Editorial, 17 November 2014

NHCAA Annual Training Conference (ATC) 2014 di Dallas, Texas

rakernas

PKMK-Dallas. National Health Care Anti-Fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference (ATC) adalah forum anti fraud layanan kesehatan skala nasional yang diselenggarakan tahunan. Kali ini acara berlokasi di Hyatt Regency Hotel, Dallas, Texas, Amerika Serikat. Acara tersebut berlangsung pada 18-21 November 2014. Konferensi ini menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai institusi yang berpengalaman dalam upaya pemberantasan fraud layanan kesehatan. Pelatihan ini terbagi dalam empat acara besar yaitu pre-conference, concurrent workshop, networking events, dan anti-fraud expo. Dalam acara pre-conference kita akan mendapatkan informasi dan berdiskusi lebih dalam tentang strategi anti-fraud dalam layanan kesehatan. Reportase kegiatan ini dapat anda simak setiap harinya pada link berikut.

Read More

Artikel

Cara Mudah Menghindari Medication Error

Hindari medication error untuk mutu pelayanan kesehatan lebih baik, menjadi judul editorial yang dipilih untuk minggu ini. Hal ini terkait dengan beberapa artikel yang kami sajikan masih akan membahas tema yang terkait dengan upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, yang tentu saja diharapkan dapat memberikan informasi positif bagi segenap pemerhati mutu pelayanan kesehatan.

More


Meningkatkan Patient safety dengan Menurunkan Medication Errors

Kesalahan volume obat yang diberikan, kesalahan penulisan resep obat, kesalahan pelayanan administrasi dan kebebasan untuk membeli obat di pasaran merupakan kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi dalam pengobatan. The institute of medicine (IOM) memperkirakan 1,5 Miliar kerugian dapat dicegah dalam pengadaan obat setiap tahun di USA dan 530.000 kerugian dapat dicegah pada pasien rawat jalan, oleh karena itu perlu usaha untuk meningkatkan medication safety. Berikut rekomendasi penelitian Institute for safe medication practices (ISMP) guna meningkatkan medication safety.

More 


Arsip Artikel >>

Seminar Nasional Perumahsakitan Surabaya Hospital Expo

Posted in agenda

Seminar Nasional Perumahsakitan Surabaya Hospital Expo

Perubahan Konsep Bisnis Pelayanan Rumah Sakit
Setelah Pemberlakuan Akreditasi Versi 2012 dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Shangrila Surabaya, 7 Mei 2014

Acara

Pembukaan

  • Tari Hand Hygiene (Siloam Hospital)
  • Tari Geleng Room dari Madura
  • Lagu Indonesia Raya + MARS PERSI (PS. RSUD Dr.Saiful Anwar Malang)
  • Laporan Ketua Panitia
  • Sambutan Ketua PERSI Jawa Timur
  • Sambutan Ketua PERSI Pusat
  • Sambutan Gubernur Jawa Timur sekaligus membuka acara seminar

Paripurna Ke 1

Moderator: dr. Dodo Anondo, MPH

  Pelaksanaan JKN di Jawa Timur, Problem & solusinya. 

Oleh: Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum / Gubernur Jawa Timur

   Perubahan Konsep Pelayanan Rumah Sakit di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Oleh: dr. Nafsiah Mboi, SpaA, MPH / Menkes RI

Peresmian & Peninjauan Pameran + ISHOMA. Oleh: Menkes RS

Paripurna ke 2

Moderator: dr. Imam Soewono, SpPD

  Kebijakan terbaru dalam pelaksanaan JKN/BPJS.

Oleh: dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS / Sekjen Kemenkes RI

  Pemberlakuan JKN terhadap Mutu Pelayanan RS.

Oleh: Dr. dr. Sutoto, M.Kes / Ketua Umum PERSI

Penandatangan Nota Kerjasama Jejaring RS Pendidikan anara RSUD Dr.Soetomo – FK Unair

Paripurna ke 3

Moderator: dr. Hartono Tanto, MKes

  • Sudut Pandang Profesi Kedokteran Setelah Pemberlakuan JKN.
    Oleh: dr. Pranawa SpPD, KGH, FINASIM / Ketua KMKP PB-IDI
  • Presentasi dari BRI

 

 

 

 

 

 

 

 

Spark a Revolution

Posted in agenda

Mencetuskan revolusi? ini mungkin bagian yang paling menarik, penulis merasa bahwa mengikuti forum ini seperti masuk ke supermarket mutu dan keselamatan pasien, ada sekian banyak konsep, pengalaman, hasil, evaluasi, rencana hingga ide dan inovasi untuk peningkatan mutu. Pastinya tidak semua perlu (dan tidak sanggup) untuk "dibeli" perlu dipilih secara cermat sesuai kebutuhan lalu menggunakannya.

Dari berbagai sesi yang diikuti terdapat berbagai ide untuk mencetuskan revolusi dalam bidang mutu dan pelayanan kesehatan

1. Melakukan Analisa Cost Effectiveness

Edward Broughton, Director of Research and Evaluation, University Research Co., LLC (URC), USA membawakan sesi dengan judul "are you sure your improvements are cost-effective?". Hasil analisa cost-effectivenss dapat menginisiasi adanya perbaikan, baik bila ternyata upaya peningkatan mutu kita tidak cost efektif ataupun sebaliknya.

Broughton menjelaskan bahwa cost effective adalah cost dibagi dengan effect, sedangkan cost effective analysis adalah cost effective dari sebuah intervensi dibandingkan dengan baseline (misalnya tidak dilakukan intervensi) atau dengan intervensi lain yang berbeda. Namun Broughton juga menjelaskan bahwa analisi ini juga tergantung dengan perspektif siapa yang digunakan, time-frame yang digunakan serta efektifitas unit mana yang digunakan.

Broughton menggunakan perhitungan ICER (Incremental Cost Effectiveness Ratio) dengan membandingkan antara perbedaan biaya dibagi dengan perbedaan efek. Hasil perhitungan dapat digunakan untuk menentukan apakah sebuah intervensi benar dapat meningkatkan mutu dan mengurangi biaya (sehingga bisa diperluas) atau justru tidak meningkatkan mutu namun justru menambah biaya (sehingga perlu dicari intervensi lain (catatan: di Indonesia banyak sekali upaya peningkatan mutu yang telah dilakukan, seperti perubahan standar akreditasi RS, penerapan standar PONEK, perubahan struktur organisasi komite medis, pembangunan RS akademik milik universitas, dsb. Namun belum pernah dilakukan cost-effectiveness analysis)

2. Melakukan Inovasi

Selama bergabung dengan PKMK FK-UGM, penulis telah mengalami/terlibat dalam berbagai inovasi dalam kebijakan dan manajemen kesehatan, namun demikian IHI (Institute for Healthcare Improvement) memiliki lebih banyak lagi inovasi-inovasi yang sering sekali merupakan inovasi baru. Bagaimana cara mereka membuat inovasi tersebut dijawab oleh Kedar Mate, Vice President dan Lindsay Martin, Executive Director keduanya dari Institute for Healthcare Improvement (IHI).

Mate menjelaskan bahwa inovasi dapat berasal dari lembaga penelitian atau industri lain, inovasi "bi-directional", inovasi disruptive hingga inovasi dari lead user. Mate kemudian menjelaskan mengenai berbagai bentuk inovasi tersebut dan contoh-contohnya (catatan: dapat dipelajari lebih lanjut di http://www.ihi.org/resources/Pages/IHIWhitePapers/default.aspx).

Martin kemudian menjelaskan mengenai penerapan konsep tersebut di IHI, yaitu dengan menerapkan apa yang mereka sebut sebagai 90 days learning cycle, dimana siklus ini terdiri dari melakukan scaning isue-isue penting, memilih dan melaksanakan fokus yang akan diintervensi lalu melakukan merangkum dan menyerahkan hasil intervensi. Martin kemudian menjelaskan tahap-tahap tersebut dan contoh aplikasinya (catatan: dapat dipelajari lebih lanjut di http://www.ihi.org/about/Documents/IHI%20Innovation%20Summary.pdf)

3. Membangun Networking

Sebagai koordinator IHQN (Indonesian Healthcare Quality Network) penulis bercita-cita agar IHQN dapat menjadi jejaring kerjasama yang benar-benar dapat mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya dalam upaya peningkatan mutu. Salah satu ide revolusi untuk hal tersebut disampaikan oleh Simon Berry, CEO, ColaLife and Project Manager, Kit Yamoyo Transition to Scale (KYTS), ColaLife, UK and Zambia.

p8Gambar. Media untuk peserta menulis pemikirannya (Go IHQN !!)

Berry menceritakan bagaimana ia membangun jejaring kerjasama untuk berpartisipasi menurunkan angka kematian balita akibat diare di Zambia (catatan: Zambia terletak di Afrika Selatan, berbatasan dengan Congo, Tanzania dan Malawi). Jejaring kerjasama tersebut berawal dari pengamatan sederhana pada tahun 1985, yaitu fakta bahwa mendapatkan 1 botol Coca-Cola diberbagai pedalaman Zambia jauh lebih mudah dari pada mendapatkan 1 paket obat diare bagi balita.

Ide dasar dari Berry (bertempat tinggal di Inggris) adalah menyertakan paket obat diare dalam krat (wadah botol-botol) Coca-Cola untuk didistribusikan bersama. Ide tersebut pertama kali di-share pada tahun 2008 melalui Facebook, yang kemudian mendapat tanggapan dari penelliti di Canada dan juga dari Havard dan Unicef. Networking kemudian semakin berkembang dengan kegiatan penggalangan dana (bersepeda keliling Perancis mendapatkan 6.000 poundsterling) sehingga dapat melakukan kunjungan perdana ke Zambia pada tahun 2010.

Berdasarkan hasil penelitian awal maka kemudian Berry mendapatkan dukungan lebih luas pada tahun 2011 baik dari Unicef, UK-Aid, Johns Hopkins dan berbagai industri (seperti Johnson&Johnson dan Honda) sehingga dapat merealisasikan ide tersebut secara lebih luas untuk menurunkan kematian balita akibat diare di Zambia.

p9

 

Lokakarya Komunikasi

Posted in agenda

Lokakarya Menulis Kreatif

Yogyakarta, 27-28 April 2014

 

art5mei6

"Menulis seperti membuat rumah", ungkap Wahyu Dhyatmika pada hari kedua lokakarya komunikasi " berbiduk kata-kejernihan adalah penyembuh". Laki-laki dari pulau Dewata ini sharing knowledge tentang menulis efektif. Menulis layaknya membangun rumah, dimulai dengan pembuka, tubuh dan penutup.

Pembuka dalam paragraf berfungsi menarik dan mempertahankan minat pembaca. Minat pembaca dibangun oleh gagasan pokok paragraf yang menarik. Kadang-kadang, penulis sering tenggelam dalam lautan fakta sehingga tulisan menjadi tidak fokus. Fikiran penulis yang kompleks menghasilkan kalimat panjang dan beranak pinak. Akademisi mempunyai tendensi untuk menulis seperti itu. Maka di butuhkan outline sebagai alat bantu sebelum menulis.

Mengapa harus menulis efektif?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak didesign untuk mudah disentuh oleh narasi. Storytelling adalah metode efektif untuk menulis. Kisah storytelling selalu berbentuk kurva yang mempunyai irama menurun sampai ending. Narasi yang ideal selalu mempunyai ke lima komponen dibawah ini. Berikut gambar kurva narasi:

art5mei7

Penjelasan oleh Wahyu diperdalam kembali oleh Dodi Ambardi salah satu penulis setia Tempo. Lagu Tombo Ati menjadi pengantar sesi ke dua. "kaping telu wong kang sholeh kumpulono", Dodi memaknai lagu Tombo Ati sebagai pesan, jika ingin menjadi penulis cemerlang maka harus berkumpul dengan penulis yang cemerlang.

Dodi membahas tulisan karya Paul Krugman berisi argumentasi atau building block tentang inequality matters. Paul beragumentasi dengan cara memaparkan data-data dari hasil penelitian yang mem-block situasi fakta di Amerika. Cara ini bisa digunakan oleh peneliti dalam mempengaruhi stakeholder untuk mencapai suatu kebijakan.

Di Indonesia, seringkali kebijakan hadir tanpa didasari penelitian yang berbasis pada realitas empirik dalam masyarakat. Akademisi dan pemerintah yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan biasanya hanya mengadopsi hasil-hasil kerja keilmuan dan teori-teori dari "luar" untuk dijadikan basis legitimas. Nampaknya kita cendrung mengabaikan kenyataan bahwa terdapat disparitas (ketimpangan kondisi) antara masyarakat kita dengan masyarakat "luar".

Kehadiran Amarzan sebagai pembicara sesi ke tiga menambah semangat peserta lokakarya. Satu kalimat menarik dari Amarzan yang perlu diterapkan oleh penulis yaitu " arti kata jauh lebih penting dari keindahan kata".

Kita sering menjumpai judul tulisan dimedia masa yang mempunyai makna ganda, bahkan judul tidak sesuai dengan isinya. Media masa menggunakan cara ini untuk menarik minat pembaca. Apakah keindahan kata lebih penting dari keindahan kata? Sementara tulisan harus menyampaikan logika penulis. Hal ini tentunya menjadi gaya bahasa masing-masing media.

Gaya bahasa sangat personal, gaya tercapai dari sikap kebahasaan. Dari sikap kebahasaan dipilih diksi yang digunakan untuk mengayakan tulisan. Editor senior tempo ini memberikan pujian terhadap lirik lagu keroncong tahun 1955an, seperti syair berikut " bulan sedang mengembang dalam angkasa biru, hatiku bimbang memikirkanmu". Salah satu penggalan puisi Rinto harahap juga dijadikan contoh "wuh...wah", tulisan seperti ini tidak direkomendasikan untuk menulis ilmiah maupun populer.

Sesi terakhir ditutup dengan klinik menulis. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Wakil dari PKMK FK UGM menjadi peserta kelompok satu yang dimentori oleh redaktur pelaksana Tempo, Wahyu Dhyatmika. Peserta diberi kesempatan berkeluh kesah tentang permasalahan menulis.

Menulis berarti menyampaikan logika penulis kepada pembaca. Menulislah secara efektif agar tulisan menjadi jernih, karena kejernihan adalah penyembuh.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri

  Materi Presentasi

 

 

Seek Value

Posted in agenda

Dalam gambar rantai nilai (value chain) yang sering digunakan dalam kuliah-kuliah Prof. Laksono, value merupakan hasil akhir yang diupayakan dapat dirasakan oleh pasien, sebuah nilai yang didapat oleh pasien/keluarga/masyarakat dari rangkaian pelayanan klinis (baik dari pra pelayanan, proses pelayanan hingga pasca pelayanan) sebuah pelayanan klinis yang didukung oleh pelayanan dari SDM, keuangan, IT, struktur organisasi dan budaya organisasi. Forum ini juga dibahas berbagai upaya yang perlu dilakukan untuk menghasilkan value yang berharga bagi pasien.

p10. Rantai Nilai (Value Chain) Rumah Sakit (Diadopsi dari M. Porter)

Salah satu keynote yang mungkin banyak ditunggu-tunggu oleh peserta forum adalah sesi dari Donald M. Berwick, President Emeritus and Senior Fellow, Institute for Healthcare Improvement (IHI). Berwick mengingatkan bahwa value terpenting tentang kesehatan bagi masyarakat seperti yang dirumuskan oleh WHO adalah: lengkapnya status fisik, jiwa dan kesejahteraan sosial, bukan hanya terbebas dari penyakit.

Melalui value tersebut Berwick mendorong agar insan kesehatan dapat: mempertimbangkan kembali konsep sehat yang digunakan, mempertimbangkan kembali bentuk dan fungsi dari peran masing-masing dalam sistem kesehatan, menggunakan berbagai "healing tools" yang ada diluar dari batas sistem kesehatan (maksudnya tidak hanya dengan pendekatan kesehatan), menggunakan pola pikir untuk membangun kesejahteraan, memperdalam iman (agama) dan menggunakannya untuk membangun hubungan antar personal serta bersikap baik hati sebagai bentuk penyembuhan sekaligus mencerminkan kondisi kesehatan yang prima (catatan: penulis merasa bahwa ini adalah sesi Berwick yang mungkin paling bersifat petuah/wisdom, mungkin dipengaruhi dengan status emeritusnya).

Berbagai sesi lain juga mengambil fokus untuk meningkatkan value bagi pasien/masyarakat.

1. Memanfaatkan Era Digital

Stefan Biesdorf, Principal, McKinsey & Company, Inc., Germany membawakan keynote mengenai memanfaatkan era digital untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Biesdrof menyampaikan bahwa pasien/masyarakat saat ini sudah mengharapkan agar pelayanan kesehatan dalam era digital dapat memberikan nilai lebih, antara lain dalam bentuk kemudahan mengakses informasi, membuat perjanjian rawat jalan, membaca hasil lab dan membaca manfaat obat.

Pada saat ini Biesdorf sudah mengidentifikasi berbagai website yang menyediakan pelayanan tersebut. Biesdorf juga menyampaikan trend pengelolaan data kesehatan yang akan lebih banyak dikelola oleh pasien (baik data kesehatan dari pengukuran mandiri, data dari sarana kesehatan dan data dari jaminan kesehatan). Pengelolaan data tersebut juga akan lebih bersifat mobile seiring dengan perkembangan tehnologi gadget mobile yang semakin canggih (catatan: pengumpulan data mandiri saat ini juga semakin canggih, sudah tersedia Proteus, sebuah digital pil yang dapat ditelan dan memberikan informasi kesehatan, lalu juga monitor jantung yang terkoneksi langsung dengan gadget. Kedua tehnologi ini sudah disetuji oleh FDA).

Keynote berikutnya merupakan implementasi dari konsep yang diajukan oleh Bisdorf. Sesi dengan judul Opening the Black Box: Inviting Patients into the Medical Record dibawakan oleh Tom Delbanco, MD, MACP, Professor of General Medicine and Primary Care, Harvard Medical School Division of General Medicine and Primary Care, Beth Israel Deaconess Medical Center, USA. Delbanco menyampaikan mengenai penggunaan OpenNote sebuah program IT yang digunakan untuk menyimpan data rekam medik pasien yang dikendalikan sepenuhnya oleh pasien (bukan oleh dokter atau sarana kesehatan).

Konsep OpenNote memastikan pasien dapat mengakses seluruh catatan yang dibuat oleh dokter, perawat dan klinisi lain (catatan: informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://www.myopennotes.org ). Meski saat ini banyak klinisi dan pengelola sarana kesehatan tidak setuju dengan konsep tersebut (berdalih dengan konsep kerahasiaan data pasien), namun Delbanco mengingatkan bahwa konsep ini sudah dilirik oleh berbagai pemain didunia digital (seperti google, amazon dan microsoft) dan mereka memiliki kemampuan untuk merubah "permainan" dimana nantinya RS dan para dokter nantinya akan "terpaksa" mengikuti aturan baru.

Atas dasar itu Delbanco menganjurkan agar regulatorlah yang harus membuat inisiasi untuk konsep ini (catatan: Penulis berharap agar konsep ini dapat dibahas oleh tim dari BPJS, apakah dapat dikembangkan di Indonesia, sehingga pasien dan BPJS dapat memiliki catatan kesehatan yang baik sehingga juga dapat melakukan evaluasi mutu dan biaya dengan baik).

p11Pameran Poster

 

2. Mengembangkan Value-Based Payment

Pada sesi ini penulis merasa bahwa antara Indonesia dan USA tidak terlalu berbeda jauh, bila dikaitkan dengan perjuangan untuk mengembangkan sistem kesehatan, termasuk sistem pembiayaan kesehatan yang mendorong mutu dan sekaligus efisiensi biaya (catatan: tema ini bahkan cukup mendominasi karena banyaknya pembicara dari USA). Sesi ini membahas mengenai pelaksanaan dan evaluasi konsep bundled payment yang akan merubah konsep pembayaran fee-for-service menjadi value-based payment model.

Sesi ini disampaikan oleh Carolyn Simpkins, MD, PhD, Clinical Director, North America, BMJ dan Joanne M. Conroy, M.D, Chief Health Care Officer, Association of American Medical Colleges (AAMC), USA. Mereka menyampaikan bahwa di USA dengan adanya Obamacare menuntut perubahan pengelolaan Medicare dan Madicaid, perubahan yang menuntut adanya uji coba model pembiayaan dan pelayanan yang baru (catatan: penting dicatat bahwa bahkan di USA perubahan model pembiayaan dilakukan uji coba dahulu sebelum diterapkan. Mereka melakukan uji coba di 10 RS pendidikan yang mengajukan diri secara sukarela untuk menerapkan BPCI/Bundled Payment for Clinical Improvement).

Penerapan BPCI ini merupakan bagian dari ACA untuk membuat pelayanan kesehatan lebih baik, efisien dan akuntabel. Upaya lain adalah dengan membangun National Quality Strategi, membangun Health Information Technology dan membangun Patient Centered Outcome Research Institute (catatan: menurut penulis ketiga hal ini juga perlu dikembangkan di Indonesia, terutama National Quality Strategi. di USA dana untuk membangun ketiga hal ini berasal dari pengurangan biaya di Medicare-Medicaid serta dengan menigkatkan pajak terutama untuk keluarga kaya raya).

Pada saat ini BPCI ditargetkan untuk 48 kondisi penyakit yang secara total menghabiskan biaya kesehatan hingga 70% (catatan: ini berarti mereka menggunakan rumus Pareto) sebagai catatan tambahan di USA 10% populasi yang berisiko tinggi menghabiskan 52% biaya, 30% populasi dengan peningkatan risiko menghabiskan 39% sedangkan 60% yang berisiko biaya hanya menghabiskan 9% pembiayaan.

Mereka menyimpulkan bahwa reformasi sistem kesehatan di USA belum selesai, masih membutuhkan banyak regulasi pemerintah, market forces dan berbagai uji-coba untuk membuat sistem kesehatan mereka lebih baik dan efisien (catatan: kalau di USA saja masih belum selesai apalagi di Indonesia, penulis berharap bahwa pengelola JKN dapat mengagendakan hal serupa)

3. Meningkatkan Mutu dan Mengurangi Biaya

Sesi ini dibuka dengan mengutip tulisan Michael Porter dari Havard University yang mengatakan bahwa "jalan terbaik untuk mengurangi biaya adalah dengan meningkatkan mutu". Dibawakan oleh James Mountford, Director of Clinical Quality, UCL Partners dan John Moxham, Director of Clinical Strategy, King's Health Partners, Academic Health Sciences Centre, keduanya dari England. Sesi mereka berjudul Leading on value for patient benefit - simultaneously improving quality and cost across systems.

Monntford menjelaskan bahwa mereka meningkatkan mutu dan sekaligus mengurangi biaya (dengan studi kasus endokarditis, hepatitis B dan stroke) dengan terlebih dahulu menyusun indikator outcome klinis (catatan: meski saat ini di Indonesia sudah ada standar pelayanan minimal/SPM RS, namun indikator yang ada belum mencakup indikator proses dan outcome pelayanan klinis untuk kondisi/penyakit spesifik) lalu dibagi dengan rata-rata biaya untuk setiap siklus pelayanan sehingga mendapatkan apa yang mereka sebut sebagai Value Score (Value = outcomes/cost).

Gambar. Model of Patient Pathways for Treatment (Walter, 2012)

Dari hasil value score tersebut mereka kemudian masuk ke siklus PDSA: menyusun learning hypotheses, melakukan analisa, membuat daftar improvement dan melakukan uji coba perbaikan. Diharapkan melalui siklus ini biaya pelayanan kesehatan dapat diturunkan dan mutu dapat ditingkatkan.

Pembicara lain yang membahas hal ini adalah Lucy A. Savitz, PhD, MBA, Director of Research and Education, Institute for Healthcare Delivery Research, Intermountain Healthcare, USA. Membawakan presentasi dengan judul Reducing cost, improving quality: life cycle model for sustainability. Meski judul ini terlihat menjanjikan, namun sayang ternyata hanya berisi mengenai teori tanpa memberikan contoh implementasi (mungkin ini satu-satunya presentan yang hanya bicara teori dalam forum ini).

4. Peran WHO dalam Meningkatkan Value Terpenting bagi Pasien: Safety

Dibawakan oleh Itziar Larizgoitia, Head of Innovations, Patient Safety Programme, World Health Organization, Switzerland sesi ini berjudul International harmonisation of patient safety reports: minimal information model for incident reporting. Sesi ini sangat menarik karena di Indonesia sepengetahuan penulis laporan mengenai keselamatan pasien di rumah sakit tidak mudah didapat baik saat masih dikoordinir oleh Komite Keselamatan Pasien di Rumah Sakit (KKPRS-PERSI) hingga saat ini oleh Komite Nasional Keselamatan Pasien di Rumah Sakit (KNKPRS).

Larizgoitia menyampaikan perkembangan model laporan keselamatan pasien yang telah dilakukan oleh WHO dan diharapkan dapat dijadikan pedoman oleh seluruh negera yang dikenal sebagai MIMPS (Minimal Information Model for Patient Safety) yang saat ini sudah masuk ke tahap uji coba dan validasi setelah sebelumnya melalui tahap analisa oleh Universitas St Etienne (untuk top-down analysis), Universitas Tokyo (untuk bottom-up analysis) dan Jaringan institusi di Denmark, Belgia, Canada dan Australia (untuk expert review).

Pembicara selanjutnya adalah Maarten de Wit, Senior Inspector, Dutch Healthcare Inspectorate, the Netherlands yang menyampaikan pengalamannya sebagai regulator dalam menggunakan model WHO dalam laporan keselamatan. Lembaga de Wit memiliki kewenangan untuk menilai keselamatan dan mutu sarana pelayanan kesehatan termasuk menutup sarana pelayanan kesehatan apabila tidak memenuhi syarat (catatan: dulu Indonesia juga memiliki lembaga inspektorat disetiap provinsi melalui kewenangan Kanwil Kesehatan).

Hasil yang didapat dengan mengadopsi model tersebut adalah hampir semua RS telah memiliki sistem laporan keselamatan pasien dan telah melaporkan kejadian sentinel maupun KTD (catatan: jumlah RS di Belanda hanya 93 buah, bandingkan dengan Jawa Tengah yang memiliki lebih dari 200 RS). Dari laporan yang diterima selama 8 bulan terakhir de Wit mendapatkan ada 575 laporan keselamatan pasien yang memudahkannya menyusun kebijakan/regulasi untuk perbaikan.

 

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq