kondisi rentan hingga sangat bergantung, mendapat rujukan untuk mengikuti program prehabilitas. Secara ideal, pasien akan bertemu fisioterapis sebanyak tiga kali dalam rentang 1 hingga 2 bulan sebelum tanggal operasi. Kunjungan pertama berlangsung sekitar 45 menit dan mencakup dua komponen asesmen. Asesmen subjektif meliputi riwayat toleransi latihan, gejala yang membatasi aktivitas fisik, tujuan fungsional yang ingin dicapai pascaoperasi, serta faktor-faktor yang relevan untuk perencanaan pemulangan termasuk ketersediaan pengasuh. Asesmen obyektif meliputi 6-minute walk test, Short Physical Performance Battery, evaluasi keseimbangan, kekuatan otot, dan kapasitas daya tahan. Pada kunjungan ini pula pasien diperkenalkan dengan penggunaan spirometri agar mereka familiar dengan alat tersebut sebelum nyeri pasca-operasi berpotensi membatasi kemampuan penggunaannya. Asesmen serupa diulang di akhir program prehabilitasi sebagai evaluasi perubahan status fungsional. Perencanaan program latihan mempertimbangkan konteks fungsional kehidupan sehari-hari pasien secara spesifik. Sebagai contoh yang disampaikan dalam sesi kunjungan, seorang pasien yang masih aktif bekerja dan secara rutin harus menaiki tiga lantai tangga tanpa lift sambil membawa beban mendapatkan program yang secara eksplisit mempertimbangkan tuntutan fungsional tersebut dalam komponen asesmen dan perancangan latihan. Program latihan mencakup komponen aerobik dan ketahanan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Untuk komponen aerobik, modalitas yang digunakan meliputi sepeda statis dan treadmill bagi pasien dengan mobilitas memadai, serta Bio-Step, sebuah mesin elips berposisi duduk, bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas. Untuk komponen ketahanan, digunakan mesin resistansi, dumbbell, atau beban air yang dapat dibawa pulang untuk keperluan latihan mandiri di rumah.

Home-based Rehabilitation

Bagi pasien yang tidak dapat menghadiri sesi fisioterapi secara langsung akibat kendala logistik atau keterbatasan pengasuh, disediakan program latihan mandiri berbasis rumah yang berfokus pada aktivitas fungsional seperti sit-to-stand dan stepping. Bagi pasien dengan kondisi fragilitas berat yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah, Community Health Team melakukan kunjungan rumah guna menyampaikan komponen prehabilitasi di tempat tinggal pasien. Untuk kasus yang memerlukan intervensi lebih intensif, tersedia program prehabilitasi rawat inap berdurasi dua minggu di rumah sakit komunitas yang berdekatan, dengan frekuensi kunjungan fisioterapis lebih dari sekali per minggu sebelum operasi dilaksanakan.

Perawatan Pasca-operasi dan Tindak Lanjut

Setelah prosedur pembedahan, tim fisioterapi yang sama melanjutkan perawatan di bangsal rawat inap mulai dari hari operasi. Tersedia pula sesi latihan kelompok berdurasi 1 hingga 2 jam bagi pasien yang memenuhi kriteria, sebagai intervensi mobilisasi tambahan di luar sesi individual. Tindak lanjut rawat jalan dijadwalkan sekitar 2 hingga 3 minggu setelah pemulangan untuk evaluasi progres pemulihan dan status fungsional pasien.

Penutup

Kunjungan ke TTSH memberikan pembelajaran bahwa ERAS di TTSH tidak berjalan sebagai kumpulan intervensi yang terpisah-pisah. Bangsal ERAS, klinik PACE, unit fisioterapi, sistem audit, dan PRO bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung didukung dengan just culture, budaya patient safety dan layanan yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Kondisi ini mencerminkan program peningkatan mutu tidak berjalan dalam silo masing-masing profesi atau unit, tetapi terintegrasi dan sudah menjadi budaya. Refleksi secara lengkap akan dibahas pada artikel khusus pembahasan refleksi untuk konteks layanan kesehatan Indonesia.

 

Pre-Congress Programme: Obstetric Gynecology Session

Sesi pra-kongres bidang Obstetri dan Ginekologi terdiri dari lima sesi dengan materi dan format yang beragam, mencakup personalisasi care-pathway ERAS, debat inovasi, implementasi ERAS secara global, presentasi abstrak terbaik, dan sesi keynote pembaruan care-pathway ERAS dalam bidang ginekologi onkologi. Secara keseluruhan, isu pada materi pre-kongres ini menegaskan bahwa tantangan utama ERAS saat ini bukan lagi pada pengembangan protokol, melainkan pada konsistensi implementasi, pengelolaan variabilitas klinis, dan perluasan akses ke populasi yang selama ini kurang terwakili dalam penelitian maupun layanan. Sesi ini adalah rangkuman dari paparan riset yang dimiliki oleh narasumber. Pembaca dapat mengakses daftar sesi secara lengkap melalui laman website resmi eras world congress (https://erasworldcongress.com/pre-congress-programme/). Seluruh materi yang dirangkum dan cuplikan slide presentasi adalah hak cipta dari narasumber dan kolega, pembaca dapat menghubungi narasumber melalui profil google scholar apabila tertarik mendalami riset masing masing narasumber. Opini penulis dalam reportase akan ditandai dan menjadi bagian terpisah dari paparan narasumber.


Sesi I: ERAS Rapid-Fire Session: Prove Me Wrong

Judul yang menarik dalam pembukaan pre-kongres, sesi ini merangkum variabilitas dalam komponen jalur perawatan ERAS.

   Pembicara 1: Gvantsa Kochiashvili MD, Georgia

Overuse Elemen ERAS, Komponen Bernilai Rendah dalam Jalur perawatan

Kochiashvili, membuka sesi dengan memaparkan temuan dari studi yang mengevaluasi fidelitas terhadap elemen ERAS bidang bedah ginekologi dan kolorektal di Kanada, Belanda, dan Swiss. Kepatuhan keseluruhan komponen ERAS pada studi tersebut tergolong tinggi, tetapi terdapat variasi pada sejumlah komponen dengan kepatuhan dibawah 50% seperti carbohydrate loading pra-operasi, profilaksis mual dan muntah pasca-operasi, pelepasan kateter dini, penghentian cairan intravena, dan mobilisasi dini. Meskipun terdapat variasi fidelitas implementasi, tujuan utama ERAS tetap tercapai di semua setting, yakni berkurangnya komplikasi dan memendeknya lama rawat.

Kochiashvili menegaskan bahwa tidak ada intervensi ERAS yang secara inheren bernilai rendah. Permasalahan muncul ketika intervensi diterapkan pada seluruh pasien tanpa mempertimbangkan karakteristik individu, kompleksitas prosedur, atau konteks institusional. Implikasi bagi mutu layanan sangat jelas: metrik kepatuhan protokol perlu diinterpretasikan bersama stratifikasi risiko pasien, bukan sebagai indikator kinerja yang berdiri sendiri.

  Pembicara 2: Gabriel Mena MD, Amerika Serikat

Variabilitas Anestesi adalah Hambatan Utama ERAS: Hentikan Menyalahkan Ahli Bedah

Gabriel Mena mengidentifikasi variabilitas praktik anestesi sebagai hambatan utama konsistensi hasil ERAS, melampaui faktor bedah. Berdasarkan pengalaman 15 tahun membangun program ERAS secara nasional dan internasional, Mena merumuskan enam kebenaran keras terkait variabilitas dalam implementasi ERAS:

  1. Kualitas bedah menentukan hasil klinis: kualitas teknik bedah menentukan hasil klinis secara langsung.
  2. Perbedaan antar dokter anestesi menghasilkan perbedaan hasil pada pasien yang menjalani prosedur yang sama.
  3. Kepatuhan anestesi yang lebih tinggi berkorelasi dengan hasil yang lebih baik: terbukti berkorelasi dengan penurunan lama rawat, angka komplikasi, dan peningkatan kepuasan pasien.
  4. Fase intraoperatif adalah titik dengan variabilitas tertinggi: terutama pada manajemen cairan, nyeri, profilaksis PONV, dan kontrol suhu.
  5. ERAS gagal karena sistem gagal: ERAS adalah program reliabel dan variabilitas adalah ancaman terbesarnya.
  6. Presisi melalui standardisasi: kurangnya standardisasi dalam praktik anestesi menghasilkan variabilitas dan konsekuensi luaran.

Data dari studi Anderson menunjukkan kepatuhan rata-rata 75% pada hampir 2.000 pasien selama enam tahun, dengan subkelompok yang mencapai kepatuhan di atas 80% menunjukkan penurunan signifikan dalam lama rawat dan angka komplikasi. Mena menyimpulkan bahwa variabilitas adalah ancaman terbesar untuk reliabilitas dan efektivitas ERAS.

  Pembicara 3: Helena Obermair, Australia

Jalur Perawatan tanpa Opioid, Fantasi atau Masa Depan yang Tak Terhindarkan?

Opioid berkontribusi pada depresi pernapasan, peningkatan PONV, hambatan kembalinya fungsi usus, delirium, dan pada sekitar 6% pasien bedah elektif, penggunaan opioid persisten pasca pemulangan. Sebuah meta-analisis Januari 2025 dalam jurnal Anaesthesia mengonfirmasi bahwa teknik bebas opioid yang mengintegrasikan anestesi regional menempati peringkat tertinggi di antara strategi yang dievaluasi. Obermair menekankan bahwa pendekatan bebas opioid bukan eliminasi dogmatis, melainkan kerangka multimodal dan multi-target dengan kriteria yang jelas untuk beralih ke opioid apabila pendekatan non-opioid terbukti tidak memadai.

  Pembicara 4: Teresa Lucia Pan, Austria

Prehabilitas dalam Bedah Ginekologi, Bukti Kuat versus Antusiasme yang Terlalu Dibesar-besarkan

Kerangka prehabilitas terbagi dalam empat tahap meliputi skrining, asesmen, intervensi, dan pemantauan hasil, dengan rekomendasi bahwa skrining dan asesmen dilakukan bersamaan minimal dua hingga empat minggu sebelum operasi. Sebuah studi Randomisasi (RCT) yang mengacak 250 pasien menunjukkan penurunan komplikasi berat pasca operasi dari 30% menjadi 17% dengan prehabilitas multimodal yang diawasi. Namun, data kelayakan secara konsisten menunjukkan kepatuhan pasien yang rendah di bawah 50% pada beberapa studi, serta tidak adanya standardisasi pada modalitas, intensitas, frekuensi, dan durasi intervensi. Pan merangkum posisi bukti efektivitas prehabilitas saat ini dengan istilah unconfidently optimistic”, yang mencerminkan dasar rasional intervensi yang kuat namun memerlukan standardisasi sebelum implementasi skala besar dapat diandalkan.

  Pembicara 5: Joannie Neveu, Kanada

Pemberian Makan Dini yang Dipaksakan: Apakah Kita Menyakiti Pasien? Seruan untuk Stratifikasi Risiko

Neveu menyampaikan kerangka pemberian makan berbasis stratifikasi risiko sebagai mekanisme meningkatkan mutu layanan dan luaran klinis. Neveu mengidentifikasi empat potensi bahaya potensial dari penerapan nutrisi oral dini secara universal yaitu:

  1. Risiko muntah dan reinsersi selang nasogastrik terutama pada pasien di atas 80 tahun di mana pneumonia aspirasi hampir 14 kali lebih sering;
  2. Kurangnya representasi pasien dengan anastomosis multipel atau bedah sitoreduksi dalam studi RCT;
  3. Risiko delirium yang dua kali lebih tinggi pada pasien lanjut usia di atas 75 tahun;
  4. Risiko sindrom refeeding pada pasien malnutrisi dan obstruksi usus.

Kerangka tiga jalur diusulkan untuk menstratifikasi pasien berdasarkan risiko anastomosis, kadar albumin, usia, dan status nutrisi:

  1. Pemberian makan dini standar: Tidak ada reseksi usus, anastomosis tunggal yang bersih, albumin normal, usia di bawah 75 tahun, kondisi pasien baik. Lanjutkan dengan asupan oral dini.
  2. Lanjutkan dengan kewaspadaan: Anastomosis tunggal disertai stoma atau kadar albumin yang sedikit menurun, pasien dengan usia yang lebih lanjut. Mulai dengan cairan jernih dan tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi.
  3. Tunda pemberian makan dini: Usia sangat lanjut, datang dengan obstruksi usus, malnutrisi berat pada saat presentasi, durasi operasi yang panjang, atau diperlukan transfusi darah.

Justifikasi yang diberikan oleh Neveu untuk kerangka yang diajukan adalah  memformalkan penilaian klinis yang selama ini berjalan secara informal ke dalam protokol terstruktur mengurangi variasi yang tidak semestinya dan melindungi sub-kelompok yang paling rentan. Selain menekankan peningkatan mutu, Neveu juga menekankan bahwa studi RCT dalam efektivitas ERAS juga perlu mempertimbangkan populasi kunci pada sub-kelompok tersebut.


Sesi II: Debat Inovasi ERAS: Masa Depan Sudah Dekat

Menjadi salah satu sesi yang berkesan untuk penulis, audiens disuguhkan beberapa isu dalam pengembangan dan implementasi ERAS dengan justifikasi pro dan kontra dalam setiap debat. Diskusi seperti ini menjadi check and balance yang menarik dalam forum ilmiah untuk pengembangan keilmuan. Berikut sesi debat yang dirangkum oleh penulis.

Debat 1: Kecerdasan Buatan Akan Menggantikan Koordinator ERAS

PRO: Gabriella Schivardi, Italia

Gambar 1. Dokumentasi presentasi dan copyright Gabriella Schivardi: Schivardi model

Schivardi mengusulkan Model Kolaborator Kecerdasan Buatan Schivardi (Schivardi AI Collaborator Model), sebuah model dengan dua pilar berbasis kecerdasan buatan sebagai terobosan dari model koordinator konvensional, mencakup integrasi data rekam medis elektronik secara real-time dan perangkat wearable untuk pemantauan kontinu pascaoperasi. Dalam model ini, audit mencakup 100% pasien secara real-time dan setiap provider menerima notifikasi performa individual. Schivardi berargumen bahwa model koordinator adalah solusi terbaik yang tersedia pada awal 2000-an, sementara model berbasis kecerdasan buatan adalah solusi yang relevan untuk konteks saat ini.

 

 

Gambar 2. Dokumentasi presentasi dan copyright Gabriella Schivardi: Schivardi model untuk pasien dan dokter


KONTRA: Paula Mateo, Spanyol

Menurut Mateo, terdapat lima fungsi inti koordinator ERAS yang tidak dapat diotomasi, yakni edukasi pasien, kepemimpinan multidisiplin, implementasi protokol, perawatan klinis langsung, dan keberlanjutan program. ERAS gagal karena alasan yang bersifat manusiawi: resistensi terhadap perubahan, komunikasi antar departemen yang buruk, dan kurangnya keterlibatan pemangku kepentingan. Persoalan-persoalan ini diselesaikan oleh koordinator, bukan oleh algoritma. Meto menekankan  bahwa masa depan ERAS seharusnya bersifat human-led and technology-enhanced.

Opini Penulis: Sebagai peneliti yang juga mengembangkan mobile-health dan care-pathway dalam pelayanan kesehatan, penulis berpendapat bahwa investasi pada perangkat kecerdasan buatan atau teknologi digital pada layanan kesehatan bersifat sebagai alat bantu dan harus melengkapi, bukan menggantikan, kapasitas koordinator atau tenaga medis lain terutama yang berkaitan dengan interaksi tenaga medis dan pasien, mengingat patient engagement juga menjadi aspek penting dalam keberhasilan perawatan.

Debat 2: Kualitas Penelitian ERAS Lemah: Saatnya Menuntut Uji Klinis Acak

PRO: Kamilla Luca David, Hungaria

Terdapat beberapa kesenjangan dalam rekomendasi dan evidence-based jalur perawatan ERAS, salah satunya pada Carbohydrate loading. Meskipun memiliki bukti yang kuat pada populasi bedah standar, bukti pada pasien diabetes masih terbatas, padahal populasi ini merupakan bagian besar dari praktik onkologi di dunia. Di sisi lain, beberapa komponen direkomendasikan secara kuat meskipun didasarkan pada bukti yang lemah seperti edukasi dan konseling pra-operasi, drainase urin, serta mobilisasi dini semuanya mendapat rekomendasi kuat namun hanya didukung oleh bukti berkualitas rendah. Rekomendasi yang kuat tidak selalu berarti bukti yang kuat. rekomendasi dapat didasarkan pada penilaian klinis dan pertimbangan risiko-manfaat, bukan pada bukti dari uji coba yang ketat.

RCT tradisional memang menuntut sumber daya yang besar, namun desain uji coba modern telah berkembang secara signifikan. Selama ini, RCT dalam konteks ERAS cenderung menguji seluruh paket intervensi sekaligus dibandingkan perawatan standar, sehingga sulit menentukan komponen mana yang sesungguhnya berkontribusi pada perbaikan luaran. Pendekatan ini tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Berbagai alternatif tersedia, mencakup uji N-of-1, uji komponen individual, uji adaptif, dan uji platform. 

KONTRA: Stephanie Gill, Kanada

Stephanie Gill mengajukan lima argumen menentang uji klinis acak sebagai satu-satunya pilihan untuk kualitas riset (Five Arguments Against RCTs as the Only Answer):

  1. ERAS adalah bundel hingga 33 intervensi simultan yang tidak dapat dibuat plasebonya;
  2. Biaya RCT bedah berkisar antara USD 270.000 hingga lebih dari USD 1,65 juta dengan median waktu dari perekrutan hingga publikasi 4,8 tahun;
  3. Kriteria inklusi yang ketat menyebabkan ketidakcocokan dengan populasi nyata;
  4. Bukti dari studi observasional yang dirancang dengan baik tidak secara sistematis melebih-lebihkan efek dibandingkan RCT;
  5. sistem GRADE tidak mensyaratkan hanya RCT untuk menghasilkan rekomendasi kuat.

Gill mengusulkan uji coba pragmatis, uji coba berbasis registri, desain adaptif, dan target trial emulation sebagai arah alternatif dari RCT. Perdebatan ini memvalidasi kontribusi studi observasional sebagai bukti ilmiah yang sah, termasuk dari sistem kesehatan dengan sumber daya terbatas.

Debat 3: Memprediksi Keberhasilan ERAS: Lingkungan Rumah adalah yang Terpenting

PRO: Arthur Hsu, Taiwan

Lingkungan rumah, mencakup ras dan etnisitas, determinan sosial kesehatan, dukungan sosial, dan kesehatan mental, merupakan variabel yang memengaruhi luraran ERAS. Teknologi kesehatan digital dapat menjembatani kesenjangan yang ditimbulkan oleh variabilitas lingkungan rumah pada kondisi pasca pemulangan. Sebuah RCT rekonstruksi payudara membandingkan aplikasi seluler dengan tindak lanjut tatap muka menunjukkan berkurangnya kunjungan langsung pada hari ke-30 dan ke-90. Sebuah RCT ginekologi onkologi menunjukkan kualitas pemulihan yang lebih baik dengan tindak lanjut berbasis aplikasi dibandingkan perawatan standar tatap muka. Bukti ini menunjukan apabila kondisi lingkungan rumah pasien tidak optimal, teknologi kesehatan digital dapat membantu menyetarakan peluang pemulihan.

KONTRA: Bella Jugeli, Georgia

Bella Jugeli berargumen bahwa pencapaian kepatuhan protokol 72 hingga 80% adalah penentu utama hasil klinis, dan bahwa penekanan berlebihan pada lingkungan rumah berisiko menciptakan environmental fatalism, yakni pengalihan fokus dari peran aktif pasien dalam pemulihan menuju faktor-faktor di luar kendali mereka. Kedua posisi ini tidak bersifat dikotomis: standardisasi perawatan di rumah sakit dan dukungan pemulihan berbasis teknologi pasca pemulangan merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam sistem perawatan yang komprehensif.


Sesi III: ERAS dalam Konteks Global dan Ekuitas Layanan

Implementasi ERAS pada layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas menjadi tantangan tersendiri untuk memaksimalkan luaran, termasuk karakteristik sosiodemografi dari pasien yang dilayani. Layanan kesehatan perlu beradaptasi dengan sumber daya yang dimiliki serta variabilitas ras, sosioekonomi hingga keterbatasan bahasa pasien atau masyarakat yang dilayani. Sesi ini merangkum bagaimana implementasi ERAS dari belahan dunia menekankan ekuitas dalam layanannya, termasuk inovasi dalam mengatasi hambatan.

  Pembicara 1: Kristin Black, Kanada

Pemulihan yang Tidak Setara: Hambatan Ras dan Etnis terhadap ERAS

Terdapat Bukti disparitas luaran berbasis ras seperti pasien kulit hitam dan Hispanik menghadapi risiko komplikasi pasca operasi lebih tinggi, lama rawat lebih panjang, dan mortalitas yang lebih besar bahkan setelah mengendalikan faktor perancu. Implementasi ERAS terbukti dapat mempersempit kesenjangan ini; dalam bedah kolorektal maupun ginekologi onkologi, perbedaan luaran berbasis ras tidak lagi ditemukan setelah program diterapkan. Namun hambatan dari faktor ras dan sosioekonomi mempengaruhi luaran dari ERAS tersebut. Pasien dengan kemampuan bahasa terbatas menerima penilaian nyeri lebih sedikit dan analgesik lebih rendah, sementara kepatuhan ERAS pada kelompok literasi kesehatan rendah hanya mencapai 25% dibandingkan 55% pada kelompok literasi tinggi. Beberapa inovasi diusulkan untuk mengatasi hal tersebut mencakup instruksi dalam bahasa pasien, panduan puasa yang disesuaikan, pelatihan navigator pasien, dan skrining determinan sosial kesehatan pra-operasi.  Sebuah studi  program visitasi rumah pasca-operasi ERAS  pada lebih dari 1.000 pasien menunjukkan peningkatan kepatuhan carbohydrate loading yang signifikan, dengan manfaat terbesar pada pasien kulit hitam, peserta Medicaid, dan mereka yang tinggal di lingkungan berpenghasilan rendah. Temuan ini menegaskan bahwa protokol ERAS yang terstandarisasi, tailored dan  berpusat pada pasien dapat berfungsi sebagai mekanisme pemerataan dalam pelayanan ERAS.

  Pembicara 2: Florencia Noll, Argentina

Mentransformasi Perawatan Perioperatif di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah: Peluang ERAS

Florencia Noll memaparkan strategi T-ERAS sebagai model implementasi untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, memfokuskan implementasi pada tiga intervensi berdampak tinggi dan berbiaya rendah dalam fase pemulihan, yaitu:

  1. Asupan oral dini
  2. Ambulasi dini
  3. Pelepasan kateter urin din.

Sebuah meta-analisis dari 35 studi ERAS spesifik di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang mencakup 604.000 pasien menemukan pooled risk ratio 0,63 untuk mortalitas dan komplikasi, hampir identik dengan temuan dari negara berpenghasilan tinggi. Empat hambatan utama yang diidentifikasi adalah keterbatasan sumber daya (85% responden), kesenjangan pelatihan dan pengetahuan (70%), resistensi terhadap perubahan (50%), dan kesenjangan edukasi pasien dan keluarga (50%). Noll memaparkan peta jalan implementasi ERAS selama 12 bulan, sebuah model peningkatan mutu yang dapat direplikasi pada setting layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas.


Sesi IV: Abstrak Terbaik OBGYN 2026

  Pembicara 1: Alison Brand, Australia

Studi Kelayakan dan Keamanan Uji Klinis Acak Percontohan yang Menguji Intervensi ERAS Individual dalam Bedah Kanker Ovarium Perioperatif: Studi TIPS

TIPS (Testing Individual ERAS Interventions in Perioperative Ovarian Cancer Surgery)  adalah sebuah uji kelayakan acak multi-pusat menggunakan desain uji platform yang memungkinkan beberapa intervensi diuji secara bersamaan dengan kemampuan menghentikan atau menambahkan intervensi berdasarkan hasil interim. Dua intervensi yang dipilih adalah pregabalin dan carbohydrate loading pra-operasi. Tolok ukur kelayakan terpenuhi dengan 91% pasien mengonsumsi tablet pregabalin yang diberikan, melampaui target 85%, tanpa ditemukan sedasi berlebihan. Studi ini mendukung kelayakan desain uji platform multi-intervensi sebagai pendekatan metodologis yang lebih efisien untuk menguji komponen ERAS secara individual pada populasi kanker ovarium.

  Pembicara 2: Kamilla Luca David, Amerika Serikat

Asosiasi Penyakit Refluks Gastroesofageal (GERD) dengan Kepatuhan Carbohydrate Loading Praoperasi dan Hasil Pascaoperasi Terpilih pada Pasien Bedah Ginekologi yang Dikelola dengan Protokol ERAS

Studi retrospektif pada 638 pasien bedah ginekologi yang menunjukkan bahwa kepatuhan carbohydrate loading secara signifikan lebih rendah pada kelompok dengan diagnosis GERD, yakni 28,6% dibandingkan 41,6% pada kelompok tanpa GERD. Namun tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kejadian PONV atau kadar glukosa pascaoperasi antara pasien yang menerima dan tidak menerima carbohydrate loading, baik pada kelompok GERD maupun non-GERD. Satu-satunya prediktor signifikan PONV adalah durasi operasi yang lebih panjang, dan satu-satunya prediktor kadar glukosa pascaoperasi yang lebih tinggi adalah diabetes. Studi ini menyimpulkan bahwa pengecualian rutin pasien GERD dari protokol carbohydrate loading tidak didukung oleh data yang ada.

  Pembicara 3: Anjali Gera, India

Analgesia Pasca-operasi pada Perempuan yang Menjalani Bedah Onkologi Ginekologi Abdominal Terbuka Dengan atau Tanpa Blok Erector Spinae Plane Bilateral Dipandu Ultrasonografi: Uji Klinis Acak Terkontrol

Studi RCT prospektif ini pada 60 pasien yang membandingkan blok ESP bilateral dipandu USG dengan kontrol tanpa blok pada bedah ginekologi onkologi laparotomi terbuka, Konsumsi epidural 24 jam pada kelompok ESP lebih rendah sekitar 38,5%, dengan manfaat paling menonjol dalam 12 jam pertama. Kelompok tanpa blok menunjukkan detak jantung lebih tinggi, tekanan darah lebih rendah, PONV lebih tinggi, dan sedasi lebih dalam. Keunggulan mekanis blok ESP dibandingkan blok TAP terletak pada kemampuannya memberikan efek analgesik viseral selain somatik melalui penyebaran injektan ke ruang paravertebral dan epidural.


Sesi V: Kuliah Keynote Pembaruan Panduan ERAS Ginekologi Onkologi 2026

  Gregg Nelson, Kanada

Panduan ERAS Ginekologi Onkologi – Pembaruan 2026

Gregg Nelson, sebagai penulis utama panduan ERAS ginekologi onkologi, menyampaikan pembaruan komprehensif yang akan diterbitkan mencakup 17 area topik dan 62 rekomendasi, disusun oleh tim multidisiplin internasional dengan pencarian literatur sistematis dari 2018 hingga 2025 menggunakan kerangka GRADE. Panduan dapat diakses pada situs https://erassociety.org/about/ ketika telah terbit. Penulis tidak menuliskan secara detail komponen yang akan diubah untuk menghindari plagiasi karena panduan tersebut sedang berproses terbit.

Beberapa area ditinjau dan dikonfirmasi tanpa perubahan: profilaksis mual dan muntah pasca operasi (rekomendasi kunci tetap menggunakan lebih dari dua agen antiemetik); nutrisi pasca operasi (untuk sebagian besar pasien, aman untuk memberi makan dalam 24 jam pertama, dengan pengecualian yang telah dibahas); pencegahan ileus pasca operasi; serta drainase dan selang, yang sebaiknya dihindari pada sebagian besar kasus bedah abdomen.

Pembaruan panduan ERAS yang akan datang mencakup sejumlah area penting, antara lain persiapan usus prao-perasi, protokol carbohydrate loading, pengelolaan GLP-1 receptor agonist perioperatif, profilaksis VTE, pencegahan infeksi lokasi pembedahan, dan manajemen kateter urin. Pembaruan ini mencerminkan perkembangan bukti terkini sekaligus kebutuhan untuk mengakomodasi karakteristik populasi pasien yang semakin beragam dalam praktik onkologi modern.

Nelson menutup dengan menegaskan kembali tema sentral seluruh sesi: tantangan utama bukan lagi pengembangan panduan, melainkan implementasi yang konsisten melalui pencapaian dan pemeliharaan kepatuhan di atas 80% melalui siklus audit dan perbaikan yang berkelanjutan.

Hari pertama kongres terdiri dari empat sesi dan dua paparan khusus yang disisipkan di antara sesi-sesi tersebut. Sesi pertama membahas checklist keselamatan pasien pada bedah dengan mengangkat pertanyaan tentang mengapa program yang terbukti efektif sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Sesi kedua membahas ERAS pasca pemulangan, menegaskan bahwa pemulihan tidak berakhir di pintu rumah sakit dan bahwa sistem perawatan perlu dirancang untuk menjangkau pasien jauh setelah mereka dipulangkan. Sesi ketiga terkait patofisiologi pemulihan, membahas tantangan penelitian masa depan ERAS dari perspektif respons stres bedah, disregulasi inflamasi pasca-operasi, pemantauan tanda vital berkelanjutan, dan inovasi penanganan krisis darah di setting sumber daya terbatas. Sesi keempat adalah sesi keperawatan, yang menempatkan perawat dan koordinator ERAS sebagai penggerak utama program, bukan sekadar pelaksana protokol.

Di antara sesi-sesi tersebut, terdapat dua sesi paparan khusus yang membahas ERAS sebagai bagian dari sistem kesehatan. Pertama adalah paparan dari Kementerian Kesehatan Singapura tentang strategi Appropriate and Value-Based Care (AVBC) yang menempatkan ERAS sebagai instrumen dalam kebijakan tersebut, menunjukkan bagaimana program klinis dapat sekaligus menjadi instrumen dan pemantik transformasi sistem kesehatan. Paparan Ljungqvist, yang disampaikan oleh seorang pilot senior dari Singapore Airlines, membawa perspektif tentang bagaimana sistem yang reliabel dirancang untuk tetap bekerja ketika realita menyimpang dari rencana. Layanan kesehatan dan aviasi memiliki kondisi yang sama dan perlu menciptakan sistem yang reliabel.

Pembaca dapat mengakses daftar sesi secara lengkap melalui laman website resmi eras world congress (https://erasworldcongress.com/main-programme/). Seluruh materi yang dirangkum dan cuplikan slide presentasi adalah hak cipta dari narasumber dan kolega, pembaca dapat menghubungi narasumber melalui profil google scholar apabila tertarik mendalami riset masing masing narasumber. Opini penulis dalam reportase akan ditandai dan menjadi bagian terpisah dari paparan narasumber.

Paparan Kementerian Kesehatan Singapura: ERAS sebagai Instrumen Perawatan Berbasis Nilai

Dua pembicara dari Kementerian Kesehatan Singapura, Prof. Kenneth Mak selaku Direktur Jenderal dan dr. Fereen Liew selaku Wakil Direktur Jenderal, mempresentasikan ERAS bukan hanya sebagai layanan, melainkan sebagai instrumen dan realisasi strategi nasional AVBC terhadap tekanan sistem kesehatan yang terus meningkat.

Prof. Kenneth Mak

Prof. Mak memetakan perjalanan ERAS Singapura secara kronologis. Tan Tock Seng Hospital (TTSH) menjadi pusat ERAS bersertifikasi pertama di Singapura pada 2016 untuk bedah kolorektal. Singapore General Hospital (SHG) meluncurkan jalur ERAS untuk Total Knee Replacement (TKR) pada 2019, termasuk layanan bedah sehari untuk TKR dan Total Hip Arthroplasty pada puncak pandemi COVID-19. National University Hospital (NUH) mengintegrasikan konsep ERAS ke dalam program MILES (Management and Innovation for Longevity in Elderly Surgical Patients), yang dirancang khusus untuk mengatasi masalah pada pasien bedah usia lanjut termasuk fragilitas. Di sektor swasta, Gleneagles Hospital memulai program pilot ERAS untuk TKR.

Ketika TTSH pertama kali mengadopsi ERAS, rumah sakit publik ini menghadapi keterbatasan sumber daya. Sebagai respons, rumah sakit memperkenalkan konsep inovatif berupa model koordinator ERAS terdistribusi. Alih-alih menunjuk satu koordinator ERAS khusus yang mengawasi seluruh perjalanan perioperatif, peran tersebut dibagi ke dalam tiga fase: preoperatif, rawat inap, dan pascaoperatif. Masing-masing fase dikelola oleh pemimpin berbeda yang bekerja dalam domain yang sudah ada sebelumnya. Pada fase preoperatif, konseling ERAS dilakukan oleh staf di klinik konseling dan evaluasi preoperatif.

Perluasan ERAS ke fasilitas kesehatan swasta memerlukan pendekatan yang sangat cermat dan kontekstual. Berbeda dengan rumah sakit umum, spesialis di rumah sakit swasta tidak tergabung dalam satu departemen terpadu, melainkan beroperasi sebagai praktisi independen. Meskipun kompleksitasnya lebih tinggi, rumah sakit swasta di Singapura seperti Gleneagles berhasil mengatasinya dengan menghindari mandat yang kaku. Sebagai gantinya, ERAS dioperasionalkan melalui pendekatan tim multidisiplin yang menyesuaikan program ERAS dengan praktik unik masing-masing dokter bedah. Pendekatan yang sangat dapat dikustomisasi ini memungkinkan ERAS diterapkan di rumah sakit swasta tanpa memerlukan struktur tata kelola yang tersentralisasi.

Terdapat dua katalisator utama keberhasilan ERAS Singapura. Pertama, perawatan berbasis tim multidisiplin: filosofi ERAS menuntut pergeseran dari model yang berpusat pada dokter bedah menuju model tim multidisiplin terkoordinasi dengan peran yang jelas dan akuntabilitas bersama yang bergeser lintas fase perawatan. Kedua, tata kelola yang berorientasi pada hasil: tata kelola dalam ERAS bergeser dari optimasi yang berjalan dalam silo menuju akuntabilitas bersama untuk hasil end-to-end, menyelaraskan bagian bedah, anestesi, keperawatan, dan tenaga kesehatan lain untuk tujuan bersama dan terukur salah satunya dengan Patient Reported Outcome Measures (PROMs).

Mak menekankan peran desain infrastruktur sebagai penopang kepatuhan jalur perawatan ERAS. TTSH meluncurkan bangsal ERAS khusus pada Februari 2024. Data perbandingan menunjukkan bahwa 46% pasien di bangsal ERAS dimobilisasi pada hari operasi dibandingkan 22% di bangsal umum, asupan kalori lebih tinggi (190 kkal dibandingkan 120 kkal), dan kepatuhan protokol keseluruhan meningkat dari 63,6% menjadi 73,5%. Median lama rawat pasien kolorektal di bangsal khusus turun dari 5 hari menjadi 4 hari tanpa peningkatan readmisi atau komplikasi. Data yang dikutip konsisten dengan yang telah dipaparkan pada kunjungan benchmark TTSH yang penulis ikuti.

Tantangan implementasi ERAS bukan hanya struktural tetapi juga perilaku dan desain sistem. Hambatan utama bukan kurangnya pengetahuan, melainkan praktik bedah konvensional yang sudah mengakar dan variasi implementasi ERAS. Sebuah studi 2022 pada 315 pasien bedah kolorektal Singapura menemukan bahwa hanya 27% yang mencapai kepatuhan di atas 70% terhadap seluruh elemen ERAS.

Dr. Fereen Liew: AVBC sebagai Strategi Nasional

Dr. Liew membuka sesi dengan pertanyaan fundamental yang seharusnya diajukan oleh setiap sistem kesehatan: bagaimana memastikan bahwa perawatan yang diberikan hari ini tetap relevan secara klinis, bermakna bagi pasien, serta berkelanjutan secara finansial dan operasional?

Terdapat empat tekanan yang berkonvergensi dalam sistem kesehatan Singapura. Pertama, populasi yang menua dengan cepat: dalam 30 tahun, satu dari empat warga Singapura akan berusia di atas 65 tahun. Kedua, peningkatan beban komorbiditas: data dari Singapore Longitudinal Ageing Study menunjukkan peningkatan rata-rata kondisi kronis per individu dari 2,1 pada 2016 menjadi sekitar 3,0 pada 2023 hingga 2024. Ketiga, keterbatasan tenaga kesehatan. Keempat, tekanan finansial yang terus meningkat: antara 2015 dan 2024, pengeluaran pemerintah Singapura untuk layanan kesehatan berlipat ganda dari sekitar SGD 9 miliar menjadi SGD 18 miliar, dan diproyeksikan berlipat ganda kembali pada 2030.

Respons strategis Singapura terhadap tekanan-tekanan ini adalah strategi nasional dari Kementerian Kesehatan yaitu Appropriate and Value-Based Care (AVBC), yang mendefinisikan nilai sebagai hasil yang dicapai dibagi biaya untuk mencapainya. AVBC bukan tentang melakukan lebih sedikit, melainkan tentang merancang perawatan secara lebih deliberatif untuk mencapai hasil yang lebih baik dengan biaya yang berkelanjutan.

Gambar 1. Dokumentasi presentasi dan copyright Dr. Liew: AVBC


Dr. Liew menjelaskan lima prinsip inti AVBC dan menunjukkan bagaimana ERAS mengejawantahkan kelimanya secara bersamaan.

  1. Perawatan berbasis bukti: keputusan perawatan distandardisasi berdasarkan bukti ilmiah terkini, dan ERAS adalah contoh bagaimana bukti dapat mengubah praktik yang sudah lama mengakar seperti puasa praoperasi berkepanjangan dan pembatasan mobilisasi pascaoperasi.
  2. Perawatan berpusat pada pasien: ERAS mentransformasi pasien dari penerima perawatan pasif menjadi peserta aktif dalam pemulihan mereka sendiri, dengan PROMs sebagai kompas untuk memvalidasi bahwa pemulihan bermakna bagi pasien.
  3. Perawatan di setting yang tepat: ERAS memungkinkan penentuan setting yang tepat secara lebih deliberatif sebelum operasi, bukan hanya setelahnya, termasuk memfasilitasi transisi ke bedah sehari untuk prosedur yang sebelumnya memerlukan rawat inap.
  4. Perawatan yang terintegrasi dan terkoordinasi: ERAS menandai berakhirnya manajemen perioperatif sebagai serangkaian serah terima, menggantinya dengan perjalanan terpadu yang diorkestrasi oleh kerangka kerja multidisiplin yang terstandarisasi.
  5. Perawatan yang hemat biaya dan berkelanjutan: ERAS menantang asumsi bahwa kualitas perawatan yang lebih tinggi secara inheren lebih mahal. Dengan mengurangi komplikasi, mempersingkat rawat inap, dan menghindari intervensi yang tidak perlu, ERAS menurunkan biaya perawatan bukan dengan melakukan lebih sedikit, tetapi dengan memberikan perawatan secara berbeda dan lebih tepat.

Bagi penulis, paparan tersebut relevan untuk konteks Indonesia. Tekanan yang dihadapi Singapura, yakni populasi menua, beban komorbiditas, keterbatasan tenaga, dan tekanan finansial, adalah tekanan yang juga dihadapi Indonesia. ERAS menunjukkan bahwa perawatan berkualitas dan berkelanjutan secara finansial adalah dua hal yang dapat dicapai sekaligus melalui desain sistem yang cermat. Pada sub-bagian selanjutnya, penulis menyajikan praktik baik berpikir secara sistem dari aviasi, yang dapat dipelajari untuk konteks layanan kesehatan.

Paparan Ljungqvist: High Reliability System Thinking

Opini Penulis: Kapten E.C. Antoni, adalah Senior Vice President Singapore Airlines. Dalam forum yang umumnya adalah para klinisi, seorang pilot senior memaparkan prinsip reliabilitas sistem aviasi, dan relevansinya untuk sistem kesehatan. Antoni menegaskan bahwa paparannya bukan tentang mengimpor solusi dari aviasi ke layanan kesehatan, melainkan tentang bagaimana sistem mendukung kinerja ketika realita menyimpang dari rencana atau terdapat variasi yang tidak diduga. Aviasi dan layanan kesehatan berbagi kompleksitas, ketidakpastian, dan kelangkaan yang mengganggu bahkan rencana terbaik. Dalam High Reliability Organisation (HRO), kinerja tidak bergantung pada satu individu, tetapi bergantung pada keseluruhan sistem yang bekerja bersama dan sebuah sistem yang terus belajar untuk perbaikan berkelanjutan atau dalam kesehatan erat disebut learning health system.

Terdapat tiga pilar HRO yang dapat dipetakan ke konteks ERAS.

  1. Reliabilitas melalui standarisasi: daftar periksa adalah mekanisme perangkap kesalahan, bukan ritual birokrasi. Ia ditulis untuk anggota paling rentan dalam sistem, tanpa ambiguitas dan tanpa ruang untuk salah tafsir. Disiplin profesional berarti melakukan hal yang benar, setiap saat, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
  2. Resiliensi melalui kemampuan beradaptasi: pelatihan berbasis skenario, manajemen sumber daya kru (Crew Resource Management), dan pelatihan berbasis kompetensi adalah komponen resiliensi aviasi yang berpadanan dengan kebutuhan dalam layanan kesehatan. Bencana Tenerife 1977, di mana pesawat dalam kondisi sempurna hancur akibat hambatan komunikasi antara pilot, adalah contoh dokumenter bahwa hierarki yang kaku dapat menjadi faktor penyebab kegagalan sistem.
  3. Kemampuan Pulih melalui pembelajaran dari kejadian: ketika sesuatu berjalan salah, gangguan harus diserap, direorganisasi, dipulihkan, dan dijadikan pijakan perbaikan. Laporan insiden, termasuk near miss, adalah data bernilai bukan ancaman.

Kapten Antoni mengaitkan ketiga pilar ini kepada ERAS secara eksplisit: perawatan klinis yang reliabel berarti penanganan pasien yang konsisten dan efisien melalui jalur yang terstandarisasi, komunikasi yang terstruktur, dan alur kerja yang terkoordinasi. Resiliensi berarti membangun kapasitas adaptasi melalui pelatihan berbasis skenario dan identifikasi risiko proaktif. Kemampuan pulih berarti menangkap setiap kejadian sebagai masukan pembelajaran dan mengintegrasikannya ke dalam siklus perbaikan yang berkelanjutan.

Pertanyaan yang ia tinggalkan, dan relevan untuk seluruh audiens, adalah pertanyaan yang sama yang diajukan Tan Hiang Khoon di sesi pertama: mengapa aviasi dapat mempertahankan kepatuhan daftar periksa mendekati 100% di hampir semua setting, sementara dunia bedah terus berjuang dengan variabilitas kepatuhan tersebut?

Sesi I: Keselamatan Bedah dan Daftar Periksa

Sesi pertama membawa peserta kembali ke fondasi keselamatan bedah dengan tiga perspektif yang saling melengkapi: pengalaman institusional dalam mempertahankan kepatuhan Surgical Safety Checklist (SSC), teknologi pemantauan ruang operasi berbasis kecerdasan buatan, dan integrasi SSC dengan program ERAS.

  Pembicara 1: Tan Hiang Khoon, Singapore

Reimplementasi SSC di Singapore General Hospital

Tan Hiang Khoon dari Singapore General Hospital (SGH) berbagi pengalaman reimplementasi SSC. SGH pertama kali mengadopsi SSC pada 2009. Namun sekitar 2018 hingga 2019, serangkaian Serious Reportable Events (SRE) memaksa tim untuk bertanya: apakah SSC benar-benar dijalankan dengan niat dan keterlibatan penuh, atau sekadar latihan mencentang kotak?

Proses reimplementasi mencakup empat langkah: penilaian kesenjangan kinerja dalam daftar periksa yang ada, pengumpulan masukan luas dari lini depan, perancangan ulang daftar periksa sesuai kebutuhan lokal, dan pelatihan seluruh tim yang terlibat. Salah satu perubahan terpenting adalah penetapan peran spesifik untuk setiap komponen SSC: sign-in dipimpin oleh ahli anestesi, time-out oleh dokter bedah, dan sign-out oleh tim keperawatan. Sebelumnya, perawat menjalankan ketiga komponen tersebut. Sebuah pertanyaan intensionalitas juga diintroduksi di setiap tahap untuk memastikan perhatian penuh tim sebelum daftar periksa dimulai.

Hasilnya: kepatuhan formal meningkat dari kisaran pertengahan 80-an persen menjadi kisaran atas 90-an persen. Skor non-technical skills meningkat di semua domain pada kelompok keperawatan, bedah, dan anestesi. Budaya keselamatan meningkat secara substansial, dan frekuensi SRE turun tajam setelah reimplementasi 2022.

Yang tidak kalah informatif adalah data keberlanjutan. Alat pemantauan Checkpoint yang dikembangkan SGH menunjukkan pola yang berulang: skor tinggi segera setelah relaunch, penurunan tajam pada tahun berikutnya, pemulihan, lalu penurunan kembali. SRE mengikuti pola yang sama: pada tahun-tahun di mana skor Checkpoint turun, frekuensi SRE meningkat kembali. Ini mengonfirmasi bahwa kepatuhan SSC tidak dapat mempertahankan dirinya sendiri tanpa mekanisme penguatan yang aktif, bahkan di institusi dengan sumber daya memadai seperti SGH.

Tan mengajukan pertanyaan yang tidak dijawab dalam presentasinya tetapi relevan untuk seluruh komunitas: mengapa industri penerbangan dapat mempertahankan kepatuhan daftar periksa mendekati 100% di hampir semua setting, sementara dunia bedah terus berjuang dengan keberlanjutan? Pertanyaan ini kemudian dijawab secara tidak langsung dalam paparan Ljungqvist di sesi berikutnya.

  Pembicara 2: Chloe Kimi Nobuhara, Amerika Serikat

OR Black Box: Transparansi sebagai Fondasi Perbaikan Mutu

Chloe Kimi Nobuhara dari Stanford memperkenalkan OR Black Box, sebuah platform pemantauan terintegrasi di ruang operasi yang dikembangkan sejak 2014. Sistem ini menggabungkan kamera dinding, mikrofon langit-langit, umpan kamera endoskopi dan laparoskopi, data mesin anestesi, dan data pemantauan pasien dalam satu platform. Tujuannya adalah mengatasi apa yang ia sebut operational blindness: ketidaktransparanan di lingkungan berisiko tinggi yang menghambat perbaikan mutu. Sebuah studi dari Belgia menggunakan teknologi ini untuk membandingkan kepatuhan SSC yang dilaporkan dengan yang sebenarnya terobservasi, dan menemukan kesenjangan sebesar 50%.

Gambar 2.  Dokumentasi presentasi dan copyright Nobuhara et.al: OR Black Box

 

  Pembicara 3: Mary Brindle, Canada

Integrasi SSC dan ERAS

Brindle memaparkan inisiatif Checklist 2.0, sebuah kemitraan global yang bertujuan memperbarui SSC dan mengintegrasikannya dengan program ERAS. SSC telah mengalami pergeseran dari alat keselamatan yang dimiliki oleh tim klinis menjadi instrumen kepatuhan administratif yang dikenakan pada tim. Pergeseran kepemilikan inilah yang menjelaskan mengapa kepatuhan bermakna jauh lebih rendah dari yang dilaporkan. Terdapat persamaan antara SSC dan ERAS: keduanya menghadapi tantangan implementasi dan keberlanjutan yang serupa, keduanya memiliki kesenjangan antara filosofi dan praktik nyata, dan keduanya dapat diperkuat melalui integrasi. Salah satu produk pertama dari inisiatif ini adalah daftar periksa kamar operasi yang terintegrasi dengan ERAS, dirancang oleh lebih dari 100 pengguna dari kedua program, untuk memastikan kapan pasien akan makan, manajemen nyeri multimodal apa yang akan digunakan, dan target pemulihan apa yang ditetapkan terjadi secara eksplisit pada titik perawatan. Satu temuan yang disampaikan Brindle dan relevan untuk konteks implementasi di berbagai setting layanan adalah hubungan antara budaya tim dan implementasi alat keselamatan bersifat dua arah. Asumsi umum bahwa budaya yang baik adalah prasyarat implementasi tidak sepenuhnya akurat; implementasi SSC itu sendiri dapat memperbaiki budaya tim.

Sesi II: ERAS Pasca Pemulangan

Sesi ini dibangun di atas premis sederhana namun sering diabaikan: lama rawat yang lebih singkat tidak sama dengan pemulihan yang lebih singkat. Empat pembicara membawa perspektif yang berbeda tentang bagaimana sistem perawatan perlu dirancang untuk mendampingi pasien jauh setelah mereka meninggalkan rumah sakit.

  Pembicara 1: Prof. Varut Lohsiriwat, Thailand

ERAS dalam Bedah Kolorektal Emergensi

Kasus emergensi menyumbang sekitar 12% dari seluruh prosedur bedah abdomen besar, dengan angka komplikasi mencapai sekitar 50% dan angka readmisi hingga 20% di Siriraj Hospital. Perbedaan fundamental antara bedah elektif dan emergensi adalah bahwa dalam bedah emergensi, proses patologis berupa obstruksi, perforasi, peritonitis, atau sepsis sudah berlangsung sebelum keputusan operasi dapat dibuat.  Meskipun sejumlah elemen ERAS standar sulit atau tidak mungkin diterapkan dalam setting emergensi, beberapa elemen tetap dapat dan harus dijalankan. Terapi cairan berbasis target, kontrol sumber infeksi yang adekuat, target resusitasi, dan penerapan protokol sepsis adalah padanan emergensi dari fase praoperasi ERAS elektif. Perjalanan ERAS dimulai sejak pertama kali pasien tiba di unit gawat darurat, bukan di meja operasi. Studi di Siriraj Hospital menunjukkan bahwa ERAS dalam bedah kolorektal emergensi berhasil mereduksi komplikasi dari sekitar 48% dengan perawatan konvensional menjadi sekitar 25%, dengan pola hubungan kepatuhan-hasil yang konsisten dengan data bedah elektif: pasien yang mencapai kepatuhan di atas 80% menunjukkan hasil terbaik, sebanding dengan kasus elektif berkepatuhan tinggi.

  Pembicara 2: Nikhil Panda, Amerika Serikat

Pemantauan Pemulihan Berbasis Teknologi Digital

Digital phenotyping definisikan sebagai kuantifikasi sesaat tentang bagaimana manusia berfungsi secara fisik dan perilaku sebagaimana diukur oleh perangkat digital pribadi mereka. Teknologi ini Relevansinya untuk proses pemulihan pada jalur perawatan ERAS, pasien yang telah dipulangkan berada dalam kondisi rentan di luar pengawasan klinis langsung, dan teknologi yang sudah mereka miliki dapat menjadi jembatan pemantauan.

Gambar 2.  Dokumentasi presentasi dan copyright Panda et.al


Panda memaparkan dua studi yang relevan dalam pengembangan. Studi pertama pada 120 pasien bedah onkologi abdominal elektif menunjukkan bahwa aktivitas harian yang terukur melalui smartphone secara pasif dapat membedakan pasien dengan pemulihan rutin dari pasien yang mengalami komplikasi, dengan aktivitas kelompok komplikasi yang secara konsisten lebih rendah dari kelompok tanpa komplikasi maupun dari nilai dasar mereka sendiri. Studi kedua pada pasien bedah kardiotoraks menggunakan monitor detak jantung yang mendeteksi komplikasi rata-rata dua hari sebelum pasien menjadi simtomatik, meskipun dengan false positive rate yang masih tinggi. Hambatan yang menjadi tantangan adalah beban tambahan pada klinisi yang sudah mengelola banyak sistem data, pertanyaan tentang tata kelola data, dan risiko bahwa teknologi ini hanya dapat diakses oleh pasien yang sudah memiliki akses  digital.

  Pembicara 3: Marianna Sioson, Manila

Nutrisi Pasca Pemulangan

Salah satu kesenjangan yang jarang dibahas pada ERAS adalah panduan nutrisi pasca pemulangan. Bukti menunjukkan bahwa setelah oesofagektomi 95% pasien tidak pernah sepenuhnya memulihkan berat badan pra-operasi mereka, dan ketidakcukupan asupan nutrisi dapat berlangsung hingga tiga tahun. Tiga tujuan nutrisi pasca pemulangan adalah memenuhi defisit nutrisi dengan target yang adekuat dan tepat sasaran, mempertahankan dan membangun massa otot, serta memberikan imunonutrisi untuk memodulasi respons inflamasi dan imun pascaoperasi. Bukti menunjukkan bahwa suplemen nutrisi oral yang diberikan setidaknya dua minggu setelah pemulangan meningkatkan berat badan dan kadar albumin. Kombinasi suplemen protein tinggi dengan fisioterapi meningkatkan massa tubuh tanpa lemak, berat badan, kekuatan genggam, dan skor nyeri. Target nutrisi standar yang direkomendasikan adalah 25 hingga 30 kkal per kg per hari dengan protein sekitar 1,5 g per kg per hari. Dalam mendukung pemenuhan nutrisi pasca pemulangan, Sioson memperkenalkan model dari Kakabagan, Filipina, di mana keterbatasan sumber daya mendorong inovasi berbasis komunitas yaitu kunjungan rumah oleh tim multidisiplin penuh termasuk perawat, dokter, ahli gizi, pekerja sosial, dan kader kesehatan komunitas. Model ini menunjukkan bahwa kontinuitas nutrisi pasca pemulangan tidak memerlukan teknologi tinggi; ia memerlukan komitmen, koordinasi, dan dukungan komunitas.

  Pembicara 4: Prabu Naidu, Singapura

Perspektif Pasien: Hal yang diperlukan pasca pemulangan

Sebagai penyintas kanker rektal stadium 3 yang menjalani operasi di TTSH pada 2019, Naidu menyampaikan perspektif yang melengkapi seluruh diskusi klinis dalam sesi ini. Dari pengalamannya, Naibu mengidentifikasi tiga kebutuhan utama pasien pasca pemulangan yang sering tidak cukup dijawab oleh sistem formal: pengetahuan dan informasi yang jelas tentang apa yang terjadi dan apa yang diharapkan selama pemulihan; dukungan sosial dari sesama penyintas, keluarga, dan komunitas; serta akuntabilitas dan kemandirian pasien dalam mengambil kepemilikan atas pemulihan mereka sendiri. Naidu menggambarkan tiga inisiatif yang ia jalankan secara sukarela: program Grown-Up Initiative dari Singapore Cancer Society yang menyediakan meja penyintas di klinik onkologi; advokasi infrastruktur toilet ramah ostomi di ruang publik; dan program Patient Buddy di bangsal ERAS TTSH, di mana relawan penyintas mendampingi pasien yang menghadapi ketidakpastian klinis dan emosional, bukan untuk memberikan nasihat medis, tetapi untuk berbagi pengalaman pemulihan secara langsung. Poin substantif yang ia sampaikan adalah bahwa inisiatif-inisiatif ini tidak memerlukan anggaran besar. Yang diperlukan adalah komitmen institusi untuk mengintegrasikan dukungan sejawat pasien ke dalam alur perawatan formal, dan kepercayaan bahwa pasien yang sudah pulih adalah sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam sistem ERAS.

Sesi III: Patofisiologi Pemulihan dan Tantangan Penelitian

Sesi ketiga bergerak ke ranah penelitian, membahas pertanyaan-pertanyaan fisiologis yang masih terbuka dan yang akan menentukan arah pengembangan ERAS dalam dekade mendatang.

  Pembicara 1: Prof. Henrik Kehlet, Denmark

Pemulihan Pascaoperasi: Di Mana Permasalahan Sesungguhnya?

Kompleksitas fisiologi perioperatif menjadi landasan untuk penelitian ERAS di masa depan. Beberapa diantaran area yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut adalah manajemen cairan, manajemen nyeri, defisiensi besi dan anemia, manajemen drain dan kateter, disfungsi kognitif, psikiatri perioperatif, dan pemulihan fungsional pasca pemulangan. Kehlet memaparkan dua temuan yang seharusnya mengubah cara komunitas ERAS mendekati penelitian. Pertama, dalam sebuah studi prospektif pada hampir 7.000 pasien yang menjalani Total Hip Arthroplasty dalam program ERAS dengan median lama rawat hanya satu hari, 99% pasien dipulangkan langsung ke rumah. Alasan rawat inap berkepanjangan untuk 1% sisanya terutama adalah masalah dukungan sosial, bukan komplikasi medis. Ini menunjukkan bahwa lama rawat sebagai ukuran utama hasil klinis ERAS perlu dipertanyakan, karena ia mencampurkan dua hal yang berbeda: kesiapan medis untuk pulang dan kemampuan untuk pulang secara praktis. Kedua, dalam dua studi terkontrol acak yang membandingkan bedah terbuka dengan laparoskopi atau robotik dalam program ERAS yang sepenuhnya terimplementasi dengan median lama rawat dua hari, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam hasil pemulihan dini antara pendekatan bedah. Kehlet menegaskan bahwa ini bukan argumen melawan bedah minimal invasif yang memiliki indikasi lain yang penting, tetapi menunjukkan bahwa dalam program ERAS yang sepenuhnya terimplementasi, protokol ERAS itu sendiri, bukan teknik bedah, adalah penentu dominan pemulihan dini.

  Pembicara 2: Christopher Bain, Australia

Disregulasi Inflamasi Pasca-operasi

Kerangka konseptual Post-operative Systemic Inflammatory Dysregulation (PSID), dapat menjadi salah satu kerangka untuk memahami mengapa sebagian besar kematian pasca-operasi bukan disebabkan oleh kegagalan teknis bedah, melainkan oleh komplikasi pasca-operasi dan disfungsi organ. CRP pasca-operasi pada hari ke-3 adalah penanda yang informatif. Analisis data dari studi RELIEF yang mencakup hampir 3.000 pasien menunjukkan bahwa CRP di atas 200 mg/L pada hari ke-3 berkaitan dengan peningkatan probabilitas kecacatan persisten atau kematian sebesar 10% per kenaikan 100 mg/L, setelah penyesuaian untuk variabel bedah. Sebuah meta-analisis hanya menemukan dua studi RCT yang secara khusus mempelajari inflamasi dalam konteks ERAS, sebuah kesenjangan penelitian yang signifikan. Data dari sebuah studi terkait deksametason dosis tinggi pada laparotomi emergensi menunjukkan: pemberian 1 mg/kg deksametason segera setelah induksi menghasilkan trajektori CRP yang lebih rendah secara signifikan, penurunan komplikasi dari 45% menjadi 27%, peningkatan mobilisasi, dan penurunan mortalitas 90 hari. Bain berargumen bahwa alasan mengapa studi-studi besar lain dengan deksametason tidak menunjukkan manfaat signifikan adalah karena pendekatan one-size-fits-all diterapkan pada respons biologis yang sangat bervariasi. Arah ke depan adalah pendekatan presisi: mengidentifikasi pasien yang responsif terhadap modulasi inflamasi berdasarkan profil genomik dan biomarker seperti CRP dan IL-6 pada hari pertama pascaoperasi.

  Pembicara 3: Eske Kvanner Aasvang, Denmark

Pemantauan Tanda Vital Berkelanjutan di Bangsal Umum

Terdapat kesenjangan dalam pemantauan: pemantauan kontinu adalah standar di kamar operasi dan ICU, tetapi tidak di bangsal umum, padahal sebagian besar mortalitas pascaoperasi dalam 30 hari terjadi di bangsal umum dan di rumah. Sistem track-and-trigger yang ada seperti National Early Warning Score (NEWS) memiliki keterbatasan fundamental seperti pemeriksaan setiap 8 hingga 12 jam berarti deviasi signifikan dapat berlangsung berjam-jam tanpa deteksi. Sebuah studi menunjukkan bahwa 10% pasien mengalami desaturasi oksigen berat di bawah 85% selama lebih dari satu jam, dan hanya 9% yang terdeteksi oleh ronde keperawatan rutin.

Namun pemantauan kontinu sederhana menghasilkan masalah sebaliknya: ratusan alarm per pasien per hari yang tidak dapat ditindaklanjuti di bangsal umum. Solusinya, yang dikembangkan Aasvang bersama tim dengan pendekatan redesign bersama dengan perawat, adalah sistem kecerdasan alarm berbasis artifisial intelejen (AI)  dan data real time.

Gambar 3.  Dokumentasi presentasi dan copyright Aasvang et.a: alat bantu klinisberbasis AI  untuk pemantauan tanda vital secara kontinyu


Dengan menerapkan kriteria alarm yang memperhitungkan durasi dan keparahan deviasi, kombinasi deviasi, penghilangan artefak, dan pengenalan pola fisiologi normal individual, frekuensi alarm dapat direduksi dari sekitar 150 per pasien per hari menjadi sekitar 10, dengan sensitivitas untuk komplikasi nyata dipertahankan di atas 98%. Dalam RCT pertama inovasi ini pada lebih dari 1.000 pasien bedah mayor, pemantauan kontinu dengan kecerdasan alarm berbasis AI menghasilkan penurunan desaturasi 1,5 kali lipat, penurunan lama rawat dari 6,5 menjadi 5 hari, dan penurunan komplikasi berat dari 35% menjadi 28% pada hari ke-30. Penurunan kejadian buruk keseluruhan mencapai signifikansi statistik, dengan dampak terbesar pada komplikasi infeksius.

  Pembicara 4: Caroline Wesonga, Kenya

Inovasi Penanganan Krisis Darah di Setting Sumber Daya Terbatas

Wesonga menutup sesi dengan perspektif inovasi ERAS tidak berhenti di batas rumah sakit berteknologi tinggi. Mewakili Blood Desert Coalition, sebuah kelompok yang bekerja mengatasi krisis ketersediaan darah di negara berpenghasilan rendah dan menengah: sebuah studi 2019 memperkirakan kekurangan global 102 juta unit darah, dengan hampir seluruh negara di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Oseania mengalami defisit. Tiga strategi inovatif untuk mengatasi tantangan tersebut adalah Walking Blood Bank (sistem donor darah darurat dari pendonor yang telah terskrining sebelumnya dalam komunitas atau rumah sakit), autotransfusi intraoperatif (pemulihan dan reinfusi darah pasien sendiri yang terbuang selama operasi), dan pengiriman darah menggunakan drone sebagaimana telah diimplementasikan Rwanda dengan Zipline. Dari program pilot Walking Blood Bank di wilayah terpencil Kenya Utara, 800 sampel menunjukkan konkordansi 99,2% antara uji lapangan cepat dan uji standar, dan dalam dua minggu pertama implementasi protokol transfusi darurat, protokol diaktifkan enam kali dengan seluruh pasien berhasil diselamatkan.

Sesi IV: Keperawatan ERAS

Sesi keperawatan memberikan perspektif yang menyeimbangkan seluruh diskusi teknis dan berbasis data di sepanjang hari, dengan menempatkan kembali peran manusia di jantung sistem.

  Pembicara 1: Hong Lan Hu, Singapore

Transformasi Bangsal ERAS di TTSH

Salah satu raktik baik komponen ERAS di bangsal ERAS adalah konsep DREAM: Drinking, Eating, and Mobilisation dalam 24 jam pertama pascaoperasi. Data internal TTSH menunjukkan bahwa pasien yang mencapai DREAM dipulangkan 2 hari lebih cepat dan mengalami lebih sedikit komplikasi. Namun kepatuhan terhadap mobilisasi hari operasi tetap menjadi tantangan hingga lingkungan fisik bangsal itu sendiri diubah untuk mendukungnya. Proses implementasi bangsal ERAS dimulai sebagai uji coba konsep dua bulan di bangsal melalui kolaborasi multidisiplin. Modifikasi fisik bangsal yang mencakup jalur berjalan dari stiker lantai, area makan bersama, dan sudut aktivitas komunal dikombinasikan dengan pelatihan ERAS terkhusus untuk perawat, jalur yang dipimpin perawat untuk deteksi dini komplikasi, dan protokol pemantauan pascaoperasi yang diperbarui. Hasilnya: asupan nutrisi oral meningkat signifikan pada hari operasi dan hari pertama pascaoperasi; mobilisasi dini hampir dua kali lipat untuk aktivitas hari operasi dengan kepatuhan di atas 90% pada hari pertama pascaoperasi; lama rawat memendek untuk bedah kolorektal, payudara, dan rekonstruksi; dan penghematan biaya sebesar sekitar SGD 418.000. Survei staf menunjukkan respons positif: alur kerja yang lebih jelas, komunikasi yang lebih baik, kepercayaan diri yang meningkat, dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.

  Pembicara 2: Wei Ting Chen, Singapore

Transisi Perawatan dari Rumah Sakit ke Komunitas

Wei Ting Chen dari Community Health Team National Health Group (NHG) Singapura memaparkan sistem transisi perawatan yang menjembatani rumah sakit dengan pemulihan di rumah. NHG melayani 1,5 juta warga di 105 lingkungan komunitas, dengan jaringan 10 poliklinik, 237 dokter umum, dan 105 pos kesehatan komunitas. Model transisi perawatan yang berbasis kunjungan rumah dengan tim multidisiplin dan terhubung ke rumah sakit melalui rekam medis elektronik bersama adalah wujud operasional dari ERAS yang melampaui dinding rumah sakit. Dua program khusus yang bekerja sama dengan Woodlands Hospital mencerminkan bagaimana prinsip ERAS diadaptasi ke konteks komunitas: program rehabilitasi interim pasca penggantian sendi yang memberikan satu hingga dua sesi terapi rumah sebelum pasien beralih ke pusat rehabilitasi harian, dan program prehabilitas rumahan untuk pasien fragilitas dengan kanker yang menjalani bedah elektif. Chen menekankan bahwa pemulihan di rumah lebih optimal bukan karena lebih murah, melainkan karena pasien berada di lingkungan yang familiar, beristirahat lebih baik, dan lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam pemulihan mereka.

  Pembicara 3: Charlette Hart, Amerika Serikat

Koordinator ERAS sebagai Integrator Sistem

Charlette Hart dari Amerika Serikat menutup sesi dengan refleksi tentang peran koordinator ERAS yang menyentuh inti pertanyaan yang telah mengemuka sepanjang hari. Ia meminjam konsep Teams of Teams dari jenderal Stanley McChrystal untuk menggambarkan kompleksitas tim ERAS: program ini tidak bergerak dalam garis lurus, dan satu ketidakpatuhan di satu titik dapat berdampak pada seluruh sistem. Hart memperkenalkan konsep drift dalam konteks koordinator ERAS: pergeseran gradual dari praktik inti yang tidak terasa hingga sesuatu yang esensial hilang. Hart juga mengutip konsep iPatient dari Dr. Abraham Verghese: klinisi cenderung lebih banyak berinteraksi dengan rekam medis elektronik, nilai laboratorium, dan dasbor data, dibandingkan dengan pasien yang berada di tempat tidur. Teknologi dan data berperan penting, tetapi tidak menggantikan apa yang dapat dilakukan oleh koordinator atau perawat ERAS yang terampil dalam sebuah program.

Catatan Penutup

Hari pertama kongres utama bergerak dalam sebuah alur yang koheren. Sesi pertama mengangkat pertanyaan tentang keberlanjutan sistem yang sudah terbukti efektif. Paparan Kementerian Kesehatan menempatkan ERAS dalam kerangka kebijakan yang lebih besar. Paparan Ljungqvist memberikan kerangka untuk menjawab pertanyaan keberlanjutan itu dari perspektif sistem. Sesi kedua memperluas batas ERAS melampaui setting rumah sakit. Sesi ketiga membuka pertanyaan-pertanyaan fisiologis yang masih terbuka. Sesi keempat mengembalikan semua diskusi ke akarnya: program ini berjalan karena ada manusia yang membuatnya berjalan, setiap hari, di setiap titik perawatan. Satu framing substantif dari seluruh sesi disampaikan oleh Kapten Antoni: keberhasilan sistem bukan ditentukan oleh absennya gangguan, melainkan bagaimana sistem dirancang untuk tetap bekerja dalam kondisi apapun terutama ketika terdapat gangguan. Dalam arti Reliable and Resilient.

Tidak hanya sebagai jalur perawatan untuk pemulihan pasien yang lebih baik, ERAS telah menjadi sebuah Learning Health System (LHS) yang memacu sistem dan layanan kesehatan terus belajar dari implementasinya dan memperbaiki mutu secara berkelanjutan, sebuah pesan kunci yang penulis kutip dari Dr. Sean Dowdy (Mayo Clinic) dalam salah satu sesi.

Kongres hari kedua terdiri dari empat sesi substantif dan dua paparan khusus, pembahasan hari kedua semakin menarik dan meruncing tentang arah pengembangan ERAS secara global ke depan, mulai dari riset, praktik baik dari operasi di luar angkasa, hingga strategi implementasi ERAS di masing-masing negara di ASIA. Paparan Kehlet yang disampaikan oleh Prof. Paul Myles, membahas peran dan masa depan uji coba terkontrol acak (RCT) dalam perawatan perioperatif, sementara paparan Fearon membahas bedah di luar angkasa, memperlihatkan bagaimana tantangan mutu pelayanan, fisiologis, dan logistik di lingkungan operasi tanpa gravitasi tersebut juga relevan dalam layanan kesehatan di daerah terpencil.

Sesi kelima membahas penelitian luaran ERAS dari berbagai sudut: hierarki bukti, peran kecerdasan buatan, tesis bahwa ERAS pada dasarnya sudah merupakan sebuah Learning Health System, ilmu implementasi untuk menutup kesenjangan dan variasi dalam implementasi ERAS, hingga inovasi ERAS neonatal sebagai terobosan terbaru. Sesi ketujuh berfokus pada prehabilitas dan praoptimasi, mencakup konsep ERAS+, sarkopenia, prehabilitas jantung, dan model perawatan geriatri perioperatif. Sesi kedelapan menutup hari kedua dengan pengembangan ERAS di Asia-Pasifik, termasuk posisi Indonesia dalam peta implementasi ERAS global.

Pembaca dapat mengakses daftar sesi secara lengkap melalui laman website resmi eras world congress (https://erasworldcongress.com/main-programme/). Seluruh materi yang dirangkum dan cuplikan slide presentasi adalah hak cipta dari narasumber dan kolega, pembaca dapat menghubungi narasumber melalui profil google scholar apabila tertarik mendalami riset masing masing narasumber. Opini penulis dalam reportase akan ditandai dan menjadi bagian terpisah dari paparan narasumber.

Paparan Kehlet: Uji Coba Berskala Besar dalam Perawatan Perioperatif

Pembicara: Prof. Paul Myles, Australia

Myles menegaskan bahwa uji intervensi yang baik harus memenuhi tiga tujuan: validitas, generalisabilitas, dan efisiensi. Meski studi RCT berskala besar terbukti layak dan berdampak nyata, pendekatannya perlu terus berkembang mengingat studi RCT konvensional dinilai mahal, lambat, dan rentan menjadi tidak relevan seiring cepatnya evolusi praktik bedah. Ke depan, Myles mendorong model uji coba platform adaptif, yakni satu infrastruktur dengan protokol induk yang menguji beberapa intervensi secara paralel dan serial, dengan kemampuan menghentikan atau menambahkan lengan uji berdasarkan hasil interim. Model ini diwujudkan melalui project PROMPT (Perioperative Medicine Platform Trial) dengan domain pertama membandingkan tiga konsentrasi oksigen inspirasi yang hingga kini belum memiliki konsensus global.

Sesi V: Penelitian Luaran ERAS


  Pembicara 1: Prof. Olle Ljungqvist, Swedia

Membaca Bukti Secara Kritis

Prof. Olle Ljungqvist membuka sesi kelima dengan pengingat yang tampaknya sederhana namun sering diabaikan: membaca abstrak bukan hal yang sama dengan membaca bukti dalam suatu studi, ketidaksignifikanan statistik tidak berarti tidak ada manfaat klinis, dan pemahaman fisiologis tetap penting bahkan ketika membaca bukti dari tingkat tertinggi (RCT) sekalipun. Hal ini diilustrasikan melalui telaah kritis terhadap sebuah meta-analisis tentang carbohydrate loading praoperasi yang menyimpulkan bahwa intervensi tersebut hampir tidak memberikan manfaat bermakna. Ketika metodologinya diperiksa lebih dalam, ditemukan sejumlah masalah mendasar seperti definisi dosis yang tidak memiliki dasar fisiologis, waktu pemberian yang berada di luar jendela kerja insulin, dan definisi bedah mayor yang terlalu luas sehingga mencakup prosedur yang kini dianggap minor. Ketika meta-analisis yang sama dipaksa melaporkan subkelompok bedah abdomen mayor saja, manfaatnya menjadi bermakna secara klinis.

Ljungqvist juga mengingatkan bahwa kriteria DREAM (Drinking, Eating, and Mobilisation), yang kerap digunakan sebagai proksi kepatuhan ERAS adalah penanda pemulihan dan kriteria pemulangan, bukan indikator proses. Pasien yang tidak dapat makan, minum, atau mobilisasi melakukannya karena perawatan sebelumnya tidak adekuat, bukan karena kegagalan ketiga elemen tersebut secara inheren. Data dari empat rumah sakit yang dilatih secara internasional dalam ERAS, yang memperlihatkan variasi besar dalam baseline kepatuhan terhadap elemen perawatan ERAS sebelum pelatihan, dan tidak satu pun yang mendekati standar perawatan yang seharusnya. Temuan ini menegaskan bahwa mengukur luaran tanpa memahami prosesnya tidaklah cukup, karena perawatan yang diberikan di setiap rumah sakit sangat bervariasi sehingga sulit menyimpulkan bahwa satu elemen saja yang berpengaruh terhadap suatu hasil.

  Pembicara 2: Prof. Ulf Gustafsson, Swedia

Artifisial Intelejen (AI) dalam ERAS

Sebagian besar meta-analisis ERAS dinilai bermasalah secara metodologis karena mencampurkan RCT dengan studi kohort, sehingga menimbulkan heterogenitas yang substansial. Menurutnya, hanya meta-analisis berbasis RCT yang dapat dipercaya sepenuhnya dalam evidence-based medicine. Gustafsson memaparkan pengalamannya dalam melaksanakan studi RCT prehabilitas di Stockholm, yang menghadapi berbagai tantangan mulai dari desain paket intervensi yang menyulitkan identifikasi komponen efektif, hingga kontaminasi silang karena pasien kelompok kontrol secara mandiri mulai berolahraga menjelang tanggal operasi mereka. Pengalaman ini sekaligus memperlihatkan keterbatasan RCT konvensional untuk menguji intervensi gaya hidup seperti prehabilitas, dan membuka argumen bahwa desain platform trial atau registry-based trial mungkin lebih cocok untuk menjawab pertanyaan semacam ini.

AI masuk sebagai pendekatan komplementer: studi berbasis machine learning berkembang pesat dalam riset ERAS dengan menghasilkan inferensi kausal dari basis data observasional, meski masih menghadapi tantangan tersendiri. Namun studi seperti ini masih menghasilkan temuan yang tidak masuk akal secara biologis, seperti profilaksis trombosis yang tampak melindungi dari kebocoran anastomosis, kemungkinan akibat confounding dan keterbatasan kualitas data. Hambatan hukum lintas batas dalam pertukaran data registri semakin mempersulit penelitian berbasis basis data besar. Ia melihat prospek pada kolaborasi antara ERAS Society, Anchora, Karolinska Institutet, dan University of Alberta untuk membangun sistem AI tervalidasi menggunakan data sintetis yang mereplikasi sifat data kesehatan nyata tanpa memuat informasi yang dapat mengidentifikasi pasien, sehingga melewati hambatan hukum tersebut.

  Pembicara 3: Dr. Sean Dowdy, Amerika Serikat

ERAS sebagai katalis dalam membangun Learning Health System

Dr. Sean Dowdy mendefinisikan Learning Health System (LHS) menggunakan kerangka National Academy of Medicine Amerika Serikat yang terdiri atas empat pilar yaitu Ilmu Pengetahuan, Informatika, Insentif, dan Budaya. Keempatnya diselaraskan untuk perbaikan berkelanjutan, inovasi, dan ekuitas. Dalam sistem ini, praktik terbaik dan penemuan baru tertanam langsung dalam proses pemberian layanan sehingga pengetahuan baru muncul dari pengalaman perawatan itu sendiri tanpa harus menjadi kegiatan penelitian yang terpisah. Individu dan keluarga pun menjadi peserta aktif dalam seluruh elemennya. Hasilnya adalah perawatan yang lebih berkualitas, lebih aman, dan lebih efisien bagi pasien.

Gambar 1.  Dokumentasi presentasi dan copyright Dr. Sean Dowdy: Learning Health System


Nilai-nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan kerangka Shared Commitments, yang menegaskan komitmen pelayanan kepada pasien tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi di tengah tekanan yang dihadapi layanan kesehatan Amerika Serikat saat ini. Kerangka ini mendefinisikan sistem kesehatan yang (1) berpusat pada pasien dengan perawatan yang aman, efektif, dan efisien, (2) berkeadilan dan akuntabel dengan akses yang adil bagi semua, serta (3) transparan, aman, dan adaptif. Menurut Dowdy, ERAS sudah memenuhi sebagian besar komitmen tersebut, dengan ruang tumbuh pada ekuitas akses khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah  (LMIC). ERAS bukan hanya sebuah daftar periksa, melainkan sebuah sistem. ERAS tidak hanya selaras dengan nilai-nilai tersebut secara normatif, tetapi secara struktural telah memenuhi kriteria sebuah LHS yang beroperasi dalam skala episode perioperatif.  Elemen-elemen yang menjadikan ERAS menjadi sebuah micro-LHS mencakup:

  1. Panduan berbasis bukti sebagai fondasi,
  2. Program implementasi terstruktur,
  3. Pembentukan tim multidisiplin,
  4. Siklus PDSA untuk perbaikan berkelanjutan,
  5. Putaran umpan balik audit yang mengalir kembali ke dalam panduan yang terus diperbarui,
  6. Budaya perbaikan multidisiplin yang menjadikan luaran pasien yang lebih baik sebagai insentif utama.

Pembingkaian ini memungkinkan praktisi ERAS memandang diri mereka sebagai ilmuwan sistem kesehatan, bukan sekadar pelaksana protokol perioperatif. Meskipun demikian, kapasitas transformatif sebuah micro-LHS dibatasi oleh cakupan operasionalnya. Untuk menghasilkan dampak di tingkat sistem yang lebih luas, perluasan ERAS ke skala layanan kesehatan yang lebih besar dapat dilakukan melalui:

  1. Tata kelola lintas fungsi,
  2. Dukungan eksekutif di tingkat pimpinan organisasi,
  3. Integrasi dengan infrastruktur informatika kelembagaan,
  4. Budaya kepercayaan dan umpan balik yang sudah dibangun melalui ERAS.

Dua contoh konkret ERAS sebagai micro-LHS adalah Michigan Surgical Quality Collaborative (MSQC), konsorsium 70 fasilitas bedah di Michigan yang dirancang sebagai LHS dengan model umpan balik data ke pengetahuan ke kinerja dan kembali ke data, serta Mayo Clinic Kern Center yang mengelola 200 hingga 300 proyek tahunan lintas seluruh area perawatan. Dowdy menegaskan bahwa penelitian harus bergerak sesuai kecepatan praktik klinis, bukan siklus hibah akademik, dengan tujuan akhir berupa transformasi organisasi dan dampak pada pasien, bukan publikasi demi publikasi.

  Pembicara 4: Dr. Khara Marissa Sauro, Kanada

Menutup Kesenjangan Tahu-Lakukan: Ilmu Implementasi

Dr. Khara membuka dengan sebuah pertanyaan, apakah ERAS efektif? Sebuah meta-analisis 74 RCT membuktikan efikasi ERAS, namun efikasi dalam kondisi terkontrol bukan hal yang sama dengan efektivitas di konteks nyata sebuah rumah sakit. Data sebuah studi multisenter internasional dari Gregg Nelson menunjukkan bahwa kepatuhan ERAS secara keseluruhan di atas 75%, tetapi hasil ini menunjukan lebih dari 20% pasien belum mendapatkan manfaat penuh ERAS. Dua hasil studi tersebut adalah salah satu dari masalah implementasi. Dalam survei di Alberta, Kanada, 83% responden menyatakan menggunakan panduan ERAS. Namun ketika didalami lebih lanjut, yang dimaksud adalah menggunakan sebagian elemen, bukan keseluruhan jalur perawatan. Hal tersebut disebabkan oleh hambatan implementasi seperti tidak ada insentif staff untuk menggunakan panduan ERAS, dan persepsi bahwa biaya dalam hal upaya, waktu, dan sumber daya melebihi manfaatnya.

Khara selanjutnya memperkenalkan Knowledge-to-Action (KTA) Cycle sebagai kerangka implementasi sains: sebuah pendekatan yang menempatkan penciptaan pengetahuan dalam putaran berkelanjutan bersama siklus tindakan, mulai dari identifikasi masalah, adaptasi kontekstual, pengembangan dan penerapan strategi implementasi, hingga pengukuran, evaluasi, dan pemeliharaan perubahan.

Gambar 2.  Dokumentasi presentasi dan copyright Dr. Khara Sauro: KTA Cycle


Konteks atau setting pelayanan adalah hal yang paling penting dalam  implementasi. Salah satu analisis faktornya mengidentifikasi klaster elemen ERAS yang memiliki dampak terbesar per unit upaya: penghentian cairan intravena, pencabutan kateter urin, pencabutan drain dan selang, serta mobilisasi dini. Temuan ini relevan untuk prioritisasi implementasi di setting sumber daya terbatas.

  Pembicara 5: Dr. Mercedes Pilkington, Kanada

Inovasi dalam ERAS Neonatal dan pelibatan keluarga dalam proses pengembangan

Sesi ini mengingatkan kembali bahwa ERAS bukan hanya tentang pasien dewasa, dan panduan untuk pasien dewasa tidak dapat scaling down untuk pasien anak. Pilkington menekankan 3 aspek dalam inovasi dalam ERAS Neonatus yang juga dapat menjadi pendekatan yang digeneralisir, yaitu ERAS sesuai dengan fisiologi pasien, mendefinisikan “perbaikan pemulihan” untuk neonatus atau populasi baru, studi uji coba kolaboratif terutama  untuk kondisi medis yang langka.

Gambar 3. Dokumentasi presentasi dan copyright Dr. Pilkington: Inovasi ERAS untuk Neonatus


Panduan ERAS Society untuk anak pertama kali diterbitkan pada 2010, tetapi panduan khusus neonatal baru muncul pada 2022, dibandingkan dengan program ERAS dewasa yang telah berdiri selama 25 tahun, menggambarkan betapa jauh ERAS pediatri masih tertinggal. Pendekatan yang dilakukan dalam pengembangan ERAS neonatus bersifat fisiologis, bukan diagnostik. Pengambangan difokuskan pada fisiologi yang dimiliki bersama oleh semua neonatus yang menjalani operasi dalam 28 hari pertama kehidupan. Pendekatan horizontal dalam pengembangan ini memungkinkan satu panduan yang berlaku lintas diagnosis.

Gambar 4.  Dokumentasi presentasi dan copyright Dr. Pilkington: Inovasi ERAS untuk Neonatus


Pilkington dan timnya melibatkan orang tua dalam proses mendefinisikan “perbaikan pemulihan” yang penting dan dibutuhkan untuk neonatus.  Tema yang konsisten muncul adalah ikatan antara orang tua dan bayi, keinginan untuk merawat bayi secara langsung, promosi menyusui, dan kepercayaan kepada tim kesehatan.  Salah satu luaran dari ERAS neonatus adalah Parent Experience (PREM), dimana Family-centered care atau perawatan berpusat pada keluarga menjadi salah satu pendekatan dalam ERAS Neonatus. Sebagai endpoint utama dalam uji coba neonatal ERAS yang akan datang adalah luaran neurologis jangka panjang, mengingat sekitar 23% pasien bedah neonatal mengalami disabilitas neurodevelopmental di kemudian hari.

  Paparan Fearon: Bedah di Luar Angkasa

Pembicara:  Dr. Michael Jobst, Amerika Serikat

Paparan Fearon, yang secara tradisi disampaikan untuk menghormati mendiang Prof. Kenneth Fearon sebagai salah satu pendiri ERAS Society pada kongres kali ini mengangkat tema keselamatan bedah di luar angkasa. Paparan ini relevan dalam kongres bukan karena konteks bedah di luar angkasa, melainkan sebagai pemantik pemikiran tentang asumsi-asumsi dasar yang biasanya dianggap given dalam perawatan perioperatif serta praktik baik yang dapat diterapkan dalam konteks pelayanan kesehatan di daerah terpencil atau  remote. Pemantik dalam paparan ini dikemas oleh Jobst dengan 3 isu hambatan utama dalam implementasi operatif di luar angkasa, yaitu fisiologi, logistik, dan etik.

Fisiologi Mikrogravitasi

Lingkungan mikrogravitasi mengubah hampir setiap sistem fisiologis secara fundamental, dan perubahan ini bukan penyesuaian minor. Perpindahan cairan dari tungkai bawah ke kepala sebesar sekitar 1,5 liter memicu diuresis kompensasi dan menghasilkan hipovolemia fungsional. Kapasitas paru berkurang akibat redistribusi aliran darah yang lebih seragam namun kurang efisien. Sistem kardiovaskular mengalami remodeling kronis. Fungsi imun terganggu dengan reaktivasi virus dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Penyembuhan luka terhambat akibat gangguan mikrosirkulasi dan kerusakan endotelial oleh radiasi kosmik. Dari sudut pandang bedah, kombinasi ini menghasilkan peningkatan signifikan dalam risiko infeksi pascaoperasi, gangguan penyembuhan luka, dan peningkatan risiko perdarahan. Situasi ini diperburuk dengan keterbatasan alat diagnostik seperti tanpa CT atau MRI, menjadikan seluruh beban perubahan fisiologis tersebut harus dihadapi dengan modalitas yang sangat terbatas.

Logistik: Keterbatasan Sumber Daya dan Bedah Jarak Jauh

Jika fisiologi mendefinisikan apa yang berubah pada tubuh pasien, logistik mendefinisikan apa yang tersedia untuk meresponnya. Jobst mengidentifikasi tiga hambatan logistik utama: massa dan volume perangkat, latensi kendali jarak jauh, dan keterbatasan diagnostik di orbit.

Biaya peluncuran berkisar antara USD 10.000 hingga USD 50.000 per kilogram, sehingga menjadi pertimbangan untuk bobot setiap perangkat medis yang akan dibawa. Dalam konteks inilah robot MIRA (Miniaturised In vivo Robotic Assistant) dikembangkan: beratnya kurang dari 1 kg. Uji otorisasi pemasaran FDA pada bedah kolorektal menunjukkan 100% kasus berhasil diselesaikan secara robotik tanpa konversi ke bedah terbuka, dengan median lama rawat dua hari dan tanpa kejadian buruk yang berkaitan dengan perangkat.

Hambatan kedua adalah latensi. Eksperimen bedah jarak jauh antara Bumi dan ISS pada Februari 2024 mencatat latensi sekitar 800 milidetik, yang untuk prosedur mikrovaskular presisi masih menjadi hambatan operasional. Sebagai perbandingan, uji latensi jalur darat Los Angeles ke Chicago mencatat sekitar 50 milidetik, berada dalam rentang yang dapat diterima secara klinis. Dalam eksperimen terpisah di Nebraska, robot MIRA berhasil dioperasikan dari Lincoln untuk melakukan prosedur pada model porcine di Columbus sejauh 80 mil, mendemonstrasikan kelayakan bedah robotik di lingkungan rural yang terisolasi.

Hambatan ketiga adalah diagnostik. Di ISS, modalitas pencitraan terbatas pada ultrasonografi portabel. CT dan MRI tidak tersedia, baik karena kendala massa maupun karena medan magnet dan rotasi gantri tidak kompatibel dengan navigasi wahana antariksa. Perangkat analisis laboratorium point-of-care tersedia untuk panel metabolik dasar, namun kapasitasnya jauh di bawah standar fasilitas kesehatan konvensional.

Opini Penulis: Bedah robotik jarak jauh adalah salah satu praktik baik yang juga dapat dilakukan dalam konteks layanan kesehatan pada geografis yang terpencil dan sumber daya yang terbatas. Prinsip efisiensi sumber daya dalam lingkungan dengan kendala massa ekstrem juga mengingatkan pentingnya seleksi peralatan yang tepat guna dalam konteks keterbatasan anggaran dan infrastruktur.

Etika dan Tata Kelola Bedah di Luar Angkasa

Tantangan tata kelola tidak kalah kompleks dari tantangan teknisnya. Jobst menyoroti tiga persoalan utama: informed consent, peran AI dalam pengambilan keputusan, dan distribusi tanggung jawab hukum.

Informed consent standar tidak dapat diperoleh pada saat kedaruratan di luar angkasa. Dengan latensi komunikasi 22 menit satu arah pada misi Mars, konsultasi real-time dengan tenaga medis di Bumi tidak dimungkinkan. Persetujuan karena itu harus diperoleh sebelum peluncuran untuk kondisi darurat yang pada dasarnya tidak dapat diprediksi. Ketika kondisi pasien berubah di tengah misi, sebagaimana lazimnya terjadi dalam kedaruratan bedah, pembaruan consent tidak dapat dilakukan.

Di sinilah peran AI menjadi sentral. Dalam konteks informed consent, AI dapat berperan sebagai surrogate decision-maker yang menggantikan fungsi next-of-kin ketika pasien tidak mampu memutuskan sendiri dan konsultasi ke Bumi tidak memungkinkan. Namun peran ini mengandung keterbatasan inheren: berbeda dari seorang klinisi yang dapat menjelaskan rasional rekomendasinya, keputusan AI bersifat opak dan tidak sepenuhnya dapat diaudit, sehingga kualitas consent yang dihasilkan tetap dipertanyakan.

Untuk distribusi tanggung jawab hukum, Jobst mengusulkan model tanggung jawab bersama yang analogis dengan industri penerbangan, di mana liability didistribusikan antara NASA, pengembang AI, petugas medis awak, dan ahli bedah jarak jauh. Model ini merupakan titik awal yang logis, namun memerlukan kerangka regulasi yang mendukung.

Opini Penulis:  Persoalan informed consent dalam kondisi keterbatasan komunikasi dan waktu bukan hanya persoalan luar angkasa. Layanan kesehatan di daerah terpencil menghadapi tantangan serupa, di mana pasien seringkali tidak dapat dirujuk tepat waktu dan keputusan tindakan harus diambil dengan informasi yang tidak lengkap. Pengembangan protokol consent yang diadaptasi untuk konteks keterbatasan akses, termasuk mekanisme pre-consent untuk prosedur darurat yang dapat diantisipasi, merupakan area yang perlu mendapat perhatian.

Sesi VII: Prehabilitas dan Praoptimasi

 

  Pembicara 1: Prof. Bernhard Riedel, Australia

ERAS+: Standarisasi dan Optimasi Pasien

Konsep ERAS+ memperluas ERAS ke dua sumbu: standarisasi perawatan untuk mengurangi variabilitas, dan optimasi risiko pasien yang dapat dimodifikasi sebelum operasi melalui prehabilitas. Prehabilitas adalah program intervensi praoperasi yang bertujuan meningkatkan kondisi fisik, nutrisi, dan psikologis pasien sebelum tindakan bedah, sehingga pasien tiba di meja operasi dalam kondisi optimal. Reduksi komplikasi adalah luaran yang diharapkan dari kedua pendekatan ini. Dalam konteks onkologi, komplikasi pascaoperasi dapat mengganggu perjalanan onkologi dengan menunda terapi adjuvan, sehingga berpotensi mengkompromikan keberhasilan tatalaksana kanker itu sendiri. Untuk mengukur dampak ini, Riedel memperkenalkan TRuST interval (Time to Recovery and Subsequent Treatment), yaitu jeda waktu antara operasi dan dimulainya kembali terapi onkologi berikutnya seperti kemoterapi adjuvan. Semakin panjang jeda ini akibat komplikasi pascaoperasi, semakin besar risiko terhadap luaran onkologi. Dengan demikian, pemulihan yang berkualitas bukan hanya tujuan bedah, melainkan prasyarat keberhasilan tatalaksana kanker secara keseluruhan.

Gambar 5.  Dokumentasi presentasi dan copyright Prof. Riedel: Prehabilitasi


Riedel mengusulkan model prehabilitas berlapis berbasis piramida MacMillan untuk mengoptimalkan prehabilitas. Pada lapisan pertama (green zone), seluruh pasien menerima edukasi universal melalui Surgery School, yaitu program edukasi praoperasi yang ditujukan bagi pasien dan keluarga. Kurikulumnya mencakup edukasi prosedur bedah, nutrisi, latihan fisik, dan ekspektasi pascaoperasi, dan kini disampaikan dalam format video rekaman dan webinar agar dapat diakses secara luas. Pada lapisan kedua (orange zone), pasien berisiko tinggi dirujuk ke program latihan fisik terstruktur dan terapi nutrisi medis. Pada lapisan ketiga (red zone), pasien dengan kebutuhan spesialistik ditangani melalui jalur khusus termasuk nutrisi enteral dan pengambilan keputusan bersama mengenai kelayakan bedah.

Gambar 6.  Dokumentasi presentasi dan copyright Prof. Riedel: Surgery School Programme


Bukti dari uji acak terkontrol Eropa pada 251 pasien menunjukkan reduksi komplikasi sebesar 50% dengan prehabilitas multimodal, dengan manfaat terbesar pada kombinasi latihan fisik dan dukungan nutrisi. Riedel juga mengidentifikasi perlunya ambang batas kapasitas fungsional yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Ambang batas tunggal yang tidak mempertimbangkan perbedaan fisiologis ini berisiko menyebabkan triage berlebihan pada perempuan dan triage tidak cukup pada laki-laki.

  Pembicara 2: Dr. Frederick Koh Hong Xiang, Singapura

Sarkopenia dalam Bedah

Sarkopenia adalah kehilangan massa dan fungsi otot skeletal dan menjadi komponen spesifik fragilitas yang relevan untuk perawatan perioperatif. Di Singapura, satu dari tiga individu di atas usia 60 tahun mengalami sarkopenia, angka yang sekitar dua kali lipat dari yang dilaporkan di populasi Barat, attributable pada kombinasi warisan genetik Asia dan dekade gaya hidup sedenter bergaya Barat. Pasien sarkopenik yang menjalani operasi memiliki risiko mortalitas lebih tinggi, angka komplikasi lebih tinggi, lama rawat lebih panjang, dan kelangsungan hidup jangka panjang yang lebih buruk, termasuk kelangsungan hidup spesifik kanker melalui mekanisme cross-talk imun. Dalam kohort bedah kolorektal di Sengkang General Hospital, prehabilitas selama empat minggu atau lebih pada pasien sarkopenik menghasilkan pengurangan angka komplikasi sebesar 13% secara absolut dibandingkan pasien sarkopenik yang tidak menjalani prehabilitas. Temuan dari studi HEROES yang menelaah jaringan adiposa intramuskular sebagai biomarker respons prehabilitas menunjukkan bahwa manfaat prehabilitas pada pasien di atas 65 tahun baru tampak nyata dalam rentang 1 hingga 6 bulan pascaoperasi, bukan dalam periode praoperasi. Xiang menekankan evaluasi efektivitas prehabilitas harus memperhitungkan jendela waktu yang tepat sesuai fisiologi pemulihan, bukan hanya perubahan praoperasi.

  Pembicara 3: Dr. Henry MK Wong, Hong Kong SAR

Prehabilitas pada Bedah Jantung

Tantangan spesifik prehabilitas dalam bedah jantung menurut Dr. Wong adalah di mana kekhawatiran tentang keamanan meresepkan latihan fisik pada pasien dengan cadangan kardiovaskular terbatas telah lama menjadi hambatan adopsi. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology yang mencakup lebih dari 40 RCT dan sekitar 4.000 pasien, menemukan peningkatan 6-minute walk test praoperasi sebesar rata-rata 69 meter, pengurangan lama rawat di ICU sekitar 6 jam, pengurangan lama rawat rumah sakit sekitar 1 hari, dan pengurangan odds pneumonia pasca-operasi sebesar 67%. Uji coba PREQUEL, sebuah RCT yang secara khusus menargetkan pasien bedah jantung yang mengalami fragilitas ringan hingga sedang, menunjukkan bahwa meskipun tidak ada perbedaan signifikan pada luaran primer keseluruhan, terdapat penurunan bermakna pada skor disabilitas pada hari ke-90 pascaoperasi, dan analisis eksplorasi menunjukkan manfaat kelangsungan hidup yang moderat dalam 4 tahun tindak lanjut. Analisis dosis-respons menunjukkan bahwa minimal 5 sesi latihan diperlukan untuk manfaat fungsional, sementara 14 sesi diperlukan untuk mencapai minimal clinically important difference pada 6-minute walk test.

  Pembicara 4: Dr. Chrisna Norris, Australia

Perawatan Pasien Bedah Usia Lanjut: Model COPS

Dr. Norris memaparkan model Care of Older People in Surgery (COPS) dari Prince of Wales Hospital, sebuah program perawatan bersama antara geriatri dan bedah untuk pasien berusia 75 tahun ke atas yang masuk ke bangsal bedah. COPS didasarkan pada Comprehensive Geriatric Assessment (CGA), yang berbeda dari sekadar penghitungan skor fragilitas atau skrining kognitif sederhana karena mencakup penilaian holistik yang menghasilkan rencana manajemen yang diprioritaskan dan berpusat pada individu. Evaluasi retrospektif yang Norris lakukan menunjukkan pengurangan komplikasi yang diperoleh di rumah sakit dari 39% menjadi 23%, penurunan laju rawat ulang yang tidak direncanakan, dan perbaikan fungsi pascaoperasi. Lama rawat turun satu hari secara median, yang tidak mencapai signifikansi statistik dalam analisis.

Norris memberi catatan yang relevan pada hasil studi tersebut: “Sebagai peneliti, saya akan memberi tahu Anda bahwa hasil tidak bermakna secara statistik. Tetapi sebagai seseorang yang bekerja di rumah sakit di bawah tekanan kapasitas tempat tidur yang signifikan, saya akan memberi tahu Anda bahwa pengurangan lama rawat satu hari itu bermakna bagi eksekutif rumah sakit.” Norris menutup dengan peringatan tentang asumsi yang sering tidak diperiksa: model piramida prehabilitas yang menempatkan pasien kompleks sebagai minoritas kecil di puncak mungkin tidak berlaku untuk semua populasi bedah. Pada bedah jantung atau bedah onkologi saluran cerna atas, mayoritas pasien mungkin justru berada di lapisan tertinggi kompleksitas, sehingga perencanaan alokasi sumber daya perlu mempertimbangkan distribusi populasi yang sesungguhnya.

Sesi VIII: ERAS di Asia-Pasifik

 

  Pembicara 1: Dr. Yang Mingxiao, Singapura

Praktik Tradisional Asia dalam Perawatan Perioperatif

Dr. Mingxiao membuka sesi dengan paparan tentang peran praktik medis tradisional Asia dalam konteks ERAS. Dua contoh konkret yang kemudian dikonfirmasi oleh Dr. How dalam paparan berikutnya: akupunktur kini telah dimasukkan dalam panduan ERAS terkini untuk bedah kolorektal berdasarkan bukti yang memenuhi ambang batas ERAS Society, dan Daikenchuto, obat herbal Jepang yang diketahui meningkatkan motilitas gastrointestinal, telah dimasukkan dalam panduan ERAS yang relevan untuk Jepang. Pendekatan ERAS Society dalam pembaruan panduan bersifat berbasis bukti dan tidak mengecualikan intervensi tradisional secara a priori, tetapi memasukkannya hanya ketika bukti telah mencapai tingkat yang memadai.

  Pembicara 2: Dr. Kwang Yeong How , Singapura

ERAS di Asia-Pasifik

Dr. How menyampaikan tinjauan komprehensif tentang perjalanan ERAS di kawasan Asia-Pasifik dari masa lalu, kondisi saat ini, dan jalan ke depan. Pada tahun 2026, terdapat 11 unit ERAS bersertifikasi di kawasan Asia-Pasifik dari total 135 unit global, dengan 3 Centre of Excellence dari total 25 secara global. Negara-negara yang telah mengimplementasikan atau sedang dalam proses implementasi meliputi Singapura, Vietnam, Taiwan (dengan dukungan pendanaan nasional untuk ERAS pada bedah lutut), Jepang (unit pertama bersertifikasi 2024), Korea Selatan (unit pertama Mei 2025), Malaysia (implementasi selesai Maret 2026), Filipina (salah satu mitra regional terkuat), Tiongkok, dan Indonesia (dimulai 2025 hingga 2026 melalui tiga rumah sakit dari sektor swasta). Salah satu praktik baik dari Taiwan menawarkan preseden kebijakan yang menarik, yaitu pemerintah Taiwan memberikan insentif finansial bagi rumah sakit yang menjalankan ERAS untuk bedah lutut secara patuh, sebuah mekanisme yang mengintegrasikan ERAS ke dalam sistem pembiayaan kesehatan nasional. Pertanyaan yang relevan untuk Indonesia adalah apakah mekanisme serupa dapat dikembangkan dalam konteks JKN?

Beberapa tantangan dalam implementasi ERAS antara lain adalah:

  1. Tidak ada template implementasi universal atau one size fits for all
  2. Hambatan bahasa dalam pelayanan terutama negara dengan multi-bahasa
  3. Praktik tradisional yang tertanam dalam seperti persiapan usus mekanis, puasa pra-operasi berkepanjangan, infus intravena rutin sebelum operasi, selang nasogastrik rutin pascaoperasi, dan admisi ICU atau HDU pas-carutin yang tidak diperlukan secara klinis;
  4. Kebijakan pembiayaan kesehatan: cakupan asuransi yang terbatas memaksa pasien menanggung sendiri biaya intervensi tertentu seperti bedah minimal invasif atau agen farmakologis spesifik, sementara sistem reimbursement berbasis lama rawat di sejumlah negara justru menjadi disinsentif finansial terhadap pemulangan lebih awal yang menjadi tujuan ERAS.

Pola yang berulang di seluruh kawasan adalah bahwa implementasi secara konsisten lebih dulu terjadi di rumah sakit swasta atau beresonansi tinggi, yang menimbulkan pertanyaan tentang ekuitas akses.

Keunggulan struktural Asia-Pasifik yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ERAS. Volume bedah yang sangat tinggi di pusat-pusat Asia Timur memungkinkan akumulasi data klinis yang cepat. Epidemiologi yang khas, termasuk insiden kanker lambung dan kanker kepala-leher tertinggi di dunia, menyediakan populasi pasien yang unik untuk penelitian ERAS spesifik prosedur. Tingkat adopsi bedah minimal invasif yang tinggi di kawasan ini juga secara alami mendukung dan memperkuat implementasi ERAS. Dalam hal integrasi dengan praktik lokal, dua intervensi berbasis tradisi Asia kini telah masuk ke dalam kerangka evidens ERAS: akupunktur yang telah dimasukkan dalam panduan ERAS kolorektal terbaru, dan Daikenchuto, herbal Jepang yang meningkatkan motilitas gastrointestinal, yang telah dimasukkan dalam panduan ERAS Jepang.

Sebagai pendukung dalam akselerasi implementasi ERAS, Dr. How menawarkan model hub-and-spoke dimana Centre of Excellence regional seperti Singapore General Hospital dan Medical City Manila berperan sebagai pusat pelatihan yang kemudian melatih dan mendukung rumah sakit-rumah sakit lain di kawasan ASIA. Model ini memungkinkan peningkatan kapasitas implementasi berkembang tanpa bergantung sepenuhnya pada ERAS Society pusat.

Dr. How menutup dengan pertanyaan strategis: apakah komunitas ERAS Asia-Pasifik perlu memformalkan diri menjadi bab resmi ERAS Society, ataukah tetap sebagai kemitraan informal yang fleksibel? Argumen untuk formalisasi mencakup tata kelola yang terstruktur, representasi formal dalam ERAS Society global, dan legitimasi yang lebih kuat untuk mencari pendanaan nasional dan regional dalam penelitian dan pengembangan.

Catatan Penutup

Tiga framing yang paling substantif bagi penulis dari keseluruhan hari ini adalah sebagai berikut. Pertama, ERAS sebagai Learning Health System bukan hanya analogi yang menarik; ini adalah deskripsi struktural yang akurat, dan menyadari hal ini mengubah cara praktisi memandang peran mereka. Kedua, kesenjangan antara efikasi dan efektivitas bukan kegagalan program, melainkan masalah implementasi yang memerlukan pendekatan dengan ketelitian yang sama seperti penelitian klinis. Ketiga, peta implementasi Asia-Pasifik menunjukkan bahwa Indonesia sudah berada di dalam perjalanan ini, tetapi pertanyaan tentang bagaimana ERAS dapat menjangkau fasilitas kesehatan publik, bukan hanya rumah sakit swasta beresonansi tinggi, adalah pertanyaan yang perlu dijawab dengan kebijakan,yang didukung dengan pengembangan dan penelitian dari seluruh pihak.

Refleksi: Mengembangkan ERAS di Indonesia dengan Perspektif Sistem Layanan Kesehatan

Berdasarkan praktik baik dari rangkaian Kongres ERAS 2026, Penulis merangkai  pembelajaran dari praktik baik tersebut untuk pengembangan ERAS di Indonesia menggunakan kerangka sistem layanan kesehatan dan efek rantai dalam perbaikan layanan kesehatan dari Donald Berwick (Berwick, Nolan dan Whittington, 2008; Berwick, 2016) yang perlu diinisiasi oleh pemangku kepentingan dari ketiga level tersebut, dengan kerangka kebijakan yang kuat dari level makro. Pengembangan perlu dilaksanakan secara paralel, sinergis, dan terintegrasi (Valentijn et al., 2013) untuk memastikan luaran ERAS, baik dari sisi kualitas perawatan, efisiensi biaya, hingga budaya keselamatan pasien, dapat tercapai serta mendukung transformasi kebijakan kesehatan Indonesia.

Perspektif Makro (Konteks Lingkungan)

Di level makro, pengembangan ERAS memerlukan keselarasan dengan sistem kesehatan nasional agar implementasinya dapat berkelanjutan, adil, dan merata.

  1. AVBC sebagai Kerangka Kebijakan
    Paparan Kementerian Kesehatan Singapura tentang Appropriate and Value-Based Care (AVBC) menunjukkan bahwa ERAS dapat diposisikan sebagai instrumen realisasi strategi nasional, bukan sekadar protokol klinis. Preseden Taiwan, di mana pemerintah memberikan insentif finansial bagi rumah sakit yang menjalankan ERAS secara patuh untuk bedah lutut, menunjukkan bahwa mekanisme pembiayaan dapat dirancang untuk mendorong kepatuhan protokol. Kerangka kebijakan untuk pelayanan berbasis nilai seperti AVBC menjadi salah satu inovasi bagaimana efisiensi tetap mengedepankan layanan kesehatan yang berkualitas dan juga efektif untuk masyarakat, hal ini juga dapat mengoptimalkan fungsi dari Health Technology Assessment (HTA) yang menjadi salah satu komponen pada kerangka tersebut (Henshall dan Schuller, 2013; Otte et al., 2024). Kerangka kebijakan ini dapat menjadi faktor pendukung dalam implementasi ERAS ataupun inovasi lain dalam efisiensi layanan yang tetap mengedepankan value dan efektivitas untuk pasien.
  2. Learning Health System
    Dr. Sean Dowdy menegaskan bahwa ERAS sudah merupakan sebuah micro-Learning Health System (LHS). Menggunakan kerangka National Academy of Medicine (McGinnis, Fineberg dan Dzau, 2021; McGinnis, Fineberg dan Dzau, 2024), LHS dipahami sebagai sistem yang mengintegrasikan sains, informatika, insentif, dan budaya organisasi sebagai fondasi, yang kemudian menggerakkan fungsi-fungsi operasional mencakup pembangkitan pengetahuan berbasis data, penjaminan interoperabilitas, penghargaan berbasis luaran, hingga promosi keterbukaan, seluruhnya dalam tata kelola yang kohesif demi menghasilkan layanan kesehatan yang aman, efektif, merata, dan adaptif (Gambar 1). Yang membedakan LHS dari sistem konvensional adalah sifatnya yang self-improving: setiap pengalaman klinis dikembalikan sebagai umpan balik melalui siklus continuous learning and improvement secara berkelanjutan. Pada level makro, kapasitas transformatif LHS baru dapat terwujud melalui tata kelola lintas fungsi, dukungan eksekutif di tingkat pimpinan organisasi, dan integrasi dengan infrastruktur data nasional seperti SATUSEHAT. Pembelajaran sistem penting dalam pengembangan ERAS sehingga baik dari level mikro, meso, maupun makro dapat melakukan perbaikan berkelanjutan dan terintegrasi dalam pengembangannya (McGinnis, Fineberg dan Dzau, 2024).

    Gambar 1. The Learning Health System at Work (McGinnis, Fineberg dan Dzau, 2024)

  3. Layanan Operasi untuk Layanan di DTPK
    Paparan bedah luar angkasa oleh Dr. Jobst menawarkan analogi substantif untuk layanan kesehatan di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Keterbatasan diagnostik yang memaksa mengandalkan ultrasonografi portabel, bedah robotik jarak jauh, dan pengambilan keputusan dalam kondisi komunikasi terbatas adalah kondisi yang juga dihadapi layanan kesehatan di wilayah terpencil Indonesia. Pada level makro, ini merupakan argumen untuk kebijakan yang secara eksplisit mengadaptasi prinsip ERAS untuk konteks DTPK, bukan mengecualikannya karena keterbatasan sumber daya.

Perspektif Meso (Organisasi, Pasien dan Komunitas)

Di level meso, rumah sakit dan jaringan layanan perlu merancang layanan dan fasilitas untuk mendukung implementasi ERAS yang konsisten dan berkelanjutan.

  1. Praktik Baik TTSH: Desain Infrastruktur sebagai Penopang Kepatuhan
    Praktik baik Tan Tock Seng Hospital (TTSH) di Singapura memperlihatkan bahwa kepatuhan protokol tidak hanya ditentukan oleh pelatihan tim, tetapi oleh desain infrastruktur fisik layanan. Bangsal ERAS khusus yang diluncurkan pada Februari 2024 menghasilkan peningkatan mobilisasi hari operasi dari 22% menjadi 46% dan peningkatan kepatuhan protokol dari 63,6% menjadi 73,5%. Model koordinator ERAS terdistribusi membagi peran koordinasi ke dalam tiga fase perawatan yang dikelola oleh pemimpin berbeda dalam domain yang sudah ada, merupakan respons inovatif terhadap keterbatasan sumber daya yang relevan untuk rumah sakit Indonesia yang belum dapat menyediakan koordinator ERAS penuh waktu.
  2. Integrasi Layanan Primer dan Keterlibatan Komunitas
    Model transisi perawatan dari National Health Group Singapura, yang menjembatani rumah sakit dengan 105 lingkungan komunitas melalui tim multidisiplin berbasis kunjungan rumah dan rekam medis elektronik bersama, menunjukkan bahwa layanan ERAS perlu melibatkan layanan primer dan komunitas untuk mencapai luaran yang optimal. Praktik baik dari Filipina, menggunakan kunjungan rumah oleh tim multidisiplin termasuk kader kesehatan komunitas untuk memastikan kontinuitas nutrisi pasca pemulangan, menunjukkan bahwa implementasi ERAS di setting sumber daya terbatas dapat berinovasi melampaui model referensinya. Integrasi ERAS dengan jaringan puskesmas dan kader kesehatan komunitas, khususnya dalam fase pasca pemulangan, perlu menjadi bagian dari desain program sejak awal.
  3. Pendekatan Patient and Family-Centered Care
    Dua jalur dalam kongres ini menunjukkan bahwa keterlibatan pasien dan keluarga bukan komponen tambahan melainkan penentu relevansi program. Prabu Naidu selaku perwakilan pasien di TTSH mengidentifikasi tiga kebutuhan pasien pasca pemulangan yang sering tidak dijawab sistem: informasi yang jelas, dukungan sosial dari sesama penyintas, dan akuntabilitas pasien atas pemulihan mereka sendiri. Pengembangan ERAS neonatal oleh Dr. Pilkington melibatkan orang tua dalam mendefinisikan makna pemulihan, menghasilkan Parent Experience Measure (PREM) sebagai luaran dari perawatan. Dalam kerangka yang sama, Prof. Riedel memaparkan Surgery School sebagai program edukasi pra-operasi terstruktur yang ditujukan bagi pasien dan keluarga yang mencakup edukasi prosedur bedah, nutrisi, latihan fisik, dan ekspektasi pascaoperasi. Keluarga pasien secara khusus dilibatkan karena mereka turut menjadi motivator utama kepatuhan pasien terhadap program optimasi pra-operasi. Pendekatan Patient and Family-Centered Care (PFCC) (Luxford, Safran dan Delbanco, 2011) yang menempatkan pasien dan keluarga sebagai mitra aktif dalam perawatan, bukan penerima pasif, merupakan komponen yang menentukan keberlanjutan ERAS di tingkat institusi.

Perspektif Mikro

Di level mikro, efektivitas ERAS ditentukan oleh kemampuan tim  dalam menerapkan protokol secara konsisten, mengadaptasinya sesuai konteks lokal, dan mengintegrasikan pembelajaran dari setiap siklus implementasi.

  1. Penyesuaian Setting Layanan dengan Evidens
    Dr. Khara Sauro memperkenalkan Knowledge-to-Action (KTA) Cycle sebagai kerangka ilmu implementasi yang menempatkan penciptaan pengetahuan dalam putaran berkelanjutan bersama siklus tindakan (Graham et al., 2006). Analisis klasternya mengidentifikasi elemen ERAS dengan dampak terbesar per unit upaya: penghentian cairan intravena, pencabutan kateter urin, pencabutan drain dan selang, serta mobilisasi dini. Temuan ini relevan untuk prioritisasi implementasi di setting sumber daya terbatas. Riset implementasi yang menghasilkan evidens lokal tentang adaptasi ERAS untuk konteks Indonesia merupakan investasi yang diperlukan sejak awal.
  2. Riset Implementasi dan Fidelitas Protokol
    Fidelitas implementasi, yakni sejauh mana suatu intervensi diterapkan sesuai rancangan aslinya (Carroll et al., 2007), merupakan faktor penentu efektivitas ERAS di lapangan. Data kongres menunjukkan bahwa kepatuhan ERAS di atas 75% secara keseluruhan masih menyisakan lebih dari 20% pasien yang belum mendapatkan manfaat penuh program. Panduan ERAS Ginekologi Onkologi 2026 (Nelson et al., 2026) menetapkan target kepatuhan minimal 80%, di mana setiap peningkatan satu poin kepatuhan berkaitan dengan penurunan lama rawat sebesar 8 hingga 12% tergantung kompleksitas kasus.
  3. Pendekatan Multidisiplin
    Seluruh komponen ERAS di atas tidak dapat dijalankan oleh satu disiplin. Kapten Antoni dari Singapore Airlines dalam paparan Ljungqvist mengingatkan bahwa dalam konsep High Reliability Organisation (HRO), kinerja tidak bergantung pada satu individu melainkan pada keseluruhan sistem yang bekerja bersama. Prinsip ini selaras dengan pendekatan tim multidisiplin dalam ERAS yang mencakup dokter spesialis bedah, anestesiologi, penyakit dalam, geriatri, perawat koordinator ERAS, ahli gizi, fisioterapis, apoteker, dan tenaga kesehatan komunitas. Tantangan spesifik Indonesia adalah bahwa model multidisiplin ini perlu diadaptasi untuk konteks di mana distribusi tenaga kesehatan antardisiplin tidak merata. Model hub-and-spoke yang dipaparkan Dr. How, di mana Centre of Excellence regional berperan sebagai pusat pelatihan yang mendukung rumah sakit lain di sekitarnya, merupakan strategi akselerasi yang relevan untuk memperluas kapasitas multidisiplin tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber daya terpusat.

Penutup

Kongres ERAS 2026 menegaskan bahwa ERAS bukan sekadar protokol perioperatif, melainkan sistem yang belajar dan berkembang dari setiap pengalaman implementasinya. Bagi Indonesia yang baru memulai perjalanan ini, kerangka sistem layanan kesehatan bukan hanya menjadi instrumen analisis, melainkan perencanaan yang berpikir secara sistem untuk menyusun sebuah layanan yang  berkelanjutan dan terintegrasi antar sistem. Pengembangan ERAS memerlukan kolaborasi antara klinisi, manajemen fasilitas kesehatan, pembuat kebijakan, peneliti, akademisi, dan para pakar. Diskusi lebih lanjut akan segera dilakukan melalui Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM terkait pengembangan ERAS dan inovasi layanan berbasis nilai di Indonesia, yang bertujuan untuk membuka ruang diskusi dan kolaborasi dalam implementasi, pengembangan, dan penelitian.

Referensi

  • Berwick, D.M., Nolan, T.W. and Whittington, J. (2008) ‘The Triple Aim: care, health, and cost’, Health Affairs, 27(3), pp. 759–769. doi: 10.1377/hlthaff.27.3.759
  • Berwick, D.M. (2016) ‘Letter from Donald M. Berwick, MD, MPP, guest editor’, The American Journal of Managed Care, 22(12 Suppl), pp. s330–s332. PMID: 27567505. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27567505/
  • Carroll, C., Patterson, M., Wood, S., Booth, A., Rick, J. and Balain, S. (2007) ‘A conceptual framework for implementation fidelity’, Implementation Science, 2, p. 40. doi: 10.1186/1748-5908-2-40
  • Graham, I.D., Logan, J., Harrison, M.B., Straus, S.E., Tetroe, J., Caswell, W. and Robinson, N. (2006) ‘Lost in knowledge translation: time for a map?’, Journal of Continuing Education in the Health Professions, 26(1), pp. 13–24. doi: 10.1002/chp.47
  • Henshall, C. and Schuller, T. (2013) ‘Health technology assessment, value-based decision making, and innovation’, International Journal of Technology Assessment in Health Care, 29(4), pp. 353–359. doi: 10.1017/S0266462313000378
  • Luxford, K., Safran, D.G. and Delbanco, T. (2011) ‘Promoting patient-centered care: a qualitative study of facilitators and barriers in healthcare organizations with a reputation for improving the patient experience’, International Journal for Quality in Health Care, 23(5), pp. 510–515. doi: 10.1093/intqhc/mzr024
  • McGinnis, J.M., Fineberg, H.V. and Dzau, V.J. (2021) ‘Advancing the learning health system’, New England Journal of Medicine, 385(1), pp. 1–5. doi: 10.1056/NEJMp2103872
  • McGinnis, J.M., Fineberg, H.V. and Dzau, V.J. (2024) ‘Shared commitments for health and health care: a trust framework from the learning health system’, NAM Perspectives. doi: 10.31478/202412c
  • Nelson, G., Altman, A.D., Metcalfe, A., Fotopoulou, C., Taylor, J., Glaser, G., Bakkum-Gamez, J., Kumar, A., Meyer, L.A., Stone, R., Mena, G., Elias, K.M., Bisch, S.P., Zivanovic, O., Miralpeix, E., Bhandoria, G., Zahl Eriksson, A.G., Ruzycki, S.M., Sultan, P., Sauro, K.M., Blake, L., Brindle, M.E., Ramirez, P.T. and Dowdy, S.C. (2026) ‘Enhanced recovery after surgery (ERAS®) society guidelines for gynecologic oncology: 2026 update’, Gynecologic Oncology, 210, pp. 153–173. doi: 10.1016/j.ygyno.2026.05.022
  • Otte, M., Dauben, H.P., Ahn, J., Gutierrez Ibarluzea, I., Drummond, M., Simoens, S., Kaló, Z. and Suh, D.C. (2024) ‘Value based healthcare and health technology assessment for emerging market countries: joint efforts to overcome barriers’, Expert Review of Pharmacoeconomics & Outcomes Research, 24(9), pp. 1061–1066. doi: 10.1080/14737167.2024.2398482
  • Valentijn, P.P., Schepman, S.M., Opheij, W. and Bruijnzeels, M.A. (2013) ‘Understanding integrated care: a comprehensive conceptual framework based on the integrative functions of primary care’, International Journal of Integrated Care, 13, e010. doi: 10.5334/ijic.886

 

 

 

 

Profil Penulis:

dr. Dzikri Fadhilah, M.HPM adalah Asisten minat Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM serta CEO SI AnakHebat, sebuah start-up sociopreneur layanan kesehatan anak dengan fokus mencegah dan menangani malnutrisi. Riset utama penulis adalah Sistem Respons Cepat Penanganan dan Pencegahan Balita Malnutrisi tingkat layanan primer dan komunitas serta fasilitas kesehatan lanjutan (Balita PRIMA). Ketertarikan bidang penulis terdiri dari sistem kesehatan, mutu layanan kesehatan, kesehatan global, healthcare-preneurship, kesehatan anak, riset implementasi dan action research.

Connect with me to discuss further:
dzikrifadhilah@mail.ugm.ac.id | https://hpm.fkkmk.ugm.ac.id |https://www.linkedin.com/in/dzikrifadhilah/ | https://www.instagram.com/sianakhebat.id |

Mutu Layanan Kesehatan Primer: Kunci Kepercayaan Masyarakat terhadap Sistem Kesehatan

healthcare

Mutu pada tingkat pelayanan kesehatan primer merupakan pondasi penting untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Ketika masyarakat memperoleh pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien, kepercayaan terhadap sistem kesehatan akan meningkat. Sebaliknya, pelayanan yang bermutu rendah dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, komplikasi penyakit, peningkatan angka kematian, bahkan pemborosan biaya kesehatan. Dalam praktiknya, konsistensi peningkatan mutu pelayanan kesehatan memiliki berbagai faktor dan tantangan. Scoping review Endalamaw, et al (2023) memetakan berbagai indikator, keberhasilan, dan tantangan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan primer di berbagai negara.

Melalui analisis kerangka mutu pelayanan kesehatan Avedis Donabedian, mutu pelayanan dinilai dengan tiga komponen utama, yaitu struktur, proses, dan outcome. Struktur mencakup sumber daya yang mendukung pelayanan seperti tenaga kesehatan, infrastruktur, fasilitas, kebijakan, pendanaan, dan ketersediaan alat kesehatan. Proses menggambarkan interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien seperti kegiatan pemeriksaan, diagnosis, edukasi, komunikasi, dan terapi. Sementara itu, outcome mengukur hasil yang diperoleh dari pasien dan masyarakat, yakni angka kesembuhan dan kematian, perubahan perilaku kesehatan, penyelesaian pengobatan, serta kepuasan pasien.

Hasil kajian membahas bahwa indikator struktur yang paling sering digunakan adalah ketersediaan tenaga kesehatan, regulasi dan kebijakan, fasilitas fisik, serta sumber daya pelayanan. Pada dimensi proses, indikator yang banyak digunakan meliputi kualitas diagnosis melalui pemeriksaan klinis maupun laboratorium, pemberian informasi kesehatan, edukasi pasien, dan tata laksana pengobatan. Sementara itu, indikator outcome umumnya diukur melalui angka kesembuhan, mortalitas, keberhasilan penyelesaian terapi, perubahan perilaku kesehatan, dan tingkat kepuasan pasien. Menariknya, sebagian besar indikator mutu pelayanan primer berfokus pada aspek proses pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien menjadi salah satu elemen paling penting dalam penilaian mutu layanan.

Salah satu temuan penting dari kajian ini adalah adanya hubungan erat antara struktur, proses, dan outcome pelayanan. Pasien tidak hanya menilai kualitas berdasarkan tindakan medis yang diterima tetapi juga dari pengalaman sejak memasuki fasilitas kesehatan. Kebersihan lingkungan, kenyamanan fasilitas, dan kemudahan akses dapat meningkatkan kepuasan pasien bahkan sebelum tindakan klinis terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur dan sistem pelayanan dapat memberikan dampak langsung terhadap persepsi mutu layanan.

Kajian ini juga mengungkap sejumlah keberhasilan yang telah dicapai berbagai negara. Pelayanan primer yang berkualitas di Amerika Serikat dikaitkan dengan penurunan angka rawat inap dan penurunan mortalitas akibat penyakit kronis tertentu. Sementara itu, pelayanan farmasi berbasis komunitas di Jepang terbukti memberikan dampak positif terhadap outcome klinis, perubahan perilaku kesehatan, dan efisiensi pelayanan. Kesamaan persepsi antara pasien dan pengelola layanan mengenai kompetensi tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan di beberapa negara lainnya menjadi indikator positif yang menunjukkan terciptanya hubungan yang baik antara penyedia dan penerima layanan. Namun, tantangan yang ditemukan juga masih sangat beragam khususnya di negara berkembang. Masalah utama yang sering muncul adalah kekurangan tenaga kesehatan, keterbatasan fasilitas dan peralatan, ketidakmerataan kualitas layanan antarwilayah, rendahnya keterlibatan masyarakat, serta kurangnya kepatuhan terhadap pedoman pelayanan. Sebagai contoh, layanan kesehatan remaja di Ethiopia menunjukkan tingkat mutu yang belum optimal pada aspek struktur, proses, dan outcome

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan kualitas komunikasi, edukasi, dan keterlibatan pasien dalam setiap proses pelayanan penting untuk dipertahankan. Kompetensi klinis harus diimbangi dengan adanya keahlian komunikasi terhadap pasien. Selain itu, fokus peningkatan mutu seharusnya tidak hanya terbatas hanya pada indikator hasil seperti angka kesembuhan atau kepuasan pasien tetapi juga secara menyeluruh. Indikator yang dapat ditinjau contohnya seperti kecukupan sumber daya manusia, penyediaan fasilitas dan peralatan yang memadai, penguatan sistem pembiayaan, penerapan kebijakan berbasis mutu, hingga pelibatan masyarakat dalam evaluasi layanan. Melalui upaya-upaya tersebut, peningkatan mutu pelayanan kesehatan primer diharapkan dapat menghasilkan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

  • Endalamaw, A., Khatri, R.B., Erku, D. et al. Successes and challenges towards improving quality of primary health care services: a scoping review. BMC Health Serv Res 23, 893 (2023). https://doi.org/10.1186/s12913-023-09917-3 

 

Penyelenggaraan dan Penguatan MOOC Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) bagi Tenaga Kesehatan di Indonesia

Wabah menjadi masalah krusial dalam kesehatan masyarakat karena menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas, serta berdampak pada aspek ekonomi, sosial, dan psikologis masyarakat. Indonesia rentan terhadap penyakit menular seperti malaria, demam berdarah, kolera, dan penyakit yang baru muncul atau muncul kembali. Tanpa pengawasan yang baik, penyakit-penyakit ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi masyarakat. 

Sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) dikembangkan untuk mendeteksi dan merespons potensi wabah secara dini. Meskipun Indonesia telah menerapkan SKDR sejak tahun 2009, beberapa tantangan masih dialami dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas tim surveilans dalam mendeteksi potensi wabah, serta tingginya pergantian petugas surveilans di unit pelapor yang dapat mengganggu kesinambungan pengetahuan dan keterampilan di antara petugas di unit pelapor seperti puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium. 

Tim PKMK UGM bekerja sama dengan Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Safetynet, CDC, BBPK Ciloto, WHO, dan JICA telah mengembangkan kurikulum MOOC untuk sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) bagi petugas surveilans di unit pelapor. Kurikulum ini dikemas dalam pelatihan daring mandiri yang disediakan melalui platform Plataran Sehat milik Kementerian Kesehatan (https://lms.kemkes.go.id). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tim surveilans di Indonesia dalam bidang SKDR. Metode pelatihan dengan Massive Open Online Course (MOOC) memungkinkan peserta untuk mengakses pelatihan secara fleksibel.

Hingga saat ini, pelatihan ini telah dilaksanakan dalam Tiga batch dan menjangkau puluhan ribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, PKMK UGM bermaksud untuk kembali menyelenggarakan MOOC SKDR bagi seluruh fasilitas kesehatan, sekaligus melakukan evaluasi terhadap terhadap penyelenggaraan MOOC yang bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto.

Tujuan

  1. Menyelenggarakan MOOC SKDR untuk 10 angkatan di seluruh fasilitas kesehatan, 
  2. Melakukan evaluasi pelaksanaan MOOC SKDR pada batch sebelumnya untuk menilai kinerja SKDR tahun 2025 dan pasca MOOC saat ini.

Output yang diharapkan

  1. Terselenggaranya peningkatan kapasitas petugas surveilans melalui MOOC SKDR yang diselenggarakan secara nasional  
  2. Tersusunnya laporan evaluasi pelaksanaan MOOC SKDR

 

Pelaksanaan

Sosialisasi Pelatihan Massive Open Online Course (MOOC) Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk Unit Pelapor

Daftar peserta waiting list

  • Angkatan 1: Aceh
  • Angkatan 2: Provinsi Jawa Timur
  • Angkatan 3: Provinsi Kalimantan Barat
  • Angkatan 4: Provinsi Kalimantan Tengah
  • Angkatan 5: Provinsi Sulawesi Tengah
  • Angkatan 6: Provinsi  Sulawesi Tenggara
  • Angkatan 7: Provinsi Sulawesi Utara
  • Angkatan 8: Provinsi Maluku & Maluku Utara
  • Angkatan 9: Provinsi NTT
  • Angkatah 10: Provinsi Papua, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya.

Frequenly Asked Quastion (FAQ)

Saya sudah mendaftar MOOC SKDR namun saya belum masuk kedalam WAG, apa yang harus saya lakukan?

Panitia akan mengirimkan undangan masuk ke WAG melalui email terdaftar mulai pada H-1 pelaksanaan MOOC secara bertahap, lalu update  kembali setiap 2 hari hingga H+10 Kegiatan. Penting untuk melihat jadwal pelaksanaan angkatan Anda dan pastikan Anda mengecek email agar dapat bergabung secara mandiri ke WAG kepesertaan. Berikut jadwal MOOC

Saya sudah mendaftar, tetapi pembelajaran MOOC SKDR belum muncul di Plataran Sehat. Apa yang harus saya lakukan?

Pastikan Anda telah melakukan pendaftaran sesuai jadwal yang ditentukan dan menggunakan akun SATUSEHAT SDMK yang sama dengan email yang digunakan saat mendaftar MOOC SKDR. Setelah proses verifikasi dan sinkronisasi data selesai, pembelajaran akan muncul pada menu Plataran Sehat → Pembelajaran Saya.

Peserta akan di Enroll oleh BBPK Ciloto pada hari H pembelajaran, lalu secara bertahap akan di enroll kembali setiap 2 hari sekali hingga H+10 Kegiatan.

Pastikan juga beberapa hal di bawah ini agar proses enroll berjalan lancar:

Saya tidak dapat masuk atau mengakses pembelajaran MOOC SKDR. Apa penyebabnya?

Beberapa penyebab yang sering terjadi adalah:

  • Email pendaftaran berbeda dengan email pada akun SATUSEHAT SDMK.
  • Profil pada SATUSEHAT SDMK belum lengkap.
  • Proses sinkronisasi data peserta masih berlangsung.
  • Akun belum berhasil ditautkan ke Plataran Sehat karena belum ditemukan kecocokan email maupun kecocokan NIK

Pastikan seluruh data profil telah lengkap dan gunakan akun yang sama dengan saat pendaftaran MOOC. Jika tidak bisa mengakses pembelajaran dikarenakan harus melengkapi profil, sedangkan bapak ibu merasa sudah melengkapi profil maka dapat melaporkan kepada admin SATUSEHAT SDMK melalui kanal bantuan resmi SATUSEHAT SDMK agar data instansi dapat diverifikasi lebih lanjut.

Saya mendaftar menggunakan email yang berbeda dengan email akun SATUSEHAT SDMK. Bagaimana solusinya?

Agar akses pembelajaran berjalan dengan baik, email yang digunakan saat pendaftaran MOOC sebaiknya sama dengan email pada akun SATUSEHAT SDMK.

Jika sebelumnya sudah terlanjur mendaftar ke google form dengan akun yang berbeda dengan yang terdaftar di LMS maka dapat melakukan update dengan mengkontak admin LMS melalui kontak person BBPK Ciloto yakni Kang Asep pada nomor telepon: 0813-8072-8944 dengan format:

  • Nama lengkap:
  • Judul pelatihan:
  • Angkatan:
  • Email yang digunakan saat pendaftaran MOOC di google form:
  • Email yang terdaftar pada akun SATUSEHAT SDMK:
  • Nomor NIK:
Saat melengkapi profil SATUSEHAT SDMK, instansi tempat saya bekerja tidak muncul. Apa yang harus dilakukan?

Silakan lakukan pencarian instansi menggunakan beberapa variasi nama instansi. Jika tetap tidak ditemukan, laporkan kepada admin SATUSEHAT SDMK melalui kanal bantuan resmi SATUSEHAT SDMK agar data instansi dapat diverifikasi lebih lanjut.

Bagaimana alur mengikuti pembelajaran MOOC SKDR?

Langkah mengikuti pembelajaran adalah sebagai berikut:

Setelah melakukan pendaftaran, silakan simak alur berikut sesuai status peserta Anda.

PESERTA LOLOS SELEKSI

  • Bergabung ke WhatsApp Group (WAG)
    Peserta yang dinyatakan lolos akan menerima tautan WhatsApp Group melalui email yang terdaftar. Tautan akan dikirim secara bertahap mulai H-1 pelaksanaan sesuai jadwal angkatan.
  • Pemberian Akses MOOC
    BBPK Ciloto akan memberikan akses pembelajaran MOOC melalui email yang sama dengan email yang terdaftar pada LMS.
  • Mengikuti Pembelajaran
    Peserta mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran sesuai jadwal yang telah ditetapkan serta mengisi evaluasi setelah pembelajaran selesai.
  • Mendapatkan Sertifikat
    Peserta yang menyelesaikan pembelajaran dan memperoleh nilai minimal 81 akan dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat.

PESERTA WAITING LIST

  • Pengumuman Waiting List
    Peserta yang masuk dalam daftar waiting list akan menerima pemberitahuan melalui email terdaftar dan diumumkan melalui Instagram @mutukesehatan.pkmk
  • Menunggu Informasi Selanjutnya
    Apabila terdapat kuota yang tersedia pada angkatan yang dipilih maupun angkatan berikutnya, peserta waiting list akan dihubungi melalui email yang terdaftar
Saya sudah menyelesaikan pembelajaran tetapi sertifikat belum dapat diunduh atau status kelulusan belum muncul. Apa yang harus dilakukan?

Pastikan seluruh persyaratan pembelajaran telah diselesaikan, termasuk:

  • Menyelesaikan seluruh materi.
  • Mengerjakan seluruh kuis.
  • Memenuhi nilai minimum kelulusan.
  • Mengisi evaluasi yang diwajibkan.

Jika seluruh tahapan telah selesai namun sertifikat belum tersedia atau status kelulusan tidak sesuai, silakan laporkan kepada tim penyelenggara dengan menyertakan nama lengkap, email, dan tangkapan layar hasil pembelajaran.

Mengapa pada sertifikat tertulis 0 SKP?

Pertama kami memohon maaf apabila informasi nilai SKP terdapat perbedaan dari infiormasi yang pernah kami sampaikan sebelumnya, dikarenakan adanya regulasi terbaru dari Ditmutu SDMK bahwa MOOC SKDR saat ini pada periode tahun 2026 diselenggarakan sebagai kegiatan peningkatan kompetensi dan dikatagorikan sebagai peningkatan kompetensi organisasi. Oleh karena itu pada sertifikat sempat muncul keterangan 0 SKP.

Informasi mengenai pemberian SKP sepenuhnya mengikuti ketentuan yang berlaku dari Kementerian kesehatan dan kebijakan penyelenggara pelatihan yang dikeluarkan oleh Ditmutu SDMK dan telah diperbaharui menjadi 2 SKP sehingga peserta yang sebelumnya mendapatkan 0 SKP pada Angkatan 1-2 dapat mengecek kembali nilai SKP ter update menjadi 2 SKP

Mengenal Dampak “Quiet Quitting” terhadap Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Mengenal Dampak “Quiet Quitting” terhadap Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Setelah beberapa tahun berlalu, pandemi COVID-19 diketahui berpengaruh terhadap bagaimana cara orang memandang pekerjaan. Quiet quitting dikenal sebagai fenomena baru yang muncul dalam dunia pekerjaan setelah pandemi. Fenomena ini didefinisikan sebagai kondisi ketika karyawan hanya melakukan tugas hanya sesuai deskripsi pekerjaan saja tanpa memberikan usaha tambahan di luar kewajiban formalnya. Berbeda dengan pengunduran diri, quiet quitting bukan berarti meninggalkan pekerjaan, melainkan menurunkan tingkat keterlibatan dan komitmen terhadap pekerjaan. Fenomena quiet quitting berkembang di banyak negara setelah gelombang The Great Resignation pasca pandemi, yakni ketika jutaan pekerja lebih memilih meninggalkan pekerjaannya demi mencari keseimbangan hidup yang lebih baik. 

Dalam sektor kesehatan, fenomena quiet quitting menjadi perhatian serius karena karakteristik pekerjaan tenaga kesehatan sangat berbeda dengan sektor lain. Selama pandemi, tenaga kesehatan menghadapi peningkatan beban kerja, peningkatan pengunduran diri staf, keterbatasan alat pelindung diri, tingginya risiko infeksi, serta tekanan psikologis yang berkepanjangan. Berbeda dengan banyak profesi lain yang dapat beralih ke sistem kerja jarak jauh (work from anywhere), tenaga kesehatan tetap harus hadir secara langsung di fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi ini membuat tenaga kesehatan harus menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan pekerja di sektor lain. 

Artikel yang ditulis oleh Yasemin Boy dan Mahmud Sürmeli (2023) menjelaskan bahwa quiet quitting di kalangan tenaga kesehatan dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi kerja yang tidak mendukung, ketidakadilan pembagian beban kerja dan kompensasi, budaya organisasi yang toxic, penurunan kondisi kesehatan mental (kecemasan, depresi, dan burnout), serta terganggunya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Banyak tenaga kesehatan mulai mempertanyakan kualitas hidup mereka dan berusaha menetapkan batas yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Penulis juga menyoroti bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan individu tetapi juga dengan budaya organisasi. Ketidakjelasan kebijakan, kurangnya komunikasi yang efektif, distribusi sumber daya yang dianggap tidak adil, kurangnya apresiasi dari pimpinan maupun pasien, pembatasan cuti, dan perasaan diperlakukan tidak adil selama pandemi berkontribusi terhadap perubahan sikap kerja tenaga kesehatan. Tingginya angka kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang terjadi di beberapa negara bahkan semakin memperburuk kondisi psikologis tenaga kesehatan dan mengurangi keterikatan terhadap organisasi. 

Meskipun quiet quitting tidak secara langsung mengurangi jumlah tenaga kesehatan yang bekerja, dampaknya dapat sangat signifikan terhadap mutu pelayanan. Pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada keterampilan klinis yang teknis tetapi juga empati, komunikasi yang baik, kepedulian, dedikasi, dan kemampuan membangun hubungan dengan pasien. Ketika tenaga kesehatan hanya bekerja pada batas minimum yang dipersyaratkan, aspek-aspek penting tersebut berpotensi menurun sehingga dapat mempengaruhi pengalaman pasien dan kualitas pelayanan secara keseluruhan. 

Fenomena ini menjadi semakin relevan karena meningkatnya proporsi Generasi Z dalam tenaga kerja kesehatan. Generasi ini dikenal lebih menghargai keseimbangan hidup, kesejahteraan mental, fleksibilitas kerja, otonomi, dan apresiasi dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak menolak bekerja keras, tetapi cenderung menolak budaya kerja yang menuntut pengorbanan kehidupan pribadi secara berlebihan. Oleh karena itu, rumah sakit dan organisasi kesehatan perlu memahami perubahan nilai yang terjadi pada generasi tenaga kerja baru agar mampu mempertahankan keterlibatan dan motivasi mereka. 

Secara keseluruhan, kesejahteraan psikologis dan keseimbangan kehidupan kerja perlu dijaga sebagai bagian dari profesionalisme yang berkelanjutan. Quiet quitting dapat menjadi indikator awal adanya masalah sosial dalam lingkungan kerja, khususnya di rumah sakit. Upaya peningkatan mutu tidak cukup hanya berfokus pada indikator klinis dan operasional, tetapi juga harus mencakup penguatan budaya organisasi, kepemimpinan yang suportif, sistem penghargaan yang adil, perlindungan terhadap kekerasan di tempat kerja, pengelolaan beban kerja yang seimbang, serta penyediaan dukungan kesehatan mental bagi staf. Memahami dan mengatasi akar penyebab quiet quitting juga perlu menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan agar rumah sakit mampu mempertahankan tenaga kerja yang berkomitmen secara maksimal memberikan pelayanan terbaik.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:

Boy Y, Sürmeli M. Quiet quitting: A significant risk for global healthcare. J Glob Health. 2023 Mar 31; 13: 03014. doi: 10.7189/jogh.13.03014. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10062397/

 

Sosialisasi Pelatihan Massive Open Online Course (MOOC) Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk Unit Pelapor

Sosialisasi Pelatihan Massive Open Online Course (MOOC) Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk Unit Pelapor

Wabah menjadi masalah krusial dalam kesehatan masyarakat karena menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas, serta berdampak pada aspek ekonomi, sosial, dan psikologis masyarakat. Indonesia rentan terhadap penyakit menular seperti malaria, demam berdarah, kolera, dan penyakit yang baru muncul atau muncul kembali. Tanpa pengawasan yang baik, penyakit-penyakit ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi masyarakat.

Sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) dikembangkan untuk mendeteksi dan merespons potensi wabah secara dini. Meskipun Indonesia telah menerapkan SKDR sejak tahun 2009, beberapa tantangan masih dialami dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas tim surveilans dalam mendeteksi potensi wabah, serta tingginya pergantian petugas surveilans di unit pelapor yang dapat mengganggu kesinambungan pengetahuan dan keterampilan di antara petugas di unit pelapor seperti puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium.

Tim PKMK UGM bekerja sama dengan Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Safetynet, CDC, BBPK Ciloto, WHO, dan JICA telah mengembangkan kurikulum MOOC untuk sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) bagi petugas surveilans di unit pelapor. Kurikulum ini dikemas dalam pelatihan daring mandiri yang disediakan melalui platform Plataran Sehat milik Kementerian Kesehatan (https://lms.kemkes.go.id). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tim surveilans di Indonesia dalam bidang SKDR. Metode pelatihan dengan Massive Open Online Course (MOOC) memungkinkan peserta untuk mengakses pelatihan secara fleksibel.

Hingga saat ini, pelatihan ini telah dilaksanakan dalam tiga batch dan menjangkau puluhan ribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, PKMK UGM bermaksud untuk kembali menyelenggarakan MOOC SKDR bagi seluruh fasilitas kesehatan, sekaligus melakukan evaluasi terhadap terhadap penyelenggaraan MOOC. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan sosialisasi pelatihan MOOC SKDR sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman peserta terkait mekanisme pelaksanaan pelatihan, memperluas jangkauan informasi kepada seluruh sasaran, serta mendorong optimalisasi partisipasi dan keberhasilan implementasi MOOC SKDR di seluruh wilayah Indonesia.

Tujuan

  1. Memberikan informasi terkait pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR kepada seluruh sasaran peserta.
  2. Meningkatkan pemahaman peserta mengenai mekanisme, jadwal, dan tata cara pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR.
  3. Mendukung peningkatan partisipasi peserta dalam pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR secara nasional.
  4. Output yang Diharapkan
  5. Tersampaikannya informasi pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR kepada seluruh peserta sasaran.
  6. Meningkatnya pemahaman peserta terkait mekanisme dan jadwal pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR.
  7. Meningkatnya kesiapan dan partisipasi peserta dalam mengikuti pelatihan MOOC SKDR.

Waktu Pelaksanaan

Hari/tanggal                : 2 Juni 2026
Waktu                         : 08.00 – 10.15 WIB

Agenda Kegiatan

Waktu (WIB)

Agenda

Narasumber/PIC

08.00 – 08.10

Pembukaan

 Andriani Yulianti, SE, MPH 

08.10 – 08.30

Sambutan

 Dr. Sumarjaya, SKM, MM,  MFP, C.F.A.

08.30 – 09.30

Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan MOOC SKDR

dr. M. Hardhantyo, MPH., PhD

09.30 – 10.00

Diskusi Rencana Tindak Lanjut

 Andriani Yulianti, SE, MPH

10.00 – 10.15

Penutupan

 Andriani Yulianti, SE, MPH

Video

   Reportase Kegiatan

Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM bekerja sama dengan Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK), Kementerian Kesehatan dan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto menyelenggarakan Sosialisasi Pelatihan Massive Open Online Course (MOOC) Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Untuk Unit Pelapor secara daring pada tanggal 2 Juni 2026. 

Kegiatan dimulai dengan sambutan dan arahan dari direktur SKK Kemenkes, Dr. Sumarjaya, SKM, M.M., MFP, CFA.  Pak Jaya menekankan bahwa Indonesia masih menghadapi ancaman khususnya communicable disease, dimana bila melihat perkembangan dunia, muncul outbreak ebola, nipah, hantavirus, dan peningkatan kasus COVID-19. Pengawasan melalui sistem SKDR menjadi penting untuk menghadapi ancaman tersebut. SKDR telah berjalan sejak tahun 2016 dan memiliki laporan mingguan yang terdiri dari Indicator-based surveillance dan Event-based surveillance. Pak Jaya juga menyampaikan pentingnya pelatihan SKDR yang akan diselenggarakan atas kerjasama PKMK UGM dan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program untuk memastikan keberlanjutan pelaksanaan SKDR. 

Pengantar Pelaksanaan Pelatihan MOOC Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon

Muhammad Hardhantyo Puspo Wardoyo, MPH, Ph.D, Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM, menyampaikan bahhwa kejadian luar biasa (KLB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kesakitan dan kematian yang tinggi. Untuk merespon masalah ini, Indonesia, melalui kementerian kesehatan telah mengembangkan sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR) yang difokuskan untuk memantau 24 penyakit berpotensi KLB. Namun, pelaporan SKDR ini masih belum maksimal karena tingginya pergantian petugas surveilans di unit pelapor. Untuk itu, perlu adanya pelatihan SKDR yang dapat diakses dengan mudah dan fleksibel dari segi tempat dan waktu. 

Pelatihan MOOC SKDR 2026 bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petugas surveilans di unit pelapor tentang sitem kewaspadaan dini dan respon penyakit menular potensial KLB. Pelatihan ini akan memfokuskan pada pemahaman konsep dasar SDKR, algoritma penyakit potensial KLB, konsep SKDR berbasis indikator, konsep SKDR berbasis kejadian, peran dan fungsi pemangku kebijakan dalam SKDR. Sasaran peserta dari pelatihan ini mencangkup seluruh profesi tenaga kesehatan terutama penganggung jawab SKDR. 

Dampak Pelaksanaan Pelatihan MOOC SKDR 2025

MOOC serupa pernah dilaksanakan di tahun 2025 dengan total 49.900 peserta yang diikuti dinas kesehatan (dinkes) provinsi, kabupaten/kota, rumah sakit, dan puskesmas. Evaluasi pelaksanaan pelatihan MOOC SKDR 2025 menunjukkan bahwa MOOC mampu meningkatkan dampak surveilans secara berkelanjutan. Hasil analisis dampak pelatihan MOOC SKDR 2025 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan respons alert <24 jam dari 91% menjadi 96,5%, peningkatan ketepatan pelaporan menjadi dari 83,8% menjadi 90,9%, kelengkapan pelaporan mencapai 95,8%, dan peningkatan jumlah terlapor KLB 6 bulan pasca MOOC. Namun, disparitas regional dalam peserta yang mengikuti MOOC SKDR 2025 menunjukkan kesenjangan yang lebar dimana terdapat gap 68,1% antara provinsi dengan peserta terbanyak (Banten) dan terendah (Papua). Selain itu, baru sekitar 48% puskesmas di Indonesia yang mengikuti pelatihan ini di tahun 2025. Sehingga pada pelatihan di tahun 2026, peserta dari puskesmas menjadi salah satu prioritas peserta yang diharapkan dapat mengikuti pelatihan ini. 

Berdasarkan hasil evaluasi dampak pelaksanaan MOOC SKDR 2025, dr. Hardhantyo menyampaikan 2 rekomendasi utama

  1. Melanjutkan MOOC sebagai Program Permanen. MOOC SKDR diharapkan dapat tersedia secara rutin karena memberikan dampak positif berkelanjutan. 
  2. Intervensi Khusus untuk Puskesmas

Mekanisme Pelaksanaan Pelatihan MOOC SKDR 2026

Pelaksanaan MOOC SKDR 2026 dilaksanakan dalam rentang waktu Juni-Agustus 2026 untuk 16 provinsi di Indonesia. Pelatihan dibagi menjadi 10 angkatan dengan kuota 1000 peserta setiap angkatan yang terdiri dari satu atau lebih provinsi. Gambar 1 menunjukkan pembagian peserta dan waktu pelaksanaan dan pendaftaran MOOC SKDR 2026.

Gambar 1. Peserta Pelaksanaan MOOC SKDR Juni-Agustus 2026


Peserta pelatihan dapat mendaftarkan dirinya melalui https://pkmkfk.net/PendaftaranMOOCSKDR. Setelah mendaftarkan, peserta final yang masuk dalam kuota 1000 peserta per-angkatan akan diumumkan melalui instagram divisi manajemen mutu PKMK UGM (@ mutukesehatan.pkmk). Peserta final akan diundang ke Whatsapp Group (WAG) untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan mendapatkan akses MOOC di Learning Management System (LMS) BBPK Ciloto melalui email. Peserta dapat melakukan pembelaharan melalui LMS secara mandiri dan memberikan evaluasi pelaksanaan pada akhir pembelajaran MOOC. Untuk mendapatkan sertifikat, peserta minimum mendapatkan nilai 81 untuk dinyatakan lulus (Gambar 2).