Transformasi digital pelayanan kesehatan mendorong fasilitas pelayanan kesehatan untuk menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) dalam mendokumentasikan dan mengelola informasi kesehatan pasien. RME memungkinkan informasi pelayanan tersedia secara elektronik dan lebih mudah diakses untuk mendukung kesinambungan pelayanan, pengelolaan informasi, serta pengambilan keputusan berbasis data.
Dalam proses pembiayaan pelayanan kesehatan, penerapan RME turut mengubah cara informasi klinis dikumpulkan dan digunakan dalam proses koding dan klaim. Informasi yang sebelumnya diperoleh melalui dokumen rekam medis manual kini tersedia melalui berbagai komponen RME, baik dalam bentuk data terstruktur maupun dokumentasi naratif. Kondisi tersebut memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi proses koding, tetapi sekaligus menuntut kemampuan untuk menelaah informasi klinis secara tepat agar dapat diterjemahkan menjadi koding yang akurat.
Ketepatan koding diagnosis dan tindakan merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung proses klaim. Kesalahan seperti up-coding, under-coding, ketidaksesuaian antara diagnosis dan prosedur, maupun koding yang tidak didukung dokumentasi klinis dapat berkontribusi terhadap terjadinya pending claim dan dispute claim. Permasalahan juga dapat terjadi ketika istilah klinis yang digunakan dalam RME belum cukup spesifik, informasi klinis tersebar pada berbagai bagian rekam medis, atau terdapat perbedaan interpretasi antara tenaga medis, koder, casemix, dan verifikator.
Oleh karena itu, optimalisasi koding berbasis RME tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam menentukan kode, tetapi juga kemampuan untuk menelusuri informasi klinis yang tersedia, menilai kecukupan dan konsistensi dokumentasi, serta memvalidasi kesesuaian antara dokumentasi, diagnosis, tindakan, dan hasil koding.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, pelatihan ini mengintegrasikan pemahaman konsep dengan penerapan praktis. Peserta akan menggunakan kasus berbentuk mock-up rekam medis elektronik untuk mempraktikkan telaah dokumentasi, penentuan diagnosis dan tindakan, koding, validasi hasil koding, identifikasi potensi masalah klaim, serta penyusunan rekomendasi perbaikan.
Tujuan
Meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam melakukan telaah, koding, dan validasi berbasis informasi pada Rekam Medis Elektronik (RME) untuk mendukung akurasi koding dan proses klaim pelayanan kesehatan.
Kompetensi
Setelah mengikuti kegiatan, peserta diharapkan mampu:
- Menjelaskan karakteristik proses koding dalam lingkungan RME serta peluang dan tantangannya terhadap akurasi koding.
- Mengidentifikasi informasi klinis yang relevan untuk kebutuhan koding dari dokumentasi RME.
- Menilai kecukupan dan konsistensi dokumentasi klinis dalam mendukung koding diagnosis dan tindakan.
- Menentukan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan/prosedur yang dapat dikodekan berdasarkan dokumentasi yang tersedia.
- Melakukan koding diagnosis dan tindakan sesuai dengan kaidah koding.
- Memvalidasi kesesuaian antara dokumentasi klinis, diagnosis, tindakan, dan kode.
- Mengidentifikasi ketidaksesuaian koding dan dokumentasi yang berpotensi menyebabkan masalah dalam proses klaim.
- Menyusun rekomendasi perbaikan dokumentasi dan/atau proses koding berdasarkan hasil telaah kasus.
Sasaran
- Tenaga rekam medis dan informasi kesehatan, khususnya coder yang terlibat dalam proses koding.
- Tim casemix dan tenaga yang terlibat dalam pengelolaan klaim.
- Verifikator internal fasilitas pelayanan kesehatan.
- Tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan klinis: DPJP, dokter, dan tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam dokumentasi klinis.
- Pengelola mutu dan manajemen fasilitas pelayanan kesehatan yang terlibat dalam pengelolaan kualitas data klinis dan klaim.
Output
Peserta menghasilkan:
- Lembar Telaah Dokumentasi RME, yang memuat informasi klinis relevan yang ditemukan dalam mock-up RME serta identifikasi informasi yang belum lengkap atau belum jelas.
- Hasil Koding Kasus, yang mencakup diagnosis, tindakan/prosedur, kode, dan dasar dokumentasi yang mendukung penetapan kode.
- Hasil Validasi Koding, berupa penilaian kesesuaian antara dokumentasi klinis, diagnosis, tindakan, dan kode.
- Identifikasi Potensi Risiko Klaim, berdasarkan ketidaksesuaian atau kekurangan dokumentasi dan/atau koding yang ditemukan.
- Rekomendasi Perbaikan, berupa usulan perbaikan dokumentasi klinis dan/atau proses koding untuk meningkatkan akurasi koding dan mengurangi risiko pending claim atau dispute claim.
Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Rabu, 14 Oktober 2026
Waktu : 09.00-13.00 WIB
Narasumber / Moderator
- Narasumber: Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M. – Praktisi Rekam Medis, Koding, INA-CBG, & Klaim JKN RSUP Persahabatan
- Moderator: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS – Peneliti PKMK FK-KMK UGM
Rundown Kegiatan
|
Waktu |
Agenda |
Narasumber/Fasilitator |
|
08.45 – 09.00 |
Registrasi peserta |
Panitia |
|
09.00 – 09.10 |
Pembukaan |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
09.10 – 09.40 |
Materi 1: Koding di Era RME: Perubahan Proses dan Tantangan Akurasi
|
Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M |
|
09.40 – 09.50 |
Sesi diskusi dan tanya-jawab |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
09.50 – 10.20 |
Materi 2: Dari Dokumentasi RME hingga Kode dan Klaim
|
Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M |
|
10.20 – 10.30 |
Sesi diskusi dan tanya-jawab |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
|
10.30 – 10.40 |
Penjelasan praktikum |
Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M |
|
10.40 – 11.50 |
Praktikum 1: RME Coding & Validation Lab – dari Dokumentasi hingga Kode Peserta menelaah mock-up RME untuk mengidentifikasi informasi klinis, menilai kecukupan dokumentasi, menentukan diagnosis dan tindakan, menetapkan kode, serta memvalidasi kesesuaiannya dengan dokumentasi. |
Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M |
|
11.50 – 12.50 |
Praktikum 2: Identifikasi Risiko Klaim dan Penyusunan Rekomendasi Perbaikan
Peserta mengidentifikasi kekurangan atau ketidaksesuaian dokumentasi dan koding, menilai dampaknya terhadap klaim, serta menyusun rekomendasi perbaikan dokumentasi dan proses koding. |
Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M |
|
12.50 – 13.00 |
Penutup |
Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS |
*Untuk praktikum, peserta akan diberikan kasus dalam bentuk mock-up RME dan template praktik yang telah disiapkan oleh panitia.
Biaya dan Fasilitas
- Individu : Rp 400.000,-
- Kelompok (3 orang) : Rp 1.000.000,-
Link pendaftaran peserta: bit.ly/RegKodingRME26
Fasilitas yang akan didapatkan peserta:
- Sertifikat
- Materi dalam bentuk pdf
- Rekaman
Narahubung
Helen (085117448499)
Eva (082324332525).




M. Hardhantyo, MPH., PhD membuka pembahasan dengan mengangkat fenomena Data Rich, Insight Poor, Action Poor dalam manajemen mutu. Banyaknya data yang tersedia belum selalu diikuti kemampuan menghasilkan insight dan tindakan perbaikan. Karena itu, data perlu dipandang sebagai aset strategis yang harus diolah dan diinterpretasikan agar dapat membantu organisasi memahami masalah serta menentukan keputusan yang tepat.
Sesi berikutnya menghadirkan Yusuf Afandi, S.T. yang membagikan pengalaman pemanfaatan data mutu di Rumah Sakit Akademik UGM. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dashboard dapat membantu organisasi melihat kondisi dan menemukan area yang membutuhkan perhatian, tetapi dashboard saja belum cukup. Data perlu dihubungkan dengan kebutuhan pengguna, dianalisis secara lebih mendalam, serta dikomunikasikan kepada pihak yang berwenang agar dapat menjadi dasar tindakan.

engan menjelaskan posisi FMEA dan RCA dalam manajemen risiko. FMEA digunakan sebagai pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi potensi kegagalan sebelum insiden terjadi, sedangkan RCA lebih banyak digunakan secara reaktif untuk menganalisis akar penyebab setelah suatu kejadian terjadi. Melalui FMEA, fasilitas kesehatan tidak perlu menunggu insiden untuk melakukan perbaikan, tetapi dapat mengenali risiko dan memperbaiki proses sejak dini.
Andriani Yulianti, MPH, kemudian memfasilitasi praktik penerapan FMEA secara bertahap. Peserta berlatih menentukan proses yang akan dianalisis, mengidentifikasi potensi kegagalan, menghitung RPN, memilih risiko prioritas, hingga menyusun analisis akar masalah dan rancangan perbaikan. Proses latihan dilakukan secara interaktif dengan membahas lembar kerja peserta dan memberikan umpan balik terhadap hasil analisis yang disusun.

Bonny Pranayuda, A.Md.PK, S.K.M., M.M., mengawali pembahasan dari perspektif fasilitas pelayanan kesehatan. Narasumber menjelaskan potensi pending dan dispute dapat muncul pada berbagai tahapan, mulai dari dokumentasi medis, pengkodean, verifikasi, hingga pengajuan klaim. Kelengkapan dan ketepatan resume medis menjadi salah satu fondasi penting karena diagnosis dan tindakan yang dituliskan dokter harus dapat diterjemahkan secara tepat ke dalam kode ICD-10 dan ICD-9-CM.
Dari perspektif BPJS Kesehatan, dr. Elisa Adam, MPH, AAK, menjelaskan mekanisme pengelolaan klaim dalam Program JKN serta pentingnya akuntabilitas dan check and balance dalam proses verifikasi. Penyelesaian klaim pending perlu dilakukan berdasarkan identifikasi masalah dan prioritas, mulai dari pending administratif, permasalahan kaidah coding, hingga pending medis yang memerlukan pembuktian kesesuaian indikasi medis dengan standar pelayanan.

Pada sesi pertama, dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D, Sp.N, Subsp.NGD(K) membawakan materi “Strategi Deteksi Dini Demensia & Stimulasi Kognitif: Mengapa Skrining di Layanan Primer Begitu Krusial?”. Amelia menjelaskan bahwa demensia merupakan sindrom penurunan fungsi kognitif yang berdampak pada kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Deteksi sejak fase awal menjadi penting karena perjalanan penyakit dapat berlangsung panjang sebelum pasien mengalami ketergantungan. Layanan primer memiliki peran dalam mengenali perubahan kognitif, melakukan skrining menggunakan instrumen sederhana seperti INA-AD8, Mini-Cog, MMSE, atau MoCA, serta menentukan kebutuhan evaluasi dan rujukan lebih lanjut.
Sesi berikutnya diisi dr. Subagya, Sp.N, Subsp.NGD(K) melalui materi “Navigasi Penyakit Parkinson: Dari Identifikasi Gejala Motorik Awal hingga Protokol Rujukan Spesialis”. Peserta diajak mengenali tanda motorik utama Parkinson, seperti tremor saat istirahat, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Pemeriksaan sederhana berupa observasi gaya berjalan, gerakan jari, ekspresi wajah, tulisan tangan, serta kemampuan bangkit dari kursi dapat membantu meningkatkan kewaspadaan klinis di layanan primer. Selain gejala motorik, perhatian diberikan pada gejala non-motorik seperti hiposmia, konstipasi, gangguan perilaku tidur REM, depresi, kecemasan, dan perubahan kognitif yang dapat muncul sebelum gejala motorik. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai red flags dan kondisi yang dapat menyerupai Parkinson sehingga keputusan rujukan dapat dilakukan secara lebih tepat.