Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Headline

Setiap 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara global terhadap isu dan tren penyakit kanker. Peringatan ini dipelopori oleh Union for International Cancer Control (UICC) dan telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2000. Pada periode 2025–2027, tema peringatan yang diangkat adalah “United by Unique” (Bersatu dalam Keunikan). Tema tersebut memiliki arti bahwa setiap masyarakat dapat menjadi pelopor dari setiap langkah perawatan penyakit kanker, salah satunya melalui upaya deteksi dini berbasis penelitian.

Sejalan dengan semangat perayaan Hari Kanker Sedunia, review artikel oleh Passaro, et al. (2024) membahas langkah deteksi dini penyakit kanker melalui pemanfaatan biomarker. Kini, kondisi pasien dapat dipetakan secara biologis dengan tanda molekuler. Tanda molekuler ini memungkinkan dokter memahami profil spesifik tumor. Integrasi biomarker dalam praktik klinis menandai pergeseran besar menuju pengobatan yang dipersonalisasi (personalized treatment). Intervensi medis tidak lagi bersifat seragam tetapi disesuaikan dengan karakteristik unik dari biologis masing-masing individu. Hal ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan karakteristik tubuh. Implementasi tren biomarker memiliki implikasi klinis yang sangat luas, mulai dari diagnosis dini yang lebih akurat hingga pemilihan terapi target yang lebih efektif.

Selain pemanfaatan biomarker berbasis jaringan tumor, Passaro et al. (2024) juga menyoroti perkembangan pesat liquid biopsy sebagai terobosan penting dalam deteksi dini kanker. Melalui analisis DNA tumor sirkulasi (circulating tumor DNA/ctDNA) yang diperoleh dari sampel darah, dokter kini dapat mendeteksi perubahan molekuler kanker secara non-invasif bahkan pada stadium sangat awal ketika gejala klinis belum muncul. Pendekatan ini membuka peluang besar skrining kanker yang lebih aman, nyaman, dan berulang sekaligus memungkinkan pemantauan respons terapi serta deteksi kekambuhan secara lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa masa depan deteksi dini kanker tidak lagi bergantung pada satu biomarker tunggal tetapi pada pendekatan multi parameter yang mengkombinasikan biomarker genetik, imunologis, dan karakteristik mikro-lingkungan tumor. Integrasi data genomik, profil respons imun, dan dinamika perubahan biomarker dari waktu ke waktu memungkinkan tenaga medis memahami heterogenitas kanker secara lebih komprehensif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi diagnosis tetapi juga membantu menghindari overdiagnosis dan terapi yang tidak perlu sehingga lebih efisien bagi sistem pelayanan kesehatan.

Peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 pada intinya menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perkembangan deteksi dini harus diiringi dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Melalui dukungan riset ilmiah, kebijakan kesehatan yang inklusif, dan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, era baru pengendalian kanker bukan lagi sekadar harapan melainkan sebuah langkah nyata menuju masa depan kesehatan yang lebih baik.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:

https://www.worldcancerday.org/about 
https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(24)00244-7?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS0092867424002447%3Fshowall%3Dtrue 

Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 pada 25 Januari 2026 menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk kembali merefleksikan kualitas kesehatan masyarakat melalui tema "Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal". Kampanye dengan slogan "Sehat Dimulai dari Piringku" ini bukan sekadar seremonial tahunan melainkan langkah strategis dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi pangan bergizi seimbang berbasis kekayaan sumber daya alam lokal. Sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045, pemerintah telah memperkuat fondasi kesehatan nasional melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk meningkatkan status gizi peserta didik sekaligus menekan prevalensi stunting di seluruh penjuru negeri. Kebijakan ini, yang diperkuat secara legal melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang memiliki keunggulan, kecerdasan, dan produktivitas yang optimal.

Namun, tantangan dalam implementasi kebijakan gizi di lapangan masih memerlukan evaluasi yang serius di balik visi besar tersebut. Berdasarkan salah satu hasil data riset yang dilakukan oleh Rahmawati et al. (2026), tingkat efektivitas rata-rata pelaksanaan program gizi di Indonesia saat ini berada pada angka 72,5% yang menunjukkan adanya celah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Skotlandia (90,4%) atau India (88,3%). Beberapa kendala struktural yang masih membayangi antara lain keterbatasan anggaran, distribusi logistik yang belum menjangkau daerah terpencil secara merata, dan koordinasi antar-lembaga yang mayoritas belum sinkron. Menariknya, pembelajaran dari negara seperti Ghana menunjukkan bahwa integrasi antara program gizi sekolah dengan pemberdayaan petani lokal terbukti efektif meningkatkan partisipasi siswa dan memperkuat ekonomi. Penggunaan pangan lokal tidak hanya menjamin kesegaran nutrisi tetapi juga menjadi solusi atas tantangan logistik yang selama ini menjadi hambatan di berbagai daerah.

Secara keseluruhan, sinergi kolektif antara pemerintah, sektor swasta, dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu untuk mewujudkan keberhasilan program gizi yang berkelanjutan. Analisis statistik menunjukkan bahwa aspek pendanaan, koordinasi lintas sektor, dan keterlibatan komunitas lokal secara bersama-sama memberikan pengaruh signifikan sebesar 63% terhadap efektivitas keberhasilan program gizi. Oleh karena itu, penguatan kapasitas Badan Gizi Nasional dalam melakukan pengawasan mutu makanan dan transparansi anggaran di tingkat daerah menjadi sangat penting. Melalui perbaikan tata kelola kebijakan dari pusat hingga ke daerah serta memaksimalkan potensi pangan lokal, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari ancaman masalah gizi kronis.

Masyarakat bisa memulai partisipasi nyata untuk mewujudkan generasi yang tangguh dengan peduli terhadap pemenuhan gizi seimbang dan berkualitas pada diri sendiri sejak dini. Mari kita jadikan momentum Hari Gizi Nasional 2026 ini sebagai komitmen bersama untuk lebih meningkatkan peduli pada pemenuhan gizi!

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

https://ayosehat.kemkes.go.id/agenda-kegiatan/hari-gizi-nasional-2026
http://manggalajournal.org/index.php/SINERGI/article/view/2228 

 

 

Penyakit menular yang disebabkan oleh vektor dari lingkungan diketahui masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat secara global. Review artikel oleh Idigo et. al (2025) membahas bahwa terdapat lebih dari 17% penyakit menular di seluruh dunia yang ditularkan melalui insect vector atau vektor serangga seperti nyamuk, lalat, kutu, dan pinjal. Selama ini, fokus pencegahan penyakit menular mayoritas berfokus pada pengendalian virus dan parasit padahal bakteri yang ditularkan oleh vektor serangga juga berkontribusi signifikan terhadap angka kesakitan, kematian, serta beban sistem kesehatan terutama di wilayah dengan sanitasi dan pengendalian lingkungan yang terbatas.
Bakteri pada vektor serangga diketahui dapat ditularkan oleh serangga melalui dua mekanisme utama, yaitu mekanik dan biologis. Dalam proses penularan mekanik, serangga membawa bakteri patogen di permukaan tubuh atau saluran cerna setelah kontak dengan sampah atau feses. Selanjutnya, bakteri patogen dipindahkan oleh serangga ke makanan dan lingkungan manusia. Sebagai contoh, lalat diketahui mampu membawa bakteri dalam jumlah yang sangat besar dan berpindah jarak jauh sehingga berperan penting dalam penyebaran penyakit enterik seperti salmonellosis dan infeksi Escherichia coli. Sementara itu, penularan biologis melibatkan proses yang lebih kompleks. Beberapa jenis bakteri yang dibawa oleh vektor serangga dapat bertahan dan berkembang dalam tubuh serangga sebelum ditularkan ke tubuh manusia. Contohnya Rickettsia pada nyamuk dan kutu atau Yersinia pestis pada pinjal yang menyebabkan penyakit PES.

Review artikel ini juga menyoroti bahwa penyakit yang disebabkam oleh bakteri dari vektor serangga tidak hanya menjadi masalah penyakit yang dapat langsung disembuhkan tetapi masih berpotensi untuk muncul kembali. Kondisi seperti kepadatan penduduk, sanitasi buruk, perubahan iklim, urbanisasi yang tidak terencana, serta tingginya mobilitas manusia memperluas wilayah hidup vektor dan meningkatkan risiko penularan termasuk di sekitar fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, vektor serangga juga semakin mendapat perhatian sebagai faktor lingkungan dalam penyebaran resistensi antimikroba. Hal ini disebabkan karena saluran cerna serangga dapat menjadi tempat pertukaran gen resistensi antarbakteri.

Pengendalian vektor serangga dan kebersihan lingkungan perlu dipandang sebagai bagian integral dari pencegahan dan pengendalian infeksi bagi manajemen rumah sakit. Pengelolaan limbah, sanitasi, desain bangunan, dan sistem surveilans lingkungan yang baik dapat membantu menurunkan risiko infeksi dan penyebaran bakteri resisten. Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit bakteri yang ditularkan oleh vektor serangga pada pasien terutama di daerah berisiko. Diagnosis yang tepat, penggunaan antibiotik secara rasional, dan pelaporan kasus yang baik dapat menjadi kunci pencegahan dampak yang lebih luas.

Secara keseluruhan, review artikel ini menekankan bahwa pengendalian penyakit bakteri yang ditularkan oleh vektor serangga membutuhkan pendekatan terpadu berbasis One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, lingkungan, dan sistem pelayanan kesehatan. Vektor serangga memang berukuran kecil tetapi sangat berpotensi untuk menyebabkan dampak penyakit sangat besar. Faktor ini sangat penting tidak boleh diabaikan dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat khususnya yang dapat diawali dari peningkatan mutu layanan kesehatan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

https://journals.ipsintelligentsia.com/public-health/index.php/ijph/article/view/86 

 

Pajak minuman berpemanis semakin banyak diterapkan di berbagai negara sebagai respon terhadap tingginya beban penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Review artikel oleh Kiesel, Lang, dan Sexton (2023) menelaah secara kritis apakah trend baru pajak minuman berpemanis dapat mencapai tujuan kebijakan kesehatan. Kiesel, Lang, dan Sexton (2023) menempatkan bukti empiris dalam konteks perilaku konsumen modern dan dinamika rantai pasok industri pangan.

Pada kenyataannya, pajak minuman berpemanis secara sistematis tidak terbukti kuat bahwa mendorong perubahan perilaku konsumsi ke minuman yang lebih sehat. Pajak tersebut juga tidak terbukti menurunkan konsumsi minuman berpemanis secara keseluruhan. Bukti menunjukkan bahwa pajak minuman berpemanis hanya sebagian diteruskan ke harga yang dibayar konsumen (partial pass-through) dengan rata-rata sekitar 82% dalam tingkat variasi desain pajak yang bermacam-macam antarwilayah. Meskipun permintaan pajak minuman berpemanis relatif fleksibel, penurunan pembelian akibat pajak cenderung moderat sekitar 15% dan tidak konsisten.

Dalam segi faktor hulu dan hilir, konsumen memiliki faktor yang dapat menghalangi keberhasilan pajak minuman berpemanis. Contohnya seperti adanya keterbatasan kesadaran terhadap kesehatan, kebiasaan konsumsi yang tidak bisa hilang pada masa lampau, dan kurangnya keberagaman produk minuman sehat dari lingkungan sekitar. Hal tersebut membuat perubahan perilaku cenderung tidak dipengaruhi oleh perubahan pajak harga. Sebaliknya, dalam sisi penawaran, produsen, distributor, dan peritel memiliki insentif strategis untuk menyerap sebagian pajak. Hal ini dilakukan dengan menyesuaikan harga secara selektif atau melakukan reformulasi produk dan strategi pemasaran. Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa asumsi kenaikan harga pajak minuman berpemanis tidak akan otomatis mengubah perilaku makan dan minum masyarakat.

Dalam konteks tujuan kebijakan, pajak minuman berpemanis terbukti lebih konsisten sebagai instrumen penggalangan pendapatan dibandingkan kebijakan yang dapat mengubah perilaku. Melalui perspektif ekuitas, pajak minuman berpemanis berpotensi regresif karena rumah tangga berpendapatan rendah cenderung mengkonsumsi minuman berpemanis lebih banyak. Tanpa desain yang tepat dan penggunaan pajak untuk program kesehatan yang berpihak pada kelompok rentan, dampak pengurangan ketimpangan kesehatan akan sulit tercapai.

Implikasi kasus pajak minuman berpemanis bagi sistem manajemen rumah sakit cukup signifikan. Beban penyakit terkait obesitas dan konsumsi gula tetap akan menekan kapasitas layanan dan pembiayaan kesehatan apabila kebijakan pajak minuman berpemanis berdiri sendiri. Rumah sakit dan pengelola sistem kesehatan perlu memandang kebijakan pajak minuman berpemanis sebagai bagian dari “paket kebijakan” yang lebih luas. Hal tersebut termasuk edukasi gizi, pelabelan produk yang jelas, intervensi berbasis komunitas, dan insentif bagi industri untuk menurunkan kandungan gula. Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku pasien memerlukan pendekatan komunikasi yang konsisten, kontekstual, dan berkelanjutan.

Review artikel Kiesel, Lang, dan Sexton (2023) menyimpulkan bahwa pajak minuman berpemanis memiliki potensi untuk dikuatkan tetapi tingkat efektivitasnya masih sangat bergantung terhadap desain kebijakan, cakupan nasional, dan sinergi dengan intervensi lain. Melalui hal tersebut, pajak minuman berpemanis dapat berpotensi dikembangkan menjadi kebijakan yang lebih kuat dan memiliki dampak terhadap keberhasilan capaian kesehatan masyarakat untuk mengurangi penyakit tidak menular.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.annualreviews.org/content/journals/10.1146/annurev-resource-111522-111325