Editorial, 25 Juli 2016

Vaksin Palsu dalam Donald Berwick Model

ediags1Dunia pelayanan kesehatan di Indonesia mengalami keguncangan cukup parah sejak terungkapnya produsen dan distributor vaksin palsu. Keguncangan bertambah parah dengan diungkapnya 14 rumah sakit yang mungkin tidak sadar telah menggunakan vaksin palsu tersebut dalam pelayanan mereka. Keguncangan parah terjadi saat berbagai institusi saling menyalahkan satu sama lain, para pengamat beradu teori dan argumen, hingga aksi penuntutan dan pemblokiran pelayanan di rumah sakit oleh masyarakat.

Read more

Artikel

Vaksin Palsu Dalam Kajian Standar Pengelolaan Farmasi di Rumahsakit

Kasus vaksin palsu tengah menjadi topik bahasan hangat saat ini. Bukan hanya karena dampak yang ditimbulkan atau bagaimana kejadian tersebut dapat berlangsung begitu lama. Namun juga bagaimana vaksin tersebut dapat beredar di fasyankes yang seharusnya telah menerapkan standar pengelolaan fasyankes termasuk pengelolaan farmasi yang baik.

Readmore

+ ARSIP

Reportase Sesi Paralel B

Posted in agenda

Menuju Pelayanan Kesehatan yang Aman Bermutu dan Efisien

21 Agustus 2014

Pendahuluan:

Pada sesi paralel B dibagi menjadi empat sesi yakni presentasi pertama membawa materi diskusi Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN, presentasi kedua yakni Pegalaman dari projek outsuka, presentasi ketiga membawakan materi diskusi merencanakan layanan klinis yang inovatif dan yang terakhir yakni Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk 'Remunerasi' di Puskesmas" yang mana kesemuanya ini akan di moderatori oleh dr.Trisasi Lestari. Keempat sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi.

SESI PARALEL B4:

Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN
(dr.Astari Mayang Anggarani)

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B4 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Astari Mayang Anggarani dari RS Pelni Jakarta Barat. Penyaji menjelaskan bahwa sangat disadari oleh semua tim RS Pelni bahwa merupakan suatu konsekuensi bagi rumah sakit swasta yang melayani peserta JKN yakni menghadapi perubahan mendasar dalam sistem klaim menjadi paket pelayanan yang nilainya ditentukan di depan (prospective payment system). Untuk itu, praktisi rumah sakit swasta harus mengubah paradigma pelayanan melalui redesain proses bisnis. Hal ini bukan tanpa alasan melihat volume pasien yang semakin bertambah bagaikan menerima air terjun sehingga kata layanan yang terjangkau sengaja dimasukkan dalam memasuki jaminan kesehatan nasional untuk dapat tetap survive dalam bisnis kesehatan.

Dengan kepesertaan JKN, dibuka selebar-lebarnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini menimbulkan perubahan besar dalam penerimaan pasien. Tantangan dalam era JKN ini antara lain adanya perubahan fee-for-service dengan fixed payment maupun progressive payment. Selain itu adanya disparitas tarif pelayanan. Proses administrasi klaim INA-CBG's di RS pun berubah, menuntut kesiapan dari RS itu sendiri. Kesiapan RS ini juga perlu dilakukan karena RS diawasi berbagai pihak termasuk OJK. Dari hasil evaluasi yang dilakukan pada rentan bulan Jan-Jul 2014 terbukti agar RS dapat layani peserta JKN dengan baik maka strategi efisiensi biaya dijadikan sebagai pondasi utama, bersamaan dengan peningkatan investasi dan pengendalian profil pasien terbukti memperlancar pelaksanaan strategi baik berupa ketepatan waktu 100% dan tingkat pencairan klaim 80%.


SESI B5

Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS: Pengalaman Projek Otsuka
Oleh: Dr. Ari n. Probandari, MPH,PhD

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B5 yakni dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr Ari Probandari. Selain menjadi panitia dalam kegatan forum mutu beliau juga berupaya menghadirkan materi yang sangat menarik yakni Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS, Pengalaman dari Projek Otsuka. Menurut penyaji bahwa tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem kendali mutu dan biaya penatalaksanaan TB di rumah sakit melalui metode action researc, karena sebenarnya RS tidak pernah benar-benar bisa menghitung besaran biaya untuk pelayanan TB dikarenakan oleh pengetahuan dokter dan pasien tentang pelayanan TB, Continuity of care pasien TB serta biaya pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara akurat dan caranya bervariasi.

Hal ini sangat menarik jika dapat dihitung besaran biayanya maka akan dipergunakan sebagai dasar perhitungan biaya pentalaksanaan kasus lainnya. Sudah penah ada upaya-upaya yang pernah dibuat sebelumnya namun lebih menyentuh pada environmental saja. Hasil yang didapatkan yakni pada studi tahap pertama menunjukkan bahwa standar penatalaksanaan TB belum sepenuhnya diterapkan di rumah sakit. Pembiayaan pelayanan TB lebih banyak dilakukan oleh eksternal. Biaya pelayanan TB sulit diestimasi karena sistem akutansi yang ada tidak mampu menghitung biaya pelayanan per jenis kasus yang ditangani.

Studi tahap kedua masih dalam persiapan intervensi. Pada tahap tersebut dibutuhkan pendekatan pada rumah sakit untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya implementasi sistem kendali mutu serta biaya serta mendapatkan komitmen internal untuk melakukan perubahan. Pelajaran yang dapat diambil pada tahap kedua yakni antusiasme yang tidak berimbang antara peneliti dengan subjek atau hospital, Kebutuhan dialog agar RS dapat memahami intervensi yang mana bukan hanya kepentingan peneliti namun juga kepentingan RS kemudian di berbagai RS, sudah ada clinical pathway namun belum diimplementasikan dengan baik.


SESI B6

Merencanakan layanan klinis yang inovatif.
Oleh: dr.Bayu Chandra Cahyono

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B6 yakni dr. Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Bayu Chandra Cahyono yang berasal dari RSUD Kaliwates Jember. Sesi presentasi yang berlangsung selama 30 menit. Materi presentasi yang dibawakan sangat menarik sehingga mengundang rasa penasaran peserta bahwa bagaiman cara merencanakan layanan klinis yang inovatif ditengah persaingan usaha di kalangan perumah-sakitan (RS) yang sudah dapat dirasakan semakin nyata, baik antar RS Indonesia, regional maupun global.

Disampaikan oleh penyaji bahwa semula RS Kali Wates merupakan RS milik PTP Nusantara XII namun kini telah berpisah dan berdiri sendiri. Perlu disadari pula bahwa RS merupakan lembaga yang padat modal, padat karya, padat teknologi, dan padat masalah. RS hendaknya terus berinovasi agar memiliki daya saing yang tinggi sehingga perlu mengenali kurangnya fasilitas dan SDM, tanggap terhadap pasien, dan pelayanan yang aman bagi pasien. Daya saing yang baik tentunya sangat diperlukan di era globalisasi dan pasar bebas, terkait juga dengan penerapan JKN di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian disajikan bahwa ada beberapa strategi untuk menciptakan inovasi dalam dunia perumah-sakitan, yaitu strategi yang mencakup empat strategi Inovasi nilai, dan empat Kuadran Inovasi. Kemudian, yang dimaksud dengan 4 Strategi Inovasi nilai adalah menciptakan inovasi tiada henti. Sedangkan 4 kuadran Inovasi adalah strategi yang mempermudah para pelaku bisnis perumah-sakitan apakah inovasi layanan yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi pasar yang ada. Untuk menjawab persaingan yang semakin ketat setiap RS diharapkan mampu berinovasi terhadap layanan dan inovasi RS yang diharapkan adalah inovasi yang tidak berbiaya tinggi tetapi memiliki nilai jual yang tinggi.


SESI B7

Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk 'Remunerasi' di Puskesmas"
Oleh:dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani (Kota Samarinda)

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B7 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan 2 pembicara yakni dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani yang berasal dari Kota Samarinda. Diawali dengan penjelasan mengenai implementasi penilaian kinerja SDM di Puskesmas yang disampaikan oleh pembicara utama kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bagaimana cara perhitungan penilaian kinerja yang disampaikan oleh dr. Desi Efriani. Pelaksanaan diskusi berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti.

Dijelaskan di era JKN ini, Puskesmas menjadi ujung tombak pelayanan primer sehingga menjadi bagian terpenting keberhasilan pelayanan primer. Sehingga untuk menyediakan pelayanan yang bermutu perlu SDM berkualitas dan insentif yang pantas sebagai reward. Menurut pengalaman yang disampaikan oleh penyaji bahwa hampir seluruh PKM di Kota Samarinda telah menerapkan sistem penilaian produk Permenkesi untuk memberikan reward/jasa palyanan medik kepada petugas sejak 2012. Reward diberikan dari insentif yang berasal dari Jamkesda Samarinda. Tools ini salah satu tujuannya menilai kinerja SDMK yang ruang lingkupnya seluruh SDMK PMK baik PNS maupun non-PNS.

Penilaian kinerja di Samarinda ini sudah dilakukan di 24 Puskesmas di Kota Samarinda sejak 2012. Keunggulannya adalah menyeluruh (PNS maupun non-PNS), prestasi kerja terukur, fleksible-auditable-akuntabel, penilaian lengkap (mencakup tupoksi maupun keg tambahan), dapat disinkronisasi dengan SKP sesuai dengan ASN. Instrumen yang digunakan antara lain: 1) instrumen umum (Form A) berisi kelompok SDM, pendidikan, masa kerja, kehadiran, pengurang (teguran)/penambah (penghargaan); dan 2) instrumen khusus (Form B dan C) untuk produktivitas kerja. Untuk variabel produktivitas kerja menggunakan 3 pola, pola I ditentukan oleh maksimal jumlah pasien dalam suatu kurun waktu penilaian; Pola II digunakan bila suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu tenaga kesehatan sejenis sesuai porsinya; sedangkan Pola III digunakan bisa suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu jenis tenaga kesehatan.

Adapun manfaat seperti yang dijelaskan oleh penyaji bahwa penilaian kinerja dapat memberikan penghargaan secara finansial maupun penghargaan non-finansial berupa kesempatan seminar, studi lanjut, dan lain-lain

 

 

Reportase Audit Keperawatan hari ke-2

Posted in agenda

Session Title: Audit Keperawatan

Selasa, 19 Agustus 2014

Reporter: Eva Titabayu Hasri, MPH

  Sesi : Praktik Audit Keperawatan oleh Srimartuti, SKP., MKes dan Tim

Praktik audit keperawatan peserta dibagi dalam sembilan (9) kelompok dan masing-masing kelompok ada satu orang fasilitator dari tim komite keperawatan RSUD Dr. Moewardi. Pelaksanaannya setiap kelompok membuka 10 Rekam Medis RSUD Dr. Moewardi berdasarkan topik yang telah disepakati oleh masing-masing kelompok. Sebelum membuka Rekam Medis tiap peserta menandatangani surat pernyataan wajib jaga rahasia isi Rekam Medis. Hasil praktik audit keperawatan yang diperoleh adalah :

1. Topik I : Cemas Pada Pasien Dengan Ca Mammae

Variabel :

  1. Umur 35-50 tahun
  2. Tingkat pendidikan SD sampai Perguruan tinggi

Kriteria Audit

  1. Perawat mengukur tanda-tanda vital
  2. Perawat mengkaji perubahan postur tubuh pasien
  3. Perawat memonitor tanda-tanda vital
  4. Perawat mengajarkan relaksasi
  5. Perawat memonitor perubahan perilaku pasien
  6. Tanda-tanda vital dalam batas normal
  7. Pasien mampu melakukan relaksasi
  8. Cemas teratasi

2. Topik II : Nyeri Pada Pasien APP

Variabel :

  1. Umur
  2. Tingkat Pendidikan
  3. Jenis kelamin

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji skala nyeri
  2. Perawat menkaji tanda-tanda vital
  3. Perawat mengajarkan teknik relaksasi atau distraksi
  4. Perawat memberikan terapi analgetik sesuai advis
  5. Skala nyeri 0 atau berkurang
  6. Tanda-tanda vital dalam rentang normal

3. Topik III : Nyeri Pada Fraktur

Variabel :

  1. Umur
  2. Ruang perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat melakukan pengkajian nyeri
  2. Perawat mengkaji tekanan darah dan nadi
  3. Perawat melakukan teknik relaksasi
  4. Perawat mengobservasi tekanan darah dan nadi
  5. Skala nyeri nol dalam batas waktu 2x24 jam
  6. Tekanan darah 120/80 mmHg , nadi 80 x/menit

4. Topik IV : Hipertermi pada Typoid

Variabel :

  1. Umur
  2. Kelas perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat melakukan pengkajian keluhan riwayat panas
  2. Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital
  3. Perawat melakukan monitoring suhu secara berkala
  4. Perawat melakukan monitoring input dan output cairan
  5. Suhu dalam batas normal (36,50 C – 37,50 C)
  6. Pasien nyaman

5. Topik V, Hiperthermi Pada Pasien DHF

Variabel :

  1. Umur Pasien
  2. Kelas Perawatan
  3. Ruang Perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji tanda vital (suhu > 380 C)
  2. Perawat mengkaji keluhan panas pasien
  3. Perawat monitoring suhu tubuh
  4. Perawat mengompres pasien
  5. Monitoring hasil laborat (Hb, Ht, Trombosit, WBC)
  6. Suhu tubuh 360 C – 370 C

6. Topik VI : Nyeri pada Pasien Fraktur

Variabel :

  1. Fasilitas kelas pelayanan

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji karakteristik nyeri
  2. Perawat mengkaji vital sign
  3. Perawat melakukan teknik relaksasi
  4. Perawat memonitor vital sign
  5. Skala nyeri nol atau berkurang
  6. Tekanan darah dan HR normal

7. Topik VII : Decompensasi cordis dengan penurunan curah jantung

Variabel :

  1. Perawat
  2. Kelas perawatan
  3. Penanggung biaya perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji oedem
  2. Perawat mengkaji CRT/ SPO2
  3. Perawat memonitoring balance cairan
  4. Perawat memonitoring CRT/ SPO2
  5. Tidak terjadi oedem
  6. Saturasi < 3 dtk/ > 90

8. Topik VIII: Fraktur Dengan Gangguan Mobilitas Fisik

Variabel :

  1. Usia
  2. Kelas perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji nyeri
  2. Perawat mengkaji kelemahan otot
  3. Perawat melakukan tehnik relaksasi
  4. Perawat melakukan ROM secara bertahap
  5. Nyeri berkurang/ hilang
  6. Kekuatan otot minimal 3

9. Topik IX : Cemas Pada Pasien Ca Mammae Dengan Kemoterapi

Variabel :

  1. Umur
  2. Kelas perawatan

Kriteria Audit :

  1. Perawat mengkaji tentang kesulitan tidur yang dialami pasien (insomnia)
  2. Perawat mengkaji tentang ketakutan yang dialami pasien
  3. Perawat melakukan identifikasi tingkat kecemasan
  4. Perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, presepsi
  5. Perawat memberikan informasi tentang tindakan yang akan dilakukan
  6. Perawat mengajarkan tehnik relaksasi

g. Pasien dapat tidur 6 - 8 jam

Sebagai tindak lanjut hasil audit keperawatan perwakilan peserta dari kelompok bimbingan teknis mensimulasikan presentasi hasil auditnya di hadapan para pimpinan.

Rencana tindak lanjut Bimbingan Teknis Audit Keperawatan setiap peserta harus melakukan Audit di rumah sakit masing-masing dan diberi kesempatan untuk melakukan konsultasi melalui email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Hasil audit keperawatan dari masing-masing institusi rumah sakit akan di tindak lanjuti pada bimbingan teknis audit keperawatan tahap II pada tanggal 6 – 7 oktober 2014.

 

 

 

Reportase Paralel A

Posted in agenda

Rancang Bangun Implementasi Keselamatan Pasien dan
Manajemen Mutu Pelayanan di era Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional

20 Agustus 2014

Pendahuluan

Pada sesi paralel A ini, kegiatan dibagi menjadi tiga sesi yang dimoderatori oleh Dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD. Sesi yang pertama yakni Implementasi keselamatan pasien & manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari Penerapan JCI. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yakni Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS swasta yang ikut dalam skema JKN kemudian disusul dengan sesi terakhir yakni patient safety implementation in ICU. Ketiga sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut hingga tidak terasa melewati batas waktu yang sudah disepakati. Namun demikian, tidak mengurangi semangat dari para peserta untuk terus menggali informasi dari para penyaji yang ada.

SESI PARALEL A1:

Implementasi keselamatan pasien dan manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari penerapan JCI.
(drg. Basoeki Soetardjo diganti oleh Ibu Ida)

Moderator: dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A1 yakni dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD dengan menghadirkan pembicara drg. Basoeki Soetardjo dari RSUD Moewardi, namun karena beliau berhalangan hadir sehingga diwakilkan oleh Ibu Ida. Dalam sesi diskusi tersebut lebih jauh dijadikan sebagai ajang sharing oleh pihak RSUD Moewardi tentang bagaimana membangun sistem RS yang berbasis keselamatan pasien dan manajemen mutu. Dalam penjelasannya, RSUD Moewardi sangat concern dalam membangun sistem RS berstandar kelas dunia yakni melalui dua cara, melalui keselamatan pasien yang tertuang dalam UU NO 44 Tahun 2009 dan manajemen mutu. Disampaikan pula mengenai konsep dari tim RS dalam membangun sistem yakni dengan cara memperhatikan input, proses dan output dimana kesemuanya haruslah berbasis pada standard dan pedoman yang berlaku. Adapaun framework peningkatan mutu dan keselamat pasien yang dibangun di RSUD Moewardi dimulai dari komitment diseluruh civitas hospitalia, kemudian adanya kegiatan-kegiatan yang focus pada evaluasi kinerja dan ditambah dengan adanya suatu budaya organisasi dan dimana kesemuanya tersebut menuju pada peningkatan mutu dan keselamatn pasien.

Proses dalam peningkatan mutu di RSUD Moewardi juga menggunakan siklus PDCA dimana Semua permasalahan yang ada dianalisis dengan menggunakan fishbond analisis, dari permsalahan yang ada setiap indicator memiiki kamus indokator, SPO pencatatn dan pengupulan data dan akan dimonitor secara berkala, dan akan dilaporkan kepada dewan pengawas setiap tiga bulan. Ada beberapa alasan mengapa dilakukan peningkatan mutu pelayanan kesahatan yakni 1) Adanya pelayanan kesahatan dewaasa ini yang dirasa tidak aman dan ini bukan isapan jempol, yang mana sesuai dengan undang 44 Tahun 2009 tentang akreditasi yang sudah diamanahkan dan kewajiban dari RS untuk mengikuti akreditasi yang pada versi Tahun 2012 berfokus pada pelayaann kesehatan yang berfokus keselamatn pasien dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 2) Adanya perubahan tata nilai mutu pelayanan kesehatan pasien dan hukum yang sekarang sudah merambah pada pelayanan kesehatan. 3) Misi JCI atau meningkatkan keselamatan dan kualitas perawatan pasien di seluruh dunia.

Disampaikna juga bahwa keselamatan pasien yang dilakukan di RS Moewardi terdiri dari survey budaya keselamatan pasien yakni selalu mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi dan implementasi dari standar akrediasi dan juga kegiatan tentang proses bagaimana penanganan masalah yang berhubungan dengan kesalamatan pasein dan apakah RS sudah memiliki tim yang sigap dan sangat proaktf melakukan sosialisasi), 7 Langkah keselamatan pasien, risk manajemen baik tingkat unit kerja maupun tingkat RS harus ada komite mutu dan keselamatan pasien RS baik pada kegiatan unit kerja maupun RS, sistem pencatatan dan pelaporan insiden yakni memberikan reward bagi yang aktif melaporkan apabila ada kejadian-kejadian keselamatan pasien, Root Canal Analysis (RCA) yang terkait dengan solusi dan problem solving yang terkait dengan risk manajemen, FMEA (Failure Mode Effect Analysis).


SESI  A2:

Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS Swasta yang ikut Dalam Skema JKN.
Oleh: dr Dini Handayani, MARS

Moderator dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A2 yakni dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD menghadirkan pembicara dari Group RS Swasta Awal Bros Tangerang yakni dr Dini Handayani. Dalam sesi diskusi beliau banyak memaparkan pengalaman-pengalam keikutsertaa RS Awal Bros dalam era JKN. Lebih lanjut, Tonang memaparkan bahwa dalam mengimplementasikan keselamaatan dan mutu manajemen itu tidak lepas dari keharusan RS dalam mengidentifikasi resiko/ risk-assessment. Keberhasilan RS Awal Bros dalam meraih akreditasi JCI 4 dari 8 RS Group dari Awal Bros tidak lepas dari keyakinan manajemen dan seluruh staf bahwa bisnis RS itu adalah bisnis kepercayaan dan RS akan berkembang dengan baik apabila ada kepercayaan dari semua lapisan masyarakat.

RS Awal Bross dalam menjadi RS yang terpercaya, tidak penah berhenti belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah dijalankan oleh RS lain maupun dari literatus yang ada bahwa memperbaiki komunikasi adalah pondasi yang sangat penting dan ini sangat disadari oleh semua pihak. Kesalahan komunikasi disinyalir sebagai penyebab mengapa pasien lari berobat ke luar negeri, padahal jika disadari sudah ada 7 RS yang sudah terakreditasi internasional di Indonesia. Dalam Memprebaiki mutu layananan sangat disadari oleh Puncak pimpinan bahwa pengeluaran terkait dengan mutu itu sangatlah besar sehingga yang terpenting adalah kendali mutu dan kendali biaya, Lebih lanjut dijelaskan oleh penyaji dalam keikutsertaan RS Awal Bros dalam Era JKN bukan tanpa kendala dan apabila dikatakan untung ataupun rugi jawabannya adalah iya rugi, namun disitulah pentingnya dalam mengatur operasionalnya.

Pada sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator disambut sangat antusias oleh para peserta sehingga jalannya diskusi berlangsung lancar dan terkendali. Pada akhir sesi presentasi penyaji memberikan kata-kata mutiara yakni "organisasi kesehatan yang paling sukses adalah organisasi yang mengenali sifat usaha mereka dan mengelolanya untuk memberikan seluruh dimensi kualitas"


SESI A3:

Patient Safety Implementation in ICU
Oleh dr. Rudyanto Sedono

Moderator: Dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD,
Pemaparan yang menarik dengan gaya khas yang nyentrik berhasil menghipnotis para peserta dalam forum mutu pada sesi A3. Berada pada jam yang agak rentan dengan kondisi fokus peserta menurun namun penyaji berhasil membuat peserta menjadi sangat antusias dan membuat suasana menjadi menyenangkan dengan penyampaian pengalaman-pengalamannya selama bekerja sebagai kepala ICU RSCM. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh penyaji dimulai dengan pertanyaan seberapa amankah health care? Ternyata health care itu sendri berada di posisi yang tidak memberi keamanan kepada si pengguna pelayanan itu sendiri, sehingga sangat dibutuhkan implemntasi patien safety yang meliputi Quality of treatment and unit management, Quality of monitoring, Quality of continous and same standard dan Quality in 24 hours.

Disampaikan juga oleh penyaji bahwa ada beberapa hal yang membuat masalah-masalah keselamatan itu muncul yakni peningkatan kompleksitas dalam sistem dan perubahan teknologi yang sangat cepat, dan sebagainya. Penerapan implementasi standar tidak bisa disamakan, harus melihat kondisi rumah sakit, sistem pelayanan kesehatan, sistem pemerintahan, dan juga nilai, hukum, sosial budaya, norma, etika, adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Yang sangat penting disebutkan oleh penyaji adalah kearifan lokal yang dijalankan oleh instansi tersebut sehingga dapa mengimplemnetasikan patient safety secara benar.

 

 

Reportase Audit Keperawatan

Posted in agenda

Session Title: Audit Keperawatan

Chair : Drg. Basuki Soetardjo, MMR ; dr. Hanevi Djasari, MARS;
Srimartuti, SKP., MKes ; Kusmiyati, Skep., Ns ;
Siti Wachidaturrohmah , Skep., Ns

Reporter: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH - Notulen: Tim RSUD Dr. Moewardi

  PENDAHULUAN

audit keperawatan

Pelayanan kesehatan di rumah sakit berjalan secara sinergis antar disiplin profesi kesehatan dan non kesehatan. Perawat memberikan pelayanan dan asuhan menggunakan suatu sistem manajemen asuhan keperawatan. Sementara, manajemen pelayanan keperawatan di rumah sakit terintegrasi dengan pelayanan kesehatan lain, karena sasaran yang ingin dicapai adalah keselamatan pasien.

Tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan dapat dinilai secara obyektif dengan menggunakan metode dan instrumen penelitian yang baku, salah satunya dengan audit dokumentasi asuhan keperawatan. Audit dokumentasi dilakukan dengan cara membandingkan pendokumentasian yang ditemukan dalam rekam medik pasien dengan standar pendokumentasian yang ditentukan dalam standar asuhan keperawatan, sebagai alat bukti tanggung jawab dan tanggung gugat dari perawat dalam menjalankan tugasnya.

Saat ini sedang dikembangkan Audit keperawatan secara khusus sesuai tuntutan standar akreditasi JCI dan KARS 2012 dengan merujuk pada pengkajian kualitas keperawatan klinis yang merupakan upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien, dengan menggunakan rekam keperawatan dan dilaksanakan oleh profesi keperawatan.

Dalam rangka membantu manajemen RS Pemerintah maupun RS Swasta agar dapat melaksanakan audit keperawatan dan agar terjadi sinergi antara perkembangan institusi pendidikan keperawatan dan kebutuhan pelayanan keperawatan di rumah sakit. Hal inilah yang menginisiasi RSUD Dr. Moewardi menyelenggarakan Bimbingan Teknis Audit Keperawatan Sebagai Salah Satu Tolak Ukur Mutu Pelayanan Keperawatan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012, di RSUD Dr. Moewardi pada 18 – 19 Agustus 2014.

Senin, 18 Agustus 2014

Sesi 1: Penyampaian materi tentang Peran Komite Keperawatan dalam mewujudkan Clinical Governance di rumah sakit

oleh Drg. Basuki Soetardjo, MMR (Direktur RSUD Dr. Moewardi)

Komite keperawatan merupakan wadah non struktural yang anggotanya terdiri dari perawat dan bidan. Wadah ini dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggung jawab kepada direktur. Komite keperawatan bertugas dalam menyusun standar praktik keperawatan, membantu pelaksanaan, melakukan pembinaan etika profesi dan mengembangkan etika profesi keperawatan. Wadah non struktural RS Moewardi mempunyai fungsi utama untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi, pemeliharaan etika, dan disiplin profesi. Intervensi keperawatan dan kebidanan yang dilakukan oleh tenaga keperawatan berdasarkan area praktiknya.

Sesi 2: Peran Audit Keperawatan dalam Mempersiapkan Akreditasi RS versi JCI dan Mencegah Sengketa Medis

oleh Siti Wachidaturrohmah (Ka. Sub Komite Etik)

Audit keperawatan dilakukan sebagai upaya good clinical governance dimana terjadi perubahan budaya manajemen risiko sebagai antisipasi terhadap tuntutan, upaya ini dilakukan terus-menerus, lalu berkesinambungan sebagai upaya perbaikan (bukan menyalahkan). Audit dapat dilakukanbaik secara internal maupun eksternal dimana banyak diantaranya berfokus pada : proses asuhan (medis/keperawatan ) dengan formula jelas ( PPK,CP,SAK,NCP,dan lain-lain) sehingga dapat menerapkan standar pelayanan optimal, menjaga mutu pelayanan klinik, mendorong teamwork, meningkatkan patient care/safety, financial, keharusan sesuai UU, à good clinical governance: akuntabilitas.

Sesi 3 : Sharing Pengalaman Komite Keperawatan dalam Melaksanakan Audit Keperawatan di RSUD Dr. Moewardi

oleh Kusmiyati, Skep., Ns (Ka. Sub Komite Mutu Klinis)

Audit Keperawatan perlu dilakukan dengan alasan sebagai berikut, pertama konsep Patient Center Care (PCC) sesuai akreditasi KARS 2012. Kedua, perawat selama 24 jam berinteraksi dengan pasien. Ketiga, tools audit dokumentasi lebih ke kuantitas belum secara kualitas. Keempat, profesi keperawatan sebagai mitra tim kesehatan lain. Kelima, optimalisasi peran perawat sebagai peneliti. Keenam, tujuan akhirnya ialah peningkatan mutu pelayanan.

Awal audit keperawatan dilaksanakan (RSUD dr. Moewardi/RSDM) oleh setiap SPF dan dipimpin seorang ketua SPF dengan SK Direktur, dimana di RSDM ada 40 auditor yang sudah terlatih untuk setiap topik audit yang diambil untuk mewakili setiap SPF (SPF Gadar, SPF Medikal, SPF Bedah, SPF kritis, SPF Anak, SPF Maternitas), audit tahap I ada delapan topik yang dilakukan audit pada Juni 2013 dan re audit dilaksanakan Juli 2013, pelaksanaan audit tahap II Juni 2014, disampaikan contoh laporan audit SPF Medikal dan SPF Kritis.

Sesi 4: Langkah-Langkah Audit Keperawatan oleh dr. Hanevi Djasari, MARS

  1. Menentukan topik audit
  2. Menentukan kriteria dan standar
  3. Mengumpulkan data dengan pelayanan saat ini
  4. Menganalisa data dengan cara membandingkan pelayanan saat ini dengan kriteria/standar yang telah ditentukan
  5. Menetapkan perubahan berdasarkan hasil temuan audit
  6. Melakukan re-audit untuk memastikan bahwa perubahan dilakukan dan terdapat peningkatan pelayanan

 

 

 

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq